Hari telah menjelang malam. Langit yang sedari tadi biru tergantikan oleh kelamnya malam. Gedung Konoha High School telah benar-benar sepi. Seluruh murid dan guru telah pulang ke rumah mereka masing-masing. Tapi tidak dengan Sasuke. Pemuda yang banyak digandrungi para wanita itu belum melangkahkan kakinya keluar sekolah. Bahkan kini dia berjalan menaiki tangga menuju lantai tiga. Sasuke menghentikan sejenak langkahnya ketika telinganya mendengar gesekan sebuah biola. Dia tidak tahu lagu apa yang tengah dimainakannya. Yang dia tahu, alunan musik biola itu benar-benar menyayat hati hingga pemuda yang dikenal berhati dingin itu dapat merasakan betapa besar kesedihan yang disampaikan sang pemain melalui gesekan biolanya. Jika Sasuke seorang gadis, sudah dipastikan ia akan menangis saat itu juga.

Dengan perlahan Sasuke mendekat ke arah datangnya suara. Dibukanya perlahan pintu kayu satu-satunya ruang musik di KHS. Matanya tidak lepas memandangi seorang pemuda berambut kuning yang tengah memejamkan matanya sambil terus menggesek biolanya. Cahaya bulan yang menyinari tubuhnya membuat permainan biloanya lebih memukau.

'Prok.. Prok.. Prok..'

Pemuda berambut kuning itu membuka matanya dan langsung menatap pemuda yang sangat tidak ingin ditemuinya.

"Kau mau apa lagi? Bukankah kita sudah sepakat? Aku akan menikuti perintahmu dan kau tidak akan mengusikku."

"Hn. Aku hanya ingin tahu bagaimana aku bisa memanggilmu ketika aku membutuhkanmu."

"Hhh.. kau benar-benar merepotkan, Teme." Diletakkannya biola yang beberapa saat lalu dimainkannya di atas meja. Kemudian berjalan mendekati Sasuke dan berhenti beberapa langkah dihadapannya. Dipejamkan kedua matanya sambil menautkan jemarinya didepan dada. Sebuah sinar berwarna hijau keluar dari sela-sela jarinya. Beberapa saat kemudian, sinar itu menghilang dan Naruto pun membuka kembali kedua matanya.

"Pakailah kalung ini. Kau cukup memetik senar liontin biola ini sebanyak tiga kali dan aku akan datang." Sebelum kalung itu benar-benar diambil dari tangannya, Naruto melanjutkan, "Tapi, ingat! Aku tidak menerima perintah untuk membunuh, karena itu akan membuatku tidak bisa reinkarnasi selamanya."

"Hn."

Setelah kalung itu berada digenggamannya, Sasuke segera meninggalkan Naruto.

"Ah, kau tampak lebih baik jika wajahmu seperti itu," ujar Sasuke sebelum benar-benar meninggalkan ruang musik. Naruto hanya mendengus mendengarnya dan kembali memainkan biolanya.

Disclaimer:

Masashi Kishimoto

Pair:

SasuNaru

Warning:

Sho-ai, Typo(s)

Jika semua orang sangat senang berada di rumah, hal itu tidak berlaku bagi Sasuke. Baginya berada diluar terasa lebih menyenangkan daripada di rumah. Meskipun pada akhirnya dia akan pergi ke tempat tidak jelas, setidaknya itu lebih baik dari tempat yang disebut rumah dan menghadapi kenyataan berada seorang diri di rumah megahnya bersama para pelayan. Sasuke tidak habis pikir, kenapa kedua orang tuanya lebih memilih sibuk bekerja daripada sibuk mengurus anaknya. Jika saja kakaknya belum menikah, dia pasti tidak akan kesepian seperti ini. Sasuke mendengus ketika memikirkan betapa menyebalkannya keluarganya.

Setelah melempar tasnya sembarang arah, Sasuke merebahkan tubuhnya di tempat tidur king size-nya tanpa mencopot seragam dan sepatunya terlebih dahulu. Tangannya meraih liontin biola pemberian Naruto. Bayangan pemuda berambut kuning itu menyeruak dikepalanya dan membuat sang Uchiha menyunggingkan sebuah senyuman.

