Saya umumkan, judul fict kedua saya diganti! Dari Kanda, I Love You! Menjadi I Love K! ada yang keberatan? Sayangnya keputusan saya ini bisa diganggu gugat. Bila ada yang keberatan…bila ada…lebih baik tidak ada yang keberatan, karena jika ada yang keberatan, saya tidak akan menggantinya (_ _") *mengalah demi reader*

xxx I Love K xxx

xxx Chapter 3 : Serpihan Luka xxx

xxx Rouri Kohan xxx

xxx I Love K xxx

.

"…Yu Chan, tidak akan pulang, Allen Chan…"

Allen terhenyak. Entah henyakan macam apa. Apakah itu kaget, marah, kesal, sedih atau bahkan…takut? Hatinya bergetar. Kalimat Lavi merupakan mantra terlarang yang membekukan hati Allen.

"A-ap….hahahaha" Allen tertawa hampa. Sempat dia percaya kata-kata Lavi, tetapi buru-buru ia hilangkan pikiran keseriusannya. Beberapa kali dia menggeleng tak berarti―sekedar membuang pikiran. Memandang samar ke bawah sana yang gelap gulita. Jalan setapak yang diterangi lampu jalan alakadar dan terang rembulan yang tak seberapa terang. Lavi memunggungi Allen. Mungkin usahanya percuma.

"Apakah nadaku terdengar bercanda? Atau raut muka ku sedang melucu?" Tanya Lavi sekaligus meyakinkan. Allen menoleh enggan. Lagi-lagi terasa canggung. Ya, meski Allen tidak bisa melihat kedua bola mata Lavi, tetapi tersorot jelas keseriusan yang amat sangat.

"La-lavi…"

Lavi menyembunyikan wajahnya. Barulah rasa percaya kembali singgah di hati Allen. "Lavi," Allen meraih pundak Lavi. Berusaha menariknya dan melihat wajah keseriusan Lavi yang tersembunyi di gelap malam. Di mata Lavi, Allen melihat melihat serpihan batu zamrud. memandangnya lekat-lekat seakan mengiris setiap bagian mata Lavi dan mengatakan padanya pernyataan ini menyakitkan seperti menginjak serpihan kaca.

"Apa?"Suara Lavi terdengar lemas. Putus asa dalam meyakinkan Allen atau mungkin tak rela melihat wajah kecewa Allen karena Kanda.

Lavi pun berbalik menghadap Allen dengan kepalanya yang masih menunduk dan sama sekali Allen tidak bisa melihat wajahnya.

"K-kau.. seriu-"

"APRIL FOOL!" raut wajah Lavi berubah total. Mendadak riang gembira dengan deretan gigi putih. Hati Allen mencelos. Dia sudah benar-benar serius lho…

"hehehe kau lupa ya sekarang april fool? Seluruh orang juga tahu, kan? Bahkan pelayan juga." Lavi tersenyum lebar. Berusaha mengajak bercanda. Namun yang diajak malah berekspresi lain. Allen membuang muka tanda kesal.

"tidak lucu" komentar Allen singkat.

"Lalu yang lucu apa?" Kata Lavi sedikit menggoda mendekati Allen. Perlahan-lahan hidungnya menyusuri lekuk leher Allen. Tangan Lavi meraba-raba ke sekitar pinggang Allen dan…

"Apakah kau pikir Lucu jika aku…" Lavi berbisik menggoda.

Allen terkesiap. Teringat kejadiannya bersama Kanda. Apakah….apakah…APAKAH? APAKAH APA? Entah. Kepala Allen dipenuhi panic sebelum dipenuhi hal lain yang lebih penting. Mungkinkah Lavi melakukan hal yang sama seperti Kanda? Atau lebih dari itu? Glek!

"INI TIDAK LUCU, LAVI!" Allen membentak lantang. Mengagetkan Lavi dan memberi rasa sakit yang selalu tercipta ketika Allen bersama Kanda.

"Apa kau pikir lucu membuatku khawatir dengan lelucun april fool mu yang sangat tolol, huh? Apa kau tidak mengerti rasa khawatirku? Apa kau pikir aku tidak serius?"

Hati Lavi mencelos. Allen marah karena Lavi mempermainkannya, permainan yang melibatkan Yuu Kanda. Respon Allen telah memberikan jawaban yang sangat pasti kepada Lavi. Hati Allen hanya untuk satu orang, yaitu Kanda. Ini menyakitkan. Lebih menyakitkannya lagi, Lavi terlalu berharap lebih. Dari perasaan berkecamuk ini, Lavi melakukan tindakan diluar logikanya.

"Ayo, tertawa Allen Chan…" Kata Lavi setengah mendesah. Menyudutkan Allen, memaksa bocah berambut putih ini masuk ke kamar dan terpojok di salah satu sudut kamar.

"Kau.." geram Allen ringan. Kepalanya diisi antara marah dan ingin menghajar Lavi. Namun, dia tetap menahan. Lavi sudah seperti sosok kakak baginya. Tetapi bukankah Lavi dan Allen memang mengikat janji untuk menjadi adik-kakak? Dalam sekali helan nafas berat, Allen membuang semua amarahnya. Sementara Lavi terus-terusan mendesak mendekatkan wajahnya ke wajah Allen.

"Ha-ha-ha…" Allen tertawa hati-hati. Lavi dihadapannya tidak seperti Lavi yang biasanya. Lavi yang kocak dan enjoy. Yang ini seperti…seperti termakan….dimakan nafsu!

"La-Lavi, aku sudah tertawa. Jadi, tolong hentikan gurauanmu." Allen menekan dada bidang Lavi dengan kedua telapak tangannya. Menjaga jarak diantara mereka. Tetapi Lavi malah terus menekan dan menekan sehingga jarak yang dipertahankan Allen sirna.

"Aku belum bergurau, sayang…."

