Trererereret!

Halo, halo, dan HALO SEMUANYA!

Yunoki touya yang sudah berganti nama menjadi Yunoki Trancy (sesuai dengan nama FB. Wkwkwkwk) kembali lagi! XD XD

Maaf saia lama apdet. Karena saia lagi banyak ulangan mid semester. Uhuhuhuhu… *nangis bombay*. Oke. Skip! Skip!

Akhirnya chapter 6 saia tulis juga. Sebelumnya, saia mau berterimakasih kepada:

SlythGirlz Phantomhive: heeeh! Bersihkan pikiranmu! Saia gak akan bikin Alois telanjang disini! Bisa-bisa saia ngiler sendiri! *sama aja kalee~* *digampar*. Masalah ending, saia emang mau bikin beda. Oke. Khamsahamnida! ^^

Arleena: *sweatdrop kuadrat* pendek bgt. Okelah kalo begeto~. Arigato… ^^"

Sara Hikari: saia senang kalau km suka. Mereka emang cocok jadi sahabat, kok. Jadi sodara sekalian aja! Wahahahaha! *ditabok Ciel Alois*. Oke. Terimakasih… ^^

Kurara animeluver: oh… gt, ya? Tapi, kedepannya mungkin ga bakal ada. Tp, ya… saia usahakan. Arigato… ^^

Don't like, don't read, dong? Ckakakaka!

Enjoy… ^^

Without Words, We Are Meet

.

.

Chapter 6: The Tragedy Is Begin

Angin malam berhembus kencang sekali di atas permukaan samudera Atlantik. Hawa dingin menusuk tulang. Alois terpaku pada sosok sekelompok manusia yang berdiri di bagian anjungan. Mereka nampaknya sedang berdebat dan turun dengan tergesa-gesa. Mata biru mudanya terbelalak. Perasaannya bimbang. Ia mengatupkan bibirnya rapat-rapat.

'Apakah… akan terjadi sesuatu?' batinnya.

"Oh, Tuhan…" gumamnya sambil terus terpaku bada bagian anjungan. Ciel yang tadi tercengang melihat kejadian barusan, pun menoleh kearah sahabatnya. Matanya mendapati Alois seakan terbelalak tidak percaya. Dahinya mengernyit.

"Ada apa?" tanya Ciel sedikit khawatir sambil menepuk pundak Alois.

Alois mengelengkan kepalanya kaku dan terus membelakangi Ciel.

"Kurasa… sesuatu yang buruk akan terjadi sebentar lagi, Ciel." Jawabnya lirih tapi horor. Membuat bulu kuduk Ciel berdiri.

"Ap-apa maksudmu?" tanya Ciel terbata. Alois tetap bergeming. Agak lama, tapi kemudian ia pun berbalik. Matanya menatap mata biru berlian milik Ciel dalam.

"Aku akan selalu bersamamu." Tambah Alois lagi. Ciel tersentak mendengar tambahan Alois barusan. Ciel mengangkat sebelah alisnya tanda tak mengerti.

"Entah kenapa aku mengatakan hal ini. Tapi… perasaanku benar-benar buruk. Lebih baik, kita cari tahu apa yang akan terjadi."

Ciel menatap wajah Alois nanar. "Setidaknya, kalau kita mau cari tahu, kita harus cari Mr. Andrews. Dialah yang merancang kapal ini." kata Ciel.

"Baiklah! Kita harus pastikan." Alois pun menarik tangan Ciel masuk ke dalam.

.

.

Ciel dan Alois menuruni tangga bilik umum yang berada di tengah-tengah kapal. Tempat terluas yang ada di atas kapal mewah ini. terlihat banyak orang terheran-heran sambil menggunakan pelampung yang dibagikan oleh beberapa awak kapal. Mereka banyak bertanya-tanya apa yang terjadi dengan kapal ini setelah mendengar suara dentuman keras dan merasakan kapal bergetar. Dan lagi. Kini mereka disuruh untuk mengenakan pelampung. Ada yang bersikap cuek, tapi juga ada yang peduli. Bahkan panik.