"Kau cukup memetik senar liontin biola ini sebanyak tiga kali dan aku akan datang."

'Benarkah? Ayo kita buktikan.' Dipetiknya senar itu seperti petunjuk Naruto. Beberapa detik setelah petikan yang ketiga, sebuah suara cempreng terdengar ditelinganya.

"Kau mau apa?"

"Santai saja, Dobe. Aku hanya ingin tahu apa benda ini berfungsi." Naruto menatap Sasuke yang kini terduduk di kasurnya dengan tatapan tidak percaya. 'Apa dia bilang? Hanya ingin mencoba? Dasar idiot.' Beberapa saat kemudian, tubuh Naruto menghilang kembali. Namun tak lama kemudian Naruto kembali berada di kamar bernuansa biru itu ketika Sasuke kembali memetik senar liontin biolanya.

"Ada apa lagi sekarang? Kau lihat, aku berada di sini, tepat dihadapanmu setelah petikan ketiga pada liontin biola yang kau kenakan. Itu artinya alat itu benar-benar bekerja. Dan kuharap panggilanmu kali ini untuk memberiku perintah."

"Hn. Diam di sini. Jangan pergi ke mana-mana."

"Apa? Hei! Kau mau ke mana?"

"Mandi."

Baru saja Naruto akan protes, tapi Sasuke telah menghilang dibalik pintu. Naruto menggembungkan pipinya, merasa kesal dengan tingkah Sasuke yang dia anggap mempermainkannya.

'Cklek'

Pintu kamar mandi terbuka, memperlihatkan Sasuke yang hanya melongokkan kepalanya dan berkata, "Ini. Perintah." Setelah itu pintu kamar mandi kembali tertutup dan membuat Naruto semakin cemberut dibuatnya. Sementara Naruto tengah sibuk mengutuk pemuda berambut raven itu, yang bersangkutan malah tengah tersenyum lebar dibalik pintu setelah melihat wajah cemberut Naruto.

X . X . X . X . X

"Kyaaaa... hantuuuu.." para pelayan di rumah Sasuke sibuk lari ke sana kemari untuk bersembunyi dari kejaran seorng hantu yang mereka tidak tahu sejak kapan hantu itu bersemayam di rumah megah Uchiha.

"Se-sepertinya sudah aman. Hei, kau. Cepat lihat, apa hantu itu sudah pergi?"

"A-aku?" pemuda itu menunjuk dirinya untuk memastikan siapa orang yang dimaksudkan oleh pelayan seniornya.

"Iya, cepat!" Dengan sangat terpaksa pelayan paling muda itu keluar dari kolong meja makan. Dengan perasaan takut pemuda itu memperhatikan sekelilingnya. Setelah dirasa aman, pemuda itu mengisyaratkan kepada rekan-rekannya untuk keluar dari tempat persembunyian mereka.

"Hah~ akhirnya hantu itu pergi juga."

"Siapa yang sudah pergi?"

Mereka kembali terpaku ketika mendengar suara serak itu. Para pelayan menolehkan kepalanya perlahan-lahan ke arah datangnya suara. Tanpa diberi komando, para pelayan itu kembali berlari dan berteriak.

"Hhahaha.. memang tidak ada yang menyenangkan selain menakut-nakuti orang lain."

X . X . X . X . X

'Ah, sungguh segar rasanya jika berendam dikala tubuh tengah lelah,' batin Sasuke.

Setelah melilitkan handuk dipinggangnya, Sasuke berjalan keluar kamar mandi. Namun sepertinya Uchiha bungsu ini salah memilih waktu keluar karena kini seluruh mata tertuju padanya. Wajah para pelayannya seketika berubah merah padam ketika melihat tubuh atletis Sasuke yang hanya dililit oleh selembar handuk dipingganggnya.

"Apa yang kalian lakukan di kamarku?"

Suara tak bersahabat Sasuke membuat mereka tertunduk dan tidak berani menatapnya. "A-ada hantu yang mengejar kami, Sasuke-sama," jawab salah satu pelayan dengan gugup.

