Cross of Labyrinth
Chapter 7
Epilogue
"Ayah, ini teman-teman ayah waktu masih smp dulu, ya?" Seorang bocah usia 5 tahun yang berambut cokelat berlari kecil menghampiri ayahnya. Bocah mungil itu menunjukkan sebuah album foto, di mana di dalamnya terlukis seluruh wajah anggota Raimon Eleven.
Sang ayah mengambil album foto itu, tersenyum. Senyuman itu terlihat sedikit pedih saat matanya menangkap sosok 4 orang yang tersenyum dalam foto itu. Matanya menerawang, masih mengharapkan bahwa kejadian belasan tahun lalu hanyalah sebuah mimpi buruk. Mimpi buruk yang akan hilang tanpa bekas ketika dirinya terbangun. Tentu saja itu mustahil, kini ia berada dalam sebuah distopia. Realita yang sebenarnya.
"Ayah...?" Sang anak bermata cokelat menarik celana ayahnya, khawatir karena sang ayah hanya berdiri mematung dengan senyuman sedih. Yang dikhawatirkan langsung mengubah ekspresinya, dari senyuman sedih menjadi senyuman bahagia. Dijongkokkannya tubuh jangkung itu untuk membelai kepala anaknya. Lalu ia mendudukkan anak mungil nan manis itu di pangkuannya. Dibukalah album cokelat berdebu itu untuk dilihat bersama anak semata wayangnya.
"Eh, eh... Yang ini pasti ayah, ya?" Bocah mungil itu menunjuk sosok anak laki-laki berambut cokelat yang dipangkas sederhana, dengan mata cokelat yang bergradasi dengan indahnya. Nomor punggung 6 terlihat dari kaos yang dikenakan bocah di foto itu. Tertulis nama 'Shinichi Handa' di catatan foto itu.
Sang ayah hanya mengangguk kecil sambil tersenyum, membenarkan tebakan anaknya. Sang bocah yang tebakannya ternyata benar langusng ber-yes ria. Sang ayah yang notabenenya adalah Shinichi mulai membuka halaman album foto tersebut satu-persatu. Tangannya terhenti ketika melihat cetakan foto yang menggambarkan 4 sosok yang sedang tersenyum, riang sekali.
"Eh...? 4 orang ini terlihat akrab sekali ya, ayah?" Ucapan polos anaknya membuat hati Shinichi sedikit tertohok. Foto yang melukiskan sosok Mamoru, Shuuya, Ichirouta, dan Yuuto. Berempat. Naas sekali, keempat orang itu telah tiada. Meninggal dalam rentetan peristiwa kematian yang tragis. Shinichi tersenyum sedih tatkala memandangi foto itu.
"Nee, sepertinya ayah tidak sedang baik-baik saja." Ucap sang bocah mungil sambil mangut-mangut, pose ala detective. Hal itu membuat Shinichi tertawa renyah. Ternyata anaknya ini hebat juga dalam hal menebak pikiran orang lain.
"Hahaha... Kau ini ada-ada saja. Lucu sekali! Seperti..." Ucapan Shinichi terhenti. Ia kembali menatap foto yang tadi ia perhatikan, lalu menatap sosok anaknya sendiri. Kembali ke foto, lalu kepada sang bocah. Anak dari Shinichi Handa ini hanya memiringkan kepala ketika menatap tingkah gaje ayahnya.
"Mi, mirip! Kok bisa begini sih?" Shinichi mulai panik dan bingung sendiri, sementara anaknya hanya terdiam sambil sweatdrop karena kelebayan sang ayah.
"Mirip apanya, ayah?" Tanya sang bocah itu dengan ekspresi super datar. Shinichi yang ditanyai hanya menghela nafas, kemudian menggeleng sambil tersenyum lembut. Otomatis, sang bocah merasa kesal pada ayahnya yang tak mau buka mulut itu.
"Ah sudahlah. Sekarang kau harus berangkat sekolah, bukan? Ayo, nanti kalau terlambat dimarahi Guru lho...!" Sang ayah a.k.a Shinichi menepuk-nepuk kepala bocah yang masih TK itu. Yang 'diceramahi' hanya menggembungkan pipinya.
