Yaa, saya kembali dengan cerita baru

Tapi saya ragu kalau chapter depan bisa saya selesaikan dengan cepat, soalnya saya sedang ujian.

Walau begitu saya usahakan untuk mengupdatenya sesegera mungkin…

Saatnya membalas review!

Cerullean reed: ya, saya rasa begitu, arigatou atas pujianmu. Akan saya perpanjang dichapter ini. (mungkin, hehe)

Uchihyuu nagisa: oh, begitu rupanya, saya agak khawatir kedepannya masih tidak ada perbaikan. Gommen! 'sebetulnya adegan nosebleed itu membuat saya kena jitak beberapa orang'

Hina bee lover: waah mudah ditebak yaa,, jalan cerita saya! ( neji: kau memang tidak misterius!, Author: haah padahal saya sudah berusaha keras)

Mayumi-chan: ah, cerita saya seru! Arigatou (bungkuk-bungkuk), yaa,,, saya minta maaf atas kecerobohan saya, gommen,, (bungkuk-bungkuk lagi)

Nerazzuri: Wuah, saya jadi inget sensei saya,, Guy-sensei dengan senyum blitznya! Arigatou gozaimatsu!

Desclaimer : masih punyanya MASASHI KISHIMOTO

.

.

.

Aku terus memandangi sungai itu, sampai aku sadar akan kehadiran orang lain, dengan mata biasa aku rasa tak akan ada yang menyadari keberadaannya, mungkin dia seorang shinobi yang sedang berlatih, karena air sungai terangkat dalam jumlah besar namun tertahan diudara untuk waktu yang cukup lama, membentuk kubah sempurna. Air itu tampak indah saat terpantul sinar matahari membentuk pelangi sementara disekitarnya.

Mungkin rasa penasaran yang membuatku mengaktifkan mode byakugan. Sejujurnya aku tak pernah melihat jurus ini sebelumnya, apa fungsi kubah air yang diameternya hampir lima meter sendiri? Munggkinkah sebagai perisai? Pandanganku menyapu lurus kearah sungai, disebuah pohon dipinggir sungai, dekat akar-akar yang menonjol, ada jaket yang terlipat rapih, aneh, aku merasa tidak asing dengan jaket itu. Sebelum aku memandang teralu jauh aku tahu siapa shinobi yang berlatih disiang terik ini, aku segera mengembalikan pandanganku seperti semula, jantungku berdebar hebat. Kenapa Hinata-sama berlatih dilapangan panas-panas begini? Latihan saja dihalaman rumah! (Author: "Neji-kun bodoh! Kan ga ada sungai dihalaman rumah! Masa mau berdiri diatas kolam ikan koi!, Neji: "iya ya,, Heeeh… jangan ganggu ceritaku!, mari kita teruskan.[sambil dorong author kejurang])"

Sebersit terlintas ide yang membuatku bingung beberapa saat, ini bisa jadi ide baik tapi juga buruk, aku sendiri bingung bisa melakukannya atau tidak. Kalau gagal, aku tak tau lagi harus ku kemanakan mukaku (Author:yaa tetap di wajahmu lah!). Tapi yaa inilah yang terjadi…

.

.

.

Aku menyamar menjadi Tenten, berlagak seperti orang yang ingin berlatih, jauh dilubuk hatiku aku berharap tenten yang asli sedang dalam misi yang sulit dan tidak akan kembali ke desa sampai minggu depan, walaupun itu berarti tenten akan berada dalam kesulitan besar (tenten di gerbang konoha setelah menjalankan misi : "HuatcHIM, sepertinya ada yang memikirkanku") makin dekat ke sungai, jantungku makin berdebar, dengan jurus sebesar itu, aku tak mendengar suara sedikitpun, cipratan air saja tidak, mungkinkah itu jurus baru hinata-sama? Tapi aku agak sangsi dengan kekuatan jurus itu sekarang.

Aku hampir sampai sungai, tapi sebelum sampai aku sudah terkejut melihat chakra hinata-sama membentuk bola besar yang sempurna, setengahnya berada diatas air, setengahnya lagi mendorong permukaan sungai, membentuk air dibawahnya menjadi pusaran yang konstan, bentuknya seperti rasenggan naruto, hanya ukurannya lebih besar, dan menggunakan media air bukan angin. sekilas tampak dia berdiri ditengah-tengah bola chakra, rambutnya tersebar, terlihat anggun dan mematikan dalam waktu yang bersamaan. Apa benar dia Hinata-sama yang selama ini ku kenal?

