=DISCLAIMER=

Semua trademark dalam fanfic ini dimiliki oleh pemegang copyright masing-masing, kecuali plot dan hasil pemikiran penulis. Fanfic ini dibuat hanya untuk hiburan semata dan tidak dimaksudkan untuk mendapatkan keuntungan material apapun.


Akatsuki no Tasogare

Transition: Memilih Takdir


"Eneton! Kaaa... me... haaa..." geram Naruto sambil menahan bola energi di tangannya. Jaket oranye miliknya sudah hampir tak berbentuk, hasil dari latihan kerasnya bersama Ran. Tujuh ekor berwarna kuning kemerahan tampak menyembul dari belakang tubuhnya. "Meee... HAAAAAA!"

Seiring teriakan itu, bola energi itu melejit maju ke arah sang ibu. Dengan tenang sang ibu meninju bola energi itu, bertahan sebentar, sebelum menepisnya hingga terlontar ke arah samping kiri belakangnya. Bola energi itu pun meledak tanpa membahayakan mereka berdua, sekitar seratus meter di belakang Ran.

"Belum. Kamehameha milikmu sudah memiliki kecepatan dan kekuatan mendorong yang bagus, namun pembakaran chakranya belum cukup cepat, jadi masih relatif mudah ditepis. Sekali lagi," ujar sang ibu sambil menggoyang-goyangkan jari.

"Haaa? Belum juga?" teriak Naruto tak percaya. "Bu, kita sudah mengulangi ini selama... er, lima minggu?"

"Percayalah, nak, banyak lawan ibu dulu yang bisa menghindari jurus ini," balas Ran, sedikit kekecewaan dalam suaranya. "Selain itu, masih ada Musou Tensei dan Mugen Zenshin yang harus kau pelajari. Dan kau bahkan belum belajar Mahou sedikitpun."

"Tidakkah terlalu cepat kalau kau mau mengajarkannya semua jurus pamungkas kaum kitsune itu dalam setahun, Ran?" ujar Yukari yang muncul dari celah dimensi di belakang Ran.

"Yah, kemajuan Naruto memang cukup pesat dalam enam bulan, Yukari-sama, tapi aku takut itu belum cukup..." ujar Ran sambil berbalik menghadapi bekas tuannya itu.

"Kau terlalu khawatir," ujar sang bekas tuan sambil tersenyum. "Dulu dengan Chen pun begitu. Percayalah sedikit dengan anak-anakmu."

"Ooh, Yukari-san!" seru Naruto sambil berjalan mendekati sang perempuan pirang. "Kau menjenguk kami? Aku banyak kemajuan, lho!"

"Tidak, Naruto," balas Yukari sambil menepuk kepala sang pemuda. "Ran, waktunya telah tiba. Akatsuki sedang mendekati Konoha, dan kami butuh bantuanmu dan Naruto untuk membantu mempertahankan rumah kita."

"Yukari-sama..." desah Ran sambil memandang ke arah sang bekas tuan. "Naruto, ayo. Tenaga kita dibutuhkan."

"Che! Ibu tidak usah minta dua kali, pasti akan kuberikan!" balas Naruto antusias. "Kita akan menendang pantat Akatsuki sampai ke bulan!"

"Anak ini..." gumam sang ibu sambil tersenyum sayu.

"Aku suka anak ini," komentar Yukari sambil membuka celah dimensi ke Gensokyo. "Oh ya Ran, kau masih memiliki kontrak dengan Chen?"

"Masih, Yukari-sama," ujar sang bekas pelayan sambil mengangguk. "Akan kuhubungi Chen begitu kita sampai."

...

"Oke, sekarang akan kujelaskan pembagian pasukan untuk operasi Sankaku-kon. Tasogare-gumi yang dikomandani Chen akan terdiri dari Marisa Kirisame, Alice Margatroid, Youmu Konpaku, Yuugi Hoshiguma, Nue Houjuu, Fujiwara no Mokou, Remilia Scarlet, Ran Yakumo, dan Naruto Uzumaki. Tugas Tasogare-gumi adalah mengalahkan semua anggota Akatsuki yang memasuki wilayah masing-masing. Tidak boleh ada kekalahan di pihak kita. Aku tahu kalian hampir semuanya youkai yang akan melawan manusia, namun tetaplah berhati-hati. Mereka semua sangat berbahaya dan akan melakukan cara apapun untuk mengalahkan kalian..."

"Hmm, jadi kita akan melawan mereka langsung..." gumam Ran sambil menghela nafas panjang sembari memperhatikan Yukari menjelaskan strategi. "Kau belum mempelajari keseluruhan Kumite Kitsune... mungkin bertarung di jarak dekat bukan ide yang bagus, hmm?"

"... Kurasa Yukari-san benar. Ibu terlalu banyak khawatir..." gerutu Naruto sambil cemberut. "Aku ini ninja bukannya tanpa modal, Ibu. Aku masih punya beberapa jutsu yang akan lebih dahsyat kalau dilancarkan dengan tambahan chakra Kitsune. Selama kita di dalam sana, aku sudah memperhitungkan berapa besar Rasengan yang bisa kubuat... yah, kira-kira cukup untuk membalikkan aliran air terjun di Lembah Akhir."

"Ibu mana sih yang tidak khawatir saat anaknya akan bertaruh nyawa," balas sang ibu sambil menepuk kepala sang anak.

