MINNA. . . . .
*berurai air mata*
Gomen, bong baru update! Hohoho... Padahal lusa ada tryout, tapi bong dengan nekatnya update fic! Yohoho... Gomen buat minna yang juga nunggu fic bong lainnya. . .
.
Kyaaaa! Bong ga nyangka fic ini banyak yang suka. Hehehe. . .
Masalah tidur bareng.. Gomen, bong ga bikin flashbacknya! Takut malah jadi rate M! Ufufufu...
Nah, waktunya bales ripyu..
.
Yuuki d'gray girl : *guling-guling bareng Yuuki-chan* ini bong update, sankyuu udah fav fic bong!
shaniechan : gomen bong telat updatenya! Kyahahaha
ulva-chan : ini, bong udah update loh! Moga chap ini ga terlalu bikin kecewa. Hohoho
Felixs D'Amethyst Lucifer : bong juga ga rela kalo sasuhina pisah? Tidur bareng? Hohoho, gomen baru update!
winterkaguya : kyaaa sankyuu. . . Nih bong update
Merai Alixya Kudo : tunggu! Jangan nikahin sasuhina! Mending nikahin sasubong ajah! *di santet massa* T.T iya... Bong baru nyadar, semu fic romance bong charanya pada doyan tidur satu ranjang *plak* ufufu. . Sankyuu buat masukannya!
Ekha :*berurai air mata* bong ga bikin flashbacknya.. Huhuhu.. Gomen ne
erikyonkichi : hohoho.. Eri-chan mampir ke fandom naruto! Kyaaa! Hahaha. . . Nih eri update
Hina bee lover : hohoho silahkan nilai chap ini. Mungkin agak ke semi M *plak* sasuhina tetep ga bakalan pisah loh.
uchihyuu nagisa : hm.. Pacar sasu-chan itu bong loh? *di gampar* Hahaha.. Kayaknya pacar sasuchan juga ga muncul deh di chap ini. Sankyuu udah fav
Lollytha-chan : ufufufu.. Nih bong update. Ripyu lagi yo
licob green : halah, bilang aja lu pengennya Ino yang jadi MVP *plak* hahaha.. Nih gue update, sibuk sih tapi .. T.T tetep pengen nulis fic
Chikuma new : tidur bareng? Hohoho kayaknya kalimat itu laris manis ya? *plak* yo, salam kenal nal nal.. Sankyuu udah fav!
DhaiNa Kaka-chan : woceh! Ini bong update! Ripyu yo
soft purple : ho oh.. Sasuchan cinta mati ama bong! *plak* kekeke.. Sankyuu udah fav
Hyu Chan : kyaaaa gomen! Chap ini gak ada flashbacknya. T.T . . . moga ga terlalu ngecewain
Chui'pz cerry : *iket emak, terus buang ke pulau terpencil di kutub selatan* DADAH EMAK, damailah disana *plakplak* (anak durhakim) hoho. . Nih bong udah lanjutin. Tapi kayaknya chap ini ga terlalu bagus, mak! T.T . . Ampuni anakmu ini! *sembah sujud*
OraRi HinaRa : kyaaa jadi OraRi-chan juga naksir Tobi? Kalo gitu, ayo kita duel main uler tangga! Bong update nih. .
.
Fyuh. . Sekali lagi bong minta maaf kalo misalkan chapter ini mengecewakan..
Yosh! Yonde kudasai!
.
Disclimer : mbah kubo tite
Rate : T (sedikit nyrempet semi M)
Pair : sasubong *plak* sasuhina!
Genre : romance
WARNING : AU, TYPO(S), OOC, GAJE
.
CHAPTER 3
.
Mata onyx Sasuke tampak semakin nanar menatap sepasang mata lavender milik Hinata. Kemudian pemuda itu memamerkan seringai iblisnya.
"Lalu-" pemuda raven itu selangkah demi selangkah berjalan menghampiri Hinata yang memandangnya dengan ekspresi wajah menantang. "Apakah kau punya alasan bagus, kenapa malam itu kau mau 'tidur' denganku?"
Wajahnya pucat seketika. Ya, wajah Hyuuga Hinata yang biasanya cerah tampak pucat setelah mendengar pertanyaan Uchiha Sasuke. Gadis cantik itu sejenak menelan ludah untuk sekadar membasahi kerongkongannya yang terasa kering.
"Hn?"
Astaga!
