My New Life
Disclaimer : Selamanya Bleach punya Tite Kubo sensei, saya hanya meminjam karakter-karakternya untuk kepentingan pembuatan fic ini.
Warning! Sedikit OOC, ada gender switch, Modified Canon. =_="
Ok, ini saya update chapter 2-nya. Semoga sequel ini tidak mengecewakan kalian semua. Bagi yang belum membaca 'I Want To Meeting Again With You', saya akan beritahu di sini kalau Urquiolla adalah Ulquiorra versi cewek, dan Rio adalah Orihime versi cowok.
Happy reading! m(-_-)m
Chapter 2 : Suprising
"Nampaknya ini bukan waktu yang tepat untuk reuni," gumam Urquiolla yang terdengar seperti keluhan. "Aku benci mengingat saat-saat itu."
Dan mata Ichigo seketika terbelalak saat menyadari sosok yang ada di hadapannya adalah sosok yang pernah dikenalnya dulu...
"Ka, kau?" seru Ichigo seraya menudingkan jarinya ke arah Urquiolla. "Ulquiorra? Kok ada di sini? Dan... penampilan macam apa itu?" mata hazel Ichigo meneliti gadis yang ada di hadapannya itu dari ujung rambut hingga ujung kaki dengan penuh tanda tanya.
'Bagus,' gerutu Urquiolla dalam hati. 'Aku bertemu kembali dengan shinigami menyebalkan yang dulu pernah membunuhku, dan sekarang dia dengan tololnya berkata seolah aku sedang cosplay!'
"Bukan waktunya untuk menanyakan hal bodoh seperti itu, sampah," ucap Urquiolla dingin. Gadis berambut kayu eboni itu mengedikkan kepalanya ke arah vasto lorde yang berada tak jauh dari mereka, dan berujar. "Segera urus mereka! Lalu bawa Rio ke tempat yang aman!"
"Hei, tapi bagaimana dengan lukamu? Kau harus segera dibawa—"
"Sudah cepat lakukan saja! Jangan pedulikan aku, Ichigo Kurosaki!" teriak Urquiolla, memangkas ucapan Ichigo yang belum selesai.
Ichigo tertegun sejenak, lalu dia mendekati gadis itu tanpa banyak bicara dan...
BUGH! Ichigo memukul perut Urquiolla. Gadis itu membelalakkan matanya, terkejut karena mendapat serangan tiba-tiba dari lelaki itu.
"Shinigami... Kau..." Urquiolla pun pingsan seketika di tangan Ichigo.
Lelaki berambut orange itu menghela nafas panjang. "Dasar keras kepala! Padahal lukanya begini parah!" Ichigo menggerutu pelan dibarengi gelengan kepalanya yang khas. Uryuu hanya terdiam mendengar ucapan konyol shinigami berambut orange itu. Mata hazel Ichigo teralih pada Uryuu yang masih berada tak jauh dari tempatnya berdiri dan berkata. "Ishida! Lekas bawa Inoue dan Ulquiorra... eh, bukan! Maksudku, Schiffer-san ke rumah sakit! Sisanya biar aku, Toushirou, Rangiku-san, dan Soifon yang urus!"
Uryuu segera menggendong Urquiolla dan Rio tanpa banyak cakap. Lalu ia pun menggunakan hirenkyaku-nya untuk mempercepat perjalanan. Setelah memastikan mereka bertiga sudah pergi cukup jauh, Ichigo meletakkan satu tangannya di depan wajahnya. Ia memunculkan topeng hollow-nya dan segera bersiap untuk menyerang vasto lorde yang ada di hadapannya.
"Getsuga Tenshou!" Ichigo berseru sekali lagi. Menghunuskan pedangnya dan melontarkan jurusnya ke arah vasto lorde yang jadi lawannya itu.
Tentu saja hollow kelas tertinggi itu tak menyangka kalau pemuda shinigami yang ada di hadapannya itu akan mengayunkan pedang dan mengeluarkan jurus utamanya secepat itu. Makhluk yang berwujud mirip gargoyle itu tak sempat lagi menghindar dan terkena serangan itu secara telak.
