=DISCLAIMER=
Semua trademark dalam fanfic ini dimiliki oleh pemegang copyright masing-masing, kecuali plot dan hasil pemikiran penulis. Fanfic ini dibuat hanya untuk hiburan semata dan tidak dimaksudkan untuk mendapatkan keuntungan material apapun.
Oh, dan sekedar mengingatkan. Yang tidak senang Akatsuki-curbstomping (atau Naruto-curbstomping secara umum) silakan menyikapi fic ini dengan dewasa. Flaming berarti anda mengakui sendiri bahwa anda bertindak kekanak-kanakan.
Akatsuki no Tasogare
1st Movement: Terbitnya Mimpi
kodomo no koro no yume wa
iroasenai rakugaki de
omou mama kaki suberasete
egaku mirai e to tsunagaru
Mimpi-mimpi masa kecilku
adalah coretan-coretan yang tak pernah terhapus.
Mereka mengatakan perasaan saat mereka dituliskan
dan terhubung pada masa depan yang sedang kugambar.
('Musou Uta', SUARA)
"SARUTOBI!"
"TUA BANGKA BRENGSEK!"
Seruan tertahan itu bergema dari dalam Kekkai, dari g uru dan murid yang sedang beradu nyawa demi tujuan masing-masing.
"Heheheh... Sekarang... kau tidak akan bisa memakai jutsu lagi... murid tak berbakti..." gumam sang shinobi tua sambil memuntahkan darah untuk terakhir kalinya.
"Heh... tua bangka busuk... Aku pasti bisa mengatasi ini... tunggu saja..." balas Orochimaru sambil menyeringai, "Kita mundur! Cepat!"
"Kau kira... aku tak punya rencana cadangan... hmm?" tangkis sang guru tua itu di ujung nafasnya sambil tersenyum damai, "Yukari... sisanya kuserahkan... padamu..."
...
"Orochimaru telah gagal," lapor seorang pria aneh dengan dua cuping besar bergigi mengapit kepalanya.
"Hmm, itu diluar perkiraan," komentar seorang pria bertinggi badan sedang dengan rambut klimis belah tengah.
"Kita akan menempa disaat besi masih panas," sela seorang dengan perawakan sedang, "Konoha pasti sedang lemah-lemahnya sekarang. Basis operasi sebesar Konoha pasti akan mendatangkan banyak uang dan memudahkan operasi kita di masa depan, disamping memberikan kemudahan bagi kita untuk menangkap dan mengekstraksi bijyuu. Belum lagi kita akan mendapatkan tempat untuk memulai usaha menyingkirkan Orochimaru... Bagaimana menurut kalian?"
"Whoa, nampaknya ini kesempatan untuk menuntaskan kerjaanmu... benar kan, musang?" ujar seorang tinggi-besar sambil mengerlingkan mata kepada sang pria belah tengah.
"Diam kau," balas sang pria belah tengah, pendek.
"Hmh, aku setuju saja. Akan kutunjukkan seni tertinggiku pada kalian dengan senang hati," timpal seorang lelaki pendek yang duduk agak di pojok meja pertemuan.
"Pembantaian. Aaah... Jashin-sama pasti memberikan restunya..." ujar seorang pria berambut sebahu sisir belakang.
"Apa kita akan menarik suara sekarang?" tanya satu-satunya suara wanita dalam ruangan yang remang-remang itu.
"Ah, tidak usahlah. Semakin lama kita berhenti di sini, semakin pulih kondisi mereka, hnn?" potong sang lelaki yang bicara soal seni tadi.
"Benar. Aku bisa merasakan Jashin-sama memaksaku cepat pergi... uhuhuhu," balas sang pria sisir-belakang.
"Sudah diputuskan, kalau begitu. Kita menyerang dua minggu lagi." kata sang ninja berperawakan sedang sambil menutup pertemuan, "Sampai saat itu, pelajari peta Konoha dengan baik. Rapat ditutup."
...
"Ran." panggil seorang perempuan berambut pirang panjang kepada pelayannya.
"Ada apa, Yukari-sama?" balas Ran sambil meletakkan seperangkat teko dan cangkir di atas meja makan.
"Telah tiba... waktu itu..." desah sang majikan sambil menerima gelas dengan teh berkepul yang baru dituang oleh Ran.
"Maksud anda...?" tanya Ran kebingungan.
"Ya, perjanjian kita dengan Hiruzen Sarutobi telah sampai waktunya," ujar Yukari sambil memperlihatkan sebuah gulungan yang diambilnya dari dalam celah dimensi di ujung tangannya.
"Maksud anda, Yukari-sama..." desis Ran sambil duduk.
