=DISCLAIMER=
Semua trademark dalam fanfic ini dimiliki oleh pemegang copyright masing-masing, kecuali plot dan hasil pemikiran penulis. Fanfic ini dibuat hanya untuk hiburan semata dan tidak dimaksudkan untuk mendapatkan keuntungan material apapun.
Akatsuki no Tasogare
Matchup 6: Benang-benang Cinta dan Benci
Sasori vs Alice Margatroid
Kimi no hitomi ni utsuru
Watashi wa nani iro desu ka?
Akafukaki nozomu nara
Watasou hi no hikari wo…
Saat kau memandangku
Warna apakah yang kaupilih untukku?
Bila merah gelap yang kaupilih
Maka akan kuberikan cahaya mentari untukmu…
(Kimi ga Tame, SUARA)
Alice Margatroid menghela nafas panjang. Cahaya lampu magis yang dibawanya dari Gensokyo agak meredup, pertanda harus diisi tenaga lagi. Untungnya, perbaikan dan perawatan pada koleksi boneka miliknya sudah hampir selesai. Tinggal Shanghai dan Hourai, kedua boneka miliknya yang baru ia sempurnakan menjadi boneka seukuran manusia, yang belum selesai ia perbaiki.
Perlahan, selintas desir angin bertiup dari arah belakang Alice, memberitahukan bahwa ada seseorang yang membuka pintu.
"Bisakah anda menunggu sebentar, Tuan?" ujar sang gadis sambil memerintahkan Hourai mengeluarkan segulung kawat dari dalam kotak perkakasnya.
...
Sasori berjalan penuh curiga melalui jalan-jalan Konohagakure yang entah kenapa sangat sepi. Tidak ada suara sama sekali, padahal ia tahu banyak binatang yang tetap aktif di malam hari. Hiruko yang berjalan di belakangnya juga tidak banyak mengeluarkan suara, mungkin karena Sasori baru menyiapkannya habis-habisan untuk hari ini. Sepertinya, seluruh alam bersepakat untuk diam tanpa mengganggu pertarungan yang akan terjadi.
Memasuki belokan yang entah ke berapa, Sasori melihat sebuah rumah dengan cahaya samar keluar dari sela-sela dindingnya. Mungkin ini jebakan, pikir sang Pasir Merah sambil berjalan menghampirinya. Jebakan atau bukan, melihat manusia lain, musuh atau bukan, adalah sesuatu yang agak melegakan untuknya saat ini.
"Bisakah anda menunggu sebentar, Tuan?" ujar seorang gadis yang umurnya kira-kira dua puluh tahun, ketika Sasori membuka pintu rumah itu.
Gadis itu membelakangi Sasori, nampaknya sedang memperbaiki sebuah boneka dengan tinggi sekitar lima kaki. Boneka lain yang seukuran berdiri di samping sang gadis, membawakan beberapa alat-alat pertukangan kecil ketika diminta. Sasori dan Hiruko terdiam beberapa saat, tak yakin apa yang harus dilakukan.
"Kau... pembuat boneka juga? Aku tahu beberapa ninja dari Sunagakure yang bertarung menggunakan boneka..." tanya sang Pasir Merah sambil mencari tempat duduk. Hiruko diperintahkannya untuk keluar dari ruangan.
"Ah, tidak juga..." balas sang gadis sambil membantu boneka yang tadi diperbaikinya berpakaian, "Boneka-boneka ini hanya hobi, namun cukup berguna juga dalam pekerjaan sehari-hari... Hourai, lepaskan bajumu, sekarang giliranmu... Shanghai, bantu aku ya."
Sasori tergoda untuk memeluk sang gadis dari belakang dan menyatakan cintanya, tapi pikirannya menolak wacana itu. Dia anggota Akatsuki yang diutus untuk menghabisi seluruh isi desa ini untuk kelancaran rencana mereka mendirikan markas besar di sini. Tidak kurang, tidak lebih.
"Jadi, sudah berapa lama anda membuat boneka, nona?" tanya Sasori sambil menghela nafas, berusaha menetralkan debar jantungnya yang memuncak.
