Minna..
Gomen, bong baru update fic ini. Gomen juga, karena bong dalam waktu dekat ga bisa update mine. *tolong jangan bunuh bong, minna*

Oceh, setelah pegel jiwaraga melaksanakan tryout, pengayaan (pagi dan siang), serta persiapan lomba Kana Kontes, bong bisa update fic ini. Yeyeyeh!

Sekarang waktunya bales-bales love letter *plak*

lonely clover : Hinata perkasa? Hahaha... Tapi emank seru banget bikin image Hinata jadi kaya gini. Arigatou ne.

Yuuaja : Arigatou.. Hehehe, ini bong update. Gomen telat (banget)

ulva-chan : wah, ulva-chan deg-degan? Hehehe.. Nih updatenya

Hyu Chan : Salam kenal, bong suka sasuhina! Yeyeye.. Bong update nih

Cui'Pz Cherry emak bong yang paling ganjen : kekeke bong kan anak berbakti mak. Mak, bong ga butuh ciuman dari emak, bong mau ciuman Tobi ajah! Tobi, ayo kita kawin! *masuk ke hotel*

Merai Alixya Kudo : ha? Pendek? Bong juga ngrasa fic ini pendek. Sip, endingnya pasti sasuhina! Kekeke

cherry sakusaku : kyaaa... 'cherry' nama bong juga ch'erry *di gorok* hahaha.. Gomen baru update.

Shaniechan : beneran bakal bunuh diri ga ya? Bong juga lagi nyari scene bagus buat bunuh diri gara-gara stres ngadepin UAN! *lompat gedun*

lollytha-chan : salam kenal, hehehe.. Bong udah update loh, ripyu lagi yo!

OraRi HinaRa : sip sip.. Ini bong update

Kouro Ryuki : kadang-kadang bong bingung, apa deskripsi fic ini ngaco. Eh, tapi kata Ryuki-chan bagus. Kekeke sankyuu ne.

ZaHrA InDiGo : bong suka sasuhina! Hohoho.. Sasuchan, sini peluk bong! *di santet massa*

INDONESIAN reader : kekeke, jadi cewe jahat emank bong banget! *plakplak*

licob green : nice sama bagus sama aja kali ya.. *bong bego*

kurosaki kuchiki : aih, gomen bong baru update!

nagisa naginata : kekeke.. Pada nebak Sakura ya.. Ini bong update!

Osy hyuga : kekeke.. Nih updatenya.. Ripyu yo

Ekha : arigatou muji fic bong.. Kekeke *nyengir gaje*

SaHi-chan : ini… bong update… kekekeke

sekali lagi, bong ucapin terimakasih buat minna-san, yang mau ngomel-ngomel ke bong, silahkan cari aja nama Ch'erry Alleria Kecebong di fb. Tadinya eri kecebong. Hehehe

yosh…. Yonde kudasai….

Disclimer : Mbah Kishimoto
Pair : Sasuhina
Rate : T
Genre : Romance
WARNING : AU, OOC, TYPO{parah}, GAJE, ide pasaran.

Chapter 2

Angin malam musim semi tampaknya malas untuk berhembus menemani orang-orang yang masih beraktivitas di jam sembilan malam ini. Tampak di jalanan masih banyak kendaraan yang lalu lalang, entah itu kendaraan pribadi maupun kendaraan umum. Dan dapat dilihat pula, sebuah mobil sport hitam yang melaju dengan kecepatan tinggi mengarungi jalanan kota. Si pengemudi mobil seolah tak peduli dengan rambu-rambu lalu lintas maupun pemberitahuan untuk tidak melajukan kendaraannya dengan kecepatan di atas rata-rata. Mobil sport hitam itu berkali-kali menyalip kendaraan lain tanpa mengurangi kecepatan, sungguh menantang bahaya perbuatan si pengemudi mobil itu.

