Warning: Angst! Yaoi, shonen-ai, dan sebangsanya. Death chara(s). Gaje, OOC. Don't like? Nggak baca nggak apa-apa kok, saia takkan marah. Ngeflame? Maaf, tapi saia udah bawa pemadan api disini... (nunjuk Shirou dan Fuusuke)
Nee, happy reading ^^
Cross of Labyrinth
Chapter 3
Shuuya's
Shuuya's POV
'Shuuya...!' Suara riangmu selalu terngiang ditelingaku. Senyuman ceriamu selalu terukir di benakku. Seluruh pola tingkahmu seakan sudah terekam menjadi sebuah film yang akan terus berputar dikepalaku. Bagaikan cahaya, kau selalu tersenyum padaku dan mengulurkan tanganmu. Selalu begitu, sampai akhirnya kau pergi meninggalkanku...
Cross of Labyrinth
Hujan deras menyapu bersih bumi ini. Aku hanya dapat mematung di depan sebuah makam bertaburan bunga warna-warni ini. Hatiku hancur, seolah sedetik kemudian aku akan mati. Meski tangan-tangan sahabatku bergantian menepuk pundakku, itu tiada guna. Bukannya makin tegar, namun dadaku terasa malah makin hancur.
Dan akhirnya kau meninggalkanku, Mamoru...
Kuletakkan tanganku diatas nisan yang bertuliskan namamu. Mamoru Endou, nama yang akan selalu berarti bagiku. Karena itu adalah namamu, nama orang yang paling kucintai di dunia ini.
Bayangan peristiwa itu masihlah segar di otakku. Hari dimana kau meninggal. Saat itu semuanya terasa janggal di otakku. Dan aku yakin kalau ini semua salahku...
Flashback
Buram, semuanya hitam. Baik mataku atau apapun, tak ada indera yang bisa kurasakan. Diriku merasa bahwa aku akan selamanya terus terperosok dalam kegelapan ini. Sampai akhirnya...
Kurasakan sesuatu yang hangat menyentuh bibirku. Begitu hangat, seolah membawa kembali kehidupan itu sendiri padaku. Kilauan cahaya itu memaksaku untuk membuka mataku, kembali ke sebuah realita...
"Aku mencintaimu, Shuuya..." Aku ingat suara itu. Suara lembut itu pastilah berasal dari drimu. Dan suara indahmu itu sukses membangunkanku dari mimpi yang gelap itu. Namun saat kesadaranku pulih seutuhnya, terjadilah hal yang paling tak kuduga seumur hidupku ini.
Dia terjatuh. Namun menatapku dengan tersenyum penuh arti. Kuulurkan tanganku sejauh mungkin untuk meraih drinya, namun nihil. Aku tak dapat menjangkaunya. Takkan pernah.
"MAMORU...!" Hanya itu yang saat itu kulakukan, memanggil namanya.
Dan saat itu aku tahu bahwa kami takkan pernah bisa bertemu lagi...
End of Flashback
"Kh...!" Kepalaku mulai berdenyut nyeri. Dadaku terasa sesak sekali. Kenapa waktu itu Aku tak dapat meraih tanganmu? Kenapa aku tak bisa menepati janjiku untuk melindungimu? Kenapa? Kenapa aku bisa ada disana? Kenapa aku harus menyaksikan detik-detik kematianmu seperti itu...? Apa yang sebenarnya terjadi...? Mamoru... Jawab aku.
Aku hanya berlutut sambil memegangi kepalaku yang terasa pening ini. Berkali-kali aku membisikkan namamu kepada sang angin. Namun yang kudapati hanya deraan hujan yang membasahi tubuh ini. Di dunia ini sudah tak ada lagi... Takkan ada lagi sosok Dirimu yang akan tersenyum lembut dan mengulurkan tangan padaku. Aku.. Hanya sendirian...