Bunyi berdebam keras mengema. Ledakan pertarungan terjadi di beberapa tempat. Hujan debu, asap tebal, dan percikan api menjadi pemandangan umum di tempat itu.
"Aku tidak pernah menyangka kalau aku akan menghadapi hollow kelas tertinggi sepertimu. Tapi, aku tak akan tinggal diam begitu saja kalau melihat kau dan teman-temanmu menyerang teman-temanku!" ucap Ichigo dingin seraya menudingkan jari telunjuknya ke arah vasto lorde yang dilawannya.
"Menarik! Buktikan ucapanmu itu, shinigami!" seru vasto lorde itu seraya bersiap meluncurkan serangannya.
Cero berwarna celadon berkelebat dan hal itu membuat shinigami berambut orange itu menghindar. Vasto lorde itu menembakkan cero-nya secara bertubi-tubi sehingga membuat Ichigo kewalahan menghadapinya.
Melihat teman sesama shinigami-nya itu dalam kesulitan, Toushirou pun segera bertindak. Dia menghunuskan pedangnya dan berseru lantang.
"Guncho Tsurara!" dan serpihan es itu dengan cepat menghujam lawan yang sedang dihadapi oleh Ichigo.
Vasto lorde itu mengerang dan mata sardonyx-nya menatap elang ke arah shinigami yang membuat tubuhnya luka-luka. "Bedebah kau, Bocah!" raungnya marah dan menembak kapten cilik itu dengan cero-nya.
Sebelum cero itu berhasil mengenai tubuh sang kapten divisi 10 itu, Ichigo telah menghalaunya dengan Getsuga Tenshou-nya. Serangan itu tak ayal menghancurkan cero-nya, dan juga... tubuhnya.
Putih. Itulah hal pertama yang dilihat Urquiolla saat membuka matanya pagi ini. Mata emerald-nya ia kerjapkan berkali-kali untuk memperjelas pandangannya. Tetap saja warna itu tak berubah. Bau refisol yang menyengat menyentakkan syaraf di tubuhnya untuk duduk.
"Ouch!" rintihnya pelan. Dia lupa kalau kemarin dia mendapatkan luka yang cukup parah di bahu kirinya. Dia menyumpah-nyumpah dalam hati. Kalau saja kekuatannya masih ada, tentu luka lebar itu tak perlu dia dapat. Gadis berambut hitam pekat itu mengedarkan pandangannya, dan berdecak kesal.
Rumah sakit. Tempat yang sama sekali tak pernah ingin ia kunjungi selama hidupnya, kali ini harus ia kunjungi gara-gara luka sialan itu. Ia tak habis pikir, kenapa dia begitu bodoh mempertaruhkan nyawanya sendiri dengan menerjang langsung ke arah cero yang ditembakkan oleh vasto lorde itu tanpa persiapan terlebih dahulu? Baru kali ini dia merasa dirinya bodoh. Tolol. Bahkan menurutnya Yammy saja lebih cerdas soal ini dibanding dirinya.
Urquiolla heran dengan dirinya sendiri, apa yang menyebabkannya berlaku seperti itu? Bahkan shinigami sampah bernama Ichigo Kurosaki—begitulah Urquiolla memanggilnya—itu juga pernah melakukan itu saat wanita bernama Rukia terkena serangan Grimmjow. Gadis setinggi 169 cm itu menghela nafas dalam-dalam. Lelah. Penat. Percuma memikirkan semua itu, toh semua itu sudah berlalu.
Sekarang ini ia hidup sebagai wanita biasa. Eh, tidak. Dia wanita biasa yang memiliki reiatsu yang cukup untuk menghajar para hollow itu. Tapi karena tak pernah dilatih secara intensif, tentunya hanya menjadi 'hiasan' saja. Dia hanya memiliki kemampuan bertahan dari cero hollow. Hanya sebatas menahan serangan, tapi tidak membuatnya terbebas dari luka-luka yang ditimbulkan cero hollow tersebut. Benar-benar 'kelebihan' yang menyengsarakan.
