Aku melihatmu diam disana

Terjamah kabut hingga sosokmu pudar

Sungguh indah berandai

Jika semuanya tak hilang seperti yang kuharapkan

Kumohon, satu kali saja

Tatap aku….

.

.

.

Claude..

*(/n_n)/ welcome to eLmaoo's Fiction \(n_n\)*

Did you know, I'm here? eLmaoo

Kuroshitsuji Yana Toboso

Pairing: ClaudexAlois slight SebastianxCiel

Rate: T

Genre: Romance, Hurt/comfort

Warnings: OOC, AU, Sho-ai, The color of miss typ(o)

Ready to read?

Here we goooooooooo~~

*(/n_n)/ welcome to eLmaoo's Fiction \(n_n\)*

*xxx*

Aku berlari sekencang-kencangnya dari tempat itu. Sudah tak terhitung berapa orang yang kutabrak. Aku terus berlari, hingga tak tahu berada dimana. Aku bingung! Ada apa dengan Claude? Kenapa dia..

Apa dia menyukai Ciel?

Aku

"―ikh.. hiks.. hiks.. Claude.."

Aku..

Begitu bodoh..

*xxx*

Kakiku terus berlari, hingga akhirnya terhenti di sebuah tempat yang jarang dikunjungi orang banyak saat malam hari. Berkeley Pier.

Hari sudah malam dan entah mengapa aku merasa malam ini adalah malam tergelap bagai di telan gerhana.

Hanya aku sendiri.

Gelap.

Ditelan kegelapan.

"Heh, bodoh sekali! Ternyatasemua percuma, ya?" Aku menundukkan kepalaku, menatap air laut yang menampilkan wajahku yang saat ini gusar. Aku tidak tahu kapan dan atas perintah siapa bening air mulai jatuh dari mataku. Meleleh begitu saja dengan semosi yang seakan berbelit di kepalaku.

"Kenapa.. hanya aku yang.. mencari?" Suaraku mulai bergetar, ada rasa sesak yang meluap-luap di dalam hatiku. Rasanya mataku panas dan lelehan air itu terjatuh tanpa kuseka. Aku menggigit bibir bawahku kuat. Rasanya sangat sesak, sesak hingga bening air ini terus turun membasahi lekuk wajahku.

"Dari awal.. hanya aku yang berusaha mengejarnya.. dari awal hanya aku yangukh!" Aku tak kuat menahan isakan, sungguh saat ini aku ingin sekali berteriak.

Meneriakan namanya.

Mengucapkan beberapa umpatan padanya.

Meluapkan semua emosi dan kekesalanku padanya.

Dan mengakui bahwa semua yang kulakukan hanyalah sia-sia..

Ya, sia-sia..

Aku yang dari awal terlalu bodoh untuk berharap

Tanpa berfikir, apakah ia peduli?

Dan mungkin saja ia malah ingin aku tidak akan menemuinya lagi.

Hanya aku..

Disini hanya aku..

Yang terlalu berharap.

Aku terus menangis hingga sebuah suara berat membuatku tersentak.

"Wah~ ada apa denganmu, gadis manis?"

Aku tersentak, dengan cepat aku menengok pada sumber suara dan menangkap ketiga sosok laki-laki yang sepertinyamabuk.

Gawat, ini sungguh gawat.

Satu orang dari mereka bertubuh besar dan memakai jaket berwarna merah, dan yang lainnya terlihat sedang menyeringai dan membawa botol kosongmungkin itu sejenis alkohol.

Aku menghapus air mata yang masih tersisa dan bergegas pergi dari tempat itu, tetapi salah satu dari mereka menahan tanganku dan membalikkan badanku.

Sial! Jalanan sudah sepi.

"A-apa!" tanyaku dengan nada sedikit bergetar. Mereka bertiga menyeringai, dan laki-laki berjaket merah yang memegang lenganku terkekeh sebelum menempelkan hidungnya pada kulit lenganku dan mengendus aroma tubuhku.

