=DISCLAIMER=
Semua trademark dalam fanfic ini dimiliki oleh pemegang copyright masing-masing, kecuali plot dan hasil pemikiran penulis. Fanfic ini dibuat hanya untuk hiburan semata dan tidak dimaksudkan untuk mendapatkan keuntungan material apapun.
Akatsuki no Tasogare
Matchup 8: Kakuzu vs Nue Houjuu
Tersembunyi dalam Pandangan Umum
They've got
a power and a force that you've never seen before
They've got
the ability to morph and to even up the score
No one will ever take them down
The power lies on
their side
(Go Go Power Rangers, Mr. Big [cover by Masaaki Endoh])
"Hmmh... sekarang mana si bodoh Hidan itu... sudah kukatakan jangan maju duluan..." gerutu Kakuzu sambil dengan hati-hati mengamati sekelilingnya.
Desa bernama Konohagakure no Sato itu sangat sepi. Apa sedang ada jam malam? Pikir Kakuzu sambil melangkahkan kaki ke arah sebuah jalan utama. Rasanya tak mungkin rencana invasi ini bocor... rencana Pein rasanya hanya dibicarakan diantara kami bersepuluh... Nyaris mustahil bila ada mata-mata...
"Berhenti di situ, orang asing!" seru seorang gadis muda sambil menunjuk pada Kakuzu. "Kembalilah ke tempatmu berasal, atau hadapi aku!"
"Kembali ke tempatku berasal?" gumam Kakuzu sambil tersenyum kecil. "Nampaknya lebih cepat untuk menghadapimu, gadis kecil! Katon, Dai-endan!"
Di luar dugaan Kakuzu, sang gadis menghindari bola-bola apinya. Dengan gerakan cepat, gadis itu mendekat ke arah Kakuzu dan menyerang dengan sebuah trisula merah. Serangan yang agak mengejutkan itu membuat Kakuzu memilih untuk mundur ke belakang.
"Kau hebat juga, gadis! Sayang tak ada hadiah di atas kepalamu!" balas Kakuzu sambil melepaskan topeng harimau miliknya dari punggung. "Katon, Zukokku!"
Bola api yang dimuntahkan topeng harimau itu mendarat hanya beberapa langkah dari tempat sang gadis berdiri. Segera setelah menghantam tanah, bola api itu menjelma menjadi topan api yang membakar daerah sejauh dua puluh kaki dari tempatnya jatuh. Sang gadis dengan cepat tertelan dalam pusaran api yang membakar.
"Heh, ternyata hanya sejauh itu..." gerutu Kakuzu sambil bersiap meninggalkan tempat pertarugan tak seimbang itu.
Sebuah siulan tinggi diikuti tusukan dari arah atas membuat Kakuzu kaget. Ternyata sang gadis masih hidup setelah menerima mentah-mentah kekuatan jutsu api milik Kakuzu. Dengan sedikit kesulitan, kembali Kakuzu terpaksa mencari jarak untuk melancarkan serangan jarak jauh miliknya.
"Pelepasan tahap pertama segel Houjuu... Nue no Fue[1]..." gumam sang gadis sambil menodongkan trisula miliknya ke arah Kakuzu. "Kau tidak seharusnya meremehkanku hanya karena kepalaku tidak ada harganya!"
"Kau lawan yang menarik, Nona," geram Kakuzu sambil melepaskan topeng kedua dari badannya. "Aku belum pernah mendengar ninja yang menggunakan jutsu bernama Segel Houjuu. Jantungmu akan sangat menarik untuk dipelajari."
"Mau menyegel jantungku? Coba saja!" tantang sang gadis berambut pendek itu sambil merangsek maju. "Houjuu Nue ini tidak akan menyerah tanpa perlawanan!"
Pertarungan kembali dimulai, dengan tusukan-tusukan Nue yang disambut tangkisan dan elakan Kakuzu yang berusaha menjauh dari Nue untuk kembali menyerang dengan bola-bola api andalannya tadi. Dengan kepercayaan diri yang meningkat, Nue terus mendesak dengan tusukan-tusukan trisula, karena ia tahu bahwa Kakuzu akan menghujaninya dengan bola api begitu ia lepas dari jarak aman. Dalam benak gadis itu, lebih baik mencegah Kakuzu menghujaninya dengan bola api daripada harus memboroskan tenaga untuk memanggil dinding udara Siulan Nue untuk menahan serangan. Pertarungan itu berlangsung hingga ratusan pukulan, namun jelas bahwa kekuatan mereka sama kuat.
