=DISCLAIMER=

Semua trademark dalam fanfic ini dimiliki oleh pemegang copyright masing-masing, kecuali plot dan hasil pemikiran penulis. Fanfic ini dibuat hanya untuk hiburan semata dan tidak dimaksudkan untuk mendapatkan keuntungan material apapun.


Akatsuki no Tasogare

Matchup 2: Tabir Antara Kewarasan dan Kegilaan

Itachi Uchiha vs Reisen Udongein Inaba


Up from the sea, from underground
Down from the sky, they're all around
They will return: mankind will learn
New kinds of fear when they are here

(Carol of The Old Ones, HPLHS)


Itachi Uchiha melangkahkan kaki memasuki gerbang Konohagakure yang tidak dijaga. Malam itu gelap dan dingin, tidak seperti malam-malam Konohagakure dalam ingatannya.

"Hmm, desa ini belum banyak berubah... tapi ke mana penjaga-penjaga itu?" gumam Itachi mengusir kebosanan. "Apakah Ilusi Pein sebegitu kuatnya?"

"Berhenti di situ!" seru seorang gadis berambut lila panjang dengan dua telinga kelinci.

"Apakah kau yang diutus Konoha untuk melawanku?" balas Itachi sambil berhenti melangkah.

"Ya! Aku Reisen Udongein Inaba dari Tasogare, menantangmu bertarung!" seru sang gadis bermata merah sambil berkacak pinggang dan menunjuk ke Itachi.

"Tasogare, eh?" balas Itachi sambil tersenyum, memandang dalam ke mata merah Reisen. "Danzo yang menunjuk kalian?"

"Itu tidak penting! Kau akan mati di sini!" sembur Reisen sambil memasang kuda-kuda.

Itachi tidak banyak berbasa-basi lagi. Ia langsung mengerahkan jurus-jurus Katon untuk membakar gadis berambut lila panjang yang menghalanginya itu. Sayangnya, sang gadis ternyata juga bukan lawan yang enteng. Dengan lincah sang gadis menghindari bola-bola api Itachi. Sekali sentakan kemudian, ia menghancurkan bola api itu dengan sebuah benda besar berbentuk silinder yang muncul dari tangannya. Itachi hanya bisa menebak-nebak kapan sang gadis mengeluarkan jutsu itu.

"Takkan kubiarkan!" seru gadis berambut ungu pupus itu sambil sekali lagi menembakkan peluru peledak miliknya.

Itachi berusaha menghindar, namun nampaknya peluru itu selalu meledak tepat didekatnya. Dengan tenang, Itachi berusaha mengulur waktu agar chakranya dapat pulih, walaupun hal itu membuatnya harus menghadapi peluru-peluru Reisen hanya dengan berbekal gerak refleks.

"Hebat juga kau, Gadis Kelinci. Pasti kau bukan warga Konoha, hmm?" pancing Itachi sambil menjauh selangkah dari sang gadis. Magenkyou Sharingan miliknya perlu sedikit lagi chakra untuk bisa diaktifkan, sedangkan chakranya berkurang karena bola-bola api ninjutsu tadi.

"Kemarin bukan," balas Reisen tenang sambil memandang lurus ke mata Itachi, "Tapi sekarang aku akan membela desa ini sampai titik darah penghabisan bila perlu."

"Mmm, jadi kalian tentara bayaran?" lanjut Itachi yang terus memancing sambil menunggu chakranya cukup untuk melancarkan serangan ilusi menggunakan Magenkyou Sharingan miliknya. "Berapa Danzo membayar kalian?"

"Itu..."

Tiba-tiba seluruh pandangan Reisen menjadi gelap. Tubuhnya bak berselimut api warna hitam, panas membakar hingga ke tulang. Ia langsung menjerit kesakitan dan menggelepar. Itachi tersenyum gelap, puas karena berhasil memerangkap lawannya dalam jeratan Amaterasu.

"Jadi... apakah mimpimu menyenangkan...?"

Itachi terkejut oleh bisikan pelan Reisen di telinganya, namun tubuhnya tak bisa bergerak. Ia telah terperangkap dalam jebakannya sendiri. Kaki dan tangannya dibelit tentakel-tentakel berlendir, membuatnya tidak bisa melakukan jutsu apapun kecuali doujutsu. Doujutsu pun tak akan banyak menolongnya bila ia tidak bisa bertatap muka dengan sang lawan.