"Oh, sejak saya bisa mengingatnya, tuan," balas Alice sambil meniup sambungan Hourai yang baru ia perbaiki, "Saya belajar secara otodidak, tapi lama-lama bisa jadi hebat juga. Mungkin ibu saya benar, saya lebih berbakat dalam hal ini daripada sihir yang seharusnya saya pelajari..."
"Maksudmu genjutsu mungkin," timpal Sasori sambil berjalan menghampiri sang gadis, "Wah, buatannya bagus sekali. Seperti hidup saja."
"Saya tidak akan puas sebelum itu, tuan," ujar Alice sambil menoleh ke arah sang Pasir Merah, "Mereka bahkan bisa berdansa layaknya manusia."
"Bertarung, maksudmu," dengan ringan Sasori membalas, "Boneka-bonekaku juga petarung yang cukup handal, Hiruko salah satunya..."
"Tidak, tuan, Shanghai dan Hourai bisa berdansa... dalam arti sebenarnya," balas Alice sambil tersenyum, "OK Hourai, kenakan pakaianmu... Shanghai, ayo kita berdansa!"
Beberapa saat Sasori terdiam memperhatikan sang gadis menari bersama boneka-bonekanya sambil menahan air mata yang tak akan pernah keluar. Oh, Kami... mengapa Kau pertemukan aku dengan gadis sempurna ini pada saat genting seperti ini? Mengapa, Kami? Mengapa kau menaruhnya di sisi putih melawan diriku sang kuda hitam?
"Maafkan aku... nona," gumam Sasori sambil berdiri dan mulai mempersiapkan Hiruko untuk menyerang. "Perintahku adalah membunuh semua orang yang menghalangi kami merebut Konoha."
"Tidak apa-apa... tuan," ujar Alice sambil melepaskan Shanghai lalu menghadapi Sasori, tersenyum sayu. "Saya sudah tahu sejak membaui bau racun yang sangat banyak di boneka tuan..."
"Kau... sudah tahu?" balas Sasori setengah tidak percaya. "Dan kau yang mereka utus untuk menghentikanku?"
"Tentu, tuan," sambut Alice sambil membuka sebuah koper penuh boneka kecil lalu mengambil beberapa boneka dari dalamnya. Shanghai dan Hourai pun mempersenjatai diri dengan katana dan kusari-gama, bak mengerti keinginan tuan mereka. "Mari, kita lanjutkan tarian ini di luar."
"Namaku... Sasori, namun musuh-musuhku memanggilku Akasuna no Sasori. Kau keberatan bila kutanyakan siapa namamu?" pinta Sasori sambil membalikkan badan lalu berjalan ke arah pintu. "Sebelum kita menjadi musuh...?"
"Alice," balas Alice sambil tersenyum. "Alice... Margatroid."
...
Pertempuran itu tidak langsung dimulai begitu Alice melangkah beberapa langkah dari pintu rumah. Sasori terdiam menunggu di tengah jalan lebar yang membelah Konohagakure, Hiruko terdiam di sebelahnya.
"Mari, Tuan Akasuna no Sasori," kata Alice sambil mempersiapkan lima boneka kecil yang melayang di depan dan samping sang gadis. "Silahkan mulai tarian kita."
Sasori segera menyambut ajakan Alice dengan memerintahkan Hiruko untuk menyerang. Hiruko pun langsung merangsek maju dengan memuntahkan jarum-jarum beracun dari tubuh dan telapak tangannya. Alice, Shanghai, dan Hourai dengan cepat mencelos menghindar, sementara tiga dari lima boneka kecil yang dibawanya menyerang Sasori dengan tombak-tombak kecil mereka. Sasori menghadapi mereka dengan tenang, menghindari tusukan-tusukan cepat dari tiga penjuru sambil memotong mereka dengan sebuah pedang pendek yang selalu dibawanya.
"Artful Sacrifice!" seru Alice sambil menunjuk Sasori. Sebuah boneka kecil yang tersisa dari tiga boneka kecil yang tadi menyerang Sasori langsung meledak, tepat ketika pedang Sasori menyentuhnya. Tangan Sasori pun pecah berkeping-keping, dan ditengah kekagetannya beberapa pecahan pedang menancap di wajahnya.