"Guh... kau benar-benar lawan setara, Bocah!" puji Kakuzu sambil mencelos dari tusukan Nue sambil mundur beberapa langkah. "Aku pernah bertemu buronan mahal yang lebih mudah dihadapi dari dirimu!"
"Pujian seperti itu darimu tidak ada artinya!" balas Nue sengit sambil menancapkan trisulanya ke tanah lalu mengadu dua kepalan tangannya dengan keras. "Segel Houjuu, tahap kedua! Tora no Tsume[2]!"
"Haha! Makan ini! Raiton, Gian!" seru Kakuzu sambil tiba-tiba melepaskan topeng banteng kuning dari punggungnya. Topeng itu langsung memuntahkan selarik besar listrik ke arah Nue, namun Nue segera menyambutnya dengan dinding udara dari Siulan Nue. Kedua ilmu digdaya itu bertabrakan dengan keras, menimbulkan ledakan yang cukup besar untuk melemparkan debu dan pasir hingga memenuhi udara.
Kakuzu terpaksa memalingkan muka dari ledakan itu dan kerikil yang terlempar kemana-mana. Tindakan itu, sayangnya, membuat ia kehilangan pandangan pada Nue. Saat debu menghilang beberapa detik kemudian, Nue tidak lagi ada di tempatnya tadi berdiri.
Untuk beberapa saat, Kakuzu terdiam. Sulit baginya melacak musuh yang sedang bersembunyi dengan telinga yang masih sedikit terganggu oleh kerasnya ledakan hasil tabrakan Raiton: Gian dan dinding udara Siulan Nue.
"Sini sinii... kucing maniiis~," pancing Kakuzu sambil perlahan maju. Ia tidak ingin memboroskan chakra untuk membakar seluruh daerah pertarungan dengan Katon: Zukokku, apalagi bila hasilnya belum tentu efektif. Raiton: Gian pun hanya efektif bila Kakuzu bisa melihat atau setidaknya merasakan di mana letak musuhnya, karena seperti layaknya petir, jurus itu selalu tertarik ke arah penangkal petir dan tanah. Selain semua itu, selalu ada kemungkinan lawan sudah kabur dari pertempuran dan memanggil bala bantuan. Bila itu yang terjadi, Kakuzu merasa bahwa lebih baik ia yang meninggalkan medan pertempuran untuk bertarung lain hari.
Tiba-tiba Kakuzu mendapatkan jawaban hal yang selama beberapa menit ini dicarinya: Nue sudah mengubur tangannya yang kini berbentuk cakar harimau lengkap dengan bulu lorengnya sebatas siku, tepat di bagian dahi topeng burung elang yang masih menempel di punggung Kakuzu.
"Huakh! Kauu..." geram Kakuzu sambil merapal jutsu defensif miliknya. "Doton, Domu no Jutsu!"
"RHAAAAA!" teriak Nue sambil mencabut cakarnya, lalu berusaha merobek benang-benang hitam yang menghubungkan topeng banteng Kakuzu dengan badannya. Sayangnya, Domu no Jutsu yang dirapal Kakuzu terlanjur membuat kulitnya keras seperti batu, membuat serangan Nue yang berikutnya kurang efektif dibandingkan yang sebelumnya. Kakuzu, di lain pihak, merasa cukup kerepotan karena Nue masih bercokol di punggungnya. Ditambah serangan Nue yang semakin cepat dan membabi-buta, Kakuzu berada dalam posisi yang tidak terlalu menguntungkan, walaupun kulitnya nyaris tak tertembus oleh cakar Nue.
Merasa cukup melakukan kerusakan dengan cakarnya, Nue meloncat mundur sambil masih memperhatikan posisi Kakuzu. Kakuzu dengan cepat mengambil jarak agak jauh agar ia bisa menembakkan Katon: Zukokku atau Raiton: Gian dengan lebih efektif. Disamping itu, ia juga membutuhkan waktu agar lukanya dapat diperbaiki dengan cepat dengan bantuan Jiongu.
