Warning: Angst! Yaoi, shonen-ai, dan sebangsanya. Death chara(s). Gaje, OOC. Don't like? Nggak baca nggak apa-apa kok, saia takkan marah. Ngeflame? Maaf, tapi saia udah bawa pemadan api disini... (nunjuk Shirou dan Fuusuke)

Nee, happy reading ^^

Cross of Labyrinth

Chapter 4

Yuuto's dan Shinichi's

Yuuto's POV

Kabur, semuanya mejadi hitam. Tak ada satupun hal yang bisa kupercaya dari kejadian itu. Mata ini seolah buta, aku tak ingin menyaksikan apapun lagi. Apapun. Bila yang kulihat hanyalah kehancuran semata, lebih baik mata ini dibutakan saja selamanya...

'Sebenarnya matamu itu indah sekali...'

Shuuya... Benar juga, kau pernah berkata demikian. Kau memuji warna mata iblis ini dengan senyuman hangat. Tanpa peduli sekalipun pada perasaanku ini.

Di matamu itu selalu terpancar kekuatan dan tekad. Itu semua selalu terefleksi dengan indahnya, membuat takjub seluruh makhluk di dunia ini. Akupun begitu. Dengan cepat, aku menyadari bahwa aku menyukaimu. Tapi... Disaat itu juga, akupun menyadari bahwa perasaan itu harusnya tak boleh ada...

Berkali-kali, kalian berdua selalu mengulurkan tangan padaku. Kau, Shuuya. Dan juga Mamoru, sahabat kita yang paling berharga. Kita bertiga selalu melangkah bersama. Beriringan dan seirama. Namun suatu hari aku mulai menyadari, bahwa kalian berdua mulai melangkah ke dunia yang berbeda denganku. Meninggalkanku...

Dihadapannya, pandanganmu selalu berubah lembut. Cara bicaramu dan gerakan tubuhmu itu, selalu menjadi berbeda jika kau berhadapan dengan Mamoru. Terlalu mudah bagiku untuk menebak bahwa kau menyukainya. Begitupun hal yang sama juga terpancar dari kedua bola mata cokelat tua milik Mamoru. Aku merasa senang bila kalian berdua bahagia bersama. Namun, akupun tak dapat mengelak dari rasa cemburu...

Waktu itu, beberapa kali aku sempat berpikir, mengapa aku bisa jatuh cinta padamu? Padahal aku tahu, bahwa perasaan ini takkan membawa sesuatu yang baik. Hanya akan menjauhkan kalian berdua saja. Aku ingin menghilangkanya. Tapi kenapa? Kenapa perasaan ini tak bisa hilang? Meski hatiku selalu terasa seperih ini...

Takkan ada yang tahu, karena aku telah bertekad untuk memendamnya seumur hidupku...

Kadang, akupun ingin sekali bersikap egois dan mengambilmu darinya. Tapi percuma, keegoisan ini selalu lenyap saat kulihat kalian tertawa bersama dan kemudian mengulurkan tangan padaku sambil tersenyum. Kalian pasti takkan lupa padaku dan pergi dariku, karena itu aku...

Namun akhirnya semua fatamorgana itu lenyap. Kini kalian sudah tiada, baik kau maupun Mamoru. Takkan ada senyuman lagi yang bisa kulihat. Hati ini takkan bisa menjadi lega seperti ketika kita tertawa bersama dulu. Aku kehilangan semuanya. Baik cinta maupun persahabatan ini. Tak ada lagi tempat untukku tersenyum bahagia.

Aku ingin lenyap saja dari dunia ini.

Kini aku sedikit paham akan perasaan Ichirouta. Yang ingin melenyapkan eksistensinya demi kebahagiaan Shuuya dan Mamoru. Namun naasnya semua itu percuma, sia-sia saja pengorbanan itu. Karena mereka takkan kembali, baik Shuuya ataupun Mamoru...

Aku ingin pergi. Aku ingin lari dari semua ini. Aku tak bisa hidup di dunia seperti ini. Dunia dimana tiada dirimu yang selalu mendorongku. Dunia dimana tak ada senyuman kalian berdua yang harusnyaakan abadi dan selalu terlukis di hadapanku. Tak ada, takkan ada eksistensi kalian lagi di dunia ini. Aku hanya hidup di dunia yang hampa ini...