"Kau sudah boleh menemui putramu... dan saat itu jualah kau harus tentukan pilihanmu," ujar Yukari sebelum menyeruput tehnya.
"Pilihan saya... sudah ditentukan sejak awal, Yukari-sama," balas Ran mantap.
...
Aura kesedihan belum lagi pudar dari sekitar Konoha selepas pemakaman sang Sandaime Hokage, Hiruzen Sarutobi. Hujan rintik bak menunjukkan bahwa langit pun meratapi kepergian seorang pemimpin besar. Dengan langkah gontai Naruto menyeret langkahnya keluar dari tempat diadakannya upacara pemakaman.
"Hei, Naruto," tegur Jiraiya saat ia mendapati Naruto dekat apartemennya.
"Oh, kau Ero-jiji," balas Naruto tanpa semangat.
"Ada sesuatu yang penting yang harus kubicarakan denganmu sekarang..." ujar sang ninja tua pada Naruto, "Kau sibuk?"
"Tidak," balas Naruto sambil mengedikkan bahu, "Mana bisa aku berlatih dalam keadaan begini..."
"Baguslah kalau begitu," ujar sang ninja separuh baya sambil memberi isyarat, "Ikut aku."
...
"Rumahmu bersih juga, Ero-sennin," ujar Naruto ketika ia memasuki rumah pohon sang Sannin sambil melihat sekeliling.
"Terima kasih, murid baik. Duduklah dimana kau bisa," ujar sang Sannin Katak sambil membongkar sebuah brankas rahasia di balik rak buku di pojokan. Naruto menurut saja tanpa banyak protes.
"Sekarang, Naruto... terima ini," ujar Jiraiya sambil melemparkan sebuah gulungan yang langsung ditangkap Naruto.
"Apa ini?" tanya Naruto penasaran.
"Rahasia kelas-S yang dipercayakan Sandaime padaku ketika Yondaime meninggal. Sandaime yang membuatnya, tapi hanya kau yang bisa membuka gulungan ini dan membacanya," balas Jiraiya serius, "Aku berani menjamin gulungan itu belum dibuka."
"Um... boleh aku membacanya sekarang?" tanya Naruto bersemangat.
"Silahkan. Aku sudah menyerahkannya padamu," balas Jiraiya sambil menyeringai.
"Hmmm... Ini..."
Nama: Ran
Alias yang Diketahui: Kushina Uzumaki, "Badai Emas Konoha"
Tingkatan: Jounin
Tanggal lahir: Tanggal 10 Bulan 7 Tahun ???
Umur: ???
Tinggi: 5'10"
Warna Rambut: Pirang
Warna Mata: Biru
Tangan Utama: Kanan
Kemampuan:
S-Level Genjutsu
S-Level Ninjutsu
AAA-Level Taijutsu (termasuk senjata)
Tipe Senjata Pilihan: Tachi, Ninjatou
Tipe Chakra: ???
Bekerja sejak: 1190 Tarikh Api
Misi terselesaikan:
1 Tingkat-S
1 Tingkat-A
1 Tingkat-B
2 Tingkat-C
13 Tingkat-D
"Ini... data... ibuku?" desis Naruto pelan sambil menatap foto yang ada dalam dokumen itu. "Kupikir namanya Kushina Uzumaki?"
"Oh, itu kan profil yang tersedia di perpustakaan Konoha," komentar Jiraiya santai. "Itu memang sengaja ditaruh di sana oleh Sandaime dan aku untuk mengelabui pihak-pihak yang punya kepentingan."
Naruto hanya manggut-manggut keheranan. Untuk bocah seumurnya ia memang pintar bertarung, tapi politik dan urusan lain yang menyangkut kerahasiaan sudah di luar daya pikirnya.
"Ia benar-benar mirip denganmu," timpal Jiraiya sambil melihat foto yang tersedia pada gulungan itu.
"Tapi aku tidak mengerti..." desis Naruto sambil memandang catatan itu, "Jumlah misi yang diselesaikan ibuku... sedikit sekali?"
"Ada hubungannya dengan ayahmu, kurasa..." Jiraiya menawarkan alternatif jawaban, "Mungkin ia bertemu ayahmu lalu berhenti jadi ninja?"
"Ya, tapi untuk mendapatkan peringkat Chuunin saja aku harus menyelesaikan beberapa misi Tingkat-C terlebih dahulu... sedangkan data ini menunjukkan bahwa ibuku adalah seorang Jounin..." ujar Naruto sambil berpikir sejenak, "Oi Ero-sennin, kau yakin data ini asli?"
"Seyakin kepercayaanku pada guruku, Nak," balas Jiraiya serius, "Ini rahasia kelas-S, Naruto. Rahasia Konoha yang paling rahasia. Bahkan Sandaime atau diriku sekalipun bisa dipaksa seppuku oleh dewan kalau ketahuan berani membuka atau mengubah gulungan itu."
