Warning: Angst! Yaoi, shonen-ai, dan sebangsanya. Death chara(s). Gaje, OOC. Don't like? Nggak baca nggak apa-apa kok, saia takkan marah. Ngeflame? Maaf, tapi saia udah bawa pemadan api disini... (nunjuk Shirou dan Fuusuke) Juga ada juga yang bagian ngeflame balik. (ngelirik Shuuya dan Haruya yang udah siap-siap nginjek-?- bola dengan wajah sadis)

Nee, happy reading ^^

Cross of Labyrinth

Chapter 6

The Last Will

Ichirouta's POV

"Sudah merasa lebih baik?" Shinichi mulai tersenyum miris ke arahku. Aku hanya terdiam sambil menggenggam erat kaleng teh hijau yang tadi Shinichi berikan. Mungkin tadi aku akan pingsan karena shock bila tak dibawa Shinichi keluar dari kamar Yuuto.

"aku tahu ini berat bagimu, tapi..." Ucapan pria berambut cokelat itu terhenti. Dia ikut tertunduk. Aku hanya menerawang, menatap datar hamparan rumput di taman Rumah sakit ini. Frustasi, aku takkan pernah lagi dapat bertemu dengan Mamoru. Takkan bisa melihat tawa riangnya ataupun tangis sedihnya. Bahkan aku tak dapat meminta maaf padanya. Dengan ini, hidupku seolah tak ada artinya lagi...

Aku terus tertunduk, sejenak kemudian mulai memeluk lututku dan menenggelamkan wajahku diantaranya. Aku ingin menangis, namun air mata ini tak bisa keluar lagi. Firasatku mengatakan bahwa saat ini Shinichi sedang menatapku khawatir, namun aku tetap tak menggubris firasatku yang memang selalu tepat itu.

"Aku juga ingin menangis..." Shinichi mulai menerawang ke arah langit. Aku masih tetap dalam posisiku tadi sambil mendengarkan suaranya yang terdengar bijak itu, "Tapi aku juga sama sepertimu, air mataku telah kering..." Aku hanya terdiam. Aku tahu Shinichi merasa kehilangan, tapi apakah rasa itu sebegitu besarnya? Apakah dia menyimpan perasaan pada Shuuya... Atau Mamoru?

Aku mulai mendongakkan kepalaku dengan tatapan curiga dan penuh tanya pada Shinichi, membuat yang bersangkutan langsung mengerti maksud dari pandangan tajamku yang penuh tanya itu. Dia tertawa kecil, namun penuh dengan paksaan...

"Baiklah, aku akan bercerita. Tapi jangan cerita siapa-siapa ya...?" Aku hanya mengangguk lemah. Melihat pernyataanku, Shinichi langsung menarik nafas dalam-dalam, dan menatap ke salah satu ruanagan di gedung rumah sakit.

"Aku... Aku menyukai Yuuto Kidou." Oh, baiklah. Shinichi berkata bahwa dia menyukai Yuuto dengan ucapan yang mantap. Sukses membuatku terdiam dengan tatapan serius. Jangan kira aku sedang berpikir, itu wajahku yang sedang cengo. (yang entah kenapa masih terlihat serius)

"YANG BENAR SAJA?" Dan akhirnya aku berteriak dengan sekencang-kencangnya, tanpa menghiraukan tubuhku yang masih terasa sakit. Kutatap Shinichi dengan tatapan tak percaya. Bagaimana bisa anak ini sampai 'falling in love' pada si kepala dread yang maniak penguin itu? Mungkin Yuuto memang memiliki kelebihan berupa otak cerdas dan ekspresi yang lumayan cool sehingga dapat membuat para fangirlsnya tepar ketika melihat wajah serius Yuuto. Tapi tentu saja style rambutnya membuatku tak menilainya sebagai orang yang sekeren Shuuya, apalagi semanis Mamoru. Ditambah lagi google yang selalu dipakainya. Bahkan waktu tidur! Entah bila dia mandi itu akan dilepas atau tidak... Ups. Kenapa bicaraku jadi ngelantur begini? Inget genre fic ini dan kendalikan dirimu, Ichirouta. Ini bukan fic humor! Paling tidak, author cerita ini berpesan begitu padaku yang tokoh utama ini.

