Seminggu lagi lebaran! Huray!

*readers sweatdrop berjamaah*

Eheem! Maaf.

Oke! Ketemu lagi dengan saia! *lonjak-lonjak*

Chapter 3 update!

Sebelumnya, saia mau berterimakasih kepada:

Nekochan: makasih udah review, kak… he? Ciel Alois dibuat ketemu sama Jack dan Rose? Hahaha… mereka selamat atau tidaknya… tunggu kelanjutannya setelah ini. (ngikutin gayanya m.c-m.c di tv)

Nagisa: ehehehe… iya, nih. Udah saia ganti kok. Maklum. Manusia itu tempatnya salah. Makasih udah review. Semoga km suka dengan cerita saia. ^^

Disclaimer: Kuroshitsuji itu punya sodara saia, Yana Toboso. Film Titanic punya sutradara James Cameron, sodara jauh saia.

Genre: Friendship, Tragedy.

Summary: "Hidup sebagai seorang bangsawan adalah neraka bagiku. Hidup serba diatur. Ini itu semua dilarang. Harus menaati tata krama konyol yang begitu menyesakkan. Aku menginginkan kebebasan. Kebebasan yang benar-benar bebas. Persetan dengan yang namanya aturan!"

Okay! Enjoy this story… ^^

Without Words, We Are Meet

Chap. 3: Let's Get Party!

Pukul 19.30 p.m waktu kapal

Ciel Phantomhive nampak duduk-duduk menikmati hidangan lezat yang disajikan untuk para bangsawan yang mengikuti acara ini. Ruang makan sebesar restoran di atas kapal ini ramai oleh para bangsawan-bangsawan Inggris dan Amerika yang sedang berbaur dengan akrabnya. Alunan musik klasik terdengar merdu dan sesekali, gelagak tawa menyeruak.

Ciel menyungingkan senyum manis dan tulusnya kepada bangsawan-bangsawan kenalannya. Mereka duduk dalam satu meja oval yang lumayan besar, yang di tutupi taplak putih bersih, dengan beberapa hiasan buket mawar merah di atasnya, dan beberapa alat makan lainnya. Sesekali, ia tertawa bersama sang Bibi yang tak kalah tawanya. Sebenarnya, ini hanya strateginya untuk mengelabuhi para tamunya dan sang Bibi tentunya. Seorang Ciel Phantomhive bisa menikmati pesta macam ini? Itu adalah keajaiban dunia yang entah keberapa kalinya.

"Ah! Mr. Andrews. Ini adalah kapal rancangan anda yang luar biasa mewah! Kapal ini langsung dikategorikan sebagai kapal terbesar di dunia, sekaligus kapal yang TIDAK bisa tenggelam! Ini luar biasa!" kata Angelina bersemangat. Ia pun tertawa sambil menutupi mulutnya dengan punggung tangan. Seketika itu, semuanya ikut tertawa.

Ciel menatapnya datar sambil memaksakan tawa. Dasar orang-orang sombong! Rutuknya dalam hati.

"Saya tersanjung, Mrs. Angelina." Satu-satunya orang yang tidak tertawa terbahak-bahak hanyalah Mr. Andrews. Dialah yang merancang dan mendesain kapal Titanic ini dengan sebtuhan arsitekturnya yang menawan. Sifatnya tidak muluk dan rendah hati. Ciel menyukainya. Pria berumur 30an itu hanya tersenyum.

Di sudut ruangan, Arnold Trancy juga sedang berbincang-bincang dengan beberapa rekan bangsawannya. Claude, sang Butler keluarga Trancy hanya berdiri diam di belakang Arnold. Arnold sedang berbincang-bincang di sebuah meja bundar yang lebih kacil dari meja oval Ciel yang tepat berada di tengah ruangan.

"Kalian lihat Mrs. Angelina? Gayanya terlalu muluk. Aku benci dia." Kata Arnold.

