Moshi-moshi!
saia, author pemula nan geje kembali dengan fic "Untitled"! XD
makasih sangat, buat ojou-chan dan Jee-ya Zettyra buat reviewnya. :(( *tangisanbahagia
nanti review-nya saia bales di bawah aja, yak^^
happy reading~
warning : GAJE, author yg telat update, alur cerita yg masih belum jelas.
pairing : r-a-h-a-s-i-a *digampar
"Mencintai tidak berarti memiliki, kan?"
Itulah kata-kata yang biasa Rukia gunakan untuk menghibur dirinya. Tetapi, kali ini kata-kata itu sama sekali tidak mempan. Ia merasa sangat sedih dan sakit hati. Ternyata, harapan yang selama ini ia miliki, hanyalah harapan kosong belaka.
" Jangan berharap terlalu banyak atau kau akan terluka ketika tidak mendapatkan apa yang kau harapkan."
Ia sudah tahu benar kalimat itu. Bahkan, ia sendiri yang membuat kalimat itu dan mengucapkannya berkali-kali di saat ia sedang sendiri. Tetapi, tetap saja ia tidak dapat menyembunyikan perasaannya untuk berharap. Tetapi, sesuai dengan kalimat itu, itu hanya membuat ia makin terluka.
"Kau bisa menghindari kenyataan tentang masa lalumu. Tapi, akan datang saat kau harus menghadapi kenyataan itu."
Kali ini Rukia mengerti makna dari kata-kata itu. Karena, saat inilah ia harus menghadapi masa lalunya yang akan terulang kembali. Dimana saat dia akan merasa sangat kesepian, dan sendiri lagi.
.
.
Untitled Story.
"When the rain started to falling down, the memories of my past started to opening back again... those painful, and also sweet memories.."
.
Disclaimer
.
BLEACH ©Kubo Tite
This Story © Me
.
CHAPTER 2
"Why am I alone?"
"Senang?"
Kata-kata Renji mengagetkan Rukia yang sejak tadi melamun ga jelas. Sedari tadi ia hanya memandang langit biru yang cerah dari balik jendela kelasnya. Sampai-sampai ia tidak menyadari Renji yang sedari tadi sudah berada di sampingnya, memerhatikan gadis mungil yang polos itu.
"Apa?" Tanya Rukia sambil tetap memandang langit tanpa melirik Renji sedikitpun.
"Kemarin, kau kan diantar pulang oleh Ulquiorra." Goda Renji yang membuat Rukia blushing.
"Ti.." Rukia segera berbalik menghadap Renji dan bersiap untuk memukulnya. "Ohok!"
"Hei hei, kau tidak apa-apa Rukia?" Tanya Renji, khawatir.
"Tidak, cuma flu biasa." Kata Rukia, lalu berjalan perlahan menuju bangkunya. Renji pun segera mengikutinya dan duduk di bangku kosong di depan bangku Rukia. "Dia—Ulquiorra, hanya mengantarku karena ada kau, Renji."
"Hah? Maksudmu?" Tanya Renji tidak mengerti.
"Yaa… kau tahu kan. Selama ini, hanya kau temanku Renji. Bahkan, mungkin ada anak di kelas ini yang belum tahu namaku, meskipun ia sudah sekelas denganku selama 6 bulan ini." Jelas Rukia.
"Lalu?" Tanya Renji, masih belum mengerti maksud sebenarnya Rukia.
"Ulquiorra dan Ichigo mengantarku, mungkin karena kasian padaku. Atau mungkin malah kasihan pada kau? Yang harus mengantarku malam-malam ke rumah." Kata Rukia sambil memasang ekspresi yang sulit ditebak. "Pada akhirnya, aku memang ditakdirkan sendiri, Renji. Semua orang yang aku sayang, memang tidak menyayangiku, dan akan pergi."
Renji pun menghela nafas panjang melihat temannya yang satu ini. Meskipun sudah dari taman kanak-kanak berteman dengannya, tetap saja Renji tidak dapat mengerti jalan pikiran sahabatnya yang satu ini. "Hei, dengar, Rukia." Kata Renji akhirnya.
