ASSALAMUALAIKUM dan salam sejahtera! :D

Akhirnya saia bikin yang chapter dua juga. Saia sendiri juga udah gak sabaran mau bikin. Keburu ide-ide saia yang sudah saia susun dengan baik hilang begitu saja dari kepala saia *lebay*

Puasa-puasa… perut keroncongan. Tapi tetap semangat buat fic dund! Apalagi, sekolah pulang gasik. Jadi bisa pake komputer lebih lama :D. Sambil mendengarkan musik dari komputer, tangan saia memainkan tuts keyboard dan mulai mengetik kalimat satu per satu. *halah!*

Di chapter kedua ini, saya mau berterimakasih kepada:

Arashiyama: hya! ^^ adekku yang manis… jangan bayang-bayangin Alois n Ciel kayak Rose n Jack duong. G ada samanya samasekali (nyaiyalah!). oh! Iya juga. Namanya mungkin gitu. Tapi nama umumnya lagi aku g tahu. Aku lihat dari wikipedia g dicantumin nama pelabuhannya. Cuma New York City doang. Ya udah aku tulis gitu ajah. :D

Makasih kumennya yah. ^^

Sara Hikari: urya! Hamsahamnida! Arigato! Thank you! Makasih udah kumen! Uke, uke. Silahkan. :D. semoga km tetep suka sama ceritaku. Hehe :D

.

Oke. Seperti biasa saia mau mengingatkan. Cerita ini terinspirasi dari film kesayangan saia, atau juga film kesayangan adik saia. Saia sih, cuma ikut-ikut lihat doang.

TITANIC.

Dengan peran pengganti Jack dan Rose jadi Ciel dan Alois. :D. Tapi harap diingat! Di cerita ini tidak ada yang namanya percintaan seperti di film aslinya. Yang ada hanya P.E.R.S.A.H.A.B.A.T.A.N.

Wokeey, mari kita mulai ceritanya *buka buku dongeng* apa? Bukan dongeng? Oh, maaf. Saya salah.

Disclaimer: Kuroshitsuji itu punya sodara jauh saia, Yana Toboso. Film Titanic punya sutradara James Cameron, sodara jaauuh saia juga.

Genre: Friendship, Tragedy.

Summary: "Hidup sebagai seorang bangsawan adalah neraka bagiku. Hidup serba diatur. Ini itu semua dilarang. Harus menaati tata krama konyol yang begitu menyesakkan. Aku menginginkan kebebasan. Kebebasan yang benar-benar bebas. Persetan dengan yang namanya aturan!"

Okay! Enjoy this story… ^^


Without Words, We Are Meet

Chap. 2: Second Meet

.

.

.

11 April 1912, pukul 09.00 am, waktu kapal

Ciel Phantomhive terlihat sedang duduk-duduk di bangku dek atas. Matanya meandangi pemandangan laut di pagi hari. Udara segar membelai helai rambut kelabunya. Sinar matahari mulai membakar kulitnya.

Pagi ini, banyak para penumpang dari berbagai kalangan berkumpul di dek ini untuk menikmati suasana laut dari atas kapal impian ini. Suara gemericik air laut terdengar merdu. Dipadupadankan suara burung laut yang berkoak-koak, berlomba-lomba terbang paling tinggi dan berlomba-lomba berburu ikan. Sungguh suasana pagi yang semarak.

Ciel membalikkan halaman demi halaman buku gambarnya, mencari halaman yang masih kosong. Ia mengeluarkan pensil dari sakunya dan segera terpaku pada satu titik. Mata biru sebiru samudera itu menatap sepasang Ayah dan Anak yang tengah melihat pemandngan laut sambil bersenda gurau. Ciel nampak tersenyum kecil. Perlahan, ia mulai menggoreskan pensilnya di atas kertas buku gambarnya membentuk sebuah garis, dua garis, dan seterusnya. Matanya menatap model lukisan tidak langsungnya itu dan kertas gambarnya secara bergantian dengan pandangan yang serius.

Dari kecil, Ciel sudah gemar melukis. Baik dengan media pensil, maupun dengan cat. Ibunya selalu memuji lukisannya. Tapi sudah lama ini tidak. Terkadang, sesak membabi buta menyerang perasaannya. Sejak empat tahun lalu, lukisannya terus bertambah dan bertambah di manor housenya. Beberapa dari mereka dipajang dengan bagusnya di kamarnya, di ruang makan, bahkan di ruang tamu sekalipun. Selama empat tahun itu, tak ada pujian dari sang Ibu satupun yang ia dengar.

