Huaaaaaaayyy~~~ author gaje kambeeek XDDDD gimana?gimana? cerita kemaren kurang 'hot'? [emang apanya yang hot?==]

Oke deh…buat para mesumer sekalian, saya persembahkan fict nista ene [Ya Allah, maafkan hamba. Tobaaa~t.] saya peringatkan, dibawah 17 taon jangan baca ni fict. Saya udah peringatkan. Gk peduli ini rated M ringan ato berat buat kalian, yang jelas saya sudah peringatkan, jadi dosa ditanggung pembaca. xp HAYO! HAYO! (LEBAY, PEMIRSA!)

Saya author baru, jadi gk pandai pake disclaimer-disclaimeran. Langsung ajah deh lah… =.='

OOc, Parodi [mungkin], AU, Shonen Ai, BxB, Rated T-M, gaje, mohon maaf soal typo, kalo ceritanya monoton ato bikin ngantuk silahkan ripyu dan beri komentar! Komentar pahit saya terima, tapi langsung dibuang ke kuburan sebelum saya baca XDDDDDDD hahahaahahah

Saya bukan ornag yang suka bertele-tele [lah? Ini bertele-tele]. Jadi, ayow mulai!

.^

The Destination will come soon…

Orang itu menghisap darah yang ada di kukunya. Menikmati setiap sedotan seolah itu adalah jus tomat manis. Tak peduli 2 mayat berdarah-darah yang terkapar di sampingnya―seorang dokter dan asistennya. Dia menyudutkan calon ayah yang tadi berada di samping calon ibu. Dia seperti meminta sesuatu. Sesuatu yang tak mungkin dikabulkan. Calon ibu tidak bisa panic. Sangat tidak bisa dalam keadaan akan melahirkan.

SRAKK! !

Pintu geser dibuka kasar. Berdiri 2 orang berpakain sama, mereka tertegun, agaknya kaget. Terbukti dari kedua mata mereka yang terbuka lebar.

Ah…sayang sekali, orang itu tidak bisa menikmati kesenangannya.

"Kanda, dia bukan manusia, tapi…" kata Si rambut putih yang ragu-ragu melanjutkan kalimatnya. Rambutnya itu membuat orang ini ingin tersenyum geli. "akuma juga bukan." Lanjutnya sambil menelan ludah. Pasti Kanda segera menyembur marah.

"Lalu apa?" Ternyata salah. Si rambut panjang alias Kanda malah bertanya kalem. Entah laki-laki atau perempuan orang bernama Kanda itu.

"Dibilang manusia, iya. Dibilang akuma, juga iya."

"tadi katanya bukan keduanya!" mulaialh terdengar nada menyembur dari Kanda.

"memang iya."

"mana yang benar?"

Che! Mereka hanya bisa mengganggu. Sama seperti orang-orang itu. Orang-orang yang mengejar dirinya (orang yang menghisap darah dari kukunya) hanya untuk uang, kesenangan semata, dan alasan-alasan gombal yang memuakkan seperti 'melindungi'. Orang misterius ini berpikir mereka (Kanda dan anak berambut putih) sangatlahbodoh. Memperdebatkan hal yang seharusnya tidak diperdebatkan di depan lawan.

Orang misterius ini ingin sekali mencabik calon ayah dan melempar tulang-tulangnya ke dua orang di pintu. Ugh, mereka sangat berisik. Tapi keinginan itu harus ditahan. Ada panggilan. Suara suling bambu yang diiringi suara daun bergesekan karena angin seolah menariknay pergi. Melantun indah dan merdu. Berlomba-lomba lemah gemulai menuju telinga siapa saja.

Orang misterius ini berdecak kesal. Padahal waktu kesenangannya belum dimulai, tapi dia sudah dipanggil pulang. Ditebaskannya tangan yang penuh lumuran darah itu ke sosok tak bernyawa dihadapannya. Alhasil, cipratan darah mengotori sudut ruangan termasuk mengenai dua orang yang berada di depan pintu. Lalu dia melompat ke pintu geser lain tanpa membukanya sehingga pintu kertas ala Jepang tradisional itu pun robek.

