Disclaimer: Masashi Kishimoto
Rate: M
Pair: SasuSaku
.
.
Chapter 8: The Party
.
.
Sebuah aula besar yang berada di tengah taman yang biasanya sepi, kini dipenuhi orang. Di tempat itu kini sebuah pesta sedang berlangsung. Pesta sebagai penutup dari rangkaian acara Festival Akatsuki tahun ini. Festival setahun sekali.
Seluruh peserta, panitia, maupun tamu undangan lainnya memenuhi ruangan itu. Ruangan yang semula biasa-biasa saja dipermak sedemikian rupa hingga tampak jauh berbeda. Sebuah bola berkilau besar tergantung di tengah ruangan. Berputar memantulkan sejuta kilau warna dari lampu berwarna disekitarnya. Tengah ruangan dibiarkan kosong sebagai lantai dansa. Sebuah panggung sudah terhias berhadapan lansung dengan pintu masuk.
Dipojok ruangan, seorang pemuda sedang duduk di salah satu kursi. Di tangan pemuda itu sudah ada gelas berisi soft-drink yang diteguknya sesekali. Pemuda itu Sasuke. Ia sedang menyingkir sebentar dari keramaian dan kehebohan pesta itu.
'Kalau bukan dipaksa Kakashi, aku tidak akan mau ke tempat terkutuk ini.' Rutuk Sasuke dalam hati. Ia memang bukan tipe orang yang nyaman berada di tempat keramaian. Apalagi pesta macam ini.
Sasuke yang sudah menyingkirpun masih belum bisa mendapatkan ketenganannya. Sejak tadi, orang-orang terus saja mencuri pandang ke arahnya. Bahkan ada yang terus memelototinya seperti ingin memangsanya. Entah itu wanita atau pria.
Jangan salahkan orang-orang itu. Mereka atau siapapun pasti akan tertarik dengan aura pemuda itu. Apalagi dengan penampilannya sekarang. Jas formal berwarna hitam, ditambah kemeja dalaman berwarna kebiruan. Tak ada yang bisa menolak pesonanya.
"Kau ini, selalu saja menghindari keramaian." Kata seseorang yang baru saja duduk di samping Sasuke.
"Kau juga menghindarkan." Kata Sasuke datar. Tanpa menoleh pun ia sudah tahu kalau yang berbicara dengannya saat ini adalah Shikamaru.
"Tidak juga, aku cuma jengkel dengan musik yang kelewat berisik ini. " kata Shikamaru sambil melongarkan ikatan dasinya. Tak jauh berbeda dari Sasuke, ia pun berpenampilan formal kali ini. "…membuatku tidak bisa tidur saja."
Sasuke tak menanggapi perkataan Shikamaru. Ia sudah tidak heran lagi dengan 'kelebihan' sepupunya yang satu ini. Bisa tidur kapan dan dimana saja.
Sasuke mengambil tegukan terakhirnya dan gelas itu akhirnya kosong kecuali butiran es kecil disana. baik Sasuke maupun Shikamaru tak ada yang berbicara lagi. Mereka lebih memilih hening yang membuat mereka nyaman seperti ini.
"Sasuke!" panggil sebuah suara yang sudah sangat dikenal oleh Sasuke. Siapa lagi kalau bukan suara indah dari Sakura. Sasuke segera menoleh kearah sumber suara dan mendapati sesuatu yang indah. Sakura dengan gaun hijau tua minimalis sedang mendekat kearahnya. Mata emeraldnya bersinar hangat senada dengan waran gaunnya. Rambut merah mudanya tergerai indah dengan sebuah jepitan kecil perak menghias disana.
"Kau tidak berdansa?" tanya Sakura yang sudah berdiri di depannya.
Sasuke berdiri dari tempat duduknya. Ia menatap kedalam mata indah Sakura. Ia tak pernah merasa bosan menatap mata itu. Tanpa basa-basi atau sedikit pun kata, Sasuke meraih tangan Sakura yang mengantung bebas di sisi tubuhnya. Kemudian menariknya menuju ke tengah ruangan.