Setelah beberapa kali menerobos lampu merah, mobil itu kini memasuki area perumahan. Setelah menempuh jarak sekitar dua puluh meter dari pintu masuk perumahan, mobil sport hitam itu menghentikan lajunya tepat di depan rumah bertingkat dua yang di depannya terpasang gerbang besi setinggi satu setengah meter yang di cat putih.
Si pengemudi mobil sport hitam itu menurunkan kaca jendela mobilnya. Pandangan kedua mata onyxnya terarah pada rumah besar yang nampak tenang di hadapannya. Dengan gerakan cepat dia menggerakan tangan kiri untuk mengambil ponsel di saku kiri celana jins hitamnya.
Sejenak pemuda berambut raven itu memandang sendu wallpaper ponsel yang menampilkan senyum tipis seorang gadis yang menggerai rambut indigo panjangnya, kemudian mata onyx pemuda itu beralih pada gambar dirinya yang berada di samping gadis indigo di wallpaper ponselnya.
Tampak di foto itu, dia dan gadis indigonya tengah memamerkan senyum tipis yang memukau dan tentu saja pose mereka tidak terlalu mesra karena keduanya hanya saling menempelkan pipi. Ya, memang foto yang biasa. Tapi bagi si pemuda raven, foto itu adalah sesuatu yang istimewa. Setelah beberapa detik berlalu, pemuda itu menggerakan ibu jarinya untuk menekan beberapa nomor di pad ponsel yang sangat di hafalnya.
Terdengar beberapa kali nada tunggu hingga terdengar suara lembut yang nadanya cukup dingin.

"Apa?" sapa suara itu.

"Keluar!" pemuda raven itu berkata dengan nada memerintah.

"Aku tak mengerti maksudmu."

"Aku ada di depan rumah Ino!" pemuda itu menengadahkan kepala sambil memejamkan matanya sejenak. "Ayo pulang!"

"Tidak! Ino yang akan mengantarku." tolak suara lembut itu.

"Nona Hyuuga, ayahku yang memintaku untuk menjemputmu. Cepat keluar dan pulang denganku, atau kau mau aku sendiri yang menyeretmu dari-"

"Iya, iya aku keluar. Jangan buat keributan!" seru suara gadis itu dengan nada yang terdengar sedikit panik.
Setelah memutuskan sambungan telefonnya dengan gadisnya, pemuda itu melempar ponselnya ke atas dasbor. Mata onyxnya melirik ke arah jam tangan yang melingkari pergelangan tangan kanannya. Jam setengah sepuluh malam.

Pemuda itu kembali melemparkan pandangannya ke arah rumah keluarga Yamanaka. Tak lama seorang gadis berambut pirang keluar dari pintu masuk, dia melambai riang pada si pemuda yang hanya di balas lambaian kecil, setelah itu dari belakang si gadis pirang, tampak seorang gadis berambut indigo yang terlihat tengah berbicara dengan seseorang di ponsel. Raut wajah gadis itu tampak serius. Entah siapa yang tengah berbicara dengan gadis itu, yang pasti sang pemuda raven tampak penasaran. Ya, ia selalu ingin tahu apapun dan siapapun yang ada sangkut pautnya dengan Hyuuga Hinata.

Setelah sejenak berpamitan pada Ino, gadis itu melangkah menghampiri mobil sport hitam yang berada tepat di depan gerbang, lalu ia membuka pintu sebelah kiri mobil dan duduk di sebelah si pemuda raven. Detik berikutnya mobil sport itu melaju dengan kecepatan sedang mengarungi jalanan kota yang mulai sepi.
Menit demi menit waktu berjalan menemani keheningan yang tercipta di antara kedua insan yang tengah sibuk dengan kegiatan masing-masing. Uchiha Sasuke, pemuda itu menatap lurus kedepan seakan pikirannya hanya terfokus pada kegiatan menyetirnya. Sedangkan si gadis, kedua mata lavendernya ia gunakan untuk memandang kosong pemandangan malam melalu jendela mobil yang sengaja kacanya di turunkan.

"Tadi siapa?" meski sudah berusaha meredam rasa penasarannya, pemuda raven itu akhirnya menyampaikan keingin tahuannya.

