Haloooooo! Mohon besar untuk para reader sekalian atas keterlambatan update yang sangat berlebihan. Saya harap masih ada reader yang mau membaca fict ini. Dan satu lagi permohonan maaf, yaitu atas kesalahan penulisan pada chapter sebelumnya, saya juga bingung kenapa bisa begitu, padahal data aslinya tidak begitu. Mungkin kesalahan pada saat upload…
Ya sudahlah… yang penting sekarang saya sudah update dan melunasi satu lagi utang saya.
Selamat membaca!
.
Naruto Masashi Kishimoto
100 Million Love
Chapter 7
Matahari begitu bersemangat pagi ini. Tergambar dari pancaran sinarnya yang tegas dan terang saat ini. Menyinari mereka yang membutuhkan sinarnya. Menyinari para manusia yang sedang berkumpul pagi ini, untuk melanjutkan festival akatsuki.
Sejak memulai festival dua hari lalu, sudah banyak lomba-lomba yang dilewati para peserta. Seperti lomba memancing, lomba berkuda, lomba memerah susu sapi dan masih banyak lagi. Dalam tiap lomba ada saja kerjaan geng Sakura untuk mengisengi keenam calon miliarder itu.
Para peserta saling menunjukkan kemampuan masing-masing dalam tiap bidang. Dan hari ini, mereka akan mengakhiri rangkaian lomba, dengan lomba yang terakhir.
Segala poin yang didapatkan pada lomba sebelumnya akan digandakan dua kali lipat jika memenangkan lomba kali ini. Jadi, semua peserta masih berkemungkinan untuk menang, atau setidaknya masuk tiga besar.
Sampai saat ini, peringkat pertama dengan poin tertinggi adalah Tenten yang kemudian diikuti oleh Sasuke, Neji, Naruto, Sakura, Kiba lalu yang lain-lain. Selisih poin mereka tak begitu jauh, hanya sekitar satu atau dua poin saja.
"Untuk lomba berikutnya, akan dipandu oleh Tobi. Silahkan un!" Deidara mempersilahkan salah satu temannya dalam akatsuki untuk mengambil alih lomba terakhir ini. Seseorang dengan topeng berbentuk pusaran tampak naik keatas panggung.
"Terima kasih senior Deidara. Lomba terakhir ini dinamakan Labirin's way. Seperti namanya, lomba ini akan diadakan di dalam labirin. Para peserta harus menemukan sebuah piala yang sudah dipersiapkan panitia di dalam labirin. Piala itu terletak tepat di sisi lain jalan masuk. Jadi, menemukan piala berarti menemukan jalan keluar."
"Para peserta akan diberikan sebuah gelang yang berfungsi sebagai alat pelacak. Jadi, para peserta yang ingin menyerah cukup menyalakan gelang itu. Berikutnya, kami sebagai panitia akan menjemput anda." Kata Tobi menyelesaikan penjelasannya.
Dan berikutnya, para peserta sudah tiba di lahan tempat labirin berada. Labirin tersebut memiliki luas sekitar 100x100 meter, dinding labirin terbuat dari tanaman—entah apa namanya—yang dirangkai sedemikian rupa hingga membentuk dinding setinggi dua meter. Jarak antar dinding tak begitu besar, hanya menyisakan sekitar satu meter lebih sebagai jalan.
Para peserta kini telah bersiap pada posisi masing-masing. Mereka memasuki labirin sesuai urutan poin mulai dari yang tertinggi.
.
=====(^^)=====
Sasuke POV
Kini giliranku untuk memasuki labirin ini. Tenten yang poinnya lebih tinggi telah masuk lebih dulu dariku. Aku mulai memasuki mulut labirin dengan perlahan. Tiap jalan yang kulewati berusaha aku ingat sedetail mungkin. Walaupun jalannya selalu terlihat sama, aku selalu mencari perbedaan yang bisa kujadikan tanda kalau aku telah melewati jalan ini. Tersesat akan menjadikan semuanya kacau.
Tak terasa, matahari sudah tinggi. Entah sudah berapa jam aku berkeliling di dalam sini. Aku bukannya tersesat, karena aku sudah menandai tiap jalan yang aku lewati. Disetiap belokan, aku beri tanda dengan mematahkan batang tanaman dinding labirin. Hanya saja, labirin ini memiliki jalan yang begitu bercabang sehingga membuatku bingung.