Sendiri...

End of Yuuto's POV

Shinichi's POV

"..." Kutatap hasil diagnosa dokter atas keadaan Yuuto. Anak itu benar-benar divonis memiliki kelainan jiwa dan depresi. Aku sama sekali tak menyangka, padahal dia adalah orang yang tegar dan tabah. Tapi insident kematian Shuuya itu langsung membuatnya menjadi seperti ini.

Kulangkahkan kakiku dengan berat menuju kamar pasien tempat Yuuto. Pintu terbuka dengan pelan, namun suara berderit itu seolah terdengar keras. Memecah keheningan statis di ruangan ini. Gelap, sore ini sangat mendung, namun Yuuto sama sekali tak menyalakan lampu kamar ini. Dirinya hanya meringkuk di atas ranjangnya. Membisu. Aku tahu, pasti Yuuto memikirkan Shuuya. selalu tentang hal itu...

"Gelap ya... Lihat, awan mendungnya tebal sekali..." Kubuka tirai jendela kamar itu. Bisu, dia tak menjawabku. Tentu saja, memangnya apa yang kuharapkan dari orang yang memiliki gangguan jiwa? Apa... Tapi bagaimanapun, aku tetaplah berharap akan adanya sesuatu... Sebuah keajaiban...

Dan hujanpun mulai turun, berusaha membasuh seluruh luka dihatinya. Namun, luka itu akan tetap membekas dan takkan pernah pudar oleh apapun...

"Hujan... Tapi... Meski hujan begini, pasti yang lain masih sibuk berlatih di SMP Raimon..." Suasana tetap hening. Rasanya aku seperti orang bodoh saja. Seperti sedang bicara sendiri. Aku tahu bahwa dia takkan pernah menjawabnya, atau bahkan dia tak mendengar suaraku. Tapi... Akupun tak ingin melihat dirinya yang seperti ini...

"Yuuto-kun... Apa kau bisa mendengar, suara hujan yang bersenandung untukmu ini...?"

Kuhampiri tempat tidurnya. Menatap lekat sosok Yuuto yang seolah kehilangan jiwanya itu. Tiada respon. Namun aku terus saja memaksakan hatiku untuk berharap. Kusentuh perlahan pundaknya. Entah atas keajaiban apa, dirinya mulai menoleh perlahan. Mata merahnya yang biasanya tertutup itu menatap sayu kearahku. Sembab sekali, entah sudah berapa lama dia terus menangis sendirian. Tak adakah sebuah harapan? Mamoru, Shuuya, Ichirouta... Tak adakah yang bisa kulakukan untuknya?

"Yuuto-kun... Aku suka sekali pada hujan. Karena tiap kali hujan turun, mereka selalu menyenandungkan irama lembut di seluruh pelosok. Kemudian mulai menghapus semua kesedihan orang yang menatapnya. Air hujan yang turun itu seolah berusaha mengusap air mata kita dan seolah ingin berkata, 'Jangan menangis'. Karena itu, harusnya tak ada siapapun yang bisa tetap menangis saat hujan ini turun..." Hening, dia tetap tak bersuara dan menunduk saja. Tidak! Kumohon, bicaralah padaku walau itu hanya sepatah kata...

"Kalau kau bagaimana? Apa kau juga menyukai hujan...?" Aku terus mengajaknya bicara. Bahkan menanyakan hal tak penting padanya. Kenapa? Aku juga tak tahu kenapa aku terus cerewet seperti ini. Tapi yang kuinginkan adalah keadaan yang kembali normal. Hari-hari dimana semuanya tertawa bersama...

"Aku..."

Bagaikan keajaiban, dia mulai membuka mulutnya. Aku terbelalak kaget. Harapan mulai datang. Apakah benar begitu?

Ataukah itu hanya sebuah bayangan semu semata...?

"Aku benci hujan..." Yuuto menatap sedih pada jendela kamarnya.

