=DISCLAIMER=
Semua trademark dalam fanfic ini dimiliki oleh pemegang copyright masing-masing, kecuali plot dan hasil pemikiran penulis. Fanfic ini dibuat hanya untuk hiburan semata dan tidak dimaksudkan untuk mendapatkan keuntungan material apapun.
Akatsuki no Tasogare
2nd Movement: Terbangnya Merpati
Me and some guys from school
Had a Band and we tried real hard
Jimmy quit and Jody got married
I should've known we'd never get far
But when I look back now
The summer seemed to last forever
And if I had the choice
Ya - I'd always wanna be there
Those were the best days of my life
('Summer of 69', Bryan Adams)
"Fuwaaaaaah~" kuap Naruto sambil merentangkan tangan. Sepuluh detik kemudian, ia menyadari sang ibu sudah bangun lebih dahulu darinya.
"Bangun juga kamu akhirnya," tegur sang ibu. "Ayo, sarapan sudah siap. Aku terpaksa memasak apa yang ada di lemarimu... oh ya, kamu punya gelas?"
"Ada di dapur..." ujar sang putra sambil beranjak berdiri, bermaksud mengambilkan.
"Jangan isi dulu gelasnya. Mari, kuperlihatkan sesuatu hal padamu," timpal sang ibu sambil menerima sebuah gelas kosong yang disodorkan Naruto padanya.
Dengan sedikit gerakan tangan memutar, Ran menciptakan sebuah gumpalan air dari udara kosong. Awalnya bola itu hanya sebesar kacang polong, namun perlahan, dengan setiap gerakan hati-hati sang ibu, gumpalan itu membesar hingga sebesar buah apel. Naruto hanya bisa ternganga melihat kehebatan demonstrasi ibunya.
"He-hebat..." komentar Naruto sambil mengusahakan air liurnya agar tidak jatuh berceceran, "J-jutsu apa itu, Kaa-san?"
"Tidak, nak, ini bukan jutsu maupun kekkei genkai," terang sang ibu sambil tersenyum saat gumpalan air itu jatuh ke dalam gelas kosong di atas meja, memenuhinya, "Ini hanya kontrol chakra. Bila kau belajar cukup lama, kau juga bisa melakukannya."
"Inikah kekuatan ninja... er... Gensogakure?" tanya Naruto dengan mulut masih setengah menganga.
"Tentu tidak... ini cuma permukaannya," balas Ran sambil mempertahankan senyumnya. "Pikirkanlah, bila kontrol chakra kami sudah cukup untuk melakukan hal ini, apa yang jutsu kami bisa lakukan?"
"Err... membelah gunung?" tebak Naruto sedikit gugup.
"Seorang manusia biasa dari Gensogakure pernah melakukannya... gurunya bahkan bisa menguapkan gunung," ucap Ran sambil menepuk bahu Naruto. "Dan dirimu, anakku... bisa melakukan hal yang jauh lebih hebat dari itu. Karena dirimu yang sekarang adalah seorang Kitsune. Seekor Kyuubi bahkan, sama seperti diriku."
"Kyuubi...?" gumam Naruto, semakin tidak percaya.
"Sama seperti diriku," ulang Ran sambil berdiri dan melepaskan kekuatannya. Sembilan ekor berwarna keemasan langsung tampak di belakang sang ibu.
"I... ini... sulit sekali dipercaya..." gumam Naruto yang jatuh terduduk. "Ibuku... Kyuubi?"
"Ya, anakku. Dongakkan kepalamu, dirimu adalah putra kami. Putra shinobi terkuat di zamannya dan salah satu youkai terkuat, Kyuubi," balas Ran sambil membantu putranya berdiri.
"Tunggu, tunggu... maksud Kaa-san masih ada yang lebih kuat dari Kaa-san?" tanya Naruto bingung. "Bagaimana dengan bijyuu dalam jinchuuriki lain? Shuukaku, misalnya?"
"Ya... contohnya Yukari-sama yang kau temui kemarin. Beliau yang menyegel Gensogakure no Sato ke dimensi lain agar kami kaum youkai tidak terseret dalam politik dunia manusia... jauh sebelum Rikudou Sennin menciptakan Ninpou," ujar sang ibu sambil tersenyum. "Tentang bijyuu... eh, aku tidak terlalu tahu istilah itu, nak. Mungkin esensi youkai banyak yang masih tertinggal di dunia ini, lalu menjadi bijyuu dan jinchuuriki. Shuukaku mungkin contohnya. Dia memang siluman musang yang cukup kuat..."
