Warning : gaje, terkadang ceritanya ga nyambung, mungkin dapat membuat bosan, Apakah genrenya ngaco? Apa? Warning yang gaje? Err... baca aja deh. DLDR.

Pairing : UlquiRuki or RenRuki or HitsuRuki or IchiRuki! Yeah! XD


"Mencintai tidak berarti memiliki, kan?"

Itulah kata-kata yang biasa Rukia gunakan untuk menghibur dirinya. Tetapi, kali ini kata-kata itu sama sekali tidak mempan. Ia merasa sangat sedih dan sakit hati. Ternyata, harapan yang selama ini ia miliki, hanyalah harapan kosong belaka.

" Jangan berharap terlalu banyak atau kau akan terluka ketika tidak mendapatkan apa yang kau harapkan."

Ia sudah tahu benar kalimat itu. Bahkan, ia sendiri yang membuat kalimat itu dan mengucapkannya berkali-kali di saat ia sedang sendiri. Tetapi, tetap saja ia tidak dapat menyembunyikan perasaannya untuk berharap. Tetapi, sesuai dengan kalimat itu, itu hanya membuat ia makin terluka.

"Kau bisa menghindari kenyataan tentang masa lalumu. Tapi, akan datang saat kau harus menghadapi kenyataan itu."

Kali ini Rukia mengerti makna dari kata-kata itu. Karena, saat inilah ia harus menghadapi masa lalunya yang akan terulang kembali. Dimana saat dia akan merasa sangat kesepian, dan sendiri lagi.

.

Untitled

"When the rain started to falling down, the memories of my past started to opening back again... those painful, and also sweet memories.."

.

Disclaimer

.

BLEACH ©Kubo Tite

This Story © Me

.

CHAPTER 5

"Normal Again."


Oreta... awai tsubasa... kimi wa sukoshi, ao sugiru sora ni tsukareta dake sa...

Mou dareka no... tame janakute... jibun no tame ni waratte iiyo...

Rukia pun tersenyum sambil mendengar alunan musik yang dimainkan music player-nya dan juga alunan melodi yang dimainkan oleh hujan. Ya, itu hanyalah suara berisik yang dihasilkan oleh air hujan yang jatuh tidak beraturan. Tetapi, bagi Rukia itu adalah kumpulan melodi yang memiliki banyak arti.

"Low Battery..."

Rukia pun melihat layar music player-nya yang mulai redup. Sudah saatnya untuk men-charge -nya. Ia pun beranjak dari kursi kayunya yang berada di samping jendela dan beranjak mendekati meja tulisnya, tempat ia menaruh charger music player-nya. Tetapi, perhatiannya teralihkan oleh selembar surat yang terletak tepat di bawah charger-nya itu.

Rukia pun menaruh music player-nya di mejanya dan mengambil kertas berwarna coklat muda tersebut. Ia segera memusatkan pandangannya pada bagian atas surat dan langsung menangkap sebaris tulisan yang menuliskan "From, Abarai Renji to Kuchiki Rukia."

"Ah, sudah berapa kali kira-kira aku membaca ulang surat ini?" gumam Rukia sambil tersenyum sendiri. Lalu ia mengambil charger music player-nya dan berjalan kembali ke kursi kayu di samping jendela.

Ia pun duduk di bangku kayunya dan mulai membaca surat itu lagi. Tentu, tak lupa ia men-charge dulu music player-nya.

.

From, Abarai Renji to Kuchiki Rukia

Hai, Ruk. Apa kabar? Eh? Kau bosan aku menanyakan itu terus? Baiklah, baiklah. Bagaimana kabarmu? Ahahah.

Apa? Kau jadi dekat dengan Ulquiorra? Bagaimana bisa? Wah, selamat ya! Akhirnya kau dapat teman baru juga. Akhirnya do'aku terkabul. Kau tahu, aku selalu mendo'akan agar kau dapat teman baru loh. Yah, yang pasti teman baru itu tampan dan kerennya tak akan melebihi diriku, sih. Ahahaha.