Ciel dan Alois nampak tergesa-gesa ketika melihat sesosok pria berpakaian tuksedo berwarna hitam dan umurnya sekitar 40 tahunan berdiri diantara kerumunan orang, seperti sedang menjelaskan sesuatu pada mereka. Tak selang berapa lama, setelah Ciel dan Alois sampai, kerumunan orang yang terkesan panik itupun sirna dan tinggalah pria betuksedo hitam itu sendiri.

"Mr. Andrews!" panggil Ciel. Pria bernama Andrews itu pun segera menoleh ke belakang.

"Earl Ciel Phantomhive?" katanya. Setelah mengetahui bahwa di belakang Ciel masih ada orang yang membuntuti, Mr. Andrews pun segera menyapanya juga. "ah! Earl Alois Trancy." katanya sedikit membungkuk.

"Mr. Andrews. Ada apa ini sebenarya?" tanya Ciel tanpa basa-basi. Mr. Andrews nampak tercekat. Matanya menatap Ciel dan Alois bergantian. Ia pun membuang napas perlahan dan mendekat.

"Kapal Titanic… akan tenggelam." Katanya penuh sesal. Mendengar itu, Ciel dan Alois terbelalak kaget. Ciel menutup mulutnya dengan telapak tangannya. Jadi… ini semua benar?

"Kalian juga sudah mengetahuinya bukan? Kapal bertabrakan dengan gunung es yang keras. Permukaan gunung es tersebut membuat permukaan haluan kapal bagian bawah tergores hingga berlubang, dan airpun masuk. Pintu kedap air sudah di tutup, tapi air masih terus memberontak masuk dan akan terus memenuhi kapal. Seluruh kemampuan sudah dikerahkan. Jadi sebaiknya…" kata Mr. Andrews menggantung.

"Berapa lama kita bisa bertahan?" tanya Ciel. Alois menoleh kearah Ciel. Mr. Andrews terdiam.

"Sekitar 1 jam. Ah, tidak. Paling lama… hanya 2 jam." Jelasnya. "jadi sebaiknya… kalian segeralah menuju sekoci-sekoci yang ada untuk menyelamatkan diri."

Ciel berusaha menenangkan diri. Ia pun mengangguk.

"Aku mengerti." Kata Ciel lirih. Mr. Andrews terdiam. Kemudian, ia pun segera berlalu.

Sepeninggal dari Mr. Andrews, Ciel masih mematung di tempat.

"Ciel. Kita harus segera menyelamatkan diri." Kata Alois tiba-tiba. Ciel tetap tak bergeming.

"Ini… gawat sekali…" gumam Ciel.

.

.

Ciel berlari menyusuri dek kapal bagian atas di ikuti Alois di belakangnya. Suasana dek begitu ramai dan penuh kepanikan. Sudah setengah jam sejak tabrakan tadi. Air sudah menenggelamkan hampir seperempat dari badan kapal. Karena kapal terbuat dari besi, tingkat ketenggelamannya sangat tinggi. Begitu singkat.

"Kita harus secepatnya naik, Ciel!" seru Alois karena suasana di sekitar sangat berisik.

"Aku harus mencari Bibi dan Sebastian dulu!" balas Ciel. Ciel nampak kebingungan karena suasana menjadi lautan manusia. Kepalanya mencari sosok sang Bibi dan butlernya.

Alois tercekat. Mencari mereka? Di tempat ramai seperti ini? Betapa peduli sekali dia. Entah kenapa, dada Alois terasa sesak.

Mereka terus berlari menerobos kerumunan-kerumunan orang yang terlihat sedang mengantri sekoci. Tak peduli mereka menabraki orang-orang karena terburu-buru. Dari jauh sana terdengar suara alunan musik klasik yang terdiri dari beberapa biola dan cello. Mereka sebenarnya juga panik, tapi untuk mengusir kepanikannya tersebut, mereka memainkan musik sepuas-puasnya dan ini juga berguna untuk menghibur penumpang agar tidak begitu panik. Sambil berlari di belakang Ciel, Alois mengedarkan kepalanya kesegala arah. Betapa tegangnya suasana di sini. Sekoci mulai ditumpangi dan di turunkan. Awak kapal mulai berseru dan memandu penurunan sekoci oleh awak kapal yang lain. Alois menoleh kearah punggung Ciel. Ia melihat anak itu berseru memanggil nama Bibinya dan butlernya. Ia pun tercenung. Walaupun ia membenci Bibinya, ia juga tidak mau kehilangannya.