"Jika memang benar mereka kasihan padamu, berarti mereka itu memang PEDULI padamu, Rukia. Dan, kurasa mereka tidak mungkin kasihan padaku, malah mungkin mereka akan iri padaku jika aku bisa mengantar pulang seseorang secantik dirimu, Rukia." Ceramah Renji. "Dan, satu hal lagi. Kau tidak sendiri! Ada aku, sahabatmu ini." Lanjut Renji sambil mengacak-acak rambut Rukia.
Rukia hanya bisa diam seribu bahasa mendengar ceramah Renji. Ia merasakan secercah harapan muncul dalam dirinya yang sudah terpuruk terlalu dalam. "Terima kasih, Renji." Kata Rukia sambil tersenyum sangat manis yang membuat Renji blushing dan salah tingkah.
"Err… oya! Kenapa rumahmu berdebu seperti itu sih, Ruk?" tanya Renji berusaha mengalihkan pembicaraan.
"Don't hope for something too much, Rukia."
Tiba-tiba Rukia teringat dengan kalimat itu. Kalimat yang membuatnya mengingat masa lalunya yang kelam, disaat semua harapan hidupnya hancur dan sirna. Disaat ia terjatuh ke dalam lubang yang amat sangat dalam, dimana tidak ada secercah cahaya pun yang dapat membimbingnya untuk keluar.
"Ruk? Kau dengar aku tidak?" Tanya Renji sekali lagi.
…Flashback...
Dua tahun yang lalu.
Tahun pertama Rukia di SMA. Meskipun sudah pertengahan semester, Rukia sama sekali tidak mempunyai teman. Hanya Renji, teman semasa kecilnya, yang selalu setia menemani Rukia.
"Hai! Namaku Shirayuki. Salam kenal!" seru seorang cewek berambut panjang berwarna silver pada Rukia. Ia mengulurkan tangannya yang berwarna putih pucat pada Rukia.
"Aku… Kuchiki Rukia." Jawab Rukia sambil menerima uluran tangan Shirayuki yang seputih salju.
"Aku lihat dari waktu itu kau diam saja. Apa kau tidak mempunyai teman? Kalau begitu, bertemanlah denganku!" kata Shirayuki sambil tersenyum manis pada Rukia. Rukia hanya bisa terdiam mendengar perkataan Shirayuki. Ternyata, selama ini, ada yang selalu memperhatikannya.
Rukia dan Shirayuki pun menjadi teman yang sangat akrab selama setengah tahun ini. Dimana ada Shirayuki, pasti ada Rukia. Dimana ada Rukia, pasti ada Shirayuki. Tetapi, disaat mereka baru saja lulus tahun pertama mereka di SMA, sesuatu terjadi.
Setelah Rukia dan Shirayuki dibagi nilai rapot mereka masing-masing, sebelum pulang, Shirayuki mengajak Rukia untuk pergi ke taman belakang sekolah. Lalu, mereka pun duduk di bangku taman putih yang terdapat di bawah pohon besar yang rindang.
"Rukia-san.. hmm.. bagaimana mengatakannya ya, pokoknya, aku minta maaf." Kata Shirayuki merasa agak bersalah.
"Kenapa? Ada apa?" Tanya Rukia heran. Padahal ia merasa bahwa Shirayuki tidak membuatnya marah, dan mereka tidak pernah terlibat sebuah pertengkaran.
"Aku… akan pergi. Aku harus pindah sekolah ke Inggris, orangtua ku yang memaksaku." Jelas Shirayuki. "Tetapi! Aku pasti akan selalu mengirimu surat, dan aku akan meneleponmu. Aku akan kembali setiap liburan, karena itu, aku harap Rukia-san tidak marah."
Spontan mata violet Rukia membulat sempurna mendengar berita itu. Sahabat keduanya yang susah payah ia dapatkan, bahkan mereka sudah berteman selama setengah tahun, harus pergi begitu saja.
"Rukia-san? Kau marah ya?" Tanya Shirayuki.