"Hah… jangankan kau, Arnold! Aku pun juga. Dia adalah adik ipar dari Vincent Phantomhive bukan? Pemimpin dunia belakang, Anjing Penjaga Ratu serta pemilik perusahaan terkemuka di Inggris, yang beberapa tahun lalu dipanggil Tuhan?" tanya seorang bangsawan wanita yang tak lain adalah teman Arnold.

"Yaah… dan jangan lupa! Istrinya pun juga. Menurut berita, istrinya meninggal karena di bunuh, sehari sebelum dia mati." Kata Arnold ketus. Nadanya penuh kebencian.

"Aku tidak mengira anaknya masih hidup dan selamat dari tragedi kebakaran waktu itu." Kata salah seorang teman Arnold lagi. Kali ini laki-laki.

Arnold menatap sesosok bertubuh kecil, dan berambut kelabu pekat itu dengan tatapan penuh kebencian sambil mencengkeram bagian bawah kain taplak meja yang putih erat-erat. "Ya. Aku juga tidak menyangka."

"Ah! Iya. Ngomong-ngomong… di mana keponakanmu itu? Alois." Tanya si bangsawan wanita.

Arnold yang tadi sedang dipenuhi rasa benci pun melirik kearah si wanita.

.

.

Alois Trancy berlarian menyusuri dek kapal malam itu dengan langkah yang ringan. Ia merasakan setiap hembusan angin malam yang menerpa wajahnya. Malam ini, ia akan menciptakan pesta yang tidak kalah seru bersama teman barunya, Ciel Phantomhive.

Ia pun membuka pintu ruang makan dan segera disambut oleh dua pelayan dengan ramah. Ia balas dengan senyuman riang dan segera berjalan masuk. Ia menuruni tangga dengan langkah-langkah kecil. Matanya mencari-cari sosok pemuda berambut kelabu dari segerombolan orang-orang yang berkumpul di ruang makan besar ini. Setelah ia berhasil menemukannya, mata biru mudanya berbinar.

Ciel tak sengaja menolehkan kepalanya kearah tangga. Ia mendapati pemuda berambut pirang melambai kearahnya. Alois! Serunya dalam hati. Oke! Ini saatnya ia harus membuat alasan untuk bisa pergi bersamanya.

"M… Bibi… aku ingin keluar. Boleh?" katanya sedikit merajuk. Tak lupa juga ia memasang wajah manis yang selalu bisa mengalahkan ketegaran hati Bibinya.

"Oh? Begitukah? Apa kau merasa jenuh? Oke… baiklah. Hati-hati." Kata sang Bibi sambil mengelus rambutnya yang halus. Setelah mendapatkan izin yang tidak ia kira itu, Ciel langsung ngibrit menuju tangga.

"Anda terlihat sangat menyayangi keponakan Anda, Mrs. Angelina." Komentar seorang bangsawan yang tergabung dalam meja oval tersebut.

"Tentu. Karena aku tidak bisa punya anak, dialah keponakan yang sudah kuanggap seperti anak sendiri." Katanya.

Ciel segera menghampiri temannya itu menuju tangga.

"Hai." Sapa Alois setelahnya. "Tepat waktu, bukan?"

"Tentu. Aku sudah menunggumu dari tadi. Aku tidak sabar ingin mengetahui pesta yang sebenarnya. Di sini… ck! Aku sangat tidak suka acara formal seperti ini." kata Ciel dengan wajah kecut.

"Ahahahaha! Baiklah kalau begitu. Ayo! Kita segera lari dari sini. Sebelum Pamanku melihatku!" kata Alois semangat sambil menarik tangan Ciel.

"Eh? Pamanmu? Jadi kau…"

"Sudah, lupakan! Aku juga tidak peduli dia mau memarahiku atau apalah! Yang penting, kita bisa bersenang-senang!"

"Eh? Alois! Tungguuu!"

