Disclaimer : Masashi Kishimoto

Rated : M

Genre : Romance/Drama

Pairing : SasuxSaku, NaruxHina, etc

Special Thanks for :

Akina Takahashi, makasih infonya... Nh krna q mw bwat sho-ai mknya cr info... Umurq... Err.... ada deh

Saqeechan, nh uda update... Thx da mw ripiu

lady e. marionette, nh udah update... iya, sasuxsaku pairing utamanya

Li Qiu Lollipop, ambil idenya memang dari sana... Karena ga pernah nonton th film mpe hbis, makanya ku buat fictnya

Kira Desuke, lemonnya ada di bawah.. Selamat menikmati

Shinrei Azuranica, ga papa kok... Yang penting da mw ripiu, tx... lo mw tw tungguin chap-chap kedepan aja.

miss hakuba, tungguin aja chap-chap slnjutnya... yang rajin yah ripiunya

Intan SasuSaku, sarannya diterima... Thq yah.. Ntar dipanjangin lagi deh... Tetap ripiu yah... q masih butuh banyak saran...

minamicchi, makasih infonya... Menarik? Wah terharu... stay ripiu yaw

beby-chan, untung ga ada setan yang hasut... Hahahah... Thx info n ripiunya

........o0o LET'SSTART o0o.........

Chapter 3 : Naruto's Day

Naruto's POV

Ramen, Ramen, Ramen. Memang paling enak jika sehabis kerja langsung disuguhi ramen. Bekerja disini tidak sesulit yang kubayangkan.

Di hari pertama kami bekerja, semuanya berjalan dengan lancar. Pagi tadi, kami hanya diajarkan bagaimana memerah susu sapi. Tarik ulur, tarik ulur. Akupun masih ingat bagaimana salah seorang karyawan bernama Chouji mengajarkannya pada kami.

Meja makan tak terisi semua siang ini. Kiba, Shikamaru, dan Gaara membawa makan siangnya ke tempat kerja. Sakura-pun hilang entah kemana setelah menyiapkan makan siang untuk kami. Tersisa Sasuke, Neji, dan Kakashi yang makan bersamaku.

Makan bersama mereka sama saja dengan makan dengan mayat hidup. Tak ada yang mau membuka pembicaraan. Tak ada pula yang asik diajak berantem seperti Kiba.

"Setelah ini, apa masih ada yang bisa kukerjakan?" tanyaku mengawali pembicaraan dengan mereka.

Entah mengapa, lebih terasa menyenangkan bekerja disini dibandingkan kerjaanku dulu. Menjadi manager di salah satu perusahaan Opa. Dengan duduk seharian menatap monitor dan menandatangani kertas-kertas yang tak habis-habis.

"Pipa saluran air yang mengalir ke perternakan sepertinya bocor. Kau dan Sasuke, bisa mengeceknya!" kata Kakashi. Sasuke menatapku tajam. Sepertinya ia keberatan. Dasar pemalas.

"Biar Naruto sendiri saja yang mengeceknya." kata Sasuke. Aku sudah tebak ia akan menolak.

"Bilang saja kau malas." kataku. Aku sedikit kesal dengan sifatnya itu.

"Kau cari perkara denganku?" tanya Sasuke. Wajahnya tampak kesal. Ternyata wajahnya itu punya ekspresi juga.

"Memangnya kau mau apa?" tanyaku tak kalah kesal. Baru pertama kali aku menemukan orang semenyebalkan dia.

"Sudah, hentikan. Kalian tahu aturan no. 38 kan?" ucap Kakashi mengingatkan. Jangankan mengingat, membacanya pun aku belum. Orang bodoh mana yang mau menghafalkan buku setebal itu.

"Dilarang membuat keributan dan mengganggu ketentraman di rumah." kata Neji tiba-tiba. Ternyata ada juga yang mau menghafalkan buku itu. Ckckckckck

"Sudahlah, biar aku sendiri saja yang mengeceknya." kataku.

............oOo skip (^^) time oOo...........

Aku berjalan memasuki daerah pepohonan. Hanya ada pipa saluran dan jalan setapak yang terus kuikuti seperti petunjuk Kakashi. Di tanganku sudah tersedia kunci Inggris yang siap kugunakan jika perlu.

Pipa itu mengarah kesungai. Nah, sepertinya disana letak bocornya. Karena dipinggir sungai nampak membentuk pancuran air.

Aku berlari kecil menuju tempat itu. Airnya memancar keluar dengan deras. Menurut pandanganku, sambungan pipanya hanya longgar dan hanya perlu dikencangkan kembali.

Dengan keadaan pipanya, aku yakin tidak akan menyelesaikan perbaikannya dengan keadaan kering. Jadi kuputuskan melepas pakaian yang kukenakan. Lagipula siapa yang akan mengintip?

Kulepas jaket hitam dan celana orange yang kekenakan, lalu meletakkannya diatas batu besar yang ada dipinggir sungai. Aku hanya mengenakan celana pendek.

