Hay, hay, hayyy! ^^
Akhirnya saia meneruskan fic ini yang sempat kepotong kemarin. Saia emang sengaja karena kalo diterusin bakal panjang banget.
Sebelumnya, saia mau berterimakasih kepada para readers sekalian yang telah membaca dan mereview:
Sebby Sebastian: Wah? Iyakah? Hehehehe… untung gak bikin jantung kumat, ya XD. Hepi ending? Lihat saja nnati… makasih reviewnya! ^^
SlythGirlz Phantomhive: wah! Go Min Nam? Whitout Word? Saia juga sukkkkaaaaa! XD XD. Artinya juga dalem banget, lho. Gak tau artinya, kaann? *PLAKED!* oke deh. Makasih reviewnya, lho! ^^
Meadoresgayguys: Astojim! Maaf banget… maaf! Saia juga baru inget setelah fic ini saia publish. Bukannya saia gak niat ngebales. Saia niat banget malah! Sumpah! Tapi mungkin karena saia juga banyak tugas ketik2an, jadi agak kelewatan. Ini juga baru pertama kali. Maaf banget! ,. Tp btw, makasih reviewnya. ^^
Arlein Uchiha Trancy: penasaran? Baca saja fi ini! XD *dipelintir* makasih reviewnya, ya! ^^
Sara Hikari: hahe! Sara! Maaf apdetnya agak lama. Padahal saia udah nulis ini lama banget. Nerusinnya aja yang butuh curi-curi waktu. Mereka etemu lagi atau tidak… tergantung sang author! XD *di bom* makasih reviewnya! ^^
Okeehh~~ langsung saja! XD
Disclaimer: Kuroshitsuji itu punya sodara saia, Yana Toboso. Film Titanic punya sutradara James Cameron, sodara jauh saia. == *PLAAKK!*
for song: Journey_Angela Zhang.
Genre: Friendship, Tragedy.
Warining: Typo mungkin? Entah kenapa saia belum bisa lepas dari yang namanya Typo! DX DX
Summary: "Hidup sebagai seorang bangsawan adalah neraka bagiku. Hidup serba diatur. Ini itu semua dilarang. Harus menaati tata krama konyol yang begitu menyesakkan. Aku menginginkan kebebasan. Kebebasan yang benar-benar bebas. Persetan dengan yang namanya aturan!"
Enjoy… ^^
Without Words, We Are Meet
.
.
Chapter 9: Can We Meet Again?
"ALOIISS!" kini Ciel menjerit. Tapi walaupun ia menjerit hingga suaranya habis, tetap saja. Suaranya tetap akan kalah dengan keadaan sekitar yang risuh. Air mata mulai mengalir dari kedua mata birunya. Pipinya terasa panas, dan hatinya sakit. Ia putus asa. Benarkah seperti pemikiran awalnya tadi? Bahwa ia dan Alois akan terpisah? Alois sudah berjanji tidak akan membiarkan itu terjadi. Tapi… nyatanya…?
Tiba-tiba seseorang menyelup paksakan kepala Ciel ke laut. Orang itu terlihat sangat panik seperti orang gila. Ciel yang baru mengetahui ia terpisah dengan sahabatnya seketika itu tersentak bukan main. Tiba-tiba saja ia tak bisa bernapas karena terlanjur masuk ke laut.
"Apa yang kau la…"
BLUPUP BLUPUP
Ciel belum sempat melanjutkan kata-katanya saat orang itu menceburkan tubuh Ciel ke laut lagi dan lagi. Seakan ia mengira Ciel adalah benda yang bisa ia gunakan untuk bertahan dengan cara terapung di laut.
"Bodoh! Apa yang kau…" lagi-lagi Ciel terus ditenggelamkan secara paksa oleh orang itu. Kalau begini terus, bisa-bisa Ciel akan mati!
"Hentikan itu! Dasar orang tak tahu diri!" seru seseorang sambil meninju orang itu hingga menjauh. Ia pun segera melindungi Ciel.
Ciel yang tadinya terguncang segera menenangkan diri dan menengadahkan kepalanya. Betapa kagetnya ia saat melihat siapa yang ada di hadapannya.
"Sebastian!" panggilnya. Entah sudah berapa lama ia selalu terpisah dengan butler satu-satunya itu.
"Tuan Muda baik-baik saja?" tanya Sebastian ramah. Seperti biasanya.
Ciel memandangnya dengan tatapan bersyukur dan gembira. "Sebastian! Sebastian…" ia pun segera memeluk tubuh bidang Sebastian. Sebastian tidak memakai pelampung. Entah kenapa. Ciel sangat merindukan dekapan Sebastian. Ia takut terpisah dengannya. Tapi, seketika itu, ia teringat akan Alois.
"Alois! Dimana Alois?" matanya langsung melebar lagi. Ia gusar mencari sahabatnya itu, memutar-mutarkan tubuhnya. Sebastian heran dibuatnya.
"Tuan Muda. Tenangkan diri anda sedikit." Sebastian mencoba menenangkan Ciel yang kembali gusar. "apa yang terjadi?"
"Aku…" Ciel terlihat menoleh ke sana-ke mari. "Alois! Aku terpisah dengannya! Padahal… padahal tadi kita jatuh bersama. Ia menggandeng tanganku erat. Ia berjanji tidak akan meninggalkanku. Ia berjanji begitu…" Ciel berkata tanpa titik dan koma. terus begitu. Ia benar-benar tidak bisa tenang. Gusar dan gelisah. Ia takut… pemikirannya benar-benar terjadi!
