Holaaa! Akhirnya update juga fic ini! 3 minggu yang lalu, ya? saya terakhir update fic ni? eh? au ah elap!

Sekedar info.

Author akan sibuk minggu-minggu ke depan. Karena akan ada setumpuk ulangan sebagai pengganti UTS. Ah! padahal waktu taun lalu ga ada UTS! kejam! *demo* Dan, dan, tau, ga, nilai saya turun! #deritalo Sebenernya, ngga, sih. Cuma gara-gara kelas-nya diacak, saya sekelas sama orang gila semua. Mereka pinternya sangat, lah ._.

Selain itu, author sibuk dengan bikin fic yang satu lagi. Jika kalian suka Kuroshitsuji, baca, yak! *promosi* Author lagi semangat fic genre humor, nih!

Mungkin, saya, Author, akan Hiatus untuk sementara. Mungkin, kok.

Oya, maaf cerita yang ini pendek. Dan makin ga jelas. Author kurang inspirasi. Lagi ga menjiwai cerita. Pokoknya banyak, lah.

Happy Reading. Hope you enjoy this.


"Mencintai tidak berarti memiliki, kan?"

Itulah kata-kata yang biasa Rukia gunakan untuk menghibur dirinya. Tetapi, kali ini kata-kata itu sama sekali tidak mempan. Ia merasa sangat sedih dan sakit hati. Ternyata, harapan yang selama ini ia miliki, hanyalah harapan kosong belaka.

" Jangan berharap terlalu banyak atau kau akan terluka ketika tidak mendapatkan apa yang kau harapkan."

Ia sudah tahu benar kalimat itu. Bahkan, ia sendiri yang membuat kalimat itu dan mengucapkannya berkali-kali di saat ia sedang sendiri. Tetapi, tetap saja ia tidak dapat menyembunyikan perasaannya untuk berharap. Tetapi, sesuai dengan kalimat itu, itu hanya membuat ia makin terluka.

"Kau bisa menghindari kenyataan tentang masa lalumu. Tapi, akan datang saat kau harus menghadapi kenyataan itu."

Kali ini Rukia mengerti makna dari kata-kata itu. Karena, saat inilah ia harus menghadapi masa lalunya yang akan terulang kembali. Dimana saat dia akan merasa sangat kesepian, dan sendiri lagi.

.

Untitled

"When the rain started to falling down, the memories of my past started to opening back again... those painful, and also sweet memories.."

.

Disclaimer

.

BLEACH ©Kubo Tite

This Story © Me

.

Warning : author pemula yang aneh. author yang telat update. mungkin membaca cerita ini hanya membuang waktu kalian.

Pairing : masih rahasia, masih belum jelas.

.

CHAPTER 3

"Memories"

.

.

Minggu. Hari yang dibencinya. Hari dimana ia akan merasa kesepian sepanjang hari. Hari dimana ia harus sendiri sepanjang hari.

...Flashback...

Masa-masa SMP. Masa-masa yang paling disukai Rukia. Disaat rasanya semuanya sudah ia miliki. Kebahagiaan, teman-teman yang menyayanginya, keluarga, dan... kekasih.

"Rukia! Katanya kau ditembak Toushiro? Wah! Selamat ya!" seru Renji pada Rukia.

"Ssst! Jangan keras-keras, dong! Bagaimana kalau dia dengar?" omel Rukia sambil melihat ke sekitarnya untuk memastikan bahwa 'dia' tidak ada.

"Siapa? 'dia' maksudmu?" tanya Renji.

"Hmm... ya. Soalnya, dia kan, dekat sekali sama Toushiro. Aku jadi tidak enak, bahkan, sepertinya ia menyukai Toushiro." Kata Rukia.

"Tenang saja! Lagipula, kan, Toushiro yang menembakmu, bukan kau." Kata Inoue.

"Tapi... tetap saja..."

"Sudahlah, syukuri apa yang ada deh, sebelum pergi!" kata Renji sambil mengacak-acak rambut Rukia.

Rukia pun tersenyum lega mendengar perkataan dua sejoli atau kedua sahabatnya itu. "Terima kasih, Renji, Inoue."


"Selamat ya, Rukia! Kau hebat sekali, peringkat kedua di kelas!" seru Inoue pada Rukia sambil mengguncang-guncang Rukia.