"Jangan bodoh! Tidak ada hantu di rumah ini."

"Iya, tidak ada hantu di sini." Suara serak itu kembali membuat para pelayan itu berlari dan langsung bersembunyi dibalik punggung tuan mudanya tanpa menoleh terlebih dahulu seakan telah mengetahui siapa pemilik suara itu. Tanpa rasa takut Sasuke mendekati hantu dengan wajah hancur itu.

"Pergi dari sini."

"Dengan senang hati, Sasuke-sama." Naruto membungkuk hormat dihadapan Sasuke sebelum menghilang dengan senyum lebar karena usahanya untuk pergi darinya telah berhasil. Para pelayan itu menatap kagum dan bertepuk tangan untuk Sasuke karena telah mengusir hantu itu dengan sangat mudah. "Apa aku juga harus mengusir kalian?" Tidak mau terkena amukan tuan mudanya, para pelayan itu segera keluar dari kamar luas Sasuke.

X . X . X . X . X

Matahari telah menduduki singgahsananya, menandakan mulainya berbagai aktivitas. Begitu pula aktivitas segerombolan gadis untuk menarik perhatian pangeran mereka. Mereka rela berangkat pagi-pagi sekali untuk menyambut pemuda itu, berusaha mendapatkan sedikit perhatian darinya atau bahkan membuat pemuda itu menoleh ke arah mereka. Setelah menunggu selama tiga puluh menit, pemuda itu akhirnya datang juga. Dengan semangat para gadis itu berteriak agar pemuda itu menoleh, namun sepertinya hal itu tidak membuahkan hasil. Pemuda itu memutar kedua bola matanya ketika para gadis itu berdiri dihadapannya dan menghalangi jalannya. Namun teriakan mereka seketika terhenti, tergantikan oleh tatapan takut. Dengan menutup mulut karena terkejut dan takut, para gadis itu melangkah mundur sehingga memberikan ruang untuk Uchiha bungsu itu melanjutkan perjalannya. Napas para gadis itu tercekat, jantung mereka berdebar kencang ketika melihat pemuda yang dikenal behati es itu berjalan melewati mereka. Bukan karena ketampanannya yang memang telah terkenal yang membuat napas para gadis itu tercekat dan jantung mereka berdebar kencang. Bukan juga karena death glare yang selalu dilayangkannya pada gadis-gadis itu yang membuat mereka takut dan memberikannya ruang untuk jalan. Bukan karena itu semua, melainkan karena sosok pemuda berwajah sangat pucat yang tiba-tiba muncul entah dari mana dan langsung memeluk Uchiha bungsu itu dari belakang. Matanya yang semerah darah menatap tajam para gadis yang menghalagi jalan pemuda dipelukannya. Tanpa menghiraukan mereka, sosok itu mencium pipi putih sang Uchiha dan memberikan seringaiannya pada para gadis yang masih terpaku menatapnya. Sosoknya tiba-tiba menghilang setelah Sasuke berjalan beberapa langkah di depan gadis-gadis itu.

"Kalian lihat apa?" Tiba-tiba saja sosok itu telah berada di tengah-tengah mereka. Dalam hitungan detik, para gadis itu telah berlari meninggalkan tempat itu dan membuat para siswa yang baru datang terheran-heran melihatnya.

X . X . X . X . X

Bel telah berbunyi, seluruh siswa telah memasuki kelas mereka masing-masing. Para guru pun telah beranjak dari ruangan mereka untuk memberikan pelajaran.

Seluruh murid kelas XII-B memperhatikan pelajaran yang tengah disampaikan oleh guru bermasker itu. Tapi sepertinya tidak semua memperhatikan dengan seksama karena ada dua orang yang tengah asyik dengan dunianya sendiri. Yang satu tengah memandang keluar jendela, tepatnya ke arah langit yang dipenuhi kumpulan awan-awan putih. Dan yang satu lagi tengah asyik dalam alam mimpinya.

