Eheeem…
Permisi…
Author gaje dari dunia lain lewat…
Author ini cuman pengen ngucapin terima kasih sebanyak2nya untuk para senpai yang udah ngasih review buat fic pertama ruu yang anehnya itu bisa dibaca sama orang lain, apalagi sama para senpai sekalian.
Ruu bener-bener ketawa sendirian depan computer setelah liat ada yang review, dilanjutkan dengan nangis gaje .
Hiks…hiks…. Terharu banget… (lebay amat sih lu!)
Special thanks buat :
Jee-ya Zettyra senpai, ojou-chan, Rio-Lucario senpai, Erika-chan Kaoru senpai , Ichi Nightray senpai, MeoNg senpai, 'ichirugiran' kyo senpai, Megami-Chan senpai, Nyit-nyit senpai, Kikoyoe aoi hinamori's.
Eheeemm lagi…
Ruu agak kesulitan banget menggunakan web ini… (gaptek banget sih!). Ruu bingung pas mau ngeupdate…
Mohon bantuannya…
Disclaimer: Bleach tuu punya aku… Sayangnya direbut dengan nista oleh mas TITE KUBO (nangis gajeee)
Pairing: always Ichigo x Rukia
Is Hard To Say I LOVE YOU
~chapter 2~
"Tapi, aku yang akan bersikap konyol didepanya. Kau tahu kan renji!" jelas ichigo.
Renji kembali mengerutkan alisnya yang penuh tato itu.
"Sulit untuk menekan perasaan ini renji."
Renji tak pernah memandang ichigo dengan wajah iba seperti ini sekarang. Ichigo yang dikenalnya sangatlah kuat, tidak pernah menyerah terhadap apapun. Masalah apapun. Serumit apapun. Namun untuk masalah ini, dilema perasaan ini yang terus menggangu pikiran ichigo selama 10 tahun.
"Tidak perlu menekan perasaanmu, ichigo." ujar renji menyemangati temanya.
" …" tidak ada jawaban yang keluar dari mulut seorang shinigami daigou ini. Ichigo hanya memandang lantai yang bewarna putih di bawah kedua kakinya.
"Sudah 10 tahun ini aku memendam perasaan ini, kupikir dengan berjalanya waktu perasaan ini akan hilang, tapi!" kata ichigo yang belum terselesaikan karena terpotong ucapan renji.
"Katakan saja terus terang kepadanya, ichigo!" kata renji dengan nada yang menahan amarah.
"Masalahmu ini akan selesai jika kau terus terang."
"Tak segampang itu renji" jawab ichigo.
"Dan tak gampang juga menyembunyikan perasaanmu selama ini kan? Menurutmu lebih mudah menyimpan perasaanmu selama ini, daripada mengatakanya?" ujar renji "Kau aneh sekali ichigo."
"Aku hanya" gumam ichigo
"Hanya apa? Takut? Kau takut ditolaknya?" Tanya renji.
"Aku rasa dia hanya menganggapku teman saja." jelas ichigo
"Oh tuhan…." Renji menghela nafas sepanjang-panjangnya, walaupun ukuran ruang kerja ichigo tidaklah terlalu sempit. Cukup luas untuk satu buah meja kerja, diikuti (?) kursi. Dan tidak lupa sebuah computer dan dokumen-dokumen kerja ichigo yang menumpuk tidak terlalu tinggi. Karena, ya, ichigo orang yang cukup rajin walaupun sering telat datang.
"Oleh karena itu katakan terus terang, dan tunggu jawabnya." kata renji setelah helaan nafas abadinya habis.
"Jika dia menganggapku teman saja, bagaimana?" tanya ichigo.
"Ya berarti dia menganggapmu teman saja. Ya istilah sebenarnya sih, kau ditolak!" jawab renji.
"Itu yang kutakutkan, renji!"
"Hah? Intinya selama ini kau takut ditolak? Yang benar saja? Kau benar-benar baka sekali, sih!" kata renji yang darahnya mulai mengalir deras kearah otaknya.
