Disclaimer:

Tite Kubo

Rated:

T

Pairing:

GrimmIchi

Warning:

OoC (kami sudah berusaha se-IC mungkin), Abal, gaje, alur cepat, EYD yang hancur, ketidak jelasan diksi dan deskripsi, and maybe typo(s).

Genre:

Romance/Drama

Author's Note:

fic ini hanya sekedar iseng-iseng berhadiah bersama teman saya. Karena liburan yang begitu membosankan.

Ayolah, Cang! Liburan jadi menyenangkan, 'kan? XD

DON'T LIKE? DON'T READ!

.

'GrimmIchi' = mind

"GrimmIchi" = speech

.

.

HAVE A NICE READ, MINNA-SAMA

.

.

"Kau akan menjadi milikku"

.

.

MINE!

By Takaishi Hiroki

BACANG

.

.

Chapter 2

Normal POV

Menyeringai.

Dirinya terus berjalan dengan langkah tenang khas dirinya sambil terus membentuk seringai sadis di bibirnya yang tipis. Kulit pucatnya seolah bercahaya begitu tertimpa sinar bulan. Sesekali, bibir yang biasanya mengeluarkan kata-kata dingin itu mengeluarkan senandung riang. Terlihat sekali bahwa ia tengah dalam mood terbaiknya.

Tanpa sepatah kata pun keluar dari mulutnya, ia memasuki rumahnya. Terus berjalan dan memasuki ruang rahasianya. Tempat dimana ia memendam rahasia terbesarnya.

Ruang dengan pencahayaan remang itu terlihat berantakan. Berlembar-lembar foto berserakan di lantai. Beberapa pula tertempel di dinding.

"Kurosaki Ichigo," lirihnya seraya menyentuh lembut foto-foto yang tertempel di dinding. Seolah takut akan merusaknya jika ia menyentuhnya dengan sedikit kasar.

"... Kau, akan segera menjadi milikku. Jadi, tunggulah," lanjutnya.

.

.

.

.

Pagi yang cerah. Hangatnya matahari yang menyentuh kulit benar-benar membuat hampir semua orang dalam mood terbaiknya. Cahaya matahari yang keemasan terasa begitu indah. Jalanan yang masih sepi pun ikut mendukung suasana damai dan tenang di pagi itu. Tanpa tahu apa yang akan ia temui di sekolahnya, seorang pemuda dengan rambut merah berjalan dengan riang.

"Ohayou!" sapanya riang pada penghuni kelas.

Tanpa menunggu sapaannya dibalas, pemuda berambut merah tersebut langsung melangkah menuju kursinya. Menaruh tasnya dan mendudukkan dirinya nyaman di kursi.

"Abarai-san," panggil seseorang dengan nada datar pada pemuda berambut merah itu.

Tanpa perlu melihat siapa yang menyapanya, pemuda yang dipanggil 'Abarai' tadi menyahut bosan, "Apa yang kau inginkan, Ulquiorra Schiffer? Belum bosan mengganggu hubunganku dengan Ichigo?"

Sungguh, ia malas sekali jika harus berurusan dengan pemuda bermata hijau ini sekarang. Akan sangat berpengaruh pada mood yang sudah susah payah dibangunnya.

Flap!

Tiba-tiba, sebuah foto melayang ke arah wajahnya. Dengan sigap, ia mengambilnya dengan tangannya.

"Apa maksudmu, hah?" tanyanya dengan nada penuh amarah.

"Lihat," perintah Ulquiorra masih dengan nada datarnya.

Malas berbantahan, Renji –pemuda berambut merah itu melirik apa yang berhasil diabadikan si pucat ini. Matanya terbelalak. Tak percaya dengan apa yang baru saja dilihatnya. Tangannya bergetar menahan amarah.

"Bohong!" serunya seraya melempar balik foto itu pada Ulquiorra.

"Kau pasti merekayasanya, 'kan?" lanjutnya.

"Kenapa? Tidak mau menerima kenyataan?" sahut Ulquiorra dengan nada sinis.

"Ichigo tulus mencintaiku! Tidak mungkin mengkhianatiku!" balas Renji.

"Terserah kau mau bilang apa. Yang jelas, aku katakan kalau foto ini asli. Tanpa rekayasa," ujar Ulquiorra seraya berbalik meninggalkan Renji.

BRAK!