Hei, daripada aku banyak omong di surat ini, bagaimana jika aku bicara langsung saja padamu? Aku akan mengunjungimu hari Sabtu nanti! Tunggu aku bersama Ulquiorra ya.

See you soon!

Rukia pun tersenyum bahagia setelah ia selesai membaca surat tersebut. Dilipatnya baik-baik dan ia simpan di saku rok-nya. "Ah, Renji akan datang hari ini. Kira-kira, dia sudah sampai dimana, ya?" gumam Rukia sambil menatap keluar jendela. Melihat pemandangan berupa langit yang menangis.

"Langitku, terima kasih sudah menemaniku menangis selama ini." Kata Rukia sambil membuka jendela. "Tapi, sekarang aku tidak akan menangis lagi. Yah, kuharap begitu. Kuharap kali ini aku dapat keluar dari lingkaran kutukan dan kesedihanku ini." Lanjutnya.

Lalu, Rukia pun menutup jendelanya dan melihat jam dinding yang berada di belakangnya. Pukul 10.00. Ah, seharusnya ia menjemput Renji di stasiun sebentar lagi.

Rukia pun segera mengambil payung hitamnya. Ia mengambil tas selempang miliknya dan berlari kecil menuju pintu. Ia memakai sepatu kets hitamnya dan membuka pintu. Lalu, ia membuka payungnya dan segera berjalan menuju arah stasiun.


"Renji! Hei!" seru Rukia sambil melambaikan tangan pada Renji yang baru keluar dari gerbang kedatangan.

"Rukia?" gumam Renji agak heran. 'Sejak kapan ia jadi mendapat semangat hidupnya lagi? Apakah gara-gara Ulquiorra?' pikir Renji.

"Ah, kau lama sekali. Aku sudah menunggu disini cukup lama!" kata Rukia kesal.

"Ah, maaf-maaf. Kau datang sendiri?" tanya Renji.

"Iya." Jawab Rukia.

"Wah, sayang sekali." Kata Renji.

"Memangnya kenapa? Seharusnya kau bilang saja jika kau tidak mau dijemput olehku!" seru Rukia kesal.

"Ah, tidak. Bukan begitu kok! Jangan salah paham dulu," kata Renji sambil mengacak-acak rambut Rukia. "Ayo, ayo, sekarang kita ke rumah kau saja~ kuharap kau sudah menyiapkan makanan yang enak." Lanjut Renji.

"Eeh? Aku sama sekali tidak masak apa-apa!" kata Rukia kaget.

"Ah, tapi, yang pasti kau harus mentraktirku makan! Ayo, ke rumahmu!" seru Renji sambil menarik-narik Rukia. Rukia pun tersenyum lembut saat melihat sikap Renji yang bersemangat seperti itu. Ah, kapan terakhir kali ia bersemangat seperti itu?

Saat Renji dan Rukia keluar dari stasiun, hujan sudah mulai mereda. Tetapi, tetap saja hujan masih turun rintik-rintik.

"Ayo, cepat! Untuk apa kau diam begitu?" tanya Renji heran karena daritadi Rukia hanya diam sambil mengaduk-aduk isi tasnya.

"Ini." Kata Rukia sambil memperlihatkan payung hitamnya.

"Apa?" tanya Renji heran. Bukankah payung adalah salah satu benda yang dibenci Rukia?

"Apa? Tentu saja ini! Masih hujan, bodoh! Bagaimana kalau nanti kita sakit?" jawab Rukia sambil membuka payungnya dan berjalan keluar.

"Eeh? Tapi... bukankah kau sangat menyukai hujan? Hujan seperti ini sih... namanya bukan hujan, kan. Yah, itu sih menurutmu." Kata Renji sambil mengikuti Rukia dan membuka payung coklat tuanya.

"Ah, itu kan dulu." Jawab Rukia santai.

