=DISCLAIMER=

Semua trademark dalam fanfic ini dimiliki oleh pemegang copyright masing-masing, kecuali plot dan hasil pemikiran penulis. Fanfic ini dibuat hanya untuk hiburan semata dan tidak dimaksudkan untuk mendapatkan keuntungan material apapun.


Akatsuki no Tasogare

Matchup 7: Hidan vs Fujiwara No Mokou

Detik-detik dalam Keabadian


Yume miteru, nani mo mitenai?

Kataru no muda da, jibun no koto wa

Mimpikah yang kulihat? Atau bukan apa-apa?

Kata-kataku hanya akan terbuang percuma, tidak menjadi apa-apa

(Bad Apple!, Alstroemeria Records)


Hidan yang terpisah dari sang partner Kakuzu berjalan dalam jalan utama Konoha yang malam itu begitu sepi. Bahkan suara napasku saja hampir tak terdengar, gumam sang pemuja Jashin itu sambil mengawasi sekeliling. Awas saja kalau mereka semua sudah mengungsi...

Tak jauh didepan, akhirnya Hidan melihat semburat cahaya merah api unggun. Hanya satu yang aneh, seorang gadis bercelana panjang merah tua dan berkemeja putih yang menungguinya. Gadis itu tampak berambut putih perak dengan beberapa hiasan warna merah-putih menghiasi kepalanya.

"Jadi, kau lawanku? Tampaknya menarik," ujar sang gadis sambil tertawa kecil. "Sudah bertahun-tahun aku tidak melawan laki-laki."

"Tenanglah, masih ada cukup waktu untuk mencicipi tubuhmu setelah pertarungan selesai," balas Hidan sambil menyeringai menakutkan. "Aku akan berusaha membuatmu setengah mati saja, agar kau bisa ikut merasakan keagungan Jashin-sama bersamaku."

" Oh ya?" balas sang gadis berambut putih itu sambil bersiul rendah. "Kita lihat seberapa kuat kau bisa bertahan dari... api Suzaku. Fujiwara no Mokou, mairu![1]"

Dengan kata-kata itu, sang gadis menyulut keempat anggota geraknya dengan api, lalu merangsek maju. Nyaris saja segenggam api membakar kepala Hidan, kalau saja ia tidak sempat menghindar. Hal berikutnya yang bisa ia ingat adalah terdesak mundur oleh serangkaian kepalan dan tendangan api yang dilancarkan oleh sang gadis berambut putih-perak itu. Terpaksa Hidan mundur sambil mengayunkan sabit kepala tiga miliknya untuk menciptakan jarak yang lebih sesuai untuk senjatanya yang panjang itu.

"Heh, hebat juga kau! Pasti Jashin-sama senang menerima pengorbanan berupa dirimu..." geram Hidan sambil mencelos menjauh.

"Mari kita coba membunuhku dulu..." balas sang gadis sambil tersenyum menantang.

"Ahihihihi... gadis yang berani melawan dengan sengit! Bagus!" teriak Hidan gembira. "Perlawananmu semakin membuatku bergairah!"

Pertarungan pun dimulai kembali. Kali ini, Hidan yang pegang kendali. Dengan bantuan jarak yang cukup, senjata sabit kepala-tiga miliknya merajai pertarungan. Gadis berambut putih-perak itu terdesak cukup hebat, bahkan sabetan sabit hitam itu beberapa kali membuat kulit pucat sang gadis terluka.

"Hmm, ini cukuplah untuk Jashin-sama," gumam Hidan sambil memperhatikan ujung sabitnya yang terciprat darah sang gadis lalu menjilatnya.

"Bleakh, jadi kau semacam vampire-wannabe, eh..." geram sang gadis sambil membakar kedua tangannya, bersiap menyerang.

"Oh ho... persiapan sudah selesai~" gumam Hidan sambil tersenyum lebar. Sebuah lingkaran dengan simbol-simbol aneh tergambar di bawah kakinya, siap digunakan.

"Uhh... vampire-wannabe magis. Bagus sekali. Semakin menyebalkan," komentar sang gadis sambil mendengus.

"Sekarang rasakanlah kebesaran Jashin-sama! Yeaaaaaargh!" teriak Hidan sambil menusukkan sabit berbilah tiga miliknya itu ke dalam perut sebelah sampingnya. Seketika itu juga, darah segar muncrat dari bagian tubuh yang sama dari sang gadis.