Dunia ini terus berputar...
Meninggalkan ribuan kenangan yang telah lalu...
"...Kira-kira, reinkarnasi itu benar-benar ada tidak ya?" Ucapan sesosok bocah manis yang bermata hitam onyx membuat sosok ayahnya yang sedang meminum kopi langsung menyemburkan minuman paginya.
"Uhuk, uhuk! Ka, kau ini... Masih kecil malah bicara tentang hal yang berat begitu. Anak siapa sih sebenarnya kau itu?" Keluh sang ayah yang berambut coklat muda. Sang anak stoic yang berambut putih itu menarik rambut panjang ayahnya dengan ekspresi sebal.
"Tentu saja aku ini anak otou-san! Lagipula, wajar(?) saja kan bila aku bertanya. Bagaimanapun... kematian itu..."Bocah bermata hitam besar itu tak melanjutkan kata-katanya. Ia tertunduk, sepertinya memikirkan sesuatu dengan dalam.
Sementara itu di ruangan yang sama, duduklah sesosok anak mungil berusia 5 tahun juga di sebuah meja belajar classic. Ia sedang... Tunggu. Ia sepertinya sedang mengakses laptop? What the hell! Canggih amat tuh bocah?
Ah, anggap saja tadi itu hal biasa. Mari kita lihat saja apa yang sedang dilakukan anak sekecil itu dengan laptop ini. Ah, sepertinya dia browsing fic di FFN (plaak!). Oh, bukan. Sepertinya ia sedang menghack laptop yang user namenya 'Matsuno Kuusuke' ini. Eh? Eeeeeh...!
"Klik!" Sang bocah dread dengan mata merah itu tersenyum puas tatkala layar monitor milik sang ayah a.k.a Max itu berhasil ia hack. Dijelajahinya laptop dengan program windows tersebut. Gerakan tangan lincahnya diatas mouse terhenti ketika ia menemukan sebuah folder, sepertinya sudah sangat tua. Ia klik folder tersebut dan... Voila! Ternyata kumpulan foto Shinichi dari berbagai ekspresi.
"..." Ah, lebih baik hapus saja folder gaje seperti itu. Sepertinya sang bocah mungil kita yang pintar ini mulai merasa bosan dengan laptop Toshiba yang berhasil ia hack dengan indah tersebut. Namun, sepertinya ada sesuatu lagi yang menarik perhatiannya. Sebuah folder lagi. Folder yang letaknya tersembunyi sekali, bahkan sampai di hidden segala. Sebuah folder misterius dengan nama 'Raimon Eleven'.
Dibukanya folder 'mencurigakan' itu. Banyak foto-foto anak smp dengan seragam sepak bola biru-kuning. Ayahnya juga terlukis dalam file foto tersebut. Sang bocah dread itu memicingkan matanya. Sejak kapan ayahnya pernah bergabung dalam sebuah kesebelasan? Ia melirik ayahnya yang sedang mengobrol bersama saudaranya yang berambut putih. Tatapan yang menyiratkan sebuah rasa terkejut.
"Hei ayah! Kau dulunya pemain sepak bola ya?" Tanya sang bocah pada ayahnya a.k.a Max dengan nada yang sangat tidak sopan. Oh nak, kau ini sedang bicara dengan ayahmu atau pembantumu?
"Ah iya... Hah! Tunggu, kau menghack laptopku lagi yaa?" Max langsung menjitak pelan kepala anaknya. Anehnya, yang dijitak hanya memasang ekspresi datar nan stoic saja. Sang ayah geleng-geleng kepala melihat tingkah kedua anak kembarnya yang sama sekali nggak ada normal-normalnya ini.
"Ah, yang jadi goalkeeper itu... Kaptennya ya?" Tanya sang bocah berambut putih pada ayahnya, menunjuk-nunjuk sesosok bocah manis dengan seragam yang sedikit berbeda dari teman lainnya. Sosok sang ex-kapten Raimon Eleven, Mamoru Endou.
