Warning: Angst! Yaoi, shonen-ai, dan sebangsanya. Death chara(s). Gaje, OOC. Don't like? Nggak baca nggak apa-apa kok, saia takkan marah. Ngeflame? Maaf, tapi saia udah bawa pemadan api disini... (nunjuk Shirou dan Fuusuke) Juga ada juga yang bagian ngeflame balik. (ngelirik Shuuya dan Haruya yang udah siap-siap bola dengan wajah sadis)
Nee, happy reading ^^
Cross of Labyrinth
Chapter 5
Ichirouta's Cross Dream
Ichirouta's POV
Gelap...
Aku ada dimana? Kenapa semuanya hitam? Tak ada seberkas cahayapun. Oh, iya. Aku ingat, aku telah memutuskan untuk menghabisi nyawaku sendiri. Demi Mamoru dan Shuuya. jadi ini dunia setelah aku mati? Huh, mengenaskan. Semuanya hitam tak berwarna. Tak ada harapan sama sekali. Jadi aku akan berakhir disinikah?
'Ichirouta...!'
Seberkas cahaya mulai menyelimutiku seiring dengan terdengarnya suara yang sangat familiar ditelingaku itu. Kali ini semua berubah putih, paling tidak ini bukan warna hitam yang tadi. Sebuah gambaran keadaan mulai terbentuk dihadapan mataku. Dua sosok manusia mulai tercipta dihadapanku. Dua orang yang sangat familiar bagiku. Bagaimana tidak? Mereka berdua adalah sahabatku yang berharga. Tapi... Ada apa dengan keadaan ini?
Itu... Shuuya. yang sedang berusaha menjatuhkan Mamoru dari jendela.
Astaga! Aku harus menghentikannya! Aku mulai berlari, menerjang tubuh Shuuya. Namun betapa terkejutnya diriku saat kudapati tanganku yang menembus tubuh striker berambut putih itu. Aku tak bisa menyentuhnya. Kenapa begini...?
Sementara aku terus mematung, kondisi Mamoru makin diujung tanduk. Sedikit saja sentakan dan dia akan jatuh. Kucoba untuk meraih Mamoru, nihil. Sama seperti Shuuya, aku tak bisa menggapai Mamoru juga. Kenapa...? Apa yang terjadi?
Aku hanya berusaha melakukan sesuatu yang sia-sia, sementara Mamoru mulai menangis karena kuatnya tenaga Shuuya yang memaksanya untuk jatuh itu. Bagaimana bisa Shuuya melakukan hal ini? Jangan bilang bahwa semua pengorbananku demi kebahagiaan kalian ini sia-sia! Kenapa? Jawab aku, Shuuya! kau menyukai Mamoru bukan? Kenapa kau malah menyakitinya? Tidakkah itu juga membuat dirimu sendiri merasakan sakit yang sama...?
Ah, tidak. Rasa sakit itu akan menjadi lebih besar, sama seperti yang kurasakan ini. Karena kita sama...
Dan apa kau tak bisa melihat ekspresi Mamoru yang...
Tersenyum?
Ya, dia tersenyum. Mengapa anak itu malah tersenyum di kondisinya yag seperti ini? Tidakkah ia merasakan sakit dan perasaan takut? Kenapa? Apakah itu karena Shuuya yang ada dihadapannya?
Sebuah pemandangan yang kusaksikan berikutnya membuat hatiku tersentak. Mamoru menciumnya. Dikerahkan sisa tenaganya itu untuk mencium tepat di bibir Shuuya. curahan cinta yang tulus terpancar dari ciuman Mamoru. Hangat sekali. Bahkan kehangatan itu sendiri dapat tersampaikan pada hatiku yang terasa perih ini. Ya, aku tentu tak dapat sepenuhnya bahagia melihat adegan ini. Aku masih mencintaimu, Mamoru. Dan akan terus begitu untuk selamanya. Maka dari itu, meski aku memutuskan untuk mengalah sekalipun aku tetap tak bisa mengikhlaskan hatiku untuk menerima keberadaan cinta kalian.
Takkan bisa sebelum aku mati...
'Aku mencintaimu, Shuuya...'
Dengan bodohnya kau menjatuhkan dirimu sendiri. Tepat dihadapan Shuuya. Dan dihadapanku...
Mataku terbelalak saat menatapmu yang terjatuh dari kamarmu itu. Seolah bergerak lambat, tiap detailnya terekam dengan sangat jelas di kedua mataku. Hal yang berikutnya kudengar adalah suara dentuman tubuhmu yang bertemu dengan tanah. Hancur sudah. Rumput yang hijau lembut ternodai oleh merahnya darah yang mengalir. Matamu tertutup sempurna, desahan nafas dan denyut nadi telah menghilang sepenuhnya dari jasad itu. Tubuhmu kosong, tak bernyawa dan tak memiliki kehangatan lagi seperti dulu.
