Makasih buat Reviewnya ! I'll try my best.

Kini masuk ke Chapter 2 ..


Fairy Tail © Hiro Mashima

My Last Prayer © Chiba Hikari

Warning : AU, Typo, OOC

Pairing : Jellal X Erza

Genre : Romance/Tragedy/Angst

Rating :T


.

"Kucoba...Kujalani…

Tak ada kau... Hidupku…"

.

Suara sirine terdengar samar-samar mungkin karena hujan bertambah lebat.

Sebuah ambulan berhenti sambil terus membunyikan sirinenya. Beberapa saat kemudian, ambulan itu melaju dengan kecepatan angin menuju sebuah gedung berwarna putih.

Terlihat sepasang murid bermandikan cairan merah berbaring di kasur dengan masker oksigen terpasang di wajahnya. Dua orang wanita berpakaian serba putih juga terlihat sedang sibuk memainkan alat-alat yang ada di sekitar mereka.

Ambulan itu berhenti di sebuah gedung pemilik lambang salib berwarna merah dan tertulis " RUMAH SAKIT UMUM MAGNOLIA" di dekat lambing salib itu.

Kedua orang wanita itu dibantu dua orang pria yang juga berpakaian serba putih dengan cekatan menurunkan sepasang anak berseragam sekolah itu dan melarikan mereka ke sebuah ruangan berinisial "UGD".

"Dokter Mira! Dokter Mira! Keadaan darurat !" teriak salah seorang dari kedua wanita itu.

"Ada apa Suster Lisanna?" jawab seorang wanita dengan rambut kemerahan sambil berlari.

"Ada korban tabrak lari, saya sudah memberikan pertolongan pertama untuk keduanya tapi sepertinya untuk yang yang satu lagi sudah parah." jelas suster berambut keperakan itu.

Dokter Mira segera melihat keadaan orang yang ditunjuk suster Lisanna. Tapi sepertinya dirinya juga menyerah akan keadaannya.

"Pendarahan pada otaknya cukup parah, sepertinya ada beberapa tulang yang patah. Ini bukan kasus yang bisa tangani." Wanita itu menghela nafas panjang.

"Bagaimana kalau saya yang menanganinya?" jawab sebuah suara lelaki.

"Oh, Dokter Gray. Anda mengagetkan saya. Kalau begitu, mulai sekarang anda bisa menanganinya." Jawab dokter muda itu sambil membalikkan badannya.

"Ok! Suster Lucy! Cepat bawa dia ke ruang operasi!" perintahnya pada seorang gadis berambut blonde.

"Baik, dokter!"

Dokter berambut biru tua itu segera berlari menuju ke sudut lain dari lorong yang berbau karbol itu mengejar bayangan kasur dorong dan suster berambut blonde tadi.

Di ruang UGD di waktu yang sama…

"Uhh.. Kenapa aku ada di sini?"

"Ah, rupanya anda sudah sadar. Tadi anda pingsan karena sedikit shok. Bagaimana keadaan anda sekarang?"

"Uhmm.. Saya merasa lebih baik."

"Syukurlah. Anda bisa beristirahat dahulu di sini."

"…"

"Anda kenapa? Ada yang bisa saya bantu?"

"Dia… Bagaimana keadaannya?"

"Dia ? Siapa "dia" yang anda maksud ?"

"Pemuda… Pemuda yang menolongku…"

"Oh, maksud anda pemuda berambut biru dengan tato di mata itu ?"

"Iya! Bagaimana keadaannya, suster! Beri tahu aku!"

"Keadaannya…"

"Tolong lanjutkan!"

"Baiklah, tapi anda tenang dulu. Saya tidak ingin membuat anda shok lagi."

"Maksud suster apa?"

"Begini…"

Wanita berambut Scarlet itu mendengarkan tiap kata yang terucap dengan seksama. Namun, semakin lama ditangkapnya kata-kata itu, dirinya semakin tenggelam dalam dunia yang selama ini ditakutinya. Dunia yang tak pernah terbayangkan olehnya. Dunia penuh ketakutan, air mata dan kesepian.

.

"Gelap... Sendirian…

Kutakut… Tak ada kau…"

.

Jellal's PoV

Di mana ini ? Kenapa gelap sekali di sini ? Kuputar kedua bola mataku berusaha mencari sesuatu ke setiap sudut yang bisa kutemukan. Tapi sia-sia. Semua tetap berwarna hitam.

Tunggu… Ada yang janggal di sini! Kenapa seluruh badanku terasa kaku? Kucoab gerak-gerakkan kesepuluh jari tanganku. Tapi tetap sulit kugerakkan. "Damn it! " kata itu yang terlintas di benakku.

"Hikss… Hiks… Jangan tinggalkan aku! Kamu sudah berjanji!"

Suara itu… Erza. Ada apa gerangan ia sampai menangis seperti itu? Siapa yang membuatnya menangis? Berjanji? Apa maksudnya? Kenapa tanganku seperti digoyang-goyangkan oleh seseorang?

"Jellal-kun! Hiks… Katakan sesuatu! Jawab aku ! Jellal-kun.. Hiks… "

Aku? Aku yang membuatnya menangis? Memangnya apa yang sebenarnya telah kuperbuat? Sebenarnya aku ini kenapa? Kenapa aku hanya bisa mendengarkannya? Kenapa aku tidak bisa membuka bibirku? Arghh! Ini semua membuatku gila!