Sakura yang bingung dengan tindakan tiba-tiba Sasuke itu segera menepis halus genggaman tangan Sasuke. "Kau mau bawa aku kemana?" tanya Sakura memastikan.
Sasuke yang mengerti akan kebingungan Sakura, memegang lengan atas Sakura kemudian berjalan turun hingga menggenggam tangan gadis itu dengan lembut. "Bersediakah berdansa bersamaku, ma'am?" kata Sasuke sambil mengecup lembut punggung tangan Sakura.
Sakura seketika merona mendengar suara lembut Sasuke. Untung saja gemerlap lampu menutupi semuanya. Tak ingin membuang banyak waktu, Sakura memberikan anggukan kecil sebagai jawaban. Dan mereka pun kembali berjalan ke lantai dansa. Banyak mata yang menatap iri kepada pasangan ini. Mereka tampak begitu serasi.
Sesampainya mereka ditengah, musik tiba-tiba berubah menjadi lambat dan mengalir indah. Tepat untuk sebuah dansa romantis. Semua orang seketika mencari pasangan untuk berdansa. Tak jauh dari mereka juga sudah turut bergabung, Naruto bersama Hinata, Tenten bersama Neji, bahkan Shikamaru juga sudah berdansa dengan Temari. Gaara dan Kiba tak terlihat.
Sasuke mengenggam tangan Sakura dengan erat, sementara tangan yang satunya melingkar di pinggang langsing milik Sakura. Alunan musik seolah mengalir mengikuti setiap gerakan tubuh mereka. Ke kiri, ke kanan lalu berputar.
Selama berdansa mata Sasuke dan Sakura tak saling lepas memandang. Mereka seolah hanyut kedalam mata satu sama lain. Setiap sentuhan yang Sakura dapat dari Sasuke seperti memberi getaran-getaran halus menuju jantungnya. Begitu pula sebaliknya.
Dan waktu terasa terhenti untuk mereka sendiri…
.
"Kau mau aku ambilkan minum?" tanya Sasuke pada Sakura yang sedang beristirahat. Mereka sedang duduk di tempat Sasuke sebelum berdansa. Sebenarnya tak satu pun diantara mereka yang merasa lelah setelah berdansa, malah serasa tidak mau berhenti. Hanya saja, lagu romantis tadi sudah berganti dengan yang lebih cepat iramanya.
"Jika kau tak keberatan saja." Kata Sakura dengan senyum di wajahnya.
Sasuke berdiri tanpa aba-aba. "Hn. Tentu saja tidak keberatan" katanya lalu berjalan menuju meja saji.
Pesta semakin meriah ketika malam semakin larut. Sebuah pesta untuk kawasan ini memang termasuk hal yang langka. Di peternakan atau tempat sekitarnya memang dipenuhi oleh penduduk yang workaholic. Tak ayal jika pesta tahunan ini menjadi 'balas dendam'. Biasanya pesta ini bisa menjadi pesta semalam suntuk.
Sasuke mengambil dua gelas soft-drink dari meja saji. Kemudian berbalik untuk menyerahkannya pada Sakura saat seseorang menabraknya dan sukses menumpahkan minuman itu ke tubuh dan pakaiannya. "…Hei, kau tak punya mata atau bagaimana?" kata Sasuke kesal. Ia membersihkan bajunya dari minuman berwarna itu dengan sapuan tangannya.
"Maaf… aku terburu-buru dan tidak melihatmu." Suara orang yang menabraknya.
Sasuke menatap tajam pada pemuda itu. Yah, pemuda… tampaknya pemuda itu masih sebaya dengan Sasuke. Postur tubuhnya hampir sama dengan Sasuke, mulai tinggi, warna kulit, dan lainnya. Rambut hitam lurus membingkai wajahnya.
'Setidaknya model rambutnya berbeda.' Pikir Sasuke yang mengamati persamaan di antara mereka. '…dan lagi, aku tidak mungkin tersenyum aneh sepertinya.' Tambahnya.
Sasuke berjalan memutar arah menuju toilet tanpa menghiraukan pemuda tadi. Ia harus membersihkan pakaiannya yang kotor. Ia tidak mungkin menemui Sakura dengan pakaian kotor, berantakan dan basah seperti ini.