"Ha?" Hinata yang masih belum mengerti apa yang dimaksud pemuda itu, hanya menatap dengan raut wajah bingung.

"Yang menelefonmu," ucap Sasuke dengan nada dingin. "Siapa dia?" sejenak pemuda itu menatap tajam Hinata.

"Bukan urusanmu, Sasuke." desis Hinata kemudian dia mengalihkan pandangannya dari pemuda tampan itu.

"Cih," Sasuke berdesis, meski tak kentara, namun wajah tampan pemuda itu tampak menyeringai, "Urusanmu adalah urusanku karena kau milikku!" ucapnya dengan penuh penekanan.

"Kau gila."

Sasuke hanya mendengus tanpa ekspresi. Di liriknya gadis bermata lavender di sebelahnya yang tengah menggerakan tangan kanan untuk melepas renda transparan bermata violet yang mengikat rambut indigo panjangnya. Sepasang mata onyx pemuda itu terbelalak, lalu dengan cepat dia menahan lengan gadis itu agar tidak melepas ikatan rambutnya.

"Jangan!" ucap Sasuke dengan nada dingin. Dan tanpa meminta persetujuan dari Hinata, Sasuke menghentikan laju mobilnya. Kemudian ia menatap tajam gadis indigo yang juga tengah menatapnya.

"Kenapa?" tanya Hinata dengan nada sinis. "Kau juga mau mengklaim bahwa rambutku adalah milikmu?" gadis itu memejamkan matanya bosan. Ia tak peduli pada lengannya yang masih ada di dalam cengkeraman kelima jari kiri Sasuke.

"Jika kau berani menggerai rambutmu, maka-" Sasuke memperkuat cengkeraman telapak tangannya di lengan kanan Hinata. Meski Hinata enggan mengakuinya, ia merasa sedikit takut melihat tatapan tajam mata onyx Sasuke. "- Aku.." lanjut Sasuke dengan nada penuh penekanan, perlahan ia mendekatkan wajahnya pada wajah Hinata. Sasuke sedikit menyeringai saat hidungnya menyentuh hidung gadis itu. "Aku akan menyerangmu-"

"JANGAN SENTUH AKU!" teriak Hinata sambil mendorong dada bidang Sasuke untuk menjauh darinya. Gadis itu menatap nanar wajah tampan pemuda di sebelahnya. Demi Tuhan, ia benci situasi yang membuat jantungnya berdebar sangat kencang seperti saat ini.

Sasuke, meski wajahnya tampak puas karena berhasil membuat gadisnya histeris akibat kelakuan 'nakal'nya, namun dalam hati pemuda itu merasa bersalah. Ia kenal bagaimana dan seperti apa seorang Hyuuga Hinata. Hey, semua orang tahu Hinata adalah gadis yang kalem dan pendiam. Sasuke akui itu, namun hanya beberapa orang saja yang tahu sifat Hinata yang keras kepala dan terkadang nekat untuk melakukan hal-hal yang menyangkut orang-orang yang ia sayangi. Ya, begitulah Hyuuga Hinata. Ia bagaikan sebuah batu permata yang nampak indah dan anggun, namun juga cukup keras untuk di hancurkan.
Detik demi detik waktu berjalan menemani keduanya yang tenggelam dalam kebisuan. Mobil sport itu masih tetap belum bergerak, padahal Sasuke sadar bahwa malam akan semakin larut dan tentu saja meskipun sekarang sudah memasuki musim semi, namun terkadang udara masih terasa dingin.
Sasuke menghembuskan nafas perlahan. Ia sejenak memejamkan kedua mata onyxnya, kemudian ia melepaskan sweater hitam yang di kenakannya dan memberikan benda itu pada gadis di sebelahnya yang duduk dengan sedikit membelakanginya. Wajah gadis itu menghadap ke arah jendela mobil yang dibiarkan terbuka.

