yaa, saya kembali..
ujian memang merepotkan
tapi untung sudah lewat, beberapa nilainya bahkan menginjak angka 9! KYaa!
sudah ga di center lagi, gommen yang pusing baca chap sebelumnya!,
Mayumi-chan: aku Cuma biasa bilang, Arigatou
Hina bee lover: haha, kalo terlalu panjang takut aneh ceritanya. (padahal emang udah aneh)
Shaniechan: Tak apa, yang pentingkan sekarang dah di-review. Jawabannya ada di chapter 6, sabar yaa!
Nerazzuri: Oke dech! Aku balikin kaya chap sebelumnya, kupikir lebih bagus, hehe.
Yuki Nagi-Chan: gommen, belum bisa ngembangin cerita dengan bagus, jadinya pendek-pendek gini dech.
Uchihyuu nagisa: Chapter 6 akan terjawab kok! Sabar yaa…
Cerullean read: jurus itu terinspirasi dari game namco, bandae, naruto shipuden, cuman versi lebaynya, hehe.
Micon: Gommen, chapter ini sudah dikembalikan ke wujud aslinya (?)
Iruma Aikawa: wah, harus sabar sampe chapter 6! karena jawabanya baru ada disana!
Yuki mito: gommen nee, update-nya lama,,
Chikuma new: Arigatou! Cuman di chapter 4 dan 5 kok! Setelahnya akan ada banyak humor yang bertebaran (?)
Desclaimer: kayaknya MASASHI KISHIMOTO, benerkan?
.
.
.
Seminggu sudah Hinata-sama terbaring lemah dirumah sakit. Hanabi-sama bergantian denganku menjaga Hinata-sama. Kondisinya yang tidak lebih baik dari saat ia pingsan di hutan hingga sekarang membuat hatiku terasa sakit. Aku berharap ia segera siuman, membuka kembali mata peraknya. Kupandangi bidadari kecilku. Kalung itu masih tergantung melilit tangan kanannya. Kupikir aku bisa melindungi dirinya disaat ia membutuhkan bantuanku, aku tak pernah menyangka kalau yang terjadi malah justru sebaliknya.
"Nii-san" Untuk kesekian kalinya Hinata memanggilku, awalnya aku mengira bahwa ia tersadar, namun ternyata ia hanya mengigau saja. Dalam ruangan ini hanya ada kami berdua, kugenggam tangannya erat."Hinata, bangunlah, aku rindu padamu, kumohon.." aku kembali meneteskan air mata, merengek tak ubahnya anak kecil yang minta permen.
Kupandangi kembali wajahnya, pandanganku kabur tergenang airmata, dan disana kulihat rona merah itu kembali muncul di kedua pipinya. Bibir mungil merah mudanya menyunggingkan senyum menahan tawa.
"Nii-san sungguh merindukan ku?"
"Hinata!" aku tercengang. Segera kupalingkan wajahku, menghapus air mata yang mengganggu penglihatanku, "kau sudah sadar?"
",,,"
Aku berbalik untuk memandangnya. Ia masih menutup matanya, tapi rona dipipinya menjelaskan bahwa ia sudah siuman. Aku tak sanggup menutupi senyumku. Melangkah lebih dekat kesisinya, lalu aku merunduk, mendekatkan wajahku dengan wajahnya. "muach" kekecup kening adik sepupuku. Saat ku tarik wajahku, rona merah itu makin jelas diwajah pucat bidadariku.
"Nii-san,," suaranya terdengar manja, aku bahagia, aku benar-benar merasa bahagia mendengarnya. Lama kami saling bertatap sampai…
Brak!
Pintu terbuka, Hanabi masuk seenaknya merusak suasana
"Neji nii?.." suaranya cempreng memecah keindahan ini, saat dia menatapku, aku hendak marah pada Hanabi, dia selalu berulah didekatku, tapi tidak bisa kulakukan karena Hiashi-sama berdiri dibelakangnya. Mereka berdua memandang kami dengan tatapan aneh, bahkan Hanabi melongo dengan mulut terbuka.
Tangan kananku tiba-tiba seperti kena sengat, aku segera melepaskan genggaman tanganku. Hinata-sama terbatuk, entah malu entah kaget. Aku sendiri bingung menghadapi situasi ini, memegang tangan Hinata-sama di depan Hiashi-sama dan Hanabi seperti ketahuan menggintip pemandian wanita dengan byakugan. Tapi itu bukan berarti aku pernah mengintip wanita mandi. Ya aku akui memang pernah sekali, tapi itukan tidak sengaja.