'PLAK'

Aku menepis tanganku darinya. Orang-orang dihadapanku ini.. benar-benar menjijikkan!

"Kita beruntung Jake, ternyata kitten ini laki-laki." Aku tersentak, aku baru sadar bahwa aku ada dalam masalah besar. Ketiga laki-laki ini

Cepat-cepat aku menggerakan kakiku untuk berlari, tapi dengan sigapnya mereka mengejarku dan kembali menahan tanganku. Jantungku berdebar begitu kencang. aku..sungguh takut! Sial! Ini salahku karena tidak cepat-cepat pulang! Ayolah Alois, ini California! Kau harus sadar dengan orang-orang berbahaya pada malam harinya! Aku sungguh bodoh!

"Kau tidak bisa kemana-mana, sudah pasrah saja dan nikmati permainan kami."

Aku merasakan sesuatu yang basah bergerak dari pangkal leherku hingga rahangku. Mataku membulat, aku berusaha untuk melepaskan diri dari mereka, namun ketiga orang itu masing-masing memegangi tangan dan kakiku.

"Ti-tidak!jangan! kumohon berhenti!"

Air mataku kembali mengalir, tanganku bergetar, aku takut! Takut! Kumohon, tuhan, aku tidak mau ini terjadi! Aku mohon.. tolong aku!

Aku merasakan ada sesuatu yang masuk kedalam bajuku. Tidak! Aku tidak mau ini terjadi!

Tolong! Siapapun!

'DOR'

Aku tersentak, begitupun ketiga laki-laki yang ingin menjamahku. Suara tembakan itu terasa dekat. Aku menengok mencari asal suara, dan dari ujung jembatan terdengar suara langkah kaki seseorang. Salah satu dari ketiga orang tadi bertanya,

"Si-siapa kau?" Tanyanya sambil bersiap dengan pisau lipat yang ia bawa. Kedua orang temannya juga bersiap-siap dengan botol yang tadi mereka bawa, namun sosok yang belum terlihat jelas karena gelap itu tetap melangkah tenang.Langkah itu mendekat hingga tertuang cahaya lampu yang berada di atasnya.

Aku terbelalak.

Jantungku benar-benar sudah berdetak tak wajar,

Dan hanya ada satu orang yang bisa membuatku sebahagia ini hanya dengan menatap wajahnya saja.

Mulutku menggumamkan sesuatu, namun aku sendiri tak tahu apa yang kuucapkan.

"Lepaskan tangan kotor kalian darinya."

Suara rendah dan berat yang selalu terdengar dalam anganku…kini aku benar-benar dapat mendengarnya.

Perlahan ketiga orang itu melepaskan tangan mereka dari tubuhku.

Kakiku terasa lemas, dan akhirnya aku jatuh terduduk dan bergetar―tanpa mengalihkan pandanganku pada wajah tegas yang beraut datar.

Ia kembali melangkah sambil mengangkat satu tangannya―ditangannya terdapat revolver yang siap meluncurkan peluru bila pelatuk sudah di tekan.

"Pergi. Atau. Mati!"

Ucapnya dengan setiap penekanan pada tiga kata yang ia ucapkan. Dan dengan suksesnya ia membuat ketiga laki-laki tadi berbalik dan pergi dengan wajah ketakutan.

Aku masih duduk, namun kini kepalaku tertunduk. Aku tidak percaya, apakah ini hanya perbuatan sial dari mimpi atau bukan. Namun yang pasti, ada sesuatu dalam diriku yang meluap-luap. Antara senang, benci, kesal, sedih, berdebar dan.. rindu.

Aku tahu ia melangkah ke arahku, berhenti didepanku yang terduduk dan berjongkok dihadapanku. Aku dapat mencium aroma tubuhnya yang sama sekali tak berubah. Ia memakai jas hitam, hanya itu yang kutahu, karena aku masih menunduk dan mengepalkan tanganku agar tak terlihat gemetar.

