Annyounghasaeyo! ^^

Ketemu lagi… akhirnya saia melanjutkan fic ini ke chapter 7. Sebelumnya, saia mau berterimakasih kepada:

Arleena: ==" kamu ini apa-apaan, dek? Saia disini hanya bisa sweatdrop kuadrat. Okelah. Dengan kegajeanmu, saia ucapkan terimakasih atas ripiuwnya. ^^

SlythGirlz Phantomhive: Yosh… makaci lho… fbmu kan sudah saia add. Sesuai janji saia, Sebas saia munculkan. Tapi maaf bila belum bisa sepenuhnya. Makasi ripiuwnya… ^^

Sasori Schifferway: iya… makasi… saia senang kalau kamu juga senang. Endingnya saia usahakan beda. Ditunggu aja selanjutnya. Silahkan ngefav. Saia gak ngelarang kok *nyaiyalah!*. makasih ripiuwnya… ^^

Sara Hikari: iya. Akhirnya apdet juga. Iya! Mereka harus berjuang. Bisa bayangin kan kalau kamu yang jadi mereka. Panik setengah mati, dah. Makasi ripiuwnya… ^^

Kak Neko-chan: kebanyakan ya tulisannya? *pasang muka semelas-melasnya* iya. Saia juga ngerasa kurang tegang. Kan baru mulai, Kak… iya. Typo saia sebisa mungkin saia kurangi. Kan karena saran Kakak juga. Wkwkwkwkwk. Makasi ripuwnya ya… ^^

Don't like, don't read, dong? Ckakakaka!

Enjoy… ^^

Without Words, We Are Meet

.

.

Chapter 7: I Will Always Beside You

Mata biru berlian milik Ciel terbelalak panik melihat keadaan sekitar yang tidak menentu. Lampu-lampu mulai berkelap-kelip tanda akan mati. Sementara Alois sudah ketakutan. Jantungnya berdegub dengan kencang. Alois memeluk erat pinggang Ciel. Mata biru turquoisnya bergerak-gerak tak menentu.

"Kita harus segera naik, Alois." Ciel pun melangkahkan kaki dengan langkah berat. Ia berusaha memapah Alois agar ia mau berdiri. Tapi nihil. Alois masih tetap tak bergeming.

"Ayo, Al! kau mau mati disini?" bentak Ciel panik. Ia melihat air terus masuk ke dek ini dan mulai menderas. Dan akhirnya setelah ia berusaha menariknya, Alois pun mulai melangkahkan kakinya. Dengan cepat mereka pun berusaha lari. Di belakang mereka air sudah menerjang apa saja yang ada. Beberapa kendala juga sempat menghalangi mereka. Selain suasananya gelap, ia juga susah untuk berlari karena air yang sudah mulai meninggi.

"Akh!" tak disangka, Alois terjatuh di belakang Ciel. Menimbulkan bunyi kecipak yang menggema ke penjuru lorong. Bajunya basah semua.

"Alois!" Ciel tersentak dan segera menolongnya dengan cepat. "Alois! Cepat berdiri!" desisnya. Ia menatap Alois dan sesuatu yang ada di belakangnya secara bergantian. Alois lagi-lagi hanya terdiam dan tubuhnya gemetar. Ciel hampir saja dibuat jengkel olehnya.

"Ciel… ini mengerikan…" lirihnya dengan nada bergetar. Ciel tercekat. Ia tahu bagaimana perasaan Alois. Ia pun juga merasakannya. Sedari tadi ia merasa bulu kuduknya berdiri.

"Ayo. Kita harus keluar dari sini dan segera mengantri sekoci. Di sini bahaya sekali." Ciel berkata setengah mendesah karena panik. Ia menarik-narik tangan Alois, mengajaknya untuk segera pergi dari situ. Tapi, Alois tetap tak bergeming.

"Kurasa… aku akan berakhir di sini…" gumam Alois dengan mata yang masih membulat. Ciel tersentak mendengar kata-kata itu.