"Nanti traktir, loh. Awas kalau nggak!" timpal Renji. "Sekalian menghiburku, yang Cuma dapat peringkat... lebih baik tidak usah disebutkan, deh."

"Ahaha terima kasih. Pasti, pasti kok, Renji." Kata Rukia.

"Rukia." Panggil seseorang dari arah belakang Rukia.

Rukia yang menyadari suara siapa itu, segera menengok ke belakangnya dengan sebuah senyuman terkembang di wajahnya. "Ya? Toushiro?" jawab Rukia.

"Ayo, ayo, lebih baik kita tinggalkan mereka.." kata Renji sambil menyeret Inoue untuk menjauh. Rukia pun hanya mendelik kesal pada Renji yang berusaha menahan tawanya.

"Selamat ya," kata Toushiro malu-malu. Maklum, mereka baru sehari yang lalu jadian.

"Iya, terima kasih, Toushirou-kun. Kau juga, selamat ya! Aku tetap tidak bisa mengalahkanmu dalam soal pelajaran ya, hehe." Jawab Rukia.

"Nah, kalau begitu, selamatannya..." kata Toushiro sambil mengambil dua carik kertas dari saku celananya. "Nih, mau, ya?"

Rukia pun mengambil kertas kecil yang diberikan Toushiro padanya. Ia pun agak blushing dan langsung melihat ke arah Toushiro. "Ini?"

"Ya, tentu, itu tiket untuk ke taman bermain." Kata Toushiro. "Hari minggu nanti, ada waktu?"

"Tentu!" jawab Rukia senang.

Dan, tanpa Rukia dan Toushiro sadari. Sebenarnya, dari tadi, ada yang memperhatikan mereka berdua dari balik jendela. Seorang gadis yang tak kalah manisnya dengan Rukia. Ia menatap Toushiro dan Rukia dengan tatapan yang sedih, sekaligus geram. "Kenapa? Kenapa kau merebut semuanya dariku? Kuchiki-san?"

...End of Flachback...

Rukia hanya termenung mengingat kejadian itu. Saat-saat dimana ia sangat bahagia. Saat-saat yang sudah tidak mungkin ia alami lagi. Ia pun memutuskan untuk tidak memikirkannya dan berjalan keluar rumah, menuju kotak suratnya. Rukia pun melihat sepucuk surat di kotak suratnya. From : Abarai Renji.

Rukia menatap surat itu lama. Lalu, ia pun bergegas kembali masuk ke rumahnya dan duduk di sofa berdebu ruang tamunya.

From : Abarai Renji

To : Kuchiki Rukia

Hai Rukia! Apa kabar? Baik-baik saja kan? Aku tebak, kau pasti kangen padaku kan? Ahaha.

Sudah seminggu sejak aku meninggalkan Karakura. Bagaimana keadaan Karakura dan teman-teman disana? Di Seireitei, membosankan, loh. Aku jadi menyesal, kenapa aku tidak bilang mau nge-kost saja di Karakura ya? Yah.. tapi itu sudah terlambat. Aku sudah masuk ke sekolah disini, aku tidak bisa kembali ke Karakura High School.

Oh ya, Ruk, bagaimana? Sudah dapat teman baru? Ahaha bukan bermaksud menyindirmu, tetapi, aku hanya khawatir akan sifatmu yang berubah itu. Sudahlah, kau jangan terlalu memikirkan kutukan itu, ya?

Sudah dulu ya, pelajaran di Seireitei High School, lebih sulit dari Karakura. Aku harus meningkatkan belajarku lagi. Do'a kan aku ya!

Aku akan mengunjungimu dalam waktu dekat ini!

Rukia pun melipat lagi suratnya dan memasukannya ke amplop. Ia hanya tersenyum tipis saat mengingat kata-kata 'Sudahlah, kau jangan terlalu memikirkan kutukan itu, ya?'. Bagaimana bisa? Ia, kan, sudah melihat dan mengalami bukti kutukan itu selama 3 tahun ini.

"Renji bodoh. Apa kau juga tidak takut mengenai kutukan itu?" gumam Rukia. "Apa kau tidak takut? Kau juga akan menghilang?"

Rukia hanya tersenyum miris. Ia pun mendekati jendela rumahnya yang besar dan melihat langit yang mulai gelap. Tiba-tiba ia teringat akan seseorang. Seseorang yang pernah menjadi orang paling berharga dalam hidupnya. Dan orang yang menjadi penyebab ia menjadi seperti ini saat ini.

