Chapter dua dataang~
Maaf buat reader yang menunggu lama, Shicchi ngebut buat fic. Setelah ditelaah fic shicchi banyak yang belum diupdate~ waktu meng-update fic SENSEI, I LOVE YOU chapter 2 eh… temen shichi malah udah lupa ceritanya saking lamanya ga diupdate -curhat-
Well, typo masih berserakan dan banyak tata bahasa yang harus diperbaiki.
Kali ini Flame, caci makian DITERIMA.
Bleach belongs to TITE KUBO
This Fiction belongs to me, Shicchi.
Bulan kini sudah turun dari peraduannya, sekarang mentari yang menggantikan posisinya. Gadis yang hanya tinggal dengan kakak semata wayangnya membuka matanya.
"Ohayou…" gumamnya sendiri. Kemudian dia melangkahkan kakinya menuju kamar mandi. Dia berendam beberapa menit sambil melamun tentang apa yang sudah terjadi kepadanya.
Melamun tentang kakaknya yang berubah menjadi sosok yang lain.
"Aaah… aku yakin semua itu hanya mimpi," gumamnya. Dia menenggelamkan dirinya sendiri di dalam bathtub beberapa menit kemudian mengangkat dirinya ke permukaan.
"Akhir-akhir ini aku mengalami peristiwa yang aneh," katanya. Dia membilas wajahnya. Hey, sepertinya air yang dia siram itu sangat kental. Matanya terbuka lebar ketika melihat seluruh isi bathtub-nya berwarna merah. Seperti lautan darah.
Your death is callinG
CHAPTER 2
Kuchiki Rukia?
"KYAAAAAAAAAAAAAAAA!" teriakannya melengking.
"Momo? Kenapa berteriak? Ada yang aneh?" tanya Nemu dari luar sambil mengetuk pintu kamar mandinya.
"Eh? Kenapa…" katanya lagi. seketika lautan darah yang tadi mengelilingi Momo berubah jernih.
"Apakah… aku melamun lagi?" katanya dalam hati.
"MOMO?" teriak Nemu cemas karena Momo tidak menjawab pangggilannya.
"Ti-tidak apa-apa Nee-chan…" kata Momo
"Lalu mengapa kamu teriak?" tanya Nemu.
"Etto… aku sudah terlalu lama berendam jadi lupa waktu," katanya berbohong. Tak lama kemudian, pintu kamar mandi terbuka. Terlihatlah wajah Nemu yang bingung. Dia menggunakan baju maid dengan celemek berwarna putih.
"Yasudah, sarapan sudah siap. Hari ini Nee-chan mau ketemu Ishida-kun dulu, ada yang harus Nee-chan urus,"
"Apakah Nee-chan mau bercinta lagi dengan dia?" tanya Momo datar sambil mengambil susu kotak di lemari esnya. Tangan Nemu yang sedang menggoreng tako (cumi) seketika terdiam.
"Momo… bisakah masalah ini kita bicarakan lain waktu saja?" tanya Nemu sambil menghela nafas panjang.
"Tidak ada lain waktu, Nee-chan. Aku akan tetap membicarakan hal ini sampai Nee-chan sadar akan apa yang Nee-chan lakukan," kata Momo sambil naik ke kamarnya meninggalkan Nemu yang hanya diam menanggapi kata-kata adiknya barusan.
"Aku akan tetap seperti ini," gumamnya.
~~~~~KiryuZero~~~~~~Shicchi~~~~~Jaegerjaquez~~~~~
Tubuh mungil itu kini terbalut baju sekolahnya. Rok yang pendek juga menghiasi bawahannya. Rambutnya yang panjang kini telah rapi dicepol satu menyisahkan rambut depannya. Dia sekilas melihat wajahnya.
Sempurna.
TEP!
Mata Momo seketika terkejut ketika bercermin. Ada seseorang dibelakangnya menggunakan baju dress putih dengan rambut biru kehitaman sedang menunduk. Dia menolehkan wajahnya melihat kebelakang.
Tidak ada siapa-siapa.
"Apakah ini bagian dari halusinasiku lagi?" tanya Momo dalam hati.
Di sekolah
Hitsugaya dan yang lain sudah lama menunggu Momo. Ada Senna yang sedang beramtem dengan Kaien, Grimmjow yang lagi bicara dengan Nell, sesekali bibir mereka bertautan hingga Kaien dan Senna juga Hitsugaya memalingkan wajah mereka seolah-olah tidak melihat.