"Ya..." Max hanya menjawab singkat, tak ingin mengungkit kisah sedih dari cerita yang telah lalu. Anak satunya yang berambut dread menatap datar pada wajah ayahnya. Dan dengan suksesnya ia berhasil membaca pikiran Max.
"Bila dilihat dari ekspresi ayah, sepertinya dulu pernah terjadi sesuatu yang melibatkan si kapten itu." Pernyataan sang bocah canggih bermata merah itu membuat Max kaget seribu peristiwa. Salahkan dirimu sendiri yang bikin anak sepandai dia, Max!
"Haha... Bukan begitu. Hanya saja... Teman ayah yang itu sudah meninggal." Ucap Max dengan datar. Ekspresinya bahkan tak bisa dibaca oleh kedua anaknya yang manis itu. Ekspresi bocah berambut putih menjadi sedih tatkala ia mendengar pernyataan Max. Dipandangnya foto Mamoru dalam-dalam, lalu ia menghela nafas panjang.
"Kasihan sekali. Padahal, kalau saja ia masih hidup... Pasti aku akan menyukainya." Dan ucapan polos yang disertai senyuman manis anaknya yang bermata onyx itu membuat Max jawdrop seketika. Ternyata, mau masih hidup ataupun sudah meninggalpun Mamoru tetap saja menebar feromon ukenya. Bahkan anak kecil usia 5 tahunpun bisa kena. Atau... Apakah ada penyebab lain dibalik ini semua?
"Wah, kakak yang rambutnya seperti bawang putih ini keren juga..." Ucap bocah dread sambil menjilat bibirnya. Max makin shock ketika melihat tingkah anaknya yang satu ini. Sementara saudara kembarnya yang berambut putih mendengus kesal ketika mendengar ucapan itu.
"Tidak boleeeeh! Kau tidak boleh menyukai orang lain, kau kan sudah janji akan bersamaku terus. sampai mati nanti, di alam baka juga!" Sang bocah putih mengerutkan alisnya sambil menceramahi sang kembaran. Bocah yang berambut dread yang diceramahi hanya mendengus.
"Kau tadi juga. Seenak jidat bilang akan menyukai orang lain selain aku...!" Sang bocah dread bermata merah itu menyilangkan kedua tangannya di dada. Sementara sang bocah bermata onyx hanya tersenyum grogi sambil meminta maaf. Secara tiba-tiba, sang bocah dread mencium pipi saudara kembarnya. Membuat sang bocah berambut putih langsung memerah seketika. Sementara Max...?
"What the...! Anak-anakku... Yaoi, shonen-ai, BL, incest...?" Dan akhirnya Max pingsan di tengah keterkejutannya atas tindakan kedua anak kembarnya itu. Sang bocah berambut putih segera menghampiri ayahnya dengan wajah khawatir, namun kemudian sang kembaran bermata merah ruby menarik lengannya...
"Tak usah khawatir, pingsan karena shock itu hal biasa. Nanti juga bangun lagi. Lebih baik sekarang kita berangkat ke TK..." Meskipun awalnya enggan, akhirnya sang bocah berambut putih itu menuruti kembarannya.
Perjalanan...
"Yuuto..." Bocah berambut dread itu langsung menoleh ketika kembarannya memanggil namanya. Dia hanya melirik sang bocah putih sambil menjawab, "Hn?"
"Ung... Terima kasih karena kau mau selalu bersamaku..." Ucap sang bocah bermata onyx dengan malu-malu. Ucapan tadi membuat sang kembaran ikut berblushing ria. Setelahnya, sang bocah berambut dread itu tersenyum lembut pada sang bocah berambut putih.
"Aku... Sudah sejak dulu selalu ingin hidup bersamamu..." Sayangnya, sang bocah berambut putih sedang memusatkan perhatiannya pada anak kucing yang baru melintas. Hingga akhirnya ia tak mendengar ucapan sang kembaran.
