HALO SEMUANYA…!

Ketemu lagi sama Yunoki ^^

Akhirnya saia nerusin fic ini setelah beberapa lama hiatus. Hahaha! Biasa, lah… pekerjaan numpuk. Pekerjaan belajar maksudnya. XP

Ah iya! Saia lupa. Sekalian aja saia tulis di awal-awal aja. Di chapter sebelumnya, lagu yang dinyanyikan Alois untuk Ciel itu saia ambil dari lagunya Taylor Swift yang berjudul 'Come In With The Rain'. Saia suka banget sama lagu itu. Kalau ada yang tahu, baguslah kalau begitu. Hyahahaha! =..=d

Sebelumnya, saia mau berterimakasih kepada:

Kak Neko-chan: makasih udah di ripiuw. Wah! Jangan di sama-samakan dengan pemeran aslinya. Saia juga bingung *lho?*. di sini, Ciel Alois pemarannya bisa jadi siapa aja. Ciel yg ceritanya sebagai bangsawan yang terbelenggu itu aja udah kayak Rose. Ciel yang bisa lukis juga kayak Jack. Jadi, satu tokoh bisa aja jadi dua-duanya. Tentang Pamannya Alois, itu beneran ada di filmnya. Mau tau dia kenapa? Ikutin terus aja ceritanya. Wkakaka! *ketawa nista* Yah… begitu saja, lah. Semoga anda menyukai cerita saia. Wkwkwkwk. XD

Sherren: makasih atas ripiuwnya… semoga kamu suka dengan fic saia ini. ^^

SlythGirlz Phantomhive: makasih sudah ripiuw ^^. Bibi An tulus sayang kok sama Ciel. Hanya saja, dia juga agak otoriter. Sebas? Wah. Iya, ya. Setelah chapter ini insya Allah bakal saia keluarin. Sebas saia suruh istirahat dulu! Hyahahaha!

Niscram: uhuhuhu.. terimakasih ripiuwnya ^^. Iya. Sebastian saia munculin setelah chapter ini. Pas tragedi yang sebenarnya. Oke? mohon bersabar… =..=d

Okeh~ langsung sajah~

Disclaimer: Kuroshitsuji itu punya sodara saia, Yana Toboso. Film Titanic punya sutradara James Cameron, sodara jauh saia. ==

Genre: Friendship, Tragedy.

Summary: "Hidup sebagai seorang bangsawan adalah neraka bagiku. Hidup serba diatur. Ini itu semua dilarang. Harus menaati tata krama konyol yang begitu menyesakkan. Aku menginginkan kebebasan. Kebebasan yang benar-benar bebas. Persetan dengan yang namanya aturan!"

Enjoy… ^^

Without Words, We Are Meet

.

.

Chap. 5: It's Happy Time.

"Hei! Sabar sedikit… aku sedang berusaha untuk menyamai langkahmu!" Ciel sedikit kesakitan karena tangan kananya di tarik-tarik. Siapa lagi kalau bukan sama Alois.

"Kita harus cepat. Aku khawatir si jidat lebar melihatku. Dia itu seperti hantu! Kau tahu itu?" kata Alois sambil berjalan menarik Ciel melewati lorong-lorong kapal.

"Ha-hantu?" tanya Ciel sedikit syok.

"Yap! Dia selalu saja bisa mengetahui keberadaanku tanpa kuketahui." Alois berkata dengan polosnya. Tahu sendiri sahabat di belakanganya itu sedang merinding.

"Butlermu itu… horor sekali, sih." Komentar Ciel sambil menelan ludah.

Alois dan Ciel berjalan—atau lebih tepatnya berlar-lari kecil—melewati lorong demi lorong menuju kamar Alois. Sesuai janji, malam ini Ciel harus mau melukis Alois di kamarnya. Tunggu! Di kamarnya! Pikiran Ciel mulai kemana-mana. hei, hei, HEI! Berhenti berpikiran yang aneh-aneh!

Sesampainya di kamar Alois, Alois segera mendorong Ciel masuk dan menutup pintu setelah ia melihat sekeliling. Aman… tidak ada orang yang mencurigakan.

"Alois. Kau ini aneh sekali. Aku jadi tidak enak masuk kamarmu seperti ini." kata Ciel.

"Sudah… ini satu-satunya tempat yang aman dari si tua bangka itu! Dia sedang bersantap malam dengan para bangsawan yang lain. Aku, sih… lebih baik kabur! Di sana membosankan!"

"Kau kabur lagi?" tiba-tiba, nada bicara Ciel meninggi.

"Heh! Kau ini! Pelankan sedikit suaramu!" Alois langsung saja mendesis sambil memposisikan telunjuknya di depan bibir. Melihat itu, Ciel mengerti dan segera diam. Ia menutup mulutnya dengan telapak tangan. "Maaf." Katanya.

Alois mendesah. "Aku harap… Paman masih lama bersantap malamnya." Gumamnya sambil berjalan menuju sofa yang berdesain mewah.