"Aneh ya, bila aku menyukainya..." Shinichi mulai tersenyum garing padaku, lalu kepalanya mulai tertunduk dengan sendirinya. Setitik air mata mulai menetes dari mata cokelat buramnya. Ekspresinya itu seolah lelah. Ya, aku mengerti perasaannya. Pasti selama ini Shinichi-lah yang terus merawat Yuuto dan menjaganya. Berharap supaya orang yang dicintainya dapat sembuh. Namun itu mustahil. Ya, aku dapat mengetahui hal itu dari sorot sedih matanya saat menatap sosok Yuuto.

Aku hanya terdiam sambil menatap Shinichi dengan tatapan sedih. Temanku yang satu ini langsung menyeka air matanya saat menyadari bahwa aku menatapnya. Kemudian mulai berdiri sambil melakukan interaksi dengan angin.

"Selama ini, yang tahu soal perasaanku hanya aku dan seorang lagi. Dengan tahunya Ichirouta, maka bertambah satu lagi deh yang memegang rahasiaku..." Shinichi mulai menggaruk kepalanya yang sepertinya tidak benar-benar gatal. Tungu, ada seorang lagi yang mengetahui soal perasan Shinichi? Siapa itu?

"Tolong kau rahasiakan ya, Ichirouta..."

Belum sempat aku menjawab permintaannya itu, sudah terdengar suara beberapa orang yang memangil nama Shinichi. Suara yang sangat familiar ditelingaku. Terang saja, sosok-sosok itu adalah teman-teman kami di Raimon. Ada Max, Kurimatsu, Kabeyama, juga Kazuya dan Asuka. Mereka semua berlari menghampiri kami, lalu bertumpu pada lutut sambil ngos-ngosan begitu tiba di hadapan kami berdua.

"Kazemaru-san! Kau kok bisa sadar?" Tentu saja bisa, Kabeyama. Kau pikir aku bakal mati seumur hidup apa?

"Artinya ini pertanda baik kan?" Kazuya mulai tersenyum ceria, benar-benar gayanya yang seperti biasa. Asuka hanya mengangguk dengan senyuman penuh arti. Semuanya mulai mengadahkan kepalanya ke atas, seolah merasa ada sosok yang sedang memperhatikan mereka.

"Yang sedang berada di atas sana juga... Pasti dalam keadaan baik kan?" Asuka mulai begumam dengan menatap pada langit biru. Refleks, semuanya mulai mengangguk.

"Tentu saja Kapten dan Goenji-san dalam keadaan yang baik!" Ujar Kurimatsu dengan cerianya, membuat semuanya sedikit terhibur. Mereka semua tertawa, seolah tak terjadi apapun. Semua kecuali Max yang terlihat marah, mungkin. Max terus saja menatap Shinichi dengan tatapan intens. Aku hanya terdiam sambil bolak-balik menatap Shinichi dan Max. Shinichi yang juga sadar bahwa Max sedang menatap tajam padanya hanya menundukkan kepala.

"Shinichi! Coba ikut aku sebentar...!" Max segera menarik lengan Shinichi dan membawanya menjauh. Menyisakan kami yang merasa penasaran pada mereka. Seluruh junior tak ada yang berani menyusul mereka. Kecuali aku yang memang sudah senior ini. Aku yang sedang dilanda stress diluar biasa ini bahkan masih sempat penasaran pada urusan orang lain. Ah, sudahlah. Ini mah sudah script dari sananya. Maka tanpa babibu lagi, aku segera menyusul mereka.

Sedangkan Kazuya dan Asuka hanya terdiam sambil mengisyaratkan pada adik-adik kelas mereka untuk tetap menunggu di sini. Nice job, duo Amrik itu memang cukup santai bila menangani hal seperti ini. Baiklah, takkan kusia-siakan usaha mereka! Yang penting, aku harus mengintai Shinichi dan Max! (memangnya apa hubungannya?)