"Tuan Muda!" Sebastian mencengkeram pundak Ciel yang masih gelisah.
"Alois tadi masih bersamaku. Dia masih ada di sisiku. Ia masih menggandengku hingga terjun ke laut. Ia masih…"
"Tuan Muda! Tenangkan dirimu dulu!" bentak Sebastian sejadinya. Ciel berhasil diam dan menatap mata orb Sebastian untuk sesaat. Tapi kemudian ia membuang wajahnya ke arah lain. Bibirnya bergetar. Pipinya terasa panas. Napasnya putus-putus. Dan kemudian, air matanya mengalir.
"Tadi… Alois masih bersamaku, kok…" katanya lirih dengan nada bergetar. "dia masih bersamaku…" ia mulai terisak. Sebastian tertegun melihat tuan mudanya mulai tersedu-sedu.
"Aku terpisah dengannya…" gumam Ciel. "aku terpisah dengan Alois…" Ciel pun mulai menangis sejadinya. Sebastian tidak kuat melihatnya. Ia pun mendekap Ciel seraya membawanya ke tempat yang lebih aman perlahan.
"Sebaiknya kita mencari tempat yang aman dulu, Tuan Muda." Kata Sebastian. Sebenarnya, ia juga kedinginan. Sangat kedinginan malah. Tapi, dari tadi ia melihat tuan mudanya itu menggigil kedinginan, ia jadi harus bertanggung jawab juga utnuk menyelamatkan tuannya. Tubuh ringkih itu basah kuyup dari ujung rambut hingga ujung kaki. Dan sekarang… ia menangis. Ia menangis sambil menggigil kedinginan. Sebastian iba melihatnya.
.
.
Suhu air laut di Samudera Atlantik sedang dingin-dinginnya. Suasana malam mulai menghening. Suara-suara teriakan telah berkurang sedikit demi sedikit. Suasana menjadi sangat sepi. Ciel terbaring di atas daun pintu yang cukup lebar dan besar bersama butlernya. Tubuhnya dingin seperti membeku. Kulitnya pucat pasi, dan bibirnya benar-benar biru. Sedari tadi, bibir mungil itu bergetar terus dan terus. Di sisinya, sang butler menemaninya. Dengan kondisi yang sama. Kedinginan. Sebatian mendekap tubuh Ciel agar ia merasakan kehangatan walaupun sedikit. Ujung-ujung rambut mereka terbungkus es yang mulai membeku. Napasnya terlihat mengepul-ngepul.
Ciel terus membuka matanya walaupun lelah merajalela. Ia berkedip-kedip lemah. Di hadapannya terbentang langit hitam yang luasnya tak terkira. Beribu-ribu bintang berkelip-kelip di atas sana, menemani kesendirian yang melingkupi hati Ciel. Di sekitarnya terhampar lautan manusia yang terlihat terapung-apung dan terombang-ambing tak bernyawa. Ciel tak mempedulikannya. Ironis sekali. Bintang-bintang terlihat seperti bergembira di atas sana. Sementara di bawahnya terjadi malapetaka yang menewaskan banyak orang. Ciel menatap bintang-bintang itu dengan tatapan datar. Perlahan, ia melantunkan nada-nada indah walaupun terkadang suara tak sampai.
It's a long… long journey
'Till I know where I am supposed to be
It's a long… long journey
And I don't know if I can believe…
When shadows fall and bolck my eyes
I am lost to know that I must hide
It's a long… long journey
'Till I find my way home to you…
Ciel lantas terdiam sejenak. Menyelami bintang-bintang yang terus bergemerlapan di langit hitam.
"Suara anda bagus… Tuan Muda…." Tiba-tiba Sebastian berbicara. Putus-putus. Mendengar itu, Ciel hanya terkekeh lemah. Sedetik kemudian, ia terdiam.
"Sebastian… sudah mulai sepi…" lirih Ciel. Tubuhnya benar-benar lemah. Bahkan untuk bicara pun susah.
"Benar… sudah mulai sepi..." Jawab Sebastian singkat. Mata orb merahnya masih terjaga.
"Apakah… mereka semua mati?" tanya Ciel. Matanya tetap memandang ke langit hitam.
Sebastian terlihat berat sekali menjawabnya. "Benar… Tuan Muda…" Sebastian beringsut. Memeluk Ciel lebih erat.
"Akankah… kita juga bakal menjadi… mayat apung…?" tanya Ciel dengan nada yang lirih dan polos, tapi tajam.
Sebastian tercekat. "Tidak akan… Tuan Muda. Bantuan… pasti akan segera datang…" nada bicara Sebastian bergetar dan penuh desahan.
Ciel tersenyum lemah. "Benarkah?" katanya nyaris berbisik. Ia merasa tubuhnya mati rasa. Melihat mayat-mayat yang terapung-apung di sekelilingnya mengingatkannya pada Alois. Apakah… dia juga mati? Memikirkannya saja sudah berhasil membuat hati Ciel terluka. Menangis? Sepertinya air matanya sudah membeku. Ia tak sanggup menangis. Ia kini hanya bisa pasrah. Ia memejamkan matanya sejenak. Menikmati suasana hitam pekat ketika matanya tertutup.