"Anggota dewan Konoha tahu keberadaan data ini?" ujar Naruto penasaran.
"Tidak sih, kecuali mungkin Danzo," komentar Jiraiya sambil menghela nafas, "Elang botak itu susah ditipu..."
"Uh... ini semakin aneh..." desah Naruto sambil mengernyitkan dahi berpikir keras.
"Selamat siang, Jiracchi~" panggil seorang wanita dari luar pintu yang terbuka. "Ini Yukarin~"
"Uh... masa sih... kau..." ujar Jiraiya sambil berdiri dari duduknya.
"Ya, ini aku, Jiraiya... Yukari Yakumo," balas sang wanita sambil tersenyum, "Boleh aku masuk?"
"Si- silakan," balas Jiraiya agak salting.
"Oi Ero-sennin," goda Naruto, "Kau bisa juga menggaet cewek cakep... kenalin dong!"
"Heh, jangan sembarangan," ujar sang Sannin sambil membekap Naruto. "Dia itu beberapa puluh kali lipat lebih tua dariku, tahu!"
"Sudahlah Jiracchi... Oh ya, aku turut berdukacita atas meninggalnya Hiruzen-san..." ujar Yukari sambil tersenyum. "Ah, tapi cukup basa-basinya. Lagipula, kau sudah tahu tujuanku datang ke sini, kan?"
"Kumohon, Yukari-san... Naruto belum lagi menyelesaikan pendidikannya di sini," balas Jiraiya sambil memandang ke arah Naruto yang melirik balik dalam kebingungan.
"Aku bertindak atas permintaan sahabatku, Jiracchi," ujar Yukari sambil membuka kipasnya, "Kushina... atau, mungkin lebih tepatnya, Ran... sudah tak sabar ingin bertemu putranya."
"Yah... tapi kan..." elak Jiraiya yang sudah mulai kehabisan kata-kata.
"Kau berniat mengatakan bahwa Gensogakure no Sato pimpinanku tidak bisa memberikan pendidikan yang cukup, hmm?" ujar Yukari sambil tersenyum, "Anak ini punya potensial untuk jauh melebihi ayahnya, Jiraiya. Bila ia berguru pada kami di Gensogakure, kemampuannya bisa berkembang setidaknya tiga kali lipat kemampuanmu, Minatocchi, dan Hiruzen digabungkan."
"Hei, hei, hei, ada yang kalian lupakan di sini nampaknya?" potong Naruto cepat, "Aku masih kerasan di sini, kok!"
"Kau sudah dengar anak ini, Yukari-san," dukung Jiraiya yang bernafas lega, "Dia ingin tinggal."
"Ya, aku sudah dengar," ujar Yukari dengan senyum yang berkembang, "Kau juga kan, Ran?"
"Ya, Yukari-sama... Nampaknya... Plan B yang harus segera dijalankan."
Terkesiap, Naruto menoleh ke arah pintu yang dari tadi terbuka. Di sana berdiri perempuan berambut pirang pendek dengan tinggi mungkin beberapa jengkal lebih tinggi dari Jiraiya. Wajahnya lembut dan keibuan namun memancarkan wibawa yang kuat, persis dengan foto dalam dokumen yang ia baca. Pandangannya lurus ke depan, dan karena Naruto juga sedang memandangnya, pandangan mereka saling bertemu.
Sebuah rasa yang sulit digambarkan membanjiri hati Naruto. Ia merasa mengenal perempuan itu, walaupun dirinya sudah lama tidak bertemu. Hati kecilnya, tanpa keraguan, berkata bahwa inilah wanita yang telah melahirkannya ke dunia.
"Ayolah Ran, jangan menjadi orang asing seperti itu. Itu anakmu," ujar Yukari sambil tersenyum ke arah Ran.
"Nak... kau tampak... gagah..." kata Ran terbata, ditengah air matanya yang mulai bergulir jatuh.
"Kau... ibu... ku?" tanya Naruto terbata. Ia tak yakin akan apa yang dilihatnya. Pikirannya berkata tidak pada retorika yang baru saja meluncur keluar dari mulutnya, tapi hatinya membenarkan.
"Aaah, kalian ini... seperti kayu gelondongan saja," canda sang Sannin Katak sambil mendorong Naruto ke arah Ran.
Kedua ibu dan anak itupun pertemu, dengan Ran yang mengambil inisiatif untuk menangkap tubuh sang putra dalam sebuah pelukan. Naruto, melihat bahwa air mata yang bercucuran dari mata wanita itu asli dan tidak dibuat-buat, akhirnya menerima fakta bahwa sang wanita yang belum ia kenal itu adalah ibunya.