Mata itu.
Tidak! Tolong siapapun selamatkan gadis itu dari mata onyx yang kini menatapnya dengan tatapan menggoda.
"Kenapa diam?"
Apa?
Apa yang harus ia katakan?
Setidaknya Hyuuga Hinata harus memberikan jawaban yang logis dan dapat membuat si pemilik mata onyx tidak lagi menyudutkannya dengan mengungkit kejadian malam itu.
Senyum itu.
Tidak! Senyum iblis itu pasti perlahan akan melelehkan si gadis indigo yang telah berusaha sekuat tenaga untuk tidak lagi masuk dalam jeratan sang pangeran.
"Sudah kuduga," ucap si pemuda dengan di sertai seringai kecil menghiasi bibirnya. Perlahan ia mendekati Hyuuga Hinata yang masih membisu sambil memalingkan wajahnya guna menghindari bertatapan langsung dengan kedua onyx yang begitu indah dan tentu saja sangat menggoda. Tidak, gadis itu tidak mau mengulangi kesalahan yang sama dengan rela menjadi 'tumbal' dari kehauasan sang pemilik mata onyx akan suatu kehangatan cinta kasih. Hyuuga Hinata tidak mau keputusannya yang nekat mengakhiri hubungan dengan Uchiha Sasuke akan runtuh apabila ia kembali jatuh dalam jeratan sang pemilik mata onyx. Sudah cukup. Pemuda tampan itu milik orang lain. Milik sahabatnya yang begitu berharga. Ya, gadis itu tak boleh hanyut dan kembali tenggelam dalam cinta yang tak seharusnya hadir diantara Hyuuga Hinata dan Uchiha Sasuke.
"Tak punya alasan bagus eh, nona?" bisik pemuda itu tepat di telinga si gadis. Uchiha Sasuke menyeringai puas melihat Hyuuga Hinata membisu dan lebih memilih menghindari tatapan nakalnya. Benar, hal ini adalah kelemahan dari gadis itu.
Detik berikutnya sang pemuda raven menggerakan jemari tangannya untuk menyentuh helaian rambut indigo gadisnya yang masih basah. Perlahan ia mengangkat helaian rambut itu kemudian di cium mesra oleh Sasuke rambut indah gadisnya.
Cantik.
Gadis itu selalu tampak cantik tatkala menggerai rambut indigo sepinggangnya. Rambut indah yang membingkai wajah cantik Hyuuga Hinata selalu dapat membuat kagum siapapun yang melihatnya. Untuk alasan itulah, Sasuke memaksa Hinata untuk mengikat rambutnya dengan renda violet transparan yang ia berikan. Egois memang, karena pemuda itu tak mau gadisnya terlihat cantik di mata orang lain. Ia ingin menikmati kecantikan Hyuuga Hinata sendirian.
Dengan masih menyunggingkan seringai nakalnya, jemari-jemari pemuda itu perlahan beralih untuk membelai lembut wajah gadisnya. Sentuhan tangan pemuda itu terasa amat lembut hingga membuat Hinata tanpa sadar memejamkan kedua matanya.
"Jangan membohongi perasaanmu sendiri," bisik pemuda itu. Ia sengaja menempelkan bibirnya di telinga kanan Hinata, hingga membuat gadis itu merasakan wajahnya menghangat. Lengan kiri si pemuda di gunakan untuk merengkuh tubuh sang gadis agar merapat dengan tubuhnya yang terbalut kaus putih longgar. "Hey,"
Deg
Bagaimana ini?
"Hinata,"
Jemari pemuda itu kini membelai pipi kiri gadis cantik yang berada di pelukannya dengan sangat lembut. Perlahan tapi pasti jemarinya mulai beralih menuju bibir Hyuuga Hinata.
Deg
Jantung Hinata berdetak sangat kencang. Bagaimana ini? Apa yang harus ia lakukan. Tidak. Ia tak boleh kembali hanyut dalam kelembutan pemuda itu. Ia tak boleh menghianati sahabatnya untuk yang kedua kalinya. Tidak. Bukan hanya untuk yang kedua kalinya. Bahkan sejak dulu Hinata telah jatuh cinta pada Sasuke.
Jangan salahkan Hinata jika ia jatuh cinta pada seorang Uchiha Sasuke. Pemuda itu layaknya pangeran dalam negeri dongeng. Ya, dia pangeran namun Hinata bukanlah putri yang pantas mendapatkan cinta dari sang pangeran.