"Sialan." Kesal Sasuke. Ia masih berusaha membersihkan pakaiannya yang kotor dengan bantuan air yang mengalir dari keran wastafel. Setidaknya usahanya tidak sia-sia, nodanya sudah berkurang walau masih bersisa.
Setelah selesai dengan urusannya, ia kembali ke meja saji untuk mengganti dua gelas yang tadi tumpah. Lalu mengantarkannya untuk Sakura. Sepertinya ia harus meminta maaf untuk waktu yang begitu lama untuk sekedar mengambil minuman.
"Sakura, ini minu…" kata-kata Sasuke terhenti. Seketika kesal memenuhi hatinya. Ia melihat Sakura duduk berdampingan dengan seorang pemuda. Ia sedang meminum minuman yang sepertinya diberikan oleh pemuda itu. Dan parahnya, pemuda itu adalah pemuda yang tadi menabraknya.
"Sasuke, kenapa lama seka-"
"Sepertinya kau sudah tak membutuhkannya." Potong Sasuke. Tak memperdulikan Sakura, Sasuke berjalan berbalik dari hadapan mereka setelah meneguk habis dua gelas minuman yang dibawanya. Dan pesta sudah berakhir baginya…
.
Matahari menelusup masuk melalui kusen jendela sebuah kamar dan sukses membuat sang pemilk kamar terbangun akibat sinarnya yang menyilaukan.
Sasuke perlahan membuka kelopak matanya yang masih terasa berat. Menggosokkan jarinya disana, hingga matanya merasa telah beradaptasi dengan penerangan di kamarnya. Kemudian bangun dan duduk di tempat tidurnya. Pandangannya langsung mengarah ke jam dinding. Tidak biasanya ia bangun sesiang ini. Apalagi, suasana kamar saat ini sudah kosong. Bahkan Naruto –yang biasanya paling telat—sudah tidak ada di tempat tidurnya.
Pikirannya kembali berputar ke peristiwa semalam. Perlahan terkumpul, hingga ia berhasil mengingat semuanya lagi. 'Ah, pesta semalam…' ia mengingat setiap detail pesta itu. Detail waktu yang dihabiskannya bersama Sakura. Dan berakhir dengan kekacauan yang di akibatkan pria brengsek yang menabraknya semalam.
Sasuke terus menebak-nebak siapa pria itu. Bagaimana bisa dia berada di tengah pesta, padahal seingat Sasuke, pria itu bukanlah salah satu peserta. Bagaimana bisa pria itu dengan kebetulan—atau bukan—menabrak dan menumpahkan minuman di pakaiannya. Dan lagi berakhir dengan bagaimana bisa pria itu mengenal dan mengobrol akrab dengan Sakura.
'Menyebalkan.' Gerutu Sasuke dalam hati. Bosan dengan pikiran-pikirannya, Sasuke melangkah ke kamar mandi untuk memulai aktivitas paginya. Mandi…
Ia membuka seluruh pakaian yang melekat di tubuhnya. Ia baru tersadar, kalau semalam ia lupa berganti pakaian ke piama, dan semalaman tidur dengan pakaian pestanya. Kemudian meraih handuk yang tergantung di jemuran dan melilitkannya di sekeliling pinggangnya, lalu bergegas masuk ke kamar mandi.
Guyuran air dingin langsung menyegarkan tubuh dan pikirannya. Terutama pikirannya yang sempat sedikit tidak waras. Ia kemudian tersadar, bagaimana bisa ia merasa tidak enak hati begini hanya gara-gara Sakura mengobrol dengan pria asing. Emangnya apa hubungannya dengan Sakura. Merekakan hanya berteman. Walau memang, mereka telah pernah melakukan 'kau-tahu-apa', mereka sama sekali belum jadian secara resmi. Dan Sasuke rasa, 'peristiwa' malam itu hanya karena terbawa suasana.
Sasuke meremas pelan rambutnya karena frustasi. Ia bingung harus bagaimana sekarang. Mana mungkin ia keluar menemui Sakura seolah tidak terjadi apa-apa. Mana mungkin juga ia keluar dengan pura-pura marah pada Sakura, sementara ia tidak mungkin tidak makan seharian.