Sejak ia diasuh oleh sang Bibi, ia jadi jarang melukis lagi. Sebagai kepala keluarga Phantomhive, ia harus ekstra kerja keras sebagai pesuruh rahasia Ratu. Ia mendapat julukan Anjing Penjaga Ratu. Hidupnya jadi serba sibuk dan ekstra ketat dengan peraturan seiringnya bertambah umur. Ia sudah berkali-kali mengutarakan pendapatnya atas peraturan dari sang Bibi yang kadang suka ikut campur dan terlalu otoriter. Hei! Tidakkah kau sadar? Aku ini sudah bukan anak kecil lagi! Ia terus menjerit begitu dalam hati.

Semenjak itu, sekalipun ada waktu luang, ia pasti menghabiskannya dengan melukis. Entah melukis apa. Pokoknya apa saja yang ia temui. Walaupun terkadang ia harus main kucing-kucingan dengan Bibinya. Tapi, ia menikmatinya, kok.

Mata birunya terus memandangi model lukisannya dan kertas gambar secara bergatian. Tangannya bergerak dengan sigap, menciptakan berbagai goresan yang akhirnya membentuk sebuah bentukan dari apa yang ia lihat. Nyaris persis dan begitu elegan. Setelah selesai sketsa, ia pun beriniat untuk mengarsirnya. Ia pandai mengarsir sesuai letak cahaya. Hingga terlihat seperti aslinya, walaupun dalam warna hitam putih. Ciel pun menghela napas puas.

.

.

Alois Trancy barusaja selesai sarapan pagi bersama Pamannya di restoran yang terletak di dek kedua dari atas. Setelah selesai, ia segera keluar dan naik ke dek paling atas. Belum puas, ia pun naik sampai ke dek khusus Kapten dari kapal ini sendiri. Itu adalah tempat tertinggi kedua setelah menara pengamat. Dari atas situ, ia bisa merasakan angin bertipu kencang, melambai-lambaikan rambut pirang dan jubah ungunya. Alois ber wah ria dan merentangkan kedua tangannya seakan menikmati setiap hembusan angin pagi yang menerpa tubh tinggi rampingnya itu.

"Oh? Bukankah anda… Earl Alois Trancy?" panggil seseorang dari belakang. Mendengar itu, Alois segera menoleh.

"Ah! Kapten Smith!" serunya girang sambil menghambur kearah sang kapten kapal, Edward J Smith.

"Bagaimana kabarmu, Earl?" tanya kapten Smith sambil tersenyum bijak.

"Aku baik-baik saja. Sudah lama kita tidak berjumpa." Suara Alois terdengar cemerlang pagi ini. "Ngomong-ngomong, kapal ini hebat sekali!"

"Benarkah?"

"Benar! Dengan Kapten Smith yang memimpin di sini, kapal ini benar-benar hidup! Kapal ini begitu mewah!" Alois terlihat senang dan segera berlari menuju pinggir dek khusus ini untuk merasakan hembusan angin kembali. Kapten Edward hanya tersenyum puas melihat Alois gembira. Alois mengambil napas panjang dan membuangnya dalam satu kali hembusan. Ia membulatkan kedua mata biru langitnya dan tersenyum puas.

Alois mengedarkan pandangan kesegala arah. Ia mendapati orang-orang bersuka cita pagi ini. ada yang sedang berlari-larian, bercengkerama, berjemur, bersenda gurau di pinggir dek, dan melukis.

Malihat itu, Alois terpaku sejenak. Mata bulatnya mengerjap-ngerjap. Ia mendapati seorang pemuda berambut kelabu pekat berpakaian serba warna hijau limau sedang duduk tenang di atas sebuah bangku. Ia terlihat serius mengamati sesuatu, dan sibuk menyoret-nyoret sebuah kertas buku. Samar, Alois melihat sebuah lukisan yang hampir jadi terpampang di sana.

Anak itu! Batinnya antusias. Ia… bisa melukis…?

Melihat itu, Alois segera turun dan berniat untuk menyapa. Alois segera mengambil langkah besar-besar dan menuruni tangga turun menuju dek dimana anak itu berada. Akibat langkahnya yang besar-besar, bagian bawah jubahnya terlihat tersentak-sentak dan berlekebat tertiup angin.

