Okeh~~~
Chapter 4 langsung ngacir nih… ^^
Karena banyak waktu nganggur, fic ini jadi cepet updetnya dech. Haha :D
Pertama2, saia mau mengucapkan terimakasih kepada:
Arashiyama: wah! Iya! Tenang… nanti kuganti. Soal kata 'ngibrit', saia emang sengaja karena biara ada kesan humornya sedikit. Jadi biar g terlalu serius aja. Biar sedikit segar. *halah* makasih udah review. ^^
Meadoresgayguys: (astaga ni nama belibet bgt) hahaha… makasih udah review. Oh? Namanya tap dance. Okeh. Hyaaa… ketauan suka yaoi! Hehehehe ^^
Disclaimer: Kuroshitsuji itu punya sodara saia, Yana Toboso. Film Titanic punya sutradara James Cameron, sodara jauh saia.
Genre: Friendship, Tragedy.
Title adaptation: I Will Promise You_A.N JELL
Summary: "Hidup sebagai seorang bangsawan adalah neraka bagiku. Hidup serba diatur. Ini itu semua dilarang. Harus menaati tata krama konyol yang begitu menyesakkan. Aku menginginkan kebebasan. Kebebasan yang benar-benar bebas. Persetan dengan yang namanya aturan!"
Enjoy… ^^
Without Words, We Are Meet
.
.
Chap. 4: I Will Promise You
Pukul 17.00 p.m, waktu kapal
Langit senja menyelimuti kepala pemuda bermata biru sapphire yang terlihat sedang terduduk di teras geladak. Angin meniup rambut kelabu pekatnya dengan malasnya. Pemuda itu terlihat menyipitkan sebelah matanya karena sebagian rambutnya menyapu wajahnya.
Lagi. Senja ini, Ciel Phantomhive kembali terduduk menikmati pemandangan di atas kapal mewah Titanic. Dan lagi-lagi, terlihat di depannya terpampang sebuah buku yang sebagian sudah dipenuhi goresan-goresan pensil. Si mata biru mengamati dengan seksama objek yang ada di depannya. Langit senja yang berwarna oranye, dipadupadankan dengan birunya laut. Beberapa burung laut beterbangan dan berkoak-koak. Ciel kembali berkutat dengan lukisannya.
Entah kenapa, sore ini suasana dek atas terlihat lengang dari biasanya. Tak terasa sudah hampir 3 hari ia berlayar. Berlayar menyeberangi samudera yang seakan tak bertepi. Tapi Ciel menikmatinya. Sebenarnya, awalnya ia sangat sengak karena akan pulang ke negaranya yang akan kembali medesaknya dengan berbagai aktivitas. Tapi, semenjak ia kenal dengan pemuda bermata biru muda, yang sepertinya lebih tua setahun darinya itu, semua halangan dan beban seakan melayang dari tubuhnya. Ciel tersenyum kecil sambil menggoreskan ujung pensilnya ke permukaan buku gambarnya.
Ciel sangat menyukai suasana sore hari. Apalagi saat matahari akan terbenam seperti ini. Suasana yang tentram, dan membuat hati jadi tenang. Selama di Amerika, di mansionnya di sana, hampir setiap sore ia selalu duduk di ruang kerjanya, dan menghadapkan kursinya menatap luar jendela. Tangannya selalu berpangu tangan di atas kusen bawah jendela. Terkadang, ia sering dikomentari oleh butler multifungsinya, Sebastian Michaelis. Tapi ia tidak peduli. Sebastian memang suka menggoda dan sedikit jahil. Tapi, Sebastian sangat menyayangi Ciel lebih dari sekedar Tuan dan pelayan. Tapi juga seperti Adik dan Kakak.
Tidak hanya Sebastian. Bibinya, Angelina juga suka mengerjainya, walaupun ia sangat otoriter. Bila ada waktu lengang, Ciel suka berbincang-bincang dengan sang Bibi. Sebenarnya Ciel sangat menyayangi Angelina. Ia sudah menganggapnya seperti Ibunya sendiri. Hanya saja, ia tidak suka begitu Angelina mengatur-ngaturnya secara berkebihan. Ya. Hanya itu.
Setelah beberapa jam Ciel duduk dan tangannya terlihat sigap menggoreskan pensil di atas bukunya, akhirnya lukisan senja pun jadi. Ciel menyipitkan matanya dan tersenyum memandang lukisannya itu.