Ciel hanya geleng-geleng menanggapi tingkah sahabatnya itu. Alois mempersilahkan ia duduk di sofa yang berada di seberangnya, terpisahkan dengan sebuah meja oval yang lumayan besar.

"Kau bisa melukis di situ. Aku akan duduk di sini." Alois segera merapikan bantal-bantal yang berada di sofa yang akan ia duduki. "tapi sebentar." Alois seperti teringat sesuatu.

"Ada apa?" Ciel menengadah.

"Tidakkah sebaiknya aku ganti baju?" Alois berkata sambil mengetuk-ngetuk dagunya.

"Ha? Kenapa harus berkonsultasi denganku? Bukannya kamu yang minta kulukis?"

"Oke-oke… baiklah. Aku akan ganti baju." Alois segera berjalan menuju lemari pakaiannya dan membukanya. Matanya segera di buat bingung oleh puluhan baju yang tergantung di sana. Ciel sedang asyik merauti pensilnya dengan cutter.

"Ciel." Panggil Alois tiba-tiba. "kau bisa membantuku sebentar?"

Ciel mengangkat alisnya. "Kenapa? Kau bingung memilih pakaian?"

Alois berbalik dan terkekeh-kekeh. Ciel hanya bisa mendesah pasrah.

"Baiklah… kau ini laki-laki atau perempuan, sih? Memilih baju saja susah sekali!" Ciel mulai membalik-balikkan pakaian-pakaian Alois yang tergantung di lemari tersebut. Alois pun juga.

"Bagaimana kalau ini?" Alois menempelkan pakaian yang ada di tangannya ke dadanya. Pakaian berwarna putih?

"Mmh… kau terlihat pucat kalau pakai itu." Kata Ciel. Tangannya segera membalik-balikkan pakaian lagi. "bagaimana kalau yang berwarna hijau ini? Sekarang, kan, kau sedang memakai baju berwarna merah."

Alois mendecakkan lidah. "Warnanya terlalu gelap. Itu malah bagus untukmu saja, Ciel."

"He~?" Ciel tercekat. Alois kembali memilih-milih baju. Tak disangka, ia mendapati sebuah pakaian miliknya yang kelihatanya…

"Hei, Ciel. Tolong pilihkan sebentar. Aku ingin mencoba beberapa baju dulu di kamar mandi." Alois langsung saja meninggalkan Ciel sendirian di depan lemari. Ciel hanya cengo.

"Dasar Alois! Begini saja harus ganti baju. Memangnya apa salahnya pakai baju yang melekat di tubuhnya sekarang!" Ciel menggerutu. Tapi tiba-tiba, ia menangkap sebuah pakaian berwarna ungu.

'Bukannya ini…'

Alois segera mengganti pakaiannya di kamar mandi. Ia menyawang pakaian yang ia bawa di depan kaca. Pakaian ini… pasti akan membuat geger Ciel. Senyum jahilnya pun menyunging di bibirnya. Begini-begini, Alois suka sekali menggoda Ciel.

Sementara Alois mencoba baju, Ciel masih membalik-balikkan pakaian dan memilih setidaknya 3 potong baju untuk Alois. Ia tertarik pada baju berwarna ungu dengan kemeja dalam berwarna putih dan rompi berwarna hijau tua. Pakian ini, kan… pakaian yang biasa di kenakan Alois. Ciel berpikiran, Alois sangat cocok memakai baju itu saat dia melukisnya nanti. Ciel menyunggingkan senyum puas.

"Ciel…" panggil seseorang. Mendengar suara itu, Ciel pun segera menoleh kearah asal suara. Suara itu berasal dari balik pembatas ruangan yang memisahkan kamar dengan kamar mandi.

Mata biru sapphirenya terbelalak melihat sesosok yang ia kenal itu keluar dari balik pembatas ruangan. Bagaimana tidak! Ia melihat Alois sahabatnya itu menggelayut manja di balik pembatas ruangan sambil memamerkan kakinya yang putih mulus. Tubuhnya tertutup sebuah kimono merah menggoda yang di bagian pundaknya terbuka. Ciel sungguh tidak percaya. Ia merasa tubuhnya membatu. Pakaian yang ia bawa hampir saja terlepas dan jatuh ke lantai.

"Hei… bagaimana? Apakah aku cocok memakai kimono merah yang dibelikan Paman dari Jepang ini?" Alois berkata sambil sedikit mendesah.

Ciel tetap saja tak bergeming.

"Aku ingin… kau melukisku dengan mengenakan pakaian ini. Boleh?" kata Alois lagi.

Setelah lama Ciel terbelalak dan wajahnya… oke. Merona merah karena malu. Tapi seketika itu, ia pun tersadar dan segera menjawab dengan tegas.

"Tidak!" katanya singkat sambil melihatkan telapak tangannya.

Alois langsung tertohok. "Haah?" katanya kecewa. "kenapa?" nadanya meninggi.

Ciel mendesah keras. Ia pun memalingkan pandangannya ke samping.