"Bukan itu, bukan" jawabnya " Aku hanya takut jika ia tau perasaanku dan ia menolak, aku takut dia merubah sikapnya terhadapku"
"Haaaaah?" Tanya renji yang mulutnya langsung mangap mendengar alasan paling aneh tapi masuk akal. " Haduh…kau tau kan bagaimana dia? Tak mungkin dia merubah sikapnya karena hal begitu." jawab renji " Kemungkinan besar kau yang akan merubah sikapmu." cela renji.
"Aku tak mau jika hal itu terjadi, aku dan dia menjadi jauh."
"Tapi dengan bersikap seperti 'kau tak punya perasaan apa-apa' juga telah membuat kau dan dia menjadi jauh kan? Ayolah…kau hanya merasa takut sehingga kau berpikir macam-macam. Kupikir dan kurasa, dia juga mempunyai perasaan yang sama terhadapmu." Kata renji yang berusaha menghibur ichigo.
"Ya, aku juga mengerti. Aku pun telah berpikir sejauh itu."
"Naah…kau pintar juga, orange!" canda renji.
" Tapi…"
Renji mulai mengerutkan alisnya kembali yang baru saja meregang, karena dia pikir temanya telah mengerti apa yang dia beritahu tadi.
"Tapi, bila aku dan dia berhubungan, lalu pihak SS tidak mengijinkanya. Kau tau kan renji, kami dari dunia yang berbeda." ujar ichigo.
"Geeezzz, kau mulai lagi ichigo." renji telah kelelahan memberikan penjelasan yang nyata kepada temanya yang ternyata super baka itu.
"Aku hanya tak mau kehilangan sesuatu yang telah menjadi milikku. Daripada kehilangan, lebih baik aku tak pernah memilikinya, karena rasanya sakit jika telah kehilangan." gumam ichigo " benar kan renji?" kata ichigo menatap renji.
"Kau benar-benar rumit ichigo." ujar renji menatap ichigo kembali.
"Aku pulang!" teriak ichigo sambil melepaskan sepatunya, lalu masuk kedalam rumahnya.
Ternayata, keluarganya tengah berkumpul di meja makan makan yang setidaknya cukup luas untuk mereka beremapat bersaing mengambil makanan.
" Selamat datang oni-chan, eeh…. makan malam dulu masih hangat nie!" terang yuzu yang sedang menuangkan nasi kedalam mangkuk Karin yang ia sodorkan kearah adiknya itu.
"Aah…nanti saja,, aku sudah makan tadi diluar" ujar ichigo berbohong. " Aku capek sekali, aku tidur duluan yah!" ichigo melangkahkan kakinya menaiki tangga menuju kamarnya yang berada di lantai 2.
"Eehhh…oni-chan aneh sekali yah Karin,, tou-san?" Tanya yuzu kepada Karin dan ayahnya yang sedang asik melahap.
"Biarkan saja yuzu, mungkin dia lagi ada masalah dengan 'ini'nya." kata ayah sambil mengacungkan kelingking tangan kanannya.
"Tumben kau jengot, tidak menggodanya?" Tanya Karin pada ayahnya.
"Karinn…kau kasar sekali pada ayah!" kata isshin sambil pergi kearah tembok yang tertempel foto istri tercintanya yang super duper gaje, apalagi ditambah nangis gajenya isshin, menambah suasana jadi tambah gaje. Haaalaaah emang keluarga gaje sih. ( ditabok ichigo).