Postur tubuh yang memang lebih jangkung dari Allen, memudahkan Lavi mengincar bibir kecil Allen. Tetapi Lavi tidak mengecupnya ketika bibir mereka sudah sangat dekat.

"E-eh, Lavi, kita kan…kita kan sejenis…" Alasan tak seberapa penting pun dilontarkan Allen. Padahal jantungnya berdebar-debar tak karuan. Mengingat dia memang tidak normal, penyuka sesama. Eh, bukan berarti dia suka kepada Lavi! Tetapi, hormone adrenalinnya lah yang paling jujur untuk memicu jantung.

"hah? Memangnya penting?"

Sedikit gigitan di cuping. Itu sudah cukup membuat Allen bergidik dan darahnya mendesir hangat. Dalam hitungan se-per sekian detik akal sehatnya hilang. Nafas Allen memburu seiring rangsangan Lavi.

Allen kembali mendorong Lavi. Dorongan yang…ah! Formalitas. Masa kau menyerah tanpa ada perlawanan? Setidaknya ada sedikit penolakan kan? Ini kan judulnya 'di-per-ko-sa'. Lavi yang levelnya bisa dibilang expert tentu saja mengetahui tindak-tanduk Allen yang begini. Tanpa ba-bi-bu lagi, Lavi menggerayangi paha dalam Allen, melingkar, merayap, sedikit mencubit yang pada akhirnya membuat sebelah kaki Allen terangkat. Rona merah terlihat di pipi bocah berambut putih ini. Kau-tahu-artinya-apa. Dengan gesekan kecil di pangkal paha Allen yang dibuat Lavi, Allen pun tumbang. Jatuh terkulai dalam pelukan Lavi. Otaknya habis dimakan nafsu.

Seberapa pun Allen berusaha berontak, tubuh ini tidak mau patuh. Apa yang dia lakukan? Kenapa pertahanannya mudah sekali di bobol?

"Kau pikir ini lucu?" Lavi berbisik sensual di telinga Allen.

"Aaaa~hhhh…Laviii…" Allen mendesah manja. Merangkul leher Lavi dan menariknya mendekat. Bibir Allen mengkerucut manis. Tanda minta sesuatu. Sumpah, Allen sama sekali tak berfikir akan melakukan ini kepada Lavi. Tubuhnya bergerak begitu saja

Lavi sukses besar. Tidak sia-sia dia melakukan hal konyol berlatih bercumbu bersama palu setianya. Mereka makin mendekat, mendekat dan mendekat. Allen makin menarik kepala Lavi, tetapi Lavi sedikti menahan―tak ingin buru-buru. Dia menambah gesekan di selangkan Allen yang tentu saja membuat Allen mendesah keenakan. Mulut Lavi terbuka, menjilat bibir merah muda Allen dengan ujung lidahnya.

SRING!

Angin ringan berhembus cepat di sebelah kuping mereka. Beberapa helai rambut merah Lavi terbang bebas lemah gemulai menuju daratan landas marmer dingin. Pedang putih mengkilau menancap kuat tepat disamping telinga Allen. Nyaris melukainya.

"Sentuh sekali lagi, kau mati!" sebuah suara marah menggeram tak karuan. Serak, juga bulat. Sempat terdengar asing untuk beberapa detik. Tetapi setelahnya dapat ditebak, tentu dia yang melempar pedang. Mata Allen terbelalak melihat orang yang berdiri kesal di depan pintu. Sedangkan Lavi tanpa berbalik badan pun tahu siapa itu. Bukannya berhenti, malah makin nakal, Lavi terus melanjutkan misinya. Mood Allen sih sudah pasti hilang dan benar-benar berontak. Allen menjerit-jerit tak jelas dalam rangka pemberontakannya.

"Kau memilih mati?" Geram orang disebrang sana sekali lagi.

"Jadi kau masih hidup?" tukas Lavi membalikkan serangan kata-kata. Tubuhnya berbalik melepaskan Allen, berdiri gagah menghadap si Penantang. Mata hijau zamrudnya sekilas melirik ke arah lain. Entah apa maksudnya, mungkin memancing kemarahan lawan. Sementara itu, perlahan-lahan Allen merosot duduk tak berdaya dengan tubuhnya yang bergetar hebat. Hatinya ketakutan seakan telah melakukan sebuah kesalahan besar tak termaafkan.

"Seharusnya kau lebih sopan. Ini ruanganku." Kata orang di sebrang sana yang masih menggeram meski geramannya mengecil, tanda dia sedang berusaha untuk tidak meledak.

Lavi melangkah santai keluar kamar melewati pemilik asli dari kamar ini. Gayanya berjalan sangat tenang. Seolah tak terjadi apa-apa. Tentu itu merupakan undangan kemarahan untuk si Pemilik Kamar Asli. Dalam gerakan gesit, kerah baju Lavi dicengkram dan jotosan mantap sukses memberinya make up biru-ungu.

"Apa masalahmu, kawan?" Lavi bertanya setengah memaksa melepaskan cengkraman kuat di lehernya. Pipinya berdenyut-denyut. Hahhh…beberapa hari ke depan pasti bengkak dan harus dikompres.

"Masalah? Kau bilang MASALAH? Errr…"

"Ya! APA MASALAHMU? Kau menganggap DIRIMU SENDIRI NORMAL 'KAN?" Lavi mebentak kemudian berlalu pergi tanpa kata-kata pamit seusai bertamu. Dia merelakan syal kesayangannya sedikit robek dan tak elastis lagi gara-gara memaksa lepas dari cengkraman tangan panjang itu.