'MAMORU...!' Shuuya terus saja terbelalak menatap jasadmu sambil meneriaki namamu. Dengan nekat, dilompatinya beranda kamarmu. Anehnya dia tetap dapat mendarat dengan mulus tanpa terluka. Disentuhnya jasadmu yang sudah tak bernyawa itu. Lagi-lagi dia memanggilmu, padahal sendirinya dia telah mengerti.
Bahwa kau takkan kembali ke dunia ini...
Air mata mulai menetes dari mata onyx Shuuya. menangis dalam bisu sambil memeluk jasadmu yang bersimbah darah. Ironis sekali. Tangisan pilu yang belum pernah kulihat dari seorang Shuuya Goenji. Jeritan putus asa itu harusnya tak pernah diteriakkan olehnya. Keterpurukan yang harusnya mustahil dirasakannya itu datang menghampirinya. Bahkan seorang Shuuya Goenji pun dapat menjadi sosok yang menyedihkan seperti ni. Sungguh ironis. Namun diluar semua itu, akupun dapat memahami perasaannya.
Karena disini akupun menangisinya dalam kebisuan ini...
Perlahan, kakiku mulai bergerak sendiri menuju Shuuya dan Mamoru. Akupun ingin menyentuhnya. Menyentuh jasad Mamoru untuk yang terakhir kalinya. Aku pun ingin memeluknya seperti Shuuya yang saat ini merengkuh jasad itu. Aku ingin mendapat hak itu...
'Ini semua gara-gara kau!'
Ucapan itu membuatku tersentak. Shuuya, matanya menatap tajam kearahku. Seolah menyimpan keiginan membunuh yang luar biasa. Dendamnya padaku seolah takkan pernah habis.
Tidak! Apa salahku? Bukankah aku sudah mengalah padamu? Bukankah aku telah membinasakan diriku sendiri supaya kalian bahagia?
Ataukah aku yang sebenarnya munafik...?
Ya. Sebenarnya aku tak ingin melepaskan Mamoru. Aku selalu berharap agar dia jadi milikku seorang. Aku ini egois, karena itu aku bunuh diri. Bukan supaya Mamoru dapat bahagia bersama Shuuya. Tapi...
Supaya dia selalu terbayang oleh rasa bersalahnya padaku.
'Kau menyedihkan...'
Sudahlah, aku tak peduli lagi pada komentarmu Shuuya! Toh Mamoru telah tiada sekarang. Jadi sudah tak ada yang perlu diperebutkan. Memang aku tak bisa mendapatkannya, tapi kaupun takkan bisa membawanya dariku! Ya, inilah kebenarannya! Akulah yang menang, karena kini kau lebih menderita dariku...!
'Ichirouta...'
Suara itu memanggilku. Membuatku menghentikan tawa kemenangan ini. Itu Mamoru. Bukankah harusnya dia sudah mati?
'Kupikir kita ini sahabat...'
Wajahmu terlihat menyedihkan saat mengatakannya. Kenapa? Apa kau merasa telah tertipu olehku? Silakan kalau kau mau menyalahkanku. Karena kenyataannya memang akulah yang mengakibatkan semua ini! Secara tidak langsung, kematianmu itu disebabkan olehku kan? Lalu, kau mau apa? Kau dendam? Ingin menghancurkanku? Lakukan saja. Karena aku sudah tak menginginkan apapun lagi...
Perlahan, pemandangan sekitarku mulai berubah. Berganti menjadi sebuah ruangan dimana terdapat sebuah ranjang putih ukuran king size. Suasana kamar itu remang-remang, hanya dicahayai oleh beberapa lampu berwarna keemasan dengan daya 10 watt. Kutelusuri seluruh ruangan dengan mata cokelat maduku. Dan hal yang dapat kutangkap adalah sebuah pemandangan, dimana terdapat sosok Shuuya yang membawa sebuah pisau, menatap dingin pada seseorang yang jatuh tersungkur dihadapannya. Sosok bermata merah ruby yang memandang sendu kepada sang striker Raimon. Sang playmaker dari raimon eleven, Yuuto Kidou.
Aneh sekali. Bagaimana bisa pemandangan seperti ini kulihat? Mustahil. Seorang Shuuya Goenji takkan pernah berniat untuk membunuh sahabatnya. Apalagi yang ada dihadapannya adalah Yuuto. Kutatap mata hitam milik sang flame striker itu. Matanya tetap berwarna hitam, namun seluruh cahaya matanya hilang, seolah terenggut. Dia seperti dikendalikan. Tapi apa?