Hening beberapa saat, lalu,,,
"Huaaaa,aaaa,aaaa" Hiashi-sama tertawa keras
Aku bingung, "Hanabi temani ayah jalan-jalan, sudah lama ayah tidak berkeliling desa" Hiashi-sama meraih tangan hanabi dan menyeretnya keluar. "Neji, tidak apakan kalau kau menjaga Hinata lebih lama lagi?" lalu mereka berlalu sebelum aku menjawabnya.
Aku berbalik menatap adik sepupuku yang terbaring, "Nii-san bahkan mau menjagamu seumur hidup"
"Janji?" Hinata melirikku, tersenyum menggoda dengan pipi yang merona.
"Kalau kau mau!" dia membalas perkataanku dengan senyum, mengertikah ia dengan maksud perkataanku?
.
.
.
Pagi ini Hinata sama sudah boleh pulang, tapi aku harus pergi untuk tiga hari kedepan. Mengawal rombongan diplomatis Negri Pasir. Aku rasa bukan tugas berat, mengingat orang yang ku kawal juga sama-sama ninja, maka tugas ini sekedar formalitas, soal keselamatan, paling tidak mereka bisa kabur menghindari pertarungan.
Jadi kurelakan kesempatan mengantar Hinata pulang diambil alih Hanabi, sedangkan aku berangkat pagi-pagi sekali setelah sinar matahari mulai mewarnai langit diufuk timur. Dan semua sesuai rencana samapi aku kembali berada di kediaman klan Hyuuga.
.
.
.
"Nii-san!"
HANABI! Apa lagi sekarang? "Hm,,"
"Nii-san, Tou-san memindahkan kamarmu, barang-barang Nii-san sudah dipindahkan ke kamar yang ada didekat pintu barat, buku-buku Nii-san ada dalam kotak diatas lemari. Dah Nii-san!" cerocos Hanabi sekenanya, lalu berlari melewati halaman.
Aku melongo, kalau yang Hanabi bilang benar jadi semakin sulit berada didekat Hinata. Hiashi-sama, teganya kau melakukan ini padaku! Rasa lelah setelah perjalanan di gurun pasir tiga hari yang lalu kembali muncul. 'Tou-san, bisakah kau mendatangi Jii-san dan menyuruhnya mengembalikan diriku kekamar lamaku?'
Aku tetap masuk lewat pintu utara, mengecek perkataan Hanabi sekaligus berharap bisa berpapasan dengan Hinata dilorong kamar. Kamar hinata tertutup rapat, disebelahnya, kamarku tiga hari yang lalu, pintunya terbuka lebar menampakkan ruang kosong yang dilapisi tatami saja. Aku menghela napas, menggeser pintu kamar, meneruskan langkahku menuju kamar baruku.
.
.
.
Kamarnya jauh lebih luas dari milikku yang dulu. Aku akui kamar baruku memang lebih baik dari sebelumnya secara keseluruhan, tetapi aku tetap lebih suka tinggal di sebelah kamar Hinata-sama. Mendengar senandung kecilnya tentang lagu cinta,atau gerutuannya pada Hiashi-sama dan pekikan kecil saat sesuatu terjatuh.
"Apa Nii-san butuh bantuan untuk merapihkannya?"
"Hinata, bagaimana keadaanmu?"
"a,,aku ba,,baik, Nii-san?"
"Menurut mu?"
Pipinya langsuh merah padam tanpa melewati fase merona seperti biasanya.
"Nii-san,,"
Eh! Sejak kapan bicara Hinata jadi terdengar merayu?
.
.
.
Malam ini aku berbaring dalam kamar baruku yang hangat, tapi mataku sulit terpejam. Indra pendengaranku semakin larut semakin tajam, membuatku membolak-balik posisi tidur setiap sepuluh detik sekali.
"Nii-san" suara samar-samar Hinata mulai berdenging dikepalaku, mungkin aku sudah mulai mengantuk.
"Neji Nii,,,," eh, serius Hinata memanggilku?
"Neji-kun,,," haah, yang benar! Aku bangkit dari kubur, eh dari tidur maksudnya.
SREG, suara pintu digeser
"HINATA!" jantungku benar-benar loncat keluar saat melihat dirinya berdiri dibalik pintu dengan…
Ya,, saya tau ini garing banget.
Tapi saya dah punya gambaran jelas untuk chap 6 dan
Mungkin cerita ini akan berakhir diluar dugaan!
Jadi review kecil anda berpengaruh besar bagi dunia
Neji:(ngelirik author) Apa sih, ga jelas!