~~~~~~~~~''''~~~~~~~
Setelah selesai mandi, ichigo pun langsung bertepar ria di kasur dingin nya. (ditemenin author ja biar anget, mau ga ichi?hehehe mesum mode on)
Kasurnya yang cukup untuk dua orang itu, sekarang hanya ditiduri oleh satu orang. Ichigo belum mengajak siapapun untuk tidur diatas kasur yang dilapisi kain kafan (?) (salah dumz author gaje!) emm…maksudnya seprei warna putih. Jika ichigo mengajak seseorang tidur diatas kasur suci itu, bisa-bisa jadi kasur laknat dan sepreinya berubah warna.(haduh…haduh…ini fic, ratingnya apa sih? Author ditabok dulu, biar mesum mode on nya jadi off)
"Aku harus bagaimana?" gumam ichigo. "Seandainya kau tahu perasaanku ini." kata ichigo sambil memeluk guling.(Menambah suasana jadi menyedihkan, iya kan? Author bawel bgt sih!) "Seandainya kita berada di dunia yang sama, tak perlu seperti ini, tak perlu aku memendam perasaanku selama 10 tahun" ichigo memandang langit-langit kamarnya yang sebenarnya tidak begitu kelihatan karena cahaya dikamarnya tidak memadai. (sok-sokan banget sih bahasanya, bilang aja lampunya dimatiin kalee!)
"Aku, sulit sekali mengataknya padamu, rukia." ichigo pun terlelap dalam kegelisahanya.
~~~~~~~~~""""""~'~~~~~~
Kukuruuuuuyuuuukkkkkk… ( emang ada ya?)
(Salah kok, sekarang setting waktunya udah agak siang.)
"Tou-san, aku akan ke SS dan menginap beberapa hari." kata ichigo yang terpotong oleh ocehan isshin.
"Yosh..my son…temui dia dan katakan sejujurnya, aku mendukungmu!" sambil menepuk sangat keras bahu ichigo.
"Aku kesana mau mengantarkan undangan, jengot!" kesal ichigo tanpa menganiyaya ayahnya. Ichigo pun memalingkan tubuhnya, lalu berjalan perlahan menjauhi rumahnya. " Ja ne, tolong jaga rumah." Kata ichigo tanpa menengok sambil melambaikan tangan kearah ayahnya yang masih berdiri di depan rumahnya.
Ichigo pun berjalan menuju toko urahara yang cukup jauh. Kali ini pun, ia pun asik dengan lamunan nya. Walaupun ia telah berada di alam barzah, eh salah, dunia khayal, amazingnya ichigo tak pernah terbentur tembok jalanan, tiang listrik, ataupun tertabrak mobil. (author seperti mengharapkannya)
Ichigo POV
"Jika aku bertemu denganya, apa yang harus kubicarakan ya? Masa tentang pekerjaan? bosan ah.. ganti topic. Tentang pacar saja ya? Eeehh, rukia punya pacar? aku tak pernah memikirkanya." gumam ichigo.
"Jika dia benar punya pacar, bagaimana? Aku gimana?" tanyanya pada diri sendiri.
"Tidak mungkin ah! 3 bulan lalu, rukia tidak punya temen cowok yang dekat. Jangan berpikir macam-macam ichigo!" gumam ichigo lagi yang meyakinkan dirinya sendiri.
"Tapi, bisa saja kan dalam waktu 3 bulan, rukia mendapatkan pacar. Emm tapi cepat sekali, tidak mungkin ah!"
"Siaaalll, setan apa sih yang sedang mersukiku? aku jadi kesal memikirkanya!" teriak ichigo tanpa memperhatikan sekelilingnya. Ternyata ia tengah diperhatikan oleh banyak orang karena sedari tadi mengoceh sendiri.
"Ih, dasar gila!" bisik seseorang.
End ichigo POV
~~~~~""""""""~~~~~~~~
Setelah meminta pada uarahara untuk dibukakan pintu menuju SS, ichigo pun langsung capcus berangkat, dan tidak lama kemudian ia pun sampai di dunia yang dibilang ga serem ya serem ya, dibilang serem ya serem. Coz itu dunia para arwah sih. Udah gitu kesanya putih semua. Serem khan?
"Haaah…akhirnya sampai juga. " kata ichigo sambil menghela nafas. " Aku akan minta pada urahara, supaya jalan dari karakura ke SS dipermudah" oceh ichigo sambil mengatur nafasnya yang cukup tersengal-sengal karena beberapa detik yang lalu ia masih berlari di dimensi antara karakura dan SS. (author lupa naman dimensinya dan males liat komik. Hehe… Tapi kenapa ichigo ga pake shunpo yawh? Author juga bingung.)