'Apakah begini… rasanya mati?' batinnya.
Tapi, tiba-tiba ia merasakan sebuah cahaya menyeruak dalam kegelapan. Cahaya itu makin terang dan terang. Ia merasa silau. Ciel pun membuka mata. Sayup-sayup ia mendengar suara orang berseru. Satu orang? Tidak. Ada dua hingga tiga orang. Ciel mencoba menyempurnakan matanya hingga terbuka. Ia melihat dua sekoci mendekat. Salah seorang awak kapal berseru sambil memegangi senter. Ciel berusaha untuk bangun.
"Sebastian… bantuan datang…" Ciel mengguncang-guncangkan tubuh butlernya itu. Sebastian bergerak lemah. Tubuhnya seakan beku dan mati rasa. Ia melongokkan kepalanya melewati punggung Ciel.
"Anda benar, Tuan Muda…" kata Sebastian senang. Tiba-tiba, ia melihat tuan mudanya berongsut untuk turun ke laut. Mencoba memanggil bantuan yang sedang mencari-cari apakah masih ada orang yang selamat itu.
"Tuan Muda! Apa… yang anda lakukan!" panggilnya tidak kelewat keras. Suaranya serak. Ia pun ikut turun dari daun pintu yang ia tempati untuk berlindung itu. Menyusul Ciel.
"Aku… akan memanggil… mereka kemari..." Ciel mencoba berenang mendekati mereka. Tubuhnya gemetar bukan main. Bibir mungilnya juga bergetar lebih dari yang tadi.
"Tidak!" Sebastian berusaha mengejar dan… dapat! Ia berhasil mencengkeram lengan kecil Ciel. "biar saya saja, Tuan Muda…" potong Sebastian.
Ciel menoleh. Ia tersenyum singkat. "Dasar bodoh! Kau… menggigil seperti itu…" kata Ciel sambil menepis cengkeraman Sebastian.
"Anda… malah lebih parah… dari pada saya, Tuan Muda…" Sebastian agak kesal melihat Ciel menjadi keras kepala. Ia segera menarik lengan Ciel. Ciel yang diperlakukan seperti itu memekik tertahan. Sebastian segera mendekap tuannya itu dan segera mengeluarkan pistol dari coatnya.
Ciel terbelalak saat Sebastian mengeluarkan pistol tersebut. "Ap-apa yang kau…" belum selesai Ciel berkata, sebuah bunyi tembakan terdengar keras sekali.
DORR!
Sebastian tersenyum lemah. "Ini… akan jauh lebih cepat… Tuan Muda…" katanya sembari menggigil. Ciel tersenyum tipis. Ia tahu maksudnya. Sebastian menembakan peluru kosong dari pistolnya agar lebih cepat untuk memanggil bantuan. Tidak habis terpikirkan oleh Ciel sebelumnya. Tak lama kemudian, bantuan pun menghampiri dengan susah payah. Salah satu sekoci itu menabrak-nabrak mayat-mayat apung yang terombang-ambing di permukaan laut. Setelah sampai, Sebastian membantu Ciel naik ke atas sekoci. Para awak kapal menatapnya prihatin. Lalu, di susul Sebastian.
"Anda tidak apa-apa?" tanya salah satu awak kapal.
Sebastian menggeleng lemah sambil tersenyum tipis. "Tidak. Saya tidak apa-apa…"
Di sekoci sudah terdapat dua orang selamat yang seluruhnya kini lemah lunglai. Satu perempuan dan satu lagi anak kecil. Sebastian salut kepada mereka berdua. Manusia- manusia yang sabar dan kuat. Ciel sudah tidak tahan lagi dengan suasana yang kelewat dingin ini. Awak kapal memberinya selimut kering dan membungkus tubuh ringkihnya. Begitu juga dengan Sebastian. Sebastian duduk sambil mendekap Ciel di sampingnya. Ciel menggigil dengan menggila. Sebastian takut terjadi apa-apa padanya. Akhirnya, awak kapal pun menjalankan lagi sekocinya bersama sekoci yang lain untuk mencari adakah orang yang selamat dan menunggu bantuan dari mereka.
Ciel menyandarkan kepalanya yang berat di pundak Sebastian. Matanya lemah menatap mayat-mayat yang terapung-apung di sekitarnya dengan berbagai ekspresi. Hatinya miris ketika melihat seorang ibu meninggal bersama bayinya yang masih sangat kecil itu. Kulit mereka berubah jadi benar-benar putih dan pucat. Ia ingat. Nyonya itu yang memberitahunya tentang Alois saat dia disekap. Ia teringat akan keramaahan nyonya itu, sekaligus teringat Alois. Ciel meremat coat Sebastian diiringi air matanya yang mengalir dari mata kanannya. Napasnya putus-putus dan pipinya terasa panas. Ia pun memejamkan kedua matanya sambil mendesah pelan. Uap napasnya mengepul tebal sekali. Tak disangkanya, air matanya menetes lagi.
.
.
Mentari pagi mulai menampakkan cahayanya. Terik sinarnya menghangatkan tubuh. Ciel terbangun dari tidurnya yang lumayan nyenyak semalaman tadi. Kini posisi kepalanya sudah berada di pangkuan Sebastian. Sementara sebastian tertidur sambil duduk dan sebelah tangannya mengusap kepala Ciel. Ciel mulai membuka matanya. Ia merasakan hangat dan silau.