Aku memperlambat langkahku, samar-samar aku seperti mendengar suara wanita yang mengaduh kesakitan. Kuhentikan langkahku untuk memastikan. Suaranya memang betul ada dan disekitar sini. Kutajamkan pendengaranku, suaranya berasal dari arah depan. Kuikuti asal suara itu. Suara itu sepertinya sudah tidak asing bagiku.
Ternyata benar. Itu suara Sakura. Ia terduduk di tanah dengan wajah kesakitan. Lututnya terluka dan mengeluarkan banyak darah. Sepertinya robek karena teriris sesuatu. Aku berlari mengahampirinya yang berada sekitar lima meter dari hadapanku.
Ia menatapku ketika tiba di dekatnya. Ia masih saja meringis kesakitan. "Apa yang terjadi?" kataku sambil berusaha menyembunyikan rasa khawatir.
"Aku…hanya terjatuh tadi." Jawabnya. Aku menatap lututnya yang terluka. Cairan merah kental itu terus saja mngalir dari sana. Membuatku jadi panik saja.
Kuraih lengan baju yang kini aku kenakan. Aku tarik paksa hingga robek. Dengan segera, kulilitkan kain tersebut pada lutut Sakura agar menahan pendarahan lukanya. Tidak bisa kubayangkan kalau Sakura mati kehabisan darah. Jangan sampai itu terjadi.'Sasuke jangan konyol.' Berhenti memikirkan hal yang aneh-aneh.
Aku berjongkok membelakangi Sakura. Menawarkan punggungku sebagai tumpangan sementara Sakura. Aku tahu keadaannya sekarang tidak memungkinkan untuk dia berjalan apalagi keluar dari labirin dan melanjutkan permainan ini.
Sakura sempat ragu dan berpikir agak lama sebelum akhirnya ia menerima bantuanku. Sekarang ia bersandar di punggungku. Aku berdiri menopang tubuhnya lalu kemudian mulai berjalan. Aku mempercepat langkahku demi Sakura. Ia membutuhkan penanganan medis sekarang.
"Perlahan saja Sasuke, nanti kau kelelahan." Kata Sakura padaku. Bagaimana bisa aku pelan-pelan jika kau membutuhkan bantuan segera. Dasar bodoh.
"Kau harus mendapatkan pengobatan secepatnya."
"Aku tidak apa-apa Sasuke. Kau terlalu berlebihan. Ini hanya luka ringan." Kata-kata Sakura sepertinya ada benarnya. Pendarahannya juga berhenti oleh pertolongan kecil tadi.
"Hn." Kuperlambat langkahku sesuai kemauannya. Yang terpenting dia merasa senang dan nyaman saat ini saja sepertinya sudah cukup. Lagipula seperti yang dikatakannya, luka itu hanya luka ringan.
"Sasuke, boleh aku bertanya sesuatu?"
"Hn."
"Kenapa kau mau menerima tantangan yang diberikan Jiraiya-sama?" pertanyaan Sakura sepertinya agak susah untuk aku jawab. Karena aku sendiri bingung kenapa mau menuruti perkataan orang tua itu. Apa karena uang? Entahlah.
"Entahlah." Hanya kata-kata itulah yang keluar dari mulutku.
"Bagaimana jika kau gagal?"
"Aku sama sekali tak memikirkan itu, yang terpenting sekarang hanya menjalankan perintah Opa saja."
"Seharusnya kau merencanakan hidupmu selanjutnya. Jangan bergantung dari Jiraiya-sama saja. Lupakan menang atau kalah, hidupmu selanjutnya bagaimana? Apa akan tetap bersama sepupu-sepupumu?" lagi-lagi pertanyaan Sakura membuatku kesulitan dalam menjawabnya. Aku sama sekali tak memikirkan hal ini sebelumnya.
Benar juga apa yang dikatakan Sakura. Aku sudah terbiasa hidup dengan mereka, termasuk Kakashi dan Sakura sendiri. Bertemu mereka setiap hari, makan di meja yang sama dan bekerja bersama sudah membuatku merasa terikat dengan mereka. Lagipula aku sudah merasa kami adalah sebuah keluarga. Bagaimana selanjutnya sama sekali tak terpikirkan olehku.
Sakura masih menunggu jawabanku. Jawaban yang masih menjadi tanda tanya besar. Hanya waktu yang bisa menjawabnya. Dan aku harap waktu akan memberi kami kesempatan bersama yang lebih lama.