"Pakailah!" ucap Sasuke sambil menyerahkan sweater di tangan kirinya. Hinata hanya menoleh sejenak, lalu mengacuhkan Sasuke.

"Udara semakin dingin, Hinata!" melihat Hinata yang tetap berdiam diri, Sasuke akhirnya memilih untuk menyelimuti tubuh Hinata dengan sweaternya. "Aku tak mau kau sakit-"

"Kau bukan siapa-siapaku!" ujar Hinata tanpa menoleh namun tangan kanannya bergerak untuk mengambil sweater Sasuke dari tubuhnya, lalu melempar benda itu ke arah si pemuda raven. "Jangan pedulikan aku!"

"Perlu ku tegaskan berapa kali lagi nona Hyuuga?" sindir Sasuke. Ia mulai melajukan mobilnya, Hinata sejenak melihat ke arah pemuda bermata onyx itu yang kini tengah menatap lurus ke depan. "Kau mi-lik-ku! Dan aku takkan pernah melepaskanmu apapun yang terjadi."

"Jadi kau lebih memilih melihatku mati?" Hinata berkata dengan nada dingin. Mata lavendernya menatap nanar mata onyx Sasuke.

"Tak masalah, karena aku akan mati bersamamu."

"Aku tidak bercanda, Sasuke!" Hinata menatap Sasuke dengan tatapan kesal.

"Aku juga tidak bercanda, nona Hyuuga!"

"Terserah!"

"Fine, memang semuanya terserah aku."

"Sasu-"

"HINATA! Aku lebih senang melihatmu marah padaku daripada harus melihatmu mengatakan kalimat-kalimat bodoh itu!" bentak Sasuke.

"Kau egois!"

0o0

.

.

"Kenapa?" gadis berambut pirang yang di kuncir kuda memamerkan seringainya, "Mainmu sore ini jelek sekali." gadis itu membeturkan tubuhnya ke tubuh temannya yang kini telah berubah status menjadi lawannya dalam permainan one on one. Dengan gerakan cepat gadis pirang itu berhasil merebut bola yang sebelumnya di kuasai oleh gadis berambut indigo. Setelah sejenak mendribble bola, gadis pirang itu menembak bola dari bawah ring. Masuk. "Masih memikirkan masalahmu dengan Sasuke?" lanjutnya sambil melempar bola ke arah Hinata. Gadis bermata lavender itu memamerkan senyuman manisnya.

"Kau bercanda, Ino?" ucap Hinata sambil mendribble bola lalu dengan gerakan cepat dia melakukan lay up. "Mainmu bagus, aku heran kenapa kau tak bergabung dengan tim basket kampus." gadis indigo itu melangkah pelan ke arah pinggir lapangan yang biasa ia pakai dengan Sasuke. Sedangkan Ino, dia masih tetap asyik mendribble bola basketnya.

"Kau sendiri? Bukannya kau MVP saat di SMU dulu?" Ino menghentikan aktivitasnya, kemudian melangkah menuju Hinata yang tengah duduk sambil menenggak air mineral.

"Kau semakin pintar memutar balikan kata." Hinata tertawa kecil. Sebotol air mineral ia berikan pada sahabatnya yang kini telah duduk di sebelahnya.

"Aku belajar darimu," jawab Ino sambil mengedipkan sebelah matanya, membuat Hinata tertawa kecil. "Lalu," ucap Ino sengaja menggantungkan kalimatnya.

"Hm?"

"Kau dan Sasuke?" tanya Ino sambil menatap lekat kedua mata lavender milik Hinata.

"Kuanggap sudah berakhir." jawab Hinata santai. Ia meluruskan kedua kakinya yang terbalut celana training panjang berwarna coklat.