"Bagus..." gumam Sasori sambil menarik kembali potongan-potongan kecil yang tadinya merupakan tangan kanannya, membentuknya kembali. "Keahlianmu dengan boneka... ternyata lebih hebat dari yang kubayangkan. Jelas lebih dari sebatas aspek keindahan belaka."
"Kau... bukan manusia?" seru Alice tak percaya. Hiruko yang terus merangsek maju dengan ekor beracunnya sedang ditahan oleh Hourai dan Shanghai, sementara dua boneka kecilnya yang tersisa berputar-putar di sekeliling Hiruko, mencuri kesempatan menyerang kala ada celah di pertahanan boneka berekor itu.
"Ya... dan tidak," gumam Sasori sambil menggunakan gulungan di punggungnya untuk memanggil senjata simpanannya, sebuah boneka orang tua. Boneka baru itu langsung merangsek maju, memuntahkan pasir hitam yang pekat sambil menyangsong Hiruko. Hourai nyaris saja menjadi sasaran tembak, kalau saja ia terlambat sedetik untuk menghindar.
"Dia tak bisa dihadapi dengan cara biasa..." gerutu Alice sambil mundur diikuti Shanghai dan Hourai. "Artful Sacrifice!"
Dua boneka kecil yang tersisa meledak hebat tepat di depan Hiruko, menghancurkan senjata utamanya. Dengan waktu yang berhasil dibelinya itu, Alice melarikan diri ke dalam pepohonan lebat yang ada di sebuah taman dekat tempat pertempuran dimulai sambil melemparkan bom asap untuk mengecoh Sasori. Sasori, boneka orang tua miliknya, dan Hiruko mengejar masuk, namun mereka dengan cepat kehilangan jejak.
"Ke mana mereka..." desis Sasori setengah menggeram. Asap tebal menghalangi pandangan ke segala arah. Tak ingin terhambat terlalu lama, Sasori pun memencarkan asap itu dengan jurus Fuuton sederhana, namun Alice tetap tak terlihat. Hiruko maju mencari sang gadis, namun ketika kepala Hiruko tiba-tiba lepas dari lehernya, Sasori menyadari mereka masuk perangkap.
"Hiaaaa!" teriak suara Alice yang terdengar dari arah atas Sasori. Serentak, seluruh pohon di sekeliling Sasori rubuh, menggencet hancur Hiruko yang sudah rusak parah. Sasori dan boneka keduanya berhasil menghindar tanpa banyak mengalami kerusakan, namun untuk kali kedua mereka kehilangan jejak Alice.
"Maju, Shanghai! Lindungi dia dengan tembakan, Hourai! Target, boneka kedua!" teriak Alice sambil menunjuk ke arah Sasori.
"YES, MASTER," geram kedua boneka itu serentak dengan suara yang terdengar hanya mirip suara manusia.
"PRESSURE DRIVER, DEPLOY."
"OCHSTANGEWEHR D-TYPE, FIRING MODE SPREAD, SET."
Tembakan segera menghujani posisi Sasori. Ledakan-ledakan kecil merobek-robek boneka orang tua yang ia keluarkan belakangan. Tubuhnya sendiri bahkan tidak luput dari tembakan, walaupun dengan kemampuannya sebagai pengendali boneka cukup membantunya dalam memperbaiki kerusakan. Ditengah kekagetannya, sebuah semburat merah menabrak boneka orang tua miliknya, sebelum beberapa ledakan besar mengoyak udara dan membuat dirinya terpaksa mundur beberapa belas langkah.
Saat debu yang timbul akibat tembakan-tembakan Hourai surut, Sasori mendapati boneka Kazekage miliknya rusak parah dan hampir hancur. Ketika mendongak, iapun mendapatkan gambaran apa yang menyerang boneka Kazekage Ketiga miliknya tadi. Shanghai kini membawa sebuah senjata berujung pasak dengan panjang hampir menyamai tinggi tubuhnya, sedangkan Hourai menyandang tombak besar dengan gagang yang aneh dan lubang di ujungnya. Alice berdiri di belakang keduanya, mendekap sebuah buku di dadanya dengan sebelah tangan. Di atas semua itu, ia melihat ketiganya sedang terbang tanpa bantuan apapun.