"Kau sudah sadar?" teguran halus itu membuatnya merandek dan refleks menoleh ke sumber suara. Urquiolla berdecak kesal dalam hati. Bagus, sekarang dia bertemu kembali dengan sosok yang pernah 'membunuhnya' di masa lalu.
"Mau apa kau kemari, Ichigo Kurosaki?" tanya Urquiolla dengan dinginnya. Raut wajahnya masih tetap datar seperti biasanya, tapi ada nada benci dan kemarahan yang amat sangat dalam nada bicaranya barusan.
Pemuda shinigami berambut orange itu menghela nafas pendek. "Itukah balasanmu terhadap orang yang menolongmu? Bahkan kau tak sedikit pun berterima kasih padaku."
Urquiolla tersenyum pahit. "Aku tak merasa berhutang budi padamu. Jangan berkata seolah-olah kau sudah melakukan sesuatu yang sangat istimewa untukku, shinigami."
"Kau tak pernah berubah, Ulquiorra. Tetap saja menyebalkan!" dengus Ichigo kesal. Urquiolla mendelik tajam ke arah lelaki bermata hazel itu. "Bahkan setelah menjadi perempuan pun, kau tidak ada manis-manisnya."
Alis kiri Urquiolla berkedut berbahaya. "Jangan mengatakan hal yang sama seperti kucing biru sialan itu, Sampah." Ucapan itu kontan membuat mata Ichigo melotot saking sebalnya. Tapi nampaknya gadis yang duduk di atas tempat tidur rumah sakit itu tak mempedulikannya. "Kalau saja kekuatanku masih ada, mungkin kau sudah mati terkena cero-ku."
Baru saja Ichigo akan membuka mulutnya untuk membalas perkataan Urquiolla, pintu kamar gadis mantan Cuatro Espada itu dibuka. Beberapa orang yang tak asing lagi menyeruak masuk ke dalam ruangan kecil itu.
"Hai, Urquiolla-chan! Aku datang menjengukmu!" seru Grimmjow riang. Ada nada penuh ejekan dalam suaranya, begitulah yang ditangkap oleh telinga mantan Cuatro Espada itu.
"Hentikan seringaian menyebalkanmu itu, Kucing Biru. Itu membuatku mual," ucap Urquiolla tak peduli.
Tapi serangan balasan dari Urquiolla itu tak lantas membuat pemuda berambut biru langit itu menghentikan aksinya untuk menggodanya. Dia terus-menerus melakukan hal-hal yang menurutnya akan sangat mengganggu gadis bermata hijau itu.
"Err, anoo... Grimmjow-kun..." sebuah suara menginterupsi kegiatan mereka semua. "Tolong jangan ganggu Urqui. Dia perlu banyak beristirahat."
Urquiolla mengucap syukur dalam hati. 'Terima kasih, Tuhan. Malaikat-Mu telah datang menyelamatkanku.'
Rio yang datang membawa keranjang buah masuk ke dalam ruangan itu diiringi Uryuu dan Toushirou di belakangnya. Plester luka nampak bertebaran di beberapa tempat pada tangan dan wajah pemuda berambut senja itu, tapi bagi Urquiolla itu sama sekali tidak mengurangi ketampanan dan imutnya Rio.
"Baiklah," Toushirou berdeham keras. "Karena semuanya telah berkumpul di sini, aku akan memulai permasalahannya."
Semua yang hadir di situ langsung memasang telinganya, bersiap mendengarkan apa-apa yang akan disampaikan oleh kapten kecil berambut putih itu.