"Dasar bodoh! Cepat berdiri! Dek ini sebentar lagi akan tenggelam!" Ciel berusaha menarik tangan Alois agar ia mau berdiri. Sementara Alois hanya terus menatap ke depan dengan ketakutan. Napasnya memburu. Mendapati Alois tidak berdaya seperti itu, Ciel benar-benar marah. Ia menarik dan memposisikan tubuh temannya itu menghadapnya dengan satu kali sentakan. Alois tersentak. Ia mendapati Ciel menatapnya dengan serius, juga marah. Tanpa basa-basi, Ciel lalu menamparnya dengan keras.

PLAAAKK!

Kepala Alois tersentak ke samping. Matanya terbelalak.

"Alois bodoh!" bentak Ciel. Alois syok karena tamparan Ciel tadi. Ia sedikit merasa terpukul.

"Kau!" Ciel menggeram. "kau begitu lembek! Tidakkah kau lihat orang-orang yang ada di luar sana? Mereka terus meminta bantuan agar mereka selamat. Sedangkan kau? Kau mau mati di sini!" ujar Ciel sarkastis.

Alois hanya terdiam. Tangan kanannya memegangi pipi yang memerah karena tamparan Ciel barusan.

"Aku percaya bahwa kita akan selamat dari sini!" kata Ciel penuh tekad. Walaupun ruangan mulai meredup karena lampu-lampu mulai berkedap-kedip tidak menentu, tapi Alois bisa melihat sorot mata Ciel yang begitu serius itu. Melihat itu, entah kenapa, Alois jadi punya semangat lagi. Ciel kembali menarik tangan Alois pelan. Ia pun berlari, menuntun langkah Alois menuju tangga yang masih ia cari. Sesekali ia memekik kecil saat melihat percikan api dari beberapa lampu yang mulai konslet.

Tak disangka oleh mereka, beberapa lampu yang masih aktif pun menyala lagi. Betapa leganya perasaan mereka mengetahui ruangan yang tadi begitu remang-remang dan nyaris gelap itu menerang lagi.

"Syukurlah…" desah mereka sambil mengurut dada. "ayo! Kita harus cepat!" kata Ciel.

Tak sengaja, mata Ciel mendapati sebuah tangga ke atas. Wajahnya berubah sumringah. Ia pun berbisik lembut pada Alois.

"Ikut aku kesini!" ia pun menarik tangan Alois lagi. Dengan segera, mereka pun berlari dan naik keatas tangga. Dalam beberapa menit seketika itu, dek yang tadi mereka lewati, kini sudah penuh dengan air.

.

.

"Fiuuh… tadi itu hampir saja." Ciel mengusap jidatnya yang tidak berkeringat. Alois hanya terdiam. Ciel berjalan menuju dek atas untuk mendaatkan sekoci.

"Kita harus mendapatkan sekoci, Ciel. Bagian haluan sudah hampir semuanya tenggelam!" seru Alois yang barusaja melihat bagian haluan dari jauh. Ciel ikut menoleh. Benar. Hampir semuanya tenggelam. Di sekitarnya, banyak orang berdesak-desakkan mengantri sekoci. Tiba-tiba, tangan Ciel kini di tarik oleh Alois. Entah apa yang Ciel rasakan. Tapi… Alois kini jadi lebih berbeda ketimbang yang tadi saat mereka hampir saja terjebak di dek B.

Ciel pasrah tubuhnya ditarik lari oleh sahabatnya yang lebih tinggi darinya itu. Di belakang, ia menyunggingkan senyum kecil.

"Alois." Panggil Ciel tiba-tiba. Mendengar namanya dipanggil, Alois pun terhenti dan menoleh.

"Ya?" katanya dengan polosnya.

"Maaf…" Ciel mendekat. Tangan kananya membelai pipi Alois yang memerah. "maafkan aku sudah menamparmu dengan keras. Apakah sakit?" lanjutnya khawatir.

Alois yang mengetahui itu sempat tersentak dan pipinya merona. Mulutnya sedikit membuka dan matanya terbelalak. Tapi, dengan sekali ia mendesah pelan, ia pun bisa menetralisir kekagetannya itu.

"Tidak apa. Kau berhak melakukan itu. Maafkan aku juga karena sudah membuatmu susah." Katanya sambil melepaskan tangan lembut Ciel dari pipinya. "sekarang… kita harus cepat." Ciel mengangguk dan kembali berlari dengan Alois menuju antrian sekoci.