Setelah sampai di dek tersebut, ia melambatkan langkah. Ia melihat anak itu, Ciel Phantomhive sedang duduk tak jauh darinya. Ia menatapnya ringan. Ciel masih sibuk berkutat dengan buku gambar dan pensilnya. Alois melangkahkan kakinya menuju tempat duduk Ciel. Setelah dekat, ia pun menyapanya.

"Hm… kau ternyata suka melukis, ya?" sapanya yang berdiri di samping Ciel sambil sedikit membungkuk.

Ciel tercekat. Hampir saja goresan pensilnya menyimpang alias kecoret. Ya… apalah itu. Ia pun menoleh cepat ke samping.

"Ka-kau!" serunya terkejut. Alois hanya cengengesan sambil melambai.

"Hai. Kita bertemu lagi rupanya." Alois pun mengambil posisi duduk di samping Ciel. Matanya mengamati setiap goresan pensil yang dihasilkan oleh tangan Ciel.

"Bagus sekali lukisanmu. Aku tidak tahu kalau kau ternyata gemar melukis." Kata Alois kagum. Mendengar pujian itu, wajah Ciel merona merah. Ia terlihat sedikit salting. Tapi, ia berusaha cuek dan kembali melanjutkan lukisannya yang sedikiiit lagi selesai itu.

Alois terdiam memperhatikan setiap gerak gerik tangan Ciel yang sibuk menggoreskan pensil di sana sini. Ia juga memperhatikan mata biru tua Ciel yang terlihat tajam dan serius itu. Tak berapa lama kemudian, lukisan pun jadi. Ciel menyawang lukisannya itu dengan puas. Di sebelahnya, Alois Cuma bisa melongo. Gila! Bagus sekali lukisannya! Mirip seperti aslinya! Kira-kira begitu, lah, pikirnya.

"Cepat sekali kau melukisnya. Kau pandai, ya." Puji Alois lagi.

"Terimakasih. Tapi… tidak usah sampai segitunya memandangi lukisanku." Kata Ciel datar sambil menutup buku gambarnya.

"Ah! Kenapa ditutup? Aku, kan belum selesai lihat." Protes Alois seperti anak kecil.

Ciel hanya terdiam. agak cengo juga, sih, sebenarnya.

"Hei… aku boleh lihat, ya… aku mohon…" katanya ambil menyambar buku gambar Ciel. Wah! Dasar emang itu anak.

"Wah! Apa yang kau lakukan!" Ciel tercekat karena tiba-tiba bukunya disambar dan langsung di buka-buka oleh Alois. Tapi, Ciel tidak melarang anak itu melihat, kok. Kalau mau lihat, lihat saja. Ciel hanya mendengus.

Alois membuka lembar demi lembar buku bersampul putih tersebut. Matanya jelalatan melihat lukisan di setiap ahalaman buku itu. Tak sungkan-sungkan juga dia ber oh ria dan ber wah ria memandangi setiap lukisan Ciel. Mata biru mudanya membulat kagum. Lukisan yang sebenarnya hanya lukisan benda-benda yang mungkin hanya biasa dilihat itu, setelah di daur ulang oleh tangan Ciel, seakan-akan lukisan itu benar-benar jadi hidup. Kamar Ciel di kapal megah ini menjadi benar-benar hidup setelah ia lukis ulang di buku ini. Arsirannya tepat dan elegan. Apapun benda atau pemandangan yang sangat biasa itu setelah Ciel melukisnya, jadi terlihat benar-benar wah.

Tidak hanya lukisan berbagai ruangan, di buku itu juga terdapat lukisan pemandangan alam, taman, dan sebagainya. Alois sampai kehilangan kata-kata untuk memuji apa lagi.

"Aku tidak percaya ini semua. Tanganmu seperti tangan Dewa saja!" katanya kagum sambil menutup buku gambar Ciel. Ciel segera mengambil bukunya.