Aku menatap bingung padanya sampai kutemukan ada sesosok bayangan yang melayang dibelakang tubuh Shuuya. sosok yang memakai jubah hitam sambil membawa sabit perak. Perlahan, kepala 'makhluk' itu terdongak, menatap tajam padaku. Rambut turquoisenya tersembul dari balik jubah hitam itu. Mata cokelat madunya yang bercampur warna merah itu menatap tajam sambil tersenyum sinis padaku. Itu... Aku?
Tidak! Aku ada disini. Tapi, sosok itu benar-benar menyerupai aku. Matanya menatap penuh dendam kepada Shuuya, tertawa kejam. Jadi dia membenci Shuuya? Mungkin itu memang aku. Karena akupun pernah merasakan perasaan yang sama padanya. Aku kesal. Tapi aku takkan bisa membencinya. Karena Shuuya adalah orang yang berharga bagi Mamoru. Juga bagi Yuuto dan yang lainnya. Begitu pula bagi diriku sendiri. Dua adalah sahabatku juga kan?
Tapi kenapa dendam itu dapat terwujud?
Itu aku atau bukan, tak ada waktu untuk memikirkan tentang ini. Aku harus menghentikan Shuuya sebelum dia benar-benar menghabisi nyawa Yuuto. Kuulurkan tanganku untuk menjamah Shuuya, namun gagal. Sama seperti sebelumnya, tubuh ini berlalu menembus tubuhnya begitu saja. Seolah-olah eksistensiku saat ini bukanlah hal yang nyata. Akhirnya aku hanya terpaku menatap epmandangan dimaan Shuuya mengayunkan pisau itu tepat dihadapan Yuuto.
"Maafkan aku, Yuuto..."
Kau meminta maaf pada Yuuto? Jangan. Kalau kau berniat untuk minta maaf, jangan bunuh anak itu! Percuma saja segala kata-katamu, Yuuto takkan memaafkanmu bila kau sampai berbuat hal sekejam itu padanya. Bahkan Mamorupun akan kecewa padamu, Shuuya! Akupun akan bersumpah takkan pernah memaafkanmu bila kau benar-benar melakukannya! Kumohon, Shuuya! dengarlah suaraku!
Jangan biarkan ada sahabat kita yang terbunuh lagi...
"Jleb! Crash!"
Aku hanya memajamkan mata, tak sanggup melihat pemandangan yang terjadi. Mungkin saat ini Yuuto telah kehilanagn nyawanya, diambil oleh Shuuya. bayanganku mengatakan demikian, namun ternyata hal tak terduga terjadi ketika aku mendengar teriakan Yuuto.
"Tidak! Shuuya!"
Darah terciprat diseluruh ruangan. Tangan yang memegang sebuah pisau berlumuran darah, derasnya aliran airmata dan darah yang terus mengucur dari luka tusukan.
Astaga... Shuuya telah menikam dirinya sendiri.
Darahnya mengalir sangat deras. Tubuh Shuuya terlihat sangat lemah, namun dia malah memaksakan diri untuk tersenyum. Yuuto pun hanya menangis sambil terus memanggil-manggil nama Shuuya. Tak ada gunanya, karena nyawa Shuuya pasti takkan bertahan lama. Harusnya Yuuto pun tahu tentang hal ini. Darah yang keluar dari dada Shuuya sudah terlalu banyak. Takkan mungkin dia bisa tertolong dalam keadaan seperti ini. Lagi-lagi, aku kehilangan seorang sahabat.
Apa ini benar-benar realita? Bukankah ini sedikit aneh? Bahkan tadi aku tak dapat menyentuh seorangpun disini. Ya, mungkin ini hanya mimpi. Kuharap begitu, karena aku tak menginginkan semua tragedi ini. Aku ingin bertemu lagi dengan semuanya, lalu meminta maaf dan membangun kembali perasan kami semua. Aku ingin bahagia, diantara semua itu dapat terwujud?
'Takkan pernah terwujud... Yang menantimu hanyalah kegelapan...'
Tiba-tiba, muncul sosok berjubah hitam tadi tepat dibelakang Yuuto. Sabit peraknya berayun cepat, siap untuk menebas tubuh Yuuto yang tanpa pertahanan. Yuuto! Cepat lari!
Tidak, dia tak dapat mendengarkan suaraku. Sedikit lagi, sabit itu akan menebasnya. Tidak...!
Tralala... Ini pembatas cerita...
"JANGAAAAN!"
"...?" Aneh, kini aku sedang terduduk dalam suatu kamar yang asing. Didominasi dengan warna putih. Beberapa alat-alat kedoketeran terpajang di ruangan ini. Kurasakan tangan kananku yang ditusuk oleh jarum infus. Aku di rumah sakit. Jadi... Yang tadi itu hanya mimpi? Tidak, aku takut. Aku harus segra memastikannya!
