Disclaimer : Masashi Kishimoto

Rated : M

Genre : Romance/Drama

Pairing : Sasuxsaku Naruxhina

Special thanks for :

Saqeechan, makasih sarannya... Saking ngejar waktu sampe ga di perhatikan...

Li Qiu Lollipop, cuma nonton sampe 5 episode aja.. Emang akhir ceritanya gmana?

Intan SasuSaku, thx.. Baru kepikiran yang naruhina... Ntar sasusakunya lagi diproses.

miss hakuba, tnang aja... Kubuat se-hot mungkin deh... *digetok

eLONE 1128, dari awal emang ambil konsep dari sna koq...

beby-chan, lagi dalam proses... Stay ripiu yah

Azuka Kanahara, tinggal baca chap slanjtnya aja... Nanti kejawab satu-satu. Sora itu murid di kuil api itu lho... emang ga ada di cm di anime doang

Imura Ridan Chara, pasti ada lah.. Tungguin aja di next chap

ichirukiluna gituloh, lam knal.. Kurang hot yah? Ntar nambah dosis deh

minamicchi, dalam proses... Stay read n review aja

.

oOo let's start oOo

.

Chapter 4 : Sasuke's Day

Sasuke POV

Matahari terlalu bersinar terik siang ini. Membuat kulitku serasa terbakar saja. Ditambah lagi bau kotoran sapi yang membuatku mual. Hari yang menyebalkan.

Pekerjaan ini sungguh tak cocok denganku. Harusnya aku tetap dengan pekerjaanku dulu. Ngeband bersama Suigetsu, Karin, dan Jugo.

Kakashi baru saja memberikan pekerjaan padaku. Membersihkan kandang Sapi bersama Shikamaru.

Pekerjaan ini akan berlangsung lama menurutku. Bayangkan saja jika kami mengerjakannya dengan malas-malasan. Apalagi Shikamaru.

Kami membersihkan kandang dengan menggunakan sikat dan kawan-kawan. Kotoran ternaknya kami kumpulkan untuk dijadikan pupuk. Setidaknya begitulah perintah Kakashi.

Aku mendapat tugas mengangkut kotoran sapi dan meletakkannya pada wadah yang telah disediakan. Sedangkan Shikamaru yang membersihkan sisanya.

Seluruh kotoran sapi itu, akhirnya selesai kupindahkan juga. Dan wadah itu sudah mencapai kapasitas maksimalnya. Itu artinya penderitaanku akan segera berakhir. Tinggal membawa wadahnya ke tempat penyimpanan saja.

"Sudah selesai? Bisa bantu aku menyelesaikan bagianku?" tanya Shikamaru saat aku hendak pergi.

"Kerjakan saja sendiri." kataku lalu beranjak pergi sambil mendorong gerobak berisi kotoran-kotoran itu.

Aku menuntun gerobak menuju tempat penyimpanan. Tempatnya tak begitu jauh, hanya tinggal melewati kandang kuda dan gudang.

Selama berjalan kesana, aku seperti merasa seseorang membuntutiku. Bagaimanapun itu hanya perasaanku, jadi aku hanya menoleh sebentar dan sama sekali tak menghentikan langkahku.

Dari kejauhan, aku bisa melihat Naruto bersama Gaara sedang memandikan salah seekor kuda. Dan aku sedikit heran mengapa Naruto begitu senang melakukan pekerjaan menjengkelkan ini.

Akhirnya aku tiba di depan 'rumah pupuk'. Dari luarnya sudah tercium bau campuran macam-macam kotoran ternak.

Aku sedikit kesulitan membuka pintunya, karena engselnya yang berkarat. Kemudian aku dorong gerobaknya hingga masuk kedalam.

Didalam ruangan, sebagian pupuknya sudah terbungkus rapi didalam karung dan siap di jual. Sementara sebagian lainnya masih dalam wadah.

Kali ini, aku mendengar suara langkah seseorang dari arah luar gudang. Sepertinya benar ada yang membuntutiku.

Aku melangkah cepat keluar dari ruangan. Karena tampaknya ada yang berusaha menutup pintunya dari luar.