Secara tidak sengaja, insting pengintaiku mulai bangkit. Kuikuti Max yang menarik tangan Shinichi. Dengan sangat rapinya aku berhasil mengintai tanpa ketahuan mereka. Max terlihat sangat kesal, sementara Shinichi juga tak jauh beda. Hanya saja ekspresi Shinichi juga bercampur rasa sedih. Aku terus mengikuti sambil berusaha supaya tak diketahui mereka, sampai akhirnya Max berhenti tepat di belakang gedung rumah sakit.

"Matsuno, lepaskan!" Bentak Shinichi sambil berusaha melepaskan tangannya dari genggaman Max. Sementara Max langsung melepas cengkraman itu begitu saja, membuatku dan Shinichi tertegun.

"Kau... Lagi-lagi menangisi 'orang itu' kan?" Tanya Max sambil menatap Shinichi, dengan tatapan kesal. Sementara yang ditatap tajam hanya mengalihkan pandangannya.

"Bukan urusanmu..." Jawab Shinichi dengan nada suara yang sangat pelan. Max makin mengerutkan dahi saat mendengar ucapan itu.

"Apa maksudmu? Kau... Kau itu bodoh tahu! Menangisi orang yang bahkan tak menganggapmu! Kau benar-benar rugi karena telah membiarkan dirimu menderita..." belum selesai Max bicara, Shinichi segera memotongnya dengan ekspresi kesal.

"CUKUP! Ini sama sekali bukan urusanmu...!" Bentak Shinichi yang kurasa akan segera menangis setelah ini. Max langsung membelalakkan mata ketika mendengar pernyataan Shinichi...

"Bukan urusanku, katamu...?"

"Braak!" Aku dan Shinichi dikejutkan oleh suara dentuman dari tembok RS ini. Rupanya Max menghantamkan tangannya ke tembok tersebut, tepat di sebelah Shinichi. Aku hanya berdecak kagum saat mendapati tembok yang langsung retak itu.

Baik mereka ataupun aku yang sedang mengintai (baca: mengintip) tak ada yang bersuara. Max makin menyudutkan Shinichi dengan tembok Rumah Sakit, hingga jarak mereka berdua semakin dekat. Max menatap Shinichi lurus-lurus. Ekspresi kesal tampak jelas di wajah itu. Dan Shinichi malah balas menatap sahabatnya itu dengan tatapan yang sama tajamnya. Oh, perang death glare dimulai sudah.

"Aku tak suka bila melihat orang yang kusayangi merasakan sakit...!" Gumam Max pada Shinichi. Cukup pelan, sangat pelan malah. Namun entah kenapa telingaku tetap dapat mendengarnya dengan baik. Jadi Max menyayangi Shinichi? Yah, semua juga begitu sih...

Hening.

Tu, tunggu dulu! Mungkin rasa 'sayang' cukup wajar jika dikatakan pada sesama teman. Tapi... ekspresi Max, posisi mereka, nada bicara itu...

Jangan bilang kalau Max menyayangi Shinichi bukan hanya sebagai teman...?

"Hentikan, Matsuno! Aku menyukai Kidou! ...Kau harusnya tahu itu..." Shinichi hanya memalingkan wajahnya dari Max, lagi. Ternyata selain aku, Max juga mengetahui rahasia perasaan Shinichi? Tapi kenapa Max terlihat tak mendukung perasaan cinta Shinichi?

"Dan kau harusnya tahu, kalau aku mencintaimu...!" Max mencengkram erat kedua pundak Shinichi. Membuat sang pemuda berambut cokelat tua mengrenyit karena rasa sakit. Aku terpaku saat menyaksikan pemandangan itu. Max menyukai Shinichi? Lalu Shinichi memendam perasaan pada Yuuto? Masalahnya, Yuuto menyukai Shuuya dan Shuuya saling jatuh cinta dengan Mamoru. Lalu aku sendiri bertepuk sebelah tangan pada Mamoru...

Rasanya ini terlalu rumit. Tapi juga terlalu aneh. Bagaimana bisa kami semua terlibat cinta segi enam begini? Tidak adakah yang merasa bahwa ini terlalu aneh? Ataukah takdir memang membuat cerita kami menjadi serumit ini?