Sedang tenggelam dalam suasana hiruk pikuk yang diselimuti oleh kepanikan, dan tenggelam dalam pikirannya sendiri, tiba-tiba Alois merasakan mulutnya dibekap kuat oleh seseorang. Tubuhnya pun di tarik kebelakang. Entah oleh siapa. Ia tersentak bukan kepalang dan mencoba memberontak. Tapi ia tidak bisa lantaran kalah kuat. Orang itu menyeretnya dengan paksa.

Ciel terus berlari sambil menyerukan nama butler dan Bibinya. Ia tahu suaranya kalah dari suara-suara lain yang saling bertabrakan. Tapi ia tidak mau kalah dan terus berseru. Tapi, kalau begini terus, bisa-bisa suaranya habis tak bersisa. Ia harus minta bantuan orang lain.

"Alois! Bantu aku mencari mereka!" katanya tanpa berbalik. Tak ada jawaban. Ciel mengangkat sebelah alisnya. Ia mulai merasa aneh.

"Alois?" Ciel pun berbalik. Matanya mendapati Alois tidak lagi di belakangnya, mengikutinya seperti tadi. Matanya membulat. Ia mencari sosok berambut pirang itu tapi tak ada.

"Alois!" panggilnya. Aura kepanikan mulai menyergapnya.

"ALOIIISS!"

.

.

Alois terus memberontak dalam dekapan kencang sorang pria berbaju hitam yang ternyata sangat kuat. Ia tidak bisa berteriak karena mulutnya terus ditutupi oleh tangan yang besar. Kakinya ia tendang-tendangkan di udara kosong. Hingga kahirnya ia sampai di suatu tempat di dek bawah. Ia panik setelah tahu ia berada di dek bawah. Ia pun berusaha agar bisa melihat wajah orang yang telah menangkapnya ini.

Orang itu langsung berhenti di depan sebuah pintu dan membukanya. Di dalam, ruangannya begitu gelap, dengan dua jendela berbentuk lingkaran di sana. Cahaya masuk lewat jendela itu, walaupun masih kalah dengan kegelapan ruangan sempit ini. Alois pun di masukkannya secara paksa. Ia terjatuh dan mengaduh. Saat itu, ia baru bisa melihat wajah di penangkap yang tak lain adalah butlernya sendiri.

Claude Faustus.

"Claude! Apa-apaan ini?" protes Alois.

"Saya hanya menjalankan perintah, Tuan Muda." Claude hanya bisa membungkuk dan menjawab pertanyaan Alois dengan datar. Dari balik tubuh Claude, muncullah pria setengah baya, berambut putih, dan satu lagi. Perut buncitnya itu. Mata Alois langsung terbelalak di dalam kegelapan. Paman?

"Alois Trancy… keponakanku tersayang." Kata sang Paman sambil mengulum senyum licik.

"Paman! Apa yang kau lakukan! Brengsek!" makinya.

"Ohohoho… berani sekali kau?" katanya. Sedetik kemudian, wajahnya berubah serius. "kunci dia di sini!"

Alois tersentak. Apa katanya? Dia mau mengurungnya di sini?

Dengan cekatan, Claude pun menutup pintu. Ruangan yang tadinya masih mendapat cahaya, kini hampir seluruhnya menghitam. Alois langsung panik dan takut.

Alois melihat sekitar. Ruangan ini gelap. Sangat gelap. Ia pun menjadi gusar. "Tunggu! Jangan ditutup! Aku takut gelap! Claude!" pekiknya. Tangannya menahan pintu agar tidak tertutup. Tapi sang Paman mendorongnya hingga terjatuh dan tak lama kemudian, pintu pun tertutup sepenuhnya.