Sebastian terlihat sedang kepanikan mencari Ciel. Menerobos kerumunan-kerumunan orang yang mulai membludak. Bibi Angelina sudah turun sedari tadi dan Sebastian masih terus mencari Tuan Mudanya itu. Ia tak begitu mementingkan dirinya. Ia baru saja mengetahui bahwa sekoci-sekoci awal hanya dikhususkan utnuk anak-anak dan wanita saja. Sementara untuk pria akan menyusul. Ia sih masa bodoh. Yang penting, ia bisa melihat Tuan Mudanya dan segera menyelamatkannya.

Sebastian berlari tak tentu arah untuk mencari Ciel. Barusaja ia kembali dari bilik umum. Bilik umum yang berada di tengah-tengah kapal dan luas itu mulai di penuhi orang-orang yang branjak naik. Entah itu dari kalangan bangsawan atau rakyat biasa. Orang-orang sudah seluruhnya memakai pelampung utnuk berjaga-jaga. Mata orb merah pria berambut raven hitam itu pun tak pernah berpaling dari kerumunan-kerumunan orang yang ia jumpai. Ia merasa sedikit panik.

Sampai akhirnya, ia melihat sesosok pemuda yang sedang berlari kearahnya. Pemuda berambut abu-abu pekat bersama pemuda berambut pirang. Mengetahui itu dan makin lama makin jelas, ia pun berubah sumringah. Ia merasa lega sekali.

"Sebastiaann!" panggil Ciel seraya merentangkan tangan akan memeluk Sebastian.

"Tuan Muda…" Sebastian pun berjongkok dan menangkap tubuh kecil Ciel, memeluknya erat.

"Sebastian… aku kira kita tidak bisa bertemu lagi." Kata Ciel sambil memeluk erat tubuh bidang sang butler.

"Saya sangat mengkhawatirkan anda, Tuan Muda. Anda kemana saja?" katanya sambil melepaskan pelukannya perlahan. Ia menatap khawatir Tuan Mudanya yang kelihatan nyaris basah kuyup.

"Aku harus menyelamatkan sahabatku." Ciel pun menunjuk Alois yang berada tak jauh di belakangnya. Sebastian melongokkan kepalanya melewati punggu kecil Ciel. Sebastian sejenak mengerjap-ngerjapkan matanya beberapa kali, dan akhirnya tersenyum ramah.

"Halo… anda teman dari Tuan Muda?" tanyanya lembut sambil berdiri. Alois tercekat.

"I-iya." Katanya sedikit terbata-bata.

"Kenalkan. Dia Alois Trancy. Aku mengenalnya sudah lama. Dari sejak kita menaiki kapal ini." Ciel pun memperkenalkan Alois pada butlernya.

"A… apakah Tuan Trancy ini adalah orang yang anda ceritakan pada saya beberapa waktu yang lalu?" kata Sebastian seperti menyadari sesuatu. "pernelankan. Saya… Sebastian Michaelis. Butler keluarga Phantomhive." Sebastian pun menjabat tangan Alois.

"Ah. I-iya. Aku… Alois Trancy. salam kenal." Jawab Alois malu-malu.

"Di mana keluarga anda, Tuan Trancy?" tanya Sebastian.

"Ah. Panggil saja dengan 'Alois'…" tambah Alois cepat.

"Alois barusaja kuselamatkan dari kurungan." Potong Ciel cepat.

"Kurungan? Apa maksud anda?" tanya Sebastian tidak mengerti.

"Ehem! Begini, Sebastian…" Ciel mulai ambil suara. "Alois disekap di ruang yang cukup gelap. Aku kehilangan jejaknya tadi, dan segera mencarinya. Aku mendapat informasi bahwa Alois diseret dengan paksa dan dibawa ke dek B." jelas Ciel.

Sebastian terbelalak. "Dek B? Apakah itu benar? Siapa yang melakukannya?"

"Paman dan butlerku sendiri." Jawab Alois tiba-tiba. Sebastian dan Ciel terdiam mendengarnya. Mereka tak mengira Alois bakal menjawabnya sendiri.

"Tega sekali mereka…" gumam Sebastian.