Dari sudut ruangan, mata emas Claude memperhatikan gerak-gerik Alois dan Ciel yang mulai meninggalkan ruang makan. Setelah melihat mereka berlari dan menghilang di kelokan jalan, butler hebat itu pun membisikkan sesuatu ke telinga Tuannya. Arnold yang tadinya tenang, kini menjadi sedikit gusar. Ia tersentak mendengar kata-kata Claude.

"Phantomhive katamu?" tanyanya. Nadanya nyaris melengking saking tidak percayanya. Ia tak sengaja menoleh kearah tangga dan mendapati Alois dan Ciel baru saja keluar dari pintu ruang makan. Arnold menjadi geram.

Arnold adalah pembenci keluarga Phantomhive. Keluarga berlambang burung elang itu berhasil menyabet gelar Anjing Penjaga Ratu dan seakan-akan mereka mengumbarnya dengan kesombongan tingkat tinggi. Arnold sangat iri dengan kepala keluarga Phantomhive. Dan… ada satu alasan lagi mengapa ia membencinya.

"Awasi kedua anak itu." Perintah pria paruh baya itu.

"Yes, You're Highness." Claude pun memberi hormat dan segera mengikuti Alois dan Ciel diam-diam.

.

.

Dek kelas 2

"Alois." Panggil Ciel lirih.

"Ya?" jawab Alois sambil terus menggenggam tangan Ciel menuju ke dek kelas dua.

"Kau yakin di sini tempatnya? Geladak kelas 2? Bukankah ini tempatnya rakyat jelata?" Ciel mulai ragu.

"Hei…" Alois terhenti dan berbalik menghadap kearah Ciel. Ciel tersentak. "Kau tahu? Di sinilah tempat di mana pesta sesungguhnya diadakan. Di sini, kita bebas melakukan apa saja." Kata Alois. Ciel hanya diam mendengarkan, walaupun hati kecilnya masih ragu.

"Percayalah! Ini sudah kali keduanya aku kemari. Di dalam sangat menyenangkan." Katanya meyakinkan.

"Kedua kalinya…?" tanya Ciel lirih. "Astaga! Jadi maksudmu… kau…"

"Aku sering kabur. Sudah pernah kuceritakan, kan?" Alois menaik-naikkan alisnya sambil tersenyum jahil.

Ciel hanya mendesah sambil menatap temannya itu. Ini, sih… parah namanya.

"Di sini, tak ada tata krama yang mengikat. Kau mau tertawa terbahak-bahak, kau mau melonjak-lonjak sesukamu, itu terserah kau!" kata Alois sambil menggambarkan suasananya.

"Err…" Ciel menggaruk-garuk jidatnya.

"Ahh! Ayolah…" Alois kembali menarik tangan Ciel memasuki sebuah ruangan.

"Eh!" Ciel tersentak.

GRRAANG…

Pintu pun terbuka. Alois segera mengajak Ciel masuk. Seketika itu, Ciel terbelalak. Tempat ini…

Di dalam ruangan yang cukup besar ini, tempat pestanya rakyat jelata. Ruangan semacam bar yang ramai dan ricuh. Di sekeliling ruangan banyak orang-orang tertawa terbahak-bahak, beradu panco, berjudi, dan sekedar duduk-duduk sambil minum. Di tengah-tengah ruangan, terdapat sebuah panggung kecil yang terbuat dari kayu yang dipelitur indah. Di sebelahnya terdapat beberapa orang memainkan musik country. Iramanya cepat dan membuat siapa saja bersemangat. Di atas panggung yang tidak begitu tinggi dan luas itu, berdiri beberapa orang yang sedang menari mengikuti irama musik. Penari wanita dengan gemulainya memutar-mutar rok bajunya yang menutupi kakinya hingga mata kaki sambil memainkan sol sepatunya hingga menciptakan bunyi tok-tok yang selaras dengan musik. Begitu juga penari pria.

"Ayo, kita masuk lebih dalam." Ajak Alois. Ciel menatap wajah Alois yang entah kenapa, malam ini sumringah sekali. Walaupun tempat ini sedikit redup, tapi wajahnya terlihat bersinar. Ciel tertegun.

