Makasih yang udah review! Maaf, author lagi buru-buru! So, enjoy this!

.

Warning : gaje, terkadang ceritanya ga nyambung, mungkin dapat membuat bosan, Apakah genrenya ngaco? Apa? Warning yang gaje? Err... baca aja deh. DLDR.

Pairing : UlquiRuki or RenRuki or HitsuRuki or IchiRuki! Yeah! XD


"Mencintai tidak berarti memiliki, kan?"

Itulah kata-kata yang biasa Rukia gunakan untuk menghibur dirinya. Tetapi, kali ini kata-kata itu sama sekali tidak mempan. Ia merasa sangat sedih dan sakit hati. Ternyata, harapan yang selama ini ia miliki, hanyalah harapan kosong belaka.

" Jangan berharap terlalu banyak atau kau akan terluka ketika tidak mendapatkan apa yang kau harapkan."

Ia sudah tahu benar kalimat itu. Bahkan, ia sendiri yang membuat kalimat itu dan mengucapkannya berkali-kali di saat ia sedang sendiri. Tetapi, tetap saja ia tidak dapat menyembunyikan perasaannya untuk berharap. Tetapi, sesuai dengan kalimat itu, itu hanya membuat ia makin terluka.

"Kau bisa menghindari kenyataan tentang masa lalumu. Tapi, akan datang saat kau harus menghadapi kenyataan itu."

Kali ini Rukia mengerti makna dari kata-kata itu. Karena, saat inilah ia harus menghadapi masa lalunya yang akan terulang kembali. Dimana saat dia akan merasa sangat kesepian, dan sendiri lagi.

.

Untitled

"When the rain started to falling down, the memories of my past started to opening back again... those painful, and also sweet memories.."

.

Disclaimer

.

BLEACH ©Kubo Tite

This Story © Me

.

CHAPTER 6

"Will This Last Forever?"

.

Rukia sudah mulai kehilangan kesabarannya. Berkali-kali diliriknya layar handphone-nya itu, tetapi tidak ada SMS ataupun telepon yang masuk. Bahkan, jam pun sudah menunjukan pukul 11.00. Dia sudah menunggu selama 1 jam! Ini sudah keterlaluan namanya!

Dan dengan perasaan campur aduk antara bosan, kesal, dan berharap, Rukia pun menjatuhkan dirinya ke atas bangku taman putih yang ada di dekatnya. Ia menatap langit yang berwarna biru cerah tanpa awan sedikitpun. Sepertinya hujan tidak akan turun hari ini. Tetapi sebagai gantinya, udara hari ini sangat panas.

"Fiuuh… haus juga ya, kenapa sih mereka tak kunjung datang?" gerutu Rukia dalam gumaman yang cukup keras.

PUK! Rukia merasakan sesuatu yang dingin ditempelkan pada pipinya. Spontan ia pun langsung menengok ke arah benda itu berasal.

"Ul… quiorra?" gumam Rukia kaget.

"Yo, Rukia," kata Ulquiorra sambil tersenyum ceria.

"Bikin kaget saja," kata Rukia lalu kembali memperhatikan langit.

"Ayolah, jangan dingin begitu. Lepaskanlah pikiranmu sehari ini saja!" seru Ulquiorra member semangat. "Nih, minum ini untuk membuatmu lebih baik. Kau bilang kau haus, kan?" lanjutnya sambil menyodorkan sekaleng Lemon Tea.

"Lemon tea!" ekspresi Rukia langsung berubah. Ia langsung menyambar kaleng lemon tea dari tangan Ulquiorra dan membukanya. "O..oh, maaf. Eh, makasih, ya," kata Rukia jadi agak canggung karena sudah bertindak aneh.

Ulquiorra pun terdiam kemudian tertawa kecil. "Ahahah, ternyata kau bisa seperti itu juga ya, tidak kusangka."

"Jangan tertawa!" seru Rukia dengan wajah memerah karena malu dan kesal. Tetapi akhirnya ia ikut tertawa juga.

"Hoooy!" tiba-tiba terdengar seseorang berseru dari kejauhan sana. Orang berambut merah jabrik sedang melambaikan tangannya sambil berlari kecil ke arah mereka.