"Tenanglah! Percuma… Ia tak mungkin bisa membalasmu. Hanya keajaiban yang bisa menolongnya saat ini, Erza."

Suara siapa itu? Laki-laki? Sepertinya ia kenal dengan Erza. Apa maksudnya "menolongnya" ? Menolongku? Seingatku tadi aku mendorong Erza saat ada mobil yang hampir menabraknya. Lalu, aku terhantam dan terlempar?

"Jellal-kun…"

Oh… Aku tahu… Aku sudah mati ? Hmm… Tapi setahuku kalau mati kita bisa melihat tubuh kita. Tapi kenapa di sini hanya ada warna membosankan ini? Dan tanpa sadar diriku kian lama kian masuk ke dalam kegelapan itu. Suara-suara itu juga semakin memudar.

Tapi… Silau! Cahaya apa itu? Kenapa aku tertarik ke dalamnya? Apakah aku sudah di surga? Tidak, sepertinya tidak mungkin. Ruangan serba putih itu hanya berisikan sebuah sofa yang sama putihnya dengan ruangan itu dan aku terjatuh tepat di tengah-tengah sofa itu. Lumayan nyaman pikirku.

Kuarahkan kedua bola mataku lurus ke depan. Kulihat sebuah film akan dimulai. Kuputuskan untuk menontonnya karena memang aku tidak bisa bergerak.

Film itu diawali dengan sebuah lagu. Lagu itu lagu sepertinya mengingatkanku pada sesuatu tapi aku tidak mengingatnya – itulah kebiasaan jelekku. Kemudian kulihat mahkluk mungil sedang tertidur dipangkuan seorang wanita dan sepertinya aku mengenalnya.

Tapi saat aku sedang asyik berpikir, tiba-tiba di layar film itu terdapat serangkai huruf yang membentuk kata "skip" . Padahal aku sudah hampir mengingatnya! Siapa yang memainkan remote-nya ? Ahh! Sudahlah!

Kini, mataku tertuju lagi pada layar itu. Dan kini aku menyadari segalanya! Itu film tercipta dari seluruh memori yang ada di otakku dari aku masih kecil – itu menurutku setelah kulihat scene ini. Di scene itu, aku sepertinya berumur empat tahun. Aku sedang bermain dengan seorang anak perempuan dengan rambut scarlet – itu pasti Erza!

Kutatap terus layar yang setiap detiknya bergulir itu. Emosiku mulai kacau. Dan kini sudah sampai pada puncaknya. Cairan berbentuk butiran menetes dengan deras karena adegan berlatar belakang sebuah pohon sakura yang sedang mekar dengan sepasang anak yang sedang tersenyum itu. Saat aku berumur duabelas tahun. Saat aku mengucapkan kata-kata yang tak mungkin bisa kulupakan seumur hidupku.

"Jellal-kun! Jellal-kun! Apa cita-citamu?" tanyanya dengan suara yang manis.

"Aku ingin jadi Astronot! Aku ingin pergi ke bulan!" jawabku dengan polos.

"Yah, kalau Jellal-kun pergi ke bulan Erza main sama siapa?" tanyanya dengan mimik sedih.

"Kamu kuajak juga! Kita ke bulan sama-sama! Tapi kalau kamu mau." kunaikkan otot kedua pipiku.

"Hmm… Gimana, ya? Erza belum berpikir mau jadi apa." jawabnya lesu.

"Kalau begitu, boleh aku tanya satu hal?" tanyaku sambil memalingkan wajahku ke arahmya.

"Apa?" jawabnya dengan nada bingung.

"Apa keinginan terbesar dalam hidupmu?" tanyaku tegas.

"Hmm… Erza ingin Jellal-kun bahagia!" pipinya merona saat menjawab pertanyaanku.

"Ehh? Maksudmu? Kamu tak punya keinginan yang lainnya?" suhu tubuhku tiba-tiba meningkat.

"Tidak. Erza ingin selalu melihat Jellal-kun tersenyum ! Ingin selalu bersama Jellal-kun! Jellal-kun mau selalu bersama Erza?" tanyanya takut-takut.

"Tentu aku juga ingin selalu bersamamu! Kita akan bersama selamanya!" jawabku sambil tersenyum.

"Betul, ya? Memang keinginan Jellal-kun apa?" kini senyum terlukis lagi di wajahnya.

"Kalau aku, aku ingin bisa mengabulkan semua keinginanmu. Karena Keinginanmu adalah keinginanku!" jawabku.

"Kalau begitu, kita janji, ya!" katanya sambil menyodorkan jari kelingkingnya.

"Ya, aku janji!" kugapai jari kelinkinnya dengan kelingkingku.

Setelah itu kugapai tangannya, kugenggam dengan erat. Kutaki dirinya menuju ke dalam gedung sekolah lagi – saat itu memang kami sedang berada di jam istirahat sekolah. Dalam hati, kukatakan bahwa aku berjanji tidak akan pernah melepaskan tangan ini, tak akan pernah mengingkari janjinya karena dia adalah orang yang paling berharga di dalam hidupku.

.

"Aku tidak bisa...Tak ada kau…

Karena… Tanpamu…"

.


To be continued…

Bagaimana? Aneh? Ada yang gak gelas? Please Review!

Arigatou…