"Alois. Aku tidak mau menggambarmu dengan pose vulgar begitu." Ciel berkata datar. Ia berusaha untuk tidak melihat sahabatnya itu. Bisa-bisa, ia bakal jatuh pingsan!

"Ha? Ayolah… aku mohon…" Alois mulai merajuk.

"Kau ini!" Ciel mulai memberanikan diri untuk melihat sosok Alois yang kini sudah tidak bergelayut-gelayut… yang… ng… membuatnya merinding setengah mati! Sumpah!

"Alois! Kau ini laki-laki! Lebih baik kau pakai baju ungu ini. Bukannya ini baju yang sering kau pakai?" katanya lagi.

Alois mendengus. Wajahnya memelas. Ciel mendesah lagi. Matanya melirik-lirik, mencuri-curi pandang. Ia tidak berani menatap langsung Alois yang sekarang. Wajahnya masih merona merah!

"Karena… kalau kau memakai pakaian itu… kau… jadi terlihat seperti seorang gadis!" katanya malu-malu. Tapi jujur dari lubuk hati!

Mendengar pengakuan langsung dari sang sahabat, Alois tercekat. Ia mengerjap-ngerjapkan kedua matanya. Tapi seketika itu, ia menyeriangi.

Alois mendekati Ciel dan membelai wajah mulusnya. "Apakah aku… gadis yang manis?" tanyanya menggoda.

Merasakan hal aneh terjadi pada dirinya, Ciel merasa bulu kuduknya berdiri semua. Ia merinding bukan main. Refleks, ia pun segera menghindar. Tangannya berusaha menjauhkan wajah Alois yang kian mendekat.

"Alois! Menjauh dariku! Menjijikkan!" Ciel memberontak. Ia merasa jijik, juga malu.

"Hyahahahaha!" Alois tertawa hingga perutnya sakit.

"Ke-kenapa malah tertawa seperti itu!" Ciel terlihat salting. Ia mulai protes.

Alois masih terus tertawa terbahak-bahak. "Hahaha! Wajahmu jadi merah seperti tomat! Hyahahahaha!"

"Hei! Diam, bodoh! Itu tidak lucu!" elak Ciel. " kau ini sellau saja suka mengerjaiku! Ini! segera kau pakai baju ini! Atau aku tidak akan melukismu malam ini!" lanjutnya. Uwaah… Ciel marah, nih?

"Yah… tapi sungguh. Aku sebenarnya ingin dilukis memakai kimono ini. Kan, jadi terlihat lebih seksi…" Alois merajuk.

"Tidak! Mau kau kemanakan nama baikmu nanti kalau banyak orang tahu lukisanmu vulgar seperti itu? Kau ini, kan, bangsawan!" Ciel segera duduk di sofanya lagi dan menyiapkan peralatan lukisnya.

Alois hanya bisa mendesah keras dan menerima pakaian yang di sondorkan Ciel tadi. "Baiklah… aku mengerti. Aku akan pakai ini. Tunggu sebentar, ya." Alois pun masuk lagi ke kamar mandi. Sementara itu, Ciel hanya bisa geleng-geleng. Dasar anak itu! Lagi-lagi Ciel terjebak dan berhasil dikerjainya! Tapi… walaupun Alois suka menjahilinya, Ciel tetap senang bersahabat dengannya. Alois selalu membuatnya tertawa. Mengingat itu, Ciel tersenyum kecil.

Ciel menggores buku gambarnya dengan pensil. Di depannya, Alois berpose duduk berselonjor sambil bersandar di pegangan sofa. Ia nampak sedang memain-mainkan gelas berwarna biru laut yang berukir indah. Ekspresi wajahnya… seperti biasa. Tersenyum licik.

"Hei Ciel." Panggilnya.

"Hm…" jawab Ciel yang masih terpaku pada buku gambarnya.

"Tidakkah… kau merasa tertekan?" tanya Alois. Senyumnya pun surut. Ekspresinya berubah jadi biasa saja.

Ciel terhenti. Kepalanya menengadah menatap sahabatnya. "Tertekan? Karena apa?"

"Karena kau harus kembali ke Inggris." Jawab Alois cepat. Mendengar kata-kata itu, Ciel tercekat. Biru matanya meredup. Ia kembali berkutat pada lukisannya yang hampir jadi.

Alois menoleh kearah Ciel. Matanya sayu menatap sahabat berambut kelabu pekatnya itu. Ia pun mendesah pelan.

"Kau tahu? Aku pun sama denganmu." Kata Alois. Ia kembali berkutat dengan gelas birunya yang sudah berisi sedikit wine berwarna merah. "di Inggris nanti, aku hanya akan menjadi boneka. Yang hanya di permainkan oleh banyak orang."

Ciel terdiam. Matanya sayu menatap hasil lukisannya yang kini sudah sepenuhnya selesai.

"Di luar, aku memang senang mengumbar senyum agar ramah di mata orang lain, dan bersikap layaknya anak berumur 15 tahun pada umumnya. Tapi di dalam, aku seakan menjerit dan tak seorang pun mengerti tentang apa yang kurasakan." Kata Alois datar.