Kedua tangan panjang itu melemas setelah mengejang hebat. Padahal yang dilakukanya tidak seberapa. Dibantingnya pintu kamar sampai kedua engsel nyaris lepas. Allen sedikit terhentak begitu mendengar bantingan pintu yang menggetarkan ruangan. Debu langit-langit jatuh menghujani seluruh arena lantai termasuk barang-barang diatasnya. Masih ada perasaan kesal di hati orang ini. Tadi bukanlah pertengkaran hebat, namun cukup memberikan perang batin.

"K-kanda…" Allen memanggil takut-takut. Suaranya bergetar seperti orang yang tingggal di kutub utara tanpa mantel tebal.

Kanda tak berbalik atau bahkan melirik Allen. Hati Allen mencelos sakit bak ditusuk jarum. Bukan karena tidak menyahut, tetapi karena Kanda membuang muka. Di sini nampak seperti Allen lah biang kerok dari segala persoalan.

"Apakah kau pikir, kau masih pantas menumpang tidur di kamarku? Kenapa kau tidak tidur di kamar Baka Usagi saja? Kau kan pacarnya."

Apa? Apa yang harus dikatakan Allen? Apakah Kanda serius menganggap Allen sebagai pacar Lavi? Tetapi bukan kah tadi Kanda melarang Lavi menyentuhnya? Yang artinya Kanda tak rela bila Allen di sentuh oleh orang lain. Erght! Jika ini awal dari pertengkaran baru, maka salah paham adalah hal yang paling menyebalkan.

"Ke-kenapa…kenapa kau…" Suara gemetar Allen putus-putus. Masih ketakutan dan kesal ingin cepat-cepat menjelaskan salah paham. "…berkata…begitu?"

"jangan beracting. Aku tidak suka sifat polos mu." Jawab Kanda lancar. "kau pikir aku tidak lihat?"

Besitan-besitan kejadian tadi pun merobek seluruh pikiran Allen. Seharusnya dia benar-benar menolak Lavi! Kenapa dia menjadi budak nafsu? Boleh kah dia memutar waktu kembali dan memperbaikinya? Baka Allen! Bagaimana pun juga, ini memang salahnya. Dia tidak bisa berusaha mengelak.

Tanpa berkata-kata lagi, Allen lekas pergi. Jari-jari mungilnya bergetar hebat menahan rasa takut dari rasa bersalah. Berusaha melewati Kanda tanpa menatap mata pria tampan menakutkan ini. Masa bodo soal salah paham. Selesaikan nanti saja ketika kondisi tak lagi dikendalikan emosi.

"Mau kemana kau?" Tanya Kanda tiba-tiba sebelum Allen membuka pintu dan benar-benar keluar.

Allen yang ditanya begitu tentu saja bingung. Bukankah tadi dia diusir?

"mak-maksudmu?" Allen berbalik. Berusaha terdengar dan bersikap biasa tanpa menatap lurus ke mata Kanda.

"Mau pergi kemana malam-malam begini?" Tanya Kanda sekali lagi lebih ketus dari yang pertama.

"ke kamar," Allen menjawab ragu-ragu. Beberapa lama dia diam berfikir. Kemudian kembali melanjutkan kalimatnya. "ke kamarku. Mungkin sudah selesai."

"Selesai? Khe!" Kanda mendengus mengejek. Dinding kamar Allen baru dibuat tadi siang dan dengan cepatnya selesai malam ini? Huaow…akselerasi yang sangat cepat.

Allen menyesali dirinya yang masih berusaha membela diri. Padahal seharusnya tadi dia bilang akan pergi ke kamar Lavi. Jika Kanda sudah menganggap Allen sebagai pacar Lavi, ya sudah lah! Biarkan dia bertindak semaunya.

"Kembali." Kata Kanda singkat. Dia bergegas mengambil pedangnya yang menancap di dinding. Membersihkannya secara asal-asalan lalu menyimpannya baik-baik setelah dimasukkan ke sarungnya.

Allen tetap diam di tempat. Dia ragu dengan apa yang baru saja dia dengar.

"Aku harap kau tidak membuat kekacauan di kamarku. Apa lagi jika 'kekacauan' yang kau buat itu bersama Baka Usagi." Kanda melepaskan seluruh aksesorisnya. Membuangnya sembarangan ke atas kasur. "aku mandi dulu. Kau boleh tidur duluan."

He? Hanya itu? Tadi marah-marah, sekarang bersikap biasa. Apakah ini artinya Kanda sudah tak marah lagi? Atau dia sedang sakit? Entah. Pokoknya Allen selamat untuk hari ini dan dia sangat bersyukur. Tapi,hmm…disuruh tidur? Allen mungkin tak akan tidur.

~judul alay~

SHAAA….

Kanda membiarkan dirinya basah dihujam ribuan tetes air. Dia tetap membiarkan dirinya begitu meski mandinya telah usai. Tak dihiraukannya seberapa banyak darah yang mengalir. Menurutnya, dia sedang butuh pendinginan otak dari pada nanti dia harus melukai Allen karena perasaan egois.

Tantangan hari ini cukup merepotkan. Mulai di culik oleh orang aneh sampai masalah Allen. Ya, tadi siang dia culik oleh orang yang sama dengan orang yang mengganggu acara persalinan kemarin. Tadinya dia pikir, dia tidak akan kembali pulang dengan selamat. Sama halnya dengan yang dipikirkan seisi markas besar. Tetapi keajaiban berkata lain.

.

"Terimakasih, minumannya." Lantas dibuka minuman tersebut dan terdengar suara desis dari karbon yang berlomba berebut dunia luar.

Anak itu berjenggit menahan nafas. Lalu―masih berwajah riang sumringah― anak itu berbalik dan berlari meneriakan 'mama!'. Sepintas lewat dudut mata tanpa berhenti meneguk cola, Kanda melirik anak tersebut. 'Che! bodoh.' Pikirnya singkat.

Kanda kembali duduk dibangku. Setidaknya dia mendapatkan minuman gratis. Kepalanya berputar-putar. Entah sedang mencari Allen dan Lavi atau mencari baut lehernya yang jatuh.