"Ka-... Kai! Kai! KAAAAAI!"

"It is not in death which one can eternally lie... and as strange aeons pass by, even death may die..."

Bisikan pelan Reisen itu disambut jeritan Itachi yang merasakan matanya meledak. Tak lama kemudian, tangannya terpelintir ke arah yang aneh hingga putus, disusul kakinya yang berputar dalam gelang panggul hingga lepas.

"Ph'nglui mglw'nafh Cthulhu..."

Berikutnya, perut dan dada Itachi memburai ke luar. Ususnya menari-nari keluar, bak diperintahkan oleh seorang tukang suling. Berikutnya, lidahnya terlepas dan mengembara masuk ke dalam tenggorokan, menyentuh ususnya sendiri dari dalam.

"R'lyeh wgah'nagl fhtagn..."

Ilusi kegilaan itu masih berlangsung. Otak Itachi terasa disetrum dengan petir, memberinya sensasi panas yang tidak terkira. Pembuluh darah yang tersisa di tubuh cerai-berai itu mengalirkan darah dari seluruh tubuh Itachi kembali ke jantung, menggembungkannya seperti balon sebelum meledakkannya dari dalam. Ilusi itu akhirnya ditutup oleh terpuntirnya leher Itachi ke belakang seratus delapan puluh derajat.

"Cthulhu... fhtagn..."

Hal terakhir yang dirasakan Itachi adalah sesuatu yang sedang mengunyah tubuhnya hingga hancur.

"Cthulhu... fhtagn."

Tiba-tiba dunia itu kembali pecah. Kali ini Reisen yang terikat di sebuah salib. Lingkungan di sekitarnya berubah menjadi tandus dan gelap. Sebuah bulan merah menggantung di angkasa, tapi sinar bulan itu tidak membantu banyak dalam menerangi lanskap yang tandus dan terbakar itu.

"Tsukuyomi," gumam Itachi sambil muncul dari balik salib itu. "Selama tujuh puluh dua jam ke depan... kau akan mengalami siksaan terburuk dalam hidupmu..."

Tiba-tiba, Itachi merasa baru terbangun dari tidur yang sangat panjang. Ia mendapati tangan dan kakinya telah mengecil dan terikat kaku oleh lengan-lengan besi yang terikat erat pada sebuah bingkai. Ia bernafas dalam cairan kuning yang rasanya menyerupai darah. Hal terakhir yang dilihat Itachi adalah sebuah lengan raksasa dengan beberapa lingkaran kaca yang menghadapi wajahnya. Salah satu 'mata' itu berdengung sejenak, sebelum lebih banyak capit keluar dari lengan mekanis itu, dan mengebor beberapa lubang di belakang kepalanya.

...

Reisen menghela nafas lega saat membuka mata. Seorang gadis pendek dengan dua telinga kucing berjongkok di sebelahnya, memandang dengan khawatir padanya, lalu pada Itachi yang menggelepar-gelepar di tanah.

"Nee, Reisen-chan, dia kenapa?" tanya sang gadis kecil.

"Dia terperangkap dalam mimpi yang ditimbulkan oleh obat Gyaku Kochoumugan, Chen-san," balas Reisen sambil berdiri. "Sebelum menyerang tadi, ia sudah terperangkap oleh Mata Merah Kegilaan milikku... Sesudah itu, tak sulit untuk memanipulasi gelombang otaknya untuk membuatnya tidur tanpa disadarinya, lalu menyuntikkan Gyaku Kochoumugan langsung ke dalam darahnya untuk membuatnya terperangkap dalam mimpi buruk yang berlapis-lapis."

"Ehehehe, sulit memahaminya," balas Chen sambil tertawa kecil. "Lalu, bagaimana?"

"Tugasku sebagai Tasogare 02 selesai. Sebaiknya kita mengikatnya agar ia tak melukai dirinya sendiri..." ujar Reisen sambil melihat ke sekeliling. "Chen, punya tali?"


A/N: Udah dibilang bakal curbstomp kan :P