Tiba-tiba, sejenak ia seperti mendengar petikan gitar akustik. Samar-samar ia juga mendengar suara orang bernyanyi. Ciel tersentak dan menoleh ke arah asal suara. Mata sebiru samuderanya membesar.
"Suara gitar…?" gumamnya sambil terus memegang buku gambarnya.
Angin kembali melambai-lambaikan rambut halusnya. Ciel pun berniat untuk mencari dari mana asal suara itu.
.
.
Alois Trancy terduduk di pinggiran dek, dekat dengan pagar pembatas, dan membelakangi matahari senja dan pemandangan laut yang tak kalah indah. Di pangkuannya tersandar sebuah gitar tua berwarna coklat muda yang dipernis hingga terlihat mengkilap. Jarinya memetik gitar tersebut malas-malasan. Mata biru langitnya terlihat kosong memandang lurus bagian anjungan kapal yang khusus dibangun untuk kepentingan kapten dan para awak yang mengurusi tentang pengendalian kapal dan sistem perhubungan, juga beberapa cerobong asap nan kokoh di atasnya. Rambut pirangnya melambai tertiup angin sore yang lumayan kencang.
Tiba-tiba, tangannya terhenti memetik gitar. Matanya melirik pemandangan di belakangnya melalui ekor matanya. Alois pun membalikan tubuhnya menghadap laut lepas. Angin segera menerpa wajah putih mulusnya. Poninya seketika itu terbang kebelakang diterpa angin dari depan. Matanya sedikit memicing karena silau akan sinar matahari senja. Ia mendesah pelan dan menatap pemandangan di hadapannya. Ia masih memeluk gitarnya tanpa memainkannya.
Tiba-tiba, ia mendengar suara langkah mendekati. Alois pun sedikit tercekat dan segera berbalik.
Seorang pemuda berpakaian coklat terlihat menghampirinya dengan langkah yang kini mulai melambat. Matanya terlihat terbelalak. Begitu juga dengan Alois yang seketika itu mengetahui siapa orang itu.
"Alois…?" tanya orang itu.
Alois mengerjapkan matanya sekali. "Ciel?"
"Sedang apa kau di sini? Kenapa sendirian begini?" pemuda berbaju coklat itu pun menghampirinya dan mengambil posisi duduk di sebelahnya.
"Kau sendiri juga terlihat sedang sendiri, kan?" tanya Alois.
Sunyi.
Tiba-tiba saja, suasana menjadi sunyi. Hanya terdengar suara gemericik air laut dan koakan burung-burung laut.
"M… apakah… ada masalah?" Ciel ambil suara. "Sepertinya… aku tidak terlihat seperti biasanya."
Alois terdiam. Ia menoleh kearah temannya itu. Matanya menatap kosong wajah temannya yang terlihat prihatin itu.
"Semenjak aku kembali ke kamarku dari bar di geladak kelas 2, sikap Paman menjadi lebih kasar dan kelihatannya benci padaku." Jelasnya.
"Apa maksudmu?" tanya Ciel.
"Paman juga melarangku untuk berteman denganmu." Kata Alois tiba-tiba.
Mendengar itu, Ciel bagaikan tersengat aliran listrik.
"Be-benarkah itu…?" kata Ciel sedikit kecewa. Hatinya sedikit teriris. Ia pun menundukkan kepalanya.
"Maaf bila aku berkata demikian." Alois menegakkan kepalanya dan menatap Ciel. Ciel pun menengadah menatap temannya itu dengan tatapan terluka.
"Paman begitu membenci keluargamu… juga tak terkecuali dirimu." Alois kembali berkata. "Entah kenapa."
Ciel menatap Alois. Kenapa ia berkata demikian?
"Paman juga mengancamku bila aku terus berteman denganmu." Kata Alois lagi.
Mendengar itu, Ciel terlonjak. Mengancam?
Alois menoleh kearah Ciel yang terlihat tertekan.
"Apa kau… juga membenciku?" tanya Ciel. Alois tercekat. Ia hanya memasang seulas senyum sambil mendesah.
"Siapa yang bilang aku membencimu?" tanya Alois balik. "Aku hanya ingin kau mengetahui agar pertemanan kita bisa terus berjalan dengan berhati-hati."
Ciel menyentakkan kepalanya.