'Sudah pagi…?' tanyanya dalam hati. Walaupun tidurnya lumayan, tapi ia masih merasa lelah. Ia pun menyentakkan tubuhnya perlahan dan mengambil posisi duduk yang enak. Ia mendapati butlernya masih tertidur. Ia tak mau membangunkannya. Untuk kali ini saja… Ciel tidak ingin mengganggunya. Ia pun membalikkan tubuhnya. Mata sapphirenya mendapati sebuah kapal yang besarnya tak kalah dengan Titanic yang kandas semalam. Tapi… ia merasa kapal di hadapannya itu lebih kokoh ketimbang Kapal Impian itu. Semoga saja. Ia pun menebak-nebak. Kapal ini pasti kapal bantuan yang sedari malam dihubungi oleh Kapten Smith.
Ciel menginjakkan kakinya di kapal raksasa itu. Kini diiringi oleh satu awak kapal dan Sebastian yang sudah tersadar dari mimpinya. Selimut kotak-kotak hitam-merah masih menyelimuti tubuhnya.
"Silahkan kemari, Tuan." Tawar si awak kapal. Para awak kapal dan kapten kapal ini sudah mengetahui bahwa Ciel adalah keluarga bangsawan yang sangat terkenal. Mereka ditempatkan di tempat yang kusus. Tapi juga tidak begitu bagus dan mewah seperti kamarnya di kapal Titanic. Si awak kapal menawarkan baju yang bisa mereka pakai sementara baju yang mereka kenakan dijemur dahulu. Ciel hanya menurut. Ia segera duduk di pinggir ranjang yang tak begitu besar sambil menatap seluruh ruangan.
"Lebih baik… anda ganti baju dulu, Tuan Muda." Tawar Sebastian. Ciel menoleh kearah Sebastian yang sedang mengambil potong pakaian di lemari yang seadanya. Ciel menatapnya datar dan agak lama. Kemudian mengangguk lemas. Wajahnya sendu. Melihat itu, Sebastian hanya bisa memasang tampang serbasalah.
Kata kapten kapal ini, perjalanan menuju Inggris masih sehari lagi. Katanya juga, korban yang selamat tidak sampai setengah dari seluruh penumpang, termasuk para awak kapalnya. Kejam sekali. Dari 2200 orang, sekitar 700-an orang selamat dengan memakai 20 sekoci, dan 6 orang, termasuk Ciel dan Sebastian, setelah Titanic tenggelam. Sungguh ironis. Bisa dikatakan, sekitar 1500-an orang meninggal karena kedinginan di laut lepas malam itu.
Ciel meletakkan kepalanya di atas pagar besi kapal. Tangannya ditumpukan di atasnya. Wajahnya sembab karena tadi ia tak sengaja menitikan air mata ketika mendengar kabar tersebut. Hari ini cuaca sangat cerah. Angin bertiup dengan sepoi-sepoi, menerbangkan helai rambut Ciel yang jalus. Mendengar kata-kata sang kapten tadi, ia jadi teringat akan Alois. Apakah dia mati? Ciel berusaha menepis hal itu. Tapi, hatinya berkata sebaliknya. Bisa saja dia telah mati. Ia bimbang, juga takut. Ia tak bisa tenang karena terus khawatir soal Alois.
Sebastian barusaja kembali dari dapur umum. Hari ini, ia ingin membantu-bantu para koki di sana. Ia kembali dengan membawa semangkuk sup jagung hangat di atas nampan cokelat. Tak lupa juga segelas susu putih yang masih mengepul-ngepul. Ia tercekat melihat Ciel terdiam termenung menatap laut lepas pagi ini. Wajahnya kelihatan sedih sekali. Sebastian mendesah pelan mendapatinya. Tapi ia mengerti perasaan tuannya itu.
"Waktunya sarapan, Tuan Muda." Katanya sembari menjejeri Ciel di bangku kayu dek kapal. Ia meletakkan nampannya di meja yang tak jauh darinya. Ciel tidak menjawab. Matanya tetap terpaku pada garis lurus berwarnya biru di hadapannya.
"Tuan Muda… kalau anda tidak makan, anda bisa sakit…" Sebastian prihatin. Ciel tetap bergeming. Sebastian jadi merasa diabaikan. "anda masih mengingat Tuan Alois?"
Ciel tercetik sejenak, lalu menolehkan kepalanya ke samping. Mata merah Sebastian yang terlihat pengertian itu menembus cahaya mata birunya. Sebastian tersenyum ramah ketika tuannya menatapnya lesu.
"Saya yakin. Tuan Alois pasti selamat. Anda dan Tuan Alois adalah sepasang sahabat yang sama-sama kuat." Sebastian mencoba untuk menyemangati Ciel. Sejenak Ciel menatap Sebastian. Tapi setelah Sebastian selesai berkata, ia pun kembali menatap laut lepas. Wajahnya masih sendu dan sembab. Sebastian menatapnya iba. Ia juga jadi tidak enak karena sedari tadi hanya dia yang ambil suara.
