Disclaimer:

Tite Kubo

Rated:

T

Pairing:

GrimmIchi

Warning:

OoC (kami sudah berusaha se-IC mungkin), Abal, gaje, alur cepat, EYD yang hancur, ketidak jelasan diksi dan deskripsi, and maybe typo(s).

Genre:

Romance/Drama

.

DON'T LIKE? DON'T READ!

.

'GrimmIchi' = mind

"GrimmIchi" = speech

.

HAVE A NICE READ, MINNA-SAMA

.

.

"Hal yang membuatmu sedih. Hal yang membuatmu merasakan sakit di dadamu. Hal yang membuatmu menitikkan air matamu. Ceritakan padaku. Dan aku, akan menghancurkannya untukmu."

.

.

MINE!

By Takaishi Hiroki

BACANG

.

.

Chapter 3

Normal POV

"Apa maumu, Hichigo?" tanya Ichigo yang nampaknya telah menyerah pada sikap keras kepala kakaknya yang bahkan telah menyaingi dirinya.

"Ceritakan, semua hal yang membuatmu sedih. Hal yang membuatmu merasakan sakit di dadamu. Hal yang membuatmu menitikkan air matamu. Ceritakan padaku. Dan aku, akan menghancurkannya untukmu, Ichigo," sahut Hichigo.

Ucapan itu meluncur mulus dari bibir tipis milik Hichigo dengan intonasi yang dingin. Hingga Ichigo hanya bisa terdiam memandang mata kakak kandungnya dengan tatapan tidak mengerti. Tak biasanya Hichigo terlihat murka seperti saat ini. Dan untuk pertama kalinya, Ichigo tidak mengerti dengan apa yang mendasari kilatan di mata sang kakak.

"Ichigo, ceritakan padaku," nada memerintah keluar dari mulut sang kakak. Menyadarkan sang adik yang sedari tadi hanya diam mengabaikan pertanyaannya.

"Tidak mau," jawab Ichigo masih saja keras kepala.

"Ichi-"

"Kubilang 'tidak mau', ya tidak mau!" potong Ichigo dengan nada menjengkelkan. Membuat urat-urat di dahi sang kakak mencuat keluar.

"Cerita saja apa susahnya, sih?" kesal, Hichigo mulai membentak Ichigo. Strategi yang salah. Karena, jika dibentak maka Ichigo akan semakin keras kepala.

"Ini bukan urusanmu, Hichigo! Pergi sana!" balas Ichigo berteriak.

"Tch!"

Tiba-tiba, tubuh jangkung milik Hichigo berbalik. Berlalu meninggalkan Ichigo yang masih terpaku tak bergerak. Bingung. Tumben-tumbennya sang kakak itu mengalah?

Sedetik kemudian, Ichigo kembali tersadar, "Dasar aneh," gerutunya dan kembali menyamankan dirinya. Memejamkan mata. Berusaha melupakan segalanya yang terjadi untuk sementara. Ya, sementara. Sebelum ia harus kembali bangkit dan menghadapi kenyataan.

.

.

.

.

Satu hari lagi yang berat bagi Ichigo. Bagaimana tidak? Pasti selama seharian nanti, ia akan sendirian. Yah, tidak benar-benar sendirian sih. Tapi, kalau tidak ada Renji, sama saja sendirian namanya. Bukannya melebihkan. Hanya saja, memang hanya renji saja yang bisa mengerti apa keinginan dan kata hatinya. Karena itu juga lah, ia menerima pernyataan cinta dari sang rambut merah itu. Ia merasa nyaman di dekatnya.

"Hahh…"

Belum-belum sudah menghela napas. Sepertinya hari ini benar-benar tidak akan berlalu dengan baik.

'Apa aku menceritakan masalah ini pada Aizen-sensei saja, ya? Aku selalu merasa enakan kalau bicara padanya. Sip! Aku akan menemuinya nanti,' batin Ichigo memutuskan. Dengan langkah yang terkesan lebih terburu-buru, Ichigo memasuki gerbang sekolahnya.

Bagai oasis di tengah padang pasir, bel pulang sekolah seolah terdengar sebagai lantunan lagu surga baginya. Dengan asal, ia memasukkan segala perlengkapannya dan berjalan keluar kelas. Bermaksud untuk menemui sensei favoritnya itu. Tanpa disadarinya, seseorang mengikutinya.

