Chapter 6

Naruto © Masashi Kishimoto

Rated : M

Genre : Romance/Drama

Pair : SasuSaku NaruHina etc

o0o Lets Start o0o

"Selamat datang di Festival Akatsuki tahunan." Teriak salah seorang host berbaju hitam bermotif awan merah yang sedang berdiri di atas panggung. Rambutnya yang keperakan disisir rapi kebelakang dan tangannya yang selalu memegang semacam err- tasbih?

"Seperti tahun-tahun sebelumnya, tahun ini Festival Akatsuki kembali diadakan, un. Kau tahu apa yang berbeda pada festival tahun ini, Hidan?" Lanjut host lainnya yang memakai pakaian yang sama. Yang ini memiliki rambut pirang panjang yang diikat mirip cewek—sebenarnya cowok—dengan iris mata kebiruan.

"Benar sekali.. tahun ini sepertinya jauh lebih meriah daripada tahun kemarin yah, Dei." Pandu kedua host tesebut, membuka festival tahunan yang setiap tahun diadakan oleh sebuah organisasi pemuda bernama akatsuki. Festival ini selalu ramai akan lomba-lomba yang tentu saja dengan hadiah yang sangat menarik. Banyak penduduk desa yang sangat berminat menjadi peserta lomba.

Ngomong-ngomong soal peserta, mari kita tengok ke bangku para peserta.

Pada baris pertama, ternyata sudah ada para pemeran utama kita, Sasuke, Naruto, dan Gaara. Dan kemudian diikuti Shikamaru, Kiba, dan Neji. Bukan hanya mereka, di baris berikutnya juga ada Sakura, Hinata, Ino dan Temari, lalu Tenten, Matsuri, dan juga Tayuya. Kemudian diikuti beberapa peserta lain yang cuma sebagai figuran di fict ini.

Bagaimana mereka bisa mendaftar dalam lomba? Mari kita simak bersama-sama…

[Flashback : On]

Seperti siang-siang yang biasanya, para peternak kita sedang menikmati masakan buatan Sakura sebagai makan siang. Mereka makan dengan lahapnya demi tercapainya kepuasan perut. Namun yang berbeda adalah masakah siang ini lebih terlihat special dibanding yang kemarin-kemarin. Dari menunya saja sudah sangat berbeda. Dari yang kemarin telor ceplok, hari ini menjadi ayam panggang. Kakashi memang menyuruh Sakura masak istimewa hari ini.

"Jadi, apa yang kau inginkan?" Tanya Shikamaru di sela-sela makannya. Insting seorang Shikamaru memang sulit dikelabui. Ia sudah tahu ada maksud terselubung di balik ayam panggang. Sedangkan orang yang disinggung hanya memasan seringai di balik maskernya [yang tentu saja hanya author yang bisa lihat.]

"Hahaha.. ketahuan juga yah." Kakashi tertawa garing. Ia memang sengaja memberi makan siang special ini buat sogokan. "Baiklah, aku cuma ingin minta tolong hal kecil saja pada kalian." Kata Kakashi menghentikan kegiatan mengunyahnya sebentar. Begitupun yang lain, ikut menghentikan makannya dan mendengar dengan seksama.

"Aku cuma…"

"Cuma…"

"Cuma…"

"Anu… Itu.."

-BUGHHH- Tiba-tiba Naruto melayangkan sekop yang entah darimana ia dapat ke wajah Kakashi.

"iya iya… aku cuma ingin kalian mengikuti festival akatsuki tahun ini. Dan tentu saja harus menang." Kata Kakashi –sangat—memaksa dengan mata hitam membesar dan berkilat-kilat pula. Sementara yang lain hanya membuang muka tak peduli lalu melanjutkan makan nikmatnya.

"oh ayolah anak-anak.. kalian bisa sekalian istirahat dari pekerjaan di peternakan," bujuk Kakashi.

"Baiklah, aku ikut." Kata Naruto dan Kiba hampir bersaman. Sementara yang lain masih tampak tak perduli sama sekali. 'mendingan tidur di kandang kuda.' Kata Shikamaru dalam hati.

'Kalau begini terus, rencana b terpaksa dilakukan.' Pikir Kakashi. Ia memang sudah memikirkan segala persiapannya. Bagaimanapun ia harus membuat mereka ikut serta. "Naruto dan Kiba saja yah… Kalian berempat bagaimana?" Tanya Kakashi sekedar memastikan dan tentu saja hanya dibalas gelengan oleh Sasuke, Gaara, Shikamaru dan Neji.