"Nhakh..." desah sang gadis sambil jatuh berlutut, wajahnya tertekuk oleh keheranan. "Ternyata... begitu..."

"Bagus! Bagus! Ahahahahaha!" seru Hidan sambil menusukkan sabit miliknya tepat ke tengah dadanya sendiri. Darah segar kembali muncrat dalam jumlah banyak, baik dari tubuh Hidan maupun tubuh gadis berambut putih perak itu. "Berlututlah di depan kesempurnaan Jashin-sama!"

"Nuhu... hukh..." desah sang gadis saat ia jatuh ke dalam posisi seperti bersujud. Darah mengalir deras dari luka-luka yang dideritanya. Tubuh langsing sang gadis perlahan tumbang ke arah kiri, kedutan-kedutan lemah menandakan nyawa masih bertahan dalam tubuh sang gadis.

"Hei! Kau masih hidup?" teriak sang pemuja Jashin itu sambil menancapkan sebilah kunai ke dalam lehernya, hanya untuk berjaga-jaga. "Yare yare... nampaknya dia sudah terlanjur mati... Padahal aku sudah sengaja menghindari organ-organ vital..."

"Mufufufufu..."

Hidan terkesiap. Ia mengenali suara tawa kecil itu sebagai suara gadis yang baru saja ia bunuh. Dari mana suara itu? Pikirnya. Mana mungkin...

"Satu ke perut, satu ke jantung, satu ke leher? Barbar juga kau. Kaguya biasanya lebih senang menguapkan ususku."

Di tengah keheranan Hidan, ia melihat tubuh sang gadis yang berkedut-kedut itu mulai bergerak kembali. Perlahan tubuh bersimbah darah itu bangkit kembali. Seringai kelam mewarnai wajah sang gadis yang kotor oleh darah bercampur tanah.

"Kau... tak mungkin! Bagaimana seorang manusia... menerima Pengorbanan Suci dan masih bisa hidup?" tanya Hidan keheranan.

"Manusia biasa pasti akan langsung mati," balas sang gadis sambil membakar tangannya untuk dipakai menutup luka yang menganga di tubuhnya. "Sayangnya aku... tidak biasa."

"Aha... ahahaha! Menarik! Kau lebih tahan banting dari yang kukira!" seru Hidan sambil menancapkan senjata sabit ke dada kirinya, tepat di atas jantung. Darah kembali muncrat dari tempat yang sama di tubuh sang gadis, namun kali ini sang gadis hanya tersenyum. "Dengan itu, matilah!"

"Ooh, jadi kau sengaja meleset tadi," komentar sang gadis tenang sambil membakar luka paling akhir miliknya. "Aku sangat tersanjung."

Tengkuk Hidan mendadak dingin. Belum pernah sekalipun ia mendapati lawannya masih berdiri dengan jantung yang hancur oleh efek Pengorbanan Suci miliknya. Ia tidak boleh keluar dari lingkaran sihir yang baru digambarnya, walaupun hanya untuk mempertahankan posisi tawarnya dalam pertarungan itu.

"Sekarang, mari kita lihat, apakah kau anti-api atau tidak," ujar sang gadis sambil menyeringai. "Haen Kurenai, Seirei no Honoo[2]... Yeaaaaaaaarghh!"

Dengan seruan itu, api berwarna putih keperakan langsung melalap tubuh sang gadis dari ujung kaki hingga ujung kepala. Hidan langsung menggelepar tak karuan, tubuhnya serasa dibakar dengan api yang panas membakar sampai ke tulang. Dalam sekian tahun Hidan menjadi ninja, ia belum pernah merasakan api seperti ini. Tentu, ia pernah terkena jurus-jurus Katon, namun api ini...

"Oh ho, ternyata perkiraanku benar," sosok sang gadis yang sedang dibakar api membubung itu berkomentar dengan santai. "Seluruh luka yang kau terima menjadi milikku, dan seluruh luka yang kuterima menjadi milikmu... tetapi bila aku melukai diri sendiri, maka luka itu akan kembali padaku. Duuude, kau harus mengajarkan hal ini padaku."

"Aaaaaargh! Panas! Panaaaas!" teriak Hidan sambil menggelepar. Ironisnya, ia menggelepar dalam lingkaran sihir yang ia siapkan sendiri.