Rukia pun segera mengganti bajunya dengan sebuah baju terusan berwarna hitam dengan sedikit hiasan pita di pinggangnya. Ia pun membawa payung hitamnya dan bergegas keluar rumah.

Setelah berjalan cukup jauh, Rukia berhenti untuk memetik beberapa tangkai bunga lili. Ia pun berjalan lagi dan akhirnya sampai di sebuah tempat yang sepi. Tempat yang sama sekali tidak ada orang. Tempat dimana orang kehilangan seseorang yang sangat berharga baginya. Kuburan.

Rukia berjalan pelan sambil memegang bunga lilinya. Ia pun menengok ke sekeliling untuk mencari sebuah batu yang ia cari. Sebuah batu marmer berwarna seputih salju. Nisan milik Hitsugaya Toushiro.

Tidak sulit menemukan nisan milik Toushiro. Nisan itu berwarna paling putih dibanding nisan yang lain. Rukia pun berlutut di samping nisan putih itu sambil mengelusnya perlahan.

"Tidak terasa ya, sudah tiga tahun sejak kau meninggalkanku." Gumam Rukia sambil meletakkan bunga lili di nisan Toushiro. "Toushiro, apa kabarmu?" tanya Rukia pada makam Toushiro. "Kuharap kau baik-baik saja. Apakah disana sempit? Apakah disana gelap? Apakah kau... kesepian?"

"Disini aku baik-baik saja. Maaf ya, Toushiro. Jika disana gelap, maafkan aku. Maafkan aku yang tidak pernah bisa menerangimu lagi. Maafkan aku karena aku tidak akan pernah bisa menjadi cahayamu. Dan.. yah.. aku benci mengatakan hal ini. Tapi, aku sangat kesepian sejak kau tiada." Rukia pun tersenyum. "Oya, Toushiro, apakah kau bertemu dengan 'dia' disana? Kuharap iya. Ia mengatakan padaku, bahwa ia kesepian karena kau bersama denganku waktu itu. Jujur, aku merasa bersalah. Dan sepertinya.. ia marah padaku, Toushiro."

Rukia pun berhenti dan menarik nafas sebentar. Lalu, ia melanjutkan bercerita lagi. "Toushiro, apakah kau percaya pada kutukan? Ahaha. Maaf aku bertanya yang aneh-aneh. Tetapi.. aku juga tidak tahu. Apakah ini kutukan, ataukah ini adalah karma."

Setelah itu, Rukia hanya terdiam lama sambil memandangi makam Toushiro. Ia mulai merasakan butiran air hujan yang dingin jatuh perlahan-lahan membasahi kepalanya. "Hujan.. ya?" gumam Rukia. Ia pun kemudian teringat sebuah kejadian. Detik-detik sebelum Toushiro meninggalkan semuanya—meninggalkan ia, di dunia ini.

Flashback..

Wajahnya sudah sangat pucat. Badannya dingin. Rukia tidak tahu lagi apa yang harus ia lakukan. Ia hanya bisa menemani Toushiro. Karena itulah yang sudah ia janjikan pada Toushiro.

"Kuchiki-san! Ambulans tidak bisa datang, di luar badai sangat deras, ada banjir dimana-mana!" seru Inoue dari pintu ruang UKS.

Rukia hanya bisa menghela nafas mendengar kabar yang satu itu. Ia pun melihat ke luar jendela. Ya, memang. Hujan sangat lebat di luar sana. Angin bertiup kencang. Dan sesekali Rukia mendengar suara petir. Ia pun lalu berbalik dan duduk di samping ranjang.

"Rukia..? kau disitu?" gumam Toushiro lemah.

"Toushiro? Kau sudah sadar? Apakah kau lebih baik?" seru Rukia sambil menggenggam tangan Toushiro yang sudah sedingin es. Rasanya ia sangat ingin menangis. Ia tidak tahan melihat sosok yang sangat ia cintai dalam keadaan seperti ini. Pucat, berantakan, dan tidak berdaya di atas kasur putih yang sudah penuh dengan bercak-bercak merah. "ambulans akan datang sebentar lagi.. bertahanlah.."

Toushiro pun hanya tersenyum lembut mendengar perkataan Rukia. Ia tahu, ambulans tidak bisa datang. Ia mendengar perkataan Inoue tadi. "Tidak apa.. lagipula.. maaf, sepertinya.. memang sudah saatny—uhuk!" Toushiro pun terbatuk hebat dengan disertai darah yang tidak bisa dibilang sedikit. Ia pun kembali mewarnai kasur dan kemeja putihnya dengan bercak merah yang baru.

