Disclaimer : masih om Masashi.
Genre : Romance/Drama
Rated : M
Pairing : SasuxSaku, Naruxhina, etc
Special thanks for:
Azuka Kanahara, makasih banyak buat masukannya. Sungguh sangat berarti dalam q buat fict kedepannya. Pkoknya klo bisa, q buat yang GaaSaku deh...
beby-chan, menarik yah? Q Sungguh sangat terharu mendengarnya... -digetok-
kakashi memang tinggal bareng mereka, kan ditugasin ngawasi mereka... Dan disini Sakura jadi pelayan. Makasih da ripiu
Saqeechan, iya donk... Makasih da mw ripiu
kasumi Yumaeda, keren? Wah jadi besar kepala nh... Thanks yah... Lemonnya mungkin baru bisa ada di chapter 3... Tetap ripiu yah
D'BlackList-Jijin, dorama Homeless? Th apaan yah? (merasa bego')... Makasih da ripiu
Chihiro Hideyoshi, boleh jg th... Tp liat aja dh chap-chap kedepannya... Mksh da ripiu
Haruchi Nigiyama, salam kenal juga... tungguin chap berikutnya yah.... Tp idenya tetap q catet kok.
Makasih sebesar-besarnya buat yang udah review... Sebagai pemula, q memang masih banyak membutuhkan masukan... Tapi jangan yang pedes yah komentarnya... Thanks
..........let's start..........
100 Million Love - Lemonia
Naruto - Masashi Kishimoto
Chapter 2 : The Day of Sakura
Sakura's POV
Matahari baru nampak muncul di antara belahan gunung. Menyaksikan panorama pagi memang menyenangkan. Tapi ini tidak akan berjalan lama. Aku bekerja disini bukan untuk bersantai.
Kulangkahkan kakiku menuju dapur. Membuat sarapan memang sudah menjadi kebiasaanku, cuma yang membuatnya berbeda kali ini adalah aku harus membuat sarapan untuk tujuh kepala lainnya.
Yah, sejak kedatangan para tuan muda pekerjaan aku disini makin bertambah. Dasar merepotkan. Hei? Kenapa aku jadi mengikuti kata-kata tuan muda Shikamaru yang tukang mengeluh itu.
Mau bagaimana lagi, aku bekerja dan digaji oleh tuan besar Jiraiya pun sudah sangat beruntung. Apalagi sampai diperbolehkan tinggal disini.
'Sakura hentikan lamunanmu' kataku pada diri sendiri. Kubaca kembali kertas yang diberikan Kakashi padaku kemarin.
'Kopi pahit tiga, kopi manis satu, susu coklat dua, dan segelas air putih. Untuk sarapannya, roti saja, tapi ditambah buah tomat. Salam manis, Kakashi.' He? Apa ini? Hanya menambah pekerjaanku saja. Orang mana yang minta buah tomat untuk sarapan. Aneh.
Kubuka kulkas dua pintu yang ada di sampingku. Dan hebat, tak ada satupun buah tomat disana. 'Ah iya...' kurogoh saku celanaku, lalu mengambil BB-Gemini milikku.
Kutekan deretan angka yang ada dikepalaku. Siapa lagi kalau bukan Hinata-chan. Hanya dia yang bisa membantuku.
Setelah beberapa saat menunggu, akhirnya seseorang disana mengangkat teleponnya.
"H-halo?" sahutan dari sana yang suaranya sudah sangat aku kenal.
"Hinata yah? Ini aku Sakura." jawabku
"Iya. A-ada apa Sakura-chan..?" tanya Hinata.
"Begini, apa di toko kalian menjual tomat?"
"emm... T-tunggu sebentar." sesaat suasana menjadi hening diseberang. Sepertinya Hinata sedang mengecek tomatnya. Aku sangat berharap padanya sekarang.
"A-ada kok. Sakura-chan." hah, jawaban yang sangat aku tunggu-tunggu.
"Wah, biar aku yang kesana mengambilnya." Masih ada waktu sebelum para tuan muda dan Kakashi bangun.
"J-jangan Sakura. Biar aku yang antarkan kesana. M-mumpung lagi ga ada kerjaan." jawab Hinata.
"Terserah kamulah... Sekali lagi makasih. Sampai jumpa." jawabku lalu menutup telepon.