"Yah… banyak orang berkata begitu." Jawab Ciel. Alois menatapnya kosong. Entah kenapa, nada bicara anak ini seperti tidak ada kenikmatan sama sekali duduk di atas kapal ini. Sifatnya sedikit tertutup dan dingin. Hanya saja disaat-saat tertentu, ia menjadi gusar seperti waktu malam itu. Alois menyelami mata biru sapphire Ciel yang redup itu. Mata yang memancarkan berbagai keprotesan dan kesepian. Apakah…

"M… aku… boleh bertanya sesuatu?" nada Alois yang sedari tadi terdengar riang dan begitu ringan, sekarang menjadi sedikit lembut. Pemuda berparas imut di hadapannya itu pun menoleh penuh rasa penasaran.

"Ya?" tanya Ciel.

Alois sebenarnya agak tidak sampai hati menanyakannya. Tapi, hatinya terus terdorong untuk segera mengatakannya. "M… aku lihat… kau sepertinya sangat menderita dan kesepian. Dan malam itu… kenapa kau mencoba untuk bunuh diri di buritan?"

Ciel membelalakan matanya. Ia menatap sosok di sebelahnya itu dengan tatapan nanar. Ia pun segera memalingkan pandangan. Alois yang melihatnya segera merasa agak bersalah. Bagaimana tidak. Anak bermata biru tua itu kini tertunduk. Wajahnya terhalang oleh poni rambutnya yang jatuh kedepan. Matanya menyipit penuh kepedihan. Tubuhnya bergetar. Kedua tangannya meremat pinggiran buku gambarnya hingga nyaris lecek. Ia menggigit bagian bawah bibirnya.

Alois menatapnya dengan tatapan serbasalah. Ia bisa menyadari ekspresinya kini. Ia tahu ia jarang menampakan ekspresi seperti ini. Tapi seketika itu, ia tercekat melihat Ciel menyentakkan kepalanya, menatap lurus laut lepas di depannya. Ia mengambil napas dan mehembuskannya perlahan.

"Itu karena aku menginginkan sebuah kebebasan." Katanya.

Alois menicingkan kedua matanya. "Kebebasan?"

Ciel menoleh menatap Alois. Tatapannya redup, tapi tajam.

Melihat itu, Alois sempat tersentak. Ciel memalingkan pandangannya kearah lain.

"Hidup sebagai seorang bangsawan adalah neraka bagiku. Hidup serba diatur. Ini itu semua dilarang. Harus menaati tata krama konyol yang begitu menyesakkan. Aku menginginkan kebebasan. Kebebasan yang benar-benar bebas. Persetan dengan yang namanya aturan!" kata Ciel dengan penuh kebencian.

Alois ternganga mendengarnya. Terdengarlah lagi beberapa ekor burung laut berkoak-koak di atas mereka.

"Dari aku berumur 10 tahun, Ibuku meninggal karena dibunuh. Beberapa hari setelah kepergian Ibu, manor houseku dibakar, dan Ayahku meninggal ditempat kejadian. Hampir 80 persen identitas Ayahku tidak bisa diketahui." Ciel berkata dengan nada tertahan, penuh dendam. "Tinggalah aku yang satu-satunya selamat dari malapetaka itu. Aku pun akhirnya diasuh oleh Bibiku, Bibi Angelina. Mau tidak mau, aku harus meneruskan impian orantuaku. Aku harus kembali mengembalikan nama baik keluargaku… dengan usiaku yang masih sangat belia ini…" kata Ciel menerawang.

"Sungguh berat rasanya." Ciel tersenyum pahit.

Alois hanya bisa tertegun, juga merasa miris. Mendengar Ciel bercerita, ia merasakan tenggorokannya kering. Ia pun menelan ludah. Bukan karena takut atau semacamnya.

"Aku yang kini berstatus kepala keluarga… kebebasan adalah hal yang jauh dari jangkauan tanganku. Tugas sebagai kepala keluarga sangat membuatku tertekan. Selain itu, belum pula ditambah dengan tugasku atas pengabdian kepada Ratu. Sebagai kepala kaluarga, peraturan sangat ketat berhasil membelengguku." Ciel mendesah. Wajahnya terlihat kesal. "Seringkali aku menginginkan kebebasan walau hanya sesaat. Bibi selalu saja membebaniku dengan keotoriterannya. Ia juga menjodohkanku dengan sepupuku sendiri. Kalau boleh jujur, aku sangat merasa berat hati menjalani ini semua. Entah aku harus berniat atau tidak." Ciel terdiam.

Alois menatapnya dengan tatapan penuh arti. Perasaanya tersentuh. Entah mungkin untuk yang pertamakalinya seumur hidup.