Renji pun tersenyum bahagia. Sudah tiga tahun lamanya, ia tidak pernah melihat Rukia yang seperti ini. Ya, Rukia yang sudah lama tertidur dan terpuruk. Rukia yang asli, yang selalu semangat, ceria, bahagia, dan bijak dalam menghadapi segala hal.

"Selamat datang kembali, Rukia." Gumam Renji.

"Apa? Apa?" tanya Rukia. Ia menyadari bahwa Renji mengatakan sesuatu tadi.

"Ah, tidak." Kata Renji sambil nyengir kuda.

Rukia pun tertawa kecil melihat cengiran Renji tersebut. Dan, sesaat setelah ia tertawa, ia baru menyadari. Tertawa itu menyenangkan, bukan?


"Ruk..." gumam Renji sambil melihat isi kulkas Rukia.

"Apa?" tanya Rukia sambil sibuk memainkan music player-nya.

"Selama beberapa hari ini, kau makan apa, sih?" tanya Renji sambil menutup pintu kulkas. 'Percuma. Rumah Rukia memang bagus, tapi, isi kulkasnya sama sekali kosong! Beda sekali dengan keadaan rumah-rumah di film-film atau sinetron yang biasanya penuh dan lengkap.' Batin Renji.

"Ah? Aku sih, biasa beli yang lewat. Atau, minum air putih dan susu hangat juga sudah cukup, kok." Jawab Rukia santai.

"Cih, dasar. Dan juga... sudah berapa lama kau tidak membersihkan rumah? Terakhir kali aku kesini... kan waktu mengantarkan kau waktu kau pingsan. Dan, keadaan rumah ini tidak lebih baik dari waktu itu! Malah lebih buruk, suram dan berdebu." Ceramah Renji.

Rukia tidak menggubris ceramahan Renji tersebut. Ia malah memasang earphone-nya dan mulai memainkan lagu-lagu yang terdapat di music player-nya.

"Ruk! Dengarkan kalau orang lagi bicara, dong." Keluh Renji. Ah, Rukia yang ia inginkan memang kembali. Tapi, Rukia yang ini sama resenya dengan yang sebelumnya!

"Hnn." Jawab Rukia singkat. Kali ini, ia malah meninggalkan Renji sendirian di dapur dan beralih ke ruang santai yang ada di seberang dapur.

Renji yang kehabisan akal pun segera mengambil handphone miliknya dari sakunya dan mencari kontak yang ia cari. Lalu, ia segera menekan tombol hijau. "Halo, Ulquiorra? Ya. Aku ada di Karakura sekarang. Kau bisa ke rumah Rukia sekarang? Dan, jangan lupa bawa makanan, ya." Kata Renji lalu segera menekan tombol merah dan menghela napas. "Cepat datang ya."


Ting Tong

Bel pintu rumah Rukia berbunyi. Renji segera berlari kecil untuk membuka pintu. Sementara Rukia masih santai-santai saja di ruang santai sambil mendengarkan lagu dan menggambar.

"Ah! Ulquiorra dan Ichigo. Akhirnya kalian datang juga." Kata Renji lega.

"Ren, kau sedang apa? Kok berantakan begitu?" tanya Ichigo heran saat melihat Renji yang memang berantakan itu.

"Ah, aku sedang bersih-bersih." Kata Renji sambil memperlihatkan sapu yang sedang dipegangnya. "Ayo, masuk."

Ulquiorra dan Ichigo pun segera masuk. Mereka segera menuju dapur dan menaruh bahan makanan di meja.

"Lalu... ada apa kau mengundang kami kesini? Kau harus memberikan alasan yang cukup memuaskan untuk menyuruh kami belanja seperti ini!" kata Ulquiorra sambil menjatuhkan diri di kursi meja makan yang cukup empuk itu.

"Ah, tenang. Kalo soal uang, nanti aku ganti deh. Cuma, kalian masak dulu ya." Kata Renji sambil memegangi perutnya. "Dari tadi pagi aku belum makan. Lapar, tau!"