Kemudian mengambil peralatan yang sudah kusiapkan dan menuju TKP. Dalam jarak sekitar dua meter, air itu sudah berhasil membasahi separuh bagian tubuhku.

Mengencangkan pipanya hanya membutuhkan waktu dan tenaga yang sedikit. Cukup merapatkan pipanya kemudian memutar baut-baut yang longgar.

"Selesai." Hanya menghabiskan beberapa menit. Sekarang celana yang kukenakan malah ikut basah karena air tadi.

Aku berjalan kearah batu besar tempat pakaianku berada. Tapi anehnya, kemana pakaian yang kuletakkan tadi?

Bagaimana mungkin pakaian bisa berjalan. Apa dibawa hewan buas? Atau dicuri hantu? 'Hentikan pikiran-pikiran anehmu Naruto' kataku dalam hati.

Mana mungkin aku kembali ke peternakan dengan mengenakan celana pendek saja? Aku bingung.

Aku mengacak-acak rambutku sendiri. Memikirkan ini membuat kepalaku pusing. Sekarang apa yang harus aku lakukan?

"Nar-naruto... " aku berbalik ke arah sumber suara. Wanita yang semalam membuatku tak bisa tidur.

"Hinata... Apa yang kau lakukan disini?" tanyaku. Sebenarnya aku agak risih dia melihatku setengah telanjang.

"Seper-sepertinya, err-Naruto butuh bantuan.." katanya. Ia tak mau menatapku. Ia hanya menunduk dan memainkan kedua jarinya. Plus wajah yang memerah.

"Iya, pakaianku hilang begitu saja ketika memperbaiki pipa." jelasku padanya.

Hinata membuka jaket putih yang dikenakannya. Menyisakan tanktop hitam sebagai dalaman.

"Kau...kau g-gunakan saja ini." katanya. Aku kehilangan konsentrasi sekarang. Tanktopnya terlihat terlalu sesak untuk ukuran buah dadanya itu.

Darahku terasa bergetar. Belum pernah aku melihat buah dada wanita secara langsung, kecuali melihatnya dari blue film yang dipinjamkan Sora padaku.

Hinata melihat kearah selangkanganku. Yang aku yakin sedang menggeliat kesana-kemari. Hinata tampak malu-malu.

Aku raih jaket Hinata lalu menggantungkannya pada batang pohon. Kupegangi tangannya kemudian menariknya kedalam sebuah pelukan.

Begitu eratnya pelukanku hingga buah dadanya menyentuh tubuhku. Kupandangi wajahnya yang sedikit lebih rendah dariku. Wajah itu sudah semerah buah cherry. Sama dengan bibirnya.

Kujamah bibir itu dengan bibirku. Rasanya begitu hangat dan lembut. Sepertinya Hinata juga menikmatinya.

Kugigit lembut bibir Hinata, disertai jilatan-jilatan maut yang terus kulakukan. Hinata mengerti dengan tindakanku barusan. Ia membuka belahan bibirnya, memberiku tiket perjalanan menjelajah mulutnya.

Lidahku kini memulai perjalanannya. Menjilati setiap senti daerah yang bisa kuraih. Berperang lidah melawan tuan rumah. Ciuman yang begitu erotis.

Sementara tanganku mulai menjalankan aksinya. Masuk kedalam tanktop yang dikenakannya. Lalu meraba kulit mulus yang ada dibaliknya.

Kebutuhan oksigen sungguh menjadi kendala dalam menyerang bibir Hinata. Tarik napas kemudian kulanjutkan serangan bibirku. Namun kali ini turun menuju leher putih Hinata.

Memberikan kecupan-kecupan mesra, dan meninggalkan bekas-bekas kemerahan disana. Jilatan dan gigitan kecil yang membuat Hinata memperdengarkan desahan pertamanya. Wajahnya yang merah sungguh membuatku gemas.

Sementara bibirku bekerja, kedua tanganku berusaha melepas celana Hinata. Hingga akhirnya jatuh menyentuh tanah.

Sekarang Hinata hanya mengenakan tanktop hitam dan celana dalam dengan warna serupa. Sangat kontras dengan kulitnya yang putih. Celana dalamnya terlihat lembab.

Tanganku terus menelanjangi Hinata dengan tangkas. Kini tanktopnya juga terlepas dari tubuhnya. Memberi jalan baru untuk serangan bibirku.

Sekarang buah dada Hinata menggantung bebas dengan indahnya. Bibirku perlahan turun menuju dada hingga akhirnya mengecup buah dada itu. Begitu banyak jilatan yang kuberikan padanya.

"Ahhh... Naruttooo." Gigitan kecilku pada putingnya sukses membuatnya memperdengarkan suara indah itu. Begitu mengggoda.

Begitu menyenangkan dapat melumat puting Hinata yang sebesar err- kelereng? Dengan tangan yang meremas-remas buah dada lainnya. Remasan tanganku tak bisa melebihi ukuran buah dadanya.