Melampiaskan amarah, Renji memukulkan kepalan tangannya ke meja. Membuat beberapa orang di kelas terheran-heran melihat tingkahnya. Tanpa banyak bicara, ia kembali mendudukkan dirinya. Berusaha unuk kembali mengatur emosinya yang sempat terkacaukan.

'Ichigo… kau, tak mungkin mengkhianatiku, 'kan?' batinnya penuh harap sambil menatap kembali foto yang diberikan Ulquiorra padanya.

Ichigo POV

Sial!

Kucing sialan!

Kugosokan telapak tanganku pada bibirku dengan kasar. Mencoba menghilangkan sensasi ciuman yang kudapat kemarin malam.

Saat ini, aku tengah membaringkan diriku menghadap langit di atap sekolah. Ini adalah tempat favoritku. Karena, berada di sini membuatku merasa nyaman. Inilah tempatku untuk menenangkan diri. Menata ulang pikiranku yang kacau. Pikiranku kembali melayang. Tanpa sadar, jari-jari tanganku terangkat. Berusaha meraih bibirku sendiri.

Masih terasa.

Ciumanku kemarin lama.

Ciuman pertamaku.

Sungguh, aku sendiri pun tak mengerti dengan apa yang ada di pikiranku saat ini. Kenapa… seolah-olah aku menikmati ciuman dari orang itu?

Bingung.

Aku sangat bingung.

Ada apa sebenarnya?

Kututup kelopak mataku perlahan. Menyembunyikan permata cokelatku di baliknya. Jari-jari tanganku belum beranjak.

Benar-benar aku ini. Apa yang sebenarnya aku lakukan? Kalau seperti ini, aku malah terkesan kalau aku sangat menikmati ciuman darinya 'kan?

Ah, sudahlah. Tak perlu berpikir dulu. Biarkan… seperti ini dulu. Untuk sementara. Ya, hanya sementara. Sebelum aku kembali pada Renji –kekasihku.

KLEK!

Suara pintu yang dibuka tak membuatku membuka mata. Aku terlalu hanyut dalam pikiranku sendiri.

"Memikirkan 'orang itu', heh? Ichigo?" sebuah suara terdengar. Nadanya terdengar sinis.

Renji? Tumben kemari.

Perlahan, kubuka kelopak mataku. Mendudukkan diriku.

"Tumben kau kemari, Renji?" tanyaku.

"Aku bertanya padamu, Ichigo. Kau memikirkan 'orang itu', hah?" tanyanya mengulang.

"Apa maksud-"

"Jawab pertanyaanku, Ichigo," ujarnya mendesis penuh amarah.

Baru kali ini aku melihat ekspresi Renji yang seperti ini. Membuatku… merasa aneh?

Bukan. Bukan perasaan takut. Hanya, sakit.

Aku tak kuat jika harus berlama-lama melihatnya. Melihat matanya. Karena, di sana aku bisa membaca perasaannya.

Bingung.

Kecewa.

Perasaan terkhianati.

Sakit. Dadaku sesak. Aku tak sanggup melihatnya.

"Aku sungguh tak mengerti apa yang kau bicarakan," jawabku akhirnya.

"Tidak mengerti katamu? Heh, pembual. Kau bahkan berusaha mengingat-ingat sisa ciumanmu dengannya tadi. Padahal aku saja belum menyentuhmu sama sekali," sahutnya kembali dengan nada sinisnya. Ekspresi terluka masih setia menghiasi wajahnya.

"Renji, aku sung-"

Tunggu.

Apa ia sedang membicarakan si rambut biru itu?

Tapi, ia bisa tahu dari mana?

Seolah dapat membaca pikiranku, Renji kembali berujar, "Bertanya-tanya tentang bagaimana caranya aku mendapatkan Informasi ini?"

Aku tak merespon.

"Kau tak perlu tahu. Sekarang, jawab pertanyaanku, Kurosaki," ujarnya dingin.

"I-itu bukan keinginanku, Renji! Sungguh! Itu-"

"Kecelakaan?" lanjut Renji.

"Itu alasan murahan, Ichigo. Aku takkan termakan," sahutnya.

"Tapi, itu benar-benar kecelakaan! Kenapa kau tak percaya padaku, Renji?" suaraku mulai terdengar parau.

Tidak!

Aku tidak akan menangis!