"Whoa, pantas Ero-sennin tidak berani main-main di depan Yukari-san," tukas Naruto diiringi suara berkeruyuk dari dalam perutnya.
"Nah, makanlah dulu," ujar sang ibu. "Nanti kulatih kau agar bisa memaksimalkan tenaga seperti aku."
"... terima kasih, Kaa-san," balas Naruto sambil memeluk sang ibu erat-erat. Air mata haru mulai mengalir keluar dari kedua matanya.
"Ah... kamu ini..." balas sang ibu sambil membelai lembut kepala sang putra.
...
Hinata tidak bisa mempercayai apa yang dilihatnya. Hari ini, ia melihat Naruto berbicara dengan bahagia dengan seorang wanita bertubuh semampai berpotongan rambut pendek. Hampir seperti... ibu dan anak. Tapi bukankah itu tidak mungkin? Hinata yakin bahwa ibu Naruto sudah lama meninggal saat penyerbuan Kyuubi. Apa itu kunoichi lawan yang menyamar? Apa dia berusaha menculik Naruto? Apa...
"Hei, Hinata!"
Sapaan bersemangat khas Naruto itu nyaris membuat Hinata mendapat serangan jantung.
"Ha-ha-ha-halo, Naruto-kun..." balas Hinata tergagap-gagap.
"Perkenalkan, ini ibuku," timpal Naruto sambil tersenyum lebar. "Beliau baru kembali dari misi jangka panjang... Kaa-san, ini temanku Hinata."
"Se-se-se-se-senang berte-te-temu an-anda... Nyonya..." kata Hinata sambil menerima jabat tangan Ran. "Sa-saya... Hi-hinata Hyuga-ga..."
"Senang bertemu denganmu juga, Hinata," balas Ran sambil tersenyum. "Kamu seorang Hyuuga, eh? Bagaimana kabar ayahmu?"
"Euh... Be-beliau... sehat-sehat..." balas Hinata, gagapnya berkurang karena tidak merasakan aura jahat dari Ran.
"Ayo Kaa-san, mari kita bergegas!" ajak sang anak sambil menggamit tangan ibunya, berjalan ke arah tempat latihan yang tersebar di sekeliling Konoha, meninggalkan Hinata yang masih agak terpukau.
"Aduh, anak ini," gumam sang ibu sambil berdecak. "Sampai bertemu lagi, Hinata!"
Hinata hanya bisa melambai malu-malu sambil tersenyum lebar. Ia belum pernah menyapa dan berbicara dengan Naruto selama ini sebelumnya. Semu merah muda mulai merayap ke seluruh tubuh Hinata, diikuti perasaan yang lembut dan hangat.
"Perkembangan yang menarik," gumam Shino pendek sambil berdiri di sebelah Hinata.
"Hiyaaaa! Shi-shino! Ja-jangan mengagetkan se-seperti itu!" jerit Hinata begitu sadar Shino sudah berdiri di sebelahnya.
"Hei, siapa itu tadi?" celetuk Kiba sambil menumpangkan siku di bahu Shino.
"Itu... i-ibunya Na-naruto-kun..." jawab Hinata sambil menghela nafas. "Katanya sih... baru kembali dari misi jangka panjang..."
"Aneh," gumam Kiba sambil manggut-manggut. "Setahuku Kushina Uzumaki termasuk korban tewas saat serbuan Kyuubi..."
Tiba-tiba tengkuk Hinata yang hangat berubah terasa sedingin es. Apa iya aku melihat hantu? Apa iya Naruto... sedang dihinggapi arwah penasaran?
...
"Hoooi, Naruto!" seru Jiraiya sambil menyusul Naruto dan Ran yang sedang menuju tempat latihan. "Kau bisa bangun pagi juga ternyata!"
"Yah, begitulah Ero-sennin," balas Naruto sambil menyeringai senang. "Kaa-san akan mengajakku berlatih!"