"Bodoh!" tiba-tiba Renji berseru dari belakang Rukia. "Sudah saatnya. Apanya yang sudah saatnya! Jangan berlagak seperti kau mengetahui segala yang akan terjadi selanjutnya!" teriak Renji. Toushiro hanya bisa terdiam mendengar perkataan Renji. Ia tahu, Renji pasti juga tahu bahwa akhirnya sudah dekat. Tetapi, Renji hanya berusaha menutup kenyataan. Akhirnya, dengan susah payah, Toushiro mencoba untuk duduk. Inoue juga menghampiri mereka bertiga dan berdiri di samping Renji.

"Ya.. aku juga tidak mau. Aku sangat tidak mau, Renji. Tetapi, kalian tahu penyakitku, kan?" kata Toushiro. "Baiklah, jika misalnya terjadi apa-apa.. aku ingin mengatakan sesua—uhuk!" Toushiro kembali terbatuk. Wajahnya sudah semakin pucat sekarang.

Toushiro pun memandang Renji, Inoue dan Rukia secara bergantian. Ia pun tersenyum dan beralih memandang Rukia. Dilihatnya Rukia yang sudah terisak. Rasanya Toushiro sangat ingin tertawa melihat wajah Rukia yang seperti itu. Selama ini, Toushiro tidak pernah melihat Rukia menangis. "Baiklah.. aku.. aku sudah tidak punya siapa-siapa lagi. Biaya hidupku selama ini ditanggung oleh pamanku yang tinggal di luar negri. Tetapi, ia tidak terlalu peduli padaku. Jadi, tidak akan ada yang sedi—"

"Kami." Tiba-tiba Rukia menyela perkataan Toushiro. Toushiro hanya tertawa kecil mendengar perkataan Rukia itu.

"Ya, baiklah. Nah, sebenarnya hal yang ingin kukatakan sekarang adalah, terima kasih. Arigatou. Ya, hanya itu. Aku sangat bahagia hidup bersama kalian. Aku tidak menyesal dilahirkan ke dunia, dan mendapat penyakit ini. Karena, sebelum aku menghilang, ternyata aku bisa mendapat kebahagiaan." Kata Toushiro. Ia mulai menggigil dan gemetaran.

"Ka..re..na..itu..bahagia..lah.." ekspresi Toushiro sudah sangat aneh sekarang. Ia menggenggam dadanya dan menundukan kepalanya. "ma..af..kaki..ku.. su..dah.. ma..ti..ra..sa.."

Rukia, Inoue dan Renji hanya bisa terdiam. Mereka sudah tahu apa yang akan terjadi selanjutnya. Mereka hanya bisa diam. Menunggu malaikat kematian selesai mencabut nyawa Toushiro.

Tangan Toushiro yang semula mengepal pun perlahan merenggang. Ia pun mulai sedikit merosot dari posisi duduknya. Dan, ia tersenyum. Ya, Toushiro sudah pergi.

End of Flashback..

Rukia pun berdiri. Ia membuka payung hitamnya. Tetapi, ia tidak memakainya. Ia malah memutar-mutarnya. Rukia pun mulai bersenandung kecil sambil menari-nari di kuburan yang sepi itu. Meskipun hujan sudah semakin deras, dan Rukia sudah basah kuyup, ia tidak berhenti menari. Ia memutar-mutar payungnya dan menari bagaikan malaikat kematian di tengah kuburan.

"Suatu saat.. kau juga.. akan kehilangan semuanya.. seperti aku.."

Rukia teringat kalimat itu. Ia pun lalu menghela dan menatap langit. Langit yang menangis. "Maaf, ya." gumam Rukia.

"Pada siapa?"

Rukia yang kaget melihat ke belakangnya dan mendapati Ulquiorra sedang memakai baju serba hitam dan membawa payung yang berwarna hitam juga. "Kau juga, sedang melayat Toushiro, ya?"

- To Be Continued (masih lama) -


Selesai.

Gimana? aneh, ya? aah.. semoga kalian tetap bersabar untuk membaca fic ini .

Klimaks-nya belum muncul, loh!

akhir kata :

author bingung mau ngomong apa.

So, mind to review?