"Hey, Hitsugaya. Dimana Momo? Kenapa dia tidak kelihatan daritadi? Hampir setengah jam kita menunggu disini." Keluh Kaien yang disiksa Senna.
"Entahlah, aku juga tidak tau dimana dia. Tidak biasanya dia terlambat seperti ini." Kata Hitsugaya sambil menatap kejauhan sana, dan tak lama kemudian dia melihat seorang gadis yang ditunggu-tunggu daritadi berlari kecil kerahnya.
"Gomenne…minna…" ucapnya sesekali sambil menghirup oksigen sebanyak mungkin karena berlari.
"Momo… kenapa lama sekali? Apa yang terjadi? Dan mengapa kamu pucat sekali?" tanya Hitsugaya sambil merangkul Momo.
"Entahlah Hitsugaya-kun… aku juga tidak tau apa yang telah terjadi," kata Hinamori. Hitsugaya memicingkan matanya tanda tak mengerti.
"Yasudah. Kita akan mendiskusikan tentang bunkasai kita. Apa kita jaid menginap di sekolah?" tanya Grimmjow kesal.
"Kau masih saja tidak setuju dengan hal ini ya, Grimmjow?" tanya Senna.
"Sudah pasti. Aku tidak mau terjadi apa-apa terhadap kalian, terutama Nell." Kata Grimmjow emosi.
"Sudahlah, Grimmjow… aku tidak apa-apa." Kata Nell sambil mengelus punggung Grimmjow agar amarahnya tidak naik lagi.
"Etto… mengingat bunkasai masih lama, bagaimana kalau kita membuat stand rumah hantu?" tanya Senna.
"Ide yang bagus." Kata Kaien asal ceplos.
"Hey, kau! Yang benar saja kita buat rumah hantu? Kaien tidak punya selera horror. Yang ada muka dia malah kayak badut tuh!" cibir Grimmjow.
"Kau ini! Daripada punya wajah horror seperti kamu?" kata Kaien gak mau kalah.
"Sudah, sudah! Kalian kenapa berantem mulu sih?" kata Nell melerai.
"Biariiin!" kata mereka berdua serempak.
"Aku ingin membunuhnya…"
"Uuuhhh…" tiba-tiba sura itu datang, menghampiri wanita berambut coklat dicepol itu.
"Apa lagi ini?" tanya Momo dalam hati. Dia membuka matanya, yang dia lihat hanyalah teman-temannya yang berkelahi dengan adegan slow motion membuat rasa sakit di kepala Momo semakin menjadi.
"Uuuuh… kenapa… ini…" ucapnya lagi pelan. Kemudian memegang pelipisnya yang mulai berkeringat.
"Aku ingin membunuhnya… aku ingin melihatnya berlumuran darah…"
Mata Momo tertuju pada seseorang yang tadi berada dicerminnya. Matanya membulat melihat wanita itu berjalan mendekatinya. Dia menunduk. Menyembunyikan wajahnya dibalik rambut yang berwarna hitam kebiruan yang cukup rontok.
"Aku… ingin membunuhnya…"
Wanita itu semakin mendekati Momo. Dengan modal sedikit keberanian dia mencoba untuk tidak teriak.
"Si…siapa… kau?" tanya Momo sambil menahan dirinya untuk tidak berteriak. Namun wanita itu hanya diam saja. perlahan wanita itu menjulurkan tangannya hendak menyentuh Momo. Namun entah bisikan darimana Momo langsung meraih tangan mungil yang dingin itu.
Dingin.
Dingin seperti es.
DEEEEEEEEEEEEEEEEP!
Hinamori's POV
"Aku… dimana?" aku sekarang berada diruangan yang tidak asing lagi bagiku. Apartment-ku. Namun entah kenapa begitu berbeda? Penataan ruangannya, dan… kenapa ada dua botol champagne dan gelas di atas meja? Heeey, aku melihat seseorang sedang bercinta. Bercinta? Di apartment-ku? Aku melihat keduanya.
Bukan. aku fikir itu Nee-chan yang seperti biasanya aku pergoki bercinta dengan Ishida, namun… suara desahannya terasa bukan suara Nee-chan. Begitu juga lelakinya.
Aku mulai mendekat. OH! Betapa kagetnya aku melihat seseorang yang tidak aku kenal bercinta disini. Mereka, warna rambut yang sama, wanita yang bertubuh 'sempurna' dengan ukuran dada yang cukup besar. Bersama lelaki yang tegap, gagah dan tubuh yang proposional.