"Eh? Tadi kau bilang apa?" Tanya sang bocah dengan memiringkan kepalanya. Manis sekali. Bahkan si kembaran dreadnya iu mau tak mau harus mengakui keimutan wajah kembarannya.
"Tidak. Hanya saja... Aku menyukaimu." Ucapan itu membuat sang bocah berambut putih merona sambil membelalakkan mata, terkejut.
"Eh? Bilang... Bilang sekali lagi dong!" Teriak bocah berambut putih saking senangnya dia. Sayangnya sang bocah berambut dread menolak permintaan sang kembaran.
"Tidak mau." Sang bocah berambut putih langsung berwajah masam ketika mendengar ucapan penolakan dari sang kembaran dreadnya. Ia langsung menggembungkan pipinya dan memalingkan wajah dari saudaranya yang satu itu. Sang bocah dread hanya tersenyum maklum melihat tingkah sang kembaran.
"Senang sekali bisa bertemu denganmu lagi, Shuuya..."
Tralala... Pembatas cerita...
"Ting tong!" Suara bel pintu rumah yang memang akan terdengar setiap hari pada jam segini. Shinichi segera beranjak mendorong lembut punggung anaknya menuju pintu depan. Sang bocah tersenyum riang sambil bersenandung kecil, sangat menanti untuk melihat sosok yang ada di balik pintu.
Shinichi membukakan pintu rumahnya, membiarkan anak semata wayangnya melompat keluar dan memeluk dua sosok mungil yang ada di depan pintu. Sosok anak sebaya bermata hitam dan berambut bawang putih hanya tersenyum lembut ketika sahabat berambut coklatnya yang imut itu memeluk dirinya. Sedangkan sang bocah dread bermata ruby mendengus, tapi tetap membiarkan dirinya yang juga dipeluk sang bocah coklat. Shinichi tersenyum bahagia ketika melihat tingkah tiga bocah ini. Rasanya sudah lama waktu berlalu sejak ia melihat pemandangan seperti ini. Tunggu, adegan tiga bocah mungil itu terlihat seperti de javu di mata Shinichi. Mungkinkah...?
"Ohayou! Shuuya, Yuuto!" Ucap sang bocah dengan riang usai melepas pelukannya. Mata coklatnya bersinar indah, bagaikan sorot mata milik orang yang sangat dikenal Shinichi. Rambut coklatnya yang bertanduk berkibar lembut dibuai angin. Shinichi hanya mematung, menjelajahi semua peristiwa lampau yang berputar dalam otaknya...
'Ohayou, minna!'
Salam yang menjadi kebiasaan Raimon di masa lalu.
Sosok yang berlari menuju kawan-kawannya dengan senyuman riang.
Lalu tersenyum lembut ketika menatap sosok-sosok yang menjadi sahabatnya.
Lembut... Penuh kehangatan, namun juga memancarkan kekuatan.
"Ohayou... Mamoru..." Ucap bocah bernama 'Yuuto' dan 'Shuuya' dengan serempak. Sementara sang bocah bernama 'Mamoru' membalasnya dengan senyuman riang. Kali ini Shinichi benar-benar melihat sebuah realita atas adanya sebuah keajaiban. Tiga sosok yang sedang bercanda ria ini, adalah...
"Nee, aku pergi dulu otou-san!"
"Ah, tung-" Sayangnya tiga anak tadi telah berlalu, berlari kencang sambil tertawa dengan riangnya. Shinichi masih terpaku di depan rumahnya. Ia tak percaya, bagaimana bisa dirinya tak menyadari bahwa sosok mungil yang telah 5 tahun menjadi buah hatinya, adalah...
"Kapten...?"
Apabila aku meminta hal yang mustahil..
Percayakah kau dengan sebuah keajaiban?
Di sebuah rumah lain, terdapat sosok pria berwajah manis dengan rambut kuning sebahu. Ia sedang menyisir rambut panjang seorang bocah mungil. Kalau ingin menduga, bocah mungil itu tadi pastilah anak dari pria berambut kuning.