"Baiklah… saya tinggal sebentar, Tuan Muda. Jangan lupa dimakan supnya, ya…" kata Sebastian lembut sambil mengelus lengan Ciel. Kemudian, ia berlalu. Ciel hanya melirik punggung Sebastian yang mulai menjauh dan sarapan paginya secara bergantian. Ia merasa tidak selera makan hari ini. Ia hanya ingin melihat Alois berada di sisinya lagi. Menemaninya, membuatnya tersenyum, membuatnya tertawa lepas dan mengerjainya dengan jahilnya. Ia rindu akan senyum cerianya. Akankah… hari itu adalah hari terakhirnya… melihat senyum dan tawa Alois? Mata Ciel pun mulai berkaca-kaca. Air mata membendung di sudut-sudut matanya. Dadanya terasa sakit dan sesak. Ia mulai terisak dan akhirnya menangis tertahan. Rasanya sakit sekali. Satu tangannya meremat dadanya yang perih. Ia sesunggukan tanpa ada orang yang mengetahui. Kecuali Sebastian yang ternyata sedari tadi memperhatikannya diam-diam dari balik tiang yang jaraknya jauh dari Ciel. Ia hanya menatap Ciel dengan perasaan miris.
.
.
Matahari sudah mulai berjalan menuju tengah-tengah khatulistiwa. Siang mulai menyambut dengan teriknya. Seorang anak bermata biru muda kalang kabut bertanya dari awak kapal satu ke awak kapal lainnya. Alois terlihat harap-harap cemas, juga panik.
"Tapi, Pak…" katanya merajuk.
"Maaf, Tuan. Nama yang anda tanyakan belum tercantun di buku ini. Tapi jangan khawatir. Saya dan kawan-kawan akan mencarinya sampai dapat." Kata si awak kapal dengan ramah. Ia pun tersenyum menenangkan dan segera berlalu. Anak itu terlihat syok. Tapi, ia tak menyerah untuk mencari lebih banyak informasi mengenai kerabatnya. Calude Faustus, Arnold Trancy, dan juga… Ciel Phantomhive.
Alois berlari mencari awak kapal yang lain, yang terlihat sedang menanyai nama-nama korban tragedi Titanic itu dengan cermat. Jubah ungu yang sudah sobek-sobek di bagian bawahnya itu berkelebat tertiup angin. Matanya menyiratkan rasa takut dan khawatir. Setiap ingin bertanya, rasa ragu selalu membelenggunya. Tapi… hanya itu jalan satu-satunya!
"Maaf…" katanya sambil meremat bagian belakang baju si awak kapal yang mengenakan pakaian serba hitam itu.
"Ya?" si awak kapal berbalik dengan mulusnya. Wajahnya terlihat ramah.
"Saya… ingin bertanya…" Alois menelan ludah sejenak. "adakah… korban selamat… yang bernama Claude Faustus dan Arnold Trancy?" tanyanya penuh harap. Mendengar si penanya menyebutkan kedua nama tersebut, si awak kapal segera membalik-balikkan buku catatannya. Kedua alisnya terlihat bertaut. Wajahnya yang tadi ramah, berubah menjadi serius. Membuat Alois menjadi sedikit tegang.
"Maaf, Tuan. Kedua nama tersebut sepertinya masih menjadi bagian nama-nama korban yang hilang." Kata si awak kapal. Mendengar itu, Alois pun terlihat kecewa sekali. Dadanya tiba-tiba diserang rasa nyeri. Mata turquoisnya terbelalak seakan tidak pecaya.
"Orang hilang…?" tanyanya setengah berbisik. Napasnya putus-putus. Air mata terlihat membendung di sudut-sudut kedua matanya.
"Iya, Tuan… tim pencarian sedang melakukan pencarian ulang. Anda harus yakin bahwa mereka selamat." si awak kapal merasa iba melihatnya. Ia sedikit menghibur, tapi kelihatannya tidak berhasil. Si awak kapal itu pun membungkuk sedikit dan segera berlalu.
Anak berbalut jubah ungu itu masih nampak terdiam di tempatnya. Seakan terpaku dan tidak bisa bergerak. Walaupun Claude dan Arnold jahat padanya… ah! Tidak! Bukan begitu. Hanya Arnold yang jahat padanya. Sementara Claude hanya menuruti perintah-perintahnya sebagai seorang butler yang setia. Ia yakin itu. Walaupun mereka beruda begitu, ia sangat menyayanginya. Karena… hanya merekalah anggota keluarganya yang tersisa setelah ayahnya meninggal dunia.
Alois tiba-tiba terisak. Ia sendiri juga kaget mengapa demikian. Bagaimana kalau dilihat orang? Tapi, masa bodoh. Hatinya sudah keburu sakit dan sedih. Rasa takut, khawatir dan kehilangan bercampur menjadi satu di dadanya. Tapi, sedetik kemudian, ia teringat sesuatu.
'Bagaimana dengan Ciel? Apakah… dia juga termasuk korban hilang?' tanyanya miris dalam hati. Mengingat sahabatnya itu, isakan tangisnya makin pilu. Ia menutupi mulutnya dengan punggung tangan. Ia menyipitkan matanya sehingga air matanya lebih banyak keluar.
'Mengapa harus jadi seperti ini…?' batinnya.
.
.
Ciel berdiri termenung di atas dek kapal. Matanya masih tertuju pada laut lepas yang membentang luas dengan tatapan sayu. Sedari tadi, ia tak menyentuh makan paginya yang kini sudah berubah menjadi makan siang. Ia tidak mau makan. Napsu makannya sudah terlanjur hilang.