"Mereka… siapa?" gumamku kaget.
Tiba-tiba saja pintu apartment terbuka. Aku menolehkan wajahku melihat siapa yang datang.
"ICHI! APA YANG KAU LAKUKAN? DASAR LAKI-LAKI BRENGSEK!" aku melihat wanita itu. Kecil mungil dengan rambut hitam kebiruan. HEY! Dia… wanita yang ada dicermin itu. Aku sadar sekarang.
Aku sedang menyaksikan detik-detik sebelum kematiannya. Dan arwahnya ingin aku melihatnya.
"Apa maksudnya ini?" tanyaku. Aku mencoba bangun dari mimpi buruk ini. Namun tetap tidak bisa. Dari sudut yang lain, aku melihat arwah wanita itu berdiri. Menyaksikan sendiri detik-detik kematiannya.
"Hey, wanita! Kau tau kalau Ichigo itu kekasihku, dan lancang sekali kau melakukan hal yang lebih rendah daripada binatang! Aku tak percaya pemilik Inoue advertising tak lebih dari seorang wanita murahan!" aku hanya menelan ludah saat melihat kejadian itu. Sungguh sakit rasanya, jika aku menjadi dia.
"Tch, Kurosaki-kun memilihku karena aku lebih baik daripada kamu, tidak seksi, kau tidak memiliki tubuh yang diidamkan seorang pria," aku melihat wanita berambut jingga itu tersenyum angkuh.
"Tidakkah dia memiliki hati hingga tega menyakiti wanita itu?" gumamku kesal. Bagaimanapun aku juga wanita, walaupun dia arwah… aku merasa sedikit mengerti kepedihannya.
"Kau ingin aku melakukan apa?" tanya Momo saat melihat wanita itu berjalan mendekatinya, namun wanita itu hanya diam.
"Cukup Rukia! Tinggalkan ruangan ini, segera. Aku… aku ingin hubungan kita berakhir sampai disini!" kali ini laki-laki yang dipanggil Kurosaki oleh wanita berambut jingga itu angkat bicara.
"Kau… Rukia?" tanya Momo tidak percaya. Tentu saja hampir semua penghuni kota Karakura mengenalinya. Rukia Kuchiki, calon pemilik Kuchiki Advertising yang menghilang setelah membunuh kekasihnya.
"Kau… telah meninggal?" tanya Momo pelan. Rukia hanya mengangguk.
"Mengapa kamu kabur dari rumah sakit? Padahal kamu masih bisa diselamatkan," kata Momo prihatin. Rukia tidak menjawab.
"Tasukete…" hanya itu yang terucap dari bibir Rukia.
"Kamu mau aku melakukan apa? Menemukan jasadmu?" tanya Momo asal. Tak lama kemudian, dia mengangguk.
"Tapi dimana?" tanya Momo. Rukia tidak menjawab. Perlahan dia menjauh dari Momo hingga gadis bercepol itu berlari mengejarnya.
"RUKIA! TUNGGU! BERITAHU AKU DIMANA JASADMU!" teriaknya.
"RUKIAAAAAAAAAAAAAAAAAAA!"
"Hoi! Hinamori sadarlah!" kata Hitsugaya menepuk pipi gadis itu pelan hingga dia terbangun.
"Hinamori? Kenapa kau menyebut nama Rukia?" tanya Hitsugaya tidak mengerti.
"Eh… sejak kapann aku disini?" tanya Momo melihat sekelilingnya berwarna putih.
"UKS, kau tidak apa-apa?"
"Iya, aku baik-baik saja." ucapnya.
)_)_)_)_)_)_)_)_)_)_)_)_)_)_)_)_)_)_)_)_)
"Aku telah membunuh mereka..." suara perempuan itu terdengar lagi. Hinamori yang sedang duduk di bangku kelasnya hanya terdiam. Bulu di tubuhnya mulaibergidik ngeri mendengar suara perempuan itu lagi.
'kenapa... aku jadi sering mendengar suara Rukia?' gumamnya dalam hati. Diseberang, Hitsugaya melihat Momo dengan tatapan cemas. Sangat jelas terlihat kalau kekasihnya mulai berubah.
DREEK!