"Sudahlah. Kau tak perlu sulit-sulit mencari alasan. Yang jelas, aku mencintaimu Ichigo. Aku senang hanya dengan bisa berada di sisimu. Aku merasa cukup. Meski, kau tak memiliki perasaan yang sama denganku," ujarnya seraya berbalik meninggalkanku.

Tidak, Renji! Itu sungguh kecelakaan! Aku juga mencintaimu! Aku sangat mencintaimu, Renji!

Batinku berteriak. Namun mulutku urung bergerak. Suaraku tercekat. Lidahku kelu. Aku tak mengatakan apapun. Hanya memandangi punggungnya yang terus menjauh dari hadapanku.

Bodoh!

Dasar bodoh!

"Renji… maaf," lirihku.

Kupeluk kedua lututku dan menenggelamkan mukaku di sana menahan tangis.

Kenapa jadi begini? Kenapa Renji tak mau mendengarkan penjelasanku? Kenapa orang itu memaksa menciumku? Kenapa aku harus bertemu orang itu?

Ya, seandainya. Seandainya aku tak perlu bertemu dengan orang itu, aku pasti tidak perlu merasa seperti ini. Tak perlu membuat Renji kecewa. Tak perlu melihat ekspresi terluka di wajah Renji.

Benar. Seandainya… aku tak bertemu dengannya.

Kembali, aku menggosok bibirku kasar.

Sial! Ayo, menghilang!

Menghilang! Aku tak mau merasakan sensasi ini lagi!

Menjijikkan.

Aku menjijikkan.

Normal POV

Pemuda berperawakan tinggi langsing itu berjalan gontai. Wajah manisnya yang bahkan dapat menyaingi para gadis itu terlihat sendu. Pandangannya tak terfokus. Ia linglung. Kemana tujuannya pun ia tak tahu. Ia hanya ingin berjalan. Itu saja.

Perlahan ia mengangkat wajahnya yang sedari tadi menunduk. Memperhatikan wilayah yang didatanginya. Karena, sejak mulai berjalan tadi ia memang sama sekali tak memperhatikan jalan. Bahkan ia tak meminta maaf saat tidak sengaja menabrak bahu seseorang. Ia hanya terus dan terus berjalan dengan wajah menunduk penuh penyesalan.

Matanya yang seolah melambangkan musim gugur itu menyapu apa saja yang ada di hadapannya sekarang. Berhenti. Mata itu tertuju pada sebuah taman. Taman itu terlihat sepi. Hanya beberapa orang yang terlihat tengah menikmati keindahan taman itu. Perlahan, ia memasuki kawasan taman kota itu. Menikmati keindahan bunga yang ditanamkan di taman itu.

Mendudukkan dirinya di salah satu kursi di taman itu dengan nyaman. Menarik napas dalam dan memejamkan matanya. Berusaha menenangkan hatinya yang sedari tadi terus bergejolak.

Angin malam yang berhembus lembut menyapu wajahnya membuatnya rileks. Asik dengan sensasi yang didapatnya, ia sama sekali tidak memperhatikan sekitar. Bahwa, seseorang tengah berjalan dengan langkah tak terdengar menghampirinya. Dengan gerakan halus, orang itu mendudukkan dirinya di sebelah Ichigo tanpa persetujuan.

"Hey," sapanya tanpa menghadapkan wajahnya pada Ichigo.

Dengan gerakan malas, Ichigo menolehkan wajahnya. Mencoba untuk melihat wajah seseorang yang menyapanya.

"K-kau…. Kau yang waktu itu, 'kan?" ujarnya tak percaya. Kontan, wajahnya memerah menahan amarah yang siap meledak.

Ini dia. Inilah yang dicarinya. Pelampiasan. Sasaran tembak. Penyebab dari semua masalah yang didapatnya. Penyebab yang mengakibatkan renggangnya hubungannya dengan Renji selama beberapa hari ini. Penyebab kekacauan hatinya.

"Hey, 'Nona' Oranye. Kau ingat aku rupanya. Apa ciumank-"

PLAK!

Tanpa sempat menyelesaikan ucapannya, Grimmjow –pemuda yang menjadi akar masalah Ichigo itu ditampar. Menyebabkan pipi putihnya memerah panas.

"Hei! Kenapa kau memu-"

"DIAM! Karena kau… Renji… -SEMUA SALAHMU!" potong Ichigo kalap.