"Andai orangtuaku tidak pergi sebegitu paginya. Mungkin masa mudaku akan terasa indah" Ciel berkata dengan nada yang lirih dan penuh penyesalan. Tapi beberapa detik kemudian, ekspresi wajahnya berubah panuh dendam. Wajahnya menjadi terlihat mengerikan.

"Aku. Ciel Phantomhive. Aku akan membalaskan dendam Ibu dan Ayahku dikemudian hari, dan akan membuat orang yang membuatku menderita juga merasakan segala penderitaanku. Aku pasti akan membalaskannya." Kata Ciel tertahan.

Alois tercekat. Matanya terbelalak. Tapi kemudian, ia merasa hatinya teriris. Ia memalingkan wajahnya kearah samping. Angin berhembus kencang melambaikan rambutnya dan dasi yang melingkar di lehernya. Alois meremat dasinya erat-erat. Ia merasa miris. Bukan miris karena kasihan. Tapi… karena kisah dari anak disebelahnya itu sedikit banyak mempunyai kemiripan dengan kisahnya. Ia terdiam agak lama. Sedangkan Ciel sibuk dengan pemikirannya sendiri.

Tapi tak lama kemudian, Alois berusaha untuk menutupi perasaannya saat itu dengan tersenyum walaupun sedikit terlihat dipaksakan.

"Begitukah? Kisahmu begitu pedih, ya." Kata Alois simpatik. Ciel menoleh. Untuk yang kesekian kalinya, mata mereka bertemu. Alois terus memasang senyumnya. Tapi dimata Ciel, senyum itu terlihat janggal. Ia merasa ada sesuatu yang pahit di balik senyuman itu. Tapi, ia tidak begitu mempedulikannya. Mungkin itu hanya perasaan saja. Sedikit demi sedikit, Ciel pun terbius dengan senyuman ramah Alois, dan bibirnya meyunggikan senyum yang sama.

"Ah!" Alois menepukkan kedua tangannya tiba-tiba. Ciel jadi tersentak.

"Heei… kau bilang, kau ingin mersakan apa itu kebebasan, bukan?" tanya Alois dengan mata berbinar-binar. Ciel mengangkat sebelah alisnya.

"Memangnya ada apa?" tanyanya penasaran.

"Kudengar, nanti malam ada sebuah pertemuan dan pesat kecil-kecilan antar bangasawan terkemuka di sini, dengan pembuat dan pendesain kapal ini." Alois menggerak-gerakkan jari telunjuknya di depan wajah Ciel. Ciel jadi sedikit memundurkan sedikit kepalanya kebelakang.

"Aku tahu pasti kau sangat merasa tersiksa terus-terusan berada di sebuah pertemuan membosankan seperti itu. Iya, kan?" Alois menatap Ciel dengan ekspresi penuh rencana nakal.

"Memangnya kenapa…" belum selesai Ciel berbicara, Alois keburu memotong.

"Ada hal yang lebih seru daripada pertemuan penuh gosip para nyonya-nyonya bangsawan otoriter itu." Alois mengangguk-angguk. "Dan itu… penuh dengan kebebasan!" Ia pun melirik kearah Ciel, menunggu reaksi Ciel.

Tak disangka, mata Ciel terbelalak. Mata biru pekatnya bergerak-gerak dan berbinar-binar.

"Benarkah itu?" tanyanya tak percaya. Alois mengangguk semangat.

"Temui aku, jam 20.00 nanti di tangga bilik umum. Sebagai gantinya, kau harus bersandiwara seolaj menikmati pertemuan dan pesta itu nanti malam. Agar kau tidak dicurigai kalau sebenarnya tujuanmu hanya utnuk menemuiku… dan pergi ketempat 'bebas' itu." Jelas Alois. "Aku juga pasti akan cari alasan yang logis untuk bisa kabur dari pesta menjijikkan itu." Alois mencibir.

Ciel mengerjap-ngerjapkan mata. "Menjijikkan katamu?"

"Hyaah… begitulah. Aku sangat tidak menyukai pertemuan macam itu. Harus pasang senyum ramah, menjaga kesopanan, dan bla, bla, bla, bla. Aku muak." Alois geleng-geleng. "Kau tahu? Aku sering kabur dari acara-acara seperti itu."

"Hah! Ka-kau ini nekat sekali!" Ciel tidak percaya.

