Konnichiwa minna~~ ^^
Yunoki kembali lagi dengan chapter baru…
Sebelumnya, saia ingin berterimakasih kepada para readers dan author yang telah membaca dan mereview:
SlythGirlz Phantomhive: Ehehehehe… ha? Band apa? Saia gak tahu. Hehehe… makasih reviewnya lho… ^^
Arleena Lauren: Eehehehe… iya ya? Wehehehe… ok deehh… makasih reviewnya! ^^
Arlein Uchiha Trancy: Gapapa kok. Apdet kilat? Hehehehe… ini namanya bukan apdet kilat. Maaf baru apdet… banyak tugas, sih… bentar lagi juga UNAS. Uhuhuhu T,T. makasih reviewnya! ^^
Sasori Schufferway: Ohoho! Hontou ni? Padahal saia ngebayanginnya biasa aja. Malah menurut saia kurang tegang. He? Endingnya Ciel Alois mati? Ehem! *keselek* nanti saia pikirkan dulu. Makasih reviewnya! ^^
Sara Hikari: Mukiiiyy! Sara! Bukannya Ciel emang keras kepala? *eh? Bukan ding!* yaa… kan demi sahabat, gitu. Hehehehe… Sebastian? Hehehehe… gimana, ya? Di chap ini saia mau menonjolkan dua tokoh utamanya dulu. Kalo cukup, Sebastian bakal saia munculkan ^^". Makasih reviewnya! ^^
Bryella: Makasih reviewnya ya… ^^
Kak Nekochan: Oowwhh… hahaha! Selamat bertugas ngerjain makalahnya lho! He? Ciel Alois bakal mati pa gak, ya? Sumpah! Saia bingung juga mikirinnya. Sempat saia mikir pengen matiin mereka berdua *emangnya semut!* tapi… tunggu saja nanti! Makasih reviewnya! ^^
Okeehh~~ langsung saja! XD
Disclaimer: Kuroshitsuji itu punya sodara saia, Yana Toboso. Film Titanic punya sutradara James Cameron, sodara jauh saia. == *PLAAKK!*
Genre: Friendship, Tragedy.
Summary: "Hidup sebagai seorang bangsawan adalah neraka bagiku. Hidup serba diatur. Ini itu semua dilarang. Harus menaati tata krama konyol yang begitu menyesakkan. Aku menginginkan kebebasan. Kebebasan yang benar-benar bebas. Persetan dengan yang namanya aturan!"
Enjoy… ^^
Without Words, We Are Meet
.
.
Chapter 8: Only You
Alois mengamati sepanjang koridor dek C. Air terus saja menerjang. Air laut yang asin dan dingin terus membentur tubuh mereka yang ringkih karena kedinginan. Tak jarang juga mereka menjejal masuk ke mulut tanpa Alois dan Ciel izinkan. Membuat mereka tersedak dan terbatuk. Sesaat ketika mereka terbawa arus, mata Alois tak sengaja melirik sebuah tangga naik. Tapi apa daya ia tak bisa mencapainya. Sekarang malah terjebak oleh tembok pintu koridor dan desakan air yang masuk.
Ciel terlihat kedinginan. Bibirnya mulai membiru dan kulitnya pucat. Suara air mendobrak-dobrak pintu-pintu kamar membuat telinganya bising. Pintu-pintu itu copot dari engselnya dan lari terbawa arus.
"Ah!" Ciel tercekat melihatya. Matanya terbelalak. Benda sebesar dan sekeras itu…
"Awas!" Alois langsung menggeser tubuhnya serambi mendekap Ciel erat-erat. Melindunginya dari apa yang akan terjadi. Tak usah menunggu beberapa menit, para pintu tersebut bergerak tak tentu arah dan gerakan. Asal menabrak-nabrakkan tubuhnya sendiri karena ruang gerak yang tidak cukup. Tak jarang mereka ikut menabrak-nabrak tubuh Alois, atau sekedar menyerempet. Tapi, tetap saja itu terasa sakit. Ciel melihat Alois sesekali meringis kesakitan. Ia ingin sekali melindunginya. Tapi ia tidak bisa. Melihat Ciel khawatir dan merasa bersalah, Alois hanya memaksakan seulas senyum yang menyatakan bahwa ia baik-baik saja.