Sebuah gerakan tak biasa dari chairmate-nya membuat pemuda berambut nanas itu membuka matanya, mengangkat kepalanya dan menatap ke arah pemuda di sampingnya yang kini tengah menaruh kepalanya di atas meja dengan mata terpejam. Tak lama kemudian pemuda itu kembali membuka matanya dan mengangkat kepalanya. "Hai, Shika," sapa pemuda itu seolah mereka tidak bertemu dalam waktu yang lama.

"Sudah kubilang jangan masuk ke tubuhnya saat jam pelajaran," ujar Shikamaru ketika melihat mata pemuda disampingnya berubah menjadi biru safir.

"Hhehe.. maaf. Habis aku bosan. Aku janji hanya kali ini aku menggunakan tubuhnya saat jam pelajaran. Boleh ya?"

"Aku dengar ada hantu yang berulah menakut-nakuti para gadis pagi ini. Apa itu ulahmu, Naruto?" tanya Shikamaru tanpa menjawab pertanyaan Naruto sebelumnya. Meskipun Naruto terbilang hantu yang sering menakut-nakuti warga sekolah KHS, tapi tidak hanya dia hantu di sekolah itu.

"Ah, pemuda ini namanya Kiba kan? Kau bilang, kau menyukainya. Apa kau sudah menyatakan perasaanmu padanya?" tanya Naruto balik berusaha mengalihkan pembicaraan. Shikamaru yang geram dengan tingkahnya langsung menggenggam tangan pemuda itu erat dan membuatnya meringis kesakitan. Meskipun dia adalah arwah, tapi saat ini dia tengah memasuki tubuh Kiba sehingga dia dapat merasakan sakit sesuai yang dirasakan tubuh yang dia gunakan. "Jawab pertanyaanku," desak Shikamaru.

"Ba-baik, tapi lepaskan dulu. Kau tidak ingin menyakitinya kan?" Naruto mengusap lengannya yang terasa sakit setelah terlepas dari genggaman Shikamaru. "Iya, aku yang melakukannya."

"Hhh.. bukankah sudah kuperingatkan agar kau tidak terlalu sering menakut-nakuti murid di sini? Kau tidak mau kan, jika pihak sekolah kembali memanggil pengusir arwah seperti beberapa waktu lalu?"

Naruto menundukkan kepalanya. "Tidak. Aku tidak akan melakukannya jika dia tidak memerintahkanku."

"Siapa?" tanya Shikamaru seraya mencengkram kedua bahu Kiba. Beruntung tempat mereka duduk berada dibagian paling belakang, sehingga tidak ada yang akan memperhatikan mereka karena mereka sibuk memperhatikan pelajaran di depan kelas. Bukannya menjawab pertanyaan Shikamaru, Naruto malah lebih memilih untuk keluar dari tubuh Kiba, membuat tubuh pemuda pecinta anjing itu terjatuh ke depan karena pingsan. Dengan sigap Shikamaru langsung menangkap tubuhnya. Entah karena insting atau apa, pemuda berambut nanas itu memandang tajam Sasuke yang masih belum mengalihkan pandangannya dari luar jendela.

X . X . X . X . X

Bel istirahat telah berbunyi beberapa saat lalu. Bagaikan sebuah medan magnet, seluruh siswa kini telah memenuhi ruang kantin. Seperti tidak pernah terjadi apa-apa, para gadis itu kembali mengelilingi Sasuke. Mereka membawa bermacam-macam bekal makan siang, baik yang dibuat sendiri maupun dibeli dari toko. Mereka memberikan itu sebagai rencana lain jika rencana pertama – berteriak ketika pemuda itu datang – gagal. Meskipun terganggu, Sasuke tetap menerima pemberian itu dan berharap para gadis itu pergi dari hadapannya.

"Sasuke, aku ingin bicara padamu." Untuk pertama kalinya, Sasuke ingin berterima kasih pada pemuda berambut nanas itu karena telah membuatnya dapat terlepas dari para gadis yang terus memintanya memakan bekal yang mereka beri. Tapi mengingat gengsi seorang Uchiha yang tinggi, sebaiknya kita lupakan hal itu.

"Bicara saja."