Matanya terbelalak lebar ketika melihat perempuan, mengenakan baju berwarna violet polos dengan celana selutut berjalan kearahnya. Dia melihat sekelilingnya, teman-temannya sedang konsentrasi menghadap whiteboard, dimana Ochi-sensei sedang menerangkan pelajarannya-mengacuhkan perempuan berbaju violet itu yang kini berjalan mendekatinya.
"Ru-rukia..." gumam Hinamori agak pelan, namun kata-kata itu masih terdengar oleh Nell yang duduk didepannya. Wajah Hinamori semakin pucat saat melihat Rukia mengulurkan tangannya dan ingin menyentuh Hinamori.
"Me-menjauh..." gumamnya lagi pelan. Nell yang mendengarnya mulai membalikkan badannya untuk mengahadap Hinamori.
"M-momo-chan?" kata Nell pelan ketika melihat paras gadis mungil didepannya mendadak pucat.
"Menjah dariku..." kata Momo pelan. Kini pandangan murid lain tertuju kearah Momo. Hitsugaya mengeryitkan matanya, memandang Momo dengan perasaan gelisah. Dibelakang Momo, Kaien memegang bahu gadis mungil itu.
"Di-dingin sekali.." gumam Kaien. Ochi-sensei akhirnya mendekati Momo dengan perasaan yang sama. Bingung. Tak biasanya seorang Hinamori Momo mengabaikan pelajarannya.
"Hinamori-san!" kata Ochi-sensei pelan. Hinamori mengarahkan wajahnya keatas menghadap Ochi-sensei. Wajah pucatnya masih terlihat.
"Tasukete..."dia mendengar kata-kata itu lagi dan mengarahkan kepalanya kearah sumber suara tadi. Tak lama kemudian gadis itu muncul dibelakang Ochi-sensei.
"HYAAAAAA!" teriak Momo nyaring membuat panik satu kelas. Wajahnya semakin pucat diiringi keringat yang merembes keluar dari pelipis dan membanjiri wajahnya.
"Hi-hinamori-san!" teriak Ochi-sensei panik. Hitsugaya langsung beranjak dari tempat duduknya menuju Hinamori.
"Momo!" katanya panik. Sementara Hinamori hanya terdiam seperti patung hidup. Hinamori melihat Rukia kini memegang tangannya erat-erat.
"Lepaskaaan! Sakiit!" teriakan Momo membuat satu ruangan panik. Terlebih lagi siswi disitu menyudutkan diri. Menjuhkan diri dari Hinamori.
DEPPPP!
Hinamori berada disebuah ruangan sendirian. Matanya menjelajah seluruh ruangan namun tidak ada siapa-siapa. Perlahan dia berjalan menuju pintu keluar. Namun, sebelum dibuka pintu itu sudah terbuka sendirnya dan menampakkan beberapa orang berpakaian serba putih sedang membawa tandu. Dan ada seseorang ditandu tersebut.
"Rukia? Kenapa..." tanya Hinamori. Namun orang yang ditanya tidak merespon samasekali. Orang yang berpakaian putih itu berjalan menembus Hinamori.
"Aku ada dimasa lalu Rukia lagi..." katanya pelan. Dia mulai berjalan mendekati dua orang berbaju putih itu.
"Bagaimana ini, Dokter?" tanya seorang wanita kepada partnernya.
"Hmm... cepat siapkan ruang operasi. Sepertinya Rukia kehabisan darah." Kata dokter itu sambil memeriksa keadaan Rukia. Hinamori melihat leher Rukia hampir memperlihatkan kerongkongannya.
"Rukia..." desahnya. Kemudian dia melihat kalau waktu disitu berjalan sangat cepat hingga tengah malam. Dimana Rukia sedang tertidur pulas hingga akhirnya dua orang memasuki ruangannya. Yang satu mengarahkan kepalanya keseluruh ruangan-memeriksa apakah pasien benar-benar sendiri.
"Kita bawa dia..." salah satu dari mereka langsung mencopot infuse Rukia dan membawanya keluar.
"RUKIA! Mau dibawa kemana dia?" kata Hinamori panik. Hinamori mengikuti orang itu hingga mereka sampai disebuah hutan. Dua orang itu meletakkan Rukia ditanah.
"Hmmm... ternyata Ashido-sama memberikan kita pekerjaan yang sangat gampang," kata orang itu. Temannya mengangguk dan menatap tubuh Rukia dengan tatapan nafsu.