"Karena bila hari hujan, maka aku tak bisa melihat matahari senja di Steel tower plaza bersama Shuuya dan Mamoru..." Wajahnya terlihat sakit saat mengucap kedua nama itu.

"Aku... Ingin bertemu dengan mereka. Sekarang juga... Hiks...!" Airmata mulai mengalir deras dari kedua matanya. Refleks, aku langsung memeluknya erat.

"Suatu saat nanti pasti bertemu lagi..."

"Karena itu, Yuuto-kun... Bangunlah. Kau masih harus berjuang di tim kita kan? Meneruskan apa yang menjadi impian Shuuya-kun dan Mamoru..." Iya. Kumohon, Yuuto. Bangkitlah dan tersenyumlah lagi seperti biasanya.

"Tidak..."

"Sepakbola membuat dadaku terasa sakit... Bukan hanya itu, dunia ini... Semuanya membuatku tersayat! Tak ada lagi... Tawa bahagia mereka. Aku tak bisa hidup di dunia ini...! Kembalikan.. Kembalikan mereka berdua padaku!"

Yuuto mulai mengamuk dan mengobrak-abrik seluruh kamar. Aku harus menghentikannya. Tidak, tubuhku tak bisa bergerak. Badan ini terasa lemas, seiring dengan hancurnya harapan kosong yang kusimpan untukmu.

Beberapa saat kemudian, para perawat dan dokter berdatangan ke kamar Yuuto. Sibuk membius Yuuto untuk menghentikannya. Harusnya aku tahu, dia sudah tak bisa menjadi Yuuto yang dulu lagi. Takkan pernah bisa berdiri tegak seperti waktu itu. Punggungnya takkan pernah terlihat lagi olehku. Harusnya aku tahu, tapi mengapa...?

Mengapa aku tetap mengharapkan sebuah keajaiban yang takkan pernah datang?

"Tuan, tolong anda keluar sebentar. Kami harus menangani pasien ini..."

Dengan mudahnya aku terdorong keluar kamar. Terpisah kembali dengan Yuuto yang takkan pernah bisa bertarung lagi. Tidak, aku akan menunggunya! Pasti suatu saat nanti dia akan berdiri kembali di lapangan. Kembali mengenakan jubah kebanggaannya dan memimpin kejayaan. Pasti! Iya... ...

Lagi-lagi aku terlalu optimis. Bukankah aku sudah tahu bahwa itu semua takkan mungkin terjadi? Kenapa aku selalu saja berharap? Kenapa? Kenapa aku selalu datang kehadapannya setiap hari? Kenapa aku tetap bicara padanya meski tahu bahwa dia takkan menjawabku? Mengapa...?

Mengapa aku tetap datang padanya meski tahu bahwa itu hanya akan membuatku terluka...?

Perih. Gejolak perasaan ini terasa tak beraturan. Harusnya aku sudah menyadarinya sejak pertama kau datang ke Raimon. Tapi aku tetap mendustai hati ini.

"Yuuto-kun... Aku menyukaimu..."

Kubiarkan air mata ini menetes, seiring dengan deraan hujan diluar sana. Bahkan hujanpun tak dapat menghentikan air mata ini. Biarkanlah aku menangis sehari ini saja. Biarkan saja perasaan itu terhanyut tanpa sisa di hari ini.

Wahai hujan, bantulah aku untuk merelakan apa yang telah lenyap dari hatiku ini...

"Sampai jumpa... Yuuto-kun..."

To be Continued...

Huwee...! TAT

Hiks, entah kenapa saia malah terharu sendiri sama chapter ini. (padahal gaje begini)

Sampai berkaca-kaca waktu ngetiknya, padahal waktu itu saia nyetel lagunya Inazuma yang pada nge-beat...

Haduh... Dan sebenarnya saia nggak enak juga mau bikin si Yuuto jadi gila begini. Dia terlalu keren untuk dijadikan orang gila... (tapi kenapa akhirnya jadi gila beneran?)

Ah, sudahlah. However, jangan tanya saia mengenai alasan mengapa saia pakai Shinichi di chapter ini.. ="=

Mereka itu ada hintnya walau cuma sekali, jadi jangan bilang kalau ini crack pairing.