"Aku melihat sebuah tangga. Kita harus bisa mencapainya dan keluar dari sini." Kata Alois. Wajahnya begitu dekat dengan wajah Ciel sehingga Ciel bisa merasakan napasnya yang hangat dan berasap.
Ciel terdiam. Ia terlihat menggigil. Ia pun menelan ludah. "Tapi… arusnya…"
"Percayalah! Kita akan selamat. Kita hanya perlu melawan arus. Dek ini sebentar lagi akan penuh terisi air!" Alois pun mulai melepaskan dekapannya tapi tetap menggandeng tangan Ciel dengan kencang. "lupakan rasa dingin ini sejenak." Kata Alois.
Ciel menatap Alois.
"Aku mohon." Wajah Alois seketika itu berubah ekspresi. Membuat hati Ciel merasa tersentuh. Ciel mendesah pasrah. Ia hanya percaya bahwa mereka bisa keluar dari sini. Kebetulan, arusnya sudah mulai melemah walaupun masih deras.
"Ayo!" Alois menarik tangan Ciel dan membuat Ciel tercekat. Ciel berpegangan pada dinding koridor agar tidak terbawa arus. Sedangkan Alois dengan kokohnya berjalan menerjang arus. Tiba-tiba, sebuah arus kecil tapi lumayan melempar mereka beberapa meter jauhnya. Ciel hampir saja terbawa. Tapi Alois berhasil menangkap tangannya.
"Hampir saja." Desah Alois. "ayo!" Alois kembali menarik tangan Ciel.
Setelah beberapa menit penuh perjuangan melawan arus, sampailah mereka di anak tangga pertama. Alois memperhatikan keadaan sekitar. Air masih terus menerjang masuk.
"Cepat, Ciel! Naiklah!" Alois menyuruh Ciel naik duluan, disusul dirinya. Tak disangka, Ciel sedikit terpeleset karena lantai anak tangga itu licin.
"Akh!" pekik Ciel. Dagunya membentur anak tangga yang yang lebih tinggi. "ugh!"
"Astaga!" Alois buru-buru menahan tubuh Ciel dari belakang. "kau tak apa-apa?"
Ciel menggeleng pelan sambil mendesis kesakitan. Tangannya memegangi dagunya yang sakit.
"Dagumu… terbentur?" Alois mencoba membalikkan wajah Ciel sehingga menghadapnya. Ia mendapati dagu putih Ciel sedikit lebam.
"Sudahlah. Tidak apa-apa. Jangan khawatirkan aku. Ini hanya luka kecil, dibandingkan lukamu." Ciel menyingkirkan tangan Alois perlahan. Alois tertegun. "kita harus cepat!" Ciel pun kembali menaiki tangga. Alois terdiam dan hanya bisa menatapnya. Kemudian ia pun mengikuti Ciel dari belakang. Sesaat, ia menoleh ke belakang. Dek C sudah penuh dengan air. Waktunya begitu singkat. Alois merasa ulu hatinya ngilu. Bagaimana tidak? Ia melihat sendiri sahabat kecilnya, Christy, terbawa arus dan menabrak-nabrak dinding koridor tanpa kontrol, sahabat kecil yang tidak bisa ia selamatkan dari amukan arus air yang masuk. Ia mencoba menetralisir rasa sakitnya serambi mendesah panjang. Ia pun sadar pipinya terasa hangat. Tapi sebelum air matanya mengalir, ia memutuskan untuk berlari mengejar Ciel yang sudah naik duluan.
'Maafkan aku… Christy.'
.
.