"Kalian tahu kalau belakangan ini banyak sekali hollow berkelas adjuchas dan vasto lorde yang datang ke dunia manusia?" tanya Toushirou serius. Semua yang hadir di ruangan tersebut hanya terdiam, dan detik berikutnya mereka serempak menggelengkan kepalanya. Toushirou menghela nafas pendek. "Jumlah mereka belakangan ini semakin bertambah. Ini membuat kami, para shinigami, kerepotan. Tapi, musuh kita kali ini tak hanya hollow saja. Ada pihak tertentu yang menjadi dalang di belakangnya."
"Jadi?" pancing Urquiolla yang tahu jelas ke mana arah pembicaraan itu.
Mata hijau Toushirou menatap lurus ke arah iris emerald Urquiolla. "Kalian yang memiliki reiatsu, pasti akan jadi incaran para hollow tersebut. Karena itu, berlatihlah agar kalian semua tidak mati konyol," jawab Toushirou serius.
Gadis berwajah stoic itu terdiam seraya memejamkan mata hijaunya. Ia tahu, bahwa cepat atau lambat pasti akan ada yang berkata seperti itu padanya. Dan sekarang... ia butuh waktu untuk memulihkan kesehatannya.
Uryuu nampaknya cukup maklum dengan apa yang dipikirkan oleh gadis mantan Cuatro Espada itu, dan berkata. "Tak usah khawatir, Schiffer-san. Yang penting saat ini bagimu adalah istirahat secukupnya dan menyembuhkan luka-lukamu."
"Tanpa kau suruh pun aku juga sudah tahu itu, Quincy. Dan terima kasih atas Licht Regen yang kau berikan padaku dulu," balas Urquiolla dingin.
Sebelah alis Uryuu mengernyit. "Hei, sudah dong! Mau berapa abad lagi dendamnya? Itu kan sudah lama berlalu!" tukas Quincy muda itu mencoba menenangkan gadis berambut hitam malam itu.
"Sudah, sudah. Kalian semua tenanglah!" Rio akhirnya turun tangan. "Sebaiknya kalian semua pulang saja. Biarkan Urqui istirahat. Dia pasti lelah," usul Rio pada kawan-kawannya itu.
"Oi, jadi kita diusir, nih?" gerutu Grimmjow jengkel. Dia masih belum puas ngerjain Urquiolla.
"Aku keberatan kalau kau masih tetap berada di sini lho, Grimmjow-kun~!" ucap Urquiolla dengan keriangan yang dibuat-buat. Ditambah dengan senyum manis—yang terkesan dipaksakan—dan tekanan reiatsu yang menyesakkan dada.
GLEKH!
Yang bersangkutan hanya menelan ludah. Sementara Ggio, Lilynette, Findor, dan yang lainnya bersembunyi di balik punggung Rio dengan tubuh gemetaran saking ketakutannya.
"Aku nggak lihat! Aku nggak lihat! AKU NGGAK LIHAAAATTTT! HIIIIYYYY!" gumam mereka berkali-kali, seraya memejamkan mata. Nampaknya mereka tahu kalau Urquiolla tiba-tiba bersikap ceria seperti itu... artinya kejadian buruk bakalan menimpa mereka.
"Memangnya kalian pikir aku ini monster?" tanya Urquiolla seraya menaik-turunkan alisnya. Heran.
"Ka, kami pulang dulu! Maaf menganggu..." tanpa banyak cakap lagi, akhirnya mereka pun pamit dan kini di ruangan itu hanya ada Rio dan Urquiolla saja.
Urquiolla menatap lurus ke arah permata abu-abu milik pemuda berambut orange kecoklatan yang ada di hadapannya itu. Tak ada yang berubah dari pemuda yang dulunya adalah gadis yang ia jaga semasa ia masih berstatus sebagai 'Anak Buahnya Aizen'. Sikapnya tetap perhatian, lembut, tapi juga bisa tegas dan tegar. Itu yang selalu ia suka dari 'Orihime Inoue' yang sedang berdiri di hadapannya itu.
"Kau lapar, Urqui?" tanya Rio lembut seraya membelai rambut hitam kelam Urquiolla.
"Sedikit."
"Mau makan?" tawar Rio seraya mengulurkan keranjang buah ke arah gadis itu.