"Yosh, siapkan dirimu, kurosaki ichigo!" sambil menepuk kedua pipinya dengan keduatanganya. (ya iyalah masa sama zanpakutounya)
Ichigo pun berlari dengan menggunakan shunpo nya yang sangat cepat melebihi kecepatan seekor siput (?) bukan sih, tapi kecepatan cahaya (lebaaaay) menuju divisi 3.
~~~~~~~"""""""""""""""""~~~~~~~~~~~~~~~~~~
"Taichou, taichou!" teriak seorang berambut hitam yang lari-lari masuk ke dalam ruangan yang biasa disebut ' kantor taichou' dengan tampang yang dibilang cukup lusuh diantara para shinigami yang punya tampang malaikat itu (benar).
Hmmm, sebenarnya gak usah teriak juga suarnya bakal terdengar kok, coz ruangan kantor itu tidak terlalu besar. Kantor itu pun sama seperti kantor-kantor divisi lainya. Kantor yang dipenuhi ornamen-ornamen jadul, kayu-kayu gaje gitu deh. Pokoknya kaya dijaman edo deh. ( author sulit menggambarkanya.. gomen). Di dalam kantor itu ada sebuah meja kerja yang besar yang berada di damping pintu masuk, lalu tembok belakang meja itu tertulis kanji angka "3" yang cukup besar yang menandakan bahwa kantor itu adalah kantor taichou divisi 3.
Guuuubbbbbrrrrraaaaakkkkk..
Mahluk lusuh tersebut terjatuh di samping sofa yang berada di tengah ruangan biasanya dipakai untuk para shinigami yang bertamu ke kantor tersebut. Didepanya juga ada sebuah meja yang cukup besar. Ya standarlah, buat menaruh makanan dan teh untuk para tamu. Jatuhnya seorang 'Hanatarou Yamada' itu cukup aneh, ia jatuh tersandung, eemm tersandung, hmmm sebenarnya tidak tersandung apa-apa! Dasar shinigami gagal, tak pantas menjadi seorang Fuku taichou. (Dikeroyok Hanatarou FC = emang ada ya? = author di bunuh langsung)
"Ada apa hanatarou?" Tanya seorang yang mengenakan haori bernomer 3.
" Anu, anu taichou." ujar hanatarou yang mencoba berdiri sendiri. (padahal taichonya ngeliat, kenapa ga dibantuin ya?)
"Anu apa?" Tanya pemilik mata violet dan rambut hitam pekat itu.
"Ichigo-san datang." jawab hanatarou.
"Hm, si jeruk ya?" Gumam rukia.
1 detik
2 detik
Tidak sampai pada detik yang ketiga, rukia telah sadar dari komanya (?) (salah lagi…author gila..sengaja atau sengaja sih?)
"Na-nani? Ichigo datang? Mau ngapain dia? Tumben amat." Tanya rukia pada hanatarou.
"Katanya sih dia mau mengantarkan kartu undangan."
"Kartu undangan?"
"Iyaah, taichou tidak tau? taichou sih, terlalu sibuk." ejek hanatarou.
"Iiichh…ini gara-gara kamu sering pingsan tau! Jadi aku yang mengerjakan semuanya!" bentak rukia.
"Gomen, gomen, rukia taichou" sambil berlari kearah taichounya yang berada di dekat pintu, lalu ia sujud-sujud dikaki rukia.
"Hmm, kartu undangan? Coba kau jelaskan." Tanya rukia yang nadanya super duper dingin.
"Ishida-san dan inoue-san akan segera menikah, kudengar mereka akan menikah seminggu lagi. Karena mereka sibuk mempersiapkan pernikahan nya, jadi ichigo-sanlah yang mengantarkan semua kartu undangan untuk para shinigami yang berada di SS." jelas hanatarou.
"Nani? Ishida dan inoue menikah?" Tanya rukia yang cukup cengo. Tapi gak cengo-cengo amat sih, rukia kan termasuk orang yang jaim apalagi didepan bawahan nya.
"Hm, Ya bukan hal aneh sih. Mereka telah berpacaran selama 3 tahun. Tapi tak kukira secepat ini." gumam rukia.