"Kyaaa! Kau manis sekali deh~" Sang pria paruh baya itu memeluk gemas anaknya yang memang sangat-oh-awesome itu, "Mirip sekali dengan seniorku...!"
"Senior? Siapa?" Sang bocah memiringkan kepala, terlihat sangat manis. Namun sang ayah bahkan tidak terdorong untuk berteriak ala fangirl ketika melihat senyuman itu. Ia terlalu sibuk untuk mengenang seseorang... Yang berarti baginya, banyak.
"Hehe... Senior yang ayah kagumi sejak smp. Tapi orangnya sendiri sudah meninggal..." Sang ayah kembali tersenyum riang dan memeluk erat anaknya. Sang anak mendengus.
"Jadi aku disamakan dengan orang yang sudah mati nih?" Tanya sang bocah dengan ekspresi datar, namun terlihat bahwa bcoah itu menyimpan rasa sebal pada ayahnya. Sang ayah tersenyum maklum, tak menjawab pertanyaan anaknya.
Sang bocah lalu bergegas melompat dari pelukan ayahnya dan mengambil tas dan sebuah topi yang senada dengan seragam TK yang dikenakan bocah itu. Sang pria paruh baya hanya menatapnya dari sofa sambil tersenyum sedih. Sunyi, kehaningan yang menyeruak ini sedikit mebnyakitkan. Namun entah kenapa dua orang itu tetap mempertahankan situasi ini.
"...Ayah, apa sekarang kau masih tetap mengaggumi seniormu?"
Hening sesaat. Sang ayah terpaku dengan pertanyaan tersebut. Bukan berarti ia tak dapat menjawab pertanyaan tadi, namun ada hal lain. Sebuah rasa yang membuat dadanya terhenyak.
"I, iya..." Dengan gagapnya, sang pria berambut kuning itu memaksakan diri untuk membuka mulutnya. Anaknya tersenyum ketika mendengar jawaban itu. Anehnya, sang ayah langsung merasakan panas di pipinya ketika melihat senyuman itu. Aneh, tapi perasaan yang ia rasakan itu bukanlah perasaan aneh yang asing. Buaknkah ia pernah merasakannya di waktu lampau?
"Terima kasih, Ryou..." Senyuman itu, sama sekali tak berbeda dengan senyuman yang dulu selalu dilihatnya dari jauh. Ekspresi wajahnya, caranya memanggil nama 'Ryou', senyumannya, suaranya... Rasanya sang pria berambut kuning yang dipanggil 'Ryou' itu baru kembali ke masa lalu.
"Senpai..." Sosok pria itu hanya berdiri terpaku. Menatap daun pintu yang telah terbuka, sosok mungil tadi telah pergi berangkat sekolah. Mata hijau emeraldnya meneteskan air mata, deras...
Benarkah keajaiban itu ada?
Kalau iya, kenapa tidak kau buat saja kisah bahagia sejak awal hidup ini?
Ataukah kau berencana lain?
Bolehkah bila seseorang mengharap sebuah awal yang baru?
Sosok bocah itu berlari kencang, kemampuan larinya ternyata sama sekali tak berubah. Poninya yang biasa menutupi mata sebelah kirinya sedikit tersibak, menampilkan mata coklat madu yang sangan indah. Ia menyibakkan rambut turquoisenya yang berantakan. Akhirnya sampai, sebuah TK di kota Inazuma. Hanya TK biasa yang terlihat ceria karena dipenuh anak-anak yang ada perasaan berbeda, di mana jalinan takdir itu membentuk sebuah perwujudan dari harapan...
"Ohayou, Ichirouta...!" Senyum bocah trquoise itu makin mengembang ketika seorang temannya yang berambut coklat tanduk menyambutnya. Diikuti oleh dua sosok lagi yang ikut tersenyum padanya.
Cinta tak harus selalu terwujud...
Tahukah kau?
Mungkin hati ini tak akan pernah bisa terpaut...
Namun bukankah suatu hal bagus bila kita masih tetap bisa bersama,
Dan tersenyum menyambut mentari yang berpendar indah?
