Sebelumnya, terima kasih untuk reviewnya.

Enjoy the last chapter…


Fairy Tail © Hiro Mashima

My Last Prayer © Chiba Hikari

Warning : AU, Typo, OOC

Pairing : Jellal X Erza

Genre : Romance/Tragedy/Angst

Rating :T


'

"Kelingking… Tautan jari…

Tak ada kau… Tak mungkin…"

'

Ah, rintik air kembali membasahi bumi. Jarum jam menunjukkan pukul empat sore. Sepuluh jam sudah seorang lelaki berbaring di ranjang itu. Masker oksigen tak pernah lepas dari wajahnya yang terlihat tenang. Seakan ia sudah melepaskan segala sesuatu.

Seorang Erza, gadis berambut scarlet itu tetap menunggu dengan setia. Ia terlihat sedang duduk di sebelah seorang lelaki yang memejamkan matanya. Lelaki itu, Jellal.

"Jellal-kun. Apakah kamu bisa mendengarku?" tanyanya lirih.

Tepat setelah ia mengucapkan kata-kata itu, seorang lelaki menghampirinya. Lelaki berambut Rosy Pink dengan syal khasnya.

"Bagaimana keadaannya, Erza?" tanyanya sambil menaruh bunga di vas.

"Masih sama. Tidak ada kemajuan yang berarti." Erza menjawab sambil menghela napas panjang.

"Kau harus bersabar. Oh, iya, katanya kakek akan menjenguknya juga bila sempat." Lelaki itu menarik kursi dan menaruhnya sejajar dengan kursi Erza.

"Kakek Makarov? Bukankah ia sedang bertugas di luar negeri?" Erza mulai menunjukkan mimik bingung.

"Setelah ia mendengar berita itu, ia ingin cepat-cepat menjenguknya." Lelaki itu mengeluarkan ponselnya dan menunjukkan sebuah sms pada Erza.

"Oh… Hmm, nomong-ngomong kenapa kamu sekarang ada di sini, Natsu? Kamu bolos kegiatan klub lagi,ya?" Erza mulai melirik lelaki di sebelahnya dengan tatapan ganas.

"Eh… Tunggu… Jangan marah dulu. Aku ke sini karena hari ini klub sedang libur." Lelaki yang dipanggil Natsu itu menjawab dengan terbata-bata.

"Benarkah?" Tanya Erza dengan tatapan sinis.

"Aku tak bohong." Natsu mulai terlihat ketakutan. Keringat menetes dari dahinya.

"Benarkah itu, Natsu Dragneel?" Tanya Erza sekali lagi. Kali ini ia mulai menunjukkan gerakan kuda-kuda.

"Baiklah…Baiklah… Jangan pukul aku. Aku bolos. Aku ingin tahu keadaan Jellal juga." Natsu sudah bersiap untuk kabur.

"Oh,begitu. Tapi lain kali, kamu tidak boleh bolos lagi!" Raut wajah Erza berubah menjadi sedikit tenang.

"Eh? Kamu tidak memukulku? Wow! Keajaiban!" Natsu bingung setengah mati karena biasanya kakak angkatnya itu selalu memukul kepalanya jika ia berbohong.

"Kamu ingin kupukul?" Tanya Erza menahan tawa.

"Ah, tidak! Tentu saja tidak!" Jawab Natsu dengan cepat.

"Huh.. Dasar k-..."

"…"

Kata-kata Erza yang selanjutnya tak terdengar. Suara dari Elektrokardiagraf memenuhi ruangan itu. Kurva yang tadinya naik turun berubah menjadi semakin melemah, melemah, semakin melemah dan kemudian perlahan menjadi sebuah garis lurus.

Kedua orang yang tadinya berceloteh dengan asyik itu berubah menjadi panik. Yang satu berlari keluar untuk mencari pertolongan dan yang satu lagi mengguncang-guncangkan tubuh lelaki yang berbaring itu sambil mengucapkan sesuatu berlang-ulang, berharap sang lelaki dapat merespon rangsangan yang diberikannya.

