Yaa.. ini masih ujian tapi saya sudah kembali
Cerita ini berkembang lebih serius jadi jangan berharap banyak untuk tertawa ya!
Saya balas reviewnya!
Mayumi-chan: hahaha, Ini dia ceritanya, semoga kamu suka
Uchihyuu nagisa: Alasan yang bagus, tapi jawabannya kurang tepat
Noname: yaa, ini sudah lumayan cepatkan?
Nerazzuri: saya ga sanggup ngetik segitu banyak dalam satu waktu, hehe
Hina bee lover: ya, bener neji sayang banget ma Hinata, yaa masih jadi misteri neh
Chikuma-new: thank you, typo yang sekarang kayaknya lebih sedikit deh,,Neji ada salam!
Yuiki Nagi-chan: alamatnya ga bisa masuk inbox ternyata, jadi aku tulis disini ya
( http:/ forum . kompas . com / showthread . php ? 29086 - Byakugan - Eyes 'no spasi!')
Iruma Aikawa: saya sudah cek tulisan ini berkali-kali semoga typo-X udah ga da. Salah semua tebakannya! Coba lagi!
Shinra Almighty Push Tensei: akhirnya dikau baca cerita saya juga, jadi gabung ga? Thanks ya!
Sabaku no ligaara: wah, terimakasih atas sarannya! Aku suka ceritamu! Review cerita ini lagi ya! Kutunggu sarannya!
Desclaimer: MASASHI KISHIMOTO lagi
X X X X X X
Aku sudah menyiapkan semuanya untuk misi besok, berkali-kali ku cek semuanya sudah lengkap, kenapa aku tetap terjaga? Bulan purnama tampak indah dengan sinarnya yang mencoba menembus masuk kamarku. Aku menyerah, kembali duduk dan bersandar pada dinding pembatas yang memisahkan kamar Hinata-sama dengan kamarku.
Aku mencoba memejamkan mataku, membayangkan Hinata-sama bersandar di dinding yang sama, memikirkan hal yang sama. Aku tau hal itu hanya sebatas anganku saja, mengingat apa yang sudah terjadi diantara kami berdua. Aku merasa sangat frustasi dengan situasi yang sedang kuhadapi.
Mungkin keinginan untuk berada disisinya selama mungkin, atau mungkin kebiasaanku menjaga Hinata-sama disetiap waktu membuatku melangkah mengambil seuntai kalung dengan bandul tabung berisi gulungan kertas khusus. Kutaruh kalung itu di lantai depan pintu kamar Hinata-sama, berharap esok dia menemukan dan memakainya. Berharap benda itu akan berfungsi suatu hari kelak
X X X X X X
Disinilah aku dan inilah misi ANBU pertamaku
" Menjaga perbatasan selama satu minggu!"
Merana, hanya itu yang kurasakan. Berdiri di balik benda yang besar, menyamar menjadi sesuatu, menunggu hal yang tidak diinginkan, menggunakan topeng kucing aneh, ditambah lagi dengan aku harus menghadapi ini selama seminggu penuh, kata siapa ANBU hebat?
Aku pasti mati bosan kalau tidak melayangkan pikiranku kembali ke desa, memikirkan Hinata-sama yang tersenyum dengan pipi yang merona, kemudian aku akan tersenyum. Topeng kucing aneh ini melindungiku dari "dianggap sudah gila", aku mulai berhipotesa sendiri, mungkin ini memang fungsi topeng ANBU yang sesungguhnya.
X X X X X X
Malam adalah saat paling menyebalkan dalam misiku. Satu, karena gelap, situasi jauh lebih rawan, persentasi keberhasilan menyusup akan lebih besar. Dua, karena rawan, kami harus berjaga ekstra ketat. Tiga, malam adalah waktu istirahat normal dan kami malah bekerja ekstra, APA-APAAN!
Langit malam ini tidak secerah langit dimalam saat aku masih tidur di kamarku dalam kediaman klan Hyuuga, awan berarak dan dingin yang menusuk, mungkin hujan akan turun. Suara gemerisik pohon yang tertiup angin membuat suasana makin mencekam, sampai aku mulai sadar, suara ini terlalu ganjil untuk gemerisik daun,,
"BYAKUGAN!"
