yap akhirnya cerita ini selesai juga

gommen updatenya lama! 'bungkuk-bungkuk'

baiklah, saatnya membalas review!

Iruma Aikawa : Eh benarkah?

Sawal Bener si oren ganteng : fic inikan saya buat agar aman dikonsumsi ratted T, jadi memang tidak saya buat secara vulgar.

Ddangko:Haaha akhirnya ada yang penasaran juga! Semua jawabannya ada disini kok!

Nerazzuri : hehe kayaknya Hiashi kesambet tuyul rumah sakit dech.

uchihyuu nagisa : tenang-tenang merekakan teralu kecil untuk urusan nikah-nikahan, Neji aja yang mikirnya lebay! Hiashi kan manusia juga, walopun Jaim dia tetep punya selera humor.

Mayumi Nakano: saya ga berani bilang kalo chapter ini lebih panjang,, gommen!

Shaniechan: dengan cerita dibawah ini!

Ga mengerikan kok, justru konyol kalo dibayangin.

Cerullean Reed : tidak perlu minta maaf, memang chapnya pendek. Saya belum berani bikin chap panjang, takut aneh, gommen!

Chikuma new : Arigatou! Gommen soal alur, soalnya ide cerita ini didapat saat saya sedang ditengah-tengah ujian, jadi saya ceted acak-acakan di sisi soal. Jadi alurnya sprint, ngejar jam ujian, hehe

Yuiki Nagi-chan : kok tau sih, kalo ini chap terakhir? Hebat, kaya Ino, bisa baca pikiran.

Hina bee lover : setelah baca saya harap kamu menemukan jawabannya, dan karena masih kecil, soal restu jangan dipikirkan dulu.. oke?

.

.

.

"HINATA!" jantungku benar-benar loncat keluar saat melihat dirinya berdiri dibalik pintu dengan hanya memakai ATASAN SAJA!. Jaketnya yang hanya diresleting setengahnya, menampakan kaus jaring hitam pembungkus dadanya yang agak, ya kalian tau lah, aku dilarang menyebutkannya disini...dan tinggi jaketnya yang cuma mampu menutupi sepersepuluh dari bagian pahanya secara keseluruhan membuat kaki jenjangnya terlihat sangat sempurna dalam remang cahaya. Mimpi apa aku semalam?

"Nii-san jangan berisik" suaranya mendesah pelan, aku panik tak keruan. Siapa yang tak akan shok melihat Hinata tanpa bawahan? Naruto saja bisa langsung pingsan! Kalau bukan karena kecelakaan waktu lalu, aku mungkin sudah tergeletak dengan darah yang keluar dari hidungku saat melihatnya.

[Hanabi: kena kau senpai !]

"Hinata apa yang kau lakukan?" aku membentak dalam bisikan. Tubuhku sudah kaku tak bisa bergerak.

"Nii-san tidak suka ya?" matanya membulat memandangku, suaranya terdengar kecewa, aku bingung harus jujur atau tidak. Ya, jujur saja, semua laki-laki normal manapun akan menyukai ini, tapi tidak mungkin kubilang iya, nanti aku dibunuh Hiashi-sama!, namun kalau melihat Hinata yang kecewa berat, aku juga tak tega berbohong, toh memang sebenarnya aku suka!

"…" aku masih bingung, sementara Hinata sudah hampir menangis, gawat, bagaimana ini?

Suara langkah kaki terdengar dari ujung lorong, aku yakin Hinata juga mendengarnya, tapi baik Hinata maupun diriku sendiri masih bertahan dalam posisi kami, aku belum bisa bergerak, Hinata sendiri tampaknya juga enggan pergi. Semakin dekat, jantungku makin berdebar, rasanya akan meledak dalam beberapa detik lagi.

Keringat dingin meluncur dari keningku, mataku belum berkedip menatap Hinata-sama. Aku meneguk air liurku sendiri, sampai aku bisa mendengar suara air liurku turun ketenggorokan dengan jelas. Darahku rasanya naik semua kekepala, menimbulkan pusing yang luar biasa dan membuat pandanganku mulai berkunang-kunang.

[Hanabi: puppy eyes no jutsu!]

Wajah bidadari kecil yang berdiri di depanku-pun sudah cemberut dan siap menumpahkan air mata, mengingatkanku pada kucing kecil yang baru beberapa minggu lahir. Benci setengah mati ku akui, aku justru malah makin suka! Aku curiga, Hinata menggunakan genjutsu malam ini, diakan murid Kurenai sensei.