Ciel menoleh kearah sahabatnya itu. Alois terlihat masih memain-mainkan gelasnya, dan seketika itu, ia meneguk winenya. Sebenarnya ia tidak suka minum. Tapi kalau hanya sedikit… tidak apalah.

Ciel menatap sayu sosok pemuda berambut pirang itu. Tak ia sangka, sahabatnya itu juga menderita seperti dirinya.

"Aku… hanya ingin merasakan kebebasan sedikit saja. Apakah mereka tidak mengerti sama sekali?"

Sunyi.

Tiba-tiba saja, suasana menghening. Alois dan Ciel sibuk dengan pikirannya sendiri-sendiri. Ciel melirikkan matanya sedikit kearah sahabatnya itu. Ia mendapati Alois tengah menuang-nuangkan isi gelasnya yang ternyata sudah kosong itu. Hanya tinggal sedikit sekali wine yang tersisa, dan berhasil menetes di lidahnya yang ia julurkan. Ciel mendesah keras.

"Hei. Lukisanmu sudah jadi. Tidak mau dilihat?" tanya Ciel memecah keheningan. Mendengar panggilan dari pemuda bermata biru samudera itu, Alois segera bangun dan menoleh.

"Benarkah? Bagaimana poseku? Tidak aneh, kan? Bagus, kan?" tanya Alois beruntun dengan nada antusias. Ia segera berjalan menuju sofa Ciel.

"Kau lihat saja sendiri!" Ciel memanyunkan bibirnya sambil menyondorkan hasil lukisannya. Segeralah tangan Alois menyambarnya. Ciel sempat tercekat.

Alois terlihat membelalakan matanya. Bola matanya bergerak-gerak menelusuri setiap goresan pensil yang di hasilkan oleh tangan Ciel. Ini…

"Ciel! Kau hebat! Gambarmu sangat mirip sekali dengan yang asli!" puji Alois. Ciel hanya bisa terdiam. Wajahnya merona.

"Terimakasih." Jawab Ciel cepat sambil memalingkan wajah.

"Waaah! Terimakasih, ya, Cieell!" tiba-tiba saja, Alois memeluk Ciel erat. Ciel tentu saja kaget bukan main. Tubuhnya berhasil diremat kuat-kuat oleh lengan Alois.

"Iya. Aduduh… Hei! Sudah! Lepaskan aku! Aku tidak bisa bernapas…!" Ciel berusaha melepaskan pelukan Alois yang membelenggunya.

"Oh? Maafkan aku." Alois segera melepaskan pelukannya. Terlihat setelah itu, Ciel nampak sedang menenangkan napasnya yang hampir saja terhenti (?). Ia mengelus-elus dadanya dan merapikan pita bajunya yang melingkar di lehernya.

"Aku akan menyimpan lukisan ini." kata Alois. "kau baik sekali. Aku suka semua lukisanmu." Alois tersenyum. Tersenyum tulus.

Melihat sahabatnya itu tersenyum, Ciel juga tak bisa terus-terusan membendung senyumannya.

Tapi saat sedang tersenyum dengan riangnya, mereka di kagetkan oleh suara derap langkah yang semakin mendekati kamar Alois. Refleks, kepala mereka segera menoleh kearah pintu.

.

.

Arnold Trancy segera melangkahkan kakinya cepat-cepat menuju kamar Alois. Ia begitu marah setelah mengetahui keponakannya itu kabur lagi dari pertemuan. Ia merasa kesal.

"Alois!" panggilnya dengan suara lantang. "dimana kau?"

Di belakangnya, Claude sang butler mengikutinya.

Arnold merasa selalu dipermainkan. Tak ada jawaban dari sang keponakan. Ia segera membuka pintu kamar Alois dengan kasar hingga terdobrak. Tak disangkanya, kamar Alois kosong. Kurang ajar! Kemana anak itu!

"Claude! Cepat cari dia!" perintah sang tuan.

"Yes, You're Highness." Claude segera masuk dan mencari Alois. Sedangkan sang paman hanya berdiri kesal di ambang pintu.

Alois bersembunyi di balik tembok kamar mandi. Ia mendekap tubuh dan membekap mulut Ciel. Ciel tersentak bukan main saat Alois tiba-tiba menarik dirinya ke balik tembok dan membekap mulutnya. Tangan kiri Alois melingkar di pinggangnya. Ciel tahu ini terpaksa karena Alois punya maksud lain. Yaitu menyuruhnya diam. Tapi… posisi ini…

"Al… hhmmphh.." Ciel tidak bisa mengeluarkan suaranya dengan baik. Ia agak memberontak.

"Diam, Ciel! Ini keadaan gawat!" Alois berbisik.

"Tapi tidak seharusnya kau mendekap tubuhku dan membekap mulutku seperti ini!" balas Ciel lirih. Ia pun melepaskan bekapan tangan Alois yang hangat.

Alois tak menghiraukan kata-kata Ciel. Kepalanya dilongokkan dari balik tembok. Gawat! Claude makin dekat!