"Kau... akan mengajarinya ilmu apa, Ran-san...?" gumam Jiraiya, agak muram. "Kukira belum waktunya dia belajar ilmu yang lebih maju dari ninpou..."
"Dia siap, Jiraiya-san," tangkis Ran sambil tersenyum menenangkan. "Aku sudah 'menenangkan' pribadi kedua itu. Sekarang tinggal mengendalikan luapan kekuatan Sembilan Ekor itu saja."
"Kalau begitu, aku akan menonton," balas Jiraiya sambil tersenyum. "Kutunjukkan tempat yang bisa kalian pakai, tapi tempatnya agak jauh."
"Di mana, Ero-sennin?" tanya Naruto penasaran.
"Tempat bekas pertarunganmu dan Gaara," jawab Jiraiya sambil tersenyum. "Cukup jauh dari desa, cukup terbuka, dan luas... kalian tak perlu takut ketahuan di sana."
"Kaa-san bisa mengikutiku melompat pohon?" goda Naruto sambil tersenyum pada sang ibu.
"Hmm... tidak, tapi aku bisa terbang. Mau merasakannya?" balas Ran sambil tertawa kecil.
"Mau, mau!" tukas Naruto riang.
"Oke, naiklah ke punggung ibu. Pegangan yang kuat ya!" ujar sang ibu sambil berjongkok. Naruto pun naik di punggungnya, dan pada lompatan berikutnya mereka pun terbang meninggalkan Jiraiya.
"Senangnya..." gerutu Jiraiya sambil mulai berlari mengejar rubah terbang itu.
...
"Jadi, rapat besar ini mengenai kepindahan dan penggabungan Gensokyo dengan Konohagakure no Sato," dengus seorang gadis berpakaian merah-putih sambil memberikan lirikan kematian terbaik yang bisa ia berikan pada Yukari.
"Yep! Untuk mengambil hati mereka, kita butuh sepuluh orang untuk membantu mereka mempertahankan mereka dari penjahat," balas Yukari riang. "Oh, dan aku ingin Reimu, Sanae, Kanako, dan Suwako membantuku menciptakan Kekkai Delapan Lapis."
"Kau gila ya?" bentak Reimu, sang gadis merah-putih, sambil menunjuk Yukari. "Itu namanya mempertaruhkan kestabilan Kekkai Perbatasan milik Gensokyo! Kau mau kami semua mati dan kenyataan Gensokyo runtuh?"
"Ta-tapi... bila disokong dengan energi kepercayaan yang dimiliki Suwako-sama dan Kanako-sama, saya kira Kekkai Delapan Lapis seperti yang diinginkan Yukari-san bisa dipertahankan," sela gadis berambut hijau panjang, berusaha mendinginkan suasana. Dua wanita yang dimaksud sang gadis hanya mengangguk tanda setuju.
"Apa untungnya buat kami?" seorang gadis kecil yang umurnya nampaknya belum genap dua belas angkat bicara.
"Yaa, kalian akan dianggap pahlawan dunia itu, itu yang pertama," balas Yukari sambil tersenyum ke arah sang gadis kecil itu. "Kalian juga punya kesempatan lebih baik dalam membantu penduduk Gensokyo melebur lebih baik dalam komunitas Konoha. Belum lagi rampasan yang bisa kita dapatkan. Bagaimanapun, kepala 10 penjahat kelas wahid pasti berharga sangat mahal bila diuangkan. Banyak yang mencari mereka di dunia itu. Kita belum memperhitungkan aset mereka yang bisa kita sita..."
"Hmm, cukup bagus bila kupikir-pikir," ujar seorang perempuan berambut abu-abu perak panjang. "Apa Reisen cukup untuk memerangi mereka? Aku harus menyiapkan obat yang cukup bila kalian harus bertarung."
"Eeeeh?" seru Reisen tidak percaya. "Tapi sensei..."
"Satu lagi 'tapi' dan kau kuberi dosis obat Gyaku Kochoumugan sepuluh kali lipat," ancam sang sensei. Reisen langsung menciut dan hanya bisa mengiyakan.
"Terima kasih, Eirin. Siapa lagi?" ujar Yukari sambil memandang kasihan pada Reisen.
"Aku!" sambar seorang gadis bertopi penyihir dengan antusias.