Bunyi hak sepatu membentur lantai koridor terdengar jelas di telinga Alois. Koridor D sudah sepi. Alois dan Ciel berlarian dan mencari jalan keluar menuju dek E. Dek paling atas untuk mengantri sekoci. Napas mereka terengah-engah. Mengingat dek C sudah penuh dengan air, pasti tak akan lama lagi, dek D ini pun dalam waktu singkat bakal sama nasibnya. Dengan seluruh tubuh yang sudah basah kuyup, Alois dan Ciel berlari. Menoleh ke kanan dan ke kiri untuk menemukan jalan pintas menuju ke dek atas.
"Alois! Ke sini!" Ciel menarik tangan Alois agar pemuda berambut pirang itu mengikutinya. Mereka sempat berpapasan dengan awak kapal yang masih sempat menawarinya jaket palampung. Ciel menyambarnya dua. Satu diberikan pada Alois. Dan sampailah mereka di dek E. Angin semilir yang begitu dingin menusuk tulang. Membuat mereka berdua bergidik sejenak. Mata biru mereka membelalak.
"Dek ini…" gumam Alois.
Ya. Dek E sudah menjadi lautan manusia dengan pelampung-pelampung berwarna putih terpampang di tubuhnya. Sedangkan bagian haluan sudah hampir tenggelam seluruhnya. Kapal juga sudah terlihat begitu miring. Orang-orang berlari menuju buritan, berteriak meminta pertolongan, tapi tak ada satupun yang mempedulikannya. Karena semuanya bernasib sama.
"Ayo, Ciel! Kita harus menuju buritan!" Alois menarik tangan sahabatnya itu.
"Ta-tapi! Sekocinya?" tanya Ciel dengan nada keras karena kalau tidak, suaranya akan kalah dengan suara-suara yang lain.
"Entahlah, Ciel. Kurasa… saat kita naik sekoci yang tadi, itulah sekoci terakhir." Jawab Alois sambil mendekatkan mulutnya pada telinga Ciel. Mendengar kata-kata Alois, Ciel terbelalak.
"Apa…?" desah Ciel tidak percaya.
"Sekarang, kita harus tetap bertahan di kapal ini selama mungkin! Kalau bisa, sampai bantuan datang!" Alois berteriak lagi dan segera menarik Ciel yang kelihatannya masih shock. Ciel tersentak dan mau tidak mau harus mengikuti Alois menuju buritan.
"Permisi… permisi…!" Alois memimpin jalan. Ia berdesak-desakan dengan orang-orang yang lebih kuat dan lebih tinggi darinya. Kebanyakan laki-laki. Ciel hanya mengikuti Alois di belakang. Matanya jelalatan, menyusuri setiap jengkal kapal yang sebentar lagi tenggalam ini. Ada seorang pastur berdo'a dan dikelilingi orang-orang yang kedinginan dan ketakutan. Ada tiga hingga empat orang memainkan musik yang tujuannya agar membuat semua orang tidak khawatir dan panik. Tapi, kelihatannya mereka sia-sia saja memainkan musik itu karena suaranya sudah kalah jauh dengan teriaka-teriakan minta tolong orang-orang yang membuat hati miris. Melihat semua ini membuat hati Ciel sakit. Ia memandangi pemandangan suasana kapal ini untuk terakhir kalinya seperti dalam adegan slow motion. Dan semua itu teralihkan saat Ciel merasa Alois menarik tangannya lagi.
Buritan sudah terangkat dari permukaan air laut. Alois menempatkan Ciel di ujung buritan. Sejenak, Ciel jadi teringat ulah konyolnya yang ingin mengakhiri hidunya tepat di mana ia sekarang berdiri. Ia mencondongkan tubuhnya, menukik ke bawah melihat buritan jadi lebih tinggi. Ciel menelan ludah saat melihat banyak orang jatuh ke laut dan berteriak-teriak meminta pertolongan. Mereka tidak bisa berenang dan yang pasti… kedinginan. Entah bagaimana jika Ciel tidak menuruti kata-kata Alois dulu. Mungkin dia sudah mati tersiksa karena kedinginan. Ia tak bisa membayangkan jika akhirnya ia harus terjun ke sana. Bukan karena bunuh diri. Tapi karena mau tidak mau ia harus tertelan ke dalam sana bersama kapal naas ini. Ia merasa bergidik membayangkannya. Apakah ia bakal selamat? Atau malah mati kedinginan di sana? Apakah dia akan terpisah dengan Alois setelah ini? Itu bisa saja terjadi. Tapi, Ciel tidak mau. Tidak mau!