.^

"Mana yang benar?" Kanda berseru dengan suara kecil. Berusaha tidak menimbulkan perdebatan di depan musuh. Tapi kata-katanya penuh penekanan. Tubuhnya menghadap lawan, menunjukan dia sedang siap.

"Dua-duanya juga benar!" Allen malah sebaliknya, melepas apa yang ingin dilepas. Ia membentak, tak mau kalah dari Kanda.

"Bego," kata Kanda setengah berbisik, namun sangat ditekankan sampai Allen bisa mendengarnya.

"Kau bilang aku bego, huh?"

"Cara mana yang lebih mudah untuk melawan makhluk yang belum kita ketahui jenisnya ini?" Kanda mengeluarkna nada datar. Megalihkan pembicaraan agar tidak menimbulkan perpecahan dalam perdebatan.

"begini ya kanda," Allen menjelaskan, masih bernada kesal. "kita tidak bisa membunuhnya, bisa saja dia manusia sungguhan."

"Kau ini bicara apa sih? Bisa tidak kau menuruti kata-kataku?" Kanda membalikkan tubuh menghadap Allen. Itu artinya, dia total melupakan lawan.

"AKU SUDAH MENURUTIMU!" Allen membentak mengeluarkan seluruh kekesalannya.

Kanda hendaknya ingin membalas Allen dengan teriakan yang jauh lebih kasar dan nyaring. Tetapi ada suara lembut yang menyentuh gendang telinganya. Seolah suara terapi pun lupa emosinya sendiri. Malah menikmati alunan lagu.

Craat!

Warna merah segar menodai pipi putih dan pakaian rapih Kanda. Mata mereka melirik sosok lusuh di sudut sana. Kaki sosok itu bergerak maju. Kanda buru-buru mengeluarkan mugen. Tapi ternyata kaki orang itu mundur lagi dan melompat menerobos kertas pintu ala Jepang tradisional. Kanda mengejar dan menebas pintu sampai habis. Namun, hanya rambut orang itu saja yang dapat ditebas. Helaian rambut hitam yang lembut tak berbau. Hitam mengkilat selembut bulu-bulu binatang manis.

"Ya-yang tadi itu apa?" kata suara gemetar ketakutan sekaligus syok.

BRUK!

Si calon ayah jatuh terduduk. Alasannya : pertama, saat istrinya melahirkan tiba-tiba saja ada makhluk tak jelas datang meminta hal yang tak bisa dipenuhi. Kedua, ia melihat 2 pembunuhan tak termaafkan dari makhluk itu. Ketiga, ia syok, tidak tahu istri dan bayinya selamat atau tidak. Keempat, ia juga syok atas keselamatan dirinya sendiri.

No one ever knows what happen in future…

Teriakan bayi yang baru lahir ke dunia memecah keheningan malam. Malam yang begitu mengagetkan, penduduk desa langsung berkumpul pada satu rumah. Angin kembali menggesekkan daun-daun hijau. Cahaya bulan temaram malu-malu menerobos lubang-lubang di pintu yang dirusak orang asing tadi.

Malam itu menjadi malam suka dan duka. Kelahiran dan kematian pada waktu bersamaan. Orang-orang pun bingung harus berekspresi seperti apa. Senang, tapi ada kematian. Sedih, tapi ada kelahiran. Makanya mereka memilih tersenyum kecut penuh paksaan dan kepalsuan. Hanya menghormati dan menghargai. Tak berarti apa-apa ataupun lebih.

Allen membasuh muka yang terkena darah tadi. Ada keanehan pada darah ini. Tidak berbau amis seperti pada umumnya. Melainkan berbau ….strawberry. ya, bau manis. Rasanya Allen ingin menjilat darah itu, tapi itu tidak bisa. Ia sadar, itu tetap darah.

"Baka moyashi," kata Kanda di ambang pintu. Dia bersandar manis sambil melipat kedua tangannya. "Kenapa kau tidak menangis? Bukankah kau telah gagal melindungi 2 orang manusia?"