"Baiklah, kalau begitu pekerjaan Naruto dan Kiba untuk satu minggu kedepan keserahkan pada kalian berempat." Kata Kakashi. Naruto dan Kiba hanya bisa terkikik geli dengan pernyataan Kakashi, sementara empat lainnya seketika menghentikan makan mereka dan menatap Kakashi tak percaya.

"Aku berubah pikiran, sepertinya menyenangkan bisa ikutan." Kata Shikamaru tiba-tiba. 'Menambah pekerjan tentu lebih mereptkan.' Pikir Shikamaru.

"Kalau dipikir-pikir kau ada benarnya, aku juga ikut." Kata Neji ikut-ikutan. Sementara kedua orang yang masih belum berubah pikiran nampak berpikir. Karena dengan posisi mereka sekarang yaitu 4 berbanding 2, tentu saja pekerjaan mereka akan bertambah lagi.

"Gaara, Sasuke. Bagaimana dengan kalian? Kalian tidak mau kan, mengerjakan pekerjaan mereka?" Kata Kakashi dengan memasang mata licik. "Baiklah.. kami juga ikut." Kata mereka bersamaan.

[Flashback : Off]

Sementara untuk para gadis, tentu saja mereka ikut hanya untuk tujuan mereka pribadi. Ada yang bertujuan mengerjai Naruto dkk, ada yang ingin dekat-dekat salah seorang dari keenam cowok keren tersebut, da nada pula yang sekedar ikut-ikutan.

"Untuk lomba yang pertama akan dipandu oleh Mas Kisame." Pandu Hidan memulai lomba yang pertama. Pemandu lomba pertama menerima microphone. Pria dengan wajah ke-hiu-an dengan gigi taring yang berlebihan jumlahnya. "Selamat pagi para hadirin sekalian. Saya akan menjelaskan lomba pertama yang akan diadakan."

"Gampang saja, lomba pertama adalah lomba memancing. Caranya, cukup memancing ikan di sungai selama 3 jam. Peserta dengan berat hasil pancing terbesar adalah pemenangnya. Dan lagi, karena jumlah peserta yang terlalu banyak dan jumah perahu yang tidak mencukupi, maka satu perahu akan ditempati oleh 2 orang yang akan dipilih secara acak." Jelas Kisame panjang lebar.

Deidara naik keatas panggung dengan membawa selembar kertas yang sepertinya berisi hasil pembagian perahu. Sementara para peserta menatap dengan penasaran. "Oke, berikut pembagian kelompoknya."

"Pada perahu pertama, Naruto dan Hinata. Kedua, Temari dan Shikamaru. Lalu Sasuke dan kiba. Tenten dan Neji. Sakura dan Ino. Gaara dan Matsuri. Kemudian Tayuya dan…" dan seterusnya, dan seterusnya. –Author malas nulis—

O0O skip time O0O

Perahu kayu yang mengapung perlahan mengikuti arus pelan. Perahu tersebut sudah memuat dua orang diatasnya. Seorang wanita pirang yang dikuncir empat dan pria berambut hitam yang tidak henti-hentinya menguap. Temari dan Shikamaru.

Mereka memang sudah ditakdirkan dalam satu perahu oleh Author. Tapi dalam satu perahu bukan berarti mereka akan bekerja sama. Menentukan di sungai bagian mana mereka akan memancing saja, mereka harus berdebat dulu. Dan tentu saja, diakhiri pengakuan kalah oleh Shikamaru. Jadilah, mereka memancing disini, tempat pilihan Temari, di sekitar jembatan gantung yang menghubungkan sisi jembatan.

"Hoammmmmm… membosankan sekali, tak satupun ikan yang mau memakan umpanku." Keluh Shikamaru entah pada siapa, dan entah sudah yang ke berapa kalinya ia mengeluh. Saking seringnya ia mengeluh, Temari yang berada di dekatnyapun sampai bosan juga mendengar keluhannya itu.

"Sampai kapanpun tak akan ada yang mau memakan umpanmu jika kau saja tidak bersemangat dan kerjanya hanya mengeluh saja." kata Temari.

"Aku akan sangat menghargai nasehatmu jika kau bisa lebih baik dariku.. Kaupun belum menangkap satupun kan? Dasar wanita…" balas Shikamaru. Temari hanya bisa menghela nafas, karena apa yang dikatakan Shikamaru memang benar. Sejak lomba ini dimulai, tak satupun ikan yang tersangkut di umpannya.

Shikamaru meregangkan badannya sejenak. Tertahan pada posisi duduk agak lama membuat otot-ototnya terasa kaku. Sementara Temari hanya menggerakkan lehernya dengan maksud yang sama dengan Shikamaru. Memancing memang membutuhkan kesabaran tingkat tinggi. Berbeda dengan memancing di pasar ikan, yang tinggal mengeluarkan uang sebagai umpan.