Dan sesaat sebelum pintu tertutup, aku berhasil menahannya dengan tanganku. Lalu kukerahkan seluruh tenagaku mendorong pintu itu agar terbuka, karena ada tenaga lain yang berusaha menutup pintu.

Sepertinya kekuatanku lebih besar. Pintu itu berhasil aku buka. Dan terdengar suara berdebam dari luar.

Segera aku keluar dari rumah pupuk. Kemudian yang aku lihat adalah orang yang berusaha menjebakku sedang terduduk di tanah. Sepertinya terjatuh akibat doronganku.

Seseorang yang sudah tidak asing lagi. Gadis dengan rambut merah muda mencolok. Sakura.

"Apa tujuanmu menjebakku disana?" tanyaku dengan nada datar.

"Aku..." Sakura tertunduk malu. Pasti karena ketahuan olehku.

"Dasar wanita sial." kataku dingin.

"Kau yang sial. Apa tak bisa sedikit saja kau menghargai orang?" Sakura mendongak keatas dan berteriak padaku. Ia masih terduduk ditanah.

"Salahmu sendiri yang menggangguku. Aku tahu kau bermaksud menjahiliku." kataku.

Ia menundukkan kepalanya, tak mau menatap mataku.

"Apa orangtuamu seorang penjahat? Sehingga mengajarimu menjadi penjahat juga..?" bentakku padanya.

Sakura masih duduk tak beranjak dari tempatnya. Bahunya terlihat bergetar. Apa dia menangis?

Ia mulai berdiri dari tempatnya dengan bahu yang masih bergetar. Cairan asin bernama air mata mengalir turun di wajahnya. Sepertinya ia benar menangis.

Dia mengangkat tangannya lalu menampar pipiku. Ia benar-benar marah sekarang.

"Kau tak berhak berkata begitu. Kau sama sekali tak mengenal aku maupun keluargaku. Hiks.." Sakura berlari meninggalkan aku yang masih memegangi bekas tamparannya.

Sepertinya kata-kataku barusan menyinggung perasaannya. Tapi kata-kataku yang mana? Apa yang mengenai orangtuanya?

Kenapa dia harus tersinggung jika orang tuanya bukan seorang penjahat? Atau mungkin orangtuanya penjahat?

Yang aku tahu Sakura sudah lama tinggal di rumah opa. Bukan bersama orang tuanya.

Aku harus cari tahu. Akan aku tanyakan ke Kakashi.

oOo skip time oOo

Aku berlari memasuki rumah. Tak ada seseorangpun disana, bahkan Sakura. Sepertinya Kakashi masih berada di peternakan.

Tapi inikan jam makan siang. Dan parahnya lagi Sakura tak menyediakan apapun di atas meja makan. Mungkin ngambek gara-gara aku.

Aku berjalan ke dapur untuk mencari makanan. Sayangnya yang kutemukan hanya sisa roti tadi pagi. Tak apalah, makan saja.

Seusai makan, terdengar suara seseorang membuka pintu dari arah ruang tamu. Sepertinya ada yang datang.

Aku berjalan menuju ruang tamu. Ternyata Kakashi baru saja masuk ke dalam rumah.

"Sasuke?" katanya.

"Hn?" jawabku malas.

"Kemana Sakura? Kenapa makan siangnya belum siap?" keluh Kakashi. Sepertinya ia sama laparnya denganku.

"Tak ada makan siang. Sakura ngambek." kataku. Kakashi terlihat kecewa dengan jawabanku.

"Aku mengucapkan sesuatu tentang orangtuanya yang membuatnya tersinggung." jelasku seolah tahu apa yang akan ditanyakan Kakashi. "Apa kau tahu sesuatu tentang keluarganya?" tanyaku.

Kakashi mengajakku duduk di kursi, untuk menceritakan sesuatu yang sepertinya sangat panjang.

"Begini..."

Flashback...

Normal POV

Tepatnya 3 tahun yang lalu...