"Oh, ayolah Hinata. Kau ini bodoh atau apa sih. Aku tahu kau mencintai Sasuke. Kenapa kau tak mau mengakui perasaanmu sendiri?" ucap Ino sambil menghela napas panjang. Ia juga ikut meluruskan kakinya. Lelah juga bermain basket selama dua jam. Apalagi bertanding one on one dengan Hinata yang merupakan MVP saat di SMU dulu. Lalu Ino sendiri, dia adalah partner Hinata di tim. Keduanya mulai bersahabat sejak pertama kali bergabung di tim basket putri SMU. Namun keduanya memutuskan untuk tidak ikut bergabung di tim basket kampus walaupun mereka satu universitas. Ino adalah salah satu orang yang tahu masalah Hinata dan Sasuke.

"Jangan membuatku tertawa, Ino." kata Hinata sambil tersenyum. Dia menggerakan tangannya untuk menarik renda berwarna violet yang di gunakan untuk menguncir kuda rambut indigo panjangnya. "Bagiku persahabatan lebih penting." ucap Hinata lagi sambil merapikan rambutnya yang tergerai.

"Lalu kenapa kau mau pacaran dengan Sasuke?" Ino tetap belum menyerah untuk mendorong Hinata agar tak melepaskan pemuda yang di cintainya.

"Entahlah," jawab Hinata masih dengan nada yang santai. Ia kembali berdiri lalu melangkah pelan ke bawah ring untuk memungut bola.

"Biasanya Sasuke kemari kan?" tanya Ino heran, karena memang hampir setiap sore Sasuke dan Hinata bermain basket di lapangan yang letaknya tak jauh dari rumah Sasuke.

"Entahlah," Hinata menjawab pertanyaan Ino sambil mendribble bola menuju garis threepoints. "Kau tahu, sekalipun aku tak pernah menang darinya dalam hal basket. Dia selalu tersenyum penuh kemenangan. Keh, pasti menyenangkan melihat wajahnya yang terpuruk." ucapnya sambil melambungkan bola.

"Hinata," panggil Ino, gadis bermata lavender itu menoleh.

"Hm?"

"Kau benar-benar mau mengubur perasaanmu pada Sasuke?" tanya Ino dengan nada suara yang serius.

Bukannya menjawab, Hinata malah merogoh saku celananya dan mengeluarkan sebuah renda berwarna violet transparan yang khusus untuk mengikat rambut yang di sebulan lalu di berikan oleh Sasuke. Di pandangnya benda itu sejenak, lalu ia melemparnya asal ke lantai lapangan.

"Menurutmu?" meski mustahil, namun wajah gadis cantik yang biasanya bagaikan wajah malaikat kini tengah memamerkan seringai iblisnya sambil menatap Ino.

"Menarik."

0o0
.

.

Gadis berambut indigo itu memejamkan matanya untuk dapat merasakan memilir angin senja di musim semi membelai lembut wajah cantiknya. Tetes-tetes air yang berasal dari rambut panjang tergerai yang basah setelah mandi ia biarkan membasahi kaus biru yang di kenakannya. Gadis itu menarik napas dalam-dalam berharap dapat membuat debaran jantungnya kembali normal, namun sejauh ini sepertinya hal itu sia-sia. Jantungnya tetap berdetak lebih cepat. Perlahan gadis itu membuka kelopak matanya, di lihatnya sebuah pemandangan indah dan menenangkan hati. Dari tempatnya berada, ia melihat halaman kecil yang sengaja ditanami bunga mawar aneka warna yang kini tengah bermekaran. Taman itu di buat dan di urus oleh Uchiha Mikoto, ya dia wanita yang sangat Hinata hormati setelah orangtuanya. Ingin rasanya saat ini ia mencium aroma bunga mawar itu, namun itu hal yang mustahil.

Memang bukan hal yang sulit untuk pergi ke halaman rumah dari kamar yang terletak di lantai dua. Hanya menuruni beberapa anak tangga dan berjalan beberapa langkah untuk sampai di halaman itu. Ya, memang mudah. Teramat mudah apabila pintu kamarnya tidak terkunci. Bukan, bukan terkunci, melainkan sengaja di kunci oleh pemuda yang tengah berbaring di ranjang gadis indigo yang kini tengah menutup jendela kamarnya.