"CLAUDEEEE!" pekiknya lagi. Ia pun melihat sekeliling. Begitu gelap. Hitam. Ia tak bisa melihat apa-apa kecuali 2 jendela yang ada di atasnya dan kaca pintu yang berbentuk lingkaran, yang sedikit menyalurkan sinar dari luar. Itu pun hanya redup. Rasa takut menerjangnya sedemikian rupa. Ia mulai gemetar. Matanya yang terbelalak bergerak-gerak. Ia merintih walaupun tidak merasa sakit. Ia fobia gelap. Alois merapatkan kakinya dan duduk meringkuk di sudut ruangan. Kedua tangannya meremat rambut pirangnya dengan kencang. Keringat dingin mulai membasahi tubuhnya. Tak terasa, airmatanya mengalir.

'Aku harus keluar dari sini.' Batinnya. 'Aku harus keluar dari siniii!'

"AAARRRGGHHH!" teriaknya sambil membenamkan kepalanya diantara kedua tangannya yang meremas-remas rambutnya. Teriakannya menggema dalam ruangan gelap itu.

Tidak akan ada orang… yang bisa mendengar teriakannya itu. Walaupun berteriak hingga pita suaranya putus.

.

.

Ciel berlari berbalik arah, mencari sahabatnya itu. Ia menerobos gerombolan orang-orang yang lalu lalang di situ. Alois! Di mana Alois! Hanya itu yang ada di pikirannya. Ia mulai berpikir yang aneh-aneh tentang Alois. Setiap ia menepisnya, pikiran itu terus muncul. Ciel jadi khawatir.

Tak sengaja ia menabrak seseorang hingga jatuh. Ciel dan orang yang ia tabraknya pun mengaduh kesakitan.

Ciel pun berusaha berdiri.

"Tuan Muda?" tanya orang itu. Ciel tercekat mendengarnya. Ia pun menengadah.

"Sebastian…?" katanya lirih. Ciel langsung saja menerjang Sebastian—butler kesayangannya—yang sedari tadi ia cari.

"Kau kemana saja… aku terus mencarimu… kapal ini akan tenggelam, Sebastian. Tenggelam!" katanya khawatir. "aku khawatir padamu…"

"Saya juga mencari anda kemana-mana, Tuan Muda. Lady Angelina sangat khawatir pada anda." Ciel tertegun mendengarnya.

Sebastian membawa Ciel menemui Bibinya yang sedari tadi menunggu sekoci dengan perasaan was-was akan keponakannya.

"Ciel!" seru sang Bibi. Ia langsung menghambur dan memeluk Ciel dengan sayang. Angelina berlutut dan memeluk Ciel, mengelus rambut kelabu Ciel yang lembut. "kupikir kita tak bisa bertemu lagi." Angelina menangis.

Ciel hanya terdiam. Tatapannya kosong. Tak ia sadari, airmatanya jatuh. Sebastian menyadari itu. Ia hanya bisa memandang sepasang Bibi dan keponakan itu dengan tatapan tertegun.

"Ciel. Kita harus cepat naik sekoci ini. sebelum semuanya terlambat." Kata Angelina sambil melangkahkan kakinya menaiki sekoci. Ciel hanya terdiam. Memang benar apa kata sang Bibi. Ia harus segera menyelamatkan diri. Tapi, di luar semua itu, ia harus mencari Alois. Kalau dia selamat, Alois juga harus selamat.

Bibinya yang sudah duduk di sekoci memiringkan kepalanya. Heran melihat tingkah sang keponakan.

"Ciel? Ayo naik." Ajaknya. Ciel tercekat dan menoleh kearah Angelina.

"Ada apa? Ayo." Angelina mengulurkan tangannya.

"Aku harus mencari Alois, Bibi." Kata Ciel akhirnya. Angelina mengernyitkan dahinya. Ia seakan tidak setuju dengan pendapat keponakannya itu.

"Alois? Teman barumu itu? Kau sendiri juga tahu, kan? Tak ada waktu. Sekoci ini akan diturunkan. Pikirkan dirimu sendiri juga, Ciel. Jangan pikirkan Alois. Aku yakin, dia nanti juga akan selamat dengan sendirinya." Katanya.

Ciel sungguh tak mempercayai perkataan Bibinya itu. Jelas-jelas perkataan itu membuatanya tersinggung. 'Jangan pikirkan, katanya? Selamat dengan sendirinya? Semudah kepalamu!' maki Ciel dalam hati.