"Kau jangan grusak-grusuk begitu, dong! Butlerku sudah dekat!" kata Alois.

"Kau juga, sih! Kenapa harus mendekapku segala!" Ciel malah protes. Tak sengaja, kaki Ciel menendang sebuah guci keramik dan guci itu menggelundung. Menyadari itu, Ciel tercekat dan panik. Alois terbelalak melihatnya.

"Maafkan aku, Al…" Ciel menoleh menoleh canggung kearah sahabatnya.

"Ciel! Kau ini!" desis Alois geram.

Melihat sebuah guci menggelundung dari balik tembok kamar mandi, Claude mulai curiga. Ia menyipitkan matanya yang sudah sipit itu *halah!*, dan berjalan pelan mendekati tembok tersebut.

Dari balik tembok tersebut, Ciel dan Alois sudah harap-harap cemas. Tubuh mereka menegang. Mereka panik. Sementara itu, Claude semakin mendekat dan berhasil menemukan mereka. Seketika sosok Claude mulai terlihat, dengan sigap, Alois segera menarik tangan Ciel dan lari keluar kamar.

"LARIIII!" serunya. Ciel tersentak hebat ketika tubuhnya berguncang di tarik Alois.

"Huwah!" katanya refleks. Alois dan Ciel berlari secepat mungkin dan berhasil keluar dari kamar.

"Alois! Jangan menarikku seperti ini!" seru Ciel.

"Sudah! Jangan cerewet! Ikuti saja aku!" kata Alois tegas. Mendengar itu, Ciel langsung terdiam.

Saking cepatnya Alois dan Ciel berlari, Arnold, sang Paman hanya bisa tercekat dan tak sempat mengejarnya.

"Ah! Heii! Mau kemana kalian berdua!" Arnold pun segera mengejarnya.

Sambil menggandeng tangan Ciel, Alois berlari menyusuri lorong-lorong yang kanan-kirinya terdapat banyak kamar-kamar. Sesekali, kepala mereka menoleh ke belakang. Melihat keadaan sudah seberapa jauh mereka berlari dan melihat apakah si pengejar dapat mengejar mereka atau tidak.

"Hei, kaliaan! Tunggu!" Arnold terlihat kewalahan mengejar sang keponakan bersama temannya itu. Karena berat badannya, belum-belum ia sudah lelah dan terjatuh. Napasnya ngos-ngosan. Dari belakang, Claude pun mengikutinya sambil berlari.

"Tuan. Anda tidak apa-apa?" tanya Claude.

"Claude! Cepat kejar mereka! Bawa mereka padaku!" perintah Arnold lagi.

Mendengar perintah itu, Claude langsung membungkuk dan segera berlari lagi.

"Yes, You're Highness."

.

.

Ciel dan Alois sudah jauh berlari. Laju lari mereka sedikit demi sedikit memelan, dan terhenti. Mereka berdua membungkuk dan napasnya ngos-ngosan.

"Alois!" panggil Ciel. "kau… gila!" lanjutnya. Masih dengan napas terengah-engah.

"Bagaimana? Bisa… merasakan bagaimana… berlari denganku, kan?" Alois tertawa masih sambil terengah-engah.

"Ya! Dan itu… membuatku gila! Tapi… entah kenapa… aku menikmatinya…" Ciel tersenyum sinis.

"Bagus kalau kau menikmatinya. Aku pun begitu. Sudah lama… aku tidak bebas berlari-larian seperti ini…" kata Alois.

"Kau benar. Kita sama…" jawab Ciel. Ia terkekeh pelan.

Tiba-tiba, sedang asyik-asyiknya mereka istirahat, dari balik tikungan lorong, muncullah sang butler hitam keluarga Trancy dengan berlari cepat. Ciel dan Alois yang sedari tadi ngos-ngosan, langsung tercetik. Mau tidak mau, mereka harus berlari lagi.

"Ciel! Larii!" seru Alois.

"Hei! Tunggu aku!" Ciel segera mengikuti si mata biru muda.

Melihat sasarannya berlari lagi, Claude mendecakkan lidah dan memacu kembali laju larinya.

"Alois! Sampai kapan kita terus-terusan bermain kejar-kejaran seperti ini!" seru Ciel.

"Nikmati saja! Nikamti seakan kau benar-benar bermain kejar-kejaran!" jawab Alois. Nadanya terlihat riang. Terdengar pula suara tawa dari mulutnya. Menyadari itu, Ciel tertegun. Mulutnya terbuka sedikit. Ia pun tersenyum dan bertekad untuk berlari terus. Jangan sampai Claude menangkapnya!

.

.

Entah sudah berada di dek apa Ciel dan Alois berada. Ia sudah berbelok-belok lorong demi lorong. Tapi Claude masih juga bisa mengejarnya. Mata Alois segera menemukan sebuah lift. Lift kapal yang pintunya hanya seperti sebuah pagar. Bukan seperti lift jaman sekarang. Ia sontak menarik tangan Ciel utnuk memasuki lift tersebut.