"Kau tahu?"

Aku sedikit tersentak saat mendengar suaranya yang selalu ada dalam mimpiku. Tapi aku tetap menunduk, karena tak mau ia melihat wajahku yang sudah terpoles oleh lelehan air mata.

"Kau sungguh merepotkan."

..

Apa.. dia bilang? Setelah sekian lama tidak bertemu bukan 'salam' yang ia ucapkan, tetapi malah kalimat itu? Merepotkan katanya? Jadi selama ini dia menganggapku merepotkan?

Tiba-tiba aku merasa kesal. Alisku mengkerut dan aku sudah tidak peduli lagi dengan wajahku yang deras oleh air mata. Aku mendongakkan wajahku menatapnya, dengan sorotan benci aku menatap lurus matanya yang ber-iris gold.

"KALAU SEBEGITU MEREPOTKANNYA AKU, HARUSNYA KAU BIARKAN SAJA AKU DISETUBUHI OLEH KETIGA ORANG TA―"

Bola mataku membulat, ucapanku terputus dan jantungku terasa sangat berisik.

Aroma tubuhnya begitu menusuk penciumanku.

Ia..

Memelukku dengan erat.

"Kau sungguh merepotkan, Alois. Kau sungguh membuatku hampir hilang kendali."

Aku masih tak sadar dengan semua ini, mataku masih membulat dan kurasakan pelukannya makin mengerat.

"Kalau yang tadi sampai terjadi―"

Aku terbangun dari keterkejutanku saat ia melepaskan rengkuhannya. Ia―dengan wajahnya yang selalu terkesan serius menatapku hingga aku benar-benar merasakan bahwa yang ada dihadapanku ini memang benar-benar dia. Ini bukan mimpi 'kan? aku percaya ini bukan mimpi.

Akhirnya aku dapat bertemu denganmu…

..

.

..

.

"Claude"

(/n_n)/eLmaoo's fiction\(n_n\)

Kau tak berubah. Masih dengan wajah datarmu yang membuatku terus memandngnya. Bahkan pupil mataku tak bergerak sedikitpun ketika untuk kesekian kalinya aku terhipnotis oleh pesonamu.

Namun kau mengabaikanku.

Hanya memandang laut dan diam.

Tak ada yang memulai terlebih dahulu, kau maupun aku sama-sama tak menyinggung masalah kedatanganku kemari.

Hanya diam.

Diam yang membuatku kembali sesak.

Sebenarnya banyak sekali pertanyaan yang ingin aku ungkapkan padanya.

'Kenapa kau tidak memberi kabar?'

'Kenapa kau tidak mencariku?'

'Kenapa kautidak! Apa hubunganmu dengan Ciel?'

Okey, aku tahu pertanyaan terakhir adalah pertanyaan yang tabu untuk dibicarakan, tetapi bagaimanapun juga aku ingin tahu! Apa benar dia mengejar Ciel?

Lamunanku buyar ketika akhirnya suara baritone itu terdengar kembali.

"Sudah malam, kau pulanglah."

Aku tersentak ketika ia bergerak pergi dan melangkah. Dadaku terasa tercekak, tidak! Aku tidak mau hanya seperti ini! Sudah lama aku menunggu kedatangannya dan sekarang hanya berakhir tanpa satu kalimatpun yang memberikan penjelasan. Ini semua terasa menggantung!

"TuTunggu, Claude!"

Akhirnya langkah itu kembali terhenti, dan entah mengapa aku menundukmasih belum siap menatap wajahnya yang lurus menatap padaku. Aku tidak mau dia memandangku seperti orang konyol yang baru saja melakukan hal paling bodoh.

"….Apa?"

Tanyanya dengan nada datar, seperti biasa. Namun malah semakin membuatku sesak. Nada ituseakan ia tak peduli denganku.

"A..Aku.. sudah masukBerkeley, apa kau"

"Aku tahu."