Allen tertegun. Kanda benar. Dia telah gagal. Manusia…kematian.. hatinya tiba-tiba terasa sempit dan sesak. Suaranya tercekat tak mau keluar. Lalu dia teringat Mana….ayah angkat yang amat sangat ia sayangi. Tak ada lagi yang dia sayangi sebesar itu selain Mana.

"Mereka bukan…bukan manusia" jawabnya kalem. "mereka yang akuma"

Kanda terperangah agak kaget. Buru-buru menutupi kekagetannya dengan garuk-garuk kepala. Selama ini yang bisa membedakan secara spesifik mana yang akuma dan mana yang manusia memang hanya Allen.

Besitan ingatan dengan Mana, membuat Allen tersadar. Percaya pada apa kata hatinya. Sekali pun itu telat. Sama seperti telatnya dia menyadari kegagalan yang dikatakan Kanda. Mana, ayah angkat yang mengajari 'memilih dengan hati'. Allen tidak menangis karena hatinya sudah tahu mereka bukanlah manusia. Meskipun Allen tidak sadar itu. Bahkan secuil pun Allen tidak pernah memikirkan soal kebenaran mereka akuma atau bukan. Tapi tiba-tiba mulutnya mengikuti hati dan berkata tegas.

"Moyashi, tutup keran wastefelnya. Hemat air donk!"

Allen menurut tanpa berkomentar apapun. Air mengucur dari kening ke sudut dagu Allen yang basah. Mata Allen dia terlalu kekanak-kanakan. Harusnya tadi dia tidak adu mulut dengan mending yang mati itu ternyata akuma,bagaimana kalau manusia sungguhan? Dan lagi orang asing tadi….sulit diidentifikasikan, bahkan oleh mata hati sekali pun. Orang yang sepertinya sudah dikenal Allen jauh-jauh hari. Orang yang pernah ditemui sebelum ini. Tapi kapan dan dimana?

Hari ini gagal, besok harus belajar dari hari ini. Tidak boleh adu mulut. Berhenti bersikap kekanak-kanakan. Begitu pikir Allen yang tiba-tiba lupa dari Kanda.

"Moya…"

grep!

"…shi…"

Kanda memeluk Allen dari belakang. Merasakan betapa mungilnya tubuh Allen dalam rangkulan kedua tangannya yang panjang. Tentu saja Allen terkesiap kaget. Ingin berontak, tapi tidka bisa. Pelukan Kanda terlalu erat.

"Kenapa kau berdebat denganku tadi?" katanya dengan jail. Sengaja membiarkan nafas hangatnya menyentuh leher Allen. Membuat si rambut putih bergidik geli. "kenapa, huh?"

Kanda tidak mendapat respon. Tidak sama sekali. Dia pun makin berani karena tindakan Allen yang bagi Kanda adalah 'tantangan' atau 'ajakan' godaan. Dia mengendus leher Allen. Mendapatkan bau khas yang dimiliki laki-laki imut ini. Endusannya naik, dari leher ketelinga, lalu pipi.

Sementara Allen memejamkan mata. Ia nampak pasrah atas apapun yang dilakukan Kanda padanya. Kaku. Allen tidak tahu harus berbuat apa sebetulnya. Tubuhnya malah memanas. Hatinya berontak tetapi tubuhnya diam. Hatiny aberdo'a tanpa henti agar terjauh dari Kanda, cuma itu yang bisa dia perbuat. Malu. Pipi Allen merona merah kalah oleh rasa malu.

"Ka-kanda…angh.."

Tiba-tiba Allen mendesah! Allen sendiri bingung kenapa dia harus mendesah. Kanda sadar itu. Senyuman bermacam-macam arti tersungging di sudut bibir Kanda.

"mmnhh…" Allen berontak ketika Kanda membungkam bibirnya. Pemberontakan yang munafik. Itu hanya pemberontakan yang bersifat formalitas. Buktinya Allen membalikkan badan secara perlahan-lahan . memberi Kanda akses yang jauh lebih mudah.