"Ah... senangnya melihat keluarga yang pecah bersatu kembali," ujar Yukari dengan senyum
"Tunggu, Plan B maksudmu itu..." gumam Jiraiya sambil memandang ke arah menghiasi wajahnya.
"Tentu saja~" balas Yukari sambil menutup kipasnya, "Bila sang anak tak mau pindah mengikuti sang ibu, maka sang ibu yang pindah mengikuti sang anak."
...
"Kau sebaiknya punya alasan yang baik untuk mengumpulkan kami di waktu seperti ini, Jiraiya," geram Danzo sambil membuka pertemuan. "Aku berani bertaruh perempuan itu ada hubungannya dengan semua ini."
"Selalu dengan penilaian tajammu, Danzo," balas Jiraiya tak kalah masamnya. "Aku mengumpulkan dewan untuk mendengarkan tawaran kerja sama dari Yukari Yakumo, sang Yumekage ini."
"Hah! Penipu macam apa lagi yang telah kau bawa ke sini, Jiraiya? Kita semua tahu bahwa Yume no Kuni, seperti namanya, hanya ada dalam mimpi para shinobi mabuk!" seru Danzo tanpa tedeng aling-aling. Kecurigaan memenuhi suaranya.
"Oh, jadi anda takut impian para pemabuk itu ternyata tidak salah, anggota dewan yang terhormat?" sela Yukari sambil tersenyum.
"Lebih cepat aku kalah dari biawak rawa daripada menyerah kalah dan mempercayakan desa ini padamu, perempuan asing!" balas Danzo sambil menggebrak meja. Anggota dewan desa yang lain, termasuk Hiashi Hyuga yang terkenal vokal, hanya terdiam menunggu. Mereka sedikit banyak bisa memaklumi tindakan Danzo yang ingin melindungi Konoha dengan segala cara.
"Saya menganjurkan untuk tidak mencoba menenggang amarah saya, tuan tetua yang terhormat..." ujar Yukari ringan. "Kami hanya butuh satu orang untuk membuat desa ini rata dengan tanah, tuan. Kami datang dengan damai, namun kami juga tidak akan membiarkan penghinaan lewat begitu saja di depan mata kami."
"Cih, kau hanya membual! Apa yang satu orangmu bisa lakukan melawan lebih dari seratus ninja tingkat Jounin dari Konoha?" tantang Danzo sambil berdiri.
"Cukup untuk membuat keseratus-seratusnya menguap tanpa bekas, tuan tetua yang terhormat," geram Yukari sambil mengulurkan tangannya ke dalam celah dimensi yang dibuatnya kira-kira sehasta di depannya.
Kejadian berikutnya membuat seluruh anggota dewan tercekat. Tanpa sempat menghindar, Danzo mendapati lehernya berada dalam cengkeraman tangan Yukari. Cengkeraman itu tidak cukup untuk membunuhnya, namun cukup kuat untuk mencegah Danzo melepaskannya.
Hiashi dengan cepat berusaha bertindak, namun dengan santai Yukari menggoyang-goyangkan jarinya dan tersenyum.
"Mundur, Hiashi! Inoichi, jangan!" seru Jiraiya, tanpa sempat bereaksi terhadap Inoichi Yamanaka yang terlanjur mengerahkan genjutsu pengendali pikiran milik keluarganya untuk menghentikan Yukari. Malang tak dapat ditolak, sebentar kemudian sang Ino dewasa pun menggelepar dengan mulut berbusa yang berteriak-teriak tidak karuan.
"Jangan ada yang bergerak lagi, saudara-saudara anggota dewan!" seru Jiraiya sambil melirik ke arah tetua klan Inuzuka yang siap meloncat ke arah Yukari, "Perempuan ini pernah mengalahkan Gamabunta hanya dengan sebelah tangan! Kita semua bukan tandingannya!"
Saat itulah akhirnya perbandingan kekuatan Yukari dengan mereka akhirnya jelas. Jiraiya memang seorang yang agak genit, namun dalam urusan seluk-beluk ninjutsu ia bahkan lebih ahli dari beberapa anggota dewan. Sannin Katak itu tidak mungkin bicara sembarangan. Yukari yang bisa mengalahkan Gamabunta yang tersohor sebagai kuchiyose katak terkuat itu pastilah bukan orang sembarangan, apalagi perempuan itu hanya butuh satu tangan untuk mengalahkannya!
Beberapa menit yang tegang berlalu lamban bak berjam-jam, sampai akhirnya salah satu ketua klan di Konoha angkat bicara.