"K-kalau Marisa ikut... aku juga ikut..." timpal gadis berambut pirang yang duduk di sebelahnya.
"Oke, Marisa, Alice... ada lagi?" pancing Yukari sembari tersenyum.
"Ini nampaknya asyik. Aku ikut," ujar sang gadis kecil yang tadi angkat bicara. "Sakuya, Pache, aku ingin kalian membantuku."
"Saya siap, Remilia-sama," balas Sakuya pendek.
"Patchouli... er, kau bisa membantuku menyediakan tenaga tambahan untuk Kekkai Delapan Lapis dengan Philosopher's Stone?" sambar Yukari sambil menangkupkan tangan. "Maaf Remi, aku perlu mana!"
"Kukira bisa," ujar sang penyihir berbaju ungu pupus yang dipanggil Patchouli itu. "Maaf, Remi, tapi nampaknya tugas yang ini nampaknya lebih penting."
"Ah well, tak apa-apalah," balas Remi, sang gadis kecil itu, sambil mendengus. "Sakuya, apa kau bisa mengendalikan Flan selama kita di sana?"
"Saya tidak terlalu yakin, Remilia-sama," balas Sakuya sambil menghidangkan teh kepada para hadirin. "Kita bisa membawa China untuk bermain bersama Flan-sama sementara saya berjaga-jaga..."
"Na, na... takdirnya bisa jadi buruk kalau begitu. Ya sudah, pastikan saja kunci stasis ruang bawah tanah tetap terjaga selama kita pergi. Kunci China di bawah sana kalau perlu," gumam Remilia dambil bertopang dagu.
"Oke, itu sudah tiga orang, empat ditambah Chen... siapa lagi yang mau mengajukan diri?" ujar Yukari sambil menyapukan pandangan mengelilingi ruangan yang berisi penduduk Gensokyo itu.
"Saya mengajukan diri, Yukari-sama," seru seorang gadis berbaju hijau. "Yuyuko-sama bilang ini baik untuk berlatih."
"Baik, Youmu. Ada yang lain?" tawar Yukari sambil tersenyum. Malam ini malam yang betul-betul bagus, pikirnya sambil mencermati beberapa sosok lain yang mengacungkan tangan.
...
"Bagaimana?" tanya Ran ketika mereka mendarat di tempat yang dimaksud Jiraiya. Jiraiya sendiri tiba beberapa menit setelah mereka mendarat.
"Asyik!" jawab Naruto antusias. "Kira-kira berapa lama aku harus belajar untuk bisa terbang seperti Kaa-san?"
"Oh, enam... mungkin tujuh jam. Kalau kau tekun, kau bisa terbang pada akhir hari ini," ujar Ran sambil tersenyum teduh. "Kitsune paling bodoh pun bisa menguasai jurus terbang dalam waktu kurang dari waktu seminggu."
"Mantaaap!" balas Naruto sambil mengepalkan tangan. "Bayangkan wajah Sasuke kalau tahu aku bisa terbang... Sakura juga..."
"Sayangnya, kau tidak boleh melakukan itu kecuali dalam keadaan terpaksa, nak," potong Ran sambil menepuk-nepuk kepala sang putra. "Untuk terbang, kau membutuhkan chakra yang sangat besar. Satu-satunya cara menyediakan chakra itu adalah dengan masuk ke dalam Keadaan Asal Kyuubi, minimal melepaskan dua dari sembilan ekor yang kau punyai. Aku tidak ingin kau pamer kekuatan Kyuubi milikmu selain pada saat berlatih denganku... itu cuma akan mengundang musuh yang tidak perlu saja. Mengerti?"
"Aaaah~ masa sedikiit saja tidak boleh, Kaa-san?" rengek Naruto sambil mengembangkan pipi.
"Tidak, nak. Aku sudah pernah merasakan diburu musuh dari delapan penjuru angin. Itu bukan kehidupan yang baik untukmu, percayalah... setidaknya tidak sekarang," balas sang ibu dengan raut muka tegas.
"Uuu... iya deh..." gumam Naruto sambil setengah merengek.
"Kalau menghadapi musuh, kau boleh unjuk kekuatan sepuasmu," tawar Ran sambil tersenyum.