"Aku... Selalu mendengarkanmu yang bercerita tentang perasaanmu padanya. Aku berusaha mendukungmu, sambil terus memendam harapan semoga suatu saat nanti kau akan melihat ke arahku. Namun semau itu percuma. Dan aku telah merelakanmu pada saat itu..." Max Membelai lembut kepala Shinichi, membuat orang yang ia cintai itu menjadi makin merasa bersalah. Kemudian, tatapan mata Max kembali menajam.

"Namun, aku juga tak tahan bila melihatmu yang menderita karena orang itu! Aku membiarkanmu adalah agar kau bahagia, namun aku tak bisa bila seperti ini jadinya! Shinichi, aku akan mengatakannya sekali lagi padamu. Dan aku ingin jawaban dari lubuk hatimu..." Max menatap sedih pada mata cokelat Shinichi. Shinichi hanya terdiam, bahkan aku tak bisa membaca raut wajah itu.

"Aku menyukaimu, Shinichi. Jadilah kekasihku..." Akhirnya Max mengucapkan hal itu pada Shinichi secara terang-terangan. Aku hanya terbelalak sambil merona saat menyaksikan adegan penembakan Max pada Shinichi itu. Dari lubuk hati, aku juga ingin Mamoru mengucapkan hal yang sama padaku. Oh, itu tak mungkin. Bagaimanapun ia telah tiada...

Dan aku tinggal sendiri di sini...

Aku menutup mata sambil bersandar pada sebuah dinding. Tak terdengar suara apapun dari mereka berdua. Entah kenapa tiba-tiba aku merasa lelah. Mungkin mereka juga sama halnya dengan diriku. Suasana hanya hening tanpa didominasi suara apapun. Paling tidak sampai terdengar suara isakan Shinichi...

"Hiks... Tapi, aku..." Air mata mulai berjatuhan dari mata Shinichi. Isakan tangisnya makin menjadi. Kurasa saat ini ia sangat merasa bersalah. Mendengar suara tangis itu, aku sampai kembali mengintip mereka lagi. Bahkan kulihat Max yang saat ini sedang menampakkan raut wajah penuh rasa sedih...

"Maaf, aku tak bermaksud menyakitimu... Shinichi boleh bebas menyukai siapapun, asal kau jangan terus menangis seperti ini. Kau harus bahagia..." Max memeluk erat tubuh Shinichi yang rapuh. Shinichi balas memeluknya, sebagai sahabat tentunya. Alangkah bagusnya masalah mereka bisa selesai dengan cara seperti ini. Seandainya waktu itu aku dapat menyelesaikan masalah hatiku dengan segera, mungkin semuanya takkan jadi seperti ini...

Mungkin Mamoru takkan menemui ajalnya secepat ini...

Mungkin Shuuya takkan frustasi dan ikut menyusul Mamoru...

Mungkin Yuuto takkan depersi dan kehilangan akal sehatnya...

Mungkin...

Bila aku tak melakukan tindakan bodoh itu,

Mungkin saat ini aku takkan menangisimu seperti saat ini...

Kulangkahkan kakiku untuk pergi dari lokasi Max dan Shinichi, gontai. Semangat hidupku kembali meredup. Berbeda dengan Shinichi, kini aku tak punya siapapun yang bisa menjadi tempatku berteduh. Tak ada. Tiada seorang pun yang sudi untuk menopang diriku yang bernoda darah ini...

"Ichirouta-senpai?" Kutatap sosok yang memanggilku dengan tatapan lelah. Sedetik kemudian, mataku membulat saat menyadari jati diri sosok itu. Ryou Miyasaka. Ia adalah juniorku di klub atletik pada masa dulu.

Haha, bear juga. Bila aku tak keluar dari klub atletik, mungkin takkan pernah timbul perasaan suka pada Mamoru. Haha, andai saja aku dapat memutar balik waktu...

"Ternyata kau benar-benar sudah sadar! Aku..." Ucapan anak itu terhenti saat ia merasakan tanganku yang mengelus lembut kepalanya. Saat ini, aku benar-benar merasa lelah. Seolah tubuh ini ingin melepas rohnya. Namun ditengah rasa lelah itu, aku masih memaksakan wajahku untuk tersenyum pada juniorku itu..