"Kami minta maaf atas kelancangan Danzo-sama, Yukari-dono. Cara-caranya dalam menjamin keamanan desa memang terkenal agak... militan," ujar salah seorang tetua dari klan Aburame sambil berdiri. "Oleh karena itu, sudilah kiranya Yukari-dono memaafkan Danzo-sama sebelum menyampaikan maksud anda mengumpulkan kami di sini secara mendadak seperti ini."
"Aah~ sopan santun, akhirnya. Baiklah, aku akan menyampaikan maksudku," Ujar Yukari sambil tersenyum sambil melepas cekikannya dari leher Danzo. "Tapi sementara itu, Tuan Danzo harus duduk manis di kursinya sementara saya menenangkan ninja yang tadi cukup bodoh untuk mencoba menyelam ke dalam pikiran saya. Apakah itu bisa dimengerti?"
"Kami mengerti," balas sang tetua klan Aburame itu sambil memandang tajam ke arah Danzo. Danzo hanya bisa mengangguk pasrah.
...
"Ya, Ran-san... kita sudah sampai," ujar Naruto sambil membukakan pintu flat kecil yang menjadi huniannya selama beberapa belas tahun terakhir. Yukari dan Jiraiya pergi untuk mengumpulkan anggota dewan desa Konoha untuk pertemuan darurat malam itu, namun Ran lebih memilih untuk mengikuti putranya daripada bekas majikannya itu.
"Tut, tut, tut," sela Ran sambil menggoyang-goyangkan jari, "Bukan Ran-san."
"Uh... eh, iya. OKaa-san, kita sudah sampai," balas Naruto sambil menyeringai, menyadari kesilapannya sambil menyalakan lampu.
"Mmh, baunya persis dirimu," canda Ran sambil meletakkan tas barang bawaannya.
"Aaah, Kaa-san..." rengek Naruto sambil meraih saklar lampu, "Jadi aku bau, begitu?"
"Bukan, maksudnya tidak buruk kok," balas Ran sambil berjalan berkeliling, "Seorang ibu pasti mengenali 'bau' anaknya..."
"Ooh... memang apartemen ini agak kotor, sih," ujar Naruto singkat.
"Aah... Oh ya, Naruto," ujar Ran serius, "Kau belum mengantuk, kan? Aku ingin berbincang-bincang sejenak..."
"Belum, Kaa-san," balas Naruto cepat.
"Kau sudah pernah bertemu Kyuubi?" tanya Ran sambil duduk di kursi makan.
"Dari mana Kaa-san tahu?" balas Naruto khawatir.
"Yah... Yukari-sama yang memberitahuku. Ia berteman baik dengan Hokage dan Jiraiya-san..." ujar Ran tenang.
"Ya, aku sudah pernah bertemu dengannya waktu Jiraiya melemparkanku ke dalam jurang..." balas Naruto yang duduk di seberang Ran, "Dia agak menyebalkan."
"Pernahkah terpikir olehmu, mengapa dia menyebalkan?" pancing Ran sambil tersenyum kecil.
"Enggak, tuh," balas Naruto ringan, "Mungkin juga karena dia ingin menguasai dunia..."
"Dan... mengapa dia ingin menguasai dunia?" tanya Ran, terus memancing rasa ingin tahu Naruto.
"Entahlah, Kaa-san... mungkin lebih baik kita tanyakan sendiri?" balas Naruto agak malas. "Dia bosan duduk dalam kandang kecil dan gelap gulita itu, kurasa."
"Ah ha..." ujar sang perempuan sambil tersenyum kecil, "Itulah dia, Naruto sayang. Ia bosan dan kesepian. Sebenarnya ialah yang harus dikasihani dan diberi uluran tangan."
"Uh... jadi untuk itu ia ingin menguasai dunia?" tanya Naruto, retoris, "Apa ia berpikir bahwa persahabatan bisa dibeli dengan kekuasaan, begitu?"
"Bukan hanya dia, Naruto..." balas sang ibu lembut, sebelum ia bangkit, "Kau juga begitu. Coba, sebutkan pada ibumu siapa teman-temanmu sebelum memasuki sekolah ninja dahulu."
"Uh... Sandaime-sama... Ayame-neesan... Teuchi-jiji..." ujar Naruto sambil setengah bergumam, "Iruka-sensei... umm... siapa lagi ya... ummm..."
"Ada apa, putraku?" tanya sang ibu sambil tersenyum tipis, "Kau kehabisan nama?"
"Uhhh... ya... begitulah..." jawab Naruto ragu.
"Teman ibarat jangkar, anakku," ujar Ran sambil menghela nafas, "Semakin banyak yang kau punyai, semakin kuat perahu jiwamu menahan arus kehidupan."