"Jadi… Alois akan ikut bersamaku untuk menyelamatkan diri. Sebastian, jaga Aku bersama sahabatku ini." perintah Ciel.

"Yes, My Lord."

.

.

Makin malam, suasana makin mencekam. Sudah satu jam berlalu, dan setengah dari badan kapal telah di telan oleh laut. Dek A dan B sudah seluruhnya lenyap dari permukaan. Orang-orang berlarian menuju tempat yang tinggi, tapi tidak sedikit dari mereka yang memilih untuk terjun. Itu pun karena tak ada pilihan dan karena bingung.

Sebastian nampak berdesak-desakan, menuntun Tuan Mudanya agar mendapatkan kursi di sekoci. Begitu juga dengan Alois.

"Tapi, Sebastian… bagaimana denganmu?" kata Ciel sebelum menapakkan kakinya di atas sekoci. Sementara Alois sudah duduk di sekoci lebih dulu.

"Jangan khawatir, Tuan Muda. Saya akan segera turun dengan bantuan sekoci selanjutnya. Yang terpenting adalah keselatan anda." Kata Sebastian meyakinkan sambil memegang kedua pundak Tuannya. Alois sebenarnya sependapat dengan Ciel. Terlihat dari pancaran matanya. Tapi, Sebastian memberinya kode untuk sependapat dengannya. Karena benar kata Sebastian. Yang terpenting adalah keselamatan Tuannya. Keselamatan dirinya adalah nomor 2. Bukankah begitu estetika seorang butler?

"Butlermu benar, Ciel. Percayalah. Dia pasti akan selamat bersama kita." Kata Alois setelah melihat kode jari dari Sebastian. Alois sedikit miris melihatnya. Walaupun Sebastian akan ikut bersama sekoci bantuan yang akan datang selanjutnya, entah bantuan itu akan tepat waktu atau tidak sampai di tempat kejadian. Tapi, Alois tidak bisa berbuat apa-apa.

"Kau harus berjanji Sebastian." Kata Ciel dengan nada sedikit bergetar. Bagaimanapun, hanya Sebastianlah yang selalu bisa mengerti dia. Sebastian mengangguk sambil tersenyum. Tapi, di mata Ciel, itu seperti senyum perpisahan.

Ciel masih terdiam sambil memegang lengan Sebastian. Ia tak rela pergi tanpa butler setianya itu. Ia tak sanggup!

"Ada apa, Tuan Muda? Ini sudah waktunya." Kata Sebastian sedikit keras.

"Aku tidak bisa…"

"Anda meragukan janji saya?" potong Sebastian. Ciel tersentak. Ia pun menundukkan kepalanya dalam. Entah kenapa, hatinya terasa teriris. Matanya berkaca-kaca.

"Ayo, Tuan. Tunggu apa lagi? Segeralah naik!" Sebastian agak jengkel mengetahui Tuannya tidak segera menapakkan kakinya ke sekoci. Sementara Alois menunggu Ciel naik ke sekoci dengan perasaan tak menentu. Ia merasa serbasalah.

Ciel memejamkan matanya sambil menggeleng kuat.

"Naik, Tuan Muda!" Sebastian menyentakkan tubuh kecil nan ringkih Ciel hingga tanpa Ciel sadari, satu kakinya masuk ke dalam sekoci. "naik, Tuan! Naik! Setelah sekoci ini, anda tidak akan bisa selamat!" ancam Sebastian.

Mau tidak mau, Ciel pun dengan berat hati menaiki sekoci yang sudah hampir penuh itu. Alois merentangkan satu tangannya untuk menyambut tangan Ciel, dan membantunya duduk di sebelahnya. Selain Alois, ada seorang Ibu-Ibu yang meyakinkan Ciel bahwa Sebastian tidak akan kenapa-kenapa.

Setelah menempatkan diri di tempat duduk sekoci, Ciel menolehkan kepalanya menatap Sebastian. Rasa gundah mulai menyergapnya. Sementara sekoci pun mulai diturunkan. Alois menatap wajah Ciel yang mulai memerah karena menahan airmata. Mata blue diamond Ciel bergerak-gerak ragu. Ia pun melihat keadaan sekitar. Para awak kapal sedang berteriak-teriak sambil menyeimbangkan kestabilan sekoci yang sedang diturunkan, dengan satu awak kapal yang sepertinya pangkatnya lebih tinggi sedang memberi arahan.