"Aku senang kau datang menjenguk. Tapi... Bolehkah aku sendiri dulu untuk saat ini?" Pintaku pada sang junior berambut kuning tua. Ia menatapku khawatir, menyadari wajahku yang terlihat lebih pucat dari biasanya. Namun dasar Ryou, ia takkan bisa melawan permintaanku...

"Baiklah, besok aku akan datang menjengukmu lagi. Jaga diri baik-baik ya, Ichi-senpai...!" Ia tersenyum manis padaku sebelum akhirnya berlari menjauh dariku. Setelah sosok itu menghilang sempurna dari arah pandangku, aku segera berjalan lemas. Kembali ke kamarku di rumah sakit sana.

'Tap... Tap... Tap...'

Seluruh ruangan Rumah Sakit terasa sunyi. Padahal mataku melihat banyak orang yang berlalu-lalang di dalam sini. Namun yang terdengar di telingaku hayalah suara langkah kaki milikku yang maju perlahan, mengeluarkan bunyi yang asing bagiku. Makin lama makin lemas, aku merasa bahwa tenaga ini makin menghilang.

'Tep.'

Langkahku terhenti, tanpa diperintah oleh otak ini. Kucoba untuk kembali mengangkat kakiku, namun sia-sia. Kutolehkan kepalaku ke arah kanan. Kerumunan orang berjalan melewatiku tanpa peduli atau khawatir padaku. Bahkan tiada yang menghiraukan diriku yang tengah berkeringat dingin ini. Lalu kuarahkan kepalaku ke arah kiri untuk mendapati sebuah pintu...

Tertulis nama 'Kidou Yuuto' di pintu yang ada di samping kiriku itu. Aku menelan ludah. Tangan ini terulur sendiri, meraih gagang pintu kamar itu. Aku takut, rasanya hatiku masih belum siap untuk menemui sosok itu lagi. Aku ragu, tapi tanganku mulai bergerak memutar knop pintu itu, perlahan. Seolah tiada peduli dengan konsekuensi dari sesuatu yang akan terjadi nantinya...

'Krieet...' Pintu kayu itu terbuka perlahan, dan tubuhku mulai berjalan tanpa suara ke ruangan itu. Kutatap ranjang tempat di mana harusnya Yuuto terbaring. Tiada seorangpun di sana. Aku terkejut. Namun aku lebih terkejut lagi saat mendengar suara seseorang yang memanggil namaku...

"Akhirnya datang juga, Ichirouta..." Ucap Yuuto yang saat ini sedang duduk di tepian jendela, menatap pemandangan luar yang berlangit mendung. Aku terbelalak, tetap terpaku di hadapannya sampai tak sadar kalau pintu yang tadi kubuka tertutup dengan sendirinya.

"Sudah kutunggu saat dimana kita bisa berdua saja." Aku tetap tak membalas perkataannya, terlalu kaget. Saat ini ia benar-benar terlihat normal dan tanpa cacat. Gaya bicaranya benar-beanr khasnya yang seeprti biasa. Gerak tubuhnya sangat natural hingga membuatku tak percaya. Bukankah ia telah divonis mengalami gangguan jiwa?

"...Kau berpikir kalau aku benar-benar sudah gila ya?" Pertanyaannya sangat menohok bagi diriku. Bagaimana bisa ia tahu kalau aku berpikir demikian?

"Ha... Ahahaha." Dan aku hanya tertawa garing saat mendengar pertanyaan dari Yuuto, tak bisa menjawab yang sebenarnya ada dalam pikiran ini.

"Masih bisa tertawa, hm? Apa kau tak merasa bersalah...?" Pertanyaan Yuuto yang kali ini membuatku terbelalak. Tentu saja aku merasa bersalah, sangat. Gara-gara aku, Mamoru dan Shuuya harus kehilangan nyawanya. Karena aku yang egois...

"Kh..." Aku tertunduk sedih. Air mata mulai menggenang di kedua mata cokelat madu milikku. Aku menyesal, lebih menyesal dari siapapun. Dadaku berdenyut sakit, mengingat apa yang telah kulakukan pada semua sahabatku. Aku benar-benar seorang pengkhianat...