"Aku hanya berharap bisa bersama kalian lebih lama." Kataku. Sakura mempererat pelukannya padaku. Kepalanya ia sandarkan di bahuku.
"Aku juga berharap hal yang sama. Bisa bersama kalian. Bisa bersamamu, Sasuke." Kata Sakura.
Jatungku berdetak lebih cepat setelah mendengarnya. Mungkin salah satu alasanku betah bersama mereka adalah karena Sakura. Tak ada yang lebih menyenangkan dari menghabiskan waktu bersamanya. Apalagi setelah 'kejadian' itu. Rasanya sudah seperti memilikinya seutuhnya.
Tak butuh waktu lama hingga Sakura tertidur di dalam gendonganku. Sementara aku terus berjalan.
.
Hari sudah semakin siang saat kami menemukan jalan keluar. Melalui jalan itu, aku hanya menemukan tempat piala yang kosong. Sepertinya sudah ada yang tiba lebih dulu dari kami. Tapi aku sama sekali tidak memperdulikannya. Yang penting aku bisa bersama wanita merah muda ini saja sudah cukup membuatku merasa menang.
Aku membawa Sakura menuju ruang panitia. Panitia sudah menyiapkan klinik medis disan untuk berjaga-jaga adanya kecelakaan kecil seperti yang dialami Sakura. Sakura sama sekali belum tersadar dari tidur siangnya.
Disana kami disambut oleh salah satu anggota Akatsuki. Wanita berambut biru dengan hiasan bunga sebagai jepitan. Melihat keadaan Sakura, ia segera mengambil kotak obat setelah membaringkan tubuh Sakura pada tempat tidur yang tersedia disana.
.
=====(^^)=====
Normal POV
Sekarang tiba waktunya mengumumkan hasil dari lomba terakhir ini. Sudah sangat jelas, Naruto yang pertama kali menemukan piala mendapatkan poin tertinggi saat ini.
Setelah mengakumulasikan seluruh poin dari rangkaian lomba, pemenang Akatsuki's Festival tahun ini adalah Naruto ,yang kemudian disusul Tenten dan Sasuke sebagai juara kedua dan ketiga.
"Baiklah. Dengan diumumkannya hasil lomba, maka berakhirlah rangkaian acara Akatsuki's Festival tahun ini. Tapi tenang saja, kami akan kembali tahun depan." Kata Hidan sebagai host.
"Belum berakhir, un. Karena malam ini kami akan mengadakan pesta sebagai penutup dari acara tahun ini un. Seluruh peserta dan warga bisa datang. Jadi, semua harus hadir un." Kata Deidara.
Naruto, Gaara, Shikamaru, Neji dan Kiba bingung karena tidak melihat kehadiran Sasuke saat pengumuman hasil. Begitu pula dengan Temari dkk yang tidak melihat Sakura.
Mereka semua hanya berlari menuju ke klinik ketika Deidara memberitahukan berita terlukanya Sakura. Mereka semua khawatir akan keadaan teman mereka itu. Walaupun mereka sering berdebat dan saling mengerjai satu sama lain, mereka tetap saja peduli.
Yang pasti, mereka sudah menentukan target siapa yang akan menemani mereka menghadiri pesta malam ini.
TBC
Akhirnya selesai juga, un. Buat para readers, maaf beribu maaf—lagi—atas kecelakaan di chapter sebelumnya. Dan juga atas keterlambatan updatenya.
Saya sadar akan resiko membuat fict yang multichapter, yaitu utang untuk terus update cepat. Tapi saya hanya bekerja atas mood dan imajinasi saya. Jadi, kalau keduanya lagi gangguan maka akan berdampak pada fict saya.
Tapi tenang saja, karena sepertinya fict ini akan berakhir di chapter depan—sepertinya. Pokoknya gak bakal lama lagi deh. Utang saya juga bakalan lunas sama para readers.
Saya sangat berterima kasih atas semua review kawan-kawan sekalian. Benar-benar membangun dan mendorong saya agar tetap berkarya. Apalagi untuk para readers or reviewer yang nge-fave dan nge-follow cerita ini. Pokoknya, I love u all.
Jangan bosan untuk read n review cerita ini maupun cerita saya yang lainnya. Thanks.
Review Please?