"Ayo, Ciel. Cepat naik!" kini, sang Bibi bernada memerintah. Mendengar ajakan sang Bibi, Ciel bukannya melangkah maju, tapi malah memundur. Melihat tindakan Ciel itu, Angelina mengernyit.

"Ada apa denganmu? Ayo naik!" katanya lagi setengah mendesis.

Ciel menggeleng kaku. Ia pun menglum senyum yang menyiratkan ketudak percayaannya pada kata-kata sang Bibi tadi.

"Goodbye aunty." Kata Ciel seketika itu. Ia pun segera berlari meninggalkan Bibinya yang tengah terduduk di atas sekoci.

"Ciel! Kembali, Ciel!" Angelina berseru memanggil nama Ciel terus-menerus. Sedangkan Ciel hanya berlari dan tak menghiraukan seruan Bibinya.

"Ciel!"

Sebastian yang mengetahui tindakan bodoh Tuan Mudanya itu pun mengejarnya.

"Tuan Muda!" panggilnya. Ciel pun mempercepat larinya. Ia nampak tergesa-gesa. Tapi, Sebastian dapat menangkap tangan Ciel dan membalikkan tubuh kecil itu agar menghadap kearahnya.

"Tuan Muda! Apa yang anda lakukan!" tanya Sebastian sedikit keras.

"Maaf, Sebastian. Maafkan aku… aku tidak bisa naik sekarang. Aku harus mencari Alois!" Kata Ciel. Sebenarnya ia sangat menyesal tidak bisa naik ke sekoci yang sudah tersedia bersama Bibinya. Tapi, ia tetap pada pendirian. Ia harus mencari sahabatnya dulu. Bila Bibinya selamat, ia pun juga akan merasa lega, bukan?

"Tuan Muda. Anda harus naik sekoci yang sekarang. Kalau tidak, anda akan dikhawatirkan tidak kebagian…"

"Maafkan aku, Sebastian!" Ciel menyentakkan tangannya dan segera berlari lagi. Tak menghiraukan Sebastian yang terus memanggilnya untuk kembali. Tapi Sebastian tahu. Ia tidak akan bisa terus mencegah Ciel untuk kembali.

"Tuan Muda!"

.

.

Ciel berjalan cepat dan melihat sekitar. Begitu banyaknya orang yang berseliweran di dek ini. tapi ia tidak melihat adanya tanda-tanda keberadaan Alois.

"Maaf, Nyonya. Anda melihat seorang pemuda, tingginya sekitar 5 centi dariku, berambut pirang dan memakai jubah ungu?" tanyanya pada seorang wanita bangsawan.

"Oh? Maaf, nak. Saya tidak melihatnya." Jawabnya setelah pikir-pikir. Itupun terdengar terburu-buru dan berkesan tidak mau tahu.

"Ah! I-iya. Terimakasih." Jawab Ciel penuh sesal. Ia pun berjalan lagi. Ia kini menayakan seorang bapak-bapak yang sepertinya hanya rakyat jelata. Jawabannya pun juga nihil. Entah sudah yang keberapa kalinya ia bertanya kepada orang-orang yang terlihat desak-desakkan mengantri sekoci ini. tetap saja jawabannya sama. Tidak tahu.

Hingga akhirnya seorang Ibu-Ibu yang sedang mengantri sekoci sambil menggendong seorang bayi pun menepuk pundak Ciel. Ciel yang kelihatannya panik dan celingak-celinguk sana-sini pun menoleh.

"Kau sedang mencari seseorang berambut pirang dan berjubah ungu, nak?" tanyanya lembut. Ciel tercekat. Apakah… Nyonya ini tahu sesuatu?

"Benar, Nyonya. Apakah anda tahu?" tanya Ciel sopan.

Si Ibu pun mengangguk pelan. "Aku melihatnya. Ia seperti diseret oleh orang berpakaian hitam ke suatu tempat. Karena penasaran, aku pun mengikutinya. Dan setelah tahu, anak itu pun ternyata di bawa menuju dek B." jelasnya.

Ciel tersentak. 'Tunggu! Dek B?'