"Aku… mau bagaimanapun… aku tidak akan menghianati teman sendiri dan meninggalkannya hanya karena masalah sepele begini." Kata Alois sambil menepuk kedua pundak Ciel sambil tertawa ringan.
"Walaupun Paman terlihat seperti menyimpan dendam padamu, dan sekuat tenaga ia melarangku berteman denganmu lebih jauh… aku tidak peduli." Kata Alois sambil terkekeh.
Ciel hanya terdiam. Dendam?
"Bila benar adanya… apa kau tahu apa arti dendam?" tanya Ciel tertahan. "Dan… apa kau juga tahu… apa itu balas dendam?" lanjutnya.
Mendengar itu, tawa Alois segera surut. Dendam?
Tunggu. Kenapa tiba-tiba… setelah mendengar kata-kata itu… hatinya tarasa teriris?
"Dendam? Tu-tunggu dulu. Balas dendam? Kenapa?" tanyanya.
Ciel terdiam. Matanya menatap lurus ke mata biru muda Alois.
"Kau tahu? Aku merasa… dibiarkan hidup untuk membalaskan dendamku pada orang yang telah membunuh kedua orang tuaku oleh Tuhan." Kata Ciel sedikit bergetar dan penuh dengan kebencian.
"Kau… benarkah itu? Tapi… apakah kau tahu siapa yang membunuh mereka berdua?" tanya Alois bersimpati.
Ciel menggeleng. "Sayangnya… aku tidak tahu." Katanya.
Alois terdiam. Balas dendam? Haruskah?
"Aku… ingin sekali melihat orang itu merasakan sakitnya hatiku. Sudah pernah kuceritakan, bukan? Betapa hancurnya hidupku saat itu?" Ciel menoleh kearah Alois dengan mata tajam menusuk. Alois tercekat melihatnya. Sebegitunyakah?
"Aku… Ciel Phantomhive… tidak akan segan-segan menghabisi si pembunuh! Aku akan mengirimnya ke neraka!" Ciel geram. Di balik mulutnya yang gemetar, giginya bergemelutuk.
"Haruskah itu…?" tanya Alois. "Ah! Tapi… bagaimana… kalau orang yang membunuh kedua orang tuamu itu… adalah orang terdekatmu? Orang yang sangat menyayangimu? Itu bisa saja, kan?" tanya Alois tiba-tiba.
Ciel terkesiap. Ia perlahan menoleh kearah Alois. Tiba-tiba saja, tesungging senyum manisnya. "Kalau begitu… aku juga akan mati saat itu juga."
Alois benar-benar tidak bisa mempercayai itu semua. Tunggu dulu!
"Ka-kau bercanda!" Alois menyentakkan tubuhnya dan berdiri menjulang di depan Ciel. Bayangan tubuhnya menutupi tubuh Ciel.
"Aku tidak akan melanggar sumpahku." Kata Ciel masih dengan senyumnya.
"Apa! Kau bahkan besumpah untuk itu juga!" seru Alois tidak percaya.
Ciel menegadah menatap wajah Alois.
"Ya. Kalau memang orang itu adalah orang yang sangat dekat denganku, dan orang itu sangat menyayangiku… dan aku pun juga menyayanginya… aku bersumpah akan mati setelah dia tergeletak tidak berdaya."
Alois sungguh tak bisa berkata apa-apa. Ia pun kembali duduk. Tangannya terlihat memijit-mijit jidatnya.
"Kau memang teman yang tak bisa kumengerti."
Ciel hanya tersenyum. Alois menoleh kearah Ciel dan tercekat melihat senyumnya. Ia pun tak dapat menahan senyumnya juga.
"Ah! Ini…" Ciel terlihat menunjuk-nunjuk sesuatu. "Kaukah… yang memainkan gitar ini?"
Alois terlihat mengerjap-ngerjapkan matanya. Gitar? Ahh!
"AAHH! Ka-kau!" Alois tiba-tiba panik.
"Kenapa panik begitu?" Ciel memiringkan kepalanya polos. "Kau benar bisa bermain gitar?" tanya Ciel.
Alois mendesah pasrah. "Iya… aku bisa."