"Hanatarou, apakah tugas kita masih ada untuk minggu ini? Segera selesaikan, aku ingin hari ini semua beres. Aku ingin mengunjungi karakura secepatnya." perintah rukia yang langsung berjalan menuju meja kerjanya.
"Baik taichou, akan segera kubereskan." Hanatarou pun bergegas kemeja kerjanya, yang berada di samping meja kerja rukia.
~~~~~~~~~~~~~~""""""""""""~~~~~~~~~~~~~
"Haaah akhirnya beres semua!" teriak rukia seraya menjatuhkan kepalanya ke meja kerja. Tanganya sangat pegal karena terus menulis laporan dan menandatangani setumpuk dokumen.
"Hanatarou, kau boleh istirahat dan pulang, kau pasti capek sekali, gomen ne!" kata rukia sambil berjalan menuju fukutaichounya yang terlihat seperti 'sebentar lagi akan mati'.
"Terima kasih taichou" ujar hanatarou sambil memberikan senyuman yang paling gaje. "Taichou juga mau pulang?" Tanya hanatarou pada taichounya.
"Emm, aku mau disini dulu." kata rukia sambil berjalan keluar ruangan melalui pintu yang mengarah ke taman yang berada di luar kantornya tersebut.
"Mau kubuatkan teh, taichou?"
"Hmm, boleh tapi jangan terlalu panas ya!" jawab rukia dengan gembira.
"Tunggu sebentar ya, taichou." kata hana sambil meninggalkan ruangan.
Rukia berjalan menuju pintu yang diluarnya terdapat taman yang cukup besar. Taman tersebut sangatlah rapi. Karena taman itu adalah tempat favorite taichou divisi 3 untuk setidaknya melepas penak dalam mengerjakan tugasnya. Jadi rukia sangat menjaga kerapihan taman itu. Disana tidak hanya terdapat rumput dan pohon saja, namun kolam ikan yang cukup luas.
Rukia berdiri di tepi kolam tersebut. Ia menatap langit yang mulai bewarna jingga. Rukia jadi teringat seseorang yang warna rambutnya mirip dengan warna langit yang sekarang ia lihat.
"Hmmm, si jeruk belum datang juga. Seharusnya dia sudah sampai dari tadi siang. Kenapa gak nongol-nongol juga? Padahal sekarang sudah sore. Kukira dia langsung mencariku." gumam rukia.
"Mungkin aku terlalu banyak berharap ya?" rukia mulai menertawakan dirinya sendiri.
"Sebel! Dia kesini juga bukan karena merasa rindu padaku." gumam rukia " Aku ini bodoh sekali sih!" rukia jadi kesal sendiri. Rukia pun mengambil batu yang berada di sampingnya lalu melemparkanya batu yang tak bersalah itu ke kolam.
"Tapi aku rindu padanya." gumam rukia lagi.
"Kau rindu siapa sih midget?" Tanya seseorang yang berada dibelakangnya.
"Hmm, ya, si baka itu." jawab rukia tanpa sadar.
"Baka siapa?" tanyanya lagi.
"Ya si baka, BAKA ITU! Kenapa sih kau banyak tanya, tentu saja si!" rukia menegok kearah suara tersebut.
"si ich! Waaaaaaa!" rukia tidak meneruskan kata-katanya, ia sangat kaget dengan apa yang dilihatnya.
Karena sangat kaget rukia pun loncat, namun karena berdiri di pinggir kolom, keseimbangan rukia pun hilang. Dan sekarang ia siap terjun bebas ke dalam kolam.
"Waaaaaaaaaa!" Teriak rukia.
"Awas rukia!"
Dengan sigap ichigo menarik sebelah tangan rukia sehingga badan rukia tertarik bergerak menjauhi kolam yang berada dibelakangnya itu. Entah momen itu takdir atau rekayasa, badan rukia yang sangat, sangat ringan tidak bisa menahan tarikan tangan ichigo, sehingga rukia pun jatuh ke dalam dada ichigo yang sangat kekar. Rukia yang kaget karena kejadian tadi masih menutup matanya, tentu tidak sadar dia tengah berada dipelukan ichigo.