"Shuuya!" Sebuah suara memanggilku, sedetik kemudian aku merasakan adanya sesuatu yang menyelimuti tubuhku yang menggigil ini. Dengan susah payah aku mengadahkan kepalaku. Yang terlihat adalah sosok Yuuto yang menatapku dengan ekspresi sedih bercampur khawatir.
"Shuuya! Kau bisa sakit kalau terus disini..." Yuuto mulai menarik lenganku. Namun Aku bersikeras untuk bertahan. Aku tak ingin pergi dari sini. Mungkin aku terlihat bodoh, tapi dari lubuk hatiku, aku masih memiliki harapan. Harapan bahwa Mamoru akan bangun dan memanggil namaku lagi. Harapan kosong yang takkan pernah terwujud. Aku tahu itu. Namun aku takkan dapat benar-benar hidup bila kau pergi dari sisiku...
Membisu. Aku tak dapat merespon ucapan Yuuto. Tenagaku seolah habis untuk meratapi nasib ini. Tubuhku serasa remuk oleh cobaan takdir. Hal terakhir yang dapat kulakukan hanya menangis. Menangis sedih sambil memeluk nisanmu. Berharap supaya dapat merengkuh tubuhmu lagi.
"Shuuya..." Yuuto hanya terpaku saat melihatku. Dirinya pasti juga sedih karena Mamoru telah tiada, tapi dia tahu bahwa akulah orang yang paling sedih didunia ini bila Mamoru pergi...
'Dan Kaupun akan hancur...'
"Shuuya, dengarkan Aku..."
"Aku tahu kau sedih dan merasa bersalah atas kematian Mamoru. Namun kau tak harus terus bersedih seperti ini... Kita masih harus meneruskan perjuangan Mamoru menuju football frontier kan? Bangunlah, Shuuya... Aku yakin bahwa Mamoru akan sedih bila kau begini terus..." Yuuto mulai menyentuh pundakku, namun aku langsung menepis tangan itu. Aku tak ingin disentuh siapapun lagi. Aku hanya ingin Mamoru kembali, kembali dan memelukku yang sudah akan hancur ini...
"Mamoru... Jangan pergi... Aku tak ingin sendirian disini... Aku.. Aku mencintaimu Mamoru...! Mamoru, kau sedang bercanda kan? Katakan bahwa kau hanya pura-pura mati dan mengerjaiku...! Mamoru... Bangun dan tersenyumlah... Kumohon... Mamoru... Mamoru...! Jawablah aku...!" Tanpa mempedulikan Yuuto, aku hanya terus meneriakkan nama Mamoru dan mulai menggali-gali kuburannya dengan tanganku. Sementara Yuuto hanya berekspresi histeris saat melihatku. Aku tak peduli lagi, ataukah ini realita atau bukan. Yang kuinginkan hanyalah melihat senyumanmu lagi. Oleh karena itu, kumohon tersenyumlah padaku. Akan kulakukan apapun, bahkan jiwa ini akan kujual pada iblis bila perlu...
"Hentikan, Shuuya...!" Yuuto mulai menahan diriku yang akan membongkar kembali makam Mamoru.
"Jangan ganggu...! Tahu apa Kau! Aku ini... Sudah tak ada artinya lagi bila tak ada Mamoru disisiku! Aku tidak mau... Sendirian... Aku.. kh...!" Dan hal yang bisa kulakukan hanyalah menangis sambil memanggil-manggil namanya. Kurasakan Yuuto memeluk tubuhku yang menggigil kedinginan ini. Memutuskan untuk menemaniku di tengah deraan hujan deras. Pelukannya terasa hangat, namun tak sehangat genggaman tangan Mamoru. Apapun yang kubutuhkan hanyalah dia. Keberadaannya. Aku ingin sekali bertemu dengannya lagi. Aku tak ingin mempercayai semua realita ini. Bagaimanapun caranya, aku ingin dapat bersamanya. Meski harus kunodai tanganku atau kujual jiwaku pada ibis, apapun. Kumohon, tolong kembalikan Mamoru padaku...