"Sampai kapan kau berada di kamarku?" ucap gadis indigo itu datar, sejenak ia melihat pemuda raven yang berbaring sambil memainkan jari-jarinya di atas keypad ponsel. "Dan kembalikan ponselku." lanjut gadis itu.

"Jangan harap kau bisa mengusirku dari kamar ini," kata pemuda itu tanpa mengalihkan pandangannya dari ponsel.

"Ya, kau benar." gadis indigo itu mendengus kesal, lalu berdiri menghadap ke arah cermin. Kedua mata lavender gadis itu memandang kosong refleksi dirinya di cermin. "Rumah ini adalah rumahmu, dan aku hanya sementara menumpang disini. Jadi aku tak punya hak untuk mengusirmu, kau puas Uchiha?" gadis itu mengambil sisir lalu menyisir rambut panjangnya.

"Sangat puas," Uchiha Sasuke menyeringai pelan, lalu bangkit dari ranjang.

"Cih," Hinata berdesis sambil menatap mata onyx pemuda yang kini tengah berada di hadapannya. "Jangan khawatir, tak lama lagi aku akan keluar dari rumahmu-"

"Takkan ku biarkan itu terjadi!" bisik Sasuke tepat di telinga kanan Hinata.

Terlambat bagi gadis itu untuk lepas dari cengkeraman Uchiha Sasuke. Wajahnya kini ada di cengkeraman kedua telapak tangan pemuda raven itu. "Aku sangat mencintaimu, dan bahkan aku rela meninggalkan dia demi dirimu. Ku mohon Hinata, kau jangan egois,"

"Sasuke," balas Hinata lirih lalu perlahan ia mendekatkan wajahnya ke wajah Sasuke. Sejenak gadis itu merapatkan bibirnya ke bibir Sasuke. "Kisah kita sudah berakhir." Hinata tersenyum lirih. Kedua mata lavendernya menolak untuk menatap mata onyx pemuda yang ada di hadapnnya dengan jarak yang masih sangat dekat. "Semuanya akan kembali seperti semula. Kau dan aku kembali menjadi sahabat, kau dan dia tetap menjadi sepasang kekasih. Tak ada yang berubah. Ya, seperti sebelumnya, kita-"

"Tutup mulutmu, atau-"

"Atau apa? Jangan mengancamku, Sasuke!" ucap Hinata sambil beranjak berdiri dari kursi. Pandangan matanya seolah memandang penuh rasa hina pada Sasuke. Detik berikutnya gadis itu mulai melangkah menuju meja belajar.

"Alasan-" ucap Sasuke membuat gadis itu menghentikan langkahnya. "Apa alasanmu mau menjadi selingkuhanku, nona Hyuuga?" ucapan pemuda itu penuh dengan nada sindiran. Mata onyxnya menatap nanar punggung gadis yang di cintainya.

Perlahan dan meskipun tak kentara, seulas senyum miris menghiasi wajah cantik Hyuuga Hinata yang masih memunggungi Sasuke.

"Bukankah aku sudah mengatakan alasan itu berkali-kali?" Hinata sedikit membalik tubuhnya agar dapat melihat ekspresi wajah Uciha Sasuke. "Aku menerima tantangan untuk membuatmu jatuh cinta padaku dari Sai, sahabatmu!"

Mata onyx Sasuke tampak semakin nanar menatap sepasang mata lavender milik Hinata. Kemudian pemuda itu memamerkan seringai iblisnya.

"Lalu-" pemuda raven itu selangkah demi selangkah berjalan menghampiri Hinata yang memandangnya dengan ekspresi wajah menantang. "Apakah kau punya alasan bagus, kenapa malam itu kau mau 'tidur' denganku?"

.

TBC
.

.

.
KYAAA...
chap ini bener-bener aneh.. Huft.. jadi ancur…

*Mak ….. ampuni anakmu…*
Gomen, bong belum bisa nampilin pacarnya sasuchan di chap ini *sembah sujud*

Jaa mata ne….

Ayo ripyu…..