Chapter 2

Jadi berangkatlah Molly, Nadia, dan Dhona ke King's Cross station. Memang tidak sama-sama, tapi setidaknya mereka sudah berjanji untuk bertemu disana.

"Hai, Mol." Terdengar suara yang sudah tidak asing lagi di telinga Molly.

"Nadia? Dhona? Nice to meet you. Aku nggak nyangka waktu secepat ini berlalu. Dan begitu ajaib," kata Molly.

"Ya mau gimana lagi? Tapi memang hebat sih, mengingat kita masuk sekolah sihir bego yang sebelumnya kita nggak tahu itu apa. Tapi di surat, katanya kita harus menembus palang tiang antara peron 9 dan 10, ya? Lha, pegimana caranya?" tanya Nadia.

"Coba-coba aja, pasti bisa," kata Dhona.

"Wah, boleh tuh! Kita coba aja lari nembus palang tiang itu. Secara kan kita penyihir. Wuih, ada untungnya jugalah jadi penyihir," kata Molly.

Mereka pun mencoba berlari dengan koper yang berada di troli masing-masing. Mereka berlari...dan berhasil! Dampaknya, mereka harus kelepek-kelepek di tanah karena pusing..

"Aduh...aku pusing nih! Bantuin dong!" kata Nadia seenaknya.

"Yeee...aku sama Molly juga pusing, tauk!" kata Dhona.

Setelah akhirnya mereka berhasil berdiri, mereka langsung naik ke kereta Hogwarts Express yang akan berangkat jam 11.00 am.

"Akhirnya kereta ini gerak juga," kata Dhona sambil memandang ke luar jendela.

"Eh, kamu ada bawa makanan nggak? I'm really hungry," kata Nadia.

"Aku sih nggak bawa...How about you, Mol?" tanya Dhona kepada Molly.

"Kagak ada juga. Mungkin ada orang yang jualan makanan disini," sahut Molly.

Tahu-tahu, datanglah seorang ibu-ibu yang sudah tua yang mendorong troli makanan dan ibu itu menawarkannya pada mereka.

"Ada Kacang Segala-Rasa, Cokelat Kodok, Cokelat Kuali, dan lain-lain," kata ibu itu. Mereka bertiga langsung mengambil semua makanan itu.

"Semuanya lima puluh Sickle," kata ibu itu.

"Ha? Sickle? Uang apaan tuh?" tanya Molly keheranan.

"Aku cuma punya sepuluh Poundsterling," tukas Dhona.

"Ya sudah, berarti..."

"Eh, biar saya aja yang bayarin." Tiba-tiba datanglah seorang pemuda tampan nan tinggi.

"Eh...nggak usah...nanti merepotkan," kata Dhona salah tingkah.

"Nggak apa-apa, saya ikhlas kok," katanya pemuda itu.

"Kalau boleh tahu, namamu siapa?" tanya Nadia malu-malu.

"Oh, nama saya Cedric Diggory. Ya udah, saya pergi dulu ya," kata pemuda bernama Cedric tersebut. Dia pun berlalu dari pandangan Dhona, Nadia, dan Molly.

"Wah...dia baik ya. Ganteng lagi," puji Dhona dengan tulus.

"Yeee...kamu suka sama dia ya?" goda Nadia.

"Aku cuma kagum sama dia. Dia so sweet..." kata Dhona.

"Whatever," ucap Nadia akhirnya.

Akhirnya, setelah perjalanan yang super lama, mereka sampai di Hogwarts. Mereka, para murid baru, harus menempuh perjalanan dengan naik perahu, yang dibimbing oleh seseorang berbadan raksasa bernama Hagrid.

"Hogwarts emang bagus euy!" kata Nadia bersemangat ketika mereka sampai di Great Hall untuk diseleksi. Mereka diseleksi untuk menentukan asrama yang sesuai dengan kepribadian mereka masing-masing. Penyeleksinya adalah...sebuah topi butut! Weits, tapi itu bukan topi biasa! Itu Sorting Hat! Oya, di Hogwarts ada empat asrama yaitu Gryffindor (untuk anak-anak yang berani dan jujur), Hufflepuff (untuk anak-anak yang loyal, setia, dan pekerja keras), Ravenclaw (untuk anak-anak yang cerdas dan cendekiawan), dan Slytherin (untuk anak-anak yang berhati licik).

Nadia, Molly,dan Dhona sudah tidak sabar lagi untuk diseleksi. Akhirnya, tibalah giliran mereka masing-masing...dan beruntunglah mereka! Mereka bertiga masuk Gryffindor!

Setelah acara seleksi selesai, murid baru dari masing-masing asrama dibimbing oleh para Prefek menuju ke Common Room asrama masing-masing. Nadia, Dhona, Molly, beserta para murid baru lainnya yang seasrama dengan mereka, mengikuti Prefek bernama Percy Weasley. Murid perempuan pergi ke kamar tidur anak perempuan, dan murid laki-laki tentu saja pergi ke kamar tidur anak laki-laki. So far, Molly, Dhona, dan Nadia merasa senang di Hogwarts, karena Hogwarts memang sangat menyenangkan!