Temari yang duduk membelakangi Shikamaru merasakan tubuh—yang tak lain adalah tubuh Shikamaru—sedang bersandar pada punggungnya. Awalnya ia sama sekali tidak memperdulikannya, tapi lama kelamaan hal itu mengganggunya juga, Shikamru tidak bisa dibilang ringan.

"Hei, berhenti bersandar padaku." Kata Temari sambil menggoyangkan punggungnya pelan. Sedangkan Shikamaru sama sekali tak menggubris. "Hei, kepala nanas, menyingkir dariku." Temari yang menyingkirkan tubuhnya, membuat tubuh Shikamaru terjatuh menyentuh lantai perahu.

"Pantas saja tak menjawab.. dasar tukang tidur." Temari hanya menggelengkan kepalanya, ia heran mengapa ada orang yang bisa mengambil kesempatan untuk tidur dalam kondisi seperti ini. Dan memang kalian harus percaya bahwa hanya Shikamaru yang bisa.

Temari hanya memandang wajah Shikamaru dalam diam. Matanya terfokus pada garis-garis kontur wajah Shikamaru. Melihat hidungnya yang mancung, serta lekukan-lekukan bibirnya yang merah. Juga kelopak matanya yang tertutup. Ia nampak tak se-menjengkelkanngnya yang mancung, serta lekukan-lekukan bibirnya yang merah. juga isa mengambil kesempatan untuk tidur dalam kondisi seper keenam sepupunya. Kecuali berbagai keluhan-keluhan yang biasa dilontarkannya, yang membuat orang lain ingin mengeluh juga.

Temari nampak sangat menikmati saat-saat ini, ia sama sekali tidak bosan menatap wajah pria tukang tidur itu. Hiburan kala menunggu umpan termakan, pikir Temari.

Saking seriusnya ia menikmati tontonan tersebut, ia tidak menyadari kelopak mata itu mulai terbuka perlahan. Shikamaru yang mendapati wajah Temari yang masih menatapnya hanya bisa berkata, "Menatapnya jangan sampai jatuh cinta…"

"Eh..!" Temari yang tersadar akibat ucapan Shikamaru, memalingkan wajahnya yang memerah karena malu. Ia merasa sangat bodoh dengan tindakannya barusan. 'Jatuh cinta…? Yang benar saja..' benak Temari.

Shikamaru bangkit dari tidur kilatnya. Sebenarnya ia sudah tersadar sejak terlepas dari punggung Temari. Ia mengusap kepala belakangnya yang terbentur kayu dasar perahu. Baru saja ia ingin meraih kembali pancingnya yang ia tinggal dalam keadaan berdiri, ternyata pancing Temari tersangkut sesuatu dan Temari kesulitan menarik kembali kailnya.

Shikamaru membantu Temari menarik pancingnya. Tanpa sengaja kedua tangannya menggenggam tangan Temari yang sedang berusaha menarik hasil tangkapannya. Wajah mereka sangat dekat, hingga bisa merasakan ritme nafas mereka masing-masing. Wajah mereka merona merah seketika. Tidak biasanya seorang Temari ataupun Shikamaru berdekatan dengan lawan jenis seperti ini. Bahkan Shikamaru tak pernah sama sekali merencanakan hal seperti ini. Dengan mata yang masih saling bertaut, mereka menarik pancing sekuat tenaga, dengan tetap menggulung roll benang. Mereka menarik pancing dengan tanpa melihat kedepan, hanya melihat kedalam mata satu sama lain. Tak satupun dari mereka takut akan tenggelam dalam pesona satu sama lain.

Mereka kembali tersadar setelah kail mereka mulai terangkat dari permukaan air. Ikan bersisik keabuan dengan ukuran lumayan besar. Kesabaran mereka akhirnya membuahkan hasil juga. "Akhirnya dapat satu ekor juga…" kata Temari sambil melepas ikan dari pancing.

"Beratnya tidak seberapa, jangan puas dulu kalau mau menang." Shikamaru membantu Temari membuka box tempat ikan hasil tangkapan mereka akan disimpan. "Ayo, pasang umpan lagi.." kata Shikamaru setelah ikan pertama mereka memasuki box.

Kali ini berbeda, Shikamaru dengan ikhlas memasangkan umpan pada pancing milik Temari. Tidak biasanya seorang Shikamaru mau merepotkan dirinya untuk membantu seseorang, apalagi wanita. Sementara Temari hanya memasang senyum termanis miliknya sebagai ucapan terima kasih pada penolongnya.