Sungguh menyenangkan berteman dengan Hinata. Orangnya baik, dan menyenangkan, kecuali cara bicaranya yang terbata-bata.
Pokoknya sangat menyenangkan punya teman seperti mereka. Mereka? Yah, selain Hinata masih ada Ino, Tenten, Temari, Matsuri, dan Tayuya. Kami membentuk geng, namanya emm... CANDY CANDY.
Beberapa menit kemudian, suara lonceng sepeda terdengar dari arah luar. Menandakan Hinata sudah datang. Cepat? Yah, Rumah Hinata, toko Hyuga, dan rumah ini memang hanya berjarak beberapa meter.
Aku bergegas membukakan pintu untuknya. Kasihan jika dia harus menunggu lebih lama.
Di depan pintu, Hinata berdiri dengan kantong plastik putih tergantung di tangannya. Yang aku tebak berisi tomat-tomat yang aku pesan.Ia mengenakan baju lengan panjang berwarna putih. Dengan bawahan rok selutut berwarna selaras dengan rambutnya.
"Ayo masuk Hinata" ajakku.
...........skip'time..........
Hidangan sarapan telah tersaji di atas meja. Hanya butuh sepuluh menit untukku membuat sarapan mereka, dengan bantuan Hinata tentunya. Beberapa menit lagi jam tujuh, tetapi belum ada yang bangun. Dasar pria-pria pemalas.
Sambil menunggu, aku dan Hinata memilih membersihkan dapur. Dalam buku panduan, aku memang bertugas membangunkan mereka, tetapi aturannya baru berlaku besok.
Hinata memang sering membantuku jika punya waktu senggang. Ia memang tipe ibu rumah tangga yang baik. Pintar dalam urusan ibu rumah tangga.
Setelah beberapa menit membersihkan, terdengar suara gaduh dari arah ruang makan. Yang sudah pasti bersumber dari para pria-pria dirumah ini. Sungguh tidak tenang hidupku sekarang.
"Ayo sarapan dulu Hinata. Sepertinya mereka sudah bangun." kami menghentikan sejenak pekerjaan kami. Lalu berjalan ke arah ruang makan.
Acara berantem paginya sepertinya sudah usai. Disana mereka telah duduk manis, yang sepertinya karena terpaksa. Tebakanku Kakashilah yang menangani semuanya.
Mereka semua masih mengenakan piama dengan wajah berantakan. Shikamaru malah masih tertidur di atas meja.
Ukuran meja makannya memang besar, cukup untuk kami semua. Akupun sudah menyiapkan kursi tambahan untuk Hinata.
Aku langsung duduk di salah satu kursi kosong, seraya mempersilahkan Hinata juga. "Hinata, ayo duduk."
Tunggu dulu, Hinata melamun? Tidak, ia sedang memandangi seseorang. Kuikuti garis pandangnya yang ternyata mengarah pada Naruto.
Ia memandangi Naruto dengan wajah memerah. Apa yang dipikirkannya? Sungguh menarik.
"Hello, bisa kah acara tatap-menatapnya ditunda dulu?" teriak Kiba yang duduk disamping Naruto. Ternyata bukan hanya aku yang menyaksikan.
Naruto dan Hinata berhasil kembali kesadarannya. Hinata menundukkan kepalanya lalu bergegas duduk disampingku. Wajahnya jauh lebih merah sekarang.
Sekarang aku yakin Hinata bakal sering-sering datang kemari.
Sarapan berjalan dalam diam dan santai. Sesekali Kakashi menyela dengan penjelasannya mengenai aturan-aturan main yang baru mulai berlaku esok hari.
Dan sekarang aku tahu siapa pria merepotkan yang menikmati sarapan berupa tomat. Tuan muda Sasuke.
Lihatlah wajah tampan nan menyebalkan miliknya. Tampan? Apa yang kau pikirkan Sakura. Dasar baka.
...........skip time...........
Setelah sarapan, Hinata permisi pulang karena telepon dari ayahnya. Tampaknya ia sedikit enggan meninggalkan rumah ini.
Karena kamar mandi dirumah ini hanya satu, aku yakin sebentar lagi akan ada antrian panjang. Menghindari itu, segera kuambil handuk milikku untuk mendapat giliran pertama. Bagaimanapun, 'ladies first'. Dan sayangnya hanya aku wanita dirumah ini.