"Tuan Muda… anda harus makan…" tanya Sebastian yang kali ini menungguinya tepat di sampingnya. Si tuan tidak menyahut.
Sebastian menyendokkan makan siang Ciel dan beniat untuk menyuapinya. Ia berpikir kalau disela dengan candaan, pasti Ciel akan tersenyum dan mau makan. Ia yakin itu.
"Tuan Muda. Saya mohon buka mulut anda. Saya akan susah kalau anda sakit." Kata Sebastian. Entah kenapa, Ciel pun menoleh. Sebastian jadi terlihat senang.
"Aa… Aaa…" Sebastian mulai menyuapi Ciel dengan cara yang… eerr… mungkin seperti menyuapi seorang bayi. Ciel jengkel karena diperlakukan seperti anak kecil. Ia segera berpaling dan menyamplak makan siangnya.
PRRAANNGG!
"Aku bukan bayi!" katanya dengan nada keras. Sebastian tersentak. Bukannya tersenyum seperti pemikiran Sebastian, tapi Ciel malah makin sedih dan marah. Ia terlihat membenamkan dagunya lagi di sela-sela tumpukan tangannya di atas pagar besi. Matanya berkaca-kaca. Sebastian jadi merasa bersalah. Ia tidak pandai membaca situasi yang seperti ini. Sebastian pun mendesah.
"Saya akan membereskan semuanya." Sebastian undur diri untuk mengambil kain basah dan membersihkan tumpahan makanan yang tidak berdosa itu.
Sepeninggalan Sebastian, Ciel menatap laut lepas dengan tatapan kosong. Pikirannya melayang kemana-mana. Ia teringat di saat-saat dirinya bertemu pertama kali dengan Alois. Pandangan mereka bertabrakan. Alois menyapanya dengan senyum yang seakan sok kenal saat itu. Ciel mencibir, tapi di dalam hatinya, ia merasa geli. Ia juga ingat saat-saat ia berdiri bersisian dengan Alois di atas kapal Titanic sore itu. Alois mengajarkannya cara menikmati angin sore yang menyegarkan. Ia masih ingat ketika mata sapphirenya dan mata turquois Alois bertabrakan dengan tidak sengaja sore itu. mereka tertawa bersama ketika mengetahui hal itu adalah bodoh. Ia juga teringat saat ia dikerjai Alois di kamar sahabat usilnya itu. Banyak sekali kenangan indah yang ia ukir bersama penerus keluarga Trancy itu. Kenangan itu memang membuatnya tersenyum… sekaligus sedih.
.
.
Alois merasa dirinya lelah. Tubuhnya terasa lemas. Ia sudah menanyai hampir lima orang awak kapal dengan pertanyaan yang sama. Jawabannya pun juga sama. Tak lupa ia juga menanyakan nama Ciel Phantomhive. Tapi jawabannya simpang siur. Benarkah dia selamat…? Atau… tidak! Alois tidak ingin memikirkan hal menyeramkan itu. Alois berjalan menuju pagar besi dan menumpukkan kedua tangannya di atasnya. Dadanya entah kenapa terasa berat. Angin semilir meniup-niup helai rambutnya yang halus. Ia menghirup udara dan membuangnya perlahan-lahan. Matanya yang sembab menatap lurus ke arah laut yang membentang di hadapannya. Ia lelah. Lelah dengan semua keadaan ini. Rasanya ia ingin meninggalkan masa-masa ini secepat mungkin. Agar hatinya yang terluka bisa ia obati segera. Tapi… melewati sebuah masa butuh waktu dan adaptasi yang cukup lama dan menguras perasaan, bukan?
Dengan adanya tragedi ini, ia sudah kehilangan dua orang yang sangat berarti baginya. Sementara sahabatnya masih ia cari di atas kapal yang besarnya sama dengan Titanic naas itu. Ia berharap, sebelum sampai di Inggris, ia ingin bertemu dengannya. Ia sangat berharap. Walaupun takut.
Alois menolehkan kepalanya ke samping. Entah apa yang ia lihat, khalayan atau apa. Mata biru mudanya menangkap satu sosok yang sudah familiar di matanya. Satu sosok yang begitu dia kenal. Alois terbelalak tidak percaya. Benarkah sosok itu dia? Benarkah sosok yang berdiri dengan jarak yang agak jauh darinya itu adalah…
'Ciel Phantomhive?' batin Alois sembari terbelalak.
.
.
Ciel mendesah panjang. Ingatan-ingatan itu sempat menguras emosinya. Ia tersenyum pahit. Mengingat orang yang sudah tiada memang membuat hati sakit, walaupun ingatan itu manis dan menyenangkan. Kenapa semua ini harus terjadi begitu saja? Karena tragedi ini ia kehilangan sahabatnya yang begitu ia sayangi. Ia sudah menganggapnya seperti kakak kandungnya sendiri. Bila Tuhan mengizinkan, sebelum ia menginjakkan kakinya di Inggris, ia ingin bertemu dengan Alois sekali saja. Apapun! Syukur hal itu bisa bertahan selamanya… atau hanya sekedar pertemuan untuk yang terakhir kalinya. Ia selalu berharap demikian. Terus berharap.