Ciel menolehkan kepalanya lagi, menatap seluruh penumpang sekoci satu per satu, bersamaan dengan diluncurkannya sebuah kembang api yang indah. Ia melihat sepasang anak kembar bersama Ibunya sedang melambaikan tangannya pada sang Ayah yang masih berada di atas, seorang gadis yang menangis sambil menengadahkan kepalanya terus-menerus memandangi kekasihnya, dan lain-lain. Melihat itu semua membuat hati Ciel terasa sesak. Alois menggenggam tangan Ciel kuat-kuat agar Ciel tenang. Tapi, sepertinya Ciel tidak peduli dengan hal itu.

Ciel kembali menolehkan kepalanya menatap Sebastian lagi. Ia terlihat masih setia mengantarkan kepergian Tuan Mudanya itu di bibir kapal. Matanya terlihat datar dan seperti berat hati melepaskan Tuannya pergi. Ciel pun menatap lurus kedepan. Ia nampak meremat-remat bagiab bawah bajunya. Ia berpikir keras. Terus mempertimbangkan keputusannya. Dan akhirnya…

"CIEL!" teriak Alois.

Ciel bergegas dari tempat duduknya dan melompat dari sekoci ke dek kapal naas itu. Beberapa orang kaget melihat tindakkan nekat Ciel, tapi mau bagaimana lagi, mereka pun menolongnya agar bisa kembali ke kapal Titanic. Alois pun mengikutinya lompat ke dek kapal.

Dari atas, Sebastian jelas-jelas tidak percaya dengan apa yang dilakukan Tuan Mudanya itu. Mata merahnya terbelalak. Ia sedikit mengumpat.

"Dasar bodoh!" umpatnya. Dan ia pun segera berlari untuk menemui Tuan Mudanya itu.

Ciel berlari sekencang-kencangnya menuju bilik umum untuk bertemu dengan Sebastian. Sedangkan Alois hanya mengikutinya tanpa protes. Ia tak mengira sahabatnya akan melakukan hal gila seperti ini. Tapi, ia tak bisa memaksa. Bagi Ciel, Sebastian adalah segalanya. Begitu juga dengan Sebastian.

Ciel memasuki bilik umum dan dan menaiki tangga dengan cepat. Di atas, terlihat Sebastian sedang berbelok untuk menuruni tangga. Setelah jarak di antara mereka semakin menipis, mereka pun berpelukan. Terlihat Ciel menitikkan airmatanya. Sebastian mengeratkan pelukannya dan membenamkan dagunya di pundak Ciel. Ia mengelus kepala Ciel dengan lembut dan penuh kasih sayang. Alois hanya diam seribu kata. Ada rasa iri terbesit di hatinya. Tapi, sudahlah. Toh ia juga bahagia melihat sahabatnya bahagia.

.

.

Di sisi lain tangga di tingkat 2 bilik umum, sepasang mata berwarna biru muda mengamatinya gerak-gerik mereka bertiga dalam dingin. Tangannya mengerat kencang di sisi tubuhnya. Wajahnya yang mulai keriput itu terlihat tertekuk-tekuk, dan uratnya terlihat jelas.

"Bagaimana dia bisa keluar…" desisnya geram. Ia sangat kesal melihat Alois berada di bawah sana dnegan bebasnya. Dan lagi. Bersama anak Phantomhive yang ia benci. Sementara itu, sepasang mata berwarna emas di sampingnya hanya melihat mereka bertiga datar.

"Claude. Buru mereka sekaligus!" si mata biru mengeluarkan perintah.

"Yes, You're Highness." Jawabnya serambi membungkuk. Segeralah ia merogoh kantong di balik tuksedonya dan menemukan sebuah pistol di sana. Dengan gerakan cepat, ia sudah mengarahkan pistolnya ke arah Ciel dan Alois.