"Dek B?" ucap Ciel setengah kaget. Sang Ibu mengangguk. Ciel menjadi bimbang. Alisnya beradu. 'Dek B? dek yang ada di ujung bawah?' batinnya. Ciel berjalan menuju pinggir kapal. Tangannya mencekeram kuat pagar besi dan menukikkan tubuhnya ke bawah. Kepalanya ia tolehkan ke samping, tepat menatap kapal bagian haluan. Bagian haluan terlihat sudah miring. 'dek B? dek itu akan tengelam sebentar lagi!' pekiknya dalam hati.

"Terimakasih, Nyonya." Katanya sambil membungkuk kemudian berlalu. Sambil berlalu, tanpa sengaja, ia menoleh lagi kearah sang Ibu tadi. Ia terlihat kesusahan utnuk memperoleh ruang agar ia bisa naik ke sekoci. Kalau di pikir-pikir, Ibu itu harus selamat karena ia juga membawa seorang bayi yang masih lemah dan kecil. Ciel menatapnya getir. Ia ingin menolongnya, tapi ia tidak bisa.

'Maafkan aku, Nyonya. Aku akan mendo'akanmu agar kau selamat.' Batinnya. Ia pun melanjutkan perjalanannya.

'Terimakasih.'

.

.

Alois membenamkan kepalanya di antara kedua lutunya. Tubuhnya gemetar ketakutan. Ia menangis merintih. Ia benar-benar takut. Sampai-sampai ia tidak tahu harus berbuat apa.

Tiba-tiba, ia merasakan lantai mulai basah. Ia tercekat. Ia melihat air mengalir dengan cepat memasuki ruangan gelap itu. Cahaya remang dari jendela di atasnya memantulkan benda cair berwarna bening itu hingga bisa terlihat oleh mata Alois. Alois tersentak dan segera bangun. Ia menoleh kearah jendela. Ini begitu cepat. Jendela sudah setengahnya tertelan oleh air laut. Ia menjadi panik bukan main. Dek B sudah dimasuki air!

"Tolooong!" serunya sambil menggedor-gedor pintu. Ia memutar-mutar kenok. Ah! Iya. Ia lupa kalau pintu masih terkunci. Hal itu membuatnya tambah panik. Padahal, air yang masuk terus menerus semakin banyak walaupun alirannya tidak deras.

"TOLONG AKKUUU!"

.

.

Ciel berlari secepat mungkin dan masuk ke dalam kapal. Ia berlari melewati koridor demi koridor. Napasnya terengah-engah. Ia mendapati sebuah perempatan jalan di sana. Ada 4 jalan. Awalnya ia bingung harus memilih yang mana. tapi akhirnya ia memilih untuk lurus. Di perempatan berikutnya, ia memilih belok ke kanan. Hingga akhirnya ia menemukan sebuah lift. Ciel merasa lega karena lift itu masih ada penjaganya.

"Tunggu! Aku naik lift ini!" serunya sambil menghampiri lift tersebut.

"Maaf, Tuan. Lift ini sudah kami tutup." Kata sang penjaga ramah.

"Aku harus naik lift ini!" Ciel berusaha menerobos.

"Tunggu, Tuan! Lift ini sudah kami tutup!" si penjaga mulai gusar dan mencegah Ciel untuk masuk.

"Diam kau!" seru Ciel sambil mendorong penjaga itu masuk hingga ia membentur tembok lift. "bawa aku turun!" perintahnya tegas. Apa boleh buat, si penjaga pun harus melayani si penumpang. Lift pun berjalan ke bawah. Ciel ngos-ngosan sambil menunggu lift ini sampai ke dek B. tapi tiba-tiba, air masuk ke dalam lift. Ciel memekik karena kaget. Begitu juga si penjaga lift.

"Tuan! Lebih baik kita kembali." Kata si penjaga.

"Tidak! Biarkan aku turun!" Ciel pun membuka paksa pintu lift yang hanya terdiri dari pagar-pagar besi berwarna emas.

"A-aku akan kembali ke atas." Si penjaga yang ketakutan pun menjalankan liftnya kembali ke atas. Ciel hanya menatapnya datar. Masa bodoh bila ia ditinggalkan. Yang ada dipikirannya sekarang hanyalah mencari Alois.