"Hei!" Ciel tersentak.

"Kita naik lift ini!" kata Alois. "bawa kami ke bawah!" perintah Alois pada penjaga lift. Si penjaga lift pun dengan sigap menutup pagar lift dan menurunkan mereka ke bawah. Setelah lift berjalan, Claude baru sampai di depan lift tersebut. Lift berjalan ke bawah. Dari dalam lift, Alois terkikik-kikik penuh kemenangan sambil menujulurkan lidah pada Claude. Ciel hanya bisa terkekeh-kekeh sambil melambai kecil.

"Sial!" Claude mulai kesal. Mau tidak mau, ia harus mencari jalan pintas ke bawah.

Sesampainya di dek kelas 2, dek dimana rakyat jelata di tempatkan dalam kapal Titanic ini, Alois dan Ciel segera turun dari lift. Mereka melihat banyak oarng-orang berseliweran. Di dek ini terlihat lebih ramai ketimbang dek dimana mereka tinggal.

"Akhirnya kita lolos juga. Keras kepala sekali si jidat lebar itu!" Alois tertawa penuh kemenangan.

"Jidat lebar katamu?" tanya Ciel cengo.

Alois berdecak. "Kau tidak lihat jidatnya?" katanya sambil menunjuk jidatnya sendiri. "lebar! Silau!"

Ciel tertawa mendengarnya. Mereka nampak sedang berjalan menyusuri lorong-lorong dek kelas 2. Baru berjalan beberapa langkah dari lift, mereka segera di gegerkan oleh kemunculan butler serba hitam Claude. Langkah mereka terhenti sesaat. Mata biru mereka terbelalak. Astaga! Cepat juga dia mengejar mereka! Seakan larinya seperti kereta api!

"Ups. Gawat…" gumam Alois. Dengan sigap, Ciel dan Alois berbalik dan berlari lagi. Tanpa berkata apa-apa, Claude segera mengejar dua anak itu lagi.

"Alois! Kau bilang kita sudah tak terkejar lagi. Apa buktinya?" Ciel seperti meminta penjelasan.

"Aku juga tidak tahu! Dia seperti setan!" Alois tertawa ditengah-tengah larinya.

"Setan?" nada bicara Ciel meninggi.

"Ah… sudahlah! Lebih baik, kita berlari saja terus!" Alois segera menarik tangan Ciel. Ia terlihat tertawa-tawa. Bukannya menderita karena dikejar-kejar, ia mlaah menikmatinya. Dasar aneh.

Ciel hanya bisa mendesah sambil tersenyum.

Tidak terasa, Ciel dan Alois berlari turun dan terus turun hingga sampai ke ruang mesin. Suasana di situ sangatlah bising. Saking bisingnya, Ciel sampai menutup telinganya.

"Alois! Kita ada di mana!" Ciel berteriak di depan telingan Alois. Tapi, saking ramainya tempat itu, walaupun Ciel berteriak, belum tentu Alois mendengarnya dengan jelas.

"Ini di ruang mesin, kurasa!" balas Alois dengan berteriak juga. Oh? Alois ternyata mendengarnya.

"Apa? Ruang mesin? Kau gila?"

"Aku memang gila!" jawab Alois sambil terkekeh-kekeh.

Tapi baru saja Alois dan Ciel masuk ke ruang mesin dari pintu yang terbuat dari besi itu, Claude berhasil menyusulnya lagi! Mereka menoleh serentak.

"Datang lagi! Lariii!" Alois segera menarik tangan Ciel lagi. Akibatnya, tubuh kecil yang ringkih itu pun tersentak.

"Ah! Alois!" kata Ciel refleks.

Claude mulai kesal karena targetnya selalu lolos darinya. ia merasa di permainkan. Ia pun berteriak dan mengejarnya tak henti-henti. Entahlah ia sebenarnya lelah atau tidak.

Alois berlari sambil menarik tangan Ciel. Ruangan terlalu ramai. Hampir saja mereka berdua menabrak pekerja-pekerja ruang mesin yang sedang menangani bagian-baginan mesin yang harus di jalankan sesuai perintah dari bagian anjungan. Tapi seramai apapun tempat ini, sesempit apapun, dan sebising apapun, mereka beruda seakan menikati permainan kejar-kejarannya.

Alois selalu tertawa ceria dan terus berlari sambil sesekali menengok ke belakang. Ia mendapati Claude terlihat kesulitan mengejar mereka karena banyaknya orang yang berlalu-lalang. Dan seakan, tawanya itu bertujuan untuk memanas-manasi si pengejar.

Sementara Alois malah tertawa-tawa, Ciel malah terlihat was-was. Tapi ia juga ikut tertawa walaupun mungkin hanya berkesan tersenyum. Napasnya juga mulai ngos-ngosan lagi. Tapi, melihat Alois menikmatinya, Ciel jadi tidak bisa terus memperlihatkan kewas-wasannya. Ia seakan terbius oleh tawa dari sahabatnya itu. Wajah Alois terlihat cerah walaupun di ruangan yang terlihat agak remang-remang ini.