Sementara Ciel masih memeluk sang butler dengan erat, dan Alois hanya bisa melihatnya dengan sedikit iri di belakangnya, Sebastian merasa tidak enak. Ia merasa ada seseorang sedang mengincarnya. Ia pun melirik kearah belakang. Benar saja. Seorang pria berkacamata sedang menodongkan pistolnya ke arah… arah Ciel dan Alois! Sekejap ia terbelalak dan segera menyelamatkan Ciel bersama Alois sekaligus.

"Awas!" katanya sambil mendorong Ciel dan Alois sekaligus.

DOORR!

Ciel dan Alois memekik. Peluru pistol yang terlontar tepat mengenai kaca jendela sehingga kaca tersebut pecah.

"Apa itu?" tanya Ciel. Matanya tak sengaja melihat pria berkacamata sedang berlari menuruni tangga. Di tangannya terdapat pistol. Ia tercekat.

"Claude!" katanya.

"Apa?" Alois tidak mengerti saat mendengar kata-kata Ciel. Ia pun meluruskan pandangan Ciel. Setelah mengetahuinya, mata biru turquoisnya membulat.

Tak lama kemudian, terdengar bunyi rentetan tembakan. Segeralah Sebastian menarik mereka berdua menjauh. Alois dan Ciel tersentak bukan main.

"Larilah, Tuan! Saya akan mengurusnya!" Sebastian menyuruh Tuannya untuk lari lebih dulu. Sementara Claude masih menghujaninya dengan tembakan. Suasana pun menjadi riuh dan panik.

"Tapi, Sebastian…"

"Lari!" seru Sebastian memotong perkataan Ciel. Tapi walaupun begitu, Ciel mengerti. Ia pun segera menarik tangan Alois dan mendorongnya, berlari meninggalkan bilik umum.

Sebastian segera mengeluarkan pistol di saku tuksedonya dan membalas serangan dari Claude dengan tempo yang sangat cepat. Ia pun ikut berlari di belakang Ciel dan Alois yang sudah berlari lebih dulu. Hitung-hitung, ia melindungi Tuan dan temannya. Tapi, Claude bukan orang bodoh yang mau menyerah. Ia terus membidikkan pistolnya menuju arah Alois dan Ciel. Tapi Sebastian selalu menghalanginya. Level mereka dalam hal tembak-menembak adalah seri.

"Cepat lari, Al! Kya!" Ciel memekik ketika sebuah peluru memecahkan beberapa perabotan kaca yang ada tak jauh dari sisinya.

"Kau bodoh!" kali ini, Alois menarik tangan Ciel. Hingga tiba-tiba…

DOR!

"Aargh!"

"Alois!" teriak Ciel. Ia melihat Alois ambruk begitu saja. Mendengar teriakan Tuannya, Sebastian ikut menoleh ke belakang. Ia melihat Alois terlihat kesakitan.

"Sial!" desisnya geram. Untuk sementara, tembak-menembak terhenti. Tapi tidak lama. Claude menarik ujung bibirnya sedikit. Nyaris tak terlihat.

"Alois! Kau tak apa-apa?" Ciel terlihat begitu khawatir. Alois mengerang kesakitan sambil memegangi lengannya.

"Lenganku… terserempet pelurunya…" jelas Alois susah payah. Ciel segera memeriksanya. Ternyata benar. Kemeja lengan panjang putih Alois berlumuran darah di bagian lengannya.

"Sebastian…" barusaja Ciel ingin memanggil butlernya, bunyi rentetan tembakan terdengar lagi. Ciel pun memekik sambil melindungi tubuh Alois. Tapi dengan sigap, Sebastian kemali berkonsentrasi membalas tembakan Claude.

"Lari, Tuan Muda!" katanya seraya menoleh. Ciel mengangguk. Ia pun membantu Alois berdiri dan mengajaknya berlari.

"Ayo, Al…" katanya lembut. Walaupun kesakitan, Alois masih bisa berdiri. Ia pun berlari sambil memegangi lengannya yang berdarah. Matanya kirinya menyipit, menahan sakit.

.

.

Setelah dikiranya sudah cukup jauh mereka berlari, mereka pun bersembunyi di balik tembok. Dan tidak terasa, mereka berada di dek C. Dek C kini juga sudah kemasukan air walaupun masih semata kaki. Napas mereka tersengal-sengal.

"Alois… kau tak apa-apa?" tanya Ciel.