"Ah, ternyata hanya gara-gara itu." Kata Ichigo. "Nah, Ul, kau yang masak, ya." Lanjutnya sambil berjalan menuju grand piano yang berada tak jauh dari sana.

"Apa?" kata Ulquiorra agak kaget. Sementara Ichigo tidak menggubris Ulquiorra dan mulai menekan asal tuts piano tersebut. "Tapi...!"

"Hei, kenapa kalian bisa ada disini?" tanya Rukia yang baru sadar bahwa orang yang berada di rumahnya bertambah.

"Rukia, aku baru saja mengundang koki-koki amatir!" seru Renji tiba-tiba muncul dari kamar mandi. Kali ini ia sedang memegang kain pel plus ember.

"Hah?" kata Rukia bingung. "Padahal, kalau soal masak, serahkan saja padaku..." lanjutnya sambil melipat lengan kemejanya.

"Nah, kalian tunggu saja ya. Ah, sudah berapa lama aku tidak masak ya?" gumam Rukia sambil berjalan cepat menuju dapur.

Ulquiorra dan Ichigo pun berpandangan heran dan segera meninggalkan Rukia yang tiba-tiba bersemangat tersebut. Renji yang sepertinya sudah selesai membersihkan kamar mandi mendekati mereka yang sedang duduk di ruang santai.

"Rukia berubah, ya?" tanya Renji pada Ulquiorra dan Ichigo.

"Aah... yah, sejak hari itu." Jawab Ulquiorra sambil mengambil buku gambar yang ada di atas meja. Ia pun mulai membuka lembar demi lembar buku gambar tersebut. Hanya terdapat beberapa gambar kelinci dan kelinci lagi.

"Sejak kau bertemu dengannya di pemakaman?" tanya Renji agak tertarik.

"Ya, sepertinya." Jawab Ulquiorra masih asik melihat-lihat buku gambar Rukia. "Eh, tunggu. Kenapa kau tahu hal itu?"

"Apa? Apa? Kenapa kau tidak menceritakannya padaku!" seru Ichigo kesal.

"Ahaha, ceritanya panjang." Jawab Ulquiorra.

"Ya, cerita yang panjang kan biasanya menarik." Kata Ichigo. Ia bersikeras ingin mengetahui apa yang sebenarnya terjadi.

"Jadi... sebenarnya..." Ulquiorra pun berhenti saat ia membuka halaman terakhir buku gambar tersebut. Ia melihat gambar yang cukup bagus kali ini. Gambar empat orang. Yang satu sepertinya Rukia, dan ada orang yang mirip Toushiro disana. Ah, tapi, Toushiro bukan di sebelah Rukia. Yang ada di sebelah Rukia adalah... Ulquiorra? Dan, yang berada di sebelah Toushiro adalah seorang cewek berambut coklat tua.

"Ada apa?" tanya Renji. Penasaran kenapa tiba-tiba Ulquiorra tidak melanjutkan kalimatnya lagi.

"Ah, tidak. Aku merasa bahwa aku harus membantu Rukia memasak?" kata Ulquiorra sambil bangkit dari sofa. Ia pun menaruh buku gambar tersebut kembali di tempatnya dan berjalan menuju dapur.

"Hei, Renji, sebenarnya ada apa sih?" tanya Ichigo pada Renji. Renji hanya mengangkat bahu.

"Ah, ini sungguh menyebalkan." Keluh Ichigo sambil tiduran di sofa.


"Bagaimana?" tanya Ulquiorra sambil melipat lengan kemejanya.

"Apanya?" tanya Rukia sambil mengaduk-aduk adonan berwarna putih di mangkuk besar.

"Ya... bagaimana rasanya terlepas dari kutukan itu?" tanya Ulquiorra sambil melihat-lihat isi kresek yang berisi bahan makanan.

"Haha. Aku belum sepenuhnya terlepas dari kutukan tersebut, bodoh." Jawab Rukia.