Ciel segera merebut gitar yang sedari tadi dipeluk oleh Alois. "Waah… hebat!" pujinya sambil melihat-lihat gitar milik Alois itu. "Kau tahu? Aku juga ingin bisa bermain gitar." Katanya sumringah. "Tapi…" nadanya mulai merendah. "Tahu sendiri, kan? Bibiku selalu melarangku memegang alat musik ini selain alat musik klasik." Ciel memanyun-manyunkan bibirnya. Mendengar cerita Ciel yang terlalu blak-blakkan, ditambah lagi melihat ekspresi wajahnya, Alois hanya bisa menahan tawa.
"Alois." Panggil Ciel.
"Ya?"
"Mainkan satu lagu untukku, ya?" pinta Ciel.
"He~?"
"Apa saja. Aku akan mendengarkan. Kau juga bisa menyanyi, kan?" tanya Ciel.
Seketika itu, Alois langsung blushing.
"Baiklah…" Alois mendesah dan mulai memetik gitarnya. Ciel terdiam. Ia mulai menyelami setiap alunan gitar yang dimainkan oleh Alois.
I could go back to every laugh
But I don't wanna go there anymore
And I know all the steps up to your door
But I don't wanna go there anymore
.
Talk to the wind, talk to the sky
Talk to man with the reasons why
Let me know what you find
.
I'll leave my window open
Cause I'm too tired at night for all these games
Just know I'm right here hopin'
That you'll come in with the rain
.
Ciel terdiam. Lagu ini… mirip dengan kehidupannya dulu. Ia hampir tidak bisa tertawa walaupun ia ingin. Ia hampir tidak bisa menangis walaupun ia ingin. Kehidupannya 4 tahun yang lalu… saat kedua orang tuanya meninggalkannya sendirian. Dan ia tak tahu harus melakukan apa. Saking sakitnya, ia hampir tidak bisa memperlihatkan wajah cerianya, dan lebih bersikap dewasa walaupun ia merasa tersiksa. Ia sudah lelah akan permainan yang mempermainkan hidupnya. Ia bahkan sangat mengharapkan seseorang datang menghiburnya dan menenangkannya… walaupun itu tidak mungkin. Begitu miris.
Alois melantunkan lagu itu dengan penuh penjiwaan. Suaranya yang belum sepenuhnya berat itu terdengar merdu. Lagu ini juga sedikit banyak menyangkut cerita hidupnya selama 15 tahun ini. Hidup yang mengerikan. Begitu pahit. Begitu sakit. Tapi tidak setelah ia bertemu dengan Ciel. Pemuda yang berada di sampingnya kini.
"Lagu yang bagus." puji Ciel.
Alois tersenyum. "Aku senang kalau kau suka."
Tiba-tiba, Alois tak sengaja melirik buku yang sedari tadi berada di pangkuan Ciel.
"Kau melukis lagi?" Alois mengambil buku tersebut.
"Ah!" Ciel tercekat. Tapi Ciel tidak melarangnya membuka-buka buku itu.
"Waahh… lukisan senja, ya? Indah sekali! Walaupun hanya memakai media pensil." kata Alois kagum setelah ia menemukan lukisan baru di buku itu.
Ciel hanya bisa menunduk malu.
Alois tersenyum melihat ekspresi Ciel yang menurutnya sangat imut itu. Ia melirikkan matanya kearah haluan kapal. Tiba-tiba, ia teringat sesuatu.
"Hei, Ciel. Ikut aku sebentar." Katanya tiba-tiba sambil menaruh buku gambar Ciel di kursi dan segera menarik tangan Ciel.
"Eh? Mau kemana?" Ciel tersentak dan mau tidak mau harus mengikuti kemana Alois pergi.
"Aku mau mengajakmu terbang!" serunya seraya berlari menuju bagian haluan.
"Haa~?" Ciel melongo.
Sesampainya di bagian haluan kapal, Alois langsung menaiki dua besi pagar pembatas dan seketika itu merentangakan kedua tangannya jauh-jauh.
"Waaahh…! Anginnya kencaaang!" serunya.
"Alois! Itu bahaya!" seru Ciel. Ya… bahaya, lah! Ciel jadi sedikit takut karena ingat kejadian malam itu. Saat ia hampir terjatuh di buritan.
Alois tidak mempedulikan seruan temannya itu. Ia menikmati posisinya saat ini. Angin sore sepoi-sepoi menerpa tubuhnya dengan kencang. Mengelebat-lebatkan jubah ungu dan rambut pirangnya. Alois menutup kedua matanya.