Ciel baru menyadari bahwa sudah berjam-jam lamanya ia termenung di pinggiran dek itu. Ia lelah. Ingin sekali ia berbaring di kasur yang empuk di kamar sementaranya di kapal ini, tidur nyenyak sambil memimpikan wajah Alois. Ciel pun membalikkan badannya menju kamarnya. Sesaat sebelum berbalik, tak sengaja matanya menangkap sebuah sosok yang begitu ia kenal. Ia terdiam dan menghentikan langkahnya. Perlahan, Ciel terbelalak. Si sosok itu juga nampaknya menatapnya dengan tidak percaya. Tubuh Ciel nampak gemetar. Jantungnya berdegub dua kali lebih cepat. Angin semilir menyibakkan rambut kelabu dan rambut pirang sosok yang ada di depannya. 'Benarkah itu… benarkah itu… Alois Trancy?' tanyanya dalam hati.
"Ciel…" panggil Alois dengan nada bergetar. Di bibirnya terpampang seulas senyum kaku. Air matanya pertamanya mengalir membasahi pipi. Ciel mencoba menerka dengan seksama sosok di hadapannya itu. Dan setelah beberapa detik, ia pun yakin. Sosok di hadapannya itu adalah Alois, sahabat yang selama ini terpisah darinya. Sahabat yang terus ia cari. Ciel merindukan suara itu. Suara Alois yang menyebutkan namanya dengan lembut. Ciel menyipitkan kedua mata, membuat air matanya mengalir dengan sukses. Tanpa basa-basi, setelah mendengar namanya di sebut, Ciel langsung berjalan menuju Alois. Pertama, ia berjalan perlahan. Tapi lama-kelamaan ia pun berlari menghambur ke arah Alois. Begitu juga Alois. Mereka berpelukan dengan erat dan perlahan jatuh bersimpuh di pinggiran dek dan saling menumpahkan perasaannya masing-masing.
"Maafkan aku… aku yang membuat kita jadi terpisah seperti itu…" sesal Alois sambil sesunggukan. Sementara Ciel hanya terus terisak. Mereka menangis bersama dengan menumpahkan perasaan sakit, khawatir, dan rindunya yang sempat mengganggu pikiran mereka. Mereka menangis bukan karena sedih… tapi karena senang.
Diam-diam, sekembalinya dari dapur, Sebastian melihat adegan mengharukan tersebut. Ia merasa bersyukur tuannya bisa bertemu lagi dengan sahabatnya itu. Ia senang sekali, walaupun sebenarnya ia juga terharu.
.
.
Malam pun turun. Bintang-bintang bertaburan dengan indahnya. Dan kali ini, sang bulan ikut menemani. Alois berdiri bersisian dengan Ciel. Kepala mereka menengadah menatap langit malam.
"Aku tak percaya… aku bisa selamat dari tragedi itu…" Alois memberi jeda. Ia pun menoleh ke arah Ciel. "dan bisa bertemu kembali denganmu." Katanya sambil tersenyum. Mendengar kalimat itu, Ciel menoleh ke arah Alois.
"Kau tahu, Ciel? Sesaat setelah genggaman tanganku terlepas, aku seperti tersedot ke dasar bumi. Napasku habis dan kukira aku akan mati. Susana di sekitar tubuhku terasa sangat dingin." Alois menerawang. Ciel hanya menatapnya sambil mendengarkan semua yang diucapkan sahabatnya itu.
Alois menoleh kearah Ciel. "Maaf, ya… karena aku membiarkanmu lepas dariku…" Alois merasa bersalah. Melihat ekspresi Alois, Ciel tercekat. Wajahnya memerah. Ia pun cepat-cepat membuang wajah ke samping utnuk menyembunyikan ekspresi wajahnya yang memalukan itu. Sementara Alois hanya terheran-heran.
Sunyi. Tak ada percakapan di antara mereka selama. Mereka sibuk dengan pikiran masing-masing sambil memperhatikan bintang-bintang di atas langit. Hanya terdengar suara gemuruh angin dan percakapan orang-orang yang terdengar tidak jelas di telinga.
"Ciel…" panggil Alois.
"Ya?"
"Aku… sangat iri padamu." Kata Alois sekenanya.
Ciel tercekat mendengarnya. Ia pun menoleh ke arah Alois.
"Kau masih bisa bersama keluarga yang kau sayangi, yang akan setia menemanimu." Alois terdiam sejenak. "sementara aku tidak."
Hati Ciel melengos mendengarnya. Ia merasa iba. Ia tidak mengerti apa maksudnya.
"Kau tahu? Setelah tragedi itu… Claude dan Paman hilang entah kemana. Para awak kapal bilang… mereka masih dalam pencarian. Entah mereka masih hidup atau tidak." Alois mendesah sambil meletakkan kepalanya di atas tumpukkan tangannya. Ciel hanya memperhatikan sahabatnya itu dengan tatapan serbasalah.
"Entah bagaimana aku kelak… setelah aku menginjakan kaki di tanah Inggris." Alois tersenyum pahit. "aku pasti akan kesepian."
Ciel menatap wajah Alois yang tersenyum itu. Tapi ia tahu di balik semua itu, Alois sebenarnya sedang menyembunyikan kesedihannya. Ia merasa sangat bersalah padanya karena keluarganya yang tersisa bisa selamat dengan sehat. Sedangkan sahabatnya? Ooh… itu sungguh tidak adil. Iya, kan?