Cross of Labyrinth
"Mamoru..." Selalu nama itu yang kuucap. Sudah seminggu ini aku terbaring lemah di rumah sakit, dan selama itu pula kau pergi dari sisiku. Aku terus menunggu dan berharap, membiarkan tubuhku menjadi makin rapuh dan lemah. Tak peduli dengan ucapan teman-temanku yang memaksaku untuk makan. Aku... Sudah tak memiliki alasan untuk hidup. Tak ada. Karena seluruh jiwaku telah kutitipkan padamu...
"Hiks..." Berkali-kali aku menangis dan memanggil namamu dalam sunyi. Namun tak ada satu eksistensipun yang mendatangiku sambil memelukku seperti yang kuharapkan. Mungkin sudah saatnya aku percaya pada semua realita ini, bahwa Mamoru takkan pernah kembali untuk selamanya...
"Kau ingin mendapatkan hal yang berharga kembali...?" Kulihat sosok misterius berjubah hitam yang tiba-tiba terduduk di ambang jendela rumah sakit. Suaranya terasa anggun, namun sangat misterius dan penuh hawa kegelapan.
"Mendapatkan Mamoru kembali...?" Dengan langkah perlahan, aku mendatangi sosok itu. Tubuhku terasa makin berat karena hawa kehidupan orang itu, tapi aku terus melaju. Karena aku ingin mengambil Mamoru kembali untukku...
"Apa yang harus kulakukan agar bisa mendapatkan Mamoru?" Aku mulai bertanya pada sosok itu.
"Mudah saja..." Sosok misterius itu melempar sebuah pisau padaku. Tunggu, aku ingat pisau ini. Ini adalah pisau yang pernah dipakai Mamoru ketika akan bunuh diri. Ukiran iblis ini tetap sama, tetap memancarkan segala kekejaman dan kejahatan.
"Bunuh... Bunuhlah teman-temanmu..."
Tidak! Bagaimana bisa aku melakukan hal seperti itu? Aku tak mau, tak mau kalau ada yang harus mati lagi! Tapi... Mamoru...
"Baiklah..." Mata dan hatiku kini telah buta, dibutakan oleh keinginanku atas kembalinya sosok cahayaku itu. Dan akhirnya jiwaku benar-benar kujual pada iblis...
Cross of Labyrinth
Kaki melangkah perlahan...
Menuju kematian...
Dibawalah jiwa tak bertuan...
Ke neraka sebagai peraduan...
Kaki mungil itu berlari...
Untuk menghindari ayunan sabit ini...
Namun para shinigami memang tak punya hati...
Ditebaskannya sabit itu hingga sang korban mati...
Aku butuh darah...
Darah milik manusia yang berdosa dengan warna merah...
Dan juga segala ketakutan yang tercurah...
Lalu biarkan jiwa yang terbuang itu kehilangan arah...
Kepalaku makin berdenyut. Alunan lagu kematian ini selalu terngiang. Tak bisa merasakan apapun, hanya alunan lagu yang terus berulang itu saja. Suara musik yang mengerikan itu membuat kepalaku pusing. Tak ada suara lain. Tak ada...
"Shuuya!" Dengan satu teriakan, kesadaranku mulai kembali dalam waktu sepersekian detik. Syukurlah, alunan lagu itu sudah tak terngiang lagi di telinga ini. Namun, apa yang kulihat dihadapanku membuat diriku tak dapat mengucap syukur...
"Yu, Yuuto..?" Sosoknya berlumuran darah, dengan luka sayatan disekujur tubuhnya. Nafas anak itu terengah-engah. Tulihat tubuhnya sedikit gemetar dan seolah akan jatuh. Kurasakan tangan kananku basah akan sesuatu. Aku menggenggam sebuah pisau. Pisau berukiran iblis yang diberikan orang itu padaku. Dan tangan itu... Berubah merah, merah oleh darah. Darah...? Ini darah Yuuto...?