"Katakan padaku, sejak kapan kau menginginkan ini?" kata Kanda menggoda. Melepas ciuman hanya untuk menggoda bagian lain. Menggoda agar Allen menjawab. Tangan Kanda meraba-raba pinggang Allen. Rabaan lembut yang mengambang. Allen bergerak sensual merespon sentuhan Kanda. Tangannya terangkat, melingkar di leher Kanda. Tetapi berusaha menyembunyikan wajah yang merah.

"Jadi, kau tak mau katakan?"

Kanda menyusupkan sebelah tangannya kebalik coat Allen. Menimbulkan desahan yang tertahan. "Ayo, katakan…" Kanda mendekatkan wajahnya ke wajah Allen. Tapi tak sedikitpun berniat menciumnya, hanya ingin menikmati semburat merah muda di pipi mulus itu. Sedangkan Allen nampaknya malah mengingankan 'hal tadi'. Sangat ingin dan berharap lebih dari itu meskipun akalnya tak mau. Kanda sendiri dapat membaca apa yang diinginkan Allen hanya lewat sorot mata Allen. Tapi dia ingin mendapat jawaban Allen lebih dulu.

"Mmn!" Allen menggeleng kuat. Berusaha menyadarkan diri. Membuang kegilaan yang terus memaksa organ tubuhnya terangsang.

"Aku tidak main-main, moyashi…"

Kanda menurunkan tangan yang menyelinap masuk menjelajahi tubuh Allen. Meraba-raba perut datar Allen. Allen sedikit menggelinjang dan makin terangsang.

"Engghh….mnnhh…"

"Allen…"

Tangan kanda makin turun…turun…dan turun… Allen tak mau ini. Tidak mau. Apa yang akan terjadi pada akhirnya bila 'itu' terjadi? Wah, tidak terbayangkan.

"Kan-kanda! mnhh!" Allen manarik kepala Kanda secara brutal. Menuntun kepala itu agar menciumnya. Allen sedikit jinjit walau Kanda sudah agak membungkuk. Karena pada hakekatnya, Allen lebih pendek dari Kanda.

Allen bertindak agresif. Melumat bibir Kanda walau laki-laki cantik ini tak merespon apapun. Bahkan Kanda menghentikan pergerakannya di perut Allen. Allen tak sampai di situ dan menyerah, dia menjambak rambut Kanda sampai kuncirannya mau lepas. Memaksa Kanda untuk membalas ciumannya.

"Ayo, Kanda! ayo!" serunya tak sabaran. Dia mendesah tak karuan. Berharap desahannya dapat merangsang Kanda. Ah, tapi itu sia-sia. Ada apa dengan Kanda sebetulnya? Bukankah dia yang mengawali ini semua? Allen mencengkram coat Kanda. Mencengkram kuat sekuat harapannya.

"Katakan," hanya itu respon Kanda. Tidak memuaskan.

Cengkraman Allen mengendur, dan lepas dengan lemas. Dia menunduk, antara untuk menutupi wajah yang merah dan menutupi mata kecewa yang takut terbaca oleh Kanda.

"Aku…" akhirnya Allen menjawab. "se-sejak kita seranjang" katanya malu-malu

"Che!" Kanda mendengus merendahkan. Senyumannya seperti senyuman penjahat yang berhasil menculik gadis cantik yang mempunyai banyak harta.

Allen memejamkan mata. Berharap Kanda mengangkat dagunya dan menciumnya lagi. Salah…Allen telah salah berharap. Kanda malah menjauh. Melepas tangan yang sudah hangat di perut Allen. Mereka menjadi renggang. Kehangatan segera hilang. Berganti dengan dingin. Menyadarkan bahwa sekarang sedang malam. Kanda pergi menjauh. Tidak bicara apa-apa lagi.

.^

Sweetness, kindness and many more which can give spirit your soul that can repair your destination…

Lavi berteriak sekencang yang bisa pita suaranya keluarkan. Dia frustasi berat malam ini. Sudah gagal beraksi keren, ketinggalan info orang asing itu, dan dia juga gagal mendapatkan Allen.