Rukia pun tersenyum mendengar pertanyaan sahabatnya itu. Tidak, dia tidak marah. Untuk apa dia marah? Apalagi pada sahabatnya yang sangat ia sayangi. Ia hanya kecewa. Dan juga sedih. Itu berarti ia harus menghabiskan masa-masa SMA-nya sendiri lagi.
"Tidak, tentu saja tidak, Yuki-chan." Kata Rukia akhirnya. "Aku hanya… sedih."
"Jangan sedih! Kau tidak sendiri, Rukia-san. Masih ada Renji, kan? Dan kau pun bisa mencari sahabat yang baru. Yang lebih baik dari aku!" kata Shirayuki berusaha menghibur Rukia.
"Shirayuki, apa kau sudah selesai? Sebentar lagi kita akan berangkat ke bandara." Seru seorang wanita dari kejauhan sana. Sepertinya dia adalah ibunya Shirayuki.
"Ya, bu!" jawab Shirayuki. "Nah, Rukia-san, aku sudah harus pergi sekarang. Aku tidak akan pernah melupakanmu! Semoga kita bisa bertemu lagi ya," kata Shirayuki lalu ia berdiri.
"Tentu saja, Yuki-chan." Kata Rukia.
"Baik-baik ya! Rukia-san! Sampaikan salamku pada Renji-kun!" seru Shirayuki sambil berlari kecil menuju ibunya.
Rukia pun melambaikan tangan pada Shirayuki. Ia terus menatap rambut silver Shirayuki yang indah terkena oleh angin disaat ia berlari. Dan, akhirnya Shirayuki menghilang di tikungan menuju halaman depan sekolah.
"Shirayuki ke Inggris?" Tanya Renji kaget.
"Ya. Fiuuh… berarti sekarang aku sendiri lagi, deh." Kata Rukia sambil menghela nafasnya.
"Ada aku kok, Ruk." Kata Renji sambil nyengir baboon.
"Ahaha terima kasih, Renji." Kata Rukia sambil tersenyum.
"Kuchiki-san!" tiba-tiba, Matsumoto Rangiku, guru Matematika sekaligus wali kelasnya, menghampirinya dengan tergesa-gesa. "Ada kabar buruk."
…End of Flashback…
"Hoi! Rukia!" seru Renji pada Rukia yang tadi tiba-tiba melamun.
"Kenapa? Kenapa kau merebut semuanya dariku?"
DEG! Keringat dingin Rukia mulai bercucuran sekarang. Wajahnya agak memucat. Kenapa? Kenapa tiba-tiba ia teringat lagi akan kejadian itu? Kalimat itu?
"Rukia, masih ada kami. Dan juga Renji."
"Suatu saat nanti.. kau juga.. akan.. kehilangan.. semuanya.."
"Rukia, maaf."
"WOI! Rukia! R-u-k-i-aaa" seru Renji.
"Oh? Tadi kau bertanya apa? Renji?" Tanya Rukia.
"Kau… kenapa sih?" Tanya Renji. "Jangan-jangan kau teringat lagi kejadian itu, ya?"
"Ahaha tidak apa-apa kok, Renji. Sudahlah lupakan saja. Tadi kau bertanya apa?" Tanya Rukia lagi.
"Fiuuh.. lebih baik nanti saja deh, sudah yak, jangan bersedih lagi. Lebih baik kau bergabung saja dengan yang lainnya, cari teman baru kek," kata Renji sambil bangkit dari bangkunya. "Aku pergi dulu ya,"
Rukia hanya mengangguk dan tersenyum. Renji pun segera berjalan keluar kelas, meninggalkan Rukia sendiri di kelas. "Renji, aku takut. Jika aku mempunyai teman baru lagi, maka ia akan menghilang lagi…" gumam Rukia.
BRUK!
"Oh, maaf," kata Ulquiorra pada orang yang barusan ditubruknya. "Kau tidak apa-apa?" Tanya Ulquiorra.
"Tidak apa-apa." Jawab Rukia sambil sedikit blushing.
"Bohong." Kata Ulquiorra tiba-tiba, membuat Rukia kaget. "Kau, mimisan."