Alis Urquiolla mengernyit heran. Rio segera tersadar dan berkata. "Er, aku khawatir terjadi apa-apa sama kamu kalau makan masakanku. Makanya aku bawakan buah-buahan saja."
"Memangnya aku bakalan masuk ICU kalau makan masakanmu?" tanya Urquiolla penasaran.
"Mungkin," jawab Rio gugup. Ia menundukkan kepalanya perlahan.
Urquiolla mendesah pelan. "Kalau begitu, lain kali aku akan mengajarimu caranya memasak, Otoko."
Rio langsung menatap gadis bermata hijau itu dengan tatapan takjub. "Memangnya kamu bisa masak?"
"Bisa," jawab Urqui pendek seraya menggigit apelnya. "Kenapa memangnya?" tanya Urquiolla heran.
Rio tak mendengarkan lagi ucapan Urquiolla. Air liur menetes-netes di mulutnya. Sementara pikirannya membayangkan kalau dia punya istri macam Urquiolla, dia pasti bakalan makan enak sehari-hari.
"Otoko," suara dingin Urquiolla menyentakkan Rio dari alam khayalnya. Membuat permata abu-abu milik pemuda itu tertuju lurus ke arah gadis berwajah stoic itu. "Air liurmu mengenai bajuku."
"HUWAAAA! GOMEN NA, URQUIOLLA-CHAN!" jerit Rio histeris.
Dua hari berikutnya, Urquiolla merasakan ada yang aneh pada dirinya. Sejak ia bangun pagi tadi, daerah sekitar perutnya terasa sakit sekali. Nyeri dan ngilu. Bahkan jika dibandingkan dengan diare, sakitnya melebihi itu.
Rio sedang membeli minuman di kantin yang ada di lantai bawah rumah sakit itu. Mau tak mau, Urquiolla berjalan dengan memegangi dinding agar dirinya tidak terjatuh dan membuat luka di bahunya terbuka lagi. Yah, luka di bahunya masih belum pulih sejak kejadian itu. Dan Rio tak diizinkan menggunakan kekuatannya karena dikhawatirkan akan membahayakan keselamatan jiwanya sendiri.
Sesampainya di kamar kecil, dia melihat sesuatu yang mengerikan dan mendesis perlahan. "Oh, shit!"
Mata violet milik Rukia Kuchiki menerawang ke segala penjuru Karakura. Bibirnya yang mungil tak henti-hentinya mengulas senyum manis. 'Tak banyak perubahan pada kota ini, sama seperti 70 tahun lalu,' gumamnya dalam hati.
Rasanya dia sulit percaya kalau Ichigo kini sudah resmi menjadi shinigami di Seireitei. Bahkan Uryuu Ishida yang dulunya selalu memusuhi shinigami, kini tinggal di Laboratorium divisi 12. Konon menurut kabar yang beredar, dia sudah resmi menjadi menantu kapten divisi 12 yang aneh bin serem itu. Tapi, Rukia tak mempedulikan semua itu. Yang penting baginya saat ini hanyalah menemui teman-teman lamanya—yang menurut kabar—masih tinggal di kota ini.
Tanpa sengaja mata violetnya menangkap sesosok pemuda yang tengah berjalan dengan terburu-buru. Wajah pemuda itu terlihat memerah. Rukia menebak, itu antara ekspresi malu dan marah yang bercampur baur jadi satu. Gadis bertubuh mungil itu memicingkan matanya, berusaha memperjelas pandangannya. Ia merasa pemuda itu tak terasa asing di matanya.
Ya, memang tak asing lagi! Meski rambut orange kecoklatan milik orang itu kini telah dipangkas pendek, tapi ada ciri khas yang tak pernah hilang dari orang itu. Tanpa membuang waktu lagi, Rukia segera berlari menghampiri pemuda itu dan berseru.
"INOUE!"