"Tidak di sini." Dengan sangat terpaksa, Sasuke mengikuti Shikamaru. Setelah mereka telah berada di suatu tempat yang sepi, Shikamaru mendorong tubuh Sasuke ke dinding, membuatnya meringis ketika punggungnya menghantam tembok dengan keras.

"Apa-apaan kau?"

Shikamaru mencengkram kerah seragam Sasuke, matanya menatap tajam pemuda di hadapannya. "Kuperingatkan kau, jangan pernah memerintah Naruto lagi. Aku tidak tahu perjanjian apa yang kalian sepakati. Tapi jika kau melakukan sesuatu yang membahayakannya, aku tidak akan segan-segan membuat perhitungan padamu, Uchiha. Ingat itu!"

"Kenapa kau se-protektif itu padanya? Dia hanya arwah penasaran yang suka mengganggu, bukankah jika dia menghilang semuanya akan lebih baik?" Shikamaru menghentikan langkahnya, tangannya terkepal erat mendengar pekataan Uchiha bungsu itu. "Atau, jangan-jangan kau menyukainya sehingga kau membiarkan dia memasuki tubuh pemuda itu. Kau tahu, dia bisa saja mengambil tubuh pemuda itu selamanya."

'Bugh'

"Jangan berkata seperti itu tentang Naruto, kau tidak tahu apa-apa tentangnya," ujar Shikamaru, kemudian pergi meninggalkan Sasuke yang tengah mengelap darah disudut bibirnya.

X . X . X . X . X

'Teng Tong'

'Ceklek'

"Selamat malam, aku temannya Sasuke. Apa dia ada?"

"Iya. Silahkan masuk." Setelah mempersilahkan pemuda itu duduk dan menawarkannya minum, pelayan itu segera menghilang untuk menemui tuan mudanya.

"Kau, sedang apa kau di sini?" tanya Sasuke heran ketika melihat pemuda pecinta anjing itu di rumahnya.

"Kenapa kau galak sekali, Teme. Aku hanya ingin mengajakmu jalan-jalan kok. Aku bosan berada di sekolah. Sebenarnya aku mau mengajak Shika,tapi sepertinya dia marah padaku. Jadi aku mengajakmu saja, kau mau kan? Aku kan sudah membantumu mengusir para gadis itu, jadi kau harus mau menemaniku," ujar pemuda itu yang membuat Sasuke mengerti jika pemuda dihadapannya bukanlah Kiba, melainkan Naruto.

"Hn." Meskipun Naruto tidak tahu apa arti 'hn' itu, tapi dia yakin jika itu adalah iya dan membuatnya tersenyum lebar.

X . X . X . X . X

"Sepertinya kau sudah sering memasuki tubuh Kiba, kenapa tidak kau ambil saja tubuhnya. Kau bisa kembali menjadi manusia tanpa harus reinkarnasi bukan?" tanya Sasuke ketika mereka tengah duduk di sebuah taman sambil memakan ice cream.

"Iya, memang bisa. Tapi hal itu membuatku secara tidak langsung telah membunuhnya. Dan aku pun hanya bisa menggunakan tubuhnya tidak lebih dari 24 jam. Setelah itu, tubuhnya tidak akan bisa kugunakan dan akupun akan benar-benar menghilang."

"Aku heran, kenapa kau sangat ingin reinkarnasi. Kau sadar bukan? Jika kau reinkarnasi lagi, kau akan kembali merasakan pahitnya dunia, da—"

