Warning : gaje, terkadang ceritanya ga nyambung, mungkin dapat membuat bosan, Apakah genrenya ngaco? Apa? Warning yang gaje? Err... baca aja deh. DLDR.
Pairing : UlquiRuki or RenRuki or HitsuRuki or IchiRuki! Yeah! XD
"Mencintai tidak berarti memiliki, kan?"
Itulah kata-kata yang biasa Rukia gunakan untuk menghibur dirinya. Tetapi, kali ini kata-kata itu sama sekali tidak mempan. Ia merasa sangat sedih dan sakit hati. Ternyata, harapan yang selama ini ia miliki, hanyalah harapan kosong belaka.
" Jangan berharap terlalu banyak atau kau akan terluka ketika tidak mendapatkan apa yang kau harapkan."
Ia sudah tahu benar kalimat itu. Bahkan, ia sendiri yang membuat kalimat itu dan mengucapkannya berkali-kali di saat ia sedang sendiri. Tetapi, tetap saja ia tidak dapat menyembunyikan perasaannya untuk berharap. Tetapi, sesuai dengan kalimat itu, itu hanya membuat ia makin terluka.
"Kau bisa menghindari kenyataan tentang masa lalumu. Tapi, akan datang saat kau harus menghadapi kenyataan itu."
Kali ini Rukia mengerti makna dari kata-kata itu. Karena, saat inilah ia harus menghadapi masa lalunya yang akan terulang kembali. Dimana saat dia akan merasa sangat kesepian, dan sendiri lagi.
Untitled
"When the rain started to falling down, the memories of my past started to opening back again... those painful, and also sweet memories.."
.
Disclaimer
.
BLEACH ©Kubo Tite
This Story © Me
.
CHAPTER 7
"The Repeated Curse."
Rukia's PoV
Kususuri koridor putih itu dengan tergesa-gesa. Tidak biasanya, langkahku terasa sangat berat. Tapi aku tetap memaksa kakiku untuk melangkah secepat mungkin.
Kudengar Ichigo memanggilku di belakang berkali-kali. Tapi aku tidak menghiraukannya. Yang terpenting saat ini adalah nasib Ulquiorra. Kira-kira apa yang terjadi? Apakah ia baik-baik saja? Jangan bilang bahwa kutukan itu menimpa Ulquiorra!
Mataku terpaku pada pintu kayu berwarna coklat muda di depanku. Kulihat baik-baik nomor yang terdapat di pintu itu. 103. Ya, ini kamar Ulquiorra. Kugerakkan tanganku perlahan, mencoba untuk membuka pintu itu.
KLEK!
"Jam 5 sore nanti kau operasi. Sudah siap, kan?"
Dan, seketika itu juga badanku terasa lemas.
End of Rukia's PoV
Normal PoV
"Oy! Rukia!" seru Ichigo pada Rukia. Untung saja Ichigo datang tepat waktu. Ia segera menahan Rukia yang hampir saja jatuh. "Kau kenapa?"
Rukia bengong. Ia perlahan menolehkan wajahnya pada Ichigo. Membuat mata violetnya bertatapan langsung dengan mata coklat Ichigo.
Ichigo agak kaget saat melihat tatapan Rukia kosong. "Woy! Rukia!" Ichigo mulai mengguncang-guncang tubuh Rukia.
"Ada apa?" Ulquiorra yang sedari tadi merasa di depan kamarnya ribut sekali mengecek ke depan kamarnya. "Rukia? Ichigo?"
.
"Ohahahah... begitu toh, kau takut aku terkena dampak kutukan itu?" kata Ulquiorra geli.
"Jangan mentertawakanku! Aku kan hanya mengkhawatirkanmu!" seru Rukia kesal.
"Apa sih? Kalian ngomong apa? Kutukan apa?" tanya Ichigo yang kesal karena ia sama sekali tidak mengerti apa yang mereka bicarakan.
"Hmmm… lebih baik kau tidak tahu…" kata Rukia.
"Dasar kalian menyebalkan." Ichigo mendengus kesal. "Ya sudah, tidak apa-apa lah. Jadi, kau serius mau di operasi?"
"Tentu saja. Aku takut nanti jadi kronis," kata Ulquiorra santai.
"Memangnya separah itu ya penyakit usus buntu?" tanya Rukia. Mulai khawatir lagi.
"Rukia, Rukia, masa kau tidak tahu sih? Jika seseorang mengalami usus buntu kan biasanya langsung di operasi!" kata Ichigo.
"Iya, iya, maaf," kata Rukia nyengir.
"Nah! Operasinya kan masih lama, mau berkeliling rumah sakit dulu?" tanya Ulquiorra sambil bangun dari tempat tidurnya.
"Eh? Memangnya kau tidak apa-apa? Tidak sakit?" tanya Rukia.