"Ah! Alois!" panggil seseorang dari sudut ruangan. Mendengar itu, Ciel menoleh.

Alois melongokkan kepalanya melewati tinggi badan Ciel. Ia pun malambai.

"Ah! Yose!" balasnya. Pemuda bernama Yose itu pun menghampirinya. Pemuda itu terlihat sekitar 4 tahun lebih tua dari Alois. Lumayan tampan, sih. Walaupun usia mereka terlampau jauh, mereka terlihat akrab sekali.

"Yo! Alois! Kau kemari lagi? Tidak takut serigala tua itu marah lagi?" Yose pun tertawa lepas.

"Aku tidak peduli. Aku benar-benar jenuh terus-terusan di samping serigala tua itu." Katanya mendengus. Ia pun melirik kearah Ciel. "Ah! Kenalkan. Ini temanku." Alois mengenalkan pemuda bermata biru di sebelahnya itu pada Yose.

"Ciel. Perkenalkan dirimu. Ayo…" Alois mendorong Ciel agar mau bersalaman dengan Yose.

"Ah!" Ciel tersentak. "Ha-hai… perkenalkan… aku… Ciel Phantomhive." Kata Ciel sambil memasang senyum paksa.

"Hai juga. Aku Yose Ringer. Senang berkenalan denganmu, Ciel Phantomhive." Kata Yose sambil tersenyum. Di luar dugaan, Yose ternyata ramah juga.

Tapi tiba-tiba, Yose teringat sesuatu.

"EH? PHANTOMHIVE!" serunya. Seketika itu, seluruh mata tertuju pada ciel. Ciel mengerjap-ngerjapkan matanya. Ia mulai merasa takut dan bingung. Ap-apa yang salah dengannya?

"Apa katanya? Phantomhive?" tanya seseorang di sudut ruangan.

"Phantomhive? Anjing Penjaga Ratu itukah?"

"PHANTOMHIVE! Astaga!"

Berbagai komentar bertebaran di ruangan itu setelah Yose berseru. Ciel merasa tidak enak. Bagaimana pun juga, keluarga Phantomhive sangat disegani oleh para warga Inggris. Bagaimana ini…?

"Yap. Dialah Ciel Phantomhive. Teman baruku di sini." Alois membela. Ia memegangi kedua pundak Ciel.

Mendengar pernyataan Alois, semua pun diam. Ia tahu Alois adalah orang dengan pangkat tinggi. Mereka tidak berani macam-macam, walaupun mereka berteman baik dengannya.

"Ehem! Dia baru pertama kali kesini. Jadi, jangan membuatnya tegang." Nada Alois mulai bersahabat.

"Begitukah?" tanya seorang gadis kecil di sebelah Alois tiba-tiba. Tinggi gadis itu tidak sampai dadanya. Gadis manis dengan rambut pirang dikepang dua itu tersenyum pada Ciel dan Alois.

Alois menoleh. "Hei… Christy. Tentu saja. Dia Ciel, temanku. Dia sangat baik hati. Kuharap kau mau berteman dengannya." Alois berjongkok dan mengelus kepala gadis kecil yang diketahui bernama Christy itu. Christy pun hanya tersenyum.

Ciel terhenyak. Ia belum pernah melihat sifat Alois yang satu ini sejak dia bertemu dengannya. Walaupun Alois itu sedikit urakan, keras kepala, agresif dan periang, ternyata di dalamnya ada sifat lembut yang bisa membuat hati siapa saja luluh. Ciel pun tersenyum kecil.

Yose dan semuanya terpaku pada sosok tiga anak itu.

"Kakak… mau menari bersama denganku?" tawar Christy pada Ciel sambil menggenggam tangan Ciel. Ciel nampak tercekat. Mata birunya terpaku pada wajah gadis kecil itu. Wajah yang masih murni dan tidak berdosa. Wajah yang lucu.