Ia mencengkeram kuat pagar-pagar besi hingga kukunya memutih. Napasnya bersap. Tubuhnya pun gemetaran. Ia menoleh ke arah Alois yang berdiri di sampingnya.
"Alois…" panggilnya dengan nada bergetar.
Alois menoleh perlahan. Napasnya tak kalah berasap dari Ciel.
"Di sinilah… pertama kali kita bertemu…" Ciel tersenyum. Tapi entah kenapa, senyuman itu membuat hati Alois teriris. Alois pun mendekat ke arah Ciel dan memeluknya. Erat dan erat.
"Apakah… setelah ini… kita akan terpisah?" tanya Ciel sambil menengadah, menatap wajah Alois kemudian ia letakkan dagunya di pundak Alois. Matanya melihat beberapa orang mulai terjun ke laut. Yang masih bertahan di atas kapal seakan tak bisa menahan gaya grafitasi yang menarik mereka menuju laut dan terjatuh. Tak jarang tubuh mereka menabrak benda-benda keras kapal. Seperti tempat gulungan tali jangkar, pagar pembatas, atap anjungan, dan lain sebagainya. Ciel merasa tubuhnya sakit melihat semua itu. Walaupun ia tidak mengalaminya.
"Tidak! Itu tidak akan kubiarkan. Aku tidak ingin terpisah denganmu…!"
"Tapi… aku takut…" kata Ciel mengambang. "aku takut terpisah denganmu…" Ciel mengeratkan pelukannya. Alois tertegun. Hatinya terasa sakit. Ia memeluk Ciel dengan erat seakan ia tidak ingin kehilangan sahabat tersayangnya itu.
"Kau janji, Al?" tanya Ciel lirih. Matanya kembali menelusuri kedua mata Alois.
"Aku janji! Aku janji!" Alois kembali memeluk erat sahabatnya itu. Ciel tersenyum lemah. Dekapan Alois begitu menenangkan. Ia ingin ia terus merasakannya seperti ini selamanya.
Tiba-tiba Alois dan Ciel merasakan kapal bergetar. Mereka heran. Apa yang terjadi. Ciel mengedarkan pandangan keseluruh penjuru kapal yang masih bertahan dan terbelalak saat melihat satu titik. Ia terbelalak dan tidak bisa berkata apa-apa.
.
.
Claude memilih untuk menceburkan diri ke laut setelah mengetahui kapal sudah tiga perempatnya tertelan. Lagi pula, ia juga pandai berenang. Ia kehilangan jejak sang Tuan, Arnold Trancy ketika ia diperintahkan untuk mengejar keponakannya. Ia juga kehilangan jejak butler dari keluarga Phantomhive yang sesaat adu tembak dengannya. Saat kembali, keadaan kapal sudah kritis. Ia pun berpikir untuk menyelamatkan diri sendiri. Setelah sampai di permukaan laut, ia berenang dan berenang terus. Tapi tiba-tiba mata emasnya terbelalak melihat sebuah cerobong asap roboh tepat di atasnya. Ia tak sempat untuk menyingkir. Melihat itu, ia seakan terpaku dan tidak isa berbuat apa-apa. Ia ingin sekali berteriak, tapi entah kenapa, suara tercekat di tenggorokannya. Sang cerobong yang besar nan tinggi itu menimpanya bersama orang-orang yang ada di sekitarnya. Tanpa ampun.