Kejadian menyakitkan. Walau pun Lavi sudah tahu dari jauh-jauh hari. Allen tidak memilihnya. Dari dulu Allen sudah memilih Kanda. Tetapi kenapa ini begitu menyesakkan? Padahal dia sudah berlatih untuk siap merasa sakit. Doushite? Lavi hanya melihat sekilas bagaimana Allen mencium Kanda. Sekilas… desahan Allen makin membuat Lavi sakit dan sesak. Bukan merasa terangsang seperti yang dirasakan Kanda. Maka dari itu, dia tak kuasa untuk melihat lebih jauh lagi.

"AAAAAAAAAAAAARRRRRGGHHHTT! ! !"

Padahal dia sudah latihan berciuman dengan palunya. Latihan berulang-ulang! Arrght. Seharusnya tadi dia masuk ke ruang persalinan dan bergaya keren agar Allen tertarik. Harusnya begitu! Mungkin saja kan itu dapat merubah pikiran Allen?

"SIALAN!"

Lavi berlutut diatas genting yang dingin. Dia berteriak melepas kekesalan. Tak menghiraukan keramaian dibawah sana. Toh, di atas atap sini gelap. Tidak akan ada yang melihatnya.

Dia menutup wajah dengan kedua telapak tangannya.

"mamah…Lavi gagal dapat pacar lagi… hueeee~~" T~T

Sia-sialah latihan bercumbu dengan palunya selama ini. Latihan yang dipersiapkan untuk menghadapi Allen.

.^

Pagi cerah yang jelas harus bersuka―setelah yakin betul 2 orang korban meninggal itu akuma, maka tak ada yang harus disedihkan lagi. Kejadian kali ini memang agak aneh. Harusnya kan akuma meledak hilang setelah dikalahkan. Tapi mereka malah berdarah-darah layaknya manusia. Ada apa ya? Apakah ada perubahan revolusi baru pada akuma? Atau orang kemarin memberi sesuatu pada akuma sehingga menjadikannya demikian? Tidak tahu.

3 exorchist membungkuk hormat memberi salam perpisahan. Warga penduduk bersorak ―formalitas― sebagai ucapan terimakasih. Mereka tersenyum riang walau pada kenyataannya yang membalas senyuman mereka hanya satu orang dari 3 exorchist. Ya, Allen. Kanda sih jangan ditanya, kalau Lavi… dia masih merasa kalah dan kecewa atas kejadian semalam. Kalah―nyaris total―dari Kanda.

Allen hanya memasang wajah ceria yang super innocent. Padahal dia dagdigdug memikirkan kejadian tadi malam. Bahkan dia mengatakan itu! Dia menginginkan 'itu' semenjak mereka seranjang! Apa yang akan terjadi selanjutnya? Arght, dan jika Kanda hanya mengusilinya saja, itu artinya aib telah terbuka. Kanda satu-satunya orang yang tahu bahwa Allen itu yaoi! Y-A-O-I! Alias tidak normal. Allen sebetulnya stress memikirkan itu. Bagaimana kalau dia bertepuk sebelah tangan? Bagaimanna kalau Kanda tidak serius? Lalu ada apa dengan Lavi? Kenapa dia terlihat aneh? Apakah itu gara-gara dia tahu rahasia Allen yang begitu memalukan? Oh, my god…tidak…

"Kau kenapa, Moyashi?" kata Kanda sedikit kurang peduli. Dia berhenti berjalan dan duduk di bangku dekat mesin minuman.

Allen kaku. Tidak tahu harus menjawab apa. Bayangan Kanda mencium dirinya masih berkelabatan kesana kesini. Selalu terbayang tiap kali mendengar suara atau melihat Kanda. Bahkan tadi malam dia tidak bisa tidur gara-gara Kanda, bukan karena mimpi buruknya.

"A-ah tidak apa-apa. Hanya melamun" kata Allen akhirnya. Walau dirinya tahu itu sia-sia. Kanda sudah pasti tahu Allen sedang berbohong. Terlihat jelas dari cara Allen berkata.

"E,eh, Allen chan, mau temani aku tidak?" kata Lavi yang memposisikan dirinya disamping Allen.

Allen sedikit menengadah. Melihat mata Lavi. "kemana?"