Dek B. Ya. Ini dek B. Air sudah memasuki dek ini dan sampai saat ini sudah setinggi betisnya. Sepatunya basah, tertelan air yang mulai meninggi. Ciel melangkahkan kakinya yang terasa berat karena susah sekali berjalan di dalam air. Tapi dengan cekatan, ia melangkahkan kakinya dengan langkah besar-besar.

"Alois!" ia memanggil-manggil nama Alois, berharap ada yang menjawab. Tapi sunyi. Yang terdengar hanya bunyi gemericik air dan suara menggema yang disebabkan oleh tubuh kapal yang semakin miring. Bunyinya mungkin seperti 'GROONG' begitu, mungkin, ya? Hehe.

Kecipak-kecipak yang di timbulkan oleh langkah Ciel menggema di seluruh koridor yang ia lewati.

"Aloiiss!" Ciel berseru dengan tangan melingkupi mulutnya. Karena tergesa-gesa, ia hampir saja jatuh. Celana pendek selututnya kini basah kuyup. Karena tidak ada yang menjawab, ia pun memilih untuk terus berjalan menyusuri koridor sambil memeriksa seluruh ruangan yang ia lewati.

.

.

Alois menghindarkan diri dari air yang terus masuk ke ruangan. Air semakin lama semakin tinggi. Kakinya sudah hampir tenggelam, dan jubahnya sudah basah di bagian bawahnya. Ia terlihat bingung dan memilih untuk naik ke tempat yang lebih tinggi. Seperti meja, atau kursi yang ada di dekatnya.

"Aloiiss!"

Alois tersentak ketika mendengar seruan itu. Ia mendengar namanya disebut. Alois segera menoleh cepat ke arah pintu.

'Suara itu… Cielkah?' tanyanya dalam hati.

Alois mendengar seruan itu 2 kali. Dan ia bisa benar-benar memastikan kalau itu adalah suara dari sahabatnya, Ciel Phantomhive.

Setelah benar-benar yakin, hatinya pun merasa lega. Ia pun segera mendekat ke pintu dan membalas seruan dari Ciel.

"Cieell! Aku ada di sini!" serunya sambil menggedor-gedor pintu. Memberi isyarat bunyi agar Ciel mengetahui keberadaannya.

Ciel masih terus melangkah. Tiba-tiba, ia mendengar suara Alois dari belakang. Ia pun segera berbalik cepat ke arah belakang. Suasana sangat lengang. Biarpun begitu, Ciel pun berlari mengikuti suara itu.

"Alois." Desahnya. "Alois! Di mana kau!" serunya sambil berlari. Kepalanya ia tolehkan ke kiri dan ke kanan. Dari jauh, Alois terus menggedor-gedorkan pintu sambil membalas setiap serua dari Ciel. Hingga akhirnya Ciel sampai di depan sebuah pintu yang terbuat dari kayu yang kuat.

"Alois!" panggilnya sambil menggedor pintu. Ia coba untuk membuka, tapi ternyata terkunci. Ciel terus mencoba membukanya dengan paksa, tapi nihil.

"Ciel!" Alois melongokkan kepalanya di kaca pintu yang berbentuk bulat. "tolong aku!" Alois memukul-mukul kaca pintu dengan telapak tangannya.

Ciel mencoba untuk memutar-mutar kenok dan mendobrak pintu dengan tubuh kecilnya. Ah. Ini terlalu susah. Sementara Alois terlihat tidak sabaran di dalam. Mata biru mudanya harap-harap cemas.

Ciel menjadi panik sendiri sementara air terus saja meninggi. Ia harus cari ide. Ide. Ide! Ayolah… keluar kau, Ide! Setelah lama berpikir keras, tak sengaja matanya mendapati sebuah bangku panjang di sudut koridor. Ciel pun segera menghampirinya dan mengangkatnya. Walaupun sedikit berat.

'Semoga ini bisa digunakan.' Batinnya penuh harap.

"Alois! Bantu aku membuka pintu dari dalam!" seru Ciel dari luar. Alois mendengar perintah Ciel dan langsung stand by. Dengan sekuat tenaga, Ciel pun mendorong bangku itu hingga membentur pintu. Sekali, dua kali, akhirnya pintu mulai goyah.