Sebuah keluarga normal yang terdiri dari ayah, ibu, dan seorang anak perempuan yang sudah beranjak dewasa. Keluarga itu sedang menikmati waktu sorenya dengan bermain di halaman belakang rumah mereka.

Sang ayah sedang duduk santai di pinggir kolam renang. Sedangkan sang ibu berjalan mendekati anak gadisnya dengan membawa handuk di tangannya.

"Sakura, ini handuknya... Cepat keringkan tubuhmu. Ibu gak mau kamu sampai sakit." kata sang ibu.

Gadis bernama Sakura hanya menerima handuk dari tangan ibunya. Dan menggosok permukaan kulitnya hingga kering. Kemudian melilitkan handuk tersebut di pinggangnya.

Sakura tersenyum senang lalu mendekati ayahnya yang duduk tak jauh dari situ dengan berlari-lari kecil.

"Sakura, sini duduk dengan ayah..." panggil ayah Sakura. Sakura segera mengambil tempat yang disediakan ayahnya. Dengan diikuti ibu Sakura yang berdiri disamping mereka.

"Apa anak ayah yang cantik ini sudah punya pacar?" tanya ayah Sakura. Sakura hanya tertunduk malu mendengar pertanyaan ayahnya itu.

"B-belum yah, emangnya kenapa? Tumben ayah nanya yang begituan ke Sakura." jawab Sakura malu-malu.

"Kalau Sakura mau, ayah bisa mengenalkanmu sama anak rekan bisnis ayah." tawar sang ayah.

"Ayah jangan bercanda. Ini bukan jamannya lagi buat menjodohkan anak." tolak Sakura.

"Kami tak menjodohkanmu. Ayah cuma mau kau tidak salah pilih." kata sang ayah.

"Yasudahlah, Sakura mau berpakaian dulu. Sebentar lagi waktunya les piano." ucap Sakura kemudian berlari masuk kedalam rumah.

oOo skip time oOo

Semenjak beberapa menit yang lalu, Sakura sudah berdiri depan pintu rumahnya. Ia baru saja pulang les. Mengetuk pintu, memencet bel, namun tak seorangpun membukakan pintu itu untuknya.

'Apa lagi pada budek yah, kok gak ada yang dengar.' pikir Sakura.

-'And girl you're my one love. My one heart. My one life sure. Let me tell you one time. I'ma tell you one time.'- Terdengar lagu One Time-nya Justin Bieber yang jadi nada tanda sms di handphone milik Sakura.

Sakura merogoh tas yang dibawanya. Lalu mengambil handphone miliknya.

Di layarnya tertera pemberitahuan satu pesan masuk dari nomor ibunya. Sakura membaca pesan itu.

-Ayahmu kena serangan jantung. Kami semua ada di -

Sakura kaget setengah mati membaca sms itu. Tanpa pikir panjang, Sakura berlari ke tengah jalan lalu menahan Taksi.

Butuh 15 menit perjalanan menuju rumah sakit. Selama perjalanan, Sakura terus berdoa untuk keselamatan ayahnya. Ia sama sekali belum siap ditinggal ayahnya.

Akhirnya taksi itupun berhenti. Berhenti di depan rumah sakit yang ditujunya.

Sakura mengeluarkan beberapa lembar uang, lalu menyerahkannya pada supir tanpa memperdulikan kembaliannya.

Ia berlari keluar dari taksi. Memasuki pintu rumah sakit dan menuju meja resepsionis.

Sakura berlari menelusuri lorong yang telah ditunjukkan resepsionis. Ia tak peduli dengan orang-orang yang di tabraknya saat berlari.

Hingga menemukan ruangan yang dimaksudkan. Perasaan takut seketika menghampirinya ketika akan membuka pintu itu. Ia takut akan kabar yang akan didengarnya. Karena, dari luar ruangan saja ia dapat mendengar tangis ibunya.

Ia mendorong pintu itu dengan perlahan. Dan melihat ibunya yang terduduk lemas di samping tempat tidur dengan tangisan yang belum reda. Sedangkan di atas tempat tidur hanya ada sesosok tubuh yang kini hanya tertutupi kain putih.