"Haaampir saja!" kata ichigo yang masih belum sadar dengan posisinya dan rukia.
"Haduh aku ini ceroboh sekali sih, hampir aku jatuh ke kolam. Ini gara-gara si jeruk itu. Mengagetkanku saja! Eeh, tunggu, hangat sekali disini."
Rukia membuka matanya. Alangkah kagetnya yang terlihat didepanya adalah sebuah dada yang sangat kekar. Jantungnya pun berdegup sangat kencang, karena otaknya telah memperoses dan memberitahu siapa pemilik dada kekar ini.
"Aaah, jantungku! kenapa berdebar seperti ini?" gumam rukia "Hangat sekali ya, disini." batin rukia " Tak pernah kusangka dada ichigo sehangat ini" batin rukia yang telah lupa akan dirinya.
Rukia pun mengarahkan pandanganya ke atas. Terlihatlah wajah ichigo dari bawah. Dagu yang menurut rukia sangat menawan (yupz author juga menganggap begitu). Dagu yang selalu mendongak keatas. Bukan berarti angkuh. Namun bagi rukia, dagu itu adalah dagu yang tidak takut apapun dan pantang menyerah. Rukia tidak pernah melihat wajah ichigo dari jarak yang sedekat ini.
"Haaamppir saja rukia, makanya kau jangan melamun di pinggir kol!" kata ichigo yang terpotong karena wajahnya menunduk untuk memastikan rukia tidak apa-apa. Alhasil ichigo pun langsung terdiam ketika matanya bertemu mata violet milik rukia.
1 detik
Sialnya, respon ichigo terlalu cepat,, ia pun langsung melepaskan pelukannya. Ia pun menggambil beberapa langkah agar terdapat jarak antara dia dan rukia. Rukia hanya terdiam dan kaget melihat respon ichigo.
Hening beberapa saat, lalu hanatarou memecahkan keheningan itu.
"Aaa ichigo-san, sudah sampai?" kata hana tampak ceria.
"Yoo, hana, bagaimana kabarmu?" sapa ichigo yang masih membuang muka. Ia berusaha menghilangkan rona merah pada pipinya. Sehingga ia tidak mau menoleh kearah hana.
"Baik ichigo-san. Bagaimana kabarmu sendiri, ichigo-san? Lalu keadaan karakura?" Tanya hana.
"Baik juga,. Karakura? hmm, tidak ada perubahan yang besar." ichigo masih memalingkan wajahnya, karena ia masih merasa belum berhasil menghilangkan rona merah pipinya itu.
Rukia dari tadi hanya diam dan menunduk.
"Sampai seperti itu ya, ichigo. Ia bahkan tak mau melihatku." batin rukia.
"Taichou ini tehnya." hana pun berjalan membawa teh pesanan rukia.
"Simpan saja di meja, aku mau keluar dulu." rukia pergi meninggalkan hana dan ichigo yang mematung di taman itu.
"Eeh, taichou, anda mau kemana?" Tanya hana.
"Itu bukan urusanmu, tolong layani seluruh keperluan ichigo." kata rukia dingin sambil menuju pintu keluar meninggalkan kantornya dan entah pergi kemana.
"Eem, baiklah taichou."
"Si midget kenapa sih?" Tanya ichigo yang telah berhasil mengalahkan rasa malunya itu.
"Mungkin cape, ichigo-san" kata hana. "Anda mau kubuatkan teh?" Tanya hana pada ichigo.
"Hmm, boleh juga, badanku cukup lelah. Ini gara-gara si Zaraki. Ketika aku sampai diseireitei, sialnya aku ketemu itu orang, langsung ngajak bertarung deh. Sampe sore lagi. Dasar gila!" terang ichigo "Tapi jangan terlalu panas ya, hana"
"Neee, kalian berdua sama ya,ichigo-san." tawa hana. Ichigo yang tak menegrti apa yang dimaksud hana hanya berwajah penuh tanda tanya.