Kudobrak pintu kamar di rumah sakit ini. Kupaksakan kakiku untuk berlari sekencang mungkin. Tangan kananku mulai mengeluarkan darah karena infus yang tadinya kupakai telah terlepas dari tanganku. Tunuhku masih terasa lemas dan pusing, namun lebih dari semua rasa sakit ini, aku harus segera mencari mereka...
"Brruuk!" Aku jatuh tersungkur setelah menabrak sesosok orang.
" Kau tidak apa-apa... Kau...! Ichirouta?" Sosok itu berteriak kaget saat menyadari bahwa sosok yang ditabraknya adalah aku. Kudongakkan kepalaku untuk melihat jati diri sosok itu. Mata cokelatnya menatap khawatir pada tanganku yang mengeluarkan darah. Rambut cokelatnya tampak sedikit berantakan, sepertinya dia memang terburu-buru. Dia Shinichi...
"Ichioruta? Kau sudah sadar..."
"Dimana mamoru, Shuuya dan Yuuto?" Tanpa babibu lagi, langsung kucengkram tubuh Shinichi sambil menatap horror ke arahnya. Awalnya dia terkejut, namun setelah itu kulihat dia memalingkan wajahnya. Airmata seolah akan menetes dari kedua bola mata cokelat tuanya. Dirinya terus membisu sampai akhirnya mulai mengeluarkan suara.
"Ikutlah denganku..." Shinichi mulai membimbingku menuju suatu tempat. Kami tiba di depan sebuah kamar berpintu putih. Aku hanya terdiam, berusaha mengira-ngira kejadian sambil menunggu Shinichi untuk membukakan pintu itu. Setelah kulihat dia menghela nafas panjang, Shinichi mulai membuka kenop pintunya secara perlahan. Menampakkan sebuah ruangan dengan sosok orang yang sedang meringkuk di atas ranjang. Wajahnya tersembunyi dibalik kedua lututnya, membuatku tak dapat melihat wajah orang itu. Tapi, sebuah ciri berupa gaya rambut dread miliknya merupakan hal yang sangat familiar, bahkan bagiku...
"Itu Yuuto...?" Kuhampiri sosok itu, mencoba untuk menyentuhnya. Namun yang terjadi malah anak itu mengamuk. Ucapannya sangatlah kacau, seolah kehilangan kestabilan emosinya.
"Yuuto mengalami gangguan jiwa..." Shinichi mulai memalingkan wajahnya dariku sambil terus bercerita.
"Dia begitu sejak saat dimana Shuuya bunuh diri... Lalu sebelumnya, Mamoru juga telah kehilangan nyawa. Tepat di hadapan Shuuya..."
Tidak! Jadi semua yang kulihat itu adalah kenyataan? Bohong, bohong! Mamoru dan Shuuya telah tiada? Mereka mati? Dan yang jadi awal dari smeua tragedi ini...
Adalah aku
"TIDAAAAAKK!"
Bila suatu hari yang bahagia...
Hancur oleh api neraka yang sebegitu dahsyatnya...
Mengawali tragedi yang melanglang buana...
Menghapus semua tawa kita...
Andai saja masih sempat saling menatap...
Andaikan aku masih dapat mengucap maaf...
mungkin hati ini takkan meratap...
menyesali diri karena dulunya telah khilaf..
To be Continued...
Jiah! Kualitas cerita menurun drastis! =_=
Arrgh! Saia telat update, karena ada banyak tugas dan juga saia nggak bisa keluar rumah minggu lalu...
Sudahlah, mohon maaf bila ceritanya tambah sulit dimengerti...
Balasan review:
De-chan Aishiro:
Iya iya... Ceritanya saia bikin rumit... (hajared)
aduh... Yuuto masih begitu-begitu itu... (plak!) tapi nanti pasti happy ending kok...
uhuhu.. Shinichi kasian yah... T^T
Arigato...
Aurica Nestmile:
Yuuto gila...
Shuuya ko. it eh, meninggal...
perasaan semua pada kena bencana yah? (plak!)
Uh.. Arigato..
Akazora no Darktokyo:
Aduh... Anda nangis ya? Ini, saia kasih sapu lidi(?) deh... (plak!)
uhuhu.. T^T Arigato, Kuroshiro-san...
Draco-blacklightz23:
uhuhu... T^T Benar, semuanya harus tetap semangat (plak!)
cinta.. cinta.. cinta... Kayaknya tema fic ini memang cinta yang tak terbalas (curhat juga)
Arigato...
Arrgh! Tuh kan! Saia stress! DX
sudahlah...
Arigato...
The Fallen Kuriboh