"Pu… pura-pura ga kenal ah," gumam Rukia sambil memandang kea rah lain. Ia mulai meneguk lemon tea-nya sedikit-sedikit. Ulquiorra hanya tertawa mendengar komentar Rukia itu.

"Hey! Kalian kejam sekali sih, balas melambai kek!" protes Renji dengan nafas yang ngos-ngosan karena sudah berlari. "Loh, mana Ichigo dan Nel?"

"Tidak tahu, mereka belum datang," jawab Ulquiorra.

"Ooh…" tanggap Renji seadanya. "Eh tunggu, itu si Ichigo kan?" kata Renji sambil menunjuk ke kejauhan sana. Karena warna rambut Ichigo sangat menyolok, jadi gampang dikenali.

"Hei, maaf menunggu lama," kata Ichigo lemas setelah ia sampai ke tempat Renji, Rukia dan Ulquiorra berada.

"Kenapa?" tanya Renji heran karena melihat Ichigo yang tidak bersemangat. Tidak seperti biasanya ia seperti ini.

"Nel, tidak bisa datang…" jawab Ichigo semakin lemas.

"Hoo… ya sudah, lupakan saja ia dan kita bersenang-senang hari ini!" kata Renji sambil menepuk punggung temannya itu.

"Hey, kau ini. Egois sekali sih," kata Ulquiorra datar. Renji langsung mendelik ke arahnya.

"Tidak apa-apa. Ayo, kita masuk saja. Lagipula sayang kalau tiketnya terbuang!" seru Ichigo tiba-tiba kembali bersemangat lagi. Rukia agak kaget melihat reaksi Ichigo yang tiba-tiba itu.

'Ichigo… cepat sekali kembali ceria, ya. Berbeda denganku,' batin Rukia dalam hati.

"Sedang apa kau Ruk? Ayo ikut!" seru Ulquiorra sambil menarik tangan Rukia. Rukia langsung blushing sedikit.

"I… iya!"


Setelah menaiki beberapa wahana seperti roller coaster, ontang-anting, kora-kora, Niagara-gara, arung jeram* dan sejumlah wahana lainnya, Rukia langsung mual dan menyerah.

"Ruk, ternyata kau tidak berubah sejak tiga tahun lalu, tetap lemah ya," ejek Renji pada Rukia yang sedang duduk dengan wajah pucat.

"Diam kau… ueek…" Rukia malah semakin pusing dan mual.

"Hei, hei, jangan begitu. Nih, kau minum saja dulu," kata Ulquiorra sambil menyodorkan segelas jus tomat. "Jus tomat mungkin bisa menyegarkanmu. Kan tak asik, kalau sedang seperti ini tapi ada orang yang tidak enak badan."

"Terima kasih, Ulquiorra," kata Rukia sambil tersenyum. Ichigo hanya menatapnya dengan pandangan iri.

"Cih, coba aku dan Nel bisa seperti kalian," komentarnya.

"Ha? Memangnya kami kenapa?" tanya Ulquiorra.

"Kalian dekat sekali, tau!" kata Ichigo sewot. Rukia spontan blushing sementara Ulquiorra hanya terlihat sedikit kaget.

"Ah, ini bukan seperti yang kau kira…" Ulquiorra berusaha mengelak. Rukia agak kaget dengan jawaban Ulquiorra tadi. "Aku dan Rukia hanya teman biasa, yang dekat. Itu saja,"

'Teman dekat… Cuma itu? Fiuh, memang jangan berharap lebih ya, Rukia.' Batin Rukia. 'Yah, paling tidak ini berarti mungkin sesuatu yang buruk tidak akan terjadi pada Ulquiorra.'

"Wah, hujan…" kata Ichigo sambil melihat keluar. "Sudah lama tidak turun hujan."

Rukia pun ikut memandang keluar. Dilihatnya tetes demi tetes air hujan yang membuat jalanan, atap, dan segalanya yang tanpa perlindungan menjadi basah. Ia pun menutup matanya dan mendengarkan ritme melodi yang dimainkan oleh hujan. Terkesan tidak beraturan, tapi Rukia menganggapnya indah.