"Seperti di neraka, kan?" goda sang gadis berselimut api itu sambil mendekati sang pemuja Jashin. "Suzaku bilang memang api seperti ini yang digunakan Kami-sama untuk menyiksa para pendosa di neraka... sayangnya Suzaku pun hanya bisa menghadirkan seperseribu panasnya api itu ke dunia... dan yang sekarang ini? Belum ada separuhnya kukeluarkan."

"Aaaaaargh! Jashin-sama! Jashin-samaaaa!" teriak Hidan memanggil junjungannya itu sia-sia. Uap mulai keluar dari pori-pori kulitnya, sementara bau lemak terbakar mulai memenuhi udara. Jelas bahwa apapun yang terjadi pada gadis itu sedang terjadi pula pada Hidan. Sayangnya, Hidan tidak memiliki kekebalan terhadap panas dan api yang dimiliki oleh tubuh sang gadis.

"Ooh... sayang sekali~" desah sang gadis sambil tersenyum dari balik api yang membungkus tubuhnya itu. "Ke mana Jashin-sama sekarang~? Apakah Jashin-sama tak berdaya menolong hambanya dari Fujiwara no Mokou, sang Seirei no Jinchuuriki[3] ini...?"

"Tidak! Tidak! Tolong aku, Jashin-samaaaa!" raung Hidan saat tubuh tersaput api sang gadis menariknya ke dalam sebuah pelukan yang panas. Api yang dari tadi hanya menyakiti Hidan lewat Pengorbanan Suci kini menjilati sekujur tubuh sang pria, membakar kulitnya sedikit demi sedikit dengan panas yang tak tertahankan.

"Mufufu, kau terburu-buru?" bisik sang gadis dari balik api yang melapisi wajahnya. "Kalau begitu, biar kuberikan sebuah ciuman terakhir..."

"Tidak! Tidaaaammmpppghhhh!" teriak Hidan untuk terakhir kalinya sebelum sang gadis memagut bibir sang pemuja Jashin itu. Bersama ciuman itu, api putih-perak yang menyelimuti kedua sosok manusia yang sudah bukan manusia itu pun meruak masuk ke dalam rongga tubuh Hidan, membakar setiap kerat tubuhnya dari dalam. Dalam waktu kurang dari sepuluh menit, Hidan yang tak pernah merasakan mati walau ditusuk seribu kali itu pun terbakar habis menjadi arang.

...

"Mnyaaa? Ke mana Mokou-nee?" gumam seorang gadis berambut coklat dan bertelinga kucing saat menghampiri tempat pertarungan antara sang gadis berambut putih dengan Hidan.

"Huatsyiii! Duh, dinginnnn~~" geram sang gadis bernama Mokou itu sambil bersin-bersin. Ia meringkuk di samping sebuah api unggun kecil, tubuh remajanya tak tertutupi pakaian. "Brrr... ternyata jimat anti-api tingkat empat pun belum bisa menahan Seirei no Honoo... bleh, masa aku harus merebut Jubah Tikus Api itu dari Kaguya..."

"Mokou-nee?" tanya sang gadis bertelinga kucing sambil memiringkan kepala. Ia berdiri di seberang api unggun. "Mokou-nee habis mandi?"

"Brrr... Suzaku membakar habis bajuku lagi, Chen..." balas Mokou sambil menggigil. "Untungnya... lawan Tasogare 01 ini sudah kalah... Huatsyii!"


Glossary:

[1]: Artinya kira-kira "Fujiwara no Mokou, maju menyerang!"

[2]: 'Sayap Api Merah, Api Roh Suci'

[3]: artinya kira-kira 'Jinchuuriki Roh Suci'. Dalam backstory Mokou, dikisahkan ia memiliki kekuatan api phoenix dalam tubuhnya (fanon terbagi dalam hal ini, ada yang bilang dia mengalahkan phoenix tersebut, tapi ada juga yang memandang ia memakan abu phoenix… atau dengan kata lain menyegelnya dalam tubuhnya)… persis seperti Jinchuuriki dalam Narutoverse.


A/N: Yeah, a bit of a gore. Tapi apa ada yang lebih mantap buat scene kematian Hidan daripada dibakar cewek bugil dengan sebuah ciuman? :D