Beberapa detik berlalu, suara itu terus memenuhi ruangan itu. Seorang berbaju putih memasuki ruangan itu dengan terhesa-gesa, ia menggosokan dua alat yang terbuat dari besi kemudian meletakkannya tepat pada dada sang lelaki. Elektrokardiagraf menunjukkan kurva lemah kemudian menjadi garis lagi. Kemudian ia mengulanginya sekali lagi, berharap masih ada harapan untuk membentuk beberapa kurva lagi. Dan…

'

"Denyut nadiku… Hembusan nafasku…

Aku tak bisa… Tak ada kau…"

'

Jellal's PoV

"Hiks…" Suara tangisanku menggema di ruangan serba putih itu. Kenapa aku jadi cengeng? Ini bukan diriku!

Tapi… Apakah aku benar-benar sudah tak bisa kembali lagi? Apakah aku benar-benar sudah mati? Bisakah aku menerimanya? Ah, aku tidak bisa. Aku sudah berjanji padanya. Mana mungkin aku bisa mengingkari janji itu.

Kenapa aku harus berada di dalam ruangan ini? Kenapa? Seseorang, siapapun, tolong keluarkan aku dari sini! Aku ingin kembali! Aku ingin hidup! Mengapa? Mengapa harus aku…

Tapi tiba-tiba, aura ruangan itu berganti. Aura hitam memenuhi ruangan itu, aura yang pernah kurasakan saat pertama kali aku masuk ruangan hampa udara ini. Ruangan itu seakan perlahan-lahan menelanku ke dalamnya - kegelapan yang lebih gelap dari warna hitam.

Ah, ternyata Tuhan berkehendak lain. Sepertinya ini akhir dari hidupku. Tapi, kalau aku boleh jujur, aku belum siap. Aku masih ingin bersamanya sedikit lebih lama lagi.

Aku masih ingin melihat berbagai ekspresi di wajahnya yang manis. Erza, ia selalu disampingku disaat aku kehilangan kepercayaanku pada semua orang –saat itulah kami bertemu dan menjadi dekat. Ia tertawa bersamaku saat kami jatuh dari sepeda, walau lutut kirinya terus meneteskan cairan dengan unsur haemoglobin itu.

Tapi aku tahu bahwa selama ini ia selalu menutupi seluruh kerapuhan hatinya dengan senyumnya dan sikapnya yang keras. Aku mengetahui kebenaran ini saat kulihat dirinya duduk merenung dibawah sinar remang-remang bulan purnama pertama. Ia menangis meraung-raung memanggil nama ibunya yang sekarang ini entah berada di mana. Tapi, aku tak bisa berbuat apa-apa. Aku hanya bisa melihatnya menangis. Walau sebenarnya hatiku terasa dicabik-cabik karena setiap butiran air matanya, tapi, aku tak berani mendekatinya dan menghiburnya.

Sungguh, aku ini benar-benar bodoh. Padahal aku berjanji tidak akan pernah membiarkannya menangis lagi. Apalagi meneteskan air matanya demi diriku yang lemah dan tidak berguna ini.

"Jel-… Jellal…"

Kudengar suara samar-samar memanggil namaku. Ah, apakah ini bagian dari halusinasiku?

"Jellal-kun… Jangan menangis… Ayo, pegang tanganku. Aku tidak akan meninggalkanmu. Kamu tidak perlu takut."

Eh, sepertinya aku pernah mendengar kalimat ini. Bukankah ini suara Erza? Hei, Erza! Kau bicara pada siapa? Ukh, tunggu, cahaya apa ini? Arghh… Silau sekali.

Gerakkan refleks oleh sumsun tulang belakangku mulai bekerja, aneh, kenapa sumsum tulang belakangku memerintahkan tanganku untuk mencoba meraih cahaya itu? Ah, apakah kini tubuhku sudah tidak bisa dikendalikan lagi? "Gezz… What a useless body!" makiku dalam hati. Ah, tapi mau bagaimana lagi. Kini aku sudah larut dalamnya. Tubuhku perlahan-lahan menyatu dengan cahaya itu, kemudian pecah menjadi percikan cahaya dan menyebar bersamaan dengan berhembusnya angin pertama musim panas.