"Ohayou, minna..."
Hati manusia itu bagaikan labirin
Yang entah berujung pada suatu happy end atau sebuah tragedi
Mungkin akhir sebuah kehidupan takkan sebagus yang kau baca di buku cerita
Dan mungkin akan banyak persimpangan jalan di takdir hidupmu
Labirin hatimu mungkin akan membuat banyak persilangan untuk menyesatkan dirimu
Dan bahkan kau tak dapat mencapai sebuah kisah happy end yang berkilau
Mungkin juga sebenarnya sebuah happy end itu tidak benar-benar ada
Namun kau boleh percaya,
Bahwa pasti ada akhir di mana kau dapat tersenyum, meski ending itu tidaklah seindah taman surgawi
Cross of labyrinth
The End (Bah, the end dua kali!)
Arrrgh! What the labil thing yang kuketik ini?
Ah, akhirnya ini cerita benar-benar tamat. Deskripsinya kurang jelas ya? iya, saia sengaja bikin anda bingung. (plaak!)
Tamatnya kok kurang mengena gini ya?
Apakah pesan moral fic ini dapt tersampaikan di hati para readers?
Ataukah anda masih bingung ama alur di chap terakhir ini?
Maaf deskripsinya memang saia bikin kurang jelas. (plaak!)
Gini, ceritanya tuh 4 orang reinkarnasi jadi bocah-bocah gitu. Mamoru terlahir kembali jadi anaknya Shinichi, Shuuya dan Yuuto jadi anaknya Max, lalu Ichirouta terlahir kembali sebagai anaknya Ryou.
Gaje ya? Memang. Saia yang authornya aja masih linglung ama chapter ini.
Oh. Btw soal shinigami-shinigami gaje di chap kemarin saia ambil chara dari OC saia. Yang jadi iblis si Yummy dan malaikatnya Kou-chan. (siapa yang nanya?)
Arrgh! Gomenasai bila akhirnya jadi gaje kayak begini. Plot awalnya itu, harusnya Ichirouta nggak mati, lho... 0_0
Tak tahunya malah saia bikin meninggal semua. Dan harusnya ini jadi bad ending. Tapi akhirnya endingnya jadi nggak angst gini... -_-
ehem, mari balas review dulu.
De-chan Aishiro:
Oh, Shinichi dan Max memang sohib sejati banget. Yah, meski akhirnya mereka tak bisa bersatu jua.
Aw, aw! XD Waktu itu saia lagi suka bikin Yang sadis-sadis! XD
Hm... Benar juga. Adegan tadi memang cukup nggak baik untuk dilihat anak dibawah umur. Bisa-bisa ditiru tuh adega bunuh diri. Jadi... Enaknya diganti nggak ya ratingnya?
Haha, di kehidupan selanjutnya ini Yuuto dan Shuuya banyak Oonya! DX
ah, semoga chap ini memuaskan hati anda, De-chan... ^^
Aurica Nestmile:
Uh, iya. Mereka semua mati tapi akhirnya reinkarnasi kan?
Huu... Terima kasih, Yue-chan! X'D
semoga hati anda dapat terpuaskan dengan ending gaje di chappie ini... ^^
Akazora no Darktokyo:
aaah! Jangan hajar saia Kuroshiro-san! DX (bercanda)
inilah epilog eritanya, tapi kayaknya masih nggantung ya?
Hoho, nggantung itu ciri khas saia! XD (Dihajar)
ehehe... Arigato untuk anda... XD
Minna-san, baik yang selalu rajin review sampai yang silent reader (kalau ada), saia ucapkan sebesar-besarnya untuk anda sekalian. Karena dengan dukungan anda semua saia bisa menamatkan fic gaje ini. (mulai nangis bombay)
Nee, arigato. Saia harap fandom Inazuma makin ramai dengan fic-fic berkualitas, semoga saia bisa terus berkarya di sini sampai selama mungkin. XD
Akhir kata, reviewnya, minna? (plak!)
The Fallen Kuriboh