"Okelah," balas Naruto yang sudah kembali semangatnya.
"Pertama-tama, kita akan membuka pintu Keadaan Asal Kyuubi terlebih dahulu. Duduklah di sini, dan ulurkan tanganmu ke depan," ujar sang ibu sambil menyuruh sang anak duduk bersila. "Apa pun yang kau rasakan dalam tubuhmu, ikuti saja. Ibu akan membimbingmu melepaskan lima dari sembilan tingkat kekuatan yang kau punyai hari ini, jadi kau bisa belajar ilmu-ilmu Kitsune no Jutsu."
...
Naruto terbukti merupakan seorang pelajar yang cukup handal. Dalam waktu tiga jam setelah Ran membukakan pintu-pintu Keadaan Asal Kyuubi, ia telah berhasil menguasai cara mengendalikan tingkat-tingkat pelepasan tenaga yang terkait dengan baik.
"Bagus, nak. Kau sudah bisa menguasai tingkat-tingkat energi dengan baik sampai dengan pelepasan tingkat kelima. Sekarang, kau sudah siap untuk belajar Kitsune no Jutsu," ungkap Ran sambil berdiri dari duduknya. "Mari kita mulai dari jurus pertama."
"Aku ingin jurus yang hebat!" balas Naruto antusias.
"Semua orang mulai dengan langkah kecil," ujar sang ibu sambil tersenyum bijaksana. "Jurus pertama akan kita pelajari adalah Kitsune no Ki. Jurus ini akan menyelimuti kepalan tanganmu dengan api yang bisa menyala dimanapun selama kau belum kehabisan tenaga atau mati. Disamping itu, jurus ini juga membuatmu lebih kebal terhadap api."
"Kedengarannya cukup sederhana..." komentar Naruto sambil memperhatikan sang ibu melepaskan satu ekor.
"Pertama-tama, masuklah ke dalam Pelepasan Satu Ekor," ujar sang ibu mencontohkan. "Kemudian alirkan chakra merah ke tengah telapak tanganmu, lalu pertahankan selama beberapa saat. Chakra merah yang terkumpul itu akan terbakar sendiri, dan setelah itu yang harus kau lakukan hanyalah memberikan chakra secara terus-menerus pada api chakra itu."
Beberapa saat setelah Ran selesai menjelaskan, tangannya terbakar oleh api berwarna merah-oranye. Api itu membungkus tangannya lalu berkobar sebentar, sebelum padam kembali dalam waktu tidak lebih dari satu menit. Naruto memandang tangan sang ibu lekat-lekat, berniat mencobanya sendiri.
"Nampaknya mudah..." gumam Naruto sambil memperhatikan tangannya lekat-lekat.
"Cobalah dahulu, agak jauh di sebelah sana. Jangan lupa masuk dalam Pelepasan Satu Ekor. Aku akan beristirahat sebentar," ujar sang ibu sambil mendekati Jiraiya yang dari tadi duduk dekat tempat mereka berlatih.
"Cukup sederhana," ujar Jiraiya sambil bergeser memberi Ran tempat duduk. "Sedikit terlalu sederhana, malah..."
Baru saja Jiraiya berkomentar, terdengar ledakan keras yang membuat tanah bergetar sebentar.
"Hmmm, tampaknya dia sudah bisa melakukan salah satu aplikasi Kitsune no Ki," komentar Ran sambil tersenyum. "Aku menyebutnya Akai Katon: Bakuhatsu no Te."
"Kau yakin ledakan itu tidak menghancurkan tangannya?" seru Jiraiya khawatir.
"Tubuh Kitsune tidak selemah itu, Jiraiya. Dengan bantuan chakra merah, tubuhnya akan memperbaiki diri jauh lebih cepat dari manusia biasa. Saat ini, ledakan itu mungkin hanya terasa seperti mercon kecil yang meledak di tangan," ujar Ran tenang sambil tersenyum simpul melihat Naruto yang jatuh terduduk, nampak terguncang namun tak apa-apa. "Nak, itu tandanya chakra yang kauberikan pada api itu terlalu banyak dan terlalu cepat! Kurangi chakra yang kau berikan pada api itu, dan usahakan aliran chakranya tetap stabil!"
"Siap, kaa-san!" balas Naruto sambil menyeringai senang.