Kudorong pintu kamar mandi itu, hingga terbuka. Disana sudah bediri seseorang. Sasuke?
Apa? Sasuke tanpa busana memamerkan kulitnya yang putih bersih. Dengan rambut terkulai lemas karena guyuran air dari shower. Dan suatu benda menggantung diantara kedua pahanya.
"AAaaaaaaa! Sasuke mesum...." teriakku sambil menutup mata.
"Bukannya kau yang mesum..? Dasar baka." dalihnya.
"Kau sengaja tidak mengunci pintumu kan?" balasku. Kubuka mataku kembali, dan sesuai dugaanku Sasuke sudah mengenakan handuk.
"Lalu kenapa? Kau senangkan bisa melihatku telanjang?" Sasuke mendekatkan diri padaku. Senyuman mesum terlihat diwajahnya. Dasar sialan.
Makin dekat, makin dekat, makin dekat. Dan akhirnya kukepalkan tanganku, lalu kulayangkan kearahnya.
Bagaimanapun kekuatan pria memang lebih besar. Ia menangkis seranganku dengan satu tangan. Lalu mendekatkan wajahnya padaku.
Takut, malu, kesal, itulah yang aku rasakan sekarang. Sekarang tubuhnya menawanku di dinding. Wajahnya sekarang hanya berjarak beberapa senti dariku.
"Lain kali, ketuk pintu dulu. Wanita jalang." Wajahnya sama sekali tak ada ekspresi saat mengatakan itu. Dan apa-apaan lidahnya itu, dasar pria tak berperasaan.
Ia melepaskan cengkramannya pada tanganku, kemudian berjalan keluar dari kamar mandi.
Perkataannya barusan padaku sungguh tidak bisa diterima. Beraninya memeperlakukanku serendah itu. Sialan.
Untung saja ia tampan. Tapi sayang, bisa kupastikan sifatnya tak begitu bagus.
.............skip time...........
Aku memutuskan bersantai seharian ini. Menyebalkan bila harus melayani mereka, apalagi orang seperti Sasuke. Lagipula tugasku baru akan dimulai besok.
Kebetulan juga Candy-candy ada acara ngumpul-ngumpul hari ini. Setidaknya bisa mengurangi kekesalanku.
Kukenakan kaos putih dengan gambar tokoh manga favoritku. Dengan perpaduan celana pendek sporty sebagai bawahan.
Hari ini kami janjian di taman bunga milik keluarga Yamanaka yang tak jauh dari peternakan. Taman milik keluarga Ino memang indah dan nyaman.
Aku berjalan menuju tempat yang sudah ditentukan. Membutuhkan 15 menit dengan berjalan kaki. Sebelum itu, mungkin kalian harus mengenal profil teman-temanku dulu. Dimulai dari....
Hinata, anak dari keluarga Hyuga. Anaknya manis, dengan rambut indigo dan mata lavender. Ayahnya memiliki toko dikawasan ini. Belakangan aku baru sadar kalau nama belakangnya sama dengan tuan muda Neji. Apa saudara jauh ya?
Ino, anaknya centil dengan rambut pirang panjang dan iris mata berwarna biru. Bisa dibilang dia ini sainganku. Entahlah, kami selalu bersaing dalam hal apapun. Ia anak dari pemilik taman dan toko bunga Yamanaka
Tenten, gadis berambut hitam bermodel cepol dua. Ia memiliki mata indah kecoklatan. Anaknya sedikit kekanakan dan yang paling jahil diantara kami.
Temari, gadis ini sedikit special. Orangnya tomboy dan paling dewasa. Bisa dibilang, ia ini kakak kami. Menasehati dan melindungi kami. Orangnya tinggi, cantik, berambut pirang, dan memiliki mata seindah langit.
Tayuya, kalau yang ini sih paling nakal. Ia dan Tenten udah bersekutu. Jahil sangat. Sejak bergabung dengan kami, Candy-candy jadi geng yang disegani di pergaulan anak-anak sebaya kami.
Matsuri, teman kami yang paling muda. Ia anak yang pemberani. Anaknya manis dan penurut. Disuruh ini itu tetap aja nurut. Kasihan.
Akhirnya aku tiba di taman. Taman itu dibatasi pengunjungnya. Hanya orang dengan izin saja. Tapi karena Ino kami bisa masuk seenaknya, tetapi dengan syarat tak boleh mengganggu ketentraman tanaman-tanaman mereka.