"Aku juga tidak tahu. Tapi entah kenapa tidak terasa sakit, kok," kata Ulquiorra. "Ayo, ayo! Rumah sakit ini milik keluargaku, dan aku tahu tempat yang pasti kau sukai, Rukia!"
"EEEH?" Ichigo dan Rukia tersentak seketika.
.
Mata violet Rukia membulat seketika ketika ia melihat ruangan di depannya. Dan juga benda di depannya. Ruangan yang agak luas, dengan lantai marmer yang sangat mengkilap. Membuatnya dapat bercermin di lantai marmer itu. Dindingnya di cat putih, dengan beberapa lukisan terpajang di dinding. Ada sebuah lampu kristal di langit-langitnya yang agak tinggi, dengan dua jendela besar yang menghadap langsung ke taman di depan. Dan, di tengah ruangan itu… terdapat sebuah grand piano putih.
"Kau suka piano kan? tapi maaf, disini warnanya putih, bukan hitam seperti di rumahmu," kata Ulquiorra sambil tersenyum mantap.
"Kenapa ruangan seperti ini bisa ada di rumah sakit?" tanya Ichigo.
"Ayahku sangat menyukai musik. Apalagi piano," kata Ulquiorra. "Tapi, ternyata piano di rumah sakit banyak juga kegunaannya kok."
"Bo…boleh kumainkan, kan?" tanya Rukia.
"Tentu! Justru aku mengajakmu kemari agar kau bisa memainkannya," kata Ulquiorra.
Rukia pun berjalan cepat menuju piano putih itu. Ia menggeser kursinya, membuka penutupnya, dan mencoba membunyikan satu tuts. Piano itu langsung menyambut Rukia dengan melodi yang nyaring.
Refleks Rukia pun tersenyum lebar. Ia pun duduk dan mulai memainkan sebuah lagu.
When I just can't find my way… You're always there for me…
When I am out of my way… You're always there for me…
When I just can't find my way… You're always there for me…
When I am out of my way… You're always there for me…
Like a bird in the sky…
You set me free you give me one heart…
Like a star in my night…
You'll always be a part of me…
When I just can't find my way…
You're always there
You're always there
You're always there
for me…*
Rukia pun berhenti memainkan lagu dan tersenyum lembut. Tapi, wajahnya memerah seketika ketika ia menyadari sejak tadi ia bermain sambil bernyanyi dengan suara yang lumayan keras. "Ah… eh…"
"Rukia, lagu itu untuk Ulquiorra ya? Ahahahah," ledek Ichigo yang membuat Rukia semakin memerah.
"Diam bodoh!" Rukia pun menutuo tutup piano tersebut pelan dan berjalan menuju Ulquiorra dan Ichigo.
"Loh, sudah?" tanya Ulquiorra.
"Iya, lagipula sepertinya kau harus siap-siap operasi kan?" tanya Rukia. "Kami juga harus kembali ke sekolah."
"Yah… iya sih. Ya sudah, mau kuantar ke depan?" tanya Ulquiorra.
"Tidak perlu, lagipula aku ada urusan sama si Ichigo ini…" kata Rukia sambil menatap Ichigo dengan tatapan sadis. Nyali Ichigo ciut seketika. "Ayo… Ichigo…"
"Ul-Ulqui! Tolong akuu!" seru Ichigo ketika kemejanya mulai ditarik-tarik Rukia.
"Ahahah, baik-baik ya, Ichigo," kata Ulquiorra santai lalu berbalik menuju kamarnya lagi.
"Hihihih, awas saja, berani-beraninya kau mengatakan hal seperti itu!" Rukia sudah siap dengan tinju mautnya.
"AAAAH!" Ichigo hanya bisa pasrah saja.
Langit sudah mulai mendung. Jam sekolah masih tersisa sekitar 2 jam lagi, tapi sepertinya Ichigo tidak berniat kembali ke sekolah. Rukia juga begitu. Ia memilih mengunjungi makam kedua kakaknya dan juga makam Toushiro. Ichigo yang juga tidak tahu mau kemana ikut Rukia saja mengunjungi makam.
"Ini, makam kedua kakakmu?" tanya Ichigo sambil memperhatikan kedua nisan yang ada di depannya dan depan Rukia sekarang. Terukir 'Hisana Kuchiki' dan juga 'Byakuya Kuchiki' di masing-masing nisan tersebut.
"Iya," jawab Rukia singkat. Ia pun meletakkan buket bunga yang ia bawa dan memejamkan kedua matanya perlahan.
Hai, kak. Sudah lama ya, aku tidak mengunjungi makam kalian.
Maafkan Rukia ya.
Oh ya kak, Rukia sekarang sudah punya teman lagi. Namanya Ulquiorra Schiffer dan Ichigo Kurosaki. Semoga mereka juga tidak meninggalkan Rukia seperti kalian dan juga Toushiro ya.