"Konoha mempunyai ahli boneka sehebat ini...?" desis Sasori tak percaya. "Kenapa... kenapa aku tak pernah mendengar tentang dirimu, Alice?"
"Konoha bukanlah tempat kelahiran saya," balas Alice sambil melayang turun.
"Lalu... mengapa?" tanya Sasori sambil mengulur waktu untuk mempersiapkan salah satu jurus pamungkasnya, Akai Higi: Hyaku no Souen.
"Karena desa ini akan menjadi tempat tinggal saya... tuan Sasori..." balas Alice sambil memberi aba-aba dengan tangannya. Saat itu juga, boneka-boneka kecil yang tadi tergeletak dalam koper bangkit ke udara, berkumpul di sekitar Alice. "Oleh karena itu... Tasogare... tidak bisa menyerahkannya pada Akatsuki."
"Tasogare... eh?" gumam Sasori sambil tersenyum. "Tasogare... Akatsuki... Ahahahaha, bagaimana nasib mempermainkan kita semua. Baiklah... Kita mulai. Akai Higi, Hyaku no Souen!"
Dengan diaktifkannya tiga gulungan yang tersisa dalam penyimpanan yang dimiliki Sasori, seratus boneka prajurit miliknya bermunculan dari udara kosong. Kebanyakan membawa pedang sebagai senjata, namun ada pula yang membawa tombak dan naginata.
"Shanghai, Hourai, posisi defensif!" balas Alice sambil melepas pita yang menyegel buku yang ia dekap. "Doll Sign, The Dollmaster Who Played A Thousand Hearts!"
Bala tentara yang dibawa kedua pengendali boneka itu pun bertarung dengan kekuatan yang sama-sama luar biasa. Seratus boneka milik Sasori merangsek dengan cepat untuk menghancurkan apapun yang menghalangi mereka, terlindungi oleh formasi falanks yang ketat. Sementara itu, boneka-boneka Alice yang lebih kecil dan gesit menyelip-nyelip cepat di sekitar boneka-boneka prajurit, berusaha melumpuhkan formasi bertahan boneka-boneka milik Sasori dari dalam dan mencederai kecepatan geraknya. Untuk sesaat, terlihat bahwa Seratus Pejuang milik Sasori sedang berada di atas angin. Tidak hanya mereka lebih besar dan tahan pukul, formasi mereka juga memberikan perlindungan yang cukup baik dan tidak gampang ditembus.
"Artful Sacrifice!" seru Alice sambil menunjuk ke arah formasi Seratus Pejuang milik Sasori. Efeknya luar biasa, karena semua boneka milik Alice langsung meledak ketika bertarung, berusaha menghancurkan ke-seratus prajurit milik Sasori. Alice langsung melayang turun, nafasnya memburu tanda kehabisan tenaga.
"Skak mat..." geram Sasori penuh kemenangan, saat debu ledakan menghilang. Setidaknya separuh boneka pejuang miliknya tidak rusak atau hanya mengalami kerusakan ringan.
"Kau kira... begitu?" balas Alice di tengah nafasnya yang tidak teratur. "Lihatlah... sekali lagi."
"Apa?" seru Sasori tidak percaya saat boneka-bonekanya berhenti menuruti perintahnya dan mulai berbalik mengacungkan senjata ke arahnya. "Tak... mungkin..."
"Apakah... ini skak mat-mu... tuan Sasori...?" gumam Alice sambil tersenyum penuh kemenangan. Ia terhuyung-huyung berdiri, sementara Sasori memandang penuh rasa tidak percaya sekaligus takjub. "Kalau begitu... ini skak mat-ku..."
"Aku... aku..." desah Sasori sambil jatuh berlutut.
"Bisakah... kau membalik keadaan ini... tuan Sasori?" Alice bergumam sambil mengumpulkan nafas.
"Biar kupikirkan..." geram Sasori sambil menyeringai marah. Belum ada yang bisa menekannya hingga saat ini. Bahkan jurus pamungkas yang pernah menghabisi beberapa negara miliknya pun sudah ia kerahkan, namun ia belum bisa mengalahkan sang gadis. Chakra cadangannya hanya cukup untuk satu jutsu lagi.