.

.

Dengan perlahan, Ichigo menggeser pintu ruang pribadi milik sensei favoritnya yang telah di sediakan oleh pihak sekolah. Perlahan, ia melangkah masuk sambil mengucapkan kata 'permisi'.

"Ah? Kurosaki-kun? Tumben kau menemuiku. Sedang ada masalah?" tanya seseorang dengan nada ramah padanya yang baru saja memasuki ruangan.

"Maaf aku selalu merepotkanmu, sensei," sahut Ichigo merasa tak enak.

"Tidak apa. Aku tidak merasa direpotkan, kok. Duduklah, ceritakan apa yg terjadi sampai kau datang menemuiku," ujar Aizen masih dengan nada yang sama di sertai senyum yang tak kalah lembutnya.

"Umm, mungkin ini tidak pantas untuk diceritakan di sini. Tapi, aku tak punya tempat lain untuk bercerita. Jadi-"

"Tidak apa. Apapun masalahmu, kau pantas menceritakannya di sini," potong Aizen.

"Jadi?" lanjut Aizen.

"Umm, begini sensei, sebenarnya aku sedang ada masalah dengan Renji. Ehh, sensei juga pasti tahu dengan hubunganku dengan Renji, 'kan?"

Aizen memberi anggukan singkat sebagai isyarat bahwa ia sudah mengetahui semuanya.

"Hubunganku lancar-lancar saja dengan Renji. Tapi, beberapa hari belakangan ini dia salam paham. Dia menjauhiku. Aku… merasa tidak nyaman. Aku merasa telah melakukan pengkhianatan padanya, aku… merasa menjadi orang paling jahat," lirih Ichigo mencurahkan perasannya pada sensei-nya.

Aizen bangkit dari duduknya dan menghampiri Ichigo. Meletakkan telapak tanganya yang besar dan hangat di atas kepala oranye itu. Mengelusnya perlahan. Isyarat agar anak didiknya itu untuk lebih tenang.

Ichigo, memejamkan matanya. Menikmati sentuhan halus sensei-nya. Setuhan yang sudah lama tidak ia dapatkan. Setuhan penuh kasih dari ayah pada anak bungsunya.

"Tak apa, Ichigo. Hal seperti itu biasa terjadi dalam sebuah hubungan. Semua pasti pernah mengalami hal semacam kesalah pahaman seperti itu," ujar Aizen samba. Terus mengelus puncak kepala Ichigo.

"Tapi, sensei-"

"Kenapa? Kau kau masih merasa tak enak?" potong Aizen.

"Ingin melupakannya saja?" lanjutnya sedikit berbisik. Mendekatkan wajahnya ke telinga Ichigo.

"Sensei?"

"Muak? Merasa ingin mengakhirinya?" desisan Aizen terdengar sangat seduktif sekarang.

"Apa yang sensei-"

"Ssttt, tak perlu dipikirkan, Ichigo. Tak perlu kau pikirkan. Karena, saat ini yang perlu kau lakukan adalah-" Aizen menggantung kata-katanya.

"Mendesah untukku," lanjutnya menyeringai seraya mendorong keras bahu Ichigo agar terbaring di sofa tempat tadi Ichigo terduduk.

"Se-sensei!"

Takut. Ichigo memberontak. Berusaha mendorong bahu Aizen agar menjauh. Menjauh dari tubuhnya. Namun, semua perlawanan Ichigo hanya bagai angin lalu bagi Aizen. Memang, Ichigo juga dapat merasakannnya. Ia tak bertenaga. Apa karena belakangan ini ia mengalami kesulitan tidur? Atau karena, ia telah termakan oleh ketakutannya?

"Kau makin terlihat menarik kalau berusaha memberontak seperti itu, Kurosaki Ichigo-kun," seringai di wajah Aizen semakin lebar.

Ichigo membulatkan matanya. Ia membeku sesaat. Ya, hanya untuk sesaat. Karena, sesaat tadi ia melihat apa yang seharusnya tak perlu ia lihat. Wajah sesungguhnya dari sensei-nya. Aizen sensei-nya.