Dia tahu? dia bilang dia tahu? lalu kenapa dia

"Kenapa kau.. tidak menemuiku?"

Akhirnya kalimat itu keluar, terdengar bergetar dan mataku kembali memanas. Aku kini menatap matanya, dengan mataku yang sudah dihiasi dengan lelehan air mata. Aku melihat wajahnya yang sedikit tersentak.

"Kenapa kautak pernahmenemuiku?"

Sesak.

Hingga rasanya aku tak sanggup lagi untuk bicara.

Claude terlihat bingung, dan ia melangkah kembali pada sosokku yang kini tengah menangis menahan isakanku.

Aku bertanya padanya seperti ini, namun aku juga takut mendengar jawabannya. Aku tidak mau jawaban yang keluar darinya adalah rasa bencinya padaku.

Karena aku merepotkan?

Karena ia sama sekali tidak peduli denganku?

Karena diasudah menyukai Ciel?

Akudadaku terasa sesak sekali. Mataku berkedut dan terasa panas karena terus menangis.

Sesak!

Sesak!

Aku

'BRUK'

"ALOIS!"

..

Kau tahu perasaanku padamu

Tapi aku juga tahu kau selalu menyangkalnya

Membuatku terus berharap

Tanpa kau pedulikan dan terus mengabaikan

Aku sudah lelah

...

..

Lelah

*xxx*

Saat aku sadar, aku sudah ada di rumah sakit dengan infuse yang berada di tanganku. Mataku menangkap sosok tubuh yang familiar. Orang itu membelakangiku, namun aku langsung dapat mengenali siapa dia.

Rambut panjangnya yang sedang membelakangiku dan harum tubuhnya yang menguar.

Ia berbalik, dan wajahnya ketika melihatku sudah terbangun sangat terkejut.

"Tuan muda Alois!"

Hannah.

Ia menitikkan air matanya dan menggenggam tanganku.

Aku tersenyum, jujur aku sudah sangat merindukannya.

"Kenapa kau bisa ada disini Hannah?"

Wanita itu hanya terdiam dan mengusap rambutku lembut. Ah.. aku sangat rindu dengan usapannya ini.

"Claude yang memeberitahuku. Katanya tuan muda pingsan karena asma dan anemia. Saya langsung cepat-cepat kesini."

Hatiku terasa menyelekit ketika Hannah mengucap nama Claude. Aku tersenyum samar lalu menatap pada pemandangan pagi diluar jendela.

"Orang itusudah pergi lagi, ya?"

Hannah terdiam sejenak sebelum menjawab pertanyaanku.

"Hmm.. ya, tuan muda."

Aku tetap menatap keluar jendela. Tidak mau menatap wajah Hannah saat ini. Karena sekarang, mataku mulai terasa panas kembali, dan entah mengapa akhir-akhir ini aku menjadi cengeng seperti ini. Meneteskan air matayang sulit untuk kuseka.

"Oh…"

Hanya suara itu yang bisa kukeluarkan, aku tidak mau Hannah tahu aku sedang menangis. Tidak. Aku bukan orang lemah.

Aku tidak akan menjadi lemah

Hanya karena orang itu

Hanya karena..

Claude?

*xxx*

"Alois, bagaimana keadaanmu?"

Menanggapi ucapan anak bermata safir itu aku hanya tersenyum dan menjawab, "Lumayan membaik." Dan ia ikut tersenyum.

Sebenarnya untuk saat ini sosok di hadapanku adalah satu-satunya orang yang tidak ingin kutemui. Ciel.

Seperti biasa, sikapnya yang dingin membuatku lebih lega karena tidak harus mengobrol panjang lebar dengannya. Aku merasa seperti orang munafik. Ya.. sangat munafik!

"Kau tidak bersama.. Sebastian?"

Ia yang tadinya sedang membaca sebuah surat kabar meluruskan wajahnya menatapku. Iris safir terkesan bosan, agak lama ia terdiam dan dahinya berkerut.