"Nii-san!" eh, bukannya itu suara Hinata. Aku tersadar dari lamunan konyolku, menyadari bahwa suara tadi berasal dari ujung lorong, dan suara itu milik bidadari kecilku yang anehnya sedang berdiri didepanku.

[hanabi mind: nee-chan! Bukannya dia sudah tidur, gawat!]

Aku memandang lurus wajah sepupuku yang berubah tegang, kemudian memalingkan wajahku ke ujung lorong dan disana, sulit kupercaya kudapati seorang Hinata-sama lainnya yang menggunakan kimono berdiri didekat pilar besar, wajahnya tampak terkejut pada apa yang ia lihat, yang berdiri tepat didepanku.

Kejadian selanjutnya adalah kejadian berdurasi tujuh detik yang sulit kujelaskan dan kuceritakan namun sungguh ta akan kulupa sampai kapanpun.

"Hentai yaro" ucap Hinata diujung lorong, mengambil kuda-kuda dan tiba-tiba…..

.

.

.

"Jyuken" Hinata yang berdiri didekatku dan aku sendiri, belum sempat merespon kejadian itu jadi tak sempat melakukan apapun, [Hanabi: Nee-chan!]

Yang ku ingat hanya ada aliran angin yang cukup kuat untuk mendorong seseorang ke tembok batu diujung lorong, telak mengenai gadis yang berdiri didepanku, menerbangkan helai rambutku hingga menutupi wajahku selama beberapa saat. Aku menoleh ke arah ujung lorong barat, dimana Hinata dalam balutan kimononya telah beranjak mendekatiku lalu aku menoleh keujung lorong timur, dan disana tergeletak Hinata-sama yang tiba-tiba berubah menjadi seorang gadis kecil, ya gadis kecil dengan baju tanpa lengan yang sering membuat onar dalam hidupku, dialah Hanabi. Hanabi si Hyuuga kecil yang selalu mengerjaiku disetiap kesempatan. Jadi yang barusan merayuku itu ternyata bunshin Hanabi, pantas aneh!

Aku beranjak dari tempatku berdiri setelah paham duduk masalahnya dan menghampiri Hanabi yang mungkin pingsan akibat Jyuken Nee-channya sendiri, pelajaran berharga yang kudapat, sexy no jutsu adalah jurus yang berbahaya bagi kaum pria, tapi tidak mempan untuk wanita. Aku menyunggingkan senyum, senyum bahagia karena bisa melihat kejadian yang luar biasa langka ini. Hinata berdiri disampingku saat aku berjongkok mengecek keadaaan gadis usil yang sudah tak sadarkan diri tergeletak dilantai kayu. Dia hanya pingsan karena kaget saja, benturannya tidak menimbulkan memar atau luka sedikitpun.

Hening beberapa saat,,

"Nii-san" Hinata memecah kesunyian

"Hnnn" aku hadapkan wajahku kesamping.

tik...tik...tik

Detak jam memecah kesunyian, aku terpaku dengan wajah yang terasa panas terbakar. Hidungku bersentuhan dengan hidung Hinata, kulihat dalam samar matanya yang membulat terkejut dengan pipi merona merah sempurna, dia sungguh dewi pelipur laraku. Aku sungguh mencintainya, menyayanginya dan ingin memilikinya. Aku memiringkan kepalaku, menempelkan bibirku dengan bibir mungil miliknya. Aku bersiap menerima sebuah penolakan darinya, tapi penolakan itu tak kunjung datang, lebih mengejutkan lagi ketika suara desahan tertahan mengalun lemah darinya.

Terkejut, aku sungguh tak menyangka reaksi yang diberikan Hinata justru reaksi yang jauh berbeda dari yang kubayangkan. kulihat wajahnya dengan pipi yang merona dan mata yang tertutup rapat. "Hinata,,"

"Nii-san" jawabnya setengah berbisik, "Muach" bibirnya mengecup cepat pipi kananku, lalu ia bangkit pergi meninggalkanku disini sendiri, oh ya dengan Hanabi yang pingsan tentunya, jadi berdua, ah apa sih yang aku bicarakan ini!

Kuangkat tubuh kecil Hanabi, aku janji esok aku akan berterimakasih pada Hanabi, kadangkala ulahnya membawa berkah berharga bagiku. Untuk kasus kali ini, aku mendapatkan dewi yang kucintai, Hyuuga Hinata.

.

.

.

Yap, fic ini berakhir di chap ini!

tapi kalo ada yang mau tau terusannya

silakan Review,

saya akan membuat judul baru untuk kelanjutannya!

jadi ditunggu reviewnya ya!