"Rupanya memang menyesal..." Perlahan, Yuuto berdiri dari duduknya. Dilangkahkannya kakinya menuju ke arahku yang tengah terduduk lemas ini. Tangan kirinya menarik rambutku dengan kasar. Lalu diangkatnya kepalaku, mensejajarkan kepalaku denngan wajahnya. Ia tersenyum sinis, menatapku yang tengah meringis kesakitan.

"Kalau kau menyesal, kau harus menebus itu semua dengan nyawamu...!" Ucap Yuuto dengan nada sinis, menatap tajam pada mataku. Jarak wajah kami terlalu dekat, membuatku ketakutan saat melihat kedua mata merah darahnya itu. Aku merinding, tak bisa mengeluarkan sepatah katapun.

"Ayo mati... Bersamaku." Yuuto mengangkat sebilah pisau yang ada di tangan kananya. Pisau berukiran iblis, terlihat sangat menyeramkan. Aku terbelalak ngeri. Namun saat mendapati ekspresi takutku itu, Yuuto malah tersenyum layaknya psikopat. Dijilatnya pisau perak itu, lalu ia mulai menggores leherku. Tak terlalu dalam. Rasa perih di leherku terasa samar karena tertutupi oleh ketakutanku pada sosok Yuuto yang saat ini. Hormon adrenalinku makin terpacu ketika kulihat ia menggores pergelangan tangan kirinya, melepas cengkramannya dari rambutku. Dibiarkannya darah yang mengalir itu menetes ke bawah. Tersenyum, ia seolah sengaja membuatku takut.

Aku menatap lekat ke arah pisau yang ia pegang. Takut, namun aku juga berpikiran untuk menghabisi nyawa ini. Karena eksistensi ini telah menghancurkan orang-orang yang berharga. Mataku menatap sayu pada sosok Yuuto. Dari dalam matanya aku dapat melihat sebuah keputus-asaan dan kesedihan yang mendalam. Ia sama sepertiku.

"Bagaimana, Ichirouta?" Aku menatap serius pada sosok Yuuto yang tersenyum sinis itu. Kugenggam erat bilah pisau yang ia pegang, membuat tanganku teriris dan mengeluarkan banyak darah. Harusnya terasa sakit, namun tubuh ini seolah hampa, tak dapat merasakan rasa apapun.

"Ayo, mati sama-sama... Agar bisa bertemu dengan Shuuya dan Mamoru..." Ia tersenyum sadis saat mendengar ajakanku. Dijilatnya darah yang mengalir di telapak tanganku. Kemudian ia langsung mencekik leherku, membuatku tersentak kaget. Diambilnya sebuah cairan berwarna keunguan dari balik kemejanya. Yuuto meminum cairan itu, lalu meminumkan sisa dari mulutnya ke mulutku. Rasa pahit segera mendominasi lidahku. Aku mengernyit, mungkin cairan yang ia minumkan ini adalah racun.

"Jangan khawatir, tadi itu Cuma cairan yang akan memastikan kematian kita." Mana ada orang yang tidak khawatir setelah tahu dirinya diminumi racun? Oh baiklah, paling tidak aku sama sekali tak mengkhawatirkan hal ini. Tentu saja, karena aku memang menginginkan kematian.

Beberapa detik kemudian, aku kehilangan keseimbangan. Tubuhku menjadi berkali-kali lebih berat dari biasanya. Yuuto hanya memandangku sadis sambil menggendongku ala bridal style, beranjak menuju jendela. Dia mendudukkan tubuhku di ambang jendela, tersenyum penuh kemenangan sambil mengusap pipiku.

"Nah, ayo terbang di angkasa untuk sesaat, sebelum akhirnya kita jatuh dalam jurang neraka..." Ia kembali mengacungkan pisau berukiran iblis itu, mengarahkannya tepat di depan dadaku.

"Selamat tinggal, Ichirouta..."

"Jleb!" Kuarasakan cairan merah hangat yang mengalir keluar dari tubuhku. Mataku memandang datar ke arah dadaku dimana di sana tertancap sebuah pisau, dalam. Yuuto tertawa keras sejenak, sebelum akhirnya ia menarik kembali pisau itu dari tubuhku dan menikamkannya di perutnya sendiri. Telak, ia sampai memuntahkan darah dari mulutnya. Namun rasa sakit yang ia rasakan malah membuat tawanya menjadi makin keras.