"Maksudmu?"
"Tidak apa-apa. Aku tinggal sebentar ya." hana pun meninggalkan ruangan tersebut.
~~~~~~~~~~~~~~"""""""""""""~~~~~~~~~~~~~
Rukia berjalan perlahan dengan penuh helaan nafas disetiap langkahnya. Entah apa yang dipikirkanya, namun yang pasti kapasitas otak rukia yang tidak terlalu banyak, (ditusuk Rukia) sepenuhnya diisi oleh hal yang sebenarnya sih tidak terlalu berguna. Ya, apalagi kalau bukan si jeruk busuk itu. Rukia sendiri pun merutuki otaknya yang selalu memikirkan mahluk setengah gaje itu (omg….ichigo gaje? TIDAK MUNGKIN)
Rukia POV
"Haaah, padahal aku baru bertemu dengan dia setelah 3 bulan yang lalu." gumam rukia "Tapi, kenapa aku malah pergi? " rukia pun memandang langit yang sekarang sudah agak gelap.
"Aaaarrrrggghhhh! Aku kesal!" teriak rukia sambil mengacak-acak rambutnya.
"Dasar, si jeruk busuk itu. Tidak mengerti perasaan wanita." kata rukia yang mulai berjongkok karena merasa kakinya pegal.
"Hmmm, bagaimana menurutmu shode?" tangan rukia memegangi sarung pedangnya. Memang, Jika rukia ada masalah, ia selalu curhat dengan pedang putihnya itu. Bukan karena tidak punya teman lain, tapi coba kalian bayangkan jika rukia curhat dengan 'nii-sama'nya itu. Hmm, mungkin-mungkin saja sih, karena byakuya sayang pada adiknya itu. Tapi coba pikirkan lebih dalam kembali, seorang byakuya akan memberikan nasihat tentang 'CINTA?' Oh tuhan…aku merinding memikirkanya. Kalau renji, walaupun dia lebih terlihat sedikit…sangat-sangat sedikit lebih dewasa dari rukia. Kurasa tentang masalah 'CINTA' mereka sama tololnya (digebukin renji ma rukia). Jadi ya tidak ada pilihan lain, rukia hanya bisa curhat dengan shodenya. Sungguh menyedihkan hidupmu rukia-chan.. (author turut sedih..ckckck)
Rukia merasa aneh karena ia tidak merasakan pedangnya. Lalu ia menoleh kearah samping badanya, tempat ia menaruh pedangnya. And, BINGGO, shodenya tidak ada. Kepalanya langsung memproses dan memutar ulang kejadian hari ini.
"Nani? Aku meninggalkan shode di kantor, bodoh kau rukia!" kata rukia yang langsung berlari ke kantornya yang berada di divisi 3 itu setelah otaknya memutar ulang memorinya. Rukia ingat meninggalkan pedangnya di ruang kerjanya. Tepatnya disamping kursi kerjanya. Dasar cewek ceroboh. (author dibekem rukia)
End rukia POV
~~~TBC~~~~
Gomen kalau ceritanya tambah gaje n tuambaaah garing…
Ruu udah berusaha setengah hidup buat edit ceritanya sebelum dipublish, gomen kalau masih ada salah-salah ketik… (bungkuk-bungkuk)
Kesulitan Ruu tuu susah banget bikin adegan mesranya… (ruu kayanya gak mesra)
Kayanya ruu bakal ganti genre ficnya deh… soalnya ruu masih belum bisa bikin fic yang bersense humor… (nangis gaje… gomen buat Erika-chan Kaoru senpai… ruu akan belajar lagi, n baca fic senpai-senpai sekalian yang genrenya humor)
Dan inilah yang paling penting….
Mohon didengarkan untuk semua para penghuni fandom ini yawh…
Setelah ditimbang, ditetapkan, diputuskan,
Fic punya ruki mikan head, wajib untuk direview! Oleh para senpai-senpai sekalian..
Dan jangan lupa berikan kritik dan saranya untuk kemajuan bangsa ichiruki FC.
Sekian…
Maaf kalau lebay…ehehehe….