Sasuke harus mengakui kalau semalam ia memang merasa err-cemburu. Ia merasa tidak rela jika Sakura menatap mata onyx pria lain, kecuali punyanya. Ia tidak rela jika Sakura memperdengarkan suara indahnya kecuali padanya. Ia tidak rela, orang lain menyentuh sedikitpun kulit Sakura. Sakura miliknya. –ralat, Sakura sebentar lagi menjadi miliknya.
Sasuke menyelesaikan mandinya dengan cepat. Ia telah mantap dengan keputusannya. Secepatnya ia akan menembak Sakura, karena dengan begitu Sakura resmi jadi pacarnya dan ia berhak marah jika Sakura dekat dengan pria lain. Lagipula, ia juga yakin Sakura juga suka padanya. Tidak ada yang bisa menolak pesona seorang Sasuke…
.
Sasuke menjalani pekerjaan sehari-harinya dengan lebih bersemangat hari ini. Bukan karena sarapan special dari Sakura pagi tadi, tapi lebih kepada pemasaknya. Sikap Sakura tetap biasa kepadanya, tidak marah atau merasa bersalah padanya. Walau terlihat canggung saat bertukar "selamat pagi." Sasuke senang dengan sikap Sakura, karena dengan begitu akan lebih mudah dalam proses 'penembakan'. Hanya tinggal mencari waktu yang tepat.
Hari ini, begitu ada kesempatan, Sasuke akan segera menyatakan perasaannya pada Sakura…
Itulah kenapa Sasuke merasa lebih ringan dan bersemangat dalam pekerjaannya di peternakan pagi ini. Ia tidak risih atau ragu atau takut untuk misinya itu. Tidak untuk pria se-pede Sasuke. Ia yakin Sakura akan menerimanya.
Saat makan siang tiba, Sasuke sudah siap kembali ke rumah untuk makan siang dan bertemu Sakura tentunya. Pekerjaannya sudah selesai sejak tadi. Ia terlalu bersemangat untuk sekedar mengangkut jerami untuk makan ayam, dan memerah susu sapi. Semua selesai dengan cepat dan tuntas.
Sasuke sampai di rumah lebih dulu, disusul Neji, Gaara, Naruto, Shikamaru dan Kiba. Hari ini tak ada yang makan siang di luar rumah. Semua karena Kakashi yang meminta. Sepertinya ada sesuatu hal yang ingin disampaikan Kakashi pada mereka. Sesuatu yang penting. Sasuke berharap kali ini bukan permintaan yang aneh-aneh lagi, seperti menjadi peserta festival lainnya. Mudah-mudahan…
Sakura menyajikan menu makan siang kami hari ini, setelah kami telah selesai mencuci tangan dan duduk di meja makan. Semua lengkap.
Sasuke menikmati makan siangnya dengan biasa. Sesekali mencuri pandang ke Sakura. Dan tak jarang mata mereka bertemu beberapa detik kemudian keduanya tertunduk lagi. Penghuni meja makan yang lain hanya menikmati tingkah aneh dan penuh cinta ala remaja. Dan Sasuke atau Sakura sama sekali tak merasa risih akan tingkah mereka itu.
"Ehm- Saya ingin memberitahukan sesuatu pada kalian.!" Kata Kakashi memulai perbincangan. Yang lain mulai menghentikan suapan mereka.
"Sebenarnya, ini sesuatu yang penting karena perintah langsung dari Tuan Jiraiya."
Kakashi memberi jeda, sementara yang lain mulai saling melempar pandang penasaran dan bingung. Sudah lama Opa mereka itu tidak menginformasikan sesuatu. Pastinya yang satu ini pasti sesuatu yang penting.
"Tuan Jiraiya, baru memberitahukan kalau ada seorang cucunya lagi selain kalian. Dan sebentar lagi akan bergabung disini, dan ikut dalam tantangan 100 M itu." Kata Kakashi, sukses membuat yang lain terkejut dan melongo.