Sakura mengerti sekarang. Ternyata Tuhan sama sekali tak mendengar doanya. Ayahnya baru saja meninggalkannya dengan tanpa pamit. Meninggalkannya bersama ibunya.

Sakura tak dapat menangis. Air matanya seolah mengering. Yang dapat mengeluarkan air mata hanyalah hatinya. Ia masih belum dapat percaya dengan keadaan sebenarnya.

Ia masih berpikir apa mungkin ini hari ulang tahunnya, sehingga ayah dan ibunya kemudian mengejutkannya dengan meneriakkan 'kejutan' seperti tiap tahunnya. Tidak. Ia tidak berulangtahun hari ini.

Atau mungkin ini sebuah drama konyol yang akan dihentikan lalu diulang kembali oleh sutradara. Sehingga ayahnya dapat saja bangun lalu pura-pura mati lagi.

Sayangnya ini sebuah bukan drama, lelucon, maupun kejutan. Ayahnya memang benar-benar telah pergi.

Sakura tak dapat membendung air matanya lagi. Ia menggigit bibir bawahnya, berharap tak menangis agar ibunya tak bertambah sedih. Ia menangis tertahan.

Tuhan terlalu cepat mengambil ayahnya.

Ibu Sakura berlari keluar dari ruangan penuh kesedihan itu. Meninggalkan Sakura yang tak bisa berbuat apa-apa.

'Apa salah ayah? Apa salahku? Apa salah kami? Sehingga Kau menghukum keluarga kami seperti ini.' batin Sakura.

Suara hatinya memang sedang berantakan. Tapi ada suara yang lebih berisik dari itu. Suara orang-orang yang berteriak dari arah luar rumah sakit.

Sakura membuka jendela yang ada di ruangan itu. Yang dia lihat hanya orang-orang rumah sakit yang sepertinya menonton sesuatu dari atas atap.

Sakura keluar dan memeriksa kehebohan apa yang sedang disaksikan mereka.

Ternyata itu bukan hiburan. Karena seseorang terlihat berusaha bunuh diri dengan melompat dari lantai teratas rumah sakit.

Seorang wanita yang berpostur dan berpakaian mirip dengan yang dipakai ibunya.

Mirip? Bukan! Itu memang ibu Sakura yang mencoba bunuh diri.

Sakura berteriak sekeras-kerasnya. Namun terlambat, ibunya baru saja melompat menuju akhir hidupnya.

End of flashback.

Sasuke's POV

"Jadi begitulah... Setelah kejadian itu Sakura diangkat menjadi anak oleh tuan Jiraiya." kata Kakashi.

"Belakangan Sakura baru tahu kalau ayahnya kena serangan jantung karena difitnah rekan kerjanya sendiri. Ayahnya dituduh menggelapkan uang perusahaan dan dilaporkan ke polisi." lanjut Kakashi.

'Jadi, itu sebabnya ia tersinggung ketika aku menyebut orang tuanya penjahat' pikirku.

"Ayahnya kena serangan jantung setelah mendengar hal itu dan meninggal. Diikuti ibunya yang tak sanggup menerima kenyataan dan bunuh diri."

"Hampir 1 tahun lebih Sakura depresi gara-gara itu. Hingga akhirnya ia dipindahkan kemari dan berangsur-angsur sembuh."

Kakashi beranjak dari tempatnya. Sepertinya pergi mencari pengganjal perutnya.

Aku mendengarkan cerita Kakashi bak mendengar dongeng pengantar tidur. Siapa yang sangka Sakura memiliki pengalaman hidup sekeras itu.

Aku jadi merasa bersalah menghinanya kemarin. Selama ini aku terlalu memandangnya rendah. Apa lebih baik aku minta maaf saja yah?

Tapi bagaimana mengucapkannya? Bagaimana jika ia tak mau memaafkan aku?

Baiklah, aku akan minta maaf sama dia.

.

To be cont...

Ada yang aneh? Review....

Ada yang jelek? Review....

Ada yang kurang? Review....

Ada saran? Kritik? Maupun kripik? Review...

Intinya harus tetap review...