"Ah… aku… tidak begitu pandai menari…" tolak Ciel lembut.

"Oke! Kalau begitu, biar kita contohkan bagaimana gerakan tariannya, ya, Christy?" tawar Alois. Christy pun menoleh dan segera mengembangkan senyum termanisnya. Ia pun segera menyambut uluran tangan Alois dan berjalan menuju panggung.

Melihat itu, semua orang kembali pada rutinitasnya semula. Para pemain musik mulai memainkan musiknya lagi.

"Ayo, semuanya! Kita bersenang-senang lagi malam ini!" seru Alois. Seketika itu, gemuruh suara dan berbagai jenis siulan menyambut ajakan Alois.

Musik mulai terdengar lagi. Musik country yang menggugah. Petikkan gitar akustik yang cepat, dipadupadankan dengan tipukan gendang dan kentingan gelas. Apa saja alat yang ada di ruangan itu bisa mereka jadikan musik pengiring. Sungguh kreatif.

Alois mulai menari bersama Christy kecil. Tak disangka, ternyata Alois pandai menari dengan hentakkan-hentakkan kaki yang cepat, menciptakan bunyi tok-tok dari sepatunya. Begitu juga dengan gadis kecil itu. Ia menari dengan menghentak-hentakkan sepatunya sambil sesekali berputar di depan Alois. Gaun sederhananya melambai-lambai indah.

Ciel melihatnya dari kejauhan sambil menepuk-nepukkan tangannya mengikuti irama musik. Ia tersenyum riang menyaksikan aksi Alois dan yang lainnya menari di atas panggung.

Tunggu? Tersenyum… riang?

Ya. Sudah lama Ciel tidak tersenyum seperti itu. Ia tidak mengira bakal kembali tersenyum riang seperti saat ini… setelah bertahun-tahun ia memperkirakan bahwa ia tidak akan mungkin bisa tersenyum lagi. Mungkin ini semua berkat Alois. Ciel tersenyum tulus. Suatu saat nanti, ia harus berterimakasih padanya.

Alois masih menari dengan semangatnya bersama Christy. Peluh mulai membasahi tubuhnya. Tapi, mereka sangat menikmatinya.

"Christy, bisa gantian dengan Ciel?" bisik Alois. Christy mengerti dan mengangguk. Ia berjalan turun dari panggung ke arah Ciel.

"Kak Ciel… Kak Alois ingin menari denganmu." Katanya polos pada Ciel.

Ciel membelalakan matanya. Eh? Apa katanya?

"Eh? Tu-tunggu dulu, Christy…" cegah Ciel. Tapi Christy tidak peduli. Ia pun menarik tangan Ciel menuju panggung. Sampai tepat di depan panggung, Christy melepas genggaman tangannya dan mundur selangkah. Ia tersenyum manis pada Ciel.

"Ciel! Ayo turun!" panggil Alois.

Eh? Apa katanya? Turun? Turun kemana? Tanya Ciel bingung dalam hati.

Alois pun mendesah dan menarik tangan kiri Ciel agar dia naik ke panggung. "Maksudnya turun itu, kau turun ke panggung. Ikut menari bersamaku." Katanya tiba-tiba.

Ciel tercekat. Bagaimana dia bisa mengetahui isi hatinya?

"Alois, aku tidak bisa…"

"Ikuti gerakanku." Potong Alois tersenyum sambil memperlihatkan jari telunjuknya di depan wajah canggung Ciel. Ciel hanya diam dan menuruti apa kata temannya itu dan segera naik ke panggung.

Alois mulai menghentak-hentakkan kakinya sedikit demi sedikit agar Ciel dapat mengikutinya. Setelah cermat memperhatikan gerakan Alois, Ciel pun mengikutinya. Dua kali… tiga kali… yak! Sepertinya Ciel mulai bisa.

Alois memperhatikan gerakan Ciel. Hebat juga dia. Baru beberapa manit diajari, dia langsung bisa.