Lavi menarik tangan Allen dan membawa dia pergi. Setelah sebelumnya meninta izin dulu kepada Kanda. Sebetulnya Kanda setengah tidak mengizinkan, tapi dari pada mengundang pertanyaan yang tak diinginkan, maka diizinkan saja.

.^

Kanda berjalan santai dengan muka judes seperti pada hari-hari biasanya. Sesekali ujung matanya melirik Allen yang nampak gelisah. Kanda tahu Allen pasti sedang memikirkan kejadian semalam. Hehehe lucu. Nanti dia akan mengerjai Allen lebih dari itu. Tugas kali ini jauh lebih menyenangkan dari pada tugas-tugas sebelumnya. Andai nanti di markas besar mendapat tugas lagi, dia akan menerimanya tanpa babibu lagi asalkan Allen ikut. Manis.

"Kau kenapa, Moyashi?" katanya, berusaha mengeluarkan nada acuh tak acuh. Pertanyaan yang sangat tidak penting sebetulnya. Kanda kan tahu sendiri alasan Allen seperti itu. Setelah berjalan beberapa lama dan menemukan salah satu kursi di dekat mesin minuman, Kanda pun langsung duduk nyaman di sana. Ini akan membuat Allen merasa bahwa Kanda sama sekali tidak mengingat kejadian tadi malam.

"A-ah tidak apa-apa. Hanya melamun"

Kanda sedikit mendehem kecil menahan tawa. Pasti Si Moyashi terus-terusan kepikiran soal semalam. Lucu. Kalau saja tidak ada Lavi, Kanda akan menggodai Allen lagi sekarang. Huh si baka usagi itu memang selalu menjadi penggangu.

"E,eh, Allen chan, mau temani aku tidak?"

Tuh kan, memang pengganggu. Dia malah mengajak Allen pergi. Tapi Kanda harus tetap memasang wajah kalem dan tidak peduli.

"Yuu chan tunggu di sini ya! Aku dan Allen pergi sebentar. Daa~h!" 3

Bahkan Si merah baka baka baka usagi itu melambai-lambai tangan familiar ke Kanda. Ih jijik. Apa yang akan dilakukannya dengan Allen? Wah bahaya. Setahu Kanda, Lavi juga mengincar Allen, kan?

Kanda menyimpan kepalanya disandaran bangku. Melihat langit biru dan awan putih berarak. Seperti permen kapas. Sayangnya Kanda tidak suka yang manis-manis. Angin berhembus. Tercium bau musim panas. Musim yang disukai Allen. Kanda sedikit mendengus, teringat bagaimana wajah Allen kalau kepanasan. Semburat merah merona. Tapi musim panas itu menyebalkan. Karena Kanda akan mudah sekali haus.

"Ugh," sayangnya dia tidak punya uang. Padahal mesin minuman disebelah melambai-lambai.

Crink…

Terdengar suara receh jatuh. Tepat di hadapan mesin minuman. Dilihat oleh Kanda, seorang anak kecil yang tingginya tak lebih dari 80cm sedang menggapai-gapai lubang koin mesin minuman.

Srrklreerr…

Koin yang jatuh tadi berputar mendekat dan diam di dekat kaki Kanda. Kanda memungutnya. Berdiri santai lalu memasukkan koin itu ke dalam lubang koin.

"Kau mau minuman apa?"

Anak itu menengadah dengan pandangan tak percaya. Keringat mengucur di sisi pipinya. Pipinya semu kemerahan karena panas. Sekali lagi, mengingatkan Kanda pada Allen.

"co..co.."

Tit-tit-tit-tit! Beberapa tombol ditekan.

biiiip! Klrek, klontang!

Sebuah minuman kaleng dingin meluncur dengan mulus dari mesin minuman. Siap membawa kesegaran pada seetiap kerongkongan kering di musim panas.

"Coca~cola" jawab anak sedikit terkesima setelah Kanda mengambil minuman kalengnya.

"Ini," Kanda menyodorkan minuma di tangannya.

"I-itu punya kakak" jawab Si Anak dengan amat sangat polos.