"Aku tidak mau membicarakan 'orang itu' sekarang. Che! Menyebalkan!"

Aku terkikik geli, sudah dapat ditebak. Pasti dia dan Sebastian sedang bertengkar―atau lebih tepatnya Ciel sedang merajuk. Aku tertawa, tapi hatiku sakit.

Kalian membuatku…

Iri.

"Sudah jam tiga, aku ada mata kuliah. Aku pergi dulu ya, Alois. Cepat sembuh!"

Ia beranjak dari tempat duduknya, dan sapuan angin menyeka helaian kelabunyaaku sedikit tertegun melihat keindahan rambut dan mata yang dimiliki oleh Ciel. Ciel selalu sempurna dalam segalanya. Dia mempunyai segalanya yang ingin aku miliki. Aku iriterlampau iri padanya.

Tak kusadari bahwa saat ini sorotan mataku padanya berubah berkilat. Tak ada senyuman dan kata-kata yang menjawab kalimatnya tadi, hanya diamdiam dengan mata yang menyalahkan. Hingga wajah yang selalu terlihat menggoda bagi para gay di scot itu menatapku bingung.

"Alois?"

Aku tersentak, buru-buru kupasang wajahku yang terpoles senyum yang memaksa.

"Ah iya! Maaf aku melamun, terimakasih sudah repot-repot datang."

Ia membalasnya dengan sedikit senyuman, lalu pergi meninggalkan kamar yang menjadi ruang inapku.

Aku menghela nafas berat, kusandarkan punggungku pada bantal dan kuarahkan pandanganku pada halaman diluar sana. Sejenak aku berfikir, apakah Ciel dapat melihat apa yang kusembunyikan? Apa ia tahu kalau akuapa? Apa barusan aku berfikir untuk membencinya? Tapi kenapa? Memangnya ia berbuat salah? Kenapa aku?

"Aaah! Hentikan pemikiran seperti itu Alois!"

Aku mencoba meyakinkan diriku sendiri, namun ada banyak sisi dari diri Ciel yang sangat ingin kumilik. Terlalu banyakhingga rasanya ingin memiliki.

Aku sangat serakah.

"Bagaimana keadaanmu?"

Aku tersentak ketika suara rendah nan berat itu mengalun hingga membuatku dengan cepat mengalihkan perhatian dari pemadangan diluar sana. Aku tertegun dan kaget ketika melihatnya tengah berdiri disana, memandangku dengan datar seperti ia yang biasanya.

Ia berjalan mendekat, menarik bangku yang sesaat tadi terpakai oleh Ciel dan duduk dibangku itu. Aku hanya diam, mengerutkan dahiku dan membuang muka. Tak ada alasan bagiku untuk bersikap ramah padanya.

Sejenak kami berdua terdiam, tak ada lagi yang memulai pembicaraan. Lagipula, kalau dia memulai percakapan-pun, aku tak yakin ingin menjawab. Andaikan ia tahu seberapa kesalnya aku pada ia yang memiliki eksitensi begitu jauh dariku.

Aku mendengar suara helaan nafas darinya, ia membungkukkan badannya dan mengambil sesuatu dari kantong pelastik yang mungkin ia bawa taditidak tahu lah, aku malas memperhatikannya saat ini.

Yah.. walaupun aku bilang begitu.. entah kenapa bola mataku sedikit mencuri pandang kearahnya. Dan yang kulihat sekarang benar-benar membuatkumengeluarkan air liur.

"Itu kan" ucapku dengan mata berbinar-binar.

Claude yang sedang memakan makanan yang dulu sangat kusuka itu menyeringai sambil terus memakan cemilan khas Inggris yang ia bawa di kantung pelastik tadi. Aaaah! Aku mauu!

"Hm..Eccles Cake, enak sekali."

Ia memakannya sambil menjilati jari-jarinya yang terkena lelehan saus coklat. Menyebalkan! Dia sengaja membuatku iri!