Alois hanya melirik Ciel. Ia tak mampu menjawab. Dengan segera, Alois pun menjatuhkan tubuhnya dan terduduk bersender di tembok. Ia lelah.

"Ciel… tadi itu tiba-tiba sekali…" kata Alois sambil tertawa. "kau tak apa-apa?"

"Tapi kau jadi korbannya! Kau bodoh! Yang diincar Claude itu kau! Kenapa kau malah berlari di belakangku?"

"Karena kau juga diincar…" Alois tersenyum di sela-sela rintihannya. Mendengar itu, wajah Ciel memerah. Tapi tak lama kemudian, ia hanya mendengus.

"Ciel. Mau apa kamu?" tanya Alois ketika melihat Ciel merobek bagian bawah baju birunya. "hei! Kenapa di sobek!" protes Alois.

"Diamlah… aku akan membalut lukamu supaya darahnya tidak keluar lebih banyak!" kata Ciel seraya mengikakan kain sobekan bajunya itu ke lengan Alois. Alois hanya diam. Ia memperhatikan Ciel dalam-dalam. Ciel membalutkan kain itu dengan seksama. Alois tertegun melihatnya.

"Nah. Dengan begini, darahnya tidak akan banyak mengalir lagi. Semoga." Ciel tersenyum kecil melihat hasil pekerjaannya.

"Terimakasih…" kata Alois tiba-tiba.

Ciel tercekat dan tersenyum. "Walaupun jelek, tapi… sabar saja."

Alois ikut tersenyum. Ia beruntung mempunyai sahabat seperti Ciel.

Tiba-tiba, Ciel mendengar suara tangisan.

"Hei. Kau mendengar sesuatu?" kata Ciel sambil beranjak berdiri.

"Ada apa? Aku tidak mendengar apa-apa."

"Lebih baik, kita cek sumber suara itu." Ciel pun berjalan meninggalkan Alois.

"Ha? Eh! Hei! Tunggu aku!" Alois pun menyusul.

Setelah berjalan menyusuri koridor dek C, akhirnya Ciel dan Alois mendapati seseorang. Matanya terbelalak. Terlihat seorang gadis kecil terjebak di antara pintu yang tergedor-gedor air, yang berusaha menyeruak masuk. Ia tidak bisa berlari karena ketakutan. Ia menangis keras.

"Itu, kan…" gumam Ciel.

"Christy!" Alois pun menyerobot. Ia pun berlari kecil ke arah gadis itu. Rupanya itu adalah gadis kecil kenalan Alois di bar.

"Kak Alois!" Christy segera menerjang Alois dan memeluknya. Ia terlihat ketakutan.

"Kenapa kau masih di sini? Kau seharusnya sudah mengantri sekoci di dek atas!"

"Aku kehilangan Ibuku…" kata Christy sambil terus menangis.

"Lebih baik kita segera naik, Alois. Aku takut air yang jumlahnya lebih banyak akan masuk dari pintu itu." Ciel mengingatkan dan menunjuk kearah pintu yang kelihatanya sudah tidak kuat lagi menahan air. Terlihat air sudah menerobos masuk dari sela-sela pintu walaupun baru sedikit.

Alois menoleh ke arah pintu. Benar juga. Apa boleh buat, ia harus membawa Christy bersamanya.

"Christy. Kita harus segera naik. Aku yakin Ibumu sudah berada di sana." Kata Alois lembut. Christy hanya mengangguk. Melihat persetujuan dari Christy, Alois dan Ciel pun segera berlari ke arah yang berlawanan. Tapi tidak lama ketika mereka bertemu dengan seseorang.

"Hei! Mau kalian kemanakan anakku!" tiba-tiba, seorang pria besar memakai topi ala detektif berteriak dan menghampirinya.

"Ayah!" seru Christy.

"Mau kalian apakan anakku? Kalian mau membawanya? Dasar biadab!" katanya sambil merebut Christy dari gendongan Alois. Ia juga tidak lupa mendorong Alois hingga jatuh ke belakang.

"Alois!" seru Ciel. Ia pun membantu Alois berdiri. Sementara Ayah Christy tersebut berlari ke arah pintu yang sedang di gedor-gedor gerombolan air. Itu berbahaya sekali!