Deg
Jantung Hyuuga Hinata semakin berdetak kencang karena tanpa di sadari, kini bibirnya bersentuhan dengan bibir Uchiha Sasuke.
Apa?
Apa lagi yang harus ia lakukan saat ini?
Membalaskah?
Tetap diam?
Atau..
Tidak.
Tidak boleh.
Ia dan Sasuke tak boleh begini.
Deg
Tidak. Telapak tangan Uchiha Sasuke kini berada di pinggangnya untuk semakin merapat.
Dekat.
Sangat dekat.
Bagaimana ini?
"Aku mencintaimu, Hina-"
"Sai!" seru Hinata dengan nada cukup menyentak sambil sedikit menjauhkan wajahnya dari wajah Sasuke. Gadis itu merasakan wajahnya kian memanas saat melihat tatapan nanar Sasuke yang kesal karena Hinata menghindari ciumannya.
Kini Hinata dapat menghirup perlahan-lahan udara di sekitarnya. Sebisa mungkin ia harus menormalkan detak jantungnya dan juga dapat memantapkan kembali keteguhan hatinya yang beberapa detik lalu terancam runtuh. Sejenak gadis itu menutup kedua matanya, lalu kembali membukanya untuk menatap mata onyx Uchiha Sasuke. Detik berikutnya gadis indigo itu memamerkan senyuman manisnya. "Kau tahu alasan kenapa aku mau menerima tantangan dari Sai?" tanya Hinata dengan nada suara yang lembut namun menusuk.
Mata onyx si pemuda raven semakin menajamkan tatapannya pada mata lavender gadis Hyuuga.
"Keh, jangan kau pikir aku ini gadis lugu dan tak punya pikiran picik," kembali Hinata tersenyum namun segera di gantikan oleh seringai, membuat Sasuke mengeraskan rahangnya menahan rasa kesal.
"Apa maksudmu?" desisnya.
"Tuan Uchiha Sasuke yang serba sempurna dan sangat setia pada kekasihnya entah bagaimana jadinya apabila sahabatnya sejak kecil menyatakan cinta padanya dan membuatnya berada di sebuah pilihan yang rumit untuk memilih antara kekasihnya ataukah selingkuhannya. Yah, benar-benar tantangan yang menarik!" gadis itu tersenyum puas.
"Kau!" geram Sasuke.
"Hey, itu semua tantangan. Dan kau tahu apa yang kuperoleh dari Sai?" gadis itu menoleh ke arah meja belajarnya kemudian melangkah pelan untuk mengambil sebuah kunci yang ada di atas meja. Kembali gadis itu memejamkan mata ketika ia memunggungi si pemuda raven. Ia mencoba menguatkan hatinya untuk mengatakan sesuatu yang kejam pada dirinya maupun pada pemuda yang sangat ia cintai. Hinata harus melakukan apapun agar Sasuke membencinya. Gadis itu menarik nafas dalam-dalam, lalu setelah tangannya meraih kunci itu, dia menoleh kd arah si pemuda raven yang menatapnya nanar. "Sai memberiku apartemen mewah sebagai imbalannya!" ia menyeringai pelan, lalu perlahan melangkah menuju pintu kamar mandi dan membukanya, "See, semua hanya permainan. Aku sama sekali tak mencintaimu!"
BRAK!
Hinata sengaja menutup pintu kamar mandi dengan keras dan segera menguncinya. Punggung gadis itu di biarkan merapat dengan pintu. Dia tak peduli. Dia tak mau peduli lagi pada perasaannya terhadap pemuda itu. Dia sudah memutuskan untuk membunuh rasa cintanya pada Sasuke yang memang seharusnya tak pernah ada. Benar. Dia sudah berjanji pada dirinya sendiri untuk merelakan pemuda yang sangat dicintainya kembali pada 'dia'. Namun lihat sekarang, gadis itu hampir saja terbuai oleh kelembutan pemuda itu.
Harus bagaimana?
Kenapa begitu susah untuk melepaskan semuanya. Kenapa begitu susah bagi Hinata untuk membuang jauh rasa cintanya pada kekasih sahabatnya.
.
0o0
.
"Ku kira kau akan menghajarku lagi." ucap seorang pemuda yang tengah duduk berhadapan dengan kanvas putih yang sedikit ternoda oleh goresan-goresan cat minyak beraneka warna kelam. Jemari-jemari tangan kanan kurusnya yang panjang menari-menari dengan lincah di atas kanvas.