"Lama!" dia mulai menggerutu dan mengumpat kesal. Tanpa sadar kaleng kosong digenggamnya kuat-kuat sampai bengkok. Begitu kaleng mengempis dan tak bisa digenggam lagi, baru lah dia lempar ke tong sampah.

"Menunggu? Huh, pasti bosan." Celetuk suara asing. Terdengar dekat sekali dari posisi Kanda duduk.

Kanda membuang nafas dalam-dalam. Baru saja anak menyusahkan pergi, sekarang anak yang lebih menyusahkan datang. "Tidak pegal dari tadi berdiri di situ?" Kanda menengadah. Memicingkan mata agar mampu melihat di balik lebatnya dedaunan yang disoroti cahaya matahari.

"Mungkin aku keturunan tupai. Khekhekhe" kata orang asing itu setelah melompat turun ke hadapan Kanda, menampakkan sosok langsingnya. Tingginya hampir setinggi Allen, berjubah coklat lusuh dengan penutup kepala dan cara berjalannya agak bungkuk serta merta langkah goyah bak orang mabuk.

Kanda membuang pandangan enggan menghadapi anak di hadapannya. "Cepat pulang. Nanti kesorean di jalan. Kau tidak takut dimarahi Paman?"

"malahan aku disuruh Paman menemui mu. Lupa ya sekarang hari apa?"

Kanda benar-benar kehilangan seluruh moodnya. Paman dari anak ini memang tidak terlalu menjengkelkan, tapi bila di sepanjang perjalanan ada anak ini, rasanya lebih baik menolak ajakan.

"Nyaris lupa." Kanda beringsut dari sandaran nyamannya. Mulai melangkah pergi tanpa tahu pasti kemana tujuannya.

"He? Mau kemana?"

Kanda tak menjawab. Terus bersikap keras kepala.

"Mau cara medium atau hard?" tawar orang asing yang dari tadi belum memperkenalkan dirinya ini.

Otomatis Kanda berhenti dan menoleh tak suka. "Berani menantang orang yang lebih tua 5 tahun dari mu, he?"

"Kemarin aku menantang orang yang lebih tua 24 tahun dariku. Khekhekhe." Jawabnya sembari tersenyum menampakan seringai dengan deretan gigi-gigi runcing.

"Dandan dulu! Bersihkan tubuh dan jangan lupa gosok gigi. Baru kau boleh bertarung melawanku." Kanda kembali melanjutkan langkahnya.

SRING!

Sebuah tebasan meluncur mulus disamping Kanda. Bila tadi dia tak menghindar, pasti sebelah lengannya sudah hilang.

"Oops, maaf…tidak sengaja." Kata orang ini tanpa memasang muka bersalah malah tersenyum riang. Sebuah pedang panjang ada pada kedua genggamannya. Pedang yang nampak terlalu besar dan berat untuk ukuran dirinya. "Baru pertama kali menggunakan pedang." Tambahnya tanpa merasa malu.

Kanda diam sambil mengerutkan kening. Rupanya Kanda kebal terhadap 'pancingan' macam tadi. Tentu dia memilih cuek dari pada mericuhkan hal sepele karena Kanda tahu yang diinginkan bocah ini memang kericuhan.

Krek…kreeeek…..sreeek!

Tiba-tiba muncul sebuah robekan di tempat bekas si bocah tadi menebas. Robekan panjang yang tidak seberapa lebar. Terlihat kilatan-kilatan cahaya biru dan bintik-bintik kuning seperti kunang-kunang di dalam sana.

"Silahkan masuk," katanya mempersilahkan sopan.

Kanda malah kembali berbalik berjalan meninggalkannya. Merasa tak dianggap dan usahanya gagal, si bocah berlari tanpa menimbulkan suara. Menjambak rambut panjang Kanda dan menorehkan luka di beberapa bagian tubuh Kanda sebelum pria berambut panjang itu bisa menghindarinya.

"Kau lupa aku?" katanya sambil menengadahkan kepala lalu membuka penutup kepalanya. "Kemarin aku Cuma pakai penutup kepala. Masa kau langsung lupa"

Ah, Kanda terhenyak kaget. Jadi ini orang yang sama dengan orang yang didebatkannya dengan Allen kemarin malam. Pantas saja waktu itu Allen sulit mengidentifikasinya. Jika Kanda tahu dari awal orang itu adalah orang ini, dia pasti sudah menghabisinya dengan mudah.

Beberapa saat mata mereka saling bertukar tatap. Mata hitam yang Kanda tak bisa temukan pupil pada anak ini selayaknya yang dimiliki manusia. Bulatan matanya hitam total dan jika tidak ada cahaya, mata ini Nampak seolah buta.

"cih, sialan! Kau rupanya…" Kata Kanda seraya menebaskan pedangnya ke perut orang ini. Sayang, tebasannya kalah cepat dengan gerak si orang asing. "Aku tidak ingat kau bisa berkelahi dengan benar, Kohan adikku" dan dalam hati berkata : cepat sekali anak ini tumbuh. Bagi Kanda, Kohan tumbuh sangat pesat dengan perubahan tinggi yang drastis.

"khekhekhe paman mengajariku banyak hal setelah kakak pergi."

Kanda menghela nafas lelah. Pertemuan dengan adik angkat memberikan perasaan yang tak nyaman dan mengingatkannya kepada kenangan manis sekaligus pahit yang tak ingin sekaligus ingin dilupakan. Terlebih bicara dengan anak ini tidak bisa pakai cara lembut. Sangat merepotkan.

Kanda dan Kohan, pasangan adik-kakak tanpa hubungan darah, memang jarang sekali akur. Kohan yang menderita kelainan jiwa dan Kanda yang temperamental tentu tidak bisa akur dengan sangat mudah.