"Alois!" panggil Ciel yang beridiri tidak jauh di belakangnya. Dasar Alois. Dia bandel sekali!
Alois pun menoleh kebelakang, kearah Ciel.
"Ciel! Kau juga harus coba ini!" katanya seraya turun dari pagar pembatas sambil menarik tangan Ciel.
"Eh! Oi! Ini bahaya, tahu! Nanti aku bisa jatuh seperti waktu itu!" elak Ciel.
"Tidak akan selama kau ada di sampingmu!" potong Alois. Ciel tercekat dan tertegun.
"Ayo, naik! Ini sangat menyenangkan, lho." Kata Alois mengiming-iminginya.
Dengan ragu-ragu tapi pasti, Ciel pun memanjat pagar pembatas dengan hati-hati. Di belakangnya, Alois juga ikut memanjat seraya menjaga Ciel.
"Luruskan kepalamu ke depan." Kata Alois tenang, tepat di telinga Ciel. Ciel tercekat. Wajahnya memerah. Alois meraih kedua tangan Ciel dan merentangkannya perlahan. Sebenarnya, Ciel ingin mengelak. Tapi… biarlah.
Ciel merentangkan tangannya perlahan. Ia pun mulai menutup kedua matanya, merasakan angin senja menerpa wajah dan membiarkan bagian bawah baju dan rambutnya tertiup angin. Alois mulai melepaskan tangan Ciel, membiarkan temannya itu menyadari bahwa hal ini sungguh menyenangkan.
"Buka matamu." Kata Alois tiba-tiba. Ciel pun membuka mata. Ia memandang lurus ke depan, melihat hamparan samudera yang tiada tepi. Di samping Ciel terlihat beberapa burung laut terbang landai, menyamai tingginya saat itu. Ia mulai merasa kagum. Senyumnya tersungging begitu saja di bibirnya.
"Alois…" desahnya kagum.
"Ya?"
"Aku… merasa seperti terbang!" katanya dengan nada sumringah. "Ini sangat menyenangkan!"
"Memang menyenangkan!" seru Alois sambil merentangkan kedua tangannya lagi. "WUHUUU!" serunya.
.
.
Kapten Smith terlihat lelah setelah berhari-hari mengamati kerja para awak kapalnya di bagian anjungan. Ia menyempatkan diri untuk keluar, menikmati angin senja yang bertiup sepoi-sepoi. Ia mengambil napas panjang dan mengeluarkannya perlahan. Tangannya mencengkeram kuat pagar besi di depannya. Senyumnya tersungging.
Mata abu-abunya menatap lurus ke bagian haluan. Tak sengaja Kapten Smith menatap 2 orang pemuda berdiri di depan haluan. Matanya mengerjap beberapa kali. Ia memperhatikan 2 pemuda itu tertawa sambil merentangkan tangan jauh-jauh, merasakan angin menabrak tubuhnya dengan lembut. Suara seruan mereka samar sampai di telinganya. Kapten Smith tersenyum kecil melihatnya. Sungguh persahabatan yang hangat, katanya dalam hati.
.
.
"Jangan bergerak sembrono! Nanti kita bisa jatuh!" protes Ciel di sela-sela tawa riangnya.
"Tidak akan!" kata Alois yakin. Ia melirik ke arah bawah kapal. "EH? Ciel! Lihat! Ada lumba-lumba melompat!" katanya antusias sambil menunjuk ke bawah.
"Ha? Mana, mana?" Ciel pun tak kalah antusiasnya.
Setelah puas berdiri merentang di atas pagar, Alois dan Ciel pun turun dan menuju ke kanan haluan kapal. Mereka menyentakkan tubuhnya menukik ke bawah, agar bisa melihat beberapa ekor lumba-lumba beraksi di permukaan laut.
"Lihat lumba-lumba itu! Dia lompat-lompat terus dari tadi." Kata Alois. Matanya berbinar-binar melihat lumba-lumba itu muncul di permukaan air. Yah… mungkin karena baru kali ini dia melihat lumba-lumba langsung dari habitatnya.
Ciel menyunggingkan senyum lebar. Bola matanya bergerak-gerak mengikuti kemana saja si lumba-lumba berenang.
"Alois! Lihat! Lumba-lumba itu baru saja melompat!" seru Ciel sambil menujuk seekor lumba-lumba yang lukayan besar.