Tanpa sempat mengantisipasi, sebuah tangan mulai meranyap naik menuju dadanya.

"Sensei!" seru Ichigo berusaha menyadarkan sensei-nya.

Ya, menyadarkan. Karena, ia merasa kalau ini bukanlah sensei-nya. Sensei-nya hanya sedang… sedang… mabuk. Ya, mabuk.

Sulit.

Sangat sulit untuknya.

Untuk menerima kenyataan. Dimana ia harus melihat, sosok yang sudah ia anggap sebagai ayahnya sendiri. Sosok yang selalu menjadi idolanya. Sedang berada di atas tubuhnya. Berusaha menanggalkan pakaiannya. Berusaha untuk…

Mengotorinya.

BRAKK!

"Hentikan permuatanmu itu, Aizen-sensei," ujar seseorang dengan nada datar tanpa sopan santun.

Aizen menghentikan gerakan tangannya namun tidak menoleh. Ia sudah hafal dengan suara ini. Salah satu muridnya, "Schiffer-san, apa kau ada keperluan dneganku? Jika tidak, bisa kau segera keluar dari sini? Aku sedang sibuk," sahut Aizen seolah tak terjadi apapun.

Tak menyiakan kesempatan, Ichigo mendorong keras bahu Aizen dan melarikan diri. Sekedar menggumamkan ucapan 'terima kasih' pada Ulquiorra dan kemudian kembali memacu langkahnya.

"Keperluanku sudah selesai, sensei. Sampai besok," ujar Ulquiorra menutup pintu ruangan sang sensei pelan.

.

.

.

Ulquiorra berjalan dengan langkah tenang tak tergesa melewati koridor sekolah. Membiarkan tubuhnya diterpa cahaya oranye langit sore.

"Hei,"

Sebuah suara familiar membuat Ulquiorra menghentikan langkahnya meski tak menengok.

"Umm, yang tadi… terima kasih," lanjut seseorang itu.

"Tidak masalah, Ichigo-kun. Senang bisa menolongmu," sahut Ulquiorra masih tak menoleh.

"Umm, yah… Sekali terima kasih atas pertolonganmu. Dewa mata," ujar Ichigo bingung ingin bercakap apa dengan sahabatnya yang super pendiam ini.

"Ichigo-kun," panggil Ulquiorra sebelum Ichigo sempat menjauh.

"Mau pulang denganku?"

.

.

.

"Jadi begitulah, Hisagi. Itulah penyebab rengangnya hubunganku dengan Ichigo," ujar Renji menyelesaikan ceritanya.

"….." tak ada reaksi dari sang lawan bicara.

"Hei, berkomentarlah sedikit," ujar Renji memelas.

"Uph! Ahahahahahahaha!" sebuah tawa keras meluncur dari bibir seorang Shuhei Hisagi.

"Hei! Kenapa malah tertawa, huh?" seru Renji tak suka.

"Maaf… maaf… hanya saja, uhuhu… kau itu… melankolis," sebuah tawa kembali bergema di telingan Renji Abarai.

"Kau harus mengurangi porsimu menemani Yumichika menonton drama Korea," sambung Hisagi.

"Dengar ya Renji, seharusnya kau itu mendengarkan Ichigo. Biarkan dia menjelaskan. Jangan seperti itu. Kau terlihat sebgaia tokoh utama drama Korea yang malang tahu tidak?" olok Hisagi.

"Kalau Ichigo berbohong bagaimana?"

"Hei, kau itu 'kan pacarnya! Masa' tidak tahu kapan pacarmu berbohong?"

"Hmm…"

"Jangan bilang kau tidak tahu?" Hisagi menunjukkan wajah herannya.

"Aku… akan meminta maaf dan memintanya bicara," sahut Renji seraya beranjak dari duduknya.

"Hmm, begini lebih baik. Dasar mereka itu,"

.

.

.

TBC

.

.

.

Apa yang akan terjadi selanjutnya?

Cari tahu Chapter depan~

Kami tak bisa membalas review satu persatu…(_._)

Kami hanya mengucapkan TERIMA KASIH pada kalian semua…

Reviewer…

Silent reader…

Dan lain-lain!

Okeh, see you next chap!