Habisnya.. Daripada saia pasangin Yuuto ama Kabeyama atau Kurimatsu? Shnichi lebih manis kan? (dicakar Max)

Hmm... Tapi tetap saja jadinya tambah gaje ya?

Nah, sepertinya sisa chapter di cerita ini tinggal 2 lagi.

Hmm.. Mari balas review dulu...

De-chan Aishiro:

Uhuhu.. Mamoru ko. it... T^T (dihajar pake bakkuretsu punch)

Ehehe... Iya, saia juga suka adegan itu! XD Yuuto terlihat peduli banget sama Shuuya...! XDD (digorok Mamoru dan Akio)

Huwaa...! Dengan pedang sebanyak itu, dijamin sang iblis nggak jelas itu takkan berani datang. Buktinya, di chapter ini tak ada iblis. Hehe... Tapi nanti juga muncul lagi sih... (plak!)

Syukurlah, Yuuto selamat. Tapi ganti Shuuya yang bunuh diri? 0_0

Uhuhu... T_T Saia terharu pas anda bilang begitu... :')

Hidup Angst dan jiwa puitis! DX (plak!)

Hee...? Di puisi kemarin saia pakai sajak AAAA lho...? (karena males mikir yang ruwet-ruwet)

Kalau ABAB atau AABB, saia tambah pusing... (plak!)

Ahaha... Itu Ichirouta yang dateng ya. Tapi nggak bisa dibilang kalau itu Ichirou sih... (Nggantung, dihajar)

Wah, di chapter ini masih belum ada yang meninggal lagi... ^^ (Belum, De-chan)

Huwaa...! TAT

Arigato, De-chan...! Saia juga nggak tahu kok tiba-tiba bisa ngetik fic bergenre angst macam begini...! T^T

NB: Kuroshiro-san bikin fic Inazuma yang angst(?)nya berasa banget lho... Coba dibaca...(tampoled)

Benar, benar! Cinta itu tak selamanya manis. Dibalik rasa yang memabukkan itu, pasti tersembunyi tetesan racun yang mematikan.

Hehe.. Jadi inget ficlet yang dulu De-chan kirim ke saia lewat sms.. ^^

Arrgh! 0A0

Lagi-lagi ada typo yang lolos pengamatan! DX

Haduh.. Saia kurang teliti...! T^T

Tapi, saia akan lebih berusaha lagi! XD

Ehehe... Arigato De-chan...! X3

Akazora no Darktokyo:

Ufufufu... Tadinya saia mau bikin Yuuto mati, eh meninggal di chap ini. Tapi entah kenapa saia berubah rencanca. XD

Paling tidak dia selamat di chap ini... (tapi Yuuto jadi gila)

Uhuhu... Saia akan berjuang! XD (tampoled)

Hm... Siapa yang akan mati berikutnya yah...?

Hohoho.. Kayaknya akan bad ending nih... Tapi mungkin bisa happy ending... (plak!)

Saia ini memang tidak konsisten... T^T

Arigato, Kuroshiro-san...! XD

Yue:

Arigato...! XD (tampoled)

Draco-blacklightz23:

Hehe.. Shuuya telah tiada... (Ditendang pake fire tornado)

Iya, iya. Itu Ichirouta. Tapi mungkin bukan sih.. (plak!)

Huhuhu... Saia nggak jadi hiatus... (nangis)

Waa! Arania-san mau bikin fic Inazuma? XD

Ayo bikin! Bikin! Bikin! Bikin! Bikin... (plak!)

Urrgh... Kena tampol siapa tadi? Sudahlah.. Arigato... ^^

Apakah Yuuto berhasil sembuh dari penyakit jiwanya?

Apakah Ichirouta akan bangun dari komanya?

Apakah Shinichi ikutan frustasi dan bunuh diri?

Apakah Mamoru dan Shuuya akan kembali lagi dari alam baka?(nggak mungkin lah!)

Apakah akan ada lagi yang kena musibah? (plaak!)

Ah... Nantikan saja chapter depannya... -_-

Arigato...

The Fallen Kuriboh