Aku berjalan mengitari taman itu. Taman itu lumayan luas. Menengok kesana kemari mencari sosok mereka.
Disana mereka rupanya. Ternyata malah aku yang datang terlambat. Mereka semua sudah berkumpul semua. Mereka duduk di bawah pohon.
Aku berlari-lari kecil menuju mereka. Sepertinya dari kejauhan mereka sudah dapat melihatku. Jarak kami sekitar 25 meter.
-tap...tap...tap-
Ternyata lumayan lelah juga berlari hingga kemari. Nafasku jadi sedikit memburu.
"Sakura, tumben telat..." kata Temari. Aku memilih duduk disamping Hinata. Temari, Ino, dan Tenten duduk di hadapan kami bersandar pada batang pohon. Sedangkan Matsuri duduk disamping Tayuya yang sedang membaca buku.
"Ah, ini karena pria-pria menyebalkan yang ada dirumah. Menambah pekerjaanku saja" jawabku.
"Bukannya menyenangkan dikelilingi pria-pria tampan seperti mereka?" tanya Ino kecentilan. Kalau Ino sih memang hobi hal-hal beginian. Dasar.
"Tampan sih tampan... Tapi kalau jadi budak, tetap aja menyebalkan." bantahku.
"Baru juga sehari. Masih ada 364 hari lagi." kata Tayuya di sela-sela membacanya. Dasar sial. Perkataannya itu sama sekali tak membantu.
"K-kalau ada waktu luang, nanti Hinata bantuin." kata Hinata.
"Matsuri juga mau kok bantuin kak Sakura." tambah Matsuri.
"Makasih banyak. Kalian memang teman yang baik. Kalau mau bantu langsung ke rumah aja." ucapku.
"Apa kau naksir salah seorang diantara mereka?" tanya Tenten tak kalah centil.
"Naksir? Tak ada satupun... Apalagi pria bernama Sasuke. Amit-amit" kesan awalku padanya memang sudah buruk.
"Segitu bencinya kamu sama dia?" tanya Temari.
"Benci bisa jadi cinta lho..." goda Ino padaku. Mustahil aku bisa jatuh cinta pada pria semacamnya.
"Benar thu, benci dan cinta cuma beda tipis." tambah Tenten. Bikin aku makin kesal saja.
"Mana mau aku sama pria berlidah tajam sepertinya. Tega-teganya menyebutku wanita jalang." tanpa sadar tanganku sudah mengepal kuat karena mengingat kejadian tadi.
"Beraninya menghinamu seperti itu. Ceritakan kejadiannya." kata Temari dengan nada marah terselip di dalamnya. Sepertinya sifat seorang kakaknya sedang beraksi.
Aku bercerita detail-detail kejadian tadi pagi. Tidak mengurangi dan melebih-lebihkan. Err.. Baiklah, sedikit melebihkan lebih tepattnya.
Sementara mereka mendengarkan ceritaku dengan seksama. Tak ada yang menyela hingga cerita usai. Tayuya yang asyik membaca pun berhenti sejenak dan ikut mendengarkan.
Mereka mendengar seolah ikut terlibat dalam cerita. Dan sepertinya mereka mengerti kekesalanku sekarang.
"Keterlaluan sekali pria itu." tegas Temari. Biasanya jika Temari angkat bicara, maka yang lain pasti sependapat. Ia sudah seperti pemimpin kami.
"Dasar sombong... Belum juga jadi kaya." komentar Ino
"Benar. Sama sekali tak menghargai perempuan." kata Tayuya.
"Kita kerjain saja majikan-majikan kamu itu." usul Tenten. Sepertinya bukan ide buruk. Biar mereka dapat pelajaran. Apalagi si brengsek Sasuke.
"Apa semua setuju...?" tanya Temari bak sedang kampanye.
"SETUJUU...!" Teriak kami kompak, plus anggukan Hinata.
"Baiklah, mulai sekarang misi kita adalah membalaskan dendam Sakura...."
to be cont....
Punya komentar, saran, atau kritik? Review please?
Buat para readers, mungkin lemonnya baru bisa ada di chap3 atau chap4... Jd mohon sabar yh!
Orange mw nanya nh, arti seme-uke itu apa yah? Maklum masih baru.... Balasnya lewat ripiu yh...!
Review
review
review.......!