Rukia akan mengunjungi kalian lagi besok. Janji, kok.
Rukia pun membuka matanya dan tersenyum. Ia pun menoleh pada Ichigo yang sedari tadi menunggunya di belakangnya. "Kau tidak mau mengatakan sesuatu pada kedua kakakku?" tanya Rukia.
"Err…" Ichigo hanya memandang lurus ke atas makam kedua kakak Rukia. Ia pun memasang seulas senyum tipis dan buru-buru menjawab. "Tidak, sudah, kok."
"Oh. Baiklah, sekarang aku mau ke makam Toushiro dulu. Kau tunggu saja disini," kata Rukia dan segera berjalan menuju nisan paling putih di makam tersebut. Ichigo hanya menurut saja dan menengok ke sebelah kirinya.
"Senang?" tanya Ichigo pada 'sesuatu' yang ada di sebelahnya. Sesuatu itu tampaknya tak dapat terlihat selain oleh Ichigo.
"Yo, Rukia, aku pulang dulu," kata Ichigo sambil melambaikan tangan. Rukia pun balas melambaikan tangan. Dilihatnya Ichigo perlahan berjalan menyusuri halaman depannya, membuka pagar, dan menutupnya kembali. Dan akhirnya menghilang, tak terlihat lagi oleh Rukia.
Ichigo's PoV
Ternyata Rukia orangnya seru juga. Benar kata Renji. Ia tidak misterius jika sudah kukenal dekat. Dan… ia tegar lagi, wah… rasanya ia lebih menarik dari si Nel. Eh! Tunggu! Jangan-jangan aku jadi suka si Rukia? ah tidaak!
Aku pun berbalik dan memandang jalan yang kosong. Langit sudah sangat mendung. Tetapi rasanya ingin sekali aku kembali ke rumah Rukia. Jika hujan turun, aku dapat berteduh disana. Rasanya itu akan sangat menyenangkan. Ah ya, sepertinya aku lebih baik kembali.
End of Ichigo's PoV
Hujan mulai turun rintik-rintik. Rukia memandangi butiran air hujan yang mulai berjatuhan membasahi bumi dari balik jendela ruang tamunya. Sudah lama sekali rasanya, ia dapat merasakan sebuah perasaan rindu pada seseorang.
KLANG!
Terdengar suara pagar rumah Rukia dibuka oleh seseorang.
"Eh? Ichigo?" gumam Rukia heran. Ia pun segera membuka pintu rumahnya. Dilihatnya Ichigo berlari kecil ke arahnya. "Ada apa?"
"Hujan, nih. Boleh tidak aku berteduh sebentar di rumahmu?" tanya Ichigo. Dalam hati ia berharap Rukia akan menerimanya dengan senang hati.
"Eh? Wah… tentu. Boleh, kok. Ayo masuk," kata Rukia mempersilahkan Ichigo masuk ke rumahnya. Ichigo pun masuk dan segera menjatuhkan diri di sofa ruang tamu. Sementara Rukia berjalan ke arah dapur.
"Ichigo! Kau mau apa? Teh manis atau—?" terdengar Rukia berteriak dari arah dapur. Ichigo yang merasa tidak enak segera menyusul Rukia untuk membantu.
"Ah… aku mau coklat hangat saja! Yah, kalau ada. Tapi, sini, biar kubantu…" kata Ichigo sambil berjalan cepat menuju dapur. "R…Rukia?"
Ichigo tersentak disaat melihat Rukia yang sedang menutupi mulutnya dengan tangan kanannya. Terlihat sedikit bercak merah di tangannya, dan bercak merah yang cukup banyak di bak cucian. Wajah Rukia terlihat sangat pucat.
"Se…sepertinya penyakitku kambuh lagi, Ichigo…"
To Be Continued
A/N : *OST Code Geass R2, dinyanyiin HITOMI kalo ga salah, judulnya If I Were A Bird. Sedih banget di bagian slow-nya u_u
.
Yo yo yo! Sepertinya author tidak hiatus lagi! HAHAHAH! Oke, lebay.
Fic ini agak abal—ralat—EMANG abal, karena dikerjakan di tengah UAS, di tengah jam belajar IPS ku uwoo~ ah tapi, author sangat ingin update cerita ini, dan sangat ingin mengakhirnya secepat mungkin. Oya, cara penggunaan PoV alias Point of View... itu beneran gitu bukan? maklum, author baru bin abal, jadi agak gak ngerti XD
Oke, bukannya males bales review, cuma saya harus belajar! DX
But, Thanks for the reviews! Rio Lucario, Jee-ya Zettyra, and Rufa Kha!
Dukung dan do'akan UAS author melalui reviews~~ #digampar
Jaa!
-The half-demon butler, Ariadne Lacie-