"Terus tarik dari dalam, Alois!" katanya lagi. "HYAAAHH!"

BRRAAKK!

Pintu pun terbuka dengan beberapa cacat di permukaan dan di bagian kenok. Berhasil.

Alois yang entah sudah berapa lama terkurung di ruangan itu dengan segenap ketakutannya pun segera bebas. Dengan segera setelah Ciel melangkah masuk, Alois pun berhambur memeluknya.

"Ciel…!" panggilnya dengan nada bergetar. Ciel sedikit tercekat dan menerima pelukan dari sahabatnya.

"Ciel… aku sangat ketakutan…" Alois mulai menitikkan airmatanya. Ciel bisa merasakan tubuh Alois berguncang. Dari tingkahnya kini, Ciel menyadari bahwa Alois ketakutan berada di ruangan yang gelap itu. Alois pun menangis tersedu-sedu, melampiaskan ketakutannya. Tubuhnya melemas dan ia pun jatuh terduduk. Masih sambil terus memeluk Ciel. Ciel hanya bisa mengikuti Alois duduk di lantai yang sudah digenangi air dengan perasaan serbasalah. Tak peduli walaupun baju yang mereka kenakan basah kuyup.

Alois memeluk Ciel dengan erat, seakan takut kehilangan pemuda berambut kelabu itu. Ia membenamkan mulutnya di pundak Ciel. Ciel hanya bisa mengelus punggung Alois yang berguncang hebat, mencoba menenangkannya. Ciel akhirnya bisa mengambil kesimpulan bahwa Alois fobia kegelapan.

"Iya… maafkan aku…" katanya sambil terus berusaha menenangkan tangis Alois. "maafkan aku…" suara Ciel parau. "kau sudah bsia keluar dari ruangan gelap itu. Jadi, jangan takut. Kau sudah selamat." Ciel berbicara dengan nada yang tak kalah bergetarnya. Ia bisa merasakan perasaan tertekan Alois yang begitu besar. Ia terlihat terpukul dan trauma.

"Sudah…" kata Ciel. "sudah cukup menangisnya. Kita harus segera keluar dari sini… kerahkan seluruh keberanianmu." kata Ciel lembut. Matanya berkaca-kaca. Ia bisa merasakan anggukan kepala dari Alois. Ciel pun menuntun Alois berdiri. Dengan sigap, Alois pun menghapus airmatanya.

Setelah pulih kembali, Alois baru menyadari bahwa air sudah hampir menelan seluruh kakinya.

"Astaga! Airnya!" katanya refleks.

"Kita harus segera naik! Di sini sudah berbahaya!" himbau Ciel. Ciel pun menarik tangan Alois untuk segera pergi dari situ. Tapi tiba-tiba, matanya terbelalak saat merasakan listrik sedikit demi sedikit mulai padam. Ia merasa jantungnya hampir copot karena terkejut. Begitu juga dengan Alois. Ia langsung mencengkeram tangan Ciel erat-erat. Bila listrik padam, mereka akan kesusahan mencari jalan untuk keluar dari sini karena gelap.

'Bagaimana ini!'

.

.

Hosh… hosh… hosh…

Akhirnya chapter 6 selesai juga hanya dengan waktu 3 hari. Setelah ujian mid semester, saia langsung ngibrit nyalain komputer. Takut keburu di pake adek saia yang terkenal pelit buat gantian. E… setelah seminggu atau dua minggu berlalu, mau diadakan tes! UMIGAT! Belajar lagi? Hadu… menderitanya hidupku… *halah!* barusaja terlepas dari belenggu ujian, eh, malah ada tes. Ckckck…

Tapi, setelah belajar buat tes, saia bela-belain ngelanjutin fic ini karena memang sudah tanggung. Hehe :D

Do'akan semoga saia lolos tes! *AMIIINNN!*

Maaf kalau A/N saia gak ada hubungannya sama fic saia. Hehehe…

Semoga kalian semua suka dengan lanjutan fic ini.

Yunoki Trancy ^^

Biar saia semangat untuk melanjutkan fic ini, saia minta reviewnya. :D

*lho?* *di lempar sampah*