"Tuan! Anda salah jalan!" seru Alois sambil mengejar.

"Tuan! Berhenti! Anda salah jalan! Segera berbalik!" Ciel juga menyadarinya. Ia pun mengejar si Ayah Christy itu. Sementara Christy masih menangis. Ayah Christy baru menyadari seruan Ciel dan Alois ketika melihat pintu di depannya bergerak-gerak. Ia terbelalak. Tak sampai tiga detik, pintu itu pun terbuka secara paksa, dan air yang jumlahnya lebih banyak itu pun masuk, menerjangnya juga si kecil Christy. Mereka memekik.

Di belakang mereka, Alois dan Ciel hanya bisa terbelalak dan segera menarik diri dari situ.

"LAARIII!" teriak Alois sambil menarik tangan Ciel, mengajaknya berlari sekencang-kemcangnya. Mereka berlari melewati koridor lain. Tapi tetap saja. Air itu terus mengejarnya tanpa ampun. Lampu-lampu mulai konslet, berkedip-kedip entah akan mati atau tidak. Menambah suasana menjadi tambah tegang.

Tapi, apa daya tangan tak sampai, air pun berhasil menerjang tubuh ringkih mereka dengan kejam.

"KYYAA!" pekik mereka. Arus yang deras membawa tubuh mereka entah ke mana. Alois menggenggam erat tangan Ciel agar tidak terpisah. Tapi, hal itu tidak bertahan lama. Genggaman mereka terlepas di tengah jalan. Mereka masing-masing pun terbawa arus sendiri-sendiri.

"Alooiis!" teriak Ciel. Ia tidak berdaya. Tubuhnya terombang-ambing mengikuti aurs yang makin deras. Di belakangnya, Alois terus mengikutinya bersama arus yang membawanya.

"Ciieel!" Alois merentangkan tangannya agar bisa menggapai tangan Ciel yang masih ia julurkan. Tapi ia tak sampai mengingat jarak mereka yang berjauhan. Mereka terus terombang-ambing hingga menabrak dinding pintu koridor. Yang pertama kali menabrak tentu saja Ciel. Dan di susul Alois, tepat menubruknya dari depan. Ciel sedikit kesakitan.

BRUGH!

"Akh…" Ciel merasakan kepala bagian belakangnya membentur dinding. Ia merasakan pening.

"Ciel… maaf…" kata Alois saat menubruk tubuh Ciel. Mereka tidak bisa bergerak. Terjebak di antara arus dan tembok yang menahannya. Alois memeluk tubuh Ciel seraya melindunginya dari arus yang terus menabrak-nabraknya.

"Alois… apakah kita bisa keluar dari sini?" tanya Ciel lirih. Ia mulai terbatuk-batuk karena kemasukan air.

"Bertahanlah, Ciel… kita harus mencari jalan keluar." Alois pun mendekap erat sahabatnya itu.

"Airnya dingin sekali, Al…" lirih Ciel bergetar. Ia mengeratkan tangannya di baju bagian belakang Alois. Ia menggigil. Alois pun juga. Ia terus mendekap Ciel erat-erat. Ia tidak mau arus yang menggila ini memisahkan mereka.

Tiba-tiba, mereka merasakan kapal bergerak oleng. Walaupun hanya sedikit. Suara-suara yang ditimbulkannya membuat suasana jadi mengerikan. Ditambah lagi lampu-lampu yang konslet. Terkadang sampai mengeluarkan percikan api. Mereka harus keluar dari sini. Tapi… bagaimana caranya?

.

.

Ole~ akhirnya chapter 7 selesai. Maaf kalau saia lama banget apdetnya. Maklum. Saia juga capek. Pulang sore karena les, banyak ulangan, dan juga banyak tugas. Maaf… banget! Tapi, karena kali ini saia sedang ada waktu luang, jadi saia bisa melanjutkan. Semoga chapter 8 bisa saia apdet cepat. Tapi, saia nggak janji. Hehehe… yang pasti, fic ini masih berlanjut sampai tamat! Hanya saja, mungkin saia akan melanjutkan ketika ada waktu luang buat nulis. Uhuhuhuhu… harap maklum… oke? :D

Mind to review?