Hinamori menyaksikan semuanya. Dari mereka membuka baju Rukia hingga Rukia polos tanpa sehelai benangpun. Dua orang kejam itu menyetubuhi Rukia secara bergiliran, dan kejadian itu terus berlanjut hingga keadaan Rukia sangat kacau. Tubuhnya dipenuhi kissmark, bagian terdalamnya robek karena dimasuki secara paksa. Kedua lelaki itu mulai mengenakan pakaiannya kembali dan memasukkan Rukia kedalam sebuah peti didalam gubuk kecil itu. Hinamori tau, kalaupun dia berteriak, percuma. Dia hanya menangisi gadis malang itu.
TIING
Arwah Rukia menampakkan wujudnya. Hinamori menatap arwah gadis itu dengan tatapan sendu. Seperti dia ikut merasakan kepedihan gadis ini.
"Rukia-san... aku mengerti betapa malangnya dirimu..." kata Hinamori sambil menyeka air matanya. Rukia yang sedari tadi menunduk mulai mengangkat wajahnya. Memperlihatkan setiap inchi wajah gadis malang itu. Mata violet yang besar memancarkan kesedihan bahkan darah menetes dari pelupuk matanya. Hinamori tersenyum getir.
"Hutan ini... seperti hutan pedalaman Rukongai," gumam Hinamori.
"Tasukete... onegai..."kata Rukia kemudian menghilang. Tak lama setelah itu, Hinamori merasakan sakit yang amat sangat dan akhirya dia kehilangan kesadarannya.
-.-O.O
"Hi-hitsugaya-kun..." katanya sambil membuka matanya. Dia melihat sekitarnya, dia berada di ruangan UKS. Didepannya sudah ada kekasih dan temannya yang menunggu kesadaran gadis ini.
"Hi-hitsugaya-kun? Mana Rukia? Mana dia?" tanya Momo tergesa-gesa. Mendengar pertanyaan dari sang kekasih, Hitsugaya hanya menelan ludah, begitu juga dengan teman-teman mereka yang mendengar hal itu.
"Ru-rukia? Ma-maksudmu Rukia Kuchiki?" tanya Senna kaget. Momo hanya mengangguk.
"Hi-hitsugaya-san, apa yang terjadi terhadap Momo?" tanya Kaien.
"Entahlah, aku juga tidak tau," bisiknya.
"Hitsugaya-kun, aku harus menolong Rukia-chan. Dia butuh pertolonganku untuk menemukan jasadnya," kata Momo membuat mereka semakin tidak mengerti.
"Momo, Rukia Kuchiki itu sudah meninggal dua bulan yang lalu, mana mungkin kita bisa menemukan jasadnya, pasti sudah terurai bersama tanah," kata Grimmjow.
"Aku tahu! Tapi dia memintaku… aku harus menolongnya… atau kalian kita akan diteror olehnya…" kata Momo pelan.
"Kenapa… kita harus diteror oleh dia? Kita samasekali tidak ada hubungan dengan wanita itu," jawab Kaien enteng.
"Tidak… kecuali Momo," kata Nell tiba-tiba.
"Hah?" sebagian berkata seperti itu tanda tidak mengerti.
"Momo-chan… dia tinggal di apartment dimana Rukia membunuh kekasihnya, Kurosaki Ichigo yang sedang bercinta dengan pemilik Inoue Advertising, Orihime Inoue." Jelas Nell.
"Dan… arwah Rukia gentayangan dirumah Momo maksudmu?" kata Senna merinding.
"Mungkin… dan dia mengikuti Momo hingga sampai ke sekolah, dan pada akhirnya dia menemukan kita yang berteman dengan Momo," kata Nell.
"Maafkan aku, semuanya… jika kalian ingin menjauh dariku, aku tidak akan memaksakan kalian berteman denganku." Kata Momo.
"Aku akan membantumu, Hinamori…" kata Hitsugaya.
"Aku juga…" kata Senna dan Nell secara bersamaan.
"Hey, hey, bagaimana kalau terjadi sesuatu terhadapmu?" tanya Grimmjow.
"Tidak apa, Nell-chan… kalian tidak perlu ikut. Biar aku sendiri yang akan pergi," kata Momo.
"Dan merasakan suasana Horror sendirian? tunggu dulu, nona. Kami juga mau…" kata Kaien dan Hitsugaya. Hinamori hanya tersenyum.
"Arigato, minna..." hanya itu yang mampu dia ucapkan untuk mengungkapkan betapa beruntungnya dia berteman dengan mereka.
~~~TBC~~~
Review please~~~