"Paman ingin bertemu denganmu,"

Kanda membereskan pakaiannya. "Untuk apa? Aku sudah tidak punya urusan apa-apa lagi dengannya."

"Kau yakin? Aku pikir kau masih mempunyai perasaan kepadanya. Kau tidak akan menyesal kan telah menolak ajakannya? Belum tentu kesempatan emas datang dua kali lho.."

"Haahh…aku sudah punya pacar lagi." Jawab Kanda ketus.

"ooow, paman pasti kecewa." Katanya sambil setengah tersenyum. "setiap hari dia selalu menceritakan kisah kalian berdua kepadaku." Kali ini suara Kohan terdengar tenang. Dia berjalan santai melewati Kanda untuk duduk di bangku dekat mesin minuman.

"ada banyak hal yang terjadi setelah kakak pergi." Katanya lagi terdengar seperti manusia normal yang cukup membuat Kanda kaget. Ini tidak seperti Kohan yang dikenalnya dulu.

Kanda ikut duduk di sebelah Kohan. Memperhatikan ada banyak perubahan pada diri Kohan setelah kurang lebih 5 tahun tak bertemu. Kohan memanggilnya dengan sebutan kakak sebanyak 2 kali. Hal yang langka sekali terjadi. Kini Kohan makin terlihat seperti manusia perempuan normal dengan rambut abu-abu panjangnya. Tubuh tinggi langsing juga sangat mendukung. Hanya saja pakaian dan dandanannya tidak bisa di toleransi.

"Kau aneh sekali. Apa yang paman lakukan padamu, huh? Sampai-sampai kau hampir berubah total begini. Dari Kohan yang seperti binatang buas menjadi Kohan remaja yang nampak normal pada umumnya."

"hahaha yang jelas dia tidak memberiku 'ini dan itu' seperti padamu. Hahahha"

"apa maksudmu?" tatapan Kanda berubah total begitu mendengar kalimat Kohan yang jelas mengarah kemana.

"Lihat ini, kak!" katanya sembari memperlihatkan tattoo hitam di sekitar pipi kiri dan di sekitar leher yang seolah-olah membelit. Kanda memperhatikannya dengan seksama. "Ini segel. Selama tattoo ini bekerja dengan baik, aku bisa berkomunikasi dengan normal selain kepada paman." Jelasnya lagi. "Maaf tadi aku sengaja melukai kakak, hhehe"

Kohan benar-benar berubah. Bahkan dia tahu bagaimana harus meminta maaf.

"Paman yang buatkan." Tambah Kohan.

"Jadi, dia sudah seperti ayahmu ya?"

"kenapa? Kakak cemburu? Hahahaha tenang saja, aku tidak punya perasan apa-apa kepadanya. Masih ada banyak kesempatan jika kakak ingin menjadi pacarnya lagi. Hahaha"

"k-kau!" kanda tidak bisa berkata apa-apa. Entah karena dia memang masih menyimpan perasaan terhadap orang yang dia sebut paman, atau…entahlah, hanya Tuhan yang tahu.

"Aku ingin balas budi kepada paman. Dia yang merawatku selama ini dan membesarkanku sampai seperti ini. Jika kakak dan paman tidak menemukanku, mungkin aku hidup tak jauh beda dengan hewan buas, atau parahnya lagi tak bertahan hidup lebih dari sekarang." Kata-kata Kohan terdengar pilu. Menandakan dia bersungguh-sungguh. Satu lagi perubahan Kohan yang Kanda rasakan; Kohan lebih mengerti perasaan dan lebih dewasa.

"Sebenarnya paman tidak memintaku membawa kakak padanya. Ini semua ku lakukan atas dasar keinginanku sendiri. Aku harap kakak mengerti."

"khe? Kau merindukan ku? Hahahaha"

Ya, Kanda tertawa lepas. Tawa yang siapapun di markas besar tidak pernah melihatnya, dan sepertinya Kanda tertawa di bagian yang salah. Buktinya, Kohan sama sekali tidak balas tertawa malah member tatapan menuntut seolah berkata : tidak-ada-yang-lucu!

"Ehm," kanda berdehem sekedar mentralkan suaranya. "Memangnya ada apa dengan dia?"

"Kakak kan tahu,dari awal keberadaanku tidak diinginkan bagi aliansi penganut agama. Paman melindungiku sampai dia terluka parah."

Waktu itu hati Kanda mencelos ringan. Teringat masa lalu dimana Kanda pernah merawat Kohan yang masih bayi bersama paman yang waktu itu menjadi kekasihnya. Mereka merawat Kohan seperti anak mereka sendiri. Sampai Kanda berharap ingin mengangkat Kohan sebagai anaknya, bukan adik. Mungkin paman melihat kenangan bersama Kanda dalam diri Kohan sehingga paman tak sanggup melihat Kohan terluka.

"Bukankah, kau bisa melindungi dirimu sendiri dengan membunuh mereka semua?" Tanya Kanda berusaha mengusir pikiran baiknya.

"Justru paman tak mau aku melakukan itu. Bila ku lakukan, orang-orang agamis malah akan makin membenciku. Aku kan percampuran antara manusia dan akuma." Katanya dengan seulas senyum menghias.

"Jangan tersenyum ketika kau merasa sedih." Tindas Kanda meredupkan senyum ceria Kohan.

"Jadi, aku harap kakak mengerti. Paman memang tidak pernah berkata merindukanmu atau ingin bertemu dengan kakak, tapi aku tahu kebenaran di balik itu. Nah,kak, sepertinya aku harus pergi. Aku tidak bisa membunuh kakak selama paman masih hidup. Sampai jumpa!" Kohan salam pamit dan melompat pergi entah kemana bersamaan dengan robekan portal yang kembali menutup. Sementara itu, Kanda tetap duduk merenung. Dari dulu Kohan terobsesi membunuhnya. Tapi usahanya terus-terusan gagal berkat adanya paman. Kali ini pun sama, karena alasan yang sama dia selamat lagi.