Alois membawa Ciel berlari entah kemana. Terus masuk ke dalam ruang mesin yang ternyata luas sekali. Sesekali, pemuda berumur 15 tahun itu mendesah kagum melihat betapa besarnya mesin-mesin dari kapal raksasa ini. Begitu juga dengan Ciel. Tidak terasa, jarak Claude dengan mereka makin dekat. Alois dan Ciel menoleh ke belakang, dan melaju lagi lebih cepat. Tanpa diduga-duga, jubah ungun Alois tersangkut di sebuah pagar pembatas yang ujungnya tajam. Langkahnya jadi tersendat. Alois nampak sedikit tersentak.

"Alois!" pekik Ciel. Ia khawatir Claude bisa mengejar dan mengkapnya. Sedangkan Alois sibuk melepaskan jubahnya yang tersangkut itu. Ia menarik-narik bagian bawah jubah ungunya. Tapi tidak bisa. Tiba-tiba, rasa panik menyelubunginya.

"Cepat! Claude hampir dekat!" kata Ciel sambil sesekali membantu Alois melepaskan jubahnya dari pagar tajam itu. Dengan sisa-sisa tenaga dan rasa panik yang menghantui, Alois makin gusar. Ia mearik-narik jubahnya agar terlepas dari pagar. Ayo lepas! Lepas! Dan setelah jarak Claude dan mereka berdua hanya terpaut 2 meter saja, Alois berhasil menarik jubahnya dan jubahnya pun tersobek. Ia tidak peduli baju kesukaannya itu sobek dan ia segera berlari sambil menarik tangan Ciel lagi. Alois segera berlari lagi. Ciel memandang jubah Alois yang sobek itu dengan tatapan sayang. Jubah ungu sahabatnya sobek… dan sobekannya itu tidak kecil. Tapi entahlah Alois hanya cuek. Tawanya masih terdengar dan terus berlari. Ciel menjadi serba salah.

Setelah sesuatu menghalangi langkah mereka, akhirnya dua sahabat itu berhasil melarikan diri, dan Claude kehilangan jejak mereka. Claude terlihat kesal. Ia membungkuk di tengah-tengah lalu-lalang pekerja-pekerja ruang mesin sambil terengah-engah. Ciel yang sedang berlari menolehkan kepalanya ke belakang. Matanya menatap Claude yang terlihat kelelahan itu, dan akhirnya kembali menghadap depan, menatap rambut pirang Alois yang melambai-lambai.

.

.

Alois dan Ciel berhasil keluar dari ruang mesin yang sangat bising dan ramai itu. Mereka mengambil jalan pintas hingga akhirnya berada di dek atas. Ternyata, mereka tidak terasa kalau mereka sudah berlari naik turun tangga tadi. Mereka segera saja terbungkuk-bungkuk dan terengah-engah.

"Ahahaha… ini gila sekali!" seru Alois sambil terengah-engah.

"Aku sudah mengatakannya bukan? Kau memang gila! Kau membawaku ke ruang mesin yang sebegitu ramainya hingga aku hampir tidak bisa mendengar suaraku sendiri!" balas Ciel. Ia tidak percaya bisa mempunyai sahabat yang gila seperti ini. "kau seperti tak henti-hentinya mengerjai butler berkacamatamu itu."

"Tapi kau menikmatinya, kan?" tanya Alois setelah napasnya sudah tenang. ia tersenyum. Mata biru mudanya menatap Ciel dalam.

"Benar. Walaupun sedikit was-was." Ciel menjawab sambil menjulurkan lidahnya sedikit. "aku tak pernah merasa sebebas tadi. Bisa merasakan was-was seperti tadi."

"Ya. Sudah terlampau lama sekali." Alois merawang ke atas. Memandang ke atas langit. Angin malam semilir membali tengkuk dan wajahnya.

"Alois. Pakaianmu…" kata Ciel tiba-tiba. Alois menoleh dan melihat bagian bawah jubahnya yang sobek.

"Kenapa?" Alois balas bertanya dengan polos.

"Kau tanya kenapa? Pakaianmu sobek, tahu!"

"Lantas? Kau merasa sayang?" tanya Alois sambil menyeriangi.

"Yah… sedikit. Andaikan aku jadi kau, aku mungkin akan merasa kecewa. Itu, kan, pakian kesayanganmu. Benar?"

Alois meraih bawah jubahnya yang sobek itu. "Yah… kau memang benar. Aku sering sekali memakai baju ini." tatapannya menerawang.

Ciel menatap sahabatnya itu dengan tatapan sayu.

"Ah… Tenang. Nanti bisa dijahit, kan?" Alois terkekeh. Tapi entah kenapa, kekehannya seakan dipaksakan. Ciel jadi merasa bersalah.

Alois melupakan masalah pakaiannya sejenak, dan menatap kearah langit. Ciel pun ikut meluruskan pandangan Alois.