"Apa yang sudah kulakukan...?" Aku tak mengerti oleh apa yang terjadi. Ekspresiku seolah kosong. Hatiku seolah hilang dari jiwa ini. Tak terasa apapun. Apapun...
"Kenapa kau menyerangku..? Apa kau... Bermaksud untuk membunuhku?" Yuuto mulai berteriak dengan sisa tenaganya yang sedikit itu. Aku ingin membunuhnya? Tidak, tidak juga. Aku bahkan tak ingat apa yang baru terjadi tadi. Tapi...
'Bunuh... Bunuhlah teman-temanmu...'
Benar juga. Kalau aku membunuhnya, mungkin saja Mamoru akan kembali padaku. Membunuh Yuuto. Membunuh sahabat yang sudah berjuang bersamaku. Tidak, itu sama sekali tak ada artinya bila dibandingkan dengan kembalinya orang yang paling kucintai! Ya, akan kubunuh siapapun. Kalau perlu seluruh manusia di bumi ini! Asalkan Mamoru kembali...
Dengan mudahnya, kulangkahkan kakiku mendekati Yuuto. Salah seorang sahabatku itu mulai mundur perlahan sampai akhirnya punggungnya bertemu dengan dinding. Dia sudah tak bisa lari. Dengan ini, diapun akan kubunuh. Ini semua demi Mamoru.. Ya, ini untuk kebaikan semuanya...
"Kau benar-benar ingin membunuhku...?" Yuuto mulai bertanya dengan ekspresi sedihnya. Aku tak menjawab. Tentu saja itu yang akan kulakukan. Tapi...
'Shuuya...'
Di kepalaku mulai terbesit bayangan Mamoru. Ekspresi sedih yang sama. Mungkin memang tak ada yang menginginkanku untuk melakukan ini. Bahkan Mamoru sekalipun. Tapi itu artinya aku akan sendiri. Tidak! Tidak mau! Daripada begini, lebih baik aku...
End of Shuuya's POV
Normal POV
Shuuya mulai mendekati Yuuto yang memasang ekspresi sedih. Yuuto hanya memasrahkan dirinya untuk diakhiri nyawanya oleh Shuuya...
"...Mungkin Mamoru memang butuh teman di alam sana, jadi kau ingin membunuhku untuk menemaninya...? Soalnya.. Mamoru pasti sedang merengek karena kesepian sekarang. Iya kan, Shuuya...?" Ucap Yuuto sambil memaksakan dirinya untuk tersenyum. Kalau memang ini ajalnya, Yuuto juga tak mungkin bisa menolaknya. Sebenarnya Yuuto juga merasa kesepian. Sepi karena Mamoru telah pergi dari dunia ini, juga karena dia tak pernah bisa bicara lagi pada Shuuya.
"..." Shuuya hanya terdiam, tak merespon ucapan Yuuto. Langkah kakinya makin mendekat keYuuto. Pisau ukiran iblis itu masih tersemat di tangan Shuuya. Yuuto hanya menghela nafas, menanti saat Shuuya tiba dihadapannya, dan menyambut ayunan pisau yang akan terbenam pada tubuhnya...
"Maafkan aku, Yuuto..."
"Jleb! Crash!"
Merah. Sekujur tubuh Yuuto berlumuran darah. Namun tubuhnya sama sekali tak merasakan sakit. Tak ada secuilpun goresan luka baru di tubuhnya.
"Tidak sakit...? ...Tidak mungkin!" Yuuto mulai menyadari sesuatu. Dirinya langsung mengadahkan kepalanya, untuk melihat sosok Shuuya. Shuuya yang tengah menikam dirinya sendiri tepat dihadapan Yuuto...