BUKH!

Satu pukulan tepat di ulu hati terlayangkan.

"Kau penyebab semua masalahku!"

Sebuah frase muluncur dari bibir.

DUAK!

Kepalan tangan itu menghantam sisi pelipis.

"Kenapa kau menciumku?"

Pertanyaan tak terjawab mengalir.

PLAK!

Sebuah tamparan kembali melayang.

"Kenapa aku harus bertemu denganmu?"

Amarah meluncur bersamaan dengan frase yang diucapkannya.

BUAK!

Pukulan terarahkan pada sudut bibir.

"Kenapa kau harus ikut campur waktu itu?"

Suaranya mulai tedengar parau.

DUAK!

Sebuah tendangan melayang.

"DASAR BRENGSEK!"

Hinaan meluncur pedas.

DUKK!

Dua buah kepala saling beradu.

"Kenapa kau harus muncul di hidupku?"

BUKK!

DUAGH!

BUAK!

BUGH!

"Hahh… Hahh… Hahh…" napas mulai tersengal.

"Kenapa semuanya harus jadi berantakan? Padahal…" suaranya terdengar parau. Matanya memerah menahan tangis yang sedari tadi ingin meluncur.

Dengan cepat, dihempaskannya tubuh Grimmjow yang telah babak belur dihajarnya dan berusaha melarikan diri. Namun, tangan Grimmjow lebih cepat. Ditangkapnya pegelangan tangan Ichigo dan menarik tubuh langsing itu dalam pelukannya.

"Lepaskan, dasar bodoh!" maki Ichigo seraya memberontak.

"…" tak ada jawaban. Hanya pelukan yang semakin erat.

"L-lepas," suaranya makin parau. Tenaga yang sedari tadi diperlihatkannya entah hilang kemana. Tubuhnya bergetar hebat. Membuat Grimmjow merenggangkan pelukannya. Bermaksud untuk melihat wajah Ichigo.

Merasa pelukan itu melonggar, Ichigo tak menyiakan kesempatan untuk kabur. Dengan sisa tenaganya, ia menyingkirkan tangan kekar Grimmjow yang melilit pinggangnya dan melarikan diri. Tanpa disadarinya, setitik air mata meluncur di pipinya.

Membuat Grimmjow terpaku seketikan.

Grimmjow POV

Kupeluk erat tubuhnya setelah membiarkannya melampiaskan amarahnya padaku. Mencoba membagi kehangatan yang kupunya. Menawarkan tempat bersandar padanya.

Sungguh. Suara paraunya terdengar begitu menyakitkan di telingaku. Seolah sebuah pisau tengan menyayat hatiku. Menorehkan rasa bersalah di sana.

"Lepaskan, dasar bodoh!"

Makiannya bergema di telingaku.

Kueratkan pelukanku. Memberitahunya akan kehadiranku. Kembali menawarkan kehangatan yang kupunya. Memastikan keberadaanku untuknya.

Tapi, semua seolah kabur bagiku saat kudengar lirihan suaranya.

"L-lepas."

Sebuah tombak menembus hatiku.

Sakit.

Sakit sekali jika harus mendengar suaranya yang seperti ini.

Aku… sejahat itukah?

Kurenggangkan pelukanku. Mencoba memutar tubuhnya dan melihat wajahnya. Namun, semua hal itu hanya ada dalam kepalaku. Dengan tenaga terakhirnya, ia melepaskan dirinya dari pelukanku. Berlari jauh meninggalkanku.

Kembali, sebuah tombak menembus hatiku.

Melihat air matanya yang mengalir turun membuat dadaku sakit.

Kuremas sisi kemejaku di bagian dada. Mencoba menetralkan rasa sakit yang kudapat.

Heh, betapa menjijikkannya diriku.

Aku…

Membuatnya menangis.

"Bodoh! Benar-benar bodoh!" amarah menguasai diriku.

Tanpa memperdulikan tubuhku yang berteriak kesakitan, aku berjalan pulang. Menyesalkan sikapku padanya.

Ichigo POV

Sial!

Sialan!

Air mata sialan!

Kenapa air mataku harus mengalir? Kenapa harus terasa sesakit ini?

Aku tidak mengerti.

Tanpa persetujuan dariku, air mataku terus mengalir deras.