"Oh, ini. Tidak apa-apa, kok. Aku baru saja mau mampir dulu ke UKS sebelum pulang." Kata Rukia sambil tersenyum. "Baiklah, aku permisi dulu ya, Ulquiorra-kun."
Ulquiorra hanya menatap Rukia yang perlahan menjauh, menuju ruang UKS. Kemudian, ia pun berbalik menuju kelas.
"Jangan berharap terlalu banyak, Rukia.." gumam Rukia dalam perjalanannya menuju UKS.
Pagi yang cerah di Karakura High School. Sekolah masih terlihat sepi, hanya terlihat tiga orang lelaki yang terlihat sedang asik berbincang di bangku paling depan kelas mereka.
"Apa? Pindah?" Tanya Ichigo pada Renji. "Padahal kan, semester 1 baru saja selesai. Kenapa tidak tunggu sampai kau lulus SMA, sih?"
"Hmm… ya.. fiuh, orangtuaku itu, seenaknya saja." Keluh Renji pada Ichigo. "Bagaimana cara aku mengatakannya pada Rukia ya?"
"Kau, aku heran. Kenapa kau bisa sangat dekat dengan gadis misterius itu?" Tanya Ulquiorra pada Renji.
"Misterius? Dari sisi mana sih kalian melihat dia sampai menilai dia misterius?" Tanya Renji. "Rukia itu, temanku masa kecil. Kita selalu satu sekolah dan satu kelas sampai kelas 3 SMA ini."
"Pantas saja, kau kan sudah berteman dengannya sejak kecil." Kata Ichigo. "Kau, suka Rukia ya?"
Pertanyaan spontan Ichigo membuat Renji blushing dan salah tingkah. "Ga tau," kata Renji asal jawab. Ya, tapi, sebenarnya Renji juga tidak tahu perasaan yang sebenarnya pada Rukia. Ia sudah terlalu terbiasa berperan sebagai sahabat sejati Rukia, yang selalu ada untuk menghibur Rukia. Rukia cenderung pendiam. Yah.. sebenarnya, dia tidak pendiam. Sejak hari 'itu' ia jadi sangat pendiam, dan menutup diri. Jadi ia tidak mempunyai banyak teman. Karena itu, Renji selalu ada untuk menghibur dan membantu Rukia.
"Tetapi, sepertinya ia memang hanya terbuka sama kau deh, Ren." Kata Ulquiorra.
"Tidak, dia tidak menyukaiku." kata Renji. "Aku tahu siapa yang dia suka."
Ichigo dan Ulquiorra saling berpandangan. Mereka agak prihatin pada Renji yang cintanya bertepuk sebelah tangan itu.
"Baiklah! Kembali pada masalah. Bagaimana aku menyampaikan pada Rukia bahwa aku akan pindah?" Tanya Renji pada kedua sahabatnya itu.
"Pindah? Renji, benarkah itu?" Tanya sebuah suara perempuan dari belakang mereka bertiga.
"Rukia? Sejak kapan..?" Tanya Renji kaget begitu menyadari bahwa Rukia sudah berada di belakang mereka bertiga. Rukia pun hanya menampang ekspresi kecewa dan sedih lalu berjalan pelan menuju bangkunya dan meletakan tas nya. Ia melirik Renji yang sudah berada di sampingnya.
"Begini, Rukia.." Renji bingung harus mengatakan apa.
"Fiuuh… yah, tidak apa. Aku tidak marah kok, aku sudah terlalu terbiasa kehilangan orang-orang yang dekat denganku." Kata Rukia sambil memperlihatkan senyum yang dipaksakan.
"Rukia…" gumam Renji. Ia merasa sangat bersalah harus meninggalkan Rukia disaat seperti ini. Disaat Rukia benar-benar sendiri. Disaat Rukia sudah tidak memilki siapa-siapa lagi. Sahabat macam apa aku ini? Keluh Renji dalam hati.
Hari yang tidak dinantikan pun tiba. Rasanya Renji ingin marah-marah pada sang waktu karena harus berjalan secepat itu. Akhirnya, hari kepergian Renji tiba. Ia akan meninggalkan Karakura dan pindah ke Seireitei.