Kapal makin miring. Hampir saja Alois dan Ciel terpeleset. Tapi untungnya dengan sigap mereka langsung meraih pagar-pagar pembatas buritan. Semua orang yang masih bertahan di kapal tersebut berteriak panik secara bersamaan. Begitu juga dengan Ciel dan Alois. Mereka berpegangan pada pagar-pagar besi itu dengan erat.
Di tengah-tengah perasaan takut dan paniknya, tak sengaja Ciel mendapati sesuatu di bagian tengah kapal.
"Alois! Kapalnya terbelah!" teriak Ciel sambil menunjuk bagian tengah kapal. Mendengar itu, Alois tidak percaya dan segera menoleh. Matanya terbelalak ketika melihat bagian tengah kapal sedikit demi sedikit retak dan terbelah. Ini pasti karena berat sebelah. Bibirnya bergetar melihatnya. Beberapa detik kemudian, kapal benar-benar terbelah dan bagian buritan dengan cepat terjatuh membentur air laut. Semua orang yang ada di situ berteriak sekencang-kencangnya.
"KYAAAAA!" Alois segera mendekap Ciel yang berada di depannya, walaupun ia juga merasa sangat takut. Tak lupa mereka masih mencengkeram pagar besi erat-erat.
Cipratan air yang cukup besar membasahi tubuh mereka. Mereka juga sadar bahwa buritan menimpa banyak orang yang ada di bawahnya. Setelah beberapa detik terjatuh, tiba-tiba saja buritan kembali terangkat. Bagian haluan telah tertelan air laut seluruhnya. Napas Ciel putus-putus saat hal itu terjadi. Ia benar-benar takut. Udara yang dingin, air yang dingin, tubuh yang sudah basah kuyup seluruhnya, dan keadaan sekitar yang mencekam membuatnya hampir gila. Sungguh tragis.
"Panjat pagar besinya!" Alois mulai memanjat pagar dan melompat ke sisi bagian luarnya. Ciel terengah-engah. Melihat tindakan Alois, ia pun tanpa berkata apa-apa langsung mengikutinya. "kita harus bertahan!" teriak Alois lagi. Ciel hanya menelan ludah.
Bagian buritan kapal terhenti dengan posisi miring dan menukik ke bawah. Kedua tangan Ciel gemetar mencengkeram pagar besi. 'Apa yang akan terjadi setelah ini? Apa yang akan terjadi!' pekiknya dalam hati. Mata biru sapphirenya lesu melihat p[emandangan yang cukup membuatnya ngilu. Banyak orang-orang bergelantungan pada pagar besi atau apa saja yang bisa mereka gunakan untuk bergelantungan. Tapi, beberapa dari mereka tidak kuat untuk terus begitu dan akhirnya jatuh ke laut. Tubuh mereka menabrak apa saja yang ada di depannya. Mungkin, tulang-tulangnya bakal patah. Atau bahkan remuk. Tak lama kemudian, bagian buritan tersedot oleh laut. Ciel panik bukan main melihatnya.
"Oohh God! Ini tidak mungkin!" teriaknya gemetaran. Matanya bergerak-gerak liar.
"Dengar Ciel! Percayalah bahwa kita akan baik-baik saja! Setelah semua tubuh kapal ini tertelan, ambil napas dalam-dalam! Kita akan berenang!" seru Alois yang berada di sampingnya.
"Tapi aku tidak bisa berenang!" jawab Ciel.
"Terus saja menjejal-jejalkan kakimu! Aku akan menuntunmu!" potong Alois sambil menatapnya dalam. Ciel menolehkan kepalanya, bertemu pandang dengan mata biru turquois milik Alois yang nampak berkilat-kilat. Ia pun menutup matanya dan menelan ludah. Ia mengangguk tanda ia menyanggupi perintah Alois, sahabatnya.
"Kau siap?" kata Alois segera memberi aba-aba saat kapal akan sepenuhnya menghilang. Ciel mengangguk yakin.