"Eh! Mana, mana? Aahh… kau tidak memberitahuku dari tadi, sih…" seru Alois kecewa.
Ciel hanya bisa terkikik. Ciel pun kembali menukikkan tubuhnya ke bawah. Para lumba-lumba belum puas beraksi di atas permukaan air, rupanya.
Melihat wajah kagum Ciel, Alois pun tercekat. Ciel terlihat sangat menikmati. Ia berpikir, mungkin ini yang pertama kali setelah ia terpuruk begitu lamanya. Alois tertegun dan wajahnya memerah. Matanya terpaku pada senyum Ciel yang sedari tadi terus tersungging di bibirnya. Alois tersenyum kecil.
Heh! Tunggu! Kenapa wajahnya memerah seperti itu? Alois pun memalingkan pandangannya ke samping. Tapi beberapa saat kemudian, ia pun kembali menatap wajah temannya itu.
Baru kali ini Ciel merasa sangat menikmati sesuatu. Ia mendesah kagum malihat betapa tingginya ia saat ini, dan melihat pemandangan yang begitu indah dan luasnya. Ternyata menaiki kapal mewah ini tidak begitu jelek juga. Ciel menengadahkan kepalanya lurus ke depan. Ia merentangkan tangannya dan berseru. Poni rambutnya bergerak-gerak cepat tertiup angin. Ini sangat-sangat menyenangkan!
Setelah merasa puas berseru, tak sengaja ia menoleh kearah kiri. Seketika itu, mata biru sapphirenya bertemu dengan mata biru langit Alois. Ciel sempat tercekat dan terbelalak. Begitu juga dengan Alois. Alois sempat takut dikata-katai Ciel karena ia telah lama memandangi wajahnya terus. Tapi… sudahlah.
Mata kedua pemuda itu bertemu untuk waktu yang agak lama. Wajah mereka tersorot sinar matahari yang benar-benar akan tenggelam sebentar lagi. Angin bertiup dari samping, membelai kulit wajah mereka yang halus bagaikan boneka porselen dan menerbangkan lagi helai rambut mereka yang lembut.
Hal yang sekitar 3 hari yang lalu terjadi juga pada mereka, kini terulang lagi. Saat itu, di sini, mereka bertemu. Mata mereka juga bertemu, walau hanya sekedar berpandang-pandangan ala orang yang tidak saling mengenal. Dan Alois pun menyunggingkan senyum saat itu. Tapi kini, pandangan mereka seakan saling menyelami satu sama lain. Alois melihat mata biru tua Ciel bergerak-gerak. Mata yang sejuk, dingin dan dalam sedalam samudera itu terlihat indah sekali sore ini.
Begitu juga Ciel. Ia melihat bola mata biru muda Alois bergerak tak menentu. Bola mata yang selalu memancarkan sinar terang, keceriaan dan selalu ringan itu terlihat tenang. lama mereka saling berpandang-pandangan, mereka pun tersenyum satu sama lain.
"Ahaha… aku belum pernah merasa setenang ini setelah melihat matamu, Ciel." Kata Alois yang kini memalingkan pandangan ke depan.
"Kau ini. Kau sempat membuat jantungku hampir lompat, tahu!" Dengus Ciel. Tapi ia kemudian tersenyum.
"Kita terlihat kekanak-kanakan sekali barusan." Alois terkekeh geli. "Tapi… aku menikmatinya."
Ciel tercekat. "Aku juga. Mungkin ini yang pertama kalinya setelah 4 tahun ini." Ciel tersenyum juga.
Mereka pun bersama-sama menatap lurus kedepan, menikmati suasana sunset yang indah dan menggoda.
"Ciel." Panggil Alois pelan.
Mendengar panggilan temannya itu, Ciel menoleh dengan polosnya.
"Ya?"
"Aku… tidak ingin seorang pun mengganggu pertemanan kita. Hanya kita yang bsia memutuskan untuk menyudahinya atau melanjutkannya." Katanya serius.
Ciel tertegun.
"Dan… kaulah satu-satunya teman yang terbaik untukku sepanjang hidupku." Alois menoleh sambil tersenyum.
Ciel pun ikut tersenyum. "Aku juga." Katanya.
"Jadi…" tiba-tiba, mulut mereka mengucapkan kata-kata yang sama. Seketika itu mereka sama-sama tercekat, lalu tertawa bersama.