Entah kenapa, hari ini Rukia merasa bahwa ia tidak ingin pergi ke sekolah. Ia tidak ingin mengatakan salam perpisahan pada Renji. Biarlah ia menyesalinya, tidak dapat bertemu sahabat satu-satunya yang dapat 'bertahan' dengannya. Ia pun melirik jam, pukul 10.30. Sudah waktunya Renji berangkat.
Nobody knows.. who I really am…
I never felt this empty before…
Pip! Rukia segera menekan tombol hijau di handphone-nya itu. "Halo?"
"Rukia? Kau tidak datang ke sekolah ya, hari ini?" Tanya Renji.
"Hmmm….tidak. Maaf ya, Renji." Jawab Rukia seadanya. "Bagaimana? Sudah berangkat, belum?" Tanya Rukia.
"Belum, sebentar lagi, pesawatnya berangkat. Kenapa kau tidak masuk sekolah? Apakah kau sakit?" Tanya Renji.
"Tidak. Aku hanya sedang tidak ingin ke sekolah hari ini." Jawab Rukia.
"Ya sudah, Rukia, baik-baik ya. Aku telepon lagi nanti." Kata Renji lalu mengakhiri telepon mereka dengan menekan tombol merah.
Rukia pun hanya bisa terdiam sambil menatap layar handphone-nya. Ia pun memasukan handphone-nya ke dalam saku seragamnya dan berjalan gontai ke arah grand piano-nya. Ia membuka tutupnya, lalu duduk. Ia mulai menekan tuts-tuts pianonya yang menghasilkan rangkaian melodi yang indah, tetapi sedih. (Ceritanya, Rukia memainkan lagu 'Lilium')
"Apakah yang akan kau lakukan, jika kau kehilangan suaramu? Pianoku?" Tanya Rukia pada pianonya sendiri sambil mengakhiri permainan pianonya.
Piano yang kehilangan suaranya… pasti, tidak akan ada yang mau memainkannya. Ia akan kesepian, sendirian, dan terlupakan. Lalu, bagaimana denganku? Aku adalah sebuah kotak musik yang sudah lama kehilangan suaranya. Satu-satunya suara, melodi, yang aku punya, hilang hari ini. Apakah aku juga akan seperti piano itu? Kesepian? Sendiri? Dan terlupakan?
-To Be Continued-
Akhirnyaa... selesai juga, deh, fic geje ini.
Semoga bagi yg membaca, bisa terhibur yak^^
oya, soal judul, daripada Untitled, nanti di chap selanjutnya, bakalan saia ganti, deh. rasanya saia menjadi author yg tidak bertanggung jawab dengan judul seperti itu. XD
Yosh, yosh, balesan review!
ojou-chan : ahaha iya dong. Ulquiorra itu, multi-talenta, loh. Ichigo sama Rukia? bukan ga kenal, cuma, ga deket. :D yosh yosh~saia juga, mohon bantuannya, yak! XD
Jee-ya Zettyra : wah? makasih^^ oh, sip-sip. udah di-translate, tuh. yg itu kan? Iya, dia sakit. D: wahaha saia juga, ngebayanginnya, pasti Rukia cantik banget deh, nari-nari di tengah ujan gitu^^. eheheh, makasih atas dukungannya! author akan mencoba utk update lebih cepet, deh, demi kalian-kalian yg suka fic ini. XD hee? bikin penasaran? sebenernya, author juga, belom tau loh, gimana akhir ceritanya *digampar* bercanda. Pairing ya? pairingnya, emang keliatan kayak RenRuki sih, awalnya. Tapi, kan ceritanya Rukia suka Ulquiorra, tapi, nanti, kayaknya pairingnya bakalan ganti lagi. Yaah.. soal pairing, itu masih r-a-h-a-s-i-a. XD
makasih banyak buat yg baca fic ini! makasih juga yg udah nge-review!
saia mohon dukungannya, yak! Ayo, ayo~ silahkan me-review bagi yang ikhlas. \(^.^)/
-Ariadne Lacie 'Phantomhive'-