"Tapi aku punya banyak teman sekarang, Kaa-san!" potong Naruto cepat, "Ada Sakura, Hinata, Shikamaru, Chouji, Kiba, Gaara..."
"Itu baik sekali, putraku. Sekarang, mari kita beristirahat..." ujar sang wanita sambil merentangkan tangan.
"Kaa-san tidur di tempat tidurku saja... aku akan tidur di sleeping bag," ujar sang genin sambil beranjak bangkit.
"Tidak. Kita berbagi ranjang," balas Ran pendek.
"Eh? Tapi..." protes Naruto pelan.
"Kau tak ingin tidur dalam pelukan ibumu, hmm?" tangkis Ran sambil tersenyum.
...
"Nah, sekarang setelah Inoichi tenang dan Danzo... duduk manis, maukah anda menjelaskan maksud kedatangan anda, Yukari Yakumo-dono?" ujar seorang nenek tua yang tampak lebih berwibawa dari kebanyakan anggota dewan desa itu.
"Baiklah. Saya datang denga tawaran kerja sama antara Gensogakure no Sato, desa yang saya pimpin, dan Konohagakure no Sato yang sedang lemah karena kehilangan Hokage-nya," papar Yukari dengan senyum tipis menghias bibirnya, "Kami akan membantu desa anda, dengan imbalan sepetak tanah untuk 'menaruh' desa kami."
"Dari cara anda 'meyakinkan' Danzo tadi, saya kira desa anda tak mungkin hancur karena kalah berperang," ujar seorang tetua dari klan Akimichi, "Apakah desa anda terkena bencana alam?"
"Tidak, Gensogakure bukan tipe desa yang akan kalah begitu saja oleh bencana alam, apalagi serbuan manusia," balas Yukari sambil tersenyum, "Kami, para Youkai, harus keluar dari cangkang kenyamanan kami, atau kami akan punah."
"Youkai? Maksud anda..." tanya Hiashi keheranan.
"Oh, tuan anggota dewan yang terhormat... anda masih berpikir bahwa saya manusia setelah tahu saya bisa mengalahkan Gamabunta dengan satu tangan?" balas Yukari sambil tertawa kecil, sesuatu yang ditanggapi dengan beberapa helaan nafas tidak percaya. "Tentu saja. Kami, sebagian besar penghuni Gensogakure no Sato adalah Youkai berdarah murni yang telah tinggal di sana selama ribuan tahun. Seleksi alam telah membentuk kami menjadi komunitas yang kuat."
"Kami semakin tidak mengerti, Yakumo-dono," sela salah satu wakil serikat pedagang, "Mengapa bergabung dengan manusia? Mengapa bergabung dengan desa yang lebih lemah?"
"Itulah yang menjadi masalahnya, tuan anggota dewan yang terhormat," balas Yukari sambil tertawa kecil, "Kawin campur antar sesama saudara acapkali membuahkan keturunan yang buruk. Sudah saatnya kami kembali menyegarkan kelompok gen kami. Selain itu, kami tidak bisa begitu saja menaruh seluruh infrastruktur desa di tempat kami berada sekarang. Sebuah desa telah berdiri di tempat kami ada dahulu, dan daripada kami menghancurkannya, kami lebih baik membiarkannya."
"Begitukah..." ujar wakil keluarga Nara dalam dewan sambil manggut-manggut.
"Oleh karena itu, saya mendekati Konohagakure yang mempunyai tanah yang cukup luas dan iklim yang cocok, apalagi Hiruzen Sarutobi dan Jiraiya juga teman-teman lama saya," tandas Yukari sambil menghela nafas.
"Lantas, apa keuntungan yang kami dapatkan dengan membentuk aliansi?" tanya sang wanita tua sambil memandang Yukari penuh selidik.
"Tentu, keamanan... sebelum Hokage Kelima dipilih, kalian akan rentan terhadap serbuan musuh, dan kami akan melindungi kalian dari itu. Kalian juga akan mendapatkan dukungan teknologi terbaru, jutsu terbaik, dan senjata-senjata kelas wahid dari kami, namun hal itu juga sedikit banyak tergantung kekuatan lobi para pedagang kalian...." terang Yukari panjang-lebar dengan tenang sambil menghela nafas, "Kami juga tidak akan menuntut posisi penting dalam hirarki desa secara segera. Kami akan menaruh tiga wakil di dewan desa, namun kami tidak akan minta warga kami dipilih sebagai Hokage selama lima tahun berturut-turut. Sebuah tawaran yang menguntungkan, bukan?"
...