Begitu Kanda bangkit berdiri, sekumpulan orang berjubah putih plat emas datang menghampiri Kanda yang Kanda langsung ketahui siapa dan apa tujuan mereka.

"Apakah kau melihat seorang anak perempuan setinggi ini, memakai jubah dan penutup kepala warna coklat lewat sini?" Tanya salah satu dari mereka.

Kanda menggeleng kepala ringan seraya berlalu pergi.

.

Kanda mematikan kran shower. Mengambil handuk dan lekas mengeringkan badan. Mengingat kejadian siang tadi memberikannya sedikit perasaan menyesal. Sebab setelah Kanda menolong Kohan dengan tak menjawab pertanyaan pendeta-pendeta tersebut, Kohan datang kembali padanya. Menyekapnya selama hampir setengah hari lalu mencoba 'bermain-main' kematian dengannya. Kohan adik yang gila. Mungkin Kohan tahu bagaimana cara berterimakasih kepada paman, tapi nampaknya tidak kepada Kanda yang juga pernah merawat Kohan.

Namun seperti yang dipikirkan Kanda, Kohan berubah. Tadi siang, Kohan tidak benar-benar ingin membunuh Kanda. Semua serangan Kohan mudah dibaca seolah mewakili kalimat yang rasanya tak mungkin seorang Kohan ucapkan. Kalimat yang memohon agar Kanda mau pergi bersamanya menemui "paman" mereka berdua.

Kanda masih mempertimbangkan permohonan Kohan untuk menemui mantan kekasih yang sedang terluka parah. Mungkin dia akan datang untuk menjenguk sebentar. Dia melakukannya bukan demi Kohan, tetapi demi orang yang telah menyelamatkannya dari kesendirian.

"Ahh…baka!" gumamnya kesal ketika ingatan masa lalu menyeruak masuk dalam pikiran tanpa seizin kehendaknya. Merusak sel-sel otak didalamnya sehingga gejolak hormone endorfin meningkat.

.

Setelah membereskan pakaian Kanda, Allen menutup jendela beranda kamar. Menatap pilu dunia gelap di luar sana dan bertanya : kemana saja Kanda pergi tadi siang? Namun Allen tak hiraukan lama-lama. Segera dia menutup gorden dan hendak pergi ke tempat tidur. Sebelum dia mencapai tempat tidur, Kanda sudah berada di sana dengan keadaan setengah telanjang.

"kau melawan akuma tadi siang?" Tanya Allen ketika matanya menemukan beberapa luka di sekitar tubuh terutama tangan sampai bahu kanan Kanda.

"Tidak. Aku bertemu dengan orang aneh penghisap darah yang kita temukan kemarin malam."

"Oh." Jawab Allen singkat. Dia tak berani berfikir lain-lain atau bertanya lebih lanjut seputar lawan. Perasaannya masih kacau dengan hal yang baru saja terjadi.

"Jangan dulu pakai baju!" larang Allen ketika Kanda baru saja mengambil kaos dari lemari.

"Kemari," ajaknya duduk di atas kasur sementara dia pergi sebentar untuk mengambil kotak P3K.

"Kau tidak boleh membiarkan luka. Jika infeksi, nanti bisa berbahaya." Jelasnya sambil membalut luka Kanda.

"Tidak perlu. Aku bisa menyembuhkannya dengan-"

"tidak boleh!" potong Allen sebelum Kanda menyelesaikan kalimatnya. "Lebih baik kau berhenti menggunakan kekuatanmu untuk menyembuhkan luka. Itu lebih berbahaya." Allen mengetahui efek negative dari penggunaan penyembuhan luka.

Allen kembali menyimpan kotak P3K ke asalnya setelah selesai.

"apa urusannya denganmu? Terlalu lama terluka itu merepotkan."

"pokoknya tidak boleh!" bentak Allen bersi keras. Dia lekas membuntal dirinya dengan selimut dan membelakangi Kanda. "oyasumi!" katanya lagi agak ketus membuat Kanda sedikit tersenyum geli.

"Kau pergi kemana siang tadi?" Tanya Allen tiba-tiba. Nadanya ketus membuat Kanda yakin Allen serius. Mood menjahili Allen pun hilang di hati Kanda. Dia teringat sesuatu yang tidak ingin diingat.

"Jangan membuat orang lain khawatir." Lanjut Allen. "Apalagi pulang dengan kondisi terluka."

Kanda duduk di samping Allen, memberikan jarak di antara mereka dan memberikan sedikit rasa kecewa tersendiri kepada Allen.

Kini, mereka berdua bergelut dalam pikiran mereka sendiri. Kanda bimbang antara pergi dan tidak pergi mengunjungi mantan kekasihnya. Jika dia pergi, mungkin dia tidak akan pernah kembali ke markas besar. Sedangkan Allen, dia sibuk memikirkan apakah Kanda benar-benar beranggapan bahwa dia dan Lavi terikat dalam satu hubungan special atau tidak.

KUSHAA…

Allen bangun berdiri menyingkapkan selimut. Beranjak dari kasur dan meninggalkan Kanda menuju pintu sebelum kalimat Kanda menghentikannya. Ini keputusannya karena Kanda tak memberi respon apapun tentang penolakan anggapan Allen berpacaran dengan Lavi.

"Mau kemana kau? Hei! Allen!"

"Ke kamar pacarku," jawab Allen sambil berlalau pergi.

Mau tak mau Kanda turun dari ranjang dan ikut berlari mengejar Allen sebelum pria berambut putih tersebut berhasil meraih kamar orang yang dia sebut pacar.

"Kau tidak boleh pergi ke sana!" Seru Kanda ketika dia berhasil menarik pergelangan tangan Allen dan merapatkan si badan mungil ke dinding. "Aku tak mengizinkanmu," desisnya setengah kesal.