Aku tercengang mendapati ratusan ninja hampir menembus perbatasan, jumlah ANBU disini hanya sepuluh orang, aku sudah mencium bau darah sebelum pertarungan dimulai. Seseorang dari kami harus melaporkan hal ini, dan tidak sulit memutuskan siapa yang harus pergi. Satu-satunya anggota wanita dalam tim patroli ini yang aku belum ketahui namanya pasti menjadi pilihan satu-satunya, sedangkan Sembilan orang lainnya harus menahan pergerakan musuh paling tidak sampai bala bantuan datang.
Aku tidak yakin dengan kegunaan ranjau yang sudah terpasang, bila jumlah ninja yang harus kami hadapi mencapai ratusan orang. Sembilan ANBU, sehebat apapun ANBU, Sembilan banding seratus bukan hal yang masuk akal, tapi hanya itu pilihan yang ada. Lari hanya akan membahayakan lebih banyak nyawa.
"Hakesho kaiten"
Tepat saat hujan kunai datang, aku berputar 360 derajat, melindungi ANBU lainnya. Aku memberanikan diri berada digaris depan, kemampuan bertarung jarak dekatku lebih baik, aku akan jauh lebih berguna di garis depan walau kemungkinan terbunuh dalam posisi ini lebih besar.
Hujan turun, dingin yang menusuk tubuh sampai kedalam tulang, aku mulai menggigil dalam tiap gerakan bertahan melindungi tiap anggota tim kami. Sesuatu yang menyesakkan tiba-tiba datang, tubuhku merasa terhimpit dengan tekanan yang luar biasa, terlintas dibenakku,,
"Hinata-sama.."
Sedetik kemudian aku telah berada dibelakang ANBU lainnya. Disisiku tim delapan dalam formasi lengkap siap tempur.
"AUK" (suara akamaru, tapi jelek T_T)
"Bagaimana kau melakukan itu?"
Teleport jutsunya berhasil,,,
"Jangan tanya hal yang tidak penting, sebaiknya kalian bawa Hinata-sama kembali ke desa"
Aku menyadari tatapan Shino, tapi ada yang lebih penting dari meributkan jutsu yang hampir punah itu..
"Nii-san,,misi kami membantumu." Suara Hinata-sama bergetar, menggambarkan ketegangan dalam nada suaranya.
Aku merasa terhempas mendengarnya, bagimana melindungi dirinya dalam situasi ini?
Hinata-sama menggigit jarinya hingga mengeluarkan darah lalu membuka tujuh segel chakra, menempelkan tangannya pada permukaan tanah, kemudian dari tanah itu muncul lingkaran yin dan yang yang besar, air hujan membentuk kubah sebesar lingkaran yin dan yang mengikuti kubah chakra Hinata-sama.
"Hakke Kūshō"
Aku terperangah, jutsu Hinata-sama saat latihan di sungai itu, membentuk kubah menjadi perisai bagi kami, Hinata-sama memukul air dengan chakra, menjadikan air seperti kunai dalam jumlah ribuan, Tenten-pun belum tentu bisa menandinginya. Bertahan dan menyerang dalam satu waktu.
Satu menit, lama waktu jurus itu. Aku meraih tubuhnya yang limbung sebelum jatuh. Delapan ANBU lainnya serta Kiba dan Shino mulai menyerang sisa musuh yang tengah bergerak mundur. Hinta-sama kehilangan kesadaraan untuk sesaat, chakranya terkuras untuk satu jutsu itu.
"Hinata-sama, bertahanlah,," aku merengkuh tubuhnya dalam dekapanku, dingin hujan menghujam tubuh kami.
"Nii-san" Suaranya terdengar lemah, aku bangkit membopongnya mencari tempat berteduh. Air mataku meleleh tercampur dengan hujan malam itu, tangisan pertamaku sejak kematian ayahku.
X X X X X X
Yaa,, gimana cerita saya?
Dah lebih baik?
Sampai jumpa di Next chapter
REVIEW!
Neji: review ya! aku pusing ngeliat author nungguin review doang!