"Hei. Malam ini… bintang tidak muncul, ya?" tanya Alois. Ia berjalan mendekati pagar membatas, dan menumpukkan kedua tangannya di atasnya. Rambutnya melambai terkena angin.

"Kau… suka melihat bintang?" Ciel malah tanya balik.

"Ya… bintang selalu berhasil menenangkan jiwaku." Jawab Alois sambil tersenyum. Ciel tertegun. Entah kenapa, wajah Alois terlihat sedikit kecewa saat mleihat para bintang tidak muncul. Tapi setidaknya, bulan muncul di tengah-tengah langit hitam kelam itu.

Ciel berdiri menatap Alois yang nampak membelakanginya. Wajahnya sayu. Dalam hati, ia bertanya-tanya. Alois yang baru saja ia kenal beberapa hari yang lalu itu dalam sekejap dapat membuat hatinya nyaman. Alois selalu tertawa untuknya, membuatnya geli, juga suka sekali mengusilinya. Saking keceriaannya itu, Ciel mau tidak mau juga ikut tertawa. Hal yang sudah lama tidak ia perlihatkan selama 4 tahun yang lalu. Dan sekarang, Ciel melihat si mata biru muda itu sedang termenung. Ia tidak tahu menahu sahabatnya itu termenung karena apa. Tapi, apakah hanya karena tidak bisa melihat bintang? Sepertinya tidak. Ia melihat matanya menerawang jauh ke atas langit. Ia membiarkan rambut dan jubahnya berkelebat di tiup angin malam. Napasnya berasap.

Karena tidak tahan melihat Alois termenung, Ciel pun berjalan menghampirinya, walaupun awalnya agak ragu. Ciel pun melangkahkan kakinya sehingga menimbulkan suara ketokan dari sepatu birunya. Tangannya ia julurkan, hendak menyentuh pundak Alois yang terlihat lebih tinggi itu.

"Alois…" katanya menggantung. Baru saja ia mengeluarkan suara, tiba-tiba kapal berguncang hebat. Ciel dan Alois tersentak bukan main. Ciel oleng ke arah Alois.

"Ciel! Awas!" Alois segera berbalik dan menangkap tubuh Ciel. Akhirnya, Ciel jatuh menimpa tubuh ramping Alois. Tidak hanya jatuh menimpa Alois saja, Alois dan Ciel juga membentur pagar pembatas karena saking kerasnya guncangan yang terjadi.

"Akh!" kata Ciel mengaduh. Ia pun mengelus kepalanya. Setelah tenang, Ciel pun bangun.

"Ah! Alois. Ma-maafkan aku…" katanya khawatir.

"Tak apa..." jawab Alois. Ia terlihat mendesis kesakitan. Oh… rupanya kepalanya sedikit membentur pagar. Sakit juga, sih.

"Kepalamu terbentur? Apakah sakit?" Ciel dengan sigap mengelus-elus kepala Alois yang sakit.

Sementara Ciel sedang mengelus-elus kepala sahabatnya itu, Alois tak sengaja menoleh kearah belakang. Matanya mendapati sebuah gunung es yang cukup besar menjatuhkan beberapa dari bongkahannya.

"Awas!" katanya sambil mendekap dan mendorong tubuh Ciel. Hampir saja sebuah bongkahan es yang besarnya sebesar kepala orang dewasa itu menimpa mereka berdua.

Ciel terlihat tidak percaya saat melihat sebuah gunung es tepat di hadapannya. Matanya terbelalak. Pemuda berambut kelabu itu pun berdiri dan berjalan mendekati gunung tersebut. Disusul dengan Alois. Mereka terlihat tidak percaya. Guncangan tadi… apakah akibat si kapal menabrak gunung ini? kapal terasa bergetar seperti diterjang gempa.

"Kau melihatnya, Alois?" tanya Ciel. Masih dengan ekspresi wajah tidak percaya.

"Ya. Aku melihatnya. Kapal ini sepertinya menabraknya. Suaranya keras sekali."

Kejadian ini telah membuat geger semua penumpang kapal dan berhamburan ke luar. Mereka seakan tidak percaya dan bertanya-tanya apa yang terjadi. Tapi di antara mereka juga ada yang malah menikmati serpihan-serpihan bingkahan es yang terjatuh tepat di dek kapal untuk dijadikan bola sepak.

Alois menoleh kearah anjungan. Matanya mendapati beberapa orang yang bekerja di bagian anjungan turun dengan tergesa-gesa. Seperti sang kapten, asisten kapten, dan beberapa awak kapal, juga sang perancang kapal mewah ini. alois mengernyitkan dahinya. Apakah… sesuatu yang buruk telah terjadi?

.

.

Akhirnya chapter 5 selesai.

Maaf karena telat apdet karena saia banyak pe-er, capek karena terus-terusan pualng sore, dan karena komputer saia juga di pake buat nge-game adek saia yang gak mau gantian.

Chapter selanjutnya akan saia susun terlebih dahulu. Insya Allah saia akan apdet cepat. Mohon review dan sarannya… ^^

Yunoku touya ^^