"Setidaknya aku bisa memperbaiki kehidupanku dan meraih cita-citaku," ujar Naruto lirih. "Ketika aku masih hidup, aku sangat suka bermain biola. Kau tahu, bermain biola sudah seperti bagian dari hidupku. Mengingat orang tuaku telah tiada semenjak aku balita, hanya dengan bermain biola aku dapat menghilangkan rasa kesepianku. Suatu hari pihak sekolah mengumumkan pemberian beasiswa untuk beberapa murid klub musik. Aku yang sangat ingin menjadi pemain biola yang handal, tidak menyia-nyiakan kesempatan ini. Siang malam aku berlatih keras. Dan untunglah semua kerja kerasku tidak sia-sia. Betapa bahagianya aku ketika aku melihat namaku dipapan pengumuman. Namun salah satu temanku yang tidak terpilih menganggap jika hasil itu tidak adil. Dia berpikir jika aku tidak pantas menjadi salah satu yang terpilih. Hingga suatu saat dia mendatangiku ketika aku tengah bermain biola hingga malam. Dia mendatangiku dan menjerat leherku menggunakan seutas tali. Kemudian membuat rekayasa seolah-olah aku menggantung diriku sendiri." Tangan Naruto mengepal erat, matanya memerah dan cairan bening meluncur dari mata safirnya. "Kau tahu, aku sangat ingin membunuh orang itu. Mencekiknya dengan kedua tanganku sendiri. Tapi Shikamaru menghalangiku, dia bilang itu tidak ada gunanya dan aku akan menjadi sama bejatnya dengan orang itu. Tapi kini aku tenang, karena dia telah mendapat hukumannya. Meskipun hanya dipenjara, tetapi aku sudah cukup puas."

Tanpa sadar tangan putih Sasuke menggenggam tangan Naruto, sementara tangan kanannya menghapus air mata yang jatuh dari matanya. Setelah mendengar penuturan Naruto, Sasuke mengerti kenapa Shikamaru ingin melindunginya dan membantunya selama menunggu masa reinkarnasinya. Sebenarnya Sasuke ingin bertanya siapa yang melakukan hal itu. Tapi sepertinya Sasuke tahu siapa orang yang dimaksud Naruto, mengingat mantan guru musik di sekolahnya, Orochimaru, ditangkap dengan tuduhan pembunuhan beberapa tahun silam. Tangan yang digunakan untuk menghapus air mata dipipinya berubah menjadi usapan lembut. Mata mereka bertemu pandang. Perlahan-lahan jarak diantara mereka mulai menipis.

'Bugh'

Seseorang memukul wajah Sasuke sebelum bibir mereka bertemu. Tanpa mempedulikan bibir Sasuke yang kembali berdarah, Shikamaru mencengkram kuat pudak Kiba.

"Keluar dari tubuhnya sekarang," perintah Shikamaru dengan penekanan pada setiap kata yang diucapkannya. Tubuh Kiba melemah ketika Naruto keluar dari tubuhnya. Dengan sigap Shikamaru menangkapnya dan menggendongnya dipunggung.

"Shika, a-"

"Sudahlah. Aku tidak ingin kau menggunakan tubuhnya lagi, Naruto," pinta Shikamaru. Sebenarnya Shikamaru tidak akan semarah itu dan melarang Naruto untuk tidak menggunakan tubuh Kiba jika hanya untuk mencari udara segar. Tapi yang membuatnya marah adalah Uchiha bungsu itu berniat menciumnya. Meskipun Shikamaru paham jika yang hendak diciumnya adalah Naruto, tapi Shikamaru tidak bisa melihat bibir Kiba bersentuhan dengan bibir Sasuke. Tidak, dia tidak bisa, biar bagaimana pun, dia menyukai Kiba. Dan dia tidak akan membiarkan siapa pun menyentuhnya.

"Shika, maaf," ujar Naruto lirih sambil menatap Shikamaru yang semakin menjauh.

T . B . C

Halo minna, aku balik lagi. Apdetnya cepet kan? Hhehe..

Ah, akhirnya bisa ngelanjutin ficnya, padahal lagi liburan gini pengennya ngelanjutin fic yang belum selesai. Tapi berhubung laptopnya dipake buat ngerjain tugas aniki dan aku cuma minjem, jadi harus mengalah. Hiks..

Sasunaru4ever

Eh, itu, sebenernya rencana Naru. Maksudnya rencananya buat reinkarnasi ga ada halangan dan rintangan –halah—

Makasih dah review^^

Devzlee

Cowok bisa, cewek bisa. haha.. Kalo tentang itu masih dipikirkan.

Makasih dah review^^

Yosh, sampe jumpa di chap selanjutnya. Insya allah apdetnya ga akan lama.

Kritik? Saran?

~RnR please~