Tiba-tiba Sasori tersentak. Ada cara itu. Tidak menyenangkan memang, namun cukup efektif. Mungkin ia akan kehabisan chakra sejenak, namun bila ia bisa mendapatkan senjata pasak itu...
"Mari!" teriak Sasori sambil merangsek maju, seluruh senjata terhunus, ke arah sisa-sisa Seratus Pejuang yang sekarang berada dalam kendali Alice.
"Semuanya, formasi bertahan total!" perintah Alice dengan panik pada Shanghai, Hourai, dan sisa-sisa Seratus Pejuang untuk membuat formasi defensif di sekitar dirinya. Dengan cerdik, Sasori melempar bom asap ke arah bawah, membuat tabir asap untuk menyamarkan gerakannya. Alice meledakkan sebuah boneka pejuang dengan Artful Sacrifice untuk menyingkirkan asap itu, namun yang tertinggal di tengah pusaran asap itu hanya tubuh Sasori yang kosong bagian dada kirinya. Tenaga Alice yang semakin habis memaksanya berlutut di tanah.
"HMMM, MENARIK SEKALI... BONEKAMU PENUH CHAKRA PETIR, DAN SENJATANYA JUGA BERJALAN DENGAN CHAKRA YANG SAMA, PADAHAL INI BUKAN BONEKA YANG DIBUAT DARI MANUSIA. DESAIN YANG MENGAGUMKAN," gumam suara yang muncul dari dalam Shanghai yang perlahan-lahan mengarahkan Pressure Driver ke arah dahi Alice yang sedang berlutut dan tampak sangat kelelahan. "SELAMAT TINGGAL, ALICE."
"Y-ya..." gumam Alice terbata-bata, namun dengan mantap berdiri. "Kecuali bila aku sedang tidak kehabisan tenaga. Return Inanimateness, Shanghai."
Sontak Pressure Driver yang baru tadi terasa ringan di tangan Sasori/Shanghai berubah sangat berat. Seluruh tenaga yang tadinya mengalir bebas dalam tubuh Sasori/Shanghai bak ditarik keluar entah kemana. Sasori membutuhkan chakra untuk mempertahankan jantungnya agar tetap berdetak, dan habisnya chakra yang tadi mengalir dalam boneka Shanghai itu dengan tiba-tiba nyaris saja membunuhnya seketika.
Tiba-tiba semua menjadi jelas untuk Sasori yang sedang membajak tubuh Shanghai itu. Semua yang telah terjadi hingga saat ini adalah jebakan Alice belaka. Aku memakan umpannya mentah-mentah, pikir Sasori saat Shanghai jatuh tertelungkup ke tanah.
"Aku sudah tahu kalau bagian terakhir yang masih manusia dalam dirimu adalah jantungmu, tuan Sasori. Saya langsung tahu bahwa tubuh anda adalah boneka sejak anda melangkah masuk ke dalam rumah saya, semua dari suara sendi serta kayu dan kayu beradu. Walaupun begitu, tidak ada boneka yang memiliki detak jantung, namun anda punya... saat itulah aku menyadari anda apa," ujar Alice tenang sambil memerintahkan Hourai untuk menodongkan moncong Ochstangewehr ke arah silinder jantung Sasori yang menempel di punggung Shanghai. "Skak mat, tuan Sasori. Ternyata anda juga bukan boneka sempurna yang saya cari."
"OCHSTANGEWEHR, CRACKSHOT. SAYONARA."
...
"Wai, banyak boneka, nyaa~" seru seorang gadis kecil dengan telinga mirip kucing dan dua ekor menyembul dari bagian belakang tubuhnya bahagia sambil melangkah masuk ke bekas medan pertempuran Alice-Sasori yang dipenuhi banyak boneka.
"Kau mau kubuatkan, Chen?" tawar Alice yang sedang duduk bersandar di sebuah pohon, buku sihir yang tadi ia gunakan kembali tersegel dalam dekapannya.
"Mauuu~!" balas Chen senang.
"Akan kubuatkan selesai memperbaiki Shanghai," balas Alice sambil menepuk-nepuk kepala Chen. "Fyuh... ternyata lawan sang Tasogare 06 ini berat juga..."
A/N: Kenapa Matchup 6? No reason :P Dari semua matchup, saya paling seneng yang iniiii XD