"Okey… sepertinya kau sudah bisa. Ayo kita duel!" tantang Alois sambil menyipitkan mata.

Ciel membelalakan matanya. Tapi sejenak, ia pun tersenyum penuh tekad sambil menyentakkan kepalanya keatas, tandanya dia menerima tantangan dari temannya itu.

"Siapa takut!"

Musik country masih mengalun. Alois dan Ciel saling memperlihatkan kebolehannya. Mereka saling tertawa dan bercanda. Alois semakin memacu kecepatan kakinya menciptakan irama-irama khas dari sepatunya. Begitu juga Ciel. Ia tidak mau kalah.

Setelah puas berduel, mereka pun saling melingkarkan tangan dan berputar-putar ke kanan dan ke kiri sambil terus menghentak-hentakkan kakinya. Benar-benar mengasyikkan! Ciel merasa dirinya bebas. Beban dalam dirinya terasa lepas. Wajahnya terlihat sangat menikmati tariannya. Alois tertawa melihat keceriaan pemuda yang ada di depannya itu.

"Stop." Kata Alois tiba-tiba. Ciel cengo.

"Ada apa?"

"Coba ulurkan tanganmu." Pinta Alois. Ciel mengerjap-ngerjapkan matanya dan hanya menurut. Ia pun mengulurkan kedua tangannya dan seketika itu di sambut tangan Alois. Alois pun berputar, dan Ciel pun juga ikut berputar.

"Eh? A-Alois! Tu-tunggu!" Ciel tersentak hebat ketika Alois mulai memutar-mutar tubuhnya.

"Nikmati saja!" serunya sambil tertawa. "Tutup matamu dan nikmati saja!"

Ciel pun ikut berputar searah jarum jam bersama Alois. Mereka berteriak senang. Berputar dan terus berputar. Awalnya, sih, masih biasa, tapi makin lama makin kencang. Mereka berputar layaknya baling-baling pesawat! Hei! Ini sangat menyenangkan!

Berputar-putar seperti ini memang menyenangkan! Serasa melayang. Suasana bar menjadi makin ramai seiring larutnya malam. Alunan musik semakin menjadi-jadi. Baru pertama kali ini Ciel benar-benar merasakan apa itu bebas. Ia ingin sekali saat-saat ini abadi.

"Ciel! Berputarlah lebih kencang!" seru Alois sambil tertawa-tawa.

"Aku tidak bisa lebih kencang dari ini!" Seru Ciel sambil merapatkan matanya rapat-rapat dan tertawa.

Entah sudah berapa lama mereka saling berputar seperti itu.

"WAAA!" seru mereka bersamaan. Terus berputar, berputar, dan tanpa sengaja…

BRUUKK!

Ciel pun tersandung dan ambruk. Ia terjatuh terduduk ke samping.

"Aw!" pekiknya.

Melihat Ciel ambruk ke samping, Alois jadi panik dan segera berjongkok untuk menolongnya.

"Astaga, Ciel! Kau tak apa-apa?" tanya Alois khawatir. Ciel mendesis kesakitan. Ia memegangi lututnya yang… oke, lebam. Ya. Lebam karena terantuk panggung kayu yang keras.

"Ciel! Kau tak apa-apa? Aduh… maafkan kau…" Alois merasa bersalah.

Tapi bukannya Ciel kesakitan, ia malah tertawa lepas. Walaupun sedikit-sedikit ia meringis kesakitan. Hal itu membuat Alois heran.

"Tadi itu menyenangkan sekali. Sampai-sampai aku jatuh dan lebam seperti ini." kata Ciel di sela-sela tawanya.

Alois membuka sedikit mulutnya. Ia memandang wajah Ciel yang ceria. Ia tertegun.

Agak lama ia menyelami wajah temannya itu, dan akhirnya hanya bisa tersenyum mendesah.

"Kau ini. Jangan membuatku takut, Ciel." Alois pun ikut tertawa.