"Aku memang terlihat usil, liar dan keras kepala. Itu juga… karena aku sangat menuntut adanya kebebasan. Sama sepertimu. Makanya aku nekat. Biarkan mereka kesal padaku. Asalkan aku mendapatkan apa yang aku mau. KEBEBASAN." Katanya.

Ciel hanya bisa geleng-geleng tidak percaya.

"Kalau kau menuntut sesuatu yang ingin segera kau dapat, kau setidaknya harus nekat untuk bisa mendapatkannya. Kalau tidak… ya… percuma saja. Mereka tak mungkin datang sendiri tanpa usaha. Benar, kan?" Alois mendekatkan wajahnya ke wajah Ciel. Itu membuat jantung Ciel seakan meloncat. Ciel merasa tidak nyaman. Ia pun memalingkan wajahnya kesamping sambil mendorong pelan tubuh Alois yang hanya berjarak beberapa senti darinya.

"Aku tahu, aku tahu! Tapi… tidak usah sedekat ini untuk memberitahuku." Protes Ciel.

"Kenapa? Kau malu…?" tanya Alois jahil.

Ciel tercekat. Ia menoleh kearah Alois dengan cepat. Ia ternagnga dan tak bisa berkata apa-apa untuk mebalasnya. Melihat tingkah Ciel itu, Alois hanya bsia tertawa lepas. Tangannya memegang perutnya yang geli. Ciel memanyunkan bibirnya kesal.

"Tidak… aku hanya bercanda." Katanya disela-sela tawanya yang mulai reda. "Oke. Aku tunggu di tangga bilik umum nanti malam." Alois menunjukkan jempolnya sambil mengerling. Ia pun bangun dari tempat duduknya, diikuti Ciel.

"Ah! tu-tunggu sebentar." Ciel mengulurkan tangannya, berusaha mencegah Alois. "Si-siapa namamu?"

Alois yang sudah berbalik dan akan beranjak meninggalkan tempat itu pun menoleh ke belakang.

"Aku…?" tanyanya sambil menunjuk diri sendiri.

Ciel menunggu jawaban dari pemuda yang lebih tinggi darinya itu. Alois pun tersenyum dan mengulurkan tangan kanannya. Ciel memandangi uluran tangan Alois sejenak dan segera menyambutnya.

"Alois Trancy. Panggil saja aku Alois…, Ciel Phantomhive."

Ciel terbelalak. Dia… tahu namanya…?

"Kau… bagaimana bisa …"

"Mengetahui namamu? Ahahaha… saat kau cerita tadi, kau sudah menyebutkan namamu. Tidak ingat?" Alois mengusap-usap kepala Ciel seperti mengusap-usap kepala adiknya sendiri.

Ciel sungguh malu dibuatnya. Astaga! Kenapa ia bisa lupa.

"Ciel. Nama yang lucu." Alois tersenyum. "Baiklah… sampai bertemu nanti malam." Alois segera berlari kecil menjauhi Ciel sambil melambai. Ciel menatap kepergian Alois hingga akhirnya…

"Ah! Iyaaa!" seru Alois dari kejauhan. "Kapan-kapan, kau lukis aku, ya!" setelah berkata demikian, Alois segera berlalu.

"Ap-apa katanya!" wajah Ciel memerah. Melukisnya? Ya-yang benar saja? Ciel tidak bisa mempercayai kata-kata anak itu barusan. Tapi kemudian, ia bisa mengatasi kekagetannya. Ia pun memandangi Alois berlari menyeruak kerumunan orang dan menghilang. Mata biru redupnya seakan merasa tenang. Anak yang unik, pikirnya. Senyumnya pun menyungging walaupun kecil.

"Alois… Trancy?" gumamnya.

.

.


Yap! Chapter 2 finished!

Mianhaeyo… maaf kalo ceritanya agak ngebosenin karena hanya terjadi di satu tempat doang. Hehe… maaf banget… DX saia janji bakal melebih baguskan cerita ini di chap selanjutnya. (Insya Allah)

Karena setelah saia pikir-pikir, ceritanya kalau disambung di chap ini akan jadi panjang sekali takut para pembaca jadi capek bacanya dan capek nurun-nurunin halaman pake tombol turun hp atau mouse komputer. Haha :D

Oke, lah. Tunggu chap selanjutnya.

Reviewnya, yah… :D

Yunoki touya ^^