"Dari semua buruan yang pernah kutangkap dan kupenggal..." geram Kakuzu sambil menahan marah. "Baru sekali ini ada yang bisa melukaiku separah ini... Kau hebat! Aku tak keberatan memburumu tanpa bayaran!"
"Kaumku selalu diburu oleh kalian manusia... dan sekarang kau akan menyegelku lagi?" balas Nue tak kalah sengit. "Apa kau pikir aku akan membiarkanmu berjalan pulang dari sini sendiri? Lupakan saja! Aku akan mencincangmu hidup-hidup!"
"Berani juga!" balas Kakuzu sambil mengeluarkan salah satu jurus simpanan miliknya. Topeng harimau dan banteng miliknya saling bertumpuk, sebelum memuntahkan sebuah larik energi super panas yang meluncur langsung ke arah Nue. Nue dengan yakin mencoba menangkisnya dengan trisula miliknya, namun trisula yang terbuat dari logam warna merah itu putus dengan mudah oleh panas larik energi itu. Nue terpaksa mencelos mundur, meninggalkan posisi Kakuzu.
"Hah! Mati kau sekarang!" desis Kakuzu sambil sekali lagi melempar selarik plasma panas dari susunan topeng miliknya. Kali ini Nue terpaksa mengerahkan Siulan Nue sekali lagi untuk menahannya. Kembali sebuah ledakan besar mengguncang Konohagakure. Hanya saja, hasilnya adalah Nue yang terlempar menghantam sebuah bangunan hingga meretakkan dindingnya. Nue berusaha bangkit, namun darah langsung menghambur keluar dari dalam mulutnya.
"Akhirnya kau menunjukkan tanda-tanda kelemahan," ujar Kakuzu yang sekarang berada di atas angin. "Pertarungan ini semakin mahal untukku..."
"Uhuakh... ter... paksa..." geram Nue sambil memegangi dadanya. Benturan keras itu agaknya membuat paru-parunya bocor. "Segel Houjuu... ta-... hap keti-...ga... Tanuki... no Karada[3]..."
"Hmm, tahap ketiga?" pancing Kakuzu dengan nada ingin tahu. "Membuatku semakin penasaran akan kekuatanmu yang sebenarnya."
"Uuh... hmh, itu lebih baik..." gumam Nue sambil merangsek maju dengan kepalan tergenggam erat. Harapannya adalah masuk ke dalam jangkauan tembakan jurus gabungan Kakuzu dan memaksanya bertarung dengan tangan kosong.
"Kau lambat!" seru Kakuzu sambil kembali merapal Domu no Jutsu karena sudah terlambat untuk melakukan serangan jarak jauh. Kedua petarung kelas tinggi itu kembali beradu pukulan, walau kali ini Kakuzu lebih banyak bertahan dengan kulit keras yang dihasilkan Domu no Jutsu. Sepanjang pengalamannya, belum pernah kulit keras ini tembus oleh serangan lawan.
Itu sampai Kakuzu merasakan tangan kanannya tiba-tiba mati rasa.
"Hebi no Shippo[4]... Segel terakhir sebelum Shinjitsu no Nue[5]..." geram Nue sambil menyeringai tajam. Sebuah kepala ular beserta separuh panjang badannya tampak menempel dengan taring terbenam di tangan kanan Kakuzu. "Kau pasti mati oleh bisa ini... tak ada gunanya melawan lagi..."
Tengkuk Kakuzu seketika itu juga dingin. Selama ini ia dengan mudahnya melupakan satu hal dasar dunia ninja. Ia punya empat jantung, dan ia tak akan mati selama ia masih punya setidaknya satu, atau bisa mempertahankannya dengan Jiongu... dan selama ini belum ada jutsu yang bisa membunuh empat jantung Kakuzu dengan sekali penggunaan. Karena fakta itu jugalah Kakuzu dengan mudah melupakan pembunuh lain dalam dunia ninja setelah jutsu: racun. Racun dapat dengan mudah membunuh otak makhluk hidup, menghilangkan keunggulan empat jantung Kakuzu.