'Sial! Berhentilah!'

Tanpa memperdulikan jarak yang kutempuh, aku terus berlari. Mencoba mencapai rumahku dengan cepat. Aku butuh ketenangan saat ini. Aku ingin sendiri. Karena, aku harus menenangkan diriku sekarang. Hanya sebentar. Sesaat saja. Sebelum aku kembali menguatkan hatiku dan kembali menghadap Renji. Memaksanya untuk mendengarkan penjelasan yang sesungguhnya dariku.

Tanpa kusadari, saat ini aku sudah berdiri di depan pintu apartemen sewaan yang kutempati bersama dengan kakakku, Hichigo. Kuhapus air mataku cepat-cepat. Aku tak ingin ketahuan menangis oleh siapapun. Takkan kubiarkan seorang pun melihat air mataku. Air mata seorang Ichigo Kurosaki.

Kubuka pintu di hadapanku perlahan, "Tadaima."

"Okaeri," sahut seseorang di dalam.

Tampaknya Hichigo sudah pulang.

Tanpa memperdulikan keberadaan kakakku itu, aku segera melangkah masuk menuju kamarku.

"Hei! Dasar tidak sopan! Setidaknya, kau bisa menanyakan kabarku, 'kan?" ujar Hichigo.

"Tidak penting," sahutku berusaha terdengar normal.

"Ichigo?"

Aku acuhkan panggilannya padaku dan memasuki kamarku. Membanting pintunya dan segera melemparkan tubuhku pada kasur.

KLEK!

Tanpa persetujuan dariku, seseorang memasuki kamar pribadiku.

"Hei, Ichigo! Kau.. tidak apa-apa?" tanyanya kaku.

Hah, aneh juga mendengar Hichigo berkata lembut begitu.

"Aku tidak apa-apa! Pergi sana!" usirku kasar.

"Kau menangis?"

DEG!

'Ap- kenapa dia bisa tahu?'

"Ichigo, kau mengabaikan pertanyaanku," ingatnya padaku. Mengisaratkan agar aku segera menjawab pertanyaannya.

"Aku tidak mungkin menangis, bodoh!" bentakku.

"Dasar tidak jujur. Jadi, siapa yang membuatmu menangis?" suaranya terdengar menjadi begitu berat dan dingin pada kalimat terakhirnya.

"Renji?" tanyanya lagi dengan nada yang lebih dingin.

"Sudah kubilang aku tidak menangis! Keluar dari kamarku!" perintahku lagi.

Sial. Mataku terasa panas lagi. Hichigo sialan.

Tiba-tiba, sebuah tangan menarik bahuku dan merubah posisi berbaringku menjadi terlentang. Yah, siapa lagi yang melakukannya kalau bukan Hichigo? Aku hanya tinggal berdua dengannya.

"Kau tak pernah bisa berbohong padaku, Ichigo. Jawab, siapa yang membuatmu menangis," ujarnya masih dengan nada dingin yang sama.

Matanya menatapku intens. Terlihat amarah terselip di sana.

"Ini bukan urusanmu, Hichigo! Pergi dari kamarku!" dengan keras kepala, aku kembali menolak menjawab dan mengusirnya.

Ia tak menyahut ucapanku. Membuatku mati kutu seketika. Ini dia. Aku takkan pernah bisa menang darinya.

"Apa maumu, Hichigo?" tanyaku menyerah pada sikap keras kepalanya yang menyaingiku.

"Ceritakan, semua hal yang membuatmu sedih. Hal yang membuatmu merasakan sakit di dadamu. Hal yang membuatmu menitikkan air matamu. Ceritakan padaku. Dan aku, akan menghancurkannya untukmu, Ichigo."

.

.

.

TBC

.

.

.

Hiro: Yeah! Chapter 2! Lebih panjang dari chap 1, ya! Kita hebat juga, cang!

BACANG: Iye, Mper.

Hiro: Nah, sekarang bales review bagi yang tidak login. Review kalian akan dibalas oleh Bacang~ silahkan, Cang

BACANG: Rose Terima kasih review-nya.

Zanpaku nee Terima kasih review-nya.

Nanda Terima kasih review-nya.

Hiro: Err –Cang, bales reiew-nya-

BACANG: Udah selesai, tuh.

Hiro: B-Baiklah ==a

Nah,

REVIEW or FLAME, please?