...
"Oh ho, nampaknya latihan Naruto berlangsung baik," komentar Yukari sambil berjalan mendekati Jiraiya dan Ran dari arah belakang mereka. "Dia anak yang cukup kuat. Dia akan jadi aset berharga dalam mempertahankan diri dari serbuan Akatsuki."
"Kemampuannya jauh dari terasah, Yukari-sama," balas Ran sambil menghela nafas. "Ia sudah punya Kitsune no Ki dan Fuujin no Hane, namun kemajuan berikutnya akan makan waktu lebih lama. Ia baru belajar dasar-dasar Genso Kirikae dan jutsu Eneton, namun ia belum mendapatkan konsepnya dengan baik..."
"Menurutku tingkat chakra Naruto sudah setingkat dengan ninja tingkat-kage," komentar Jiraiya sambil melipat tangan. "Naluri bertarung dan penguasaan jutsunya perlu diasah, tapi selain itu... sempurna."
"Eneton! Makankosappou!" teriak Naruto dari kejauhan, diikuti ledakan kecil yang bunyinya sedikit lebih keras dari suara balon meletus. "Aaaargghhh!"
"Segalanya sudah disiapkan di Gensokyo. Aku, Reimu, Sanae, Kanako, Suwako, dan Patchouli akan membuat Kekkai Delapan Lapis untuk melindungi Konoha dari serangan Akatsuki, namun kami tetap akan butuh bantuan untuk bertarung langsung dengan mereka. Sudah ada penduduk Gensogakure yang mau meminjamkan tenaga, namun tampaknya kau dan Naruto harus turun bertarung juga," jelas Yukari sambil duduk di samping Jiraiya. "Aku ingin kau mengeluarkan maklumat jam malam untuk para penduduk desa, Jiracchi. Aku tak ingin ada pelanduk mati di tengah-tengah pertarungan para gajah."
"Kapan hal ini akan terjadi?" tanya Jiraiya sambil bangkit berdiri.
"Aku tak tahu persisnya, namun aku bisa membantumu mencari tahu, Jiracchi," ungkap Yukari sambil menghela nafas.
"Baiklah. Kita bisa memata-matai beberapa markas mereka di sekitar Amegakure dan Otogakure..." gumam Jiraiya sambil berpikir. "Seberapa cepat kau bisa mengantarku ke sana, Yukari-san?"
"Sebelum kau berkedip," ujar Yukari sambil tersenyum.
"Tunggu Yukari-sama... sebelum anda pergi, saya perlu minta tolong dengan anda," potong Ran sambil bersiul memanggil Naruto kembali. "Antarkan kami ke Ruang Kompresi Waktu."
"Ah ha... seperti yang sudah kukira," ujar Yukari sambil tersenyum. "Setahun cukup?"
"Cukup, Yukari-sama," ujar Ran sambil mengangguk.
"Oh, halo Yukari-san!" sapa Naruto sambil berjalan mendekat dan menyeringai bahagia. "Kaa-san, kita akan kemana?"
"Kita akan berlatih selama setahun," ujar sang ibu. "Dan kita sebaiknya menyetok persediaan makanan untuk itu."
"Dari mana kita akan mendapatkan uang untuk itu, kaa-san?" tanya Naruto bingung. "Dan di mana kita akan berlatih?"
"Kau akan tahu nanti," ujar sang ibu sambil berkedip.
...
"Well, kita sudah sampai," ujar Jiraiya sambil melangkah keluar dari celah dimensi buatan Yukari. "Kukira kau bercanda saat kau bilang bisa mengantarku ke manapun dalam sedetik..."
"Kekuatan selalu ada harganya, Jiracchi," balas Yukari sambil melangkah keluar dari celah dimensi itu dalam balutan setelan jas coklat lengkap dengan dasi. "Aku kira ini markas utama mereka, hmm?"
"Ya, tempat ini diketahui sebagai markas Akatsuki yang terbesar," ujar Jiraiya sambil memandang sekeliling. "Ah, baiknya mereka... penyambutan pun sudah disiapkan."