"Tak ada gunanya menghajarmu atau bahkan membunuhmu!" Uchiha Sasuke menjawab dengan nada suara malas. Ia merebahkan tubuhnya di sofa putih sambil menghisap rokoknya dalam-dalam, lalu menghembuskan asapnya pelan.
"Sejak kapan kau merokok lagi, eh?" Sai, pemuda itu tersenyum melihat sahabatnya yang tampak kacau. "Calon dokter bukankah tahu seberapa bahayanya rokok?"
"Keh, jadi kau mau menyerahkan bibirmu untuk pengganti bibir Hinata, eh?" Sasuke melirik kesal sahabatnya yang kini malah menyeringai.
"Ternyata Hyuuga Hinata dapat membuat otak jeniusmu menjadi idiot. Wah, gadis yang menakutkan! Bahkan sekarang kau gunakan rokok sebagai pelampiasanmu."
"Kau pikir gara-gara siapa aku jadi begini, eh?" Sindir Sasuke. Ia kembali menghisap rokoknya, dan menghembuskan kepulan asap putih yang memiliki aroma khas.
"Aku hanya ingin melihat sesuatu yang menarik."
Sai memamerkan senyum palsunya. Lalu ia melanjutkan ucapannya. "Yah, meskipun tak ku sangka, ternyata cintamu pada 'dia' yang sudah bertahan lima tahun lenyap begitu saja hanya karena sahabatmu sejak kecil, Hyuuga Hinata. Keh, benar-benar sulit dipercaya!" ucapnya. Ia meletakan kuasnya di meja, kemudian bangkit dari duduknya lalu melangkah menuju lemari es yang berada tak jauh dari sofa yang temgah di gunakan Sasuke untuk merebahkan tubuhnya.
"Entahlah aku tak tahu harus marah atau malah berterima kasih padamu karena telah membuatku jatuh cinta pada Hinata. Yang pasti, aku merasa tertekan." kata Sasuke sambil menatap langit-langit kamar apartemen Sai.
"Seorang jenius Uchiha merasa tertekan hanya karena seorang gadis. Wow.. Kejadian langka yang menarik!" Sai mengambil dua minuman kaleng dingin dari lemari es. Ia melangkah menuju tempat Sasuke rebahan, lalu menyerahkan satu kaleng minuman untuk sahabatnya.
"Berhentilah menjadikanku objek permainanmu, sebelum aku membunuhmu dengan tanganku sendiri." desis Sakuke dingin, yang hanya di tanggapi dengan senyuman palsu Sai.
"Keh, jadi kau menyesal jatuh cinta pada Hyuuga Hinata, eh?" Sai mengatakan kalimat itu sambil melangkah menuju jendela apartemen. Ia membuka tirai jendela yang berwarna putih. Terlihat sebuah pemandangan malam yang sunyi. Jalanan kota sudah tak lagi ramai dan hanya menyisakan lampu-lampu gedung serta lampu jalanan kota yang menemani detik demi detik malam menuju pergantian hari berikutnya. Sai melirik sekilas jam weker mungil berwarna coklat yang ada di atas rak buku. "Sudah jam sebelas malam, kau tak pulang?"
"Hn," hanya itu jawaban Sasuke. Tangan kiri pemuda itu merogoh saku celananya untuk mengambil ponsel. "Shit," umpatnya kesal karena mendapati ponsel kesayangannya mati. Jam sebelas malam, berarti sudah empat jam sejak ia meninggalkan kamar Hinata. Entah sedang apa gadis itu sekarang.
Setelah meletakan rokok di asbak, pemuda itu mulai bangkit dari sofa. Kemeja hitamnya tampak sedikit kusut dengan dua kancing atasnya di biarkan terbuka.
Si pemuda bermata onyx itu mengambil sweater biru tuanya lalu mulai melangkah menuju pintu. Tampak langkah kakinya sedikit gontai. Entah apa yang tengah di pikirkahnya. Sejenak sebelum Uchiha Sasuke menutup pintu apartemen Sai, dia membalik tubuhnya agar dapat melihat ke arah sahabatnya yang tengah menenggak minuman kalengnya di dekat jendela.
"Aku takan pernah sekalipun menyesal mencintai nona Hyuuga."
BRAK!