"Tapi pakai uangmu yang jatuh." Kanda membuang pandangan. Anak-anak adalah salah satu yang tidak ia sukai.

"Kakak exorchist ya?" kata anak itu pelan-pelan, masih dalam perasaan tak percaya sekaligus senang meluap-luap.

Kanda tidak menjawab. Berfikir, kenapa anak ini tersenyum padahal Kanda sedang manyun.

"Minuman itu untuk kakak saja!" suara anak itu berubah riang dan naik bebrapa oktaf. Wajahnya sumringah sehingga bintik-bintik mataharinya nampak. "Aku suka exorchist yang menyelamatkan orang-orang."

Tahu apa anak ini? Mereka pikir pekerjaan seperti ini keren ya? Exorchist sama sekali tidak dibayar untuk menyelamatkan jiwa mereka sudah mempertaruhkan nyawa, bayarannya cuma makanan. Tidak keren sama sekali.

"Terimakasih, minumannya." Lantas dibuka minuman tersebut dan terdengar suara desis dari karbon yang berlomba berebut dunia luar.

Anak itu berjenggit menahan nafas. Lalu―masih berwajah riang sumringah― anak itu berbalik dan berlari meneriakan 'mama!'. Sepintas lewat dudut mata tanpa berhenti meneguk cola, Kanda melirik anak tersebut. 'Che! bodoh.' Pikirnya singkat.

Kanda kembali duduk dibangku. Setidaknya dia mendapatkan minuman gratis. Kepalanya berputar-putar. Entah sedang mencari Allen dan Lavi atau mencari baut lehernya yang jatuh. Mereka lama sekali. Dari tadi memang terasa aura tidak enak. Harus diselidiki walaupun malas.

.^

Allen sedikit meronta ketika Lavi menarik tangannya. Sebenarnya Allen sangat tidak suka perlakuan Lavi seperti ini.

"Lavi, tolong lepas!"

"Ah, gomen ne, sakit ya?"

Ya, iya lah sakit! Orang Lavi menggenggam tangan Allen kenceng banget. "Sebenarnya kita mau kemana?" Allen mengalihkan pembicaraan

"Pokoknya membawamu jauh-jauh dari Yuu-chan"

PATS!

Allen menepis tangan Lavi. Ada rasa tidak suka yang berlebihan ketika Lavi berkata demikian. Rasa yang sulit didefinisikan.

Lavi tertegun. Kaget atas respon Allen. Sebegitukah sukanya Allen kepada Kanda? Sekilas Lavi terkejut. Tapi buru-buru ceria. Dia tak mau Allen tahu bahwa dia menyukai Allen. Allen menganggap Lavi sebagai kakak. Perjanjian yang dibuat oleh dirinya sendiri dan Allen ketika di awal pertemuan. Dia tak mau Allen kecewa. Kenapa mencintai itu sakit dari pada dicintai?

"Aku ingin pulang," kata Allen. Nadanya marah tapi ditahan. Tidak mau menimbulkan pertikaian. "Aku lelah…"

Lavi sedikit tersenyum. Ia tahu perasaan Allen yang mudah ditebak lewat wajah dan cara Allen berbicara. "Yah… padahal tadinya aku mau beli es krim mocca."

"He? Kita beli es krim dulu, baru pulang!" Allen melarat perkataannya.

.^

There, you wait me… But, you never see me and we never meet…

"kemana si Yuu chan?" [=_=] kata Lavi ogah-ogahan.

Sekembalinya Allen dan Lavi, kanda sudah tidak ada ditempat. Tidak meninggalkan jejak sedikit pun.

"Paling-paling pulang duluan. Kita pulang aja yuk, Allen chan!"

Allen diam. Mungkinkah Kanda pulang duluan? Bisa jadi! bisa! Mungkin saja! Allen menguatkan hatinya. Lagi pula,Kanda pasti bosan sendirian dan dia memutuskan untuk pulang. Ya, pasti begitu!

"Ya, ayo." Jawab Allen pasrah. Mereka pun lekas pulang.