Rio melirik ke arah suara. Mata abu-abunya terbelalak lebar sesaat, sebelum akhirnya ia mengulas senyum di bibirnya. "Oh, ha, halo, Kuchiki-san!"
"Bagaimana kabarmu? Sehat?" tanya Rukia seraya memeluk erat seseorang yang dulu pernah menjadi teman curhatnya itu.
"Ah, aku sehat kok, Kuchiki-san," ucap Rio pelan. "Kuchiki-san sendiri? Kok ada di sini?" tanya Rio heran.
"Oh, aku minta izin pada Ukitake-taichou untuk berlibur ke mari! Yaahh, sambil mengunjungi teman lama!" jawab Rukia riang.
Rio hanya tersenyum tipis. Kesunyian menyelimuti mereka berdua. Mata violet Rukia meneliti setiap inchi dari tubuh orang yang ada di depannya itu.
"Hei, Inoue..." kata Rukia memecah keheningan yang sempat menyelusup di antara mereka. "Kamu banyak berubah, ya? Aku bahkan tak menyangka kalau sekarang kau menjadi seorang lelaki."
"Yah," Rio mengilik telinga kirinya yang tak gatal dengan sebelah tangannya. "Memang banyak hal yang terjadi, sampai-sampai aku sendiri menganggap kalau itu hanyalah hal yang tak masuk akal. Tapi, itu kan memang kenyataan. Aku bisa apa kalau begini?"
Rukia tertawa. Sahabatnya itu memang tak pernah berubah—kecuali fisiknya yang kali ini sudah berubah menjadi lelaki setelah reinkarnasi—selalu riang setiap saat dan selalu berpikir positif. Tapi, matanya menagkap sesuatu yang aneh yang disembunyikan oleh Rio di belakang tubuhnya. Kecurigaannya bertambah ketika Rio dengan gugupnya memohon diri pada Rukia dan berkata bahwa dia harus menemui seseorang di suatu tempat.
"Tunggu, Inoue!" seru Rukia seraya menahan tangan pemuda itu. Dan suara benda jatuh pun terdengar. Ya, itu adalah benda yang berusaha disembunyikan oleh Rio. Meski pemuda bermata abu-abu itu berusaha untuk mengalihkan pandangan Rukia, tapi Rukia kadung melihat benda itu. Benda yang pastinya tidak diperuntukkan buat laki-laki.
"Inoue..." Mata violet Rukia menatap hampa ke arah Rio setelah sebelumnya terbelalak karena kaget. Kini ia memanggil Rio dengan nada dingin yang cukup membahayakan. "Aku tahu kalau kau itu dulunya seorang perempuan, tapi..." wanita berambut hitam dan bertubuh mungil itu mengernyitkan alisnya heran. "Kali ini apakah kau memiliki suatu kelainan yang mengerikan? Ajaib sekali jika seorang pria sepertimu bisa mendapatkannya setiap bulan. Bisa kau jelaskan tentang ini?"
Rio bingung hendak memulainya darimana, tapi ia tak akan bisa menyangkal kata-kata Rukia. Apalagi mata violet milik gadis pemilik Sode no Shirayuki itu menatapnya tajam, meminta jawaban. Akhirnya Rio pun mengalah dan berkata.
"Uff, aku tak tahu apakah ini saat yang tepat? Sebab gadis itu masih memerlukan waktu yang cukup lama untuk siap bertemu dengan kalian para shinigami."
Rio memberikan isyarat pada Rukia untuk mengikuti langkah kakinya. Pemuda berambut orange kecoklatan itu membiarkan Rukia bertanya-tanya siapa yang akan dipertemukan dengannya. Semua pertanyaan yang sudah terkumpul di benak Rukia semakin bertambah tatkala melihat tujuan Rio mengajaknya.
Rumah Sakit Karakura.
Rukia memicingkan mata. 'Memangnya siapa yang dirawat di sini?' pikir Rukia penasaran.
Rio membuka pintu yang ada di hadapannya dan mengajak Rukia masuk. Rukia baru menyadari kalau tubuh Rio kini gemetaran saking gugupnya.