"Kalian masing-masing akan masuk ke dalam salah satu bagian dari segel delapan lapis yang akan kupersiapkan sekitar tiga jam dari sekarang. Sesudah kalian memasukinya, kalian akan mendapati desa yang kosong. Jangan khawatir, ini normal dan desa itu akan menjadi medan tempur kalian. Jangan pusing oleh kerusakan kolateral karena itu hanya akan terjadi pada segel delapan lapis dan bukan pada Konohagakure yang sebenarnya..."

"Ibu, orang seperti apa sih ayahku itu?" gumam Naruto sambil meregangkan tangannya. Yukari masih terus menjelaskan tentang Segel Delapan Lapis yang akan mengamankan Konoha.

"Ayahmu?" balas Ran sedikit bergumam. "Dia kuat. Sangat terlatih dalam berbagai disiplin, dan salah satu orang termuda yang bisa menguasai fuuinjutsu. Juga... sangat tampan. Rambut dan matanya mirip denganmu."

"Whoa, keren," gumam Naruto sambil memandangi sang ibu. "Pasti dia sangat sayang dengan Ibu, ya..."

"Oh, tentu... dia juga yang mengusahakan pembuatan identitas Kushina Uzumaki itu," ujar sang ibu sambil menumpukan tangan ke belakang kepala.

"Terus... mengapa ia tidak di sini? Apa ia tewas saat serbuan Kyuubi ke Konoha?" tanya Naruto polos.

Sang ibu terdiam sesaat, sebelum menghembuskan nafas yang seperti telah tertahan belasan tahun.

"Saat ini seharusnya kau sudah tahu dua ditambah dua dalam hal ini, nak..." gumam sang ibu sambil memandang Naruto lekat-lekat di mata sang anak. "Bila sebenarnya Kyuubi yang tersegel dalam tubuhmu adalah manifestasi dari seluruh sifat buruk yang kemudian disegel bersama kekuatanmu... maka..."

"Aku... Kyuubi... yang menghancurkan Konoha...?" desis Naruto tidak percaya. "Tapi... ini pasti kesalahan... tidak mungkin... kan...?"

"Sayangnya... itu yang terjadi," Ran menghela nafas. "Aku tak akan menyalahkanmu, nak. Aku tak bisa. Bila ada yang harus disalahkan, musuh-musuh kamilah yang harus memikul itu."

"Tapi aku... tapi aku..." gumam Naruto sambil terisak. "Aku yang menyebabkan..."

"Tidak ada yang menyalahkanmu, nak," ujar Ran sambil mendekap sang anak yang mulai menangis karena merasakan beban rasa bersalah menguburnya. "Manusia yang hebat tak pernah berbuat kesalahan, namun manusia yang sempurna bisa mengubah segala kesalahan dan kelemahan dalam dirinya menjadi kekuatan baru."

...

"Kau sudah tenang?" tanya Ran sambil mengelus lembut kepala Naruto.

"Yah... begitulah..." gumam Naruto sambil menghela nafas.

"Baguslah. Kita masih punya rumah untuk dilindungi, lho," ujar Ran sambil mengecup dahi sang anak.

"Uh... Kaa-san benar," gumam Naruto sambil bangkit dari posisinya yang berbaring di pangkuan sang ibu. "Jadi, Yukari-san mana?"

"Sedang menyusun Segel Delapan Lapis di Konoha bersama Reimu dan yang lainnya. Tasogare-gumi sedang mempersiapkan diri, begitu Yukari-sama membuka celah dimensi kita akan langsung berangkat," Jelas sang ibu sambil mengela nafas.

"Ah... baguslah. Mungkin dengan bertarung menghadapi musuh Konohagakure, aku bisa menebus dosa," gumam Naruto dengan pandangan sayu.

"Nona Ran, anda di sana?" tanya sebuah suara dari balik pintu kamar. "Celah dimensi baru saja terbuka."

"Aku segera ke sana, Sakuya-san!" balas sang ibu sambil bangkit berdiri. "Ayo, nak. Takdir memanggil kita."

"Kaa-san..." ujar Naruto sambil mengenakan sepatu baru untuk menggantikan sepatu kesayangannya yang sudah hancur di dalam ruang dimensi. "Kalau kita kembali nanti, maukah Kaa-san bercerita tentang Tou-san?"

"Tentu, nak," balas sang ibu sambil sedikit merapikan pakaiannya. "Sekarang, berikan ciuman keberuntungan untuk Kaa-san."

...

Yukari menghela nafas lega saat ia melihat delapan lapis dimensi yang ia persiapkan sudah terisi dengan penjaga masing-masing. Ran Yakumo, satu-satunya orang yang bisa ia percayai sepenuhnya, memimpin Tasogare-gumi untuk menghadapi Akatsuki. Ia pun sudah melihat potensi yang begitu besar dalam tubuh putra Ran. Semuanya berjalan sesuai keinginannya. Ini tak mungkin gagal.

"Yukari-sama, pengintai dari Mayonaka-gumi melihat musuh. Mereka akan tiba dalam beberapa jam," ujar Sakuya sambil muncul dari udara kosong.

"Bagus. Bersiaplah di posisi," ujar Yukari sambil tersenyum. "Operasi Segitiga... mulai."


Remember there's a brightest star

That's shining bright so high above you

Whenever there's the darkest sky

That's making the light so small to shine through

Someday you'll find the star above you

And you will know that glory days

Are waiting for you

(Victory Song, D. Terada)


A/N: Monggo silakan lanjutannya... *ceritanya males direcokin*