"Walaupun mereka belum di ketahui…" Ciel mulai angkat bicara. "tapi… ingat satu hal, Alois." Ciel menatap Alois dengan seksama. Alois pun menoleh kearahnya dan berdiri dengan tegak. "jangan lupa… kalau kau masih memilikiku. Sahabat yang akan terus setia bersamamu. Ketika kau sedih ataupun senang." Ciel tersenyum ramah. Alois terbelalak sedikit mendengar kata-kata Ciel barusan.
"Dan…" Ciel melanjutkan kata-katanya. "jangan takut untuk berharap. Kata orang… harapan adalah mimpi yang tidak akan pernah tidur. Kalau kau terus berharap… aku yakin. Suatu saat itu semua bisa terjadi." Ciel menengadah sambil tersenyum, memperhatikan mata turquois Alois.
Alois tertegun mendengar kata-kata Ciel. Alois menatap wajah sahabatnya yang bersinar karena terpantul cahaya lampu kapal itu. Begitu damai dan menenangkan. Alois pun terkekeh perlahan. Diikuti Ciel selanjutnya. Tiba-tiba, Ciel mendapati sesuatu di jidat Alois.
"Ah! Astaga! Kenapa dengan jidatmu?" Ciel kelihatan khawatir. "lihat! Kenapa jidatmu terluka begitu?" Ciel menyibakkan poni rambut Alois dan mendapati luka benturan yang masih merah.
"Aah… mungkin aku terbentur sesuatu tanpa sadar saat aku tenggelam." Alois menyingkirkan tangan Ciel perlahan dan mencoba meyakinkan bahwa ia baik-baik saja.
"Benarkah? Apakah sakit?" tanya Ciel.
Alois tersenyum. "Sekarang sudah tidak…"
"Bohong." Ciel menyela. Ia mendengus.
"Benar! Aku tidak apa-apa, kok…" Alois meyakinkan. Ciel terdiam. Mereka saling bertatap-tatapan. Ciel suka sekali bisa Alois menatapnya seperti ini. Tatapannya teduh dan… sejuk. Begitu juga Alois. Di mata Ciel, ia seperti menemukan sebuah kedamaian dan kebebasan.
"Ah! Lihat! Itu Inggris!"
"Waah… kau benar. Kita sudah sampai Inggris!"
Terdengar suara anak-anak berseru tak jauh dari tempat mereka berdiri. Alois dan Ciel tercekat dan segera menoleh. Benar saja. Mereka melihat pelabuhan Southampton sudah di depan mata. Cahaya gemerlap dari lampu-lampu yang terdapat di sekitar pelabuhan terlihat gemerlapan. Iandah sekali. Banyak orang sedang menantikan kepulangan anggota-anggota keluarga mereka yang… tentu saja yang selamat. Ciel dan Alois menatapnya dengan takjub… sekaligus terharu. Mereka benar-benar tidak habis pikir bisa pulang dengan selamat… setelah mengalami kejadian yang hampir merenggut nyawa mereka.
"Kita sudah sampai… Ciel…" kata Alois setengah berbisik. Ia terkagum-kagum, sekaligus terharu. Sementara Ciel hanya tertegun.
Orang-orang di pelabuhan bersorak-sorai. Beberapa dari mereka menangis karena terharu. Kapal pun berhasil menepi dengan baik. Jangkar pun di turunkan. Ciel masih menatap pelabuhan Inggris yang termasyhur itu dengan takjub. Bagaimanakah… nasibnya setelah turun dari kapal ini? Adakah… ujian hidup yang menantinya di tanah Britania nanti? Bagaimana pun yang terjadi, ia akan tetap menghadapinya sepenuh hati. Karena di sampingnya ada Alois, sahabat yang begitu ia sayangi. Hidup seperti apapun akan kita jalani jika kita bisa melihat sahabat kita tertawa dan tersenyum. Benar, kan? Orang pernah berkata… hal yang dibutuhkan dalam persahabatan adalah cinta. Dan hal yang dibutuhkan dalam cinta adalah… persahabatan.
Ciel tersenyum haru beberapa saat setelah kapal menepi. Para awak kapal mulai menurunkan tangga untuk turun. Terlihat beberapa orang pertama berlari menuju pelabuhan dan berhambur memeluk sanak saudaranya sambil menangis haru.
"Ya…" kata Ciel sedikit bergetar. "Kita sudah pulang… Alois…"
FIN
.
.
A/N: Fiuuhh… akhirnya selesai juga, kawan-kawan. Chap terakhir ini luamyan panjang, ya? Hehehe… entah kenapa kok jadinya segini. Padahal pas saia mikirin gak sepanjang ini, deh. Dan kebetulan juga kalau di potong bakal nanggung, jadi saia terusin aja. Oh iya! saia kepikiran bikin sekuelnya. tapi masih ragu-ragu. Menurut kalian gimana? Bakal kepanjangan enggak ya kalau di bikin sekuelnya. Saia mohon votingnya, dumz… kalau setuju di buat sekuelnya, saia bakal bikin. Kalau tidak… ya cukup sampai sini saja. Jangan bilang terserah atau semacamnya! *maksa* *digeplak* Oke? ^^
Terimakasih untuk kalian semua yang sudah setia membaca fic ini. Review-reviewnya juga sangat membangun untuk saia agar bisa menjadi penulis yang baik. Dan juga terimakasih atas pujiannya yang selalu membuat saia semangat.
THANK YOU_ARIGATOU_KHAMSAHAMNIDA AND TERIMAKASIH! ^^