"Urqui! Ada tamu untukmu!" seru Rio saat dirinya dan Rukia telah berada di dalam ruang inap pasien itu.
Mulanya Rukia tak menyadari bahwa gadis yang duduk di ranjang itu tengah menatapnya. Tapi saat iris violetnya bersirobok dengan mata hijau gadis itu, ada satu kalimat yang terlintas di benaknya. Wajah gadis berkulit pucat itu... rasanya tak asing.
Rukia membelalakkan iris violetnya, dan berseru kaget. "Kau... CUATRO ESPADA, ULQUIORRA SCHIFFER?"
Mata emerald Urquiolla menatap dingin ke arah Rio. "Otoko," ada nada mengancam dalam suaranya. "Kau seharusnya hanya mengambil 'benda itu'. Tapi kenapa kau malah mengajak shinigami ini ke sini?"
Rio membuang nafas cepat, dan menghentakkan kakinya kesal. "Apa boleh buat! Dia berpapasan denganku dan tanpa sengaja melihat itu! Aku harus bilang apa? Masa bilang kalau aku yang lagi dapet? Yang benar saja lah!"
Urquiolla memejamkan matanya perlahan dan mengalihkan pandangannya ke arah Rukia. Shinigami pemilik Sode no Shirayuki itu telah sadar dari keterkejutannya dan bertanya pada gadis setinggi 169 cm itu.
"Rupanya kau bereinkarnasi dan hidup sebagai perempuan? Dan sekarang kau sedang..." Rukia menelan ludah. Tak sanggup melanjutkan ucapannya.
Rona merah yang semula tersirat di wajah pucatnya mulai menjalari ke seluruh wajahnya. Bagus! Sudah cukup memalukan ketika ia melihat darah di celananya saat berada di kamar kecil, dan terpaksa memberitahukan hal itu pada Rio, karena hanya pemuda itu yang berada di dekatnya. Yah, selain karena Urquiolla tak bisa keluar dari ruang rawat inap itu untuk membeli sendiri barang yang dibutuhkannya itu, karena kondisinya yang belum pulih.
Apa seluruh dunia—termasuk Seireitei dan Hueco Mundo—harus tahu bahwa mantan Cuatro Espada, Ulquiorra Schiffer, punya masalah kewanitaan? Damn it!
Urquiolla yakin, jika seandainya hal ini sampai terdengar ke telinga Grimmjow dan kawan-kawannya... dia pasti akan diledek habis-habisan. Tak hanya itu, jika Sousuke Aizen mendengar hal ini... dia bakalan dijadiin concubine-nya kali!
Gadis berambut hitam kelam itu menghela nafas. Ada satu masalah lagi yang harus ia selesaikan sekarang. Mata hijaunya menatap ke arah iris violet Rukia.
"Shinigami..." panggil Urquiolla seraya memberikan isyarat pada Rukia agar mendekatkan telinga ke arahnya. "Bisakah kau beritahu aku, bagaimana cara memakai pembalut?" tanya Urquiolla setengah berbisik.
Tanpa dikomando lagi, Rukia langsung tertawa sekencang-kencangnya tanpa mempedulikan tatapan tajam Urquiolla yang tertuju padanya, maupun tatapan heran Rio yang tak paham dengan apa yang dibicarakan Urqui pada Rukia...
*Bersambung*
Curhatan sang Author : Uuhh, maaf ya kalau jelek, Readers. Saya sudah usahakan semaksimal mungkin dan inilah hasilnya! ^_^
Apakah ada di antara kalian yang memiliki ide untuk memasukkan hal-hal unik yang akan dihadapi oleh Urquiolla dalam kesehariannya? Jika ada, tumpahkan ide kalian melalui review atau PM. Jika tidak ada, mungkin saya akan menamatkan fic ini 3-4 chapter lagi. *evil grin* Berikan kritik dan saran kalian lewat review, ok?
PLEASE
REVIEW
IF
DON'T
MIND