Sesaat kemudian mereka kembali duduk di dalam perahu dengan posisi saling membelakangi dan punggung yang saling menempel dengan mesranya, dan kali ini tentu saja keduanya merasa nyaman.

Kita tinggalkan dulu hubungan mereka yang makin dekat, dan menengok ke perahu sebelah…

Perahu no. 4 sedang berada pada posisi yang baik sekarang. Perahu itu berhenti pada bagian sungai berarus sedang. Tak jauh di sebelah kanan perahu, terdapat batu besar berlumut dan beberapa bunga teratai.

Di dalam perahu sudah ada pria berambut panjang kecoklatan dengan mata lavender bersama wanita beriris mata coklat senada dengan warna rambutnya yang dicepol dua.

Keduanya sedang menatap penuh harap pada umpan mereka. Tak satupun terlihat santai, mereka serius. Bahkan disekitar mereka terdapat aura-aura persaingan yang sangat hebat. Sejak awal mereka memulai, mereka saling menunjukkan kemampuan memancingnya. Box ikan mereka saja sudah hampir penuh.

"Aku dapat lagi…" teriak mereka bersamaan. Keduanya berbalik dan saling menatap penuh kesal. Tak ada yang mendahului yang lain, mereka memiliki kemampuan dan keberuntungan pemancing yang seimbang.

"Kau hanya beruntung saja.. biasanya ikan pancinganku jauh lebih besar dari punyamu." Pamer Tenten. "Ck, dasar pemula… jangan banyak bicara, kau tidak ditakdirkan lebih baik dariku." Tantang Neji. Tak satupun dari mereka yang mau mengalah.

Perahu no. 1…

Tak jauh dari perahu NejiTen, perahu no.1 juga sedang berhenti di tengah sungai. Perahu milik Naruto dan Hinata. Berbeda dari dua perahu sebelumnya, penghuni perahu ini tidak duduk saling membelakangi, tetapi saling berdampingan. Naruto duduk di samping Hinata.

Ikan yang mereka dapat memang belum seberapa, tidak sebanding dengan punya NejiTen. Mereka lebih banyak menghabiskan waktu mengobrol berdua. Bahkan tanpa mereka sadari, tangan mereka saling bertautan sejak tadi. Dan tentu saja hal itu membuat wajah Hinata tak berhenti merona.

"Wajahmu merah sejak tadi. Apa kau demam, Hinata?" Tanya Naruto khawatir. Hinata hanya menggeleng, menjawab pertanyaan Naruto. Naruto yang memastikan jawaban Hinata, menempelkan punggung tangannya pada dahi Hinata. Ia tidak mau Hinata kenapa-napa.

Bukan membaik, warna wajah Hinata malah semakin merah akibat tindakan Naruto. Hinata merasa nyaman dengan perhatian yang diberikan Naruto.

O0o Skip Time o0O

Waktu yang diberikan panitia akhirnya habis juga. Semua perahu kini sudah kembali pada posisi awal mereka memulai lomba. Para peserta menyerahkan box yang berisi ikan hasil tangkapan mereka. Ikan-ikan tersebut akan segera ditimbang beratnya oleh juri. Sementara para peserta hanya bisa menunggu proses yang akan dilakukan juri.

Naruto dan Kiba sudah harap-harap cemas menanti kepastian juri. Sedangkan Sasuke dan Gaara bersikap tidak peduli sama sekali. Berbeda dengan Shikamaru yang sudah tertidur di kursinya, dengan kepalanya yang tersandar di bahu orang yang duduk di sebelahnya, Temari.

Akhirnya lelaki berwajah mirip hiu tadi, naik ke atas pangung. Yang tentunya dilengkapi dengan kertas hasil penilaian juri. "Baiklah para peserta dan penonton, hasil penilaian kami sudah keluar. Sekarang saatnya aku umumkan."

Setelah lima menit bertele-tele di atas panggung, akhirnya hasil penilaian telah dibacakan. Yang tentu saja dimenangkan oleh NejiTen, lalu NaruHina di posisi kedua, dan SasuKiba sebagai juara tiga. sementara peserta lain hanya bisa pasrah karena tak mendapatkan poin di babak awal pertandingan. tapi tenang saja, babak selanjutnya masih bakal berlanjut.

TBC

.

Maaf update lama,, ada gangguan teknis soalnya…! N Thanks masih tetap baca fict ini… n mav lagi kalau hasilnya kurang mamuaskan… pokoknya review biar kesalahannya bisa aku perbaiki..

Kalau ada yang kapan fict ini selesai,, mngkin tinggal beberapa chapter lagi..! yang penting readers tetap setia dan review…

.

Review..

Review..

Jangan sampe tinggalkan fict ini tanpa jejak… ayo review!