Dari balik kerumunan orang-orang di dekat pintu masuk bar, sesosok pria berpakaian hitam terlihat sedang memperhatikan gerak-gerik Alois dan Ciel yang masih tertawa-tawa geli di tengah panggung. Claude memperbaiki posisi kacamatanya yang menutupi bola mata emasnya itu. Setelah puas mengamati, ia pun segera menghilang secepat kerdipan mata bagaikan setan.

.

.

Pukul 24.00 p.m waktu kapal

Malam sudah makin larut, dan pesta rakyat pun usai. Suasana bar benar-benar berantakan malam itu. Ciel sudah kembali ke kamarnya dengan cara jalannya yang sedikit pincang karena kakinya lebam. Alois awalnya ingin membantu, tapi Ciel menolaknya dengan lembut. Alois hanya mendesah saat melihat punggung Ciel menjauh.

Alois kini sampai di depan pintu kamarnya di geladak kelas 1. Yah… jarak antara bar dengan kamarnya memang perlu memakan waktu. Tahu sendiri, kan… kapal ini sungguh besar!

Alois pun memutar kenok pintu kamarnya. Wajahnya terlihat lusuh dan lelah. Tapi, ia tidak peduli karena ia merasa puas malam ini. Ia tahu pesta tadi memang nekat. Tempatnya pasa rakyat jelata yang liar bersenang-senang. Tapi ia sangat hati-hati. Ia sempat ditawari untuk minum minuman beralkohol berat. Tapi ia menolaknya dengan sopan. Entah kenapa, si pengajak mengerti dan tidak berupaya untuk memaksanya minum.

Alois melepas jubah ungunya dan masuk ke kamarnya setelah tangannya menekan sakelar lampu. Tapi tiba-tiba, seseorang memanggil namanya.

"Alois." Panggil seseorang dengan suara yang sepenuhnya berat itu datar.

Alois sangat mengenal suara ini. Ia mendecakkan lidah sambil memutar bola mata biru mudanya dengan malas. Ia pun menoleh ogah-ogahan.

"Ya, Pamanku tercinta?" katanya ogah-ogahan.

"Dari mana saja kamu? Di pesta pertemuan pun kau tidak muncul!" sang Paman menghampiri keponakannya itu dengan langkah besar-besar.

Alois hanya mendesah. Aduuh… dasar orang tua! Apa, sih, maunya?

"Memangnya apa urusannya dengan Paman?" tanya Alois dengan nada sarkartis.

Mendengar itu, si Paman merasa kupingnya memanas. Wajahnya menggeram. Sedangkan Alois merasa menang karena berhasil membuat Pamannya itu marah. Ia pun menyunggingkan senyum liciknya.

"Kau…" kata si Paman geram. "Lagi-lagi kau berpesta di tempat yang tidak semestinya!"

"Paman tahu dari si penguntit Claude, bukan?" tebaknya yang bukan sekedar tebak.

Sang Paman tertohok. Alois menyeriangi licik.

"Yaah… siapa lagi kalau bukan Claude yang memberitahu tindak tandukku padamu, hei, Pamanku tersayang." Kata Alois setengah mengejek sambil menghempas-hempaskan tangannya dan segera berbalik dan menyelonong masuk ke kamar.

Sang Paman benar-benar hampir kehilangan kesabaran menanggapi keponakannya yang susah diatur itu. Dengan sigap, sang Paman mencengkeram tangan kanan Alois dan merematnya. Alois tercekat. Ia sedikit mendesis kesakitan.

"Lepaskan!" elaknya.

"Alois! Makin hari kau makin tidak beradab! Kau lupa kalau kau ini adalah keturunan bangsawan, hah?"

Alois terdiam. Ia berusaha membebaskan tangannya yang dicengkeram kuat oleh tangan kokoh sang Paman. Ia mengerang dan terus memberontak. Tapi sepersekian detik kemudian, sang Paman akhirnya melepaskan cengkeramannya sambil menyentakkan tangan Alois dengan kasar. Alois hanya bisa membuka mulutnya dan menutup sebelah matanya karena kesakitan.