.^

Dia berdiri menjaga keseimbangan di atas batang pohon yang lembab dan licin. Dia tak bisa menahan tawa melihat 2 orang exorchist dibawahnya. Main petak umpet biasa seperti ini, bisa menghiburnya juga. Padahal, apanya yag lucu coba?

"ayo, temukan teman kalian…." Katanya pelan-pelan.

Dia terkekeh. Jubahnya menari-nari sealunan angin dan gesekan daun-daun hijau. Ada bercak-bercak merah kering dan ada juga bercak merah basah di jubah kumalnya. Warna merah itu menetes ke batang pohon. Merah bau amis. Entah itu cat, atau mungkin….darah?

.^

Bulan purnama nampak menggantikan matahari yang sudah lelah berdiri seharian penuh. Hawa musim panas terasa. Serangga-serangga bernyanyi menurut bidang music masing-masing. Allen melamun, menatap lurus hamparan udara kosong sambil bertopang dagu. Membiarkan angin malam musim panas membelainya. Menembus masuk ke kamar. Sementara pemilik kamar sedang di beranda.

Hawa panas membuat Allen melepaskan coat exorchist dan tinggallah kaos dan celana pendek.

Kanda belum datang. Padahal sudah malam. Kira-kira kemana dulu ya? Apakah dia mencari Allen? Ah, rasanya tidak mungkin. Mungkin bermain. Dengan siapa? Tidak tahu. Dimana ya dia?

"Allen chan~"

Allen sedikit terkesiap begitu Lavi membisikkan namanya secara tiba-tiba. Kaget betul dan sempat kecewa. Dikiranya itu adalah suara Kanda . Allen merindukan bisikan Kanda waktu itu. Ketika tahu bahwa itu Lavi, dia kecewa berat.

"Kau kenapa? Ngelamunin si Yuu chan? Hahaha orang kayak dia dilamunin. Kalau mau ngelamunin orang, lamunin aku aja…" katanya narsis-narsisan

"Diam, Lavi!" Allen membalas lemas. Tanda tidak sedang ingin bercanda. "bagaimana kalau dia diserang akuma?"

"menurutku tidak. Memangnya kau merasakan aura akuma waktu itu?"

"mm, tidak sih. Tapi bisa jadi. Sama seperti waktu di desa itu."

Lavi ikut terdiam. Memandang arah yang sama dengan Allen. "Dia punya mugen. Pokoknya dia lebih hebat dari ku. Akuma pasti takut dengan hanya melihat muka si yuu chan. Hhe"

"Apa?" kata Allen tiba-tiba menyela Lavi "apa yang kau inginkan dariku, Lavi?"

Lavi menaikkan sebelah alis. Sedikit mengerutkan kening. "he?"

"Kanda…setiap malam dia selalu mengoceh soal ku dan kau. Ada apa diantara kalian?"

Lavi tertegun. Menenggelamkan wajahnya di kedua lipatan tangan diatas pagar pengaman beranda lantai 2. Membiarkan semilir angin malam menyentuh rambut merahnya.

"Kau pikir, Kanda ada dimana sekarang?"

"Aku tidak tahu. Tapi, Lavi…" Allen berhenti bicara. Situasi terasa canggung mendadak. Ada sebuah perasaan dihati Allen yang berkecamuk. Rindu, khawatir, dan marah.

"ini rahasia. Dimarkas besar, hanya kau yang tak boleh mengetahui hal ini. Semuanya tahu, kecuali kau. Hanya kau. Bahkan pelayan markas besar tahu. Hanya karena aku menyukai mu, maka aku katakan," kata Lavi datar. Nadanya mencitrakan sesuatu yang tidak enak. " yuu chan, tidak akan pulang, Allen chan"

.^

Huaaaaa GAGAL! yang ini gk banget! Gk rameee~~ gk ada rated M nya pula! saya selaku author, merasa gagal TToTT tolong kritik dan saran melalui ripyu m[_ _]m

Soal kegagalan chap ni, maapkan sayah! tapi sayah orangnya tukang maksa, jadi saya paksain ni chepie terbit.

Ripyuripyuripyu~