Aku mencoba mengalihkan perhatianku, mengerutkan dahiku kembali sambil menutup mataku. Tetapi bau kue nya~

"Mau?"

Dengan kecepatan suara(?) aku menengok padanya dengan mata yang kembali berbinar-binar dan anggukan yang cepat.

Iatersenyum.

Sekian lama aku tidak melihatnya tersenyum sekarang aku dapat melihatnya lagi.

Senyuman Claude.

"Hm? Ada sesuatu diwajahku?"

Tanyanya yang membuatku terbangun darierr terpesona?

"Ahaha.. tidak itu" saat aku melihat ke arah pipinya, ada sisa kue yang menempel. Aku terkekeh, membuat Claude mengernyitkan dahinya.

"Itu ada sisa kue di pipimu,"

Aku mengulurkan tanganku, menyentuh sisa kue yang menempel di pipinya. Saat aku ingin menarik tanganku kembali, tangan yang lebih besar menggenggam tanganku.

Tangan Claude.

Iris gold nya menatap wajahku lekat-lekat, tangannya menahan tanganku dengan genggaman yang sedikit kuat. Akusibuk dengan denyut jantungku.

"Apa?"

Tanyaku canggung. Aku menundukkan kepalaku supaya ia tak melihat ekspresiku yang bodoh ini.

"Alois… pejamkan matamu."

Aku tersentak dan berusaha berperang dengan fantasi gila yang kini menyerang otakku. Apa yang ingin Claude lakukan?

"Jangan bergerak!"

Aku menuruti kata-katanya, menutup mata dan sebisa mungkin tidak menggerakkan tubuhku. Aku merasakan tangannya menyentuh kepalaku, dan

'KROK'

Eh?

Tadi itu

Aku membuka mataku dan yang muncul di depan wajahku…

"HYAAAAA! SINGKIRKAN MAKHLUK MENJIJIKKAN ITUUU!"

Satu hewan yang sangat kubenci kini ada di tangannya.

Kodok.

Aku melompat dari sisi ranjang kebawah, dan untung saja infusku tidak lepas.

Aku melihat Claude yang terkekeh lalu melepaskan kodok itu lewat jendela.

Nafasku masih ngos-ngosan dan kembali rileks ketika melihat tawa Claude yang sungguh-teramat-jarang-sekali terlihat. Aku mengerucutkan bibirku dan dahiku kembali berkerut.

"Hmph! Harusnya kau lihat ekspresimu tadi, tuan muda."

Ucapnya dengan nada mengejek, ditambah lagi dengan embel-embel 'tuan muda'. Cih! Tak kusangka sekarang ia berubah menjadi sangat mengesalkan. Aku melipat kedua tanagnku di depan dada dengan masih mengerucutkan mulutku.

"Ini majalah siapa?"

Tanya Claude membuyarkan kekesalanku. Aku menengok padanya dan berfikir sejenak.

"Oh itu, itu majalah…"

Bodoh! Kalau aku bilang itu majalah Ciel, nanti pasti pembicarannya akan lain. Tapiah! Aku baru sadar, tadi saat Ciel baru saja keluar, Claude masuk, mungkinkah mereka bertemu?

Apa kalau aku bertanya sekarangtidak apa-apa?

"Ehm.. itu.. majalah Ciel, temanku."

Sejenak aku melihat ekspresi Claude yang sedikit berubah, itu membuat sesuatu dalam otakku menangkap sesuatu. Claude menaruh kembali majalah milik Ciel lalu hanya bergumam "oh.."

Aku mengeratkan kepalan tanganku pada baju kemeja yang kupakai.

"Emm.. kau kenalCiel, 'kan?"

Kulihat ia yang sedikit tersentak lalu menghindari kontak mata denganku.

"….Ya."

Hanya itu kata-kata yang keluar dari bibirnya. Hanya 'ya'. Namun hatiku serasa tercekak.

"Kau kenal diadimana?"