"Aku tadi melihatmu bersama Phantomhive cilik." Mata Paman tajam menusuk mata biru polos Alois.

Alois memilirik Pamannya cuek sambil melemas-lemaskan tangannya. Merasa tidak diakui, Pamannya menjadi sebal.

"Kau lupa siapa Phantomhive itu, hah?" tanya Pamannya.

"Aku sudah lupa dan aku tidak mau mengingat-ingat lagi latar belakang keluarga Ciel!" potong Alois benar-benar melawan. Sang Paman terbelalak. Hebat! Dia berani menyebutkan nama kecil dari Earl Phantomhive yang baru itu dengan lantang di depannya?

"Apa, sih, salahnya kau berteman dengannya? Ciel Phantomhive tidak seburuk dengan apa yang Paman kira! Ciel tidak ada hubungannya dengan semua alasan konyol Paman! Paman membencinya karena perbuatan keluarganya! Karena Paman membenci keluarganya, otomatis Paman juga benci dengan keturunannya! Ciel Phantomhive! Benar, kan?" kata Alois lantang.

Si Paman benar-benar heran. Ia tidak percaya akan kata-kata keponakannya itu.

"Aku tidak ada perasaan benci secercahpun terhadap Ciel! Tidak seperti Paman!" Alois mulai membela diri, juga membela Ciel, temannya.

Mendengar itu, sang Paman sudah meremat-remat tinjunya di balik badannya. Napasnya sudah memburu buta. Mata si Paman yang tajam ternyata masih kalah dengan mata keponakannya yang lebih indah dan terlihat lebih dominan ketimbang dia. Hal itu membuatnya sangat kesal.

Alois terengah-engah setelah berkata demikian. Ia berusaha mati-matian agar pendapatnya tidak jatuh di depan Pamannya.

"BAIKLAH!" seru Pamannya kesal dan berhasil membuat Alois tersentak. "Aku ingin kau ingat satu hal, Alois." Katanya geram sambil mengajukan telunjukknya di depan wajah Alois. Mendengar itu, Alois merasa menggantung.

"Kau akan menyesal bila kau tetap berteman dengan Phantomhive bajingan itu!" sang Paman menyentakkan telunjukknya kebawah sambil menatap tajam Alois. Sedetik kemudian, ia pun berjalan meninggalkan Alois yang masih terperangah di depan pintu.

Alois menatap punggung Pamannya menjauh. Ia memegangi lengannya yang tadi dicengkeram kuat oleh Pamannya itu. Keragu-raguan mulai menjalar di setiap aliran darahnya. Apa maksud perkataan Pamannya barusan…? Alois pun membuang wajahnya ke samping. Ia berusaha mengendalikan emosi dan keragu-raguannya.

Tidak! Jangan dengarkan! Lupakan semuanya, Alois! Bagaimanapun juga, Alois Trancy akan terus berteman dengan Ciel phantomhive. Bahkan mungkin… bilamana itu terjadi, Alois dan Ciel akan menjadi sahabat yang tidak bisa dipisahkan. Tekadnya dalam hati.

"Kecuali dengan kematian!" gumamnya tertahan.

.

.

Chapter 3 selesai! ^^

Yah… itu dulu ide yang sempat memberontak di kepala saia. Hehe…

soal tarian yang dilakukan Ciel, Alois dan Christy di bar geladak 2, tarian itu semacam tarian dari Spanyol yang dimana para penarinya menari dengan menghentak-hentakkan kakinya. saia gak tahu nama tariannya. jadi... mohon maaf... T.T

Tunggu kelanjutannya, deh. Saia harap… para pembaca tidak jenuh membaca cerita-cerita saia. Terimakasih juga yang sudah mereview. Maaf kalau daftar reviewnya ilnag-ilang terus. Karena saat itu, saia ngepost ulang dikarenakan ada beberapa kesalahan.

Mohon review dan komentarnya, ya…

Yunoki touya ^^