Ucapan Uchiha Sasuke barusan pada Sai membuat pemuda itu tersenyum tulus.
"Game over."
.
0o0
.
BRUGH!
Sasuke menutup keras pintu kanan mobil sport hitamnya. Ia menengadah kepalanya untuk melihat langit malam yang gelap. Udara malam memang dingin, namun pemuda tampan itu mengabaikannya. Mata onyxnya melirik ke arah lapangan basket komplek yang di terangi oleh beberapa lampu. Entah kenapa sejak perjalanannya pulang dari apartemen Sai, ia merasa ingin melihat lapangan ini. Lapangan tempatnya bermain basket bersama pujaan hatinya, Hyuuga Hinata.
Dia tak memedulikan semakin larutnya malam. Pemuda itu melangkah pelan menuju lapangan. Sejenak ia menyesal, kenapa ia tak membawa bola basket.
Saat kecil, Sasuke tidak suka main basket. Ia merasa basket hanyalah permainan membosankan dan hanya membuang tenaga dengan sia-sia. Namun anggapan itu mulai berubah sejak ia mengenal Hinata. Gadis cantik yang bagai tuan putri itu mengajak Sasuke memasuki dunia basket. Gadi itu mengajari banyak teknik yang akhirnya membuat Sasuke merasakan sensasi kenikmatan saat dirinya bermain basket. Sasuke sadar bahwa Hinatalah awal dari segala kesempurnaan hidupnya.
Kenapa Sasuke begitu bodoh. Kenapa ia dulu mengacuhkan Hinata dan malah jatuh cinta pada 'dia', sahabat pertama Hinata di SMP.
Sejenak Uchiha Sasuke menghentikan langkahnya tepat di garis threepoints. Mata onyxnya menatap lekat ring basket. Ia memejamkan kedua matanya untuk membayangkan sosok gadis yang begitu ia rindukan. Ia rindu senyuman Hyuuga Hinata. Ia rindu bisikan lembut dan juga kehangatan tubuh gadis itu. Andai saja waktu bisa di putar, Sasuke pasti akan menjadikan Hyuuga Hinata miliknya sejak dulu. Menjadikan gadis itu satu-satunya orang terpenting dalam hidupnya seperti saat ini. Pemuda itu perlahan membuka kedua matanya. Senyumnya mengembang saat mengingat bagaimana ekspresi kesal Hyuuga Hinata setiap kali ia berhasil mengalahkan gadis itu dalam pertandingan one on one. Hyuuga Hinata akan menggembungkan pipinya sambil menendang bola ke sembarang arah, selanjutnya ia akan duduk di bawah ring tanpa melakukan apapun hingga senja berubah menjadi malam. Sebut saja hal itu merupakan 'terapi unik' seorang Hyuuga Hinata, karena setelah melakukan hal tersebut, ia akan kembali seperti biasa.
Seperti biasa?
Apakah mungkin Hyuuga Hinata dan Uchiha Sasuke bisa kembali seperti biasa? Kembali seperti dulu, tertawa bersama, pergi kemanapun bersama dan bahkan..
Tidur bersama.
Tidur bersama?
Memikirkan dua kata itu saja mampu membuat Uchiha Sasuke merasakan sayatan kecil di lubuk hatinya.
Tidur bersama? Sulit di percaya bahwa Uchiha Sasuke dengan begitu pengecutnya menggunakan kejadian malam itu sebagai 'bahan' untuk menyudutkan Hyuuga Hinata. Mau bagaimana lagi, pemuda itu hampir kehabisan akan untuk dapat memertahankan Hyuuga Hinata. Gadis itu terlalu sulit untuk di goyahkan apabila telah menetapkan suatu keputusan. Apapun! Ya hal apapun akan Sasuke lakukan untuk membuat gadis itu tetap berada di sisinya. Termasuk menjadikan kejadian malam itu sebagai alat untuk mengikat dirinya dengan Hinata.
Kejadian malam itu?