Benar saja, sebentar kemudian ninja-ninja Amegakure sudah bermunculan dan mengepung mereka. Jiraiya menghitung setidaknya ada tiga puluh ninja, dan ninja-ninja itu pun bukan tipikal 'ninja umpan meriam' seperti mayoritas ninja-ninja Otogakure yang menyerbu Konoha tempo hari. Dari cara mereka bergerak dan menyergap Yukari dan dirinya, Jiraiya menyimpulkan bahwa ninja-ninja ini setidaknya setingkat dengan para Tokubetsu Jounin dari Konoha.
"Katakan padaku, wahai penguasa falak!" seru Yukari tiba-tiba. "Apa kau punya cukup ninja?"
Tidak ada yang berani menjawab selama sepuluh detik lebih. Tantangan Yukari yang blak-blakan itu nampaknya cukup untuk membuat para bawahan itu takut.
"Kau berani juga, nyonya," komentar sebuah suara dari dalam tanah, diikuti munculnya seorang pria dengan dua cuping besar mengapit kepalanya. "Jiraiya sang Sannin, suatu kehormatan untuk dikunjungi anda. Apa yang kalian tunggu lagi? Bonus lima bulan gaji untuk yang bisa membawakan kepala Jiraiya pada Pein-sama."
"Ya, Zetsu-sama!" balas ninja-ninja yang sudah berkumpul mengepung Jiraiya itu, sembari merangsek maju.
"Kau perlu senjata, Jiraiya?" gurau Yukari sambil mencabut dua senjata dari dalam celah dimensinya, satu untuk satu tangan. "MERUNDUK!"
Jiraiya langsung merunduk sambil diam-diam merapal Goukakyu no Jutsu, sementara Yukari membabat ninja-ninja yang datang dengan dua senjata aneh yang mengeluarkan suara meletup-letup. Ninja-ninja yang tadi gagah berani menyerbu berjatuhan seperti rumput dipotong di hadapan Yukari dan senjata kembarnya. Zetsu hanya memandangi pembantaian itu dengan mimik muka netral. Jiraiya pun tidak tinggal diam, melepas beberapa semburan api untuk melindungi bagian punggung Yukari. Dalam sekejap mata, tiga puluh ninja terlatih itu terkapar tak bernyawa di hadapan Zetsu, Yukari, dan Jiraiya.
"Bolter SMG. Model terbaru buatan Kappa Research in Motion inc., dan hanya tersedia di Toko Sihir Raspberry cabang terdekat di kota anda! Bagaimana rasanya, tuan pemakan lalat?" goda Yukari sambil meniup asap yang keluar dari ujung senjatanya. "Masih banyak kejutan untuk kalian."
"Menarik... Aku ingin merasakan efektifitasnya melawanku. Mari," pancing Zetsu sambil masuk ke dalam kuda-kuda bertarung.
"Ah ha... baiklah kalau begitu. Jiracchi, kita pulang," ujar Yukari sambil melempar dua senjata yang tadi dipegangnya ke dalam celah dimensi. "Cuma ada satu anggota di sini, itupun belum tentu anggota mereka yang terkuat."
"Er... tidakkah kita perlu mengecek markas mereka terlebih dahulu?" ujar Jiraiya, merasa agak terganggu. "Percuma kita jauh-jauh datang ke sini..."
"Baca diantara kalimatnya, Jiracchi sayang," balas Yukari sambil tersenyum dan menggoyang-goyangkan jarinya. "Dia hanya sendiri, tapi berani menghadapi kita yang unggul jumlah dan sudah unjuk kekuatan dengan membantai ninja-ninja desa ini tepat di depan hidungnya. Sepertinya kekuatan utama tidak ada di sini... dan mengingat apa yang kau prediksi tempo hari..."
"Brengsek... jangan-jangan mereka sudah di tengah jalan...!" desis Jiraiya sambil menggeretakkan gigi. "Yukari-san, kita..."
"Jaa~ngan kuatir!" ujar Yukari sambil membuka celah dimensi di bawah kaki Jiraiya, serta-merta menjatuhkan pria tua itu ke dalamnya. "Oh, dan kusarankan kau jangan ikut, tuan pemakan-lalat... sesat tak ditanggung!"
"Untung semuanya sudah direkam..." Zetsu bergumam pendek di tempat saat celah dimensi itu tertutup kembali.
A/N: curbstomping dimulai...