"Alois… kau mau bicara apa? Kau duluan." Kata Ciel mempersilahkan.
"He? Bukankah kamu duluan yang mau berbicara?" Alois malah balik tanya.
Mereka terdiam. Lalu terkikik geli.
"Oke, oke. Aku bicara." Akhirnya Alois membuka kalimatnya. "Jadi… aku ingin… kau tidak hanya sekedar menjadi teman yang selalu berada di sisiku." Katanya.
Ciel penasaran apa maksud dari perkataan Alois. Ia tahu Alois masih ingin mengatakan sesuatu. Jadi, ia menunggu.
"Aku ingin… kau dan aku… menjadi sahabat dekat… yang tak pernah bisa dipisahkan oleh apapun. Kecuali dengan kematian." Kata Alois sambil tersenyum tulus. Semburat cahaya oranye dari matahari senja muncul di samping wajah Alois, yang membuat efek bagus akan ekspresinya kini.
Ciel tertegun mendengar kesungguhan kata-kata Alois barusan. Ia sempat tidak percaya akan kata-kata tersebut. Tapi, ia pun mengerti dan mengangguk.
"Tentu." Katanya sambil tersenyum manis. "Aku pun ingin menjalin persahabatan denganmu."
Alois terlihat sumringah mendengar kalimat itu terlontar dari mulut mungil Ciel. Saking senangnya, ia pun memeluk tubuh Ciel erat-erat. Ciel terlonjak hebat.
"Terimakasih, Ciel! Aku janji tidak akan menghianatimu! I will promise you!"
"I-iya… sa-sama-sama. Tap-tapi…" kata Ciel kewalahan.
"Tapi apa?" tanya Alois polos. Aduh, anak ini!
"Jangan memelukku keras-keras begini, dong! Aku jadi susah bernapas…!" kata Ciel tertahan.
"HE? Ma-maafkan aku!" seketika itu pun Alois melepaskan pelukannya. Terlihat Ciel mulai merasa lega sambil mengelus-elus dadanya. Ia menarik napas dan membuangnya. Ia kini menatap sahabatnya itu dengan senyuman.
"Mulai hari ini… kita jadi sahabat, kan?" Katanya sambil mengacungkan jari kelingkingnya.
Alois sempat tercekat. Tapi kemudian ia mengerti.
"Kau benar." Alois tersenyum sambil menautkan kelingkingnya bersama kelingking Ciel.
"Aku berjanji." Keduanya pun melontarkan kalimat yang sama untuk kedua kalinya. Menyadari itu, keduanya tersenyum dan akhirnya tertawa lepas.
Persahabatan tidak pernah memandang status, pengalaman hidup dan latar belakang seseorang. Siapa saja bisa bersahabat dengan siapapun dan menjalin hubungan yang disebut dengan persahabatan. Persahabatan yang begitu erat, yang tidak akan bisa dipisahkan oleh siapapun, kecuali dengan kematian. Persahabatan, saling mendukung, saling membela. Bercanda bersama, tertawa bersama, menangis bersama. Hal itulah yang akan mereka rangkai dalam hubungan tersebut. Terus bersama walaupun rintangan merajalela. Dan tak lupa… saling mengikat janji satu sama lain.
"Hei Ciel! Kau masih hutang sesuatu padaku!"
"He? Hutang apa?" tanya Ciel.
"Kau janji mau melukisku, kan?" Alois mengingatkan.
"Sekarang?"
"M… besok malam, kita bertemu di bilik umum. Kita akan ke kamarku." Kata Alois.
"Kamar?" pekik Ciel. "Ti-tidak apa-apakah?"
"Tenang. Pamanku besok ada pertemuan. Aku juga tidak diharuskan ikut serta. Jadi… kita bisa santai." Jelas Alois.
"M… baiklah." Ciel akhirnya menyetujui.
"Lukis aku sebagus mungkin, ya!"
"Eh? Kau ini! jangan remehkan aku!"
Alois tertawa terbahak-bahak sambil memegangi perutnya.
"Oke… aku tunggu kau besok malam."
Ciel mengangguk. "Iya, sahabatku." Ia tersenyum.
.
.
Chapter 4 selesai! ^^
Okeh~ seian dulu deh ide yang sementara sudah saia tumpahkan di fic ini. lanjutannya akan menyusul.
Reviewnya, ya… ^^
Yunoki touya ^^