Cih, memangnya apa yang terjadi di antara Hyuuga Hinata dan Uchiha Sasuke malam itu. Seingat Sasuke, malam itu mereka hanya tidur di ranjang yang sama. Oh, tentu saja dengan beberapa kali ciuman sebelum tidur tentunya. Dan memang pemuda itu akui bahwa dia bisa saja lepas kendali. Jika dia tidak segera ingat siapa gadis yang ada di pelukannya malam itu. Gadis itu Hyuuga Hinata. Gadis yang sangat Sasuke cintai dan bahkan terlalu berharga untuk ia nodai meskipun gadis cantik itu sudah bilang tidak keberatan jika memang itu mau . Sasuke mana mungkin tega merusak gadis itu. Hey, rasa cinta tak selalu di realisasikan melalui hubungan badan kan?Melihat kesediaan Hyuuga Hinata, sudah cukup bagi Sasuke untuk menyimpulkan bagaimana perasaan gadis itu padanya. Hyuuga Hinata mencintai Uchiha Sasuke. Ya, itulah kesimpulannya.
Dan gadis cantik itu bilang bahwa dia tidak mencintai Sasuke.
Cih, keterlaluan.
Mustahil Sasuke bisa di bohongi oleh kata-kata gadis itu. Ia tak peduli berapa kali Hinata menolak, membentak, menghindar bahkan menamparnya. Ia tak peduli, karena apapun yang di lakukan oleh gadis itu takan mengubah keputusan Sasuke untuk memutuskan hubungan cinta kasihnya dengan 'dia' yang besok akan tiba di Tokyo.
Benar. Sasuke sudah bertekad untuk mengatakan segalanya pada 'dia'. Tentang perasaannya yang kini lenyap dan beralih pada seorang Hyuuga Hinata. Risiko apapun akan ia tanggung. Yang perlu Sasuke pikirkan saat ini hanyalah, semua yang terjadi pasti akan baik-baik saja.
Uchih Sasuke sejenak menghela napas lalu perlahan mulai melangkahkan kedua kakinya untuk kembali ke mobil. Namun baru dua langkah, kedua kakinya berhenti melangkah tepat saat mata onyxnya mendapati benda yang sangat ia kenal tergeletak tak jauh dari tempatnya berdiri. Mata onxx pemuda itu melebar, lalu dengan cepat ia memungut benda yang pernah ia berikan pada gadisnya. Ya renda violet transparan yang berfungsi untuk mengikat rambut indigo Hinata.
Apa maksudnya ini?
Kenapa Hinata meninggalkan benda itu disini?
Apakah karena dia lupa.. Atau.. Sengaja di buang.
"Tunggu!"
Terdengar suara yang sepertinya Sasuke kenal. Mata onyx pemuda itu menoleh ke arah tempat mobilnya berada. Benar saja, disana ia melihat Sai dengan setengah berlari mengejar Ino yang terus melangkah cepat ke arah Sasuke.
Kenapa Sai dan Ino ada di tempat ini.
"Ken-"
"Tunggu, Ino!"
PKAK!
Satu tamparan mendarat tepat di pipi kiri Sasuke dengan keras. Dengan perasaan kesal, Sasuke memberikan tatapan nanar pada gadis pirang yang memukulnya tanpa sebab.
"KAU-" geram Sasuke.
"KAU BRENSEK!" teriak Ino, lalu-
PLAK!
Satu lagi tamparan mendarat di tempat yang sama.
Mata gadis itu basah. Menangis. Ya, pasti gadis itu tengah menangis.
"Kenapa memukulku tanpa sebab, hah?" seru Sasuke marah. Satu tangannya ia layangkan di udara untuk mencoba membalas tamparan pada gadis pirang itu. Namun dapat di cegah oleh Sai.
"Kumohon kau jangan emosi, Ino!" dengan cepat pemuda itu menarik Ino untuk sedikit menjauh dari Sasuke.
"Lepaskan aku, Sai!" gadis cantik itu mencoba berontak.
"INO, HENTIKAN!" bentak Sai yang mulai gerah dengan sikap emosional gadis itu. "Tenanglah!"
"Tenang? TENANG KATAMU?" seru Ino dengan suara bergetar. Ia menatap nanar Sai, kemudian beralih pada si pemuda raven. "Mana mungkin aku bisa tenang! Hinata masuk rumah sakit gara-gara dia!"
"Sakit? Hina-"
"DIA BUNUH DIRI, KAU PUAS?"
.
~TBC~
.
Glek. . . T.T *sesenggukan*
Minna.. Chapter ini benar-benar kacau, kan? Pasti mengecewakan. Ga sesuai harapan *ngubur diri sendiri*
gomenasai. . .
.
Yang mau marah ama bong silahkan marah. . .
Fb bong : Ch'erry Alleria Kecebong
imel :
.
See you next chap. . T.T
