Akhirnya, chapter ke-2 udah ke-update... Di sini, para Goldies mulai(ato mungkin harus ya?) nyambungin flashdisk mereka. Alias muter otak mereka. Tolong di review, ya..
Regulus: Edan suwe-suwe kon!
Astarea: Ngenyek kon...! Aku emang dari dulu wis edan!
Regulus: Athena.. Tolong ampunilah segala dosa seniorku satu ini...
Astarea: MUAHAHAHAHA!(biar mampus loe pada)
Kardia dan Regulus memanggil teman-teman mereka. Dan setelah mereka berkumpul, Kardia dan Regulus menceritakan tentang teror chatting dan perumpamaan yang cukup membingungkan dari si pengirim misterius. Tak lama kemudian, mereka mendapatkan pesan baru.
...
...
...
Gold Saint, apakah kalian tidak menyadari akan sesuatu hal? Tidak menyadari akan sesuatu hal yang menghilang? Kuberi tahu kalian, ya.. Aku telah mendapatkan bunga lavender kalian. Dan bila kalian ingin bunga ini tetap hidup, kalian harus memberikanku emas 12 karat. Hidup bunga ini tergantung pada kalian..
...
...
...
"Aneh".
"Aneh apanya, Manigoldo?", tanya Goldies lain secara serempak.
"Ya..."
Para Goldies tak sabar mendengarkan jawaban Manigoldo.
"Ya... Aneh aja pokoknya.."
GUBRAK
"Aku kira kamu ngerti maksudnya...?", sahut Aldebaran(Hasgardo) jengkel.
"Tapi.. yang dikatakan Manigoldo benar juga". Sang Saint Virgo angkat bicara.
"Aku setuju dengan Asmita". "Pesan yang diterima Regulus dan Kardia merupakan suatu perumpamaan".
"Jadi maksudmu, si pengirim itu membuat teka-teki yang harus kita pecahkan. Dan ia menggunakan permainan kata-kata. Benarkan Degel?".
"Tepat sekali, Albafica".
"Tapi yang jadi masalah, si pengirim tidak mencantumkan namanya..", sahut Regulus. "Seandainya kita bisa tahu di mana tempat bedebah itu berada...?"
"Itu dia jawabannya(atau lebih tepatnya baru ingat ya?)..! Kata Kanon, kita bisa tau tempat si pengirim itu berada".
"Terus... kita cari pakai apa?", tanya El Cid.
"I.. i... apa gitu. Aku lupa".
"Kalo gitu telpon Kanon aja..", sahut Sisyphus.
"Iya. Tunggu bentar ya.."
Defteros mengeluarkan hp-nya dan mencari nomor telpon Kanon di buku telponnya. Setelah menemukan, ia mencoba menghubungi Kanon. Namun...
"Yah... Aku lupa. Masa aktifku udah habis dan aku belum beli pulsa.."
"Lah? Terus gimana donk?"
"Nih.. Pake hp-ku aja. Pulsanya masih banyak", sahut Asmita.
"Hah? Kamu punya hp, Asmita? Nggak salah denger ta aku? Kamu kan paling anti dengan barang yang bersifat keduniawian?"
"Kenapa? Nggak boleh ta? Ini Shaka sendiri yang ngasih ke aku. Katanya biar aku nggak gaptek".
"Bener juga apa yang dikatakan Shaka. Kamu kan kerjaanya meditasi mulu. Nggak pernah keluar kuil", ledek Manigoldo.
Asmita sudah siap-siap membuka matanya dan mengeluarkan laser beam-nya.
"Hush! Masalah gini doank diributkan! Manigoldo, tolong kunci mulutmu!", sahut Sisyphus.
"Nggak bisa.. Aku nggak punya kuncinya.."
"Ooo... Nggak punya, ya? Aldebaran...!"
"Siap!"
KRET
CEPT
"Nih... Gini aja kok repot".
"Mmmm... Mmmmm". Kalian bisa nebak kan, apa yang dilakuin Aldebaran ke Manigoldo? Yup! Mulutnya Manigoldo di lakban..!
"Udahlah kalian itu... Ribut aja! Aku mau telpon Kanon dulu. Diem! Nggak ada yang boleh bersuara!". Kalo marah serem juga ya, si Defteros..
TUT.. TUT..
"Halo. Kanon? Aku mau nanya nih. Gimana caranya nyari tau tempat orang yang ngirim pesan lewat laptop... Aduh! Yang kamu pernah kasih tau aku itu loh.. I.. I.. apa itu, loh..? Masalahnya aku lupa namanya.. Ooo.. hhmm.. he'em.. he'em.. he'em.. he'em.. Ok deh. Hah? Nggak.. nggak ada apa-apa kok. Ya udah deh. Thanks ya".
PIP
"Nih Asmita. Thanks yo".
"Hhhmmm".
"Jadi.. gimana?"
"Gimana apanya?". Aduh..! Si Defteros ini telmi 'ta lemot 'ta kesantet?
"Ya nyari tau tempat si pengirim ntu...!"
"Ooo.. Gini.. Aku tunjukkin".
Defteros mengambil alih laptop dan mulai mengutak-atik laptop tersebut sesuai dengan petunjuk Kanon(emangnya pesawat apa? kok pake ambil alih..?).
"Weh? Panjang banget ni nomor...? Apa'an lagi nih?", celoteh Kardia.
"Ini yang namanya IP address..?", sahut Degel. "Dan kayaknya si pengirim berada di abad ini dan tempatnya nggak jauh dari sini".
"Ok. Kalo gitu, kita udah dapet petunjuk pertamanya. Dan nggak usah susah-susah travel ke zamannya inkarnasi kita", sahut Regulus.
"Dan sekarang kita serahin sisanya ke Degel".
"Kenapa harus aku?"
"Karena kamu yang otaknya paling ting-ting dari antara kita".
"Setuju Albafica! Degel ka, kayak kamus berjalan.."
"Iya deh.. Aku coba pecahin teka-teki si pengirim itu. Asmita... Sisyphus... Kalian bisa bantu aku kan?"
"Sip lah..."
"Hhhmmm...". Ampun deh..! Asmita emang ngirit dalam hal apa pun.. Termasuk dalam perkataan.
"Dan kalian jagain ntu laptop. Kalo si pengirim mengirim sesuatu, beritahu kami. Kami ada di kuil Aquarius".
"Ok, bos!", jawab Goldies lainnya secara serempak.
"Dan kunci mulut Manigoldo boleh di lepas".
"Mmm.. Mmm.. Mmm... Mmm.." * artinya: Yey.. yey.. yey.. yey..(kayak suaranya Upin & Ipin ntu loh..).
BRET
"Aih! Kasar banget kamu, Aldebaran! Sakit nih pipi dan mulutku..!"
"Hehehe.. Biar tau rasa kamu.."
"Asmita, Sisyphus, ayo cabut".
"Ehm".
~BERSAMBUNG~
Chapter selanjutnya: Goldies Muter Otak. Silahkan ditebak siapa pengirim misterius tersebut... And chapter selanjutnya ini, kayaknya bakalan lama nge-updatenya.. Masih nyari inspirasi masalahnya..
Regulus: Kamu udah sadar?
Astarea: Sadar dari apa? Dari tadi kan aku udah sadar..
Regulus: Udah waras, maksud saya?
Astarea: Udah.. Tenang ae.. 'Nti bakalan gila lagi kok..
Regulus: AAMMPPUUNN!