Ke manakah aku akan dibawa pergi? Jawabannya… Aku tidak tahu…

Jellal's PoV end

Suara gemuruh memecah suasana. Suara tangis dari langit mampu menembus hati. Hati seorang gadis kini hancur. Menjadi kepingan-kepingan kecil yang sudah tak bisa disatukan lagi – bahkan kotak pandorapun mungkin tak bisa menyatukannya kembali. Tetes air seindah mutiara jatuh ke dalam hatinya.

Gadis itu, Erza Scarlet berteriak histeris, jatuh terduduk, kemudian meremas rambutnya yang halus dengan kedua tangannya.

"Tidak mungkin! Tidak mungkin dia… JELLAL!" Erza menangis dan berteriak seperti orang yang sudah kehilangan kewarasannya sesaat setelah dirinya mengetahui suatu fakta. Fakta bahwa jantung seorang Jellal Fernandes kini sudah berhenti berdetak…

"Erza, tenanglah. Dokter! Apakah anda tidak salah? Katakan pada saya bahwa itu semua bohong!" Natsu Dragneel meraih kerah dokter berambut Blue Marine itu dan menatapnya dengan tatapan penuh harap.

"Saya sudah melakukan sebisa saya. Saya hanya bisa berkata, relakanlah dia, biarlah ia hidup tenang di sana sekarang." Dokter Gray menepuk pundak kanan Natsu sehingga cengkramannya mengendur, kepalanya menunduk, kemudian ia melangkahkan kakinya di lorong serba putih itu.

"Tapi…" Natsu hendak memanggilnya kembali.

"Sudahlah, Natsu. Dokter itu tidak salah… Akulah yang telah membunuhnya… Hiks…" Air mata Erza mengucur dengan deras kali ini, bak air bah yang entah dari mana asalnya.

"Ah, tidak Erza! Ini semua merupakan kecelakaan, ini bukan salahmu! Jangan salahkan dirimu!" Natsu merengkuh kakak angkatnya itu dan mendekapnya. Air mata menetes, air mata milik Natsu.

"Jellal… Bukankah berjanji akan selalu bersamaku? Bukankah bila aku tidak menangis kau akan selalu bertahan disaat apapun?" Erza terisak lirih dalam dekapan Natsu.

'

"Kotak Pandora… Tertutup rapat…

Hatiku hancur… Tak ada kau…"

'

Langit ikut menangis, terbukti dengan makin derasnya rintik air dan angin yang menyebarkan kepedihan hati. Isak tangis memenuhi kota Magnolia. Tapi, tanpa perlindungan, seorang gadis berlari keluar gedung serba putih itu dan jatuh tersungkur di bawah pohon.

Tubuhnya basah kuyup, tatapan matanya kosong – berkaca-kaca. Dipandang kedua tangannya, kemudian pikirannya melayang untuk beberapa saat. Beberapa saat setelah itu, kedua tangannya yan putih itu mulai bekerja. Digalinya tanah dibawah pohon sakura yang besar itu.

"Pasti benda itu ada di sini. Aku yakin, kami memendamnya disekitar sini." Gadis itu memutar kedua bola matanya, mencari-cari sesuatu sambil terus menggali tanah yang kini mungkin sudah menjadi lmpur yang menjijikkan.

Beberapa saat kemudian…

"Ah… Ini dia." Kedua biji matanya yang coklat itu berbinar-binar. Didekapnya benda yang bentuknya seperti kapsul itu dengan erat. Untuk beberapa saat, ia menatap benda itu kemudian mengutak-atik benda itu – kapsul waktu.

Dibukanya kapsul itu dengan perlahan. Kapsul kenangan lima tahun yang lalu dibukanya. Berbagai macam benda mengisi kapsul itu. Disentuhnya dengan lembut semua benda itu, tak dibiarkannya setitikpun air mata langit menyentuhnya.