"Kenapa?" Tanya Allen ketus diantara deru nafas tersengal-sengal sehabis berlari.

"alasan yang sama seperti kau melarangku menggunakan tenaga penyembuhan." Jawab Kanda yakin meski dia tak mengerti dengan apa yang sedang dia katakan.

"Kau tidak punya hak melarangku. Aku pacar Lavi!" Bentak Allen sampai membuat Kanda takut bisa membangunkan yang lainnya.

Tanpa sadar, Kanda mencengkram kuat-kuat pergelangan tangan Allen sampai pemuda berambut putih ini meringis kesakitan. Kanda tak suka ketika Allen mengatakan dengan tegas tanpa keraguan pada kalimat terakhir. Namun Kanda tak menyadari ada ekspresi yang menjelaskan kebohongan di balik ketegasan Allen. Deru nafas yang tak biasa, deru nafas melawan isak tangis.

"Apapun motifmu, tak ku izinkan!" desisnya lagi. Kali ini disertai tindakan kasar yang menarik Allen kembali ke kamar.

Di kuncinya pintu lalu dibuang jauh-jauh dari jangkauan Allen. Allen sendiri sengaja dibanting oleh Kanda ke kasur. Kemudian Kanda menekan tubuh mungil Allen dengan badannya, menguncinya agar tak pergi kemana-mana.

"Kau tidak boleh menyentuh orang yang bukan hakmu, Yuu Kanda." Allen balik mendesis kesal.

"erght!" Kanda kembali bangkit. Mengambil kunci yang tadi ia buang. "Ini! Pergi kau ke kamarnya! Jangan lagi tidur di sini!"

"..hik…hik.."

Kanda membelakangi Allen. Menyembunyikan wajah frustasi sementara sebelah tangannya tak berhenti mengurut kening, berharap rasa kesal di otaknya sedikit membaik.

"…Kanda, kau…membenciku? Hik…"

Pada saat ini Kanda menyesal kenapa tadi dia tak "bermain" bersama Kohan sampai besok pagi saja. Mungkind ia tidak akan pernah tahu apa yang dilakukan Lavi dan Allen sampai terjebak kedalam keadaan seperti ini.

"Jika aku membencimu, lalu kenapa? Kau tidak perlu sampai menangis seperti itu." Kanda berbalik menghadap Allen. "Kau laki-laki!"

Namun Allen malah makin terjatuh dalam tangisannya. Dia tak peduli seberapa rendahnya dia di mata Kanda, tak peduli bila dia disamakan dengan wanita. Yang hanya ingin dia lakukan sekarang adalah menangis tanpa mempedulikan apapun.

"Cih!" Kanda mendekati Allen, duduk disampingnya dengan perasaan tak enak. Lambat laun emosi yang tak terkontrol mulai hilang setelah melihat kepala Allen tertunduk dalam-dalam. Punggungnya bergetar menahan isak sementara kedua belah tangannya digunakan untuk menutup wajah. Kanda tidak terlalu mengerti kenapa Allen harus samapi menangis seperti ini. Namun, apapun itu Kanda sadari apapun yang baru saja dilakukannya, bukanlah hal yang Allen sukai.

"Allen…" diraihnya dagu Allen dan memperhatikan kedua bola mata basah Allen. Ah, ia menyesal Karena berkontak mata langsung. Mata-mata ini seolah mengirimkan perasaan tak terucap. Perih yang terasa.

Perlahan-lahan Kanda mendekatkan wajahnya dengan Allen. Membawa irama detak jantung yang bergemuruh diantara isak tak tertahan. Memicu adrenalin. Entah emosi macam apa lagi yang mengontrol Kanda. Sayangnya, Allen menolak. Tepat ketika Kanda hampir sampai, Allen menjauhkan wajahnya dari Kanda.

"Jangan sentuh orang yang kau benci. Aku bukan mainanmu…" kata Allen dingin membuat Kanda sedikit terhenyak tak percaya. Allen menolak Kanda? Bukankah kemarin Allen menginginkannya?

"…aku membencimu ketika kau bersamanya.." Kanda membalas berbisik lembut sebelum memeluk Allen dalam kehangatan dan mengecup manis bibir merah mudanya.

"nnhhh! …ahh…lepaskan akh-emmhh…"

"Siapa yang kau cintai? Aku atau baka usagi?"

"…hik…hik…"

Kemudian Kanda mulai menciumnya lagi ketika tak mendapat jawaban apa-apa. Ciuman sesaat penuh penyesalan. Ciuman air mata atau lebih tepat ciuman kekesalan, hanya pelampiasan semata karena Kanda tak mendapatkan jawaban apa yang dia inginkan.

"aku tak akan meneruskan dengan tanpa kepastian." Saat Kanda hendak berdiri pergi, Allen menarik pergelangan tangan Kanda, menariknya lebih dalam sampai Kanda terjatuh dalam pelukan Allen. Dengan jari-jari putih, Allen menyisik rambut Kanda, mendorongnya untuk berbagi kehangatan lewat gelombang sentuhan.

~judul alay~

"Kau tidak boleh pergi ke sana!"

"Kau tidak punya hak melarangku. Aku pacar Lavi!"

Gaduh-gaduh apa itu di luar sana? Lekas Lavi menyimpan music playernya. Perlahan-lahan ia membuka pintu kamarnya dan mendapatkan pemandangan yang membuatnya ingin membanting music player kesayangannya.

"Apapun motifmu, tak ku izinkan!"

Mereka kembali masuk ke kamar sementara Lavi mempertimbangkan sesuatu hal yang seharusnya tidak menjadi pertimbangan berat. Tanpa menutup apalagi mengunci pintu, Lavi berjalan lemas menuju pintu selanjutnya, pintu yang dulu jauh sebelum Allen hadir di kehidupannya dan di kehidupan semua orang di markas besar sering menjadi sasaran kenakalannya.