"Hahahahaha!" Aku hanya terdiam, membisu sambil menatap sosok psikopat di hadapanku. Ia terus tertawa keras selama beberapa detik, lalu tiba-tiba memeluk tubuhku erat.

"Ayo pergi... Ke tempat Shuuya dan Mamoru..." Dengan sekali sentakan, aku terjatuh dari jendela itu, dalam keadaan masih berada dalam pelukan Yuuto. Kami berdua melayang jatuh di udara. Kututup mataku untuk membayangkan tempat Mamoru berada. Tanpa sadar, kuangkat sebelah tanganku, seolah berusaha meraih tangan seseorang yang terulur padaku...

"Mamoru... Aku pulang..."

"Brukkk!"

End of Ichirouta's POV

Normal POV

Semua orang berkerumun mengelilingi dua jasad yang telah meregang nyawa tersebut. Banyak darah mengalir dari luka sayatan dan luka akibat benturan tanah yang mereka alami. Semua orang memandang ngeri pada dua mayat itu. Lebih-lebih kawan seperjuangan mereka yang sangat mengenali jati diri dua sosok tak bernyawa itu.

Di balik keramaian tersebut, tampak sesosok berjubah hitam yang sedang memainkan pisau berukiran iblisnya. Sosok unknown itu terus memainkan pisau ukiran iblis yang memang 'miliknya'. Di bibir tipisnya terlukis sebuah senyuman penuh kemenangan.

"Dengan ini, semua selesai..."

"Masih belum. Kau jangan senang dulu." Sambung seorang pria yang berdiri di balik sang sosok berjubah hitam. Penampilannya sangat kontras dengan sang shinigami hitam, pakaiannya putih bersih tanpa noda.

"Huh, kupikir siapa... Masalah yang selanjutnya itu bukan urusanku, tahu!" Sosok itu membuka kerudung jubahnya. Yang terlihat adalah paras cantik seorang gadis dengan rambut hitam panjang dikuncir pigtail, dengan mata semerah darah.

"Hm... Kita lihat saja keputusan Hime-sama nanti..." Sang pria berambut pirang itu mendengus dan mengacak rambut sang iblis manis, dengan mata yang menatap datar dua sosok yang telah meninggal disana. Sang gadis hanya cekikikan dengan nyaringnya.

"Hihihi... Berdoalah, wahai para tawanan cinta yang tak terbalas!"

Apa saat ini kau tengah memendam cinta tak terbalas?

Ingin melupakannya atau malah bersikap egois?

Berhati-hatilah, karena bila kau tak berhasil mengendalikan rasa itu...

Kamilah yang akan menyelesaikan semuanya

Shinigami hitam.

The End

Kyaa! 0_0 Apa-apaan ini? Kenapa tambah labil begini? Oh God, ternyata saia galau akut ini. Oh, mari balas review dulu...

Akazora no Darktokyo:

Wahaha. Akhirnya saia malah update... ^^

betul-betul! Chap kemarin dibuat agar Ichi jugatahu detail-detail kematian sahabat-sahabatnya! XD

Aduh, saia masih ada typo ya...

Okelah, Arigato reviewnya! XD

Aurica Nestmile:

Uhuhu... Saia kasihan ama Ichi... (yang bikin ceritanya gini siapa!)

Nee, arigato... Review lagi ya? (plak!)

De-chan Aishiro:

Haha... Sebenarnya, saia nggak memeriksa typo di chap kemarin. (langsung dihajar massal)

Arrgh! Saia bingung pada partikel pun DX

Yang dapat titik terang cuma yang masalah partikel pun di belakang nama. Katanya temen saia memang harus dipisah kalau pakai nama orang, hehe... (plak!)

tapi kalau untuk kata kerja dan kata-kata lainnya(?) saia masih bingung... T^T

Ajarin lagi... (plak!)

Nah, dengan ini CoL telah selesai. Tapi masih ada 1 chapter lagi, sebagai epilognya. Kira-kira, apakah yang terjadi di chapter depan? Apakah akan tetap menjadi bad ending? Atau malah berubah haluan ke happy ending?

Nantikan chapter penuntasannya ya! (plakk!)

Arigato...

The Fallen Kuriboh