Hinata sangat menikmati permainanku. Ia menyandarkan tubuhnya ke batu besar tadi.

Puas dengan meremas, tanganku perlahan turun ke wilayah yang lebih sensitif miliknya. Menerobos celana dalam yang masih dikenakannya.

Tanpa ragu, kutarik celana dalam itu hingga rober dan terlepas. Sehingga tanganku bisa lebih leluasa bermain. Aku raba daerah pribadi Hinata yang ditumbuhi rambut-rambut halus.

Basah. Menurut yang kubaca di buku, itu semacam cairan pelumas milik wanita. Ternyata tak sia-sia aku meminjam buku milik opa Jiraiya.

Mulutku kini perlahan turun menuju daerah sensitif Hinata. Tanpa mengacuhkan buah dadanya, karena tanganku kiriku terus meremasnya. Membuat Hinata tak henti-hentinya mendesah.

Kuhirup dalam-dalam aroma khas kewanitaan Hinata. Kemudian kucium dan kujilat. Hinata menggeliat merasakan sensasi yang kuberikan.

"Nnah..ruttohh." suaranya bagai sihir pembangkit semangat buatku. Rasanya begitu menggoda. Membuat 'barang'ku makin tegang saja.

Blowjob yang kulakukan padanya sungguh nikmat bagiku. Tak kubiarkan tangan kananku menganggur. Kumasukkan jariku kedalam lubang kenikmatannya.

Dan betapa terkejutnya dan senangnya aku ketika aku rasakan selaput yang menghalangi jalan masuk jariku. Ternyata Hinata masih perawan.

Kuputar setengah jariku yang berada didalam lubangnya. Sambil terus meremas buah dadanya dengan tangan kiriku dan menyerang kewanitaannya dengan mulut dan lidah.

Hinata terus mendesah keras. Kurasakan tubuhnya lebih menegang. Hingga akhirnya cairan bening kental keluar dari kewanitaannya dan membanjiri wajahku.

Ia telah mencapai klimaks. Wajahnya tampak sangat lelah. Sementara aku belum mendapatkan apa-apa.

Aku tak mau memaksa Hinata. Aku tak mau melakukannya tanpa persetujuan aku tak mau terburu-buru.

Aku lepaskan celana pendek dan celana dalam yang aku kenakan. Dengan terpaksa, kupuaskan diriku sendiri dengan mengocok kejantananku. Sambil membayangkan adegan yang terjadi barusan.

Kasihan Hinata yang sudah kelelahan. Ini masih pengalaman baru bagi kami berdua.

Kocokan tanganku terhenti. Tangan Hinata menggantikan posisi tanganku. Dalam keadaan lelah, Hinata mengocok kejantananku.

Ia melakukannya dengan ritme teratur. Dan kadang dengan remasan yang erat.

Sepuluh menit mengocok, ritme gerakan tangan Hinata makin cepat. Memberiku kenikmatan yang hebat. Hingga akhirnya darahku terasa bergetar.

Dan rasanya seperti ingin buang air kecil. Dan akhirnya cairan kenikmatan milikku tumpah dan menyembur jatuh menyentuh tanah dan sebagian menodai tangan Hinata.

Seketika seluruh tubuhku dilanda rasa bersandar disamping Hinata. Kami berdua baru saja mendapat pengalaman baru.

Pengalaman yang tentu saja akan menjadi awal hubungan kita.

...............oOo skip (==) time oOo.............

Seusai membersihkan diri di sungai, kami berdua kembali mengenakan pakaian. Minus celana dalam Hinata yang rusak dan kini sudah dibawa aliran sungai. Aku mengenakan jaket Hinata.

Setelah itu, aku menggendongnya dipunggungku menuju rumahnya. Ia masih lelah bahkan untuk berjalan.

Ia memintaku mengantarkannya hanya sampai lorong depan rumahnya. Bagaimana pun aku belum siap diwawancarai ayahnya.

...........sementara itu.............

Normal POV

"Berhasil..." kata Sakura sambil bersandar pada batang pohon.

"Ternyata sangat mudah menjahili Err-siapa namanya?" tanya Ino pada teman-temannya. Candycandy sedang berkumpul, seperti biasanya.

"Naruto..." jawab Tayuya.

"Benar, Naruto itu orangnya bodoh. Masa ga sadar waktu bajunya aku curi." komentar Tenten. Mengerjai Naruto adalah idenya.

Mereka semua tertawa bersama. Menertawakan objek kejahilan mereka hari ini.

"Apa ada yang melihat kak Hinata?" tanya Matsuri yang langsung membuat semuanya berhenti tertawa seraya nengok kanan kiri.

"Iya, sejak tadi tidak kelihatan. Padahal dia ikutkan dalam misi kita kali ini." jelas Temari.

"HINATA HILANG....?"

.........oOo to be continue oOo.........

Wah rebes juga... n langsung di apdet malah..

Ada yang kurang yah? Kurang hot? Atau kebanyakan mungkin? Let's ripiu...!

No flame