Dengan dirinya yang masih terpuruk, perhatiannya tertuju pada sepucuk surat yang masih tersegel dengan rapi. Tertulis "Dari Jellal, Untuk Erza" di bagian depannya. Karena penasaran yang menghantui dirinya, dibukanya surat itu dengan hati-hati.

Lem mulai terlepas, ditariknya kertas yang ada di dalamnya dengan perlahan. Dibukanya kertas itu… Dibacanya dengan seksama, kaligrafi seorang anak lelaki berumur duabelas tahun…

"Dear Erza Scarlet,

Ah, sebenarnya sewaktu kau bilang ingin membuat kapsul waktu, aku bingung ingin menulis apa. Mungkin saat kau membaca surat ini kamu sudah tua. (Hahaha… Kamu keriput seperti apa,ya? Aku jadi ingin melihatnya)Dan mungkin saat kamu membaca surat ini aku malah sudah tidak ada di sampingmu, kita tak tahu masa depan bukan?..."

"Mana mungkin kamu bisa melihatku saat aku sudah keriput, baka…!" Gadis itu tertawa sambil menangis seperti orang yang sinting. Kemudian ia membaca kalimat selanjutnya….

"… Aku mungkin hanya bisa bilang terima kasih atasa semua yang yang telah kau berikan. Mungkin aku hanyalah seorang anak laki-laki yang lemah dan tidak berguna – dari kumpulan yang aku merasa sangat beruntung setelah bertemu denganmu. Aku dapat merasakan rasanya punya teman dan keluarga, dan yang terpenting aku dapat melanjutkan hidupku…

Errr… Gimana,ya? Sebenarnya ada satu hal yang ingin kau tahu. Tapi mungkin saat kau buka surat ini sudah terlambat untukku. Sebenarnya…. Sebenarnya… Aku… menyayangimu melebihi sayang seorang sahabat. Entah kapan aku menyadari perasaanku ini. Ah, ini membuatku malu! Aku malah pernah memimpikaningin menjadi pendampingmu –It was very embarrassing! Huftt… Tenang...Tenang... Intinya, sekarang ini aku sudah lega karena bisa memberitahukan hal ini padamu. Aku tidak meminta jawabanmu. (Karena kutahu itu sia-sia. Hahahaha… ) Hmm… Mungkin ini saja rahasia yang kau tak tahu. =)

-From Jellal Fernandes"

Air mata tak terbendung kini meluap. Gadis itu memeluk surat itu sambil mengucapkan beberapa buah kalimat.

"Jellal-kun… Tak sadarkah kau selama ini? Seharusnya kau sadar akan hal ini... Kauyang paling dekat denganku… Aku yang selalu berusaha bersamamu… Aku yang selalu berusaha mendukungmu… Taukah kau mengapa dulu aku menghiburmu? Taukah kau siapa yang kutangisi setiap malam? Taukah kau siapa yang selalu ada dibenakku? Taukah kau alasan dari setiap tindakanku padamu?..."

" Itu semua karena aku…" Itulah kata terakhir yang diucapkan Erza Scarlet bersamaan dengan suara samar seseorang di balik hujan. Pemilik suara itupun melangkah mendekatinya…

"Eh…" Ekspresi Erza berubah saat mengetahui siapa pemilik suara itu. Pupil matanya melebar. Dirinya tak percaya akan apa yang ada di hadapannya.

"Kenapa?" tanya suara itu .

"Ka-Kamu… Jellal-kun?" Tanya Erza terbata-bata dengan air matanya kini sudah bersatu dengan hujan.

Sosok berambut biru itu hanya tersenyum. Senyumnya bahkan dapat menghentikan hujan . Kini pelangi menghiasi langit sore yang sudah mulai kemerahan itu, persis seperti warna rambut sang gadis.

"Aku menepati janjiku, bukan, Erza?" Lelaki itu mendekap Erza dengan kuat, seakan berkata bahwa ia tidak akan pernah melepaskan lagi gadis yang ada didekapannya itu...

'

"Doaku pada langit… Doaku pada angin…

Kini aku ada… Karena kaupun ada…"

'

~THE END~


Jeng-! Jeng-!

Finish! Maaf kalau aneh dan gak jelas.

Please RnR!