Rasa dingin di tengkuk Kakuzu itu dengan segera hilang, bersama seluruh kontrol atas organ perasa miliknya. Kemenangan Nue sekarang hanya tinggal menunggu waktu.
"Si... al... kauuu..." geram Kakuzu sambil berusaha memobilisasi chakra air untuk mencegah racun Nue menghancurkan jantung-jantungnya yang berharga.
"Sudahlah, tak ada lagi gunanya kau melawan," ujar Nue sambil membuang nafas. Rambut dan cakar serupa harimau yang tadi ada di kedua tangan sang gadis tak tampak lagi. Segel yang tadi ia buka sekarang tak lagi tampak. "Racun itu akan mengacaukan syarafmu. Syarafmu akan mati dalam beberapa menit lagi..."
"AKU! TIDAK! TERIMAAAA!" teriak Kakuzu sambil mengerahkan segenap tenaga dan memobilisasi setiap serat Jiongu yang ia bisa untuk menyerang Nue. Nue melompat mundur keluar jangkauan serangan Kakuzu dengan ringan, puas dengan mengulur waktu hingga sang musuh tewas dengan sendirinya.
"Hmm... menarik. Kau masih bertahan dengan tubuh yang sudah luka parah itu. Apa kau cukup pantas memandang wujud asliku, mungkin?" gumam Nue sambil mengelus kepala ular yang mencuat dari belakang punggungnya.
"MATILAH!" teriak Kakuzu sambil melempar usaha terakhir darinya: selarik plasma panas yang terbuat dari perpaduan petir dan api, dibuat dengan kerat terakhir chakra yang ia miliki. Nue terperanjat.
Sebuah ledakan mengguncang medan perang itu untuk terakhir kalinya. Di belakang sang gadis, sebuah rumah hancur dihantam larik plasma itu. Nue terdiam, sebelum sebuah senyum kecil menghias wajahnya.
"Siapa namamu, manusia?" tanya Nue dengan wujud yang mulai berubah. "Ketahuilah bahwa NuE hOUju InI aKAn mEmBErimU KehORMaTaN SeBAgAi MaNUsiA pErTAmAx YAnG meLIhAt WuJUD AslI dIrIKu seBaGAi... NuE..."
"Heh, n-... namaku... KAKUZU, BINATANG BUS-"
Kata-kata itu terputus oleh sesuatu yang melompat maju dan menerkam kepala Kakuzu.
...
"Howaaa..." gumam Chen sambil memandang ke arah sekeliling. Beberapa rumah hancur akibat pertempuran antara Nue dan Kakuzu. Di satu pojok, Nue tampak sibuk dengan sebuah gumpalan serat berwarna hitam yang tampak alot.
"Ooh, Chen?" Gumam Nue sambil menoleh ke arah Chen.
"Apa itu, Nue-chan?" tanya Chen sambil memiringkan kepala.
"Ini...? Daging... tapi alotnya bukan main..." geram Nue sambil masih menggigit-gigit serat hitam itu.
"Wai! Mungkin kalau kita bakar dengan bumbu soyu[6], rasanya semakin enak!" komentar Chen sambil tersenyum.
"Ah... mungkin?" balas Nue serius. "Untungnya lawanku, Tasogare 9 ini, sudah kalah..."
Glossary:
[1]: Nue no Fue = Siulan Nue. Kata 'Nue' dalam bahasa Jepang bisa berarti 2 hal: pertama, makhluk mitologi Jepang serupa Chimera (Nue dikisahkan berkepala monyet, berkaki harimau, berbadan tanuki, dan berekor ular), dan kedua, sejenis burung kecil yang dikenal dengan nama White's Thrush. Nue (hewan mitologi) dikatakan memiliki suara siulan seperti Nue (burung)... So yeah -_-;;
[2]: Cakar Harimau
[3]: Tubuh Tanuki (Racoon Dog/Cerpelai)
[4]: Ekor Ular
[5]: Nue yang Sebenarnya
[6]: Kecap Jepang
A/N: Chapter by popular demand yang kebetulan sudah selesai :P