"Hujan itu indah, ya." Rukia bergumam lirih.

"Kenapa?" tanya Ichigo heran.

"Hujan itu... memang terkesan pahit, dan menyedihkan. Tetapi, kita akan menemukan kebahagiaan kita melalui pelangi yang muncul setelahnya. Terkesan seperti pengalaman berharga melalui hal yang menyakitkan," kata Rukia. Masih tetap terfokus melihat keluar. "Tetapi... dalam kasusku... aku tidak pernah menemukan pelangiku setelah hujan..." gumam Rukia pelan. Membuat Ulquiorra dan Renji tidak dapat mendengarnya. Tetapi, Ichigo masih dapat mendengarnya.

"Kenapa?" tanya Ichigo heran. Rukia hanya terdiam.


Pukul 10.30 malam. Bulan tak kunjung muncul, bintang pun tak kunjung bersinar. Tetapi Rukia tetap melihat ke langit yang hitam itu dari balik jendela kamarnya.

"Ichigo... kau hebat sekali ya, masih tetap ceria meskipun sudah jelas cintamu ditolak seperti itu oleh Nel..." gumam Rukia. "Mungkin aku juga harus seperti Ichigo, jangan cepat menyerah!"

Rukia pun bangkit dari kursi tempat ia duduk. Menutup gorden, dan berjalan menuju ranjangnya. Sebelum ia mematikan lampu, ia melihat figura yang ia pajang di meja kecil di samping ranjangnya. "Byakuya nii-sama, Hisana nee-san, maaf ya. Rukia tidak bisa menemui kalian secepat mungkin. Rukia... Rukia ingin mencoba membuka lembaran hidup yang baru lagi!" kata Rukia pada kedua wajah yang tersenyum di dalam foto itu.


"Pagi!" seru Rukia pada teman-teman sekelasnya. Spontan teman-teman sekelasnya itu langsung menengok dengan pandangan heran ke arah Rukia.

"Pa...pagi!" seru mereka.

Rukia pun tersenyum dan segera berjalan ke arah bangkunya, menaruh tasnya. "Fiuh... kau berhasil Rukia! Semoga ini bisa menjadi awal yang baik..." gumamnya pada dirinya sendiri.

Rukia teringat akan sesuatu. Ia teringat akan Ulquiorra, Renji dan Ichigo. Sepertinya ia harus memberikan sesuatu untuk berterima kasih pada mereka. "Oh ya! Piano!" Rukia pun segera berlari ke luar kelas.

Dilangkahkan kakinya lebar-lebar dan cepat. Ia bahkan hampir saja berlari. Setelah sampai ke ruangan yang dituju, Rukia buru-buru membuka pintu ruang kesenian tersebut. Seketika matanya terbelalak saat mendapati benda yang dicarinya tak ada.

"Ke...kemana?" gumam Rukia lemas.

"Ada apa?" tanya Ichigo pada Rukia yang tertunduk lemas di depan ruang kesenian.

"Ti..dak," jawab Rukia. Ia pun menengok ke arah Ichigo. "Kau mau kemana? Kok, kau tidak ke kelas?"

"Aku izin hari ini, mau menemani Ulquiorra," kata Ichigo.

"Menemani? Memangnya Ulquiorra kenapa?" tanya Rukia heran.

"Kau tidak tahu? Aneh, biasanya dia kan suka memberitahumu..." kata Ichigo heran. "Kau mau ikut saja? Ia sekarang ada di rumah sakit. Nanti kita izin sama-sama."

"Rumah sakit?" Rukia tersentak mendengar kedua kata itu.

To be continued

.

A/N : *karena author bingung, asumsikan mereka pergi ke Dufan, jadi wahana-nya juga wahana dufan ya :D

.

Chapter 6 selesai~ akhirnya, saya baru nyadar ni fic update sebulan yang lalu...

Yah, saya sempat tidak ada ide sih... sekarang juga idenya belum mantap... bahkan saya merasa ni cerita udah kayak sinetron! Huhuhu .

Makin ga jelas ya? Well, tapi sebentar lagi tamat kok!

So... review, please?

-Ariadne Lacie-