Naruto mendapati dirinya tersadar dalam kurungan Kyuubi lagi. Dirinya masih ingat penjara yang gelap dan becek itu, perlambang segel penahan yang memisahkan chakra miliknya sendiri dengan chakra youkai milik Kyuubi yang disegel dalam dirinya. Dengan pikiran dipenuhi apa yang ia bicarakan dengan sang ibu tadi, ia masuk mencari sang siluman.
"Selamat datang, putraku," ujar Ran ringan sambil tersenyum. Ia tampak menunggu sang putra, persis di depan kurungan sang rubah berekor sembilan.
"Kaa-san... kenapa..." tanya Naruto terbata.
Tiba-tiba seluruh ruangan itu terguncang, tanda sang Kyuubi berusaha mendobrak keluar. Beberapa saat guncangan, barulah sang Kyuubi menyadari ada makhluk lain yang sedang menyaksikan dirinya dan Naruto dengan tenang.
"Kaa-san, mundurlah!" seru Naruto sambil menarik lengan baju sang ibu.
"Tenanglah nak, Ibu tahu apa yang Ibu lakukan," balas Ran tenang.
"HRRM, BELUM PERNAH ADA MAKHLUK LAIN BERANI MENONTON SAMPAI KE SINI! MENARIK!" geram sang Kyuubi sambil memandang tajam ke arah Ran, "KATAKAN WAHAI SAUDARI JAUH, APAKAH KAU YANG AKAN MEMBEBASKANKU?"
"Tidak. Tapi aku akan memberikan kesempatan bagi anakku untuk menerimamu," balas Ran sambil mengulurkan tangannya dalam keadaan terkepal, "Kai, Rei, Setsu, Fuu, Rai, En, Sei, Ko."
"BETINA BUSUK! AAAAAAARGHHH!" teriak Kyuubi ketika menyadari makna kata-kata Ran. Sederetan onji itu ternyata merupakan mantra onmyoudo untuk memisahkan dan meredam kekuatan chakra merah dari Kyuubi. Larik-larik petir berlompatan ke arah tubuh Ran, pertanda kekuatan sang Kyuubi beralih pada Ran. Saat semuanya selesai, hanya tersisa sesosok tubuh dengan rupa persis Naruto yang tergolek di belakang kisi-kisi kurungan.
"Kaa-san, itu..." desis Naruto pelan.
"Ya anakku. Kau sedang bertatap muka dengan sisi gelap dari jiwa Kyuubi, sekaligus sisi gelap dirimu sendiri," ujar Ran sambil memandang pada sosok yang mulai sadar itu.
"Rrrrgh... perempuan brengsek..." geram sang sosok yang mulai tersadar.
"Oh ho, sebaiknya kau mulai memanggilku Ibu, nak," balas Ran sambil tersenyum.
"Ya, sebaiknya kau mulai menghormatiku juga, Hitam!" tambah Naruto sambil menyeringai.
"Naruto, tidak baik menyapa seseorang yang baru kau temui dengan nama panggilan yang buruk seperti itu," tegur sang ibu.
"Dia yang selama ini membuat hidupku susah, Kaa-san!" balas Naruto geram sambil menunjuk kepada sosok hitam itu, "Dia juga yang dibenci penduduk desa, yang menumpahkan kebencian itu padaku! Kalau aku hilang kendali, dia bisa saja keluar dan menghancurkan desa ini!"
"Itu bila ia masih mempunyai chakra merah seperti dulu," balas Ran sambil tersenyum, "Lihatlah, apa saat ini ia bisa menjebol kurungannya sendiri? Tampaknya tidak."
"Er... iya sih, tapi kan..." ujar Naruto keberatan.
"Aku iri dengan kebebasan tawamu, bajingan!" seru sang 'Naruto' di balik kurungan geram, "Aku menyerap dan menyimpan kebencianmu terhadap seluruh penduduk desa selam bertahun-tahun, dan kau berpikir bahwa aku bukan bagian dirimu? Balas budi macam apa itu, hah!"
"Aku tidak membenci desa ini, Ekor Bajing! Aku ingin melindunginya seperti Sandaime dan Yondaime, sebagai Hokage!" balas Naruto sengit.
"Melindunginya? Melindunginya agar kelak kau bisa bebas membalas dendam sendiri nantinya, kan?" balas 'Naruto' tak kalah sengitnya, "Kau ingin menggeser posisi para tetua dalam dewan desa, lalu menyingkirkan mereka agar suaramu dapat selalu maju tanpa tantangan, bukan begitu?"
"Tidak! Siapa yang mau memerintah desa yang mati seperti itu?" seru Naruto dengan nada yang meninggi.
"Terimalah, 'desa mati' yang seperti itu menyenangkan dirimu, kan?" balas 'Naruto' sambil tersenyum sinis.