Sasuke dan lima lainnya juga Sakura, tidak menyangka akan hal ini. Bagaimana bisa masih ada sepupu mereka lagi yang masih ketinggalan dan baru bergabung setelah mereka hampir menjalani masa-masa tantangan selama tiga bulan. Yang benar saja, dimana adilnya?
"Kenapa dia baru bergabung sekarang?" tanya Neji dingin. Nada bicarnya datar, namun semua yang mendengar pasti bisa merasa kekesalan dan kemarahan di dalamnya. Sama seperti yang lain.
"Bukan karena, tidak adil atau apa. Cucu yang satu ini sedikit sulit dilacak oleh Tuan Jiraiya. Ia berhasil ditemukan beberapa hari yang lalu. Ayahnya memang sempat tinggal di Itali, dan disanalah ia ditemukan." Kata Kakashi menjelaskan.
Neji dan yang lain masih berusaha mencerna semua penjelasan Kakashi. Lebih tepatnya, berusaha menerima alasan yang dijelaskan Kakashi. Mereka tetap saja merasa ini tidak adil. Masa kerja mereka tidak sama dengan 'orang itu' dan mereka menerima bagian harta yang sama.
"Ini perintah langsung dari Tuan Jiraiya, dan siang ini juga pemuda ini akan datang." Ujar Kakashi menutup penjelasannya dan melanjutkan makan lagi.
Sekarang nafsu makan Sasuke, dan yang lain hilang seketika. Semua sibuk bergelut dengan pikiran masing-masing. Dan hanya mengaduk-aduk makanan di piring mereka. Apa yang ada dipikiran mereka kurang lebih sama. Mengenai 'pendatang baru' itu.
Dan beberapa saat kemudian, bel rumah berbunyi…
Sakura berdiri dan berjalan menuju pintu depan untuk membukanya. Sementara yang lain mengamati dengan sedikit menuggu penasaran. Penasaran dengan pendatang baru itu.
Cukup lama Sakura pergi jika hanya untuk membukakan pintu saja. Sasuke dan yang lain sempat mendengar suara Sakura yang sedang berbincang dengan seseorang. Sayangnya hanya terdengar samar-samar dari ruang ini.
Suara langkah terdengar mendekati ruang makan. Dan masuklah Sakura dan seseorang yang berjalan di belakangnya. Pemuda berambut hitam lurus sebahu, yang mirip dengan Sasuke. Mengenakan jaket kulit berwarna hitam dan tas olahraga yang tertenteng di punggungnya.
Pemuda yang sudah dikenal Sakura dan tidak asing lagi untuk Sasuke…
Sasuke berdiri dari tempat duduknya dan menjatuhkan sendoknya—saking kagetnya. Lidahnya terasa kelu, dan perasaannya jadi tidak enak. 'Kenapa harus dia?' Tanya Sasuke dalam hati. "Kau—" kata Sasuke sambil menatap tajam. Alih-alih membalas tatapan tajam, pemuda itu hanya tersenyum pada seluruh orang di ruangan itu.
"Perkenalkan, saya Sai—"
To be continue…
A/N
Maafkan saya… #sujud-sujud. Saya baru update sekarang setelah hampir dua bulan menelantarkan fict ini. Bukan apa-apa, seharusnya saya sudah—hampir—mengupdatenya dari bulan lalu, tapi ada kendala berupa hilangnya file ini dari Lappie saya, dan sekarang masih menjadi misteri kemana file itu #plak, jadi saya harus membuat ulang… #alasan
Dan mengenai tamatnya kapan, sepertinya harus saya tunda, karena fict ini saya lihat masih banyak konflik yang bisa diangkat. Dan lagi masalah update, readers harus bisa memaklumi karena tidak seluruh bagian bumi di selimuti jaringan internet.
Yasudah, dan maaf sekali lagi. Untuk itu saya akan mengupdate chapter selanjutnya—yang sebenarnya sudah saya ketik—secepatnya. Tinggal menunggu review dari para readers. Saya ragu, apa masih ada yang menunggu kelanjutan cerita ini. Atau mungkin malah sudah pada lupa sama ff ini. Atau mungkin malah sudah pada lupa sama saya. #pundung
Saya sudah banyak omong nh. Akhir kata, REVIEW please! ARIGATOU GOZAIMASU!