"Tapi sepertinya kau sudah merasa bebas sekarang?" kata Ulquiorra setengah menyindir. Ia pun akhirnya memutuskan untuk memotong sayur dan membuat salad.

"..." Rukia hanya terdiam. Ah, ya. Ia memiliki harapan sekarang. Tapi, ia masih saja tetap merasa takut saat ia harus berharap pada seseorang.

"Sudahlah, bebaskan saja dirimu dari perasaan itu." Kata Ulquiorra. "Jika kau tak percaya dan berusaha, kau pasti akan terbebas, Ruk."

"Terima kasih, Ulquiorra." Jawab Rukia sambil tersenyum.

"Ah, ya, Ruk, kau lebih menarik jika kau terus seperti ini, loh." Kata Ulquiorra sambil mulai membersihkan selada.

"Eeh?" Rukia agak blushing dan juga kaget mendengar perkataan itu keluar dari mulut Ulquiorra. "Maksud..."

"Ah, lupakan saja." Potong Ulquiorra. "Ayo, serius memasak, Ruk. Nanti kualitas makananmu bisa menurun."

"Ah? Eh? Iya." Rukia makin bingung. 'Ternyata Ulquiorra itu orangnya seperti ini? Dulu, kupikir ia orang yang dingin dan cool...' batin Rukia.


"Itadakimaasu!" seru keempat orang tersebut sebelum mereka mulai menyantap hidangan yang ada di meja makan.

Makanan yang terhidang di meja sungguh mengundang selera. Ya, itu adalah sukiyaki yang mengepul panas, ditambah saus teriyaki, salad, dan juga makanan penutup berupa pai buah yang sudah menunggu untuk dipotong di dapur.

"Bagaimana? Enak kan?" tanya Rukia sambil melihat ketiga temannya itu dengan penuh harap.

"Enak! Enak!" seru Renji sambil mengambil daging lagi.

"Syukurlah, sudah cukup lama aku tidak memasak seperti ini lagi." Kata Rukia sambil menyantap sukiyaki jatahnya.

"Oh ya, kalian ada waktu tidak, besok?" tanya Ichigo tiba-tiba.

"Untuk apa?" tanya Ulquiorra.

"Ke taman bermain!" seru Ichigo.

"Hah?" Renji hampir saja tersedak nasi.

"Ya... kau tahu kan... aku... aku mengajak Nel untuk pergi ke taman bermain. Yah, kupikir paling tidak kalau ada Rukia dia pasti mau?" kata Ichigo sambil nyengir.

"Eeh? Kenapa aku?" tanya Rukia heran.

"Yah, kau kan agak dekat dengan Nel, Ruk." Kata Ichigo.

"Ooh..." Rukia pun hanya terdiam. 'Agak dekat, ya? Ah, sepertinya aku memang tidak mempunyai teman yang benar-benar dekat dimata teman sekelasku.' Batin Rukia.

"Baiklah, kebetulan tiketnya ada lima, kok. Ayo! Kita bermain sepuasnya!" seru Ichigo bersemangat.

"Yoo!" sahut Renji bersemangat juga. Yah, kalo soal main sih, dia jagonya.

Rukia pun hanya memandang ketiga temannya yang kelihatannya sangat senang dan bersemangat itu. Ya, dia juga senang. Tapi, apakah tidak apa-apa? Mengeluarkan diri, memaksa untuk keluar dari lingkaran kutukan itu? Dan masuk ke lingkaran mereka, teman-teman yang mungkin akan jadi korban keegoisannya?


To Be Continued

.

Hihihi, aneh, ya? Ga nyambung? Ah, sepertinya saya lagi kurang inspirasi dan ide ._.

Dan! Lagi-lagi inspirasi saya di fic ini tersaingi oleh fic humor yang lagi saya kerjain! Fic di fandom Kuroshitsuji, sih. Jika anda penggemarnya, baca, ya. #promosi

.

Review, request, semangat, cacian, makian bahkan curhat?

Click the button below please!