"Oke! Satu, dua, tiga!" Ciel dan Alois segera mengambil napas dalam-dalam, dan akhirnya mereka tersedot bersama tubuh kapal mewah nan megah itu ke dalam laut.
.
.
Waktu begitu cepat berlalu. Dua jam terasa singkat untuk berusaha menyelamatkan diri. Dan kini, sudah tengah malam. Kapal telah tersedot habis ke dalam laut. Alois menggandeng tangan Ciel dengan erat dan erat. Mata mereka paksakan membuka untuk melihat satu sama lain di dalam air. Gaya tarik saat kapal raksasa itu tenggelam mengakibatkan arus sedot yang luar biasa. Ciel terus menjejal-jejalkan kakinya, menendang-nendang air laut. Alois terus menggenggam pergelangan tangan Ciel sambil terus terombang-ambing oleh arus. Ia tidak kuat terus-terus seperti ini. Napasnya tercekat. Genggaman tangannya merengang dan seketika itu terlepas dari pergelangan tangan Ciel. Tubuh rampingnya terbawa arus yang menariknya lebih ke dalam laut. Ingin sekali Alois bertriak. Menyebut nama Ciel. Tapi itu tidak mungkin. Ia hanya bisa menjulur-julurkan tangannya, berharap bisa menggapai tangan Ciel. Tapi, ia terus tersedot ke dalam laut.
Ciel merasa matanya pedih dan memejamkan mata sejenak. Ia merasa tanganya hampa, tidak lagi ada sentuhan genggaman tangan dari Alois. Perlahan tapi pasti, ia pun mulai panik. Ia menggerak-gerakkan tubuhnya dan mencoba berenang sebisa mungkin untuk bisa sampai ke permukaan. Setelah sampai ke permukaan, ia segera mengambil napas dalam-dalam, mencoba bernapas dengan normal. Karena ia sudah memakai pelampung, ia tak akan tenggelam.
"ALOIS! ALOIS!" panggilnya terus-menerus. Ia memutar-mutarkan tubuhnya, memasang indera pengelihatan tajam-tajam demi mencari sahabatnya, Alois. Ia berenang ke arah kiri. Yang ia lihat hanyalah segerombolan orang tak di kenal yang terus berteriak-teriak minta tolong. Ia berenang ke kanan. Di hadapannya tetap sama saja pemandangannya.
"ALOIISS!" kini Ciel menjerit. Tapi walaupun ia menjerit hingga suaranya habis, tetap saja. Suaranya tetap akan kalah dengan keadaan sekitar yang risuh. Ia terus menjerit di tengah-tengah manusia-manusia apung yang nampak gusar dan panik layaknya orang gila. Sendiri. Tanpa ada orang yang menyahut seruanya.
'Apakah aku… terpisah dengan Alois… untuk selamanya?'
.
.
A/N: Cut! Cut! to-be-continued! Okeehh! *nunjukin tiga jari ala rocker* *digeplak*
Hehehe… chapter 8 kejar juga. Maaf lama apdetnya, yaahh…
Di chapter ini, saia sengaja potong. Sebenarnya, kalo gak dipotong, bisa, sih sampai selesai sekaligus. Tapi! Bakal puanjaaannngg banget. Sampe sini aja udah 7 halaman ms word. Kalo sampai selesai, sai, sai entar bakal sampai belasan halaman. Apa kuat bacanya? Hehehehe… saia sebenarnya mau bikin chap 8 ini jadi last chapter. Tapi ya itu tadi. Kepanjangan. Jadi… masih ada satu chap lagi untuk mengakhiri fic ini. Oke? Oh iya! untuk judul chap kali ini, saya minjem judul dari lagu OST Bread, Love, and Dreams, Only You.
Harap maklum. Saia juga kasihan pada kalian semua terus-terusan mentelengin komputer atau hp. Oke! Dewa matta! (sampai ketemu lagi!) ^w^/
Reviewnya? :Da