Terdengar pertengkaran kecil di dalam kamar. Lavi bersandar lemas dan perlahan-lahan melorot di dinding kamar. Bukan maksud untuk memperjelas pendengaran, tetapi untuk menopang tubuh yang makin melemas tiap mendengar percakapan. Entah harus menggunakan kata-kata yang mana untuk menunjukan rasa sakit yang sedang dialaminya. Sakit yang tak terlihat tetapi sangat terasa nyata.

"…nngghh.. ahh~ kan..daa~ aaahhh…"

"..allennh!"

Ini menyakitkan. Sekuat tenaga ia memeluk tubuhnya sendiri, mencengkram kepala dengan kedua tangannya, menahan gemetar tubuh. Ada secerca rasa sakit ketika mendangar melodi-melodi lembut yang ditimbulkan Allen dan Kanda. Hanya setitik kesakitan yang jauh lebih sakit dibanding luka goresan.

Ia berdiri berlari, segera masuk ke kamar, menjatuhkan dirinya di kasur. Menutup kepala dengan bantal untuk meredam suara. Ya, sudah tak terdengar lagi, tapi kini suara-suara itu terngiang dalam pikirannya. Merasa cara ini tak cukup efektif, lantas ia kembali bangkit. Mencari music player di laci meja. Namun yang ia temukan bukan yang ia cari, sebuah bingkai foto yang ia temukan. Fotonya bersama seseorang yang…

"Baka!"

Kenapa mengenal Yuu Kanda bisa sangat menyakitkan? Kenapa perasaan in isangat kompleks? Menyusahkan. Kenapa ia menjadi egois karena Yuu Kanda?

Di simpannya kembali bingkai foto tersebut. Lalu menarik nafas dalam-dalam untuk meredam gejolak perasaan. Melupakan adalah hal bodoh yang tidak mungkin bisa dilakukan. Lalu apa sekarang? Membiarkan dirinya dimakan kesakitan, mungkin?

Tidak! Kau tidak bisa hidup dengan penderitaan. Dulu ada kebahagiaan sebelum kesakitan muncul. Ada yang muncul, berarti ada yang hilang. Jadi, jika ada seseorang yang hilang dari muka bumi ini, maka semuanya akan kembali seperti semula. Biarkan perasaan lembut ini berubah menjadi dendam sementara.

~judul alay~

Kohan berdiri gentar di atas gedung. Membiarkan dirinya didebur lautan angin. Matahari telah tiada namun dunia seakan tak pernah mati. Dibawah sana masih ada kehidupan yang sangat tergambar jelas. Tetapi bukan itu yang membuat kedua kakinya lemas, bukan karena ketinggian dia berada pula, melainkan karena sebuah "gelombang" yang ia terima. Insting yang ia punya sejak lahir. Inilah alasan yang membuatnya tetap hidup.

"uhukkk! Uhukk!" ia terbatuk menyedihkan layaknya penderita TBC.

"..kakak…" gumamnya lemah sebelum ia kehilangan pandangan dan akhirnya terjun bebas menuju ribuan cahaya dibawah sana.

.

"…okaasan… otou…san…"

.

I don't know if I'm a boy. I don't know if I'm a girl. I don't know when I was born. I don't know who my mother is. I don't know I got alone. I don't know how I got mad.

I don't think I should get back.

Tell me now that you really like the show

Tell me now that you really want to get high

Tell me now that you really like my style, oh

Tell me now that you are to commit a crime

You want this

Tell me how you want it to be

My mind, heart is broken

No one else But you was going to understand my way

But from the day I found you, babe

You falling into me

Traallaaaa~ lalaa~

I don't know if I'm a boy. I don't know if I'm a girl. I don't know when I was born. I don't know who my mother is. I don't know I got alone. I don't know how I got mad. I don't know how I got mad…

I don't know if I'm a boy. I don't know if I'm a girl. I don't know when I was born. I don't know who my mother is. I don't know how I got alone. I don't know how I got mad….

*ini lagi nyanyi lho…*

Yahuuu~~

Chepie 3 berakhir XDDDDD *author dihajar gara-gara ngemasukin lirik lagu gk penting tanpa ada sekat pembatas sama story*

Terimakasih untuk semua dukungan kalian, aku benar-benar merasa bodoh ketika berfikir tidak ada yang mengharapkan kelanjutan cerita ini T^T

Well, mungkin aku author yang cepat padam api semangatnya sehingga membuat reader kecewa dengan harus menunggu kelanjutan cerita ini.

Dan..dan..dan…dan….aku sangat terharu membaca review dari kalian semua TToTT

Aku minta maaf kalo gaya bahasa atau alur cerita yang tiba-tiba jadi aneh (gk selaras sama chepie sebelumnya). Aku kehilangan mood begitu aja pas aku liat gk ada yang ngeriview ini fict. Aku pikir itu artinya gk ada yang baca fictku. Tapi setelah sekian lama tak berkunjung ke ffn, lalu dikejutkan dengan jumlah review 10 pada chap ke 2, itu jumlah yang sangat banyak bagi saya… huuuu…huhu..uuhukk..uhukkk.. *suara nangis ato suara batuk nih?*

Aku gk tau apa setelah ini masih bakal ada yang nungguin lagi atau nggk, cz aku udah bener-bener bikin kalian bangkotan nungguin apdetan.. *ngerasa punya salah*

Akhir kata saya ucapkan terimakasih yang sebesar-besanya dan jangan lupa untuk tetap tinggalkan review TT..TT *masih bercucuran air mata* karena jika kalian tetap meriview…

…..

…..

sSAYA PASTIKAN ANDA MENDAPATKAN PIRING CANTIK! *PLAK!*