Kejadian itu tak berlangsung lama, chakra hinata-sama perlahan memudar seiring tenangnya permukaan sungai, semua itu berakhir saat angin yang menerbangkan daun-daun kering mulai lenyap. Aku terpaku, kemarin aku terbius kecantikannya, sekarang aku terbius dengan jurus barunya, kurasa dia memang cukup pantas menjadi ketua klan kami, klan hyuuga yang terhormat.

"t,,Tenten? A,,apa yang kau lakukan?"

"…" aku bingung, bagaimana tenten menghadapi kejadian ini?

"a,,apa kau baik-baik saja?"

"ah,, ya,, a,,aku ba,, baik, tentu saja" aku gugup, ini perbuatan bunuh diri yang bodoh!

" kau ingin latihan?" suara hinata lembut, anggun dan tegas tidak seperti biasanya

"I,,iya," aku takut ketahuan sekarang

Hinata-sama berjalan kepinggir sungai, kearahku, dengan kaus jaring-jaring hitam yang ketat, bentuk tubuh hinata-sama terlihat jelas, melihatnya kepalaku mulai teras berat, rasanya ada gempa, dunia serasa berputar, aku berusaha keras untuk tidak memandang tubuh hinata-sama. memandang apapun untuk mengalihkan perhatianku. Kami-sama maafkan dan tolonglah aku….

Hinata-sama hanya berjarak beberapa langkah dariku, dia tersenyum, kepalaku pusing dan aku merasa panas yang luar biasa, aku mulai mengucurkan keringat yang meleleh dari dahiku, perutku terasa diaduk, mual. "Tenten, apa kau sehat?" suara itu menggetarkan nyali terakhirku. Tapi aku harus memberanikan diri memandangnya agar bidadari ini tidak menaruh curiga padaku, saat aku memandangnya, ia sedang mengenakan kembali jaketnya, aman, terimakasih kami-sama…

"mukamu merah, apa kau demam?, kau yakin ingin latihan?"

"en,,entahlah" aku tidak boleh gugup begini terus!

Hinata-sama memandangku penuh arti, bisa saja dia khawatir, atau mungkin dia curiga, entahlah …

"uhm,, kurasa aku harus pulang sekarang"

"oh..ya" kenapa dia pulang sekarang?

"jaa nee" Sial,,,sial,,, sial

Saat hinata-sama mulai menjauh, aku merasa hampa

"Hianata!" bodoh,, apa yangku lakukan?

"y,,ya?"

"Jurus barumu tadi, hebat!" Pipi gadis itu merona, cantik..

"a,,arigatou atas pujianmu" Giliranku yang tersenyum, lega rasanya…kadangkala penghianatan mulutku tidak selalu berakibat buruk, kurasa...

(seseorang diatas pohon memandang kejadian itu sambil tersenyum, senyum kejahatan yang diikuti beberapa ide sinting. 'sekarang kena kau senpai!')[Neji: hei author!, siapa orang ini?]

.

.

Saat hinata-sama telah benar-benar pergi, aku kembali kewujud asliku. Aku duduk dipohon tempat hinata sama menaruh jaketnya tadi, aku merasa bahagia, lupa bahwa besok tugas baru menjadi ANBU sudah menungguku. Memandang matahari yang hampir terbenam, di jam yang sama dimasa yang lampau, Hinata-sama mencuri hatiku atas ketidak sengajaanku. 'hinata-sama aku menyayangimu, tak peduli kau akan membalasnya atau tidak, tak masalah kau menyadarinya atau tidak, aku tetap sayang padamu, hinata-sama' aku tersenyum, merasakan sesuatu mengalir hangat di hatiku, berdesir menenangkan perasaanku yang selalu sepi. (author:wuah, kau bisa juga jadi romantis!)

.

.

.

Yaa, lanjut di chapter depan!

Tapi sebelumnya ada yang bisa tebak siapa yang ngintip dari atas pohon ga?

Dan saya mohon review,

Anda tidak harus memiliki akun kok, untuk me-review saya!

(neji:kenapa kau memaksa sekali sih! Author: kan untuk perbaikan!)