"Tidak! Shuuya!" Yuuto mulai berdiri dari posisi berlututnya dan langsung menyangga tubuh Shuuya yang terjatuh. Sementara air matanya mengalir, Yuuto terus sibuk untuk menutup luka tusukan dalam di dada Shuuya.
"Uh..." Yuuto mulai tak kuasa menahan airmatanya saat mengetahui bahwa ada banyak darah yang keluar dari tubuh sahabatnya yang sekarat itu. Dengan keadaan seperti ini, mustahil untuk bisa tetap bertahan. Nyawa Shuuya takkan lama lagi...
"Kenapa...?" Yuuto mulai bersuara ditengah isakan tangisnya. Dirinya tak habis pikir, mengapa Shuuya menikam dirinya sendiri? Bukankah tadi sudah jelas bahwa Shuuya memang ingin membunuh Yuuto?
"Maafkan aku... Aku... Hampir saja aku membunuhmu tadi.. Uhuk! Syu, syukurlah kau masih selamat..." Shuuya mulai memaksakan dirinya untuk tersenyum dan bicara. Membuat airmata Yuuto mengalir makin deras.
"Aku telah mengecewakanmu dan juga Mamoru... Maaf..." Shuuya mulai menghapus airmata Yuuto dengan tangannya yang lemas, "Jangan menangis... Matamu terlalu indah untuk dipaksa mengeluarkan airmata..." Tangan Shuuya mulai menyapu bersih airmata di pipi Yuuto. Namun airmata kembali keluar dari kedua mata merah ruby milik Yuuto, membasahi pipinya dan menetes ke wajah Shuuya.
"Jangan mati...! Hiks... Shuuya!" Tangisan Yuuto mulai menjadi. Sedetik kemudian, sesosok bayangan hitam mulai melintas di hadapan Shuuya. sosok yang berdiri tepat dibelakang Yuuto, siap mengayunkan sabitnya. Sehelai rambut biru turquoise mulai terlihat dari balik jubah hitam pekat itu. Mata cokelat madunya menatap Yuuto dengan ekspresi kosong...
"Tidak...!" Dengan kilat, Shuuya segera mendorong Yuuto untuk menghindari ayunan sabit yang tak dapat dilihat Yuuto itu. Namun Shuuya sudah tak memiliki tenaga lagi untuk menggerakkan tubuhnya...
'Kau akan mati...'
"Crash!"
Tiba-tiba tubuh Shuuya tersayat-sayat dan makin mengeluarkan banyak darah. Padahal tak ada benda apapun yang melukai tubuh itu. Tak ada apapun, itulah yang terlihat di mata Yuuto. Padahal, disana ada seosok shinigami hitam yang telah mengoyak tubuh Shuuya...
Dan akhirnya mata Yuuto menjadi kabur...
Kematian akan datang...
Karena tiap jiwa yang terlibat akan menjadi terkutuk...
Sama seperti awal dari bencana itu sendiri...
Karena ini kutukan...
Ataukah ada sesuatu yang lain...?
Yang ingin ditunjukkan oleh seseorang?
Akhir dari cerita takkan selalu membahagiakan...
To be Continued...
Ugyaaa! Chapter apaan ini? 0A0
Shuuya mati, tedaaak! (padahal yang bikin Shuuya ko. it siapa?)
Uwaa... Gomenasai... T_T Kok jadi kurang angst gini ya...?
Dan Saia jadi gak tenang mau hiatus, itu karena...
ITU KARENA FANDOM INAZUMA INI JADI SEPI TAUUK! (plak!)
Mana review di fic colabnya! Mana apdetan cerita kalian? Mana, mana! (dan akhirnya author digotong ke RSJ karena sudah divonis gila)
Kou: Ah, dia dibawa ke RSJ.
Hikari: Terus yang balas review...?
Yuumy: Kalau begitu, kita saja yang balas review! (semangat)
Yue:
Yummy: Wah, si author dipuji terus...