"Stop, anak-anak. Bertengkar seperti ini tidak akan membawa kita kemanapun," lerai Ran sambil menghela nafas.
Kedua anak itu langsung diam, tetapi masih saling berpandangan dengan tajam.
"Naruto," ucap Ran sambil membelai wajah Naruto. "Pikirkan. Letakkan dirimu dalam sepatunya. Berpikirlah dalam jalan pikirannya. Apakah kau tidak akan melakukan hal yang sama? Apakah kau tidak akan membenci orang-orang yang menguncimu dalam penjara?"
Untuk kali pertama malam itu, Naruto terdiam. Tiga belas tahun dikurung sendiri dalam sebuah ruangan kecil tanpa tahu siapa-siapa kecuali yang menguncinya, dan orang yang paling bertanggung jawab dalam menguncinya itu pun sudah meninggal dunia. Kesunyian dan nafsu membalas dendam yang begitu kuat pasti akan menghancurkan kewarasan seorang ninja, sekuat apapun dia.
"Ya... Kaa-san..." bisik Naruto dengan kepala tertunduk.
"Maafkanlah dia, Naruto," ujar sang ibu sambil menepuk bahu sang anak. "Maafkanlah ia, dan hapuskan kebencian yang sudah ia kumpulkan... seperti apa yang sudah kau lakukan pada dirimu sendiri. Ulurkanlah tanganmu untuk menolongnya keluar dari lingkaran setan ini."
"Ya, Kaa-san," balas Naruto sambil menoleh ke arah 'Naruto'. "Siapapun dirimu... maafkan aku karena membencimu di saat yang paling kau butuhkan."
"Hrmph," dengus 'Naruto' pendek. "Kau tahu, aku menunggumu selama tiga belas tahun untuk hal ini. Sudah benar-benar saatnya, bocah brengsek."
"Hei, hei," sela Ran sambil tersenyum lembut.
"Yah, kalau begitu sudah tidak ada gunanya kurungan besar ini," timpal 'Naruto' pendek, dengan raga yang tampak memudar.
"Oi! Kau kenapa?" seru Naruto prihatin.
"Ini? Bukan apa-apa," balas 'Naruto' sambil menyeringai sementara tubuhnya semakin menghilang dari pandangan. "Aku cuma... akan lesap ke dalam pikiranmu. Mengawasimu agar kau tidak berbuat goblok."
"Tolong, ya," balas Naruto agak sinis, namun lega.
...
"Untung mereka mau menerima keputusan penggabungan itu..." gerutu Jiraiya panjang-pendek sambil berjalan menembus kabut subuh. "Sialnya aku yang harus memangku jabatan sementara..."
"Ah, kita ambil baiknya saja, Jiracchi," ujar Yukari sambil menepuk-nepuk bahu Jiraiya. "Dengan begini, semakin cepat aku bisa menghadirkan Gensogakure dan kaum youkai kembali ke dunia."
"Tapi kita sedang melangkah di atas es tipis, Yukari-san," timpal Jiraiya serius. "Bila desa-desa lain tahu Konoha punya para youkai, mereka semua bisa bersatu melawan kita... itu berbahaya, dengan atau tanpa kaum youkai di bawah pimpinanmu."
"Tenanglah, Jiraiya... khawatir cuma akan menambah kerutan di dahimu," ujar sang youkai perempuan sambil tertawa kecil. "Kami akan menjadi pasukan malaikat penjaga kalian untuk saat ini."
"Bukan cuma desa lain dan jinchuuriki mereka yang menjadi pikiranku sekarang..." balas Jiraiya muram. "Akatsuki. Mereka bersembilan semuanya adalah penjahat kelas wahid, setingkat dengan Orochimaru tempo hari. Mereka tidak punya kesopanan dan dekorum desa-desa ninja yang lain. Kalau mereka tahu kita sedang melemah karena serbuan Orochimaru tempo hari, aku khawatir mereka akan bergerak masuk."
"Kau betul juga," timpal Yukari, dengan senyum yang berubah licik. "Sebaiknya aku membentuk pasukan pendahulu untuk membereskan mereka. Ini bisa jadi pemanasan yang bagus sebelum kami turun ke kancah pertempuran yang sebenarnya. Kau punya data intel tentang mereka, kan?"
"Sedikit sih... lebih bagus dari tidak sama sekali," desah Jiraiya dengan nada lelah. "Sebelum itu, aku ingin tidur dulu barang dua-tiga jam. Capek sekali bernegosiasi dengan bajingan-bajingan dewan itu."
A/N: Ya, tempo cerita ini lebih cepat dari kebanyakan cerita saya yang lain. Bagian curbstomping-nya masih lama, kok ;) Mohon umpan-balik :D