Claude terdiam, agak lama saat akhirnya bibi itu kembali terbuka. Ia menatapku dengan pandangannya yang kembali datar.

"….Bukan urusanmu."

'DEG'

..

.

Aku..

Saat itu aku berfikir,

Ternyata aku

Tidak ada harganya bagimu

*xxx*

"….Bukan urusanmu."

'DEG'

Jangankatakan hal itu! Jangan menatapku seperti itu.

Aku memang tak berhak mencampuri urusanmu, tapi.. dengan kalimat itu kau seakan menjelaskan semua perasaanmu padanya. Pada Ciel.

Aku mengepalkan tanganku, menunduk dalam menahan tetesan yang sudah pasti cepat atau lambat akan keluar. Aku tidak mau seperti ini, terlihat lemah dan seakan minta dikasihani. Aku tidak mau air mata ini menetes. Tidak mau!

'GREEK'

Aku tahu ia berdiri dari kursi yang tadi ia duduki dan melangkah menjauh.

"Aku pulang dulu."

"…."

Aku tak menjawab, seiring dengan ketukan sepatunya yang beradu dengan lantai semakin menjauh, air mataku meleleh lagi dengan derasnya.

"Kaumenyukai Ciel, kau selalu mengejarnya. Apa benaritu?"

Kali ini langkahnya yang nyaris melewati pintu berhenti. Dapat kulihat titik-titik air yang membasahi kemejaku. Dengan hati melengos aku menengok padanya yang kini membelakangiku.

Aku tidak tahu apa yang baru saja aku ucapkan, rasanya tiba-tiba saja aku bertanya menurut kata hatiku.

Padahal..

Aku sudah tahu jawabannya.

Tapi kumohon, sangkal lah..

Kumohon Claude..

Perlahan tubuhnya berbalik, menampakkan wajahnya yang datar dan tatapan matanya yang dingin.

Ia melihatku yang sudah tertoreh lelehan air mata.

Ia membuka mulutnya,

Kumohon jangan katakana itu!

Kumohon jangan ucapkan!

Kumohon

"….ya."

'Tes'

"Ya, aku menyukainya. Sangat menyukainya."

Tok

Tok

Langkah itu kembali menjauh.

Dia telahpergi.

"Ukhuh.. hikstidakClaudeJangan! Khh-"

Sakit..

Pedih

Rasanya sungguh pedih

.

.

.

Kenapa ia tak menyangkalnya?

.

.

.

Dari awal memang aku yang bodoh

.

.

.

Aku sudah tidak mau berharap lagi

.

.

.

Sudah!

.

.

Cukup!

.

.

"AKU MEMBENCIMU CIEL!"

.

.

.

Ya, sekarang aku tahu, siapa yang semestinya disalahkan

.

.

Ini semua salahnya!

Salahnya!

*To Be Continued*

romance abal!

Kedikitan ya? ;w;

Hee tadinya kan targetnya selama bulan puasa ==;; tapi malah keblablasan sampe abis lebaran gini. Oh ya~ mohon maaf ya kalo saya ada salah . (?) dan mungkin untuk chapter kali ini yang mengecewakan ==a

Oh iya, banyak yang bilang disini Alois nya OOC ya? =A=a emang iya sih, Alois nya OOC to the max ==b /timpukin/

Tapi kalo ga dibuat OOC ga seruu =3= tau sendiri sifatnya dia yg bener-bener seenaknya sen―*ditempong alois*

Oh ya, MAKASIH BANYAK YANG SUDAH RnR YAA XX'D

Kirain fic ini ga bakal laku ;w;

Thanks a lot for:

Author Jelek aka Lia-chan, Cuitcuit, Hime Uguisu, Nachie-chan, dan alwayztora

DOMO ARIGATOU .

Dan terimakasih juga buat Silent Reader yang sudah bersedia baca :'D /emang ada?/

Sip~ kita bertemu di chapter selanjutnya~

Jaaaaa X'3