Kou: nggak apa-apa tuh memuji anak lemot macam Dika Liesnanda? Dia kan bego, lemot, payah... (dibekep Hikari)
Hikari: Ungg.. Arigato Yue-chan. Dukung terus Dika-chan ya... ^^
Yummy: Ngomong-ngomong, tumben juga anak itu bikin fic angst...?
Hikari: Katanya sih lagi bangkit jiwa angstnya... (?)
Akazora no Darktokyo:
Kou: Terimakasih...
Yummy: Cih! Tumben kok sopan banget si Kou-chan...!
Hikari: Wah, kata-katanya menggugah selera ya? Ehehe... Ternyata(?) pekerjaan Dika-chan telah membuahkan hasil... (jadi sebelumnya belum pernah membuahkan hasil ya?)
Yummy: Ee! Ternyata Mamorunya mati lho...!
Kou: Huh! Makanya, hajar saja si author supaya Mamoru dibikin hidup lagi...! (dibekep Hikari)
Hikari: hahaha...(sweatdrop) Arigato untuk reviewnya.. ^^
De-chan Aishiro:
Hikari: Ehehe. Paling tidak, kematian Mamoru diundur sejenak.. (plak!)
Yummy: Dipikir-pikir, ShuuyaxMamo memang mesum! Ada masalah dikit aja langsung kissing! (dikeplak ShuuyaxMamo's FC)
Kou: Hn... Setelah dibaca, ternyata memang kesannya Ichirouta itu bangkit dari kubur(?) dan ingin membunuh Mamoru lho... -_-
Dika: Bukan begitu...
Para alter ego: (terkejut)
Yummy: Bagiamana bisa kau kembali dari RSJ?
Dika: Kalian memang alter ego yang kurang ajar, masa' jiwaku dibawa ke RSJ? -_- Oh, iya. Sebenarnya itu bukan Ichirouta yang ingin membunuh Mamoru. Tapi itu jiwanya Ichirouta juga sih... Ungg.. mungkin(?) di chapter terakhir akan dijelaskan semuanya... XD (plak!)
Kou: Haha. Cintanya author ini memang NGGAK PERNAH kesampaian! Beda denganku...!
Dika: Kau ini berwujud malaikat tapi kok hatinya ngalah-ngalahin iblis sih...? Cih, kau juga suka pada Yummy, tapi nggak kesampaian kan! =_=
Kou: Yummy=Najis mugholadoh... (ekspresi datar)
Yummy: Hei! Jangan mentang-mentang kau punya sayap puith yang tiap hari digosok pakai detergen Surf, terus kau menghinaku begitu ya!
Kou: Berisik...
Hikari: ufufufu... Dika-chan banyak adegan kissu ya? Kau itu kan masih kelas 1 sma.. (deathglare)
Dika: Cih! Yang ini malah berlagak jadi ibuku... (membatin)
Yummy: Ee! Soal perpindahan latar, sebenarnya ada pembatasnya lho! Pembatasnya itu tanda bintang (ada 7) tapi entah kenapa begitu dimasukin ffn tuh tanda langsung ngilang... Masa' tanda gitu dikira almat situs sih...? 0_0
Dika: Uwaaa! TAT Jadi ada yang benar-benar terharu saat baca fic ini...? :') Uhuhu... Saia jadi bahagia... (nangis gaje)
Kou: Cih, lebih baik bawa saja orang ini ke RSJ
Hikari: A, arigato unutk reviewnya...
Ufufufu... Ngomong-ngomng, saia ganti penname... ^^
Jadi The Fallen Kuriboh
Kenapa ganti nama? Itu rahasia! (plak!)
Dan... Minna-san! Ramaikan lagi fandom ini dong! Kalau nggak, saia jadi nggak enak mau ninggal ini fandom! (